cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Arahan Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Rumput Laut di Pulau Poteran, Kabupaten Sumenep Norul Fajariyah; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.968 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10836

Abstract

Sebagai wilayah yang langsung berbatasan dengan laut, Pulau Poteran merupakan penghasil rumput laut yang melimpah di kabupaten Sumenep, Madura. Akan tetapi sulitnya pemasaran hasil budidaya rumput laut serta belum terdapatnya industri pengolahan hasil budidaya rumput laut di Pulau Poteran mengakibatkan jatuhnya harga rumput laut yang berpengaru hterhadap kesejahteran ekonomi masyarakat Pulau Poteran rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan Klaster pengembangan ekonomi local rumput laut di Pulau Poteran. Dilakukan dua  tahapan analisis dalam penelitian ini. Untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh dalam mendukung pengembangan ekonomi rumput laut di Pulau Poteran menggunakan analisis Likert  yang kemudian diteruskan dengan Analisis Faktor yiatu Confirmatory Factor Analysis, dari hasil analisis konfirmatori faktor didapat 4 faktor yang berpengaruh, yaitu faktor Sumber Daya Manusia, Produksi, Kelembagaan/Institusi, serta Sarana dan Prasana. Sselanjutnya Analisis untuk mengidentifikasi Klaster pengembangan ekonomi rumput laut di tiap desa Pulau Poteran menggunakan teknik analisis Klaster (Hierarchy Cluster). Hasil analisis tersebut didapatkan 3 klaster pengembnagan, yaitu: Kalster 1merupakan wilayah pemasaran, Klaster 2 merupakan wilayah pembudidayaan dan pengolahan, serta Klaster 3 termasuk Wilayah pendukung pembudidayaan.
Faktor Penentu Pengembangan Industri Pengolahan Perikanan Di Kabupaten Sidoarjo melalui Pengembangan Ekonomi Lokal Sayyidatu Ulish Shofa; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.009 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10863

Abstract

Wilayah bagian timur Kabupaten Sidoarjo memiliki potensi pengembangan sub sektor perikanan, khususnya Kecamatan Candi, Sedati, Sidoarjo, Buduran, Jabon, dan Waru. Potensi tersebut belum didukung pengembangan industri pengolahan perikanan secara optimal sehingga belum dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Industri pengolahan perikanan masih bersifat sederhana, marketshare terbatas, dan belum ada kemitraan usaha. Pendekatan pengembangan ekonomi lokal menjadi bentuk pengembangan yang cocok dalam permasalahan industri pengolahan perikanan di Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan industri pengolahan perikanan di Kabupaten Sidoarjo melalui pengembangan ekonomi lokal. Pada penelitian ini akan dibahas mengenai faktor penentu pengembangan industri melalui teknik analisis konten dan CFA (Confirmatory Factor Analysis). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 6 faktor penentu pengembangan industri pengolahan perikanan, yaitu sumberdaya, kelembagaan, ekonomi, pasar dan pemasaran, transportasi, serta sarana dan prasarana pendukung pengolahan perikanan.
Arahan Peningkatan Daya Saing Daerah Kabupaten Kediri Eka Putri Anugrahing Widi; Putu Gde Ariastita
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.794 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10864

Abstract

Kabupaten Kediri memiliki daya saing kurang optimal yang disebabkan oleh faktor perekonomian daerah dan sumber daya manusia. Namun, terdapat faktor lain yang juga menjadi penyebabnya yang memiliki keterkaitan dengan faktor perekonomian daerah dan sumber daya manusia. Dengan demikian, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan Kabupaten Kediri berdaya saing kurang optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan arahan peningkatan daya saing daerah Kabupaten Kediri. Untuk mencapai tujuan penelitian dilakukan tiga tahapan analisis yaitu pertama, menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh meningkatkan daya saing daerah Kabupaten Kediri menggunakan alat analisa   Confimatory Factor Analysis. Kedua, menganalisis faktor prioritas dalam peningkatan daya saing daerah Kabupaten Kediri menggunakan alat analisa  Analytic Hierarchy Process. Ketiga, menentukan arahan peningkatan daya saing daerah Kabupaten Kediri menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat faktor yang perlu diperhatikan dalam peningkatan daya saing daerah Kabupaten Kediri yaitu, perekonomian dan keuangan daerah, SDM dan ketenagakerjaan, infrastruktur dan SDA, serta lingkungan usaha produktif. Dari keempat faktor tersebut yang menjadi prioritas pertama dalam peningkatan daya saing daerah Kabupaten Kediri adalah faktor SDM dan ketenagakerjaan. Selanjutnya, faktor lingkungan usaha produktif sebagai prioritas kedua, faktor infrastruktur dan SDA sebagai prioritas ketiga, dan faktor perekonomian dan keuangan daerah sebagai prioritas terakhir.
Penentuan Rute Angkutan Umum Optimal Dengan Transport Network Simulator (TRANETSIM) di Kota Tuban Any Riaya Nikita Ratriaga; Sardjito Sardjito
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.809 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10890

Abstract

Seiring perkembangan ekonomi, jumlah penduduk yang mendiami Kota Tuban terus mengalami peningkatan. Kondisi tersebut menimbulkan dampak terhadap kegiatan di beberapa ruas jalan pada Kota Tuban. Perkembangan permukiman yang ekspansif ke pinggiran Kota Tuban juga menimbulkan bangkitan-bangkitan pergerakan baru.. Sirkulasi angkutan umum yang terdapat di Kota Tuban memiliki kondisi eksisting yang belum mencakup keseluruhan zona yang menjadi bangkitan dan tarikan pergerakan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rute angkutan umum yang optimal untuk Kota Tuban. Untuk itu, dilakukan tiga tahapan untuk mencapai tujuan tersebut. Tahap pertama adalah mengukur bangkitan dan tarikan pergerakan tiap zona dengan matriks asal-tujuan. Tahap selanjutnya adalah melakukan pembobotan terhadap faktor-faktor penentu rute angkutan umum dengan teknik analisis Analytical Hierarchy Process (AHP) menggunakan software Expert Choice. Tahap terakhir adalah menentukan rute angkutan umum yang optimal menggunakan software Transport Network Simulator (TRANETSIM). Berdasarkan analisis yang digunakan dalam tahapan penelitian, hasil yang diperoleh yaitu rute Terminal Kambang Putih – Desa Tunah (PP), Desa Tunah – Terminal Kambang Putih (PP), Terminal Kambang Putih – Desa Semanding (PP), serta Desa Semanding – Desa Tunah (PP).
Pengembangan Kawasan Agrowisata melalui Pendekatan Community Based Tourism di Kecamatan Bumiaji Kota Batu Atras Radifan Puspito; Dian Rahmawati
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.138 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10900

Abstract

Berdasarkan RTRW Kota Batu Tahun 2010-2030, Kecamatan Bumiaiji ditetapkan wilayahnya sebagai pusat pengembangan kegiatan agrowisata khususnya di Desa Gunungsari, Desa Punten, Desa Tulungrejo, dan Desa Pandanrejo dengan komoditas yang berbeda. Hal tersebut juga didukung oleh potensi baik dari sisi keindahan alam maupun karakter masyarakat lokal. Namun faktanya agrowisata masih belum berkembang akibat belum optimalnya peran masyarakat selaku pengelola utama yang kemudian berdampak pada aspek lainnya. Untuk itu diperlukan penelitian untuk dapat mengetahui faktor – faktor apa saja yang berpengaruh terhadap pengembangan kawasan agrowisata di Kecamatan Bumiaji Kota Batu berbasiskan community based tourism yang mengedepankan peran masyarakat lokal dalam meningkatkan pendapatan mereka sebagai petani sekaligus pelaku agrowisata. Dalam proses analisa tersebut digunakan salah satu teknik analisa faktor yaitu confirmatory factor analysis (CFA) dengan hasil kuisioner skala likert sebagai input. Hasil akhir dari penelitian ini faktor - faktor pengembangan kawasan agrowisata di Desa Gunungsari, Desa Punten, Desa Tulungrejo, dan Desa Pandanrejo berdasarkan kelima dimensi konsep community based tourism yaitu lingkungan budaya, hubungan integrasi, sarana prasarana, kelembagaan, dan pengembangan masyarakat.
Kriteria Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Publik Berdasarkan Kebutuhan Oksigen di Kota Malang Maria Febriana Bewu Mbele; Rulli Pratiwi Setiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.523 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10901

Abstract

Pemenuhan RTH publik 20% adalah tetapan yang dianggap kaku, sebaiknya pemenuhan RTH publik juga memperhitungkan fungsi ekologisnya yaitu sebagai produsen oksigen. Terdapat kemungkinan Kota Malang membutuhkan RTH publik kurang atau bahkan lebih dari tetapan 20%. Oleh sebab itu perlu dilakukan perhitungan kebutuhan RTH publik di Kota Malang berdasarkan kebutuhan oksigen. Untuk mengoptimalkan fungsi ekologis RTH maka perlu didapatkan kritera-kriteria penyediaan RTH publik di Kota Malang. Langkah pertama adalah menghitung luas RTH publik berdasarkan kebutuhan O2 tiap BWK  Malang, kemudian menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyediaan RTH publik menggunakan metode delphi, dan merumuskan kriteria penyediaan RTH publik di berdasarkan kebutuhan O2 secara deskriptif kualitatif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa berdasarkan fungsi ekologisnya sebagai produsen oksigen, luas RTH yang dibutuhkan Kota Malang lebih dari 20% dari luas wilayahnya.Kata Kunci:
Tipologi Kecamatan Tertinggal di Kabupaten Lombok Tengah Baiq Septi Maulida Sa'ad; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.846 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10911

Abstract

Abstrak— Kabupaten Lombok Tengah termasuk dalam kategori Kabupaten Tertinggal di Provinsi Nusa Tenggara Barat berdasarkan RPJMN tahun 2010-2014. Selain itu, terdapat kesenjangan pada beberapa Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah akibat pembangunan Bandara Internasional Lombok sehingga perlu dilakukan identifikasi dan upaya pengembangan terhadap kecamatan tertinggal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipologi kecamatan tertinggal di Kabupaten Lombok Tengah berdasarkan aspek sosial dan ekonomi. Dalam perumusan Tipologi Kecamatan Tertinggal ini menggunakan Analisis Faktor Konfirmatori untuk menentukan faktor yang berpengaruh terhadap ketertinggalan kecamatan, analisis tipologi klassen untuk mengidentifikasi kecamatan tertinggal, dan analisis klaster untuk mentipologikan kecamatan tertinggal. Dari hasil penelitian terdapat empat faktor yang berpengaruh terhadap ketertinggalan kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah yaitu faktor kualitas SDM, kondisi infrastruktur sosial, kondisi perekonomian dan  kondisi infrastruktur ekonomi. Berdasaarkan hasil analisis tipologi Klassen, terdapat 8 kecamatan tertinggal yaitu Kecamatan Praya Barat Daya, Janapria, Kopang, Praya Tengah, Jonggat, Pringgarata, Batukliang dan Kecamatan Batukliang Utara. Kecamatan tertinggal ini terbagi menjadi 3 klaster berdasarkan aspek sosial dan 3 klaster berdasarkan aspek ekonomi yang mana setelah ditipologikan menjadi 5 tipologi berdasarkan aspek sosial dan ekonomi.
Konsep Land Sharing Sebagai Alternatif Penataan Permukiman Nelayan di Kelurahan Gunung Anyar Tambak Surabaya Rivina Yukeiko; Dian Rahmawati
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.035 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10914

Abstract

Permukiman nelayan di Gunung Anyar Tambak termasuk kawasan kumuh di Surabaya. Kekumuhan permukiman nelayan ditunjukkan dengan struktur bangunan dari kayu dan asbes, luas rata-rata 6m2, dan  tata letak bangunan yang tidak teratur. Urgensi dari penataan permukiman kumuh adalah dampak-dampak yang ditimbulkan adanya permukiman kumuh dari segi lingkungan, kesehatan, dan kemananan, sehingga perlu penataan yang sesuai. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan arahan penataan permukiman nelayan di Gunung Anyar Tambak Surabaya dengan konsep land sharing. Penelitian ini melalui tiga tahap analisis. Tahap pertama dengan analisis statistik deskriptif dan mapping untuk menganalisis karakteristik permukiman nelayan di permukiman nelayan Gunung Anyar Tambak. Tahap kedua menggunakan teknik analisis RRA (Rapid Rural Assessment) untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam penerapan konsep land sharing di permukiman nelayan Gunung Anyar Tambak. Selanjutnya perumusan arahan penataan permukiman nelayan dengan konsep land sharing dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini yaitu membagi lahan atas kesepakatan pemilik lahan dan penghuni lahan, 60 persen untuk pemilik lahan dan 40 persen untuk penghuni lahan, atau 70 persen untuk pemilik lahan dan 30 persen untuk penghuni lahan. Rekonstruksi bangunan non permanen dengan pola permukiman grid. Kepadatan bangunan permukiman nelayan direncanakan tetap 85 bangunan/Ha. Kondisi fisik bangunan permukiman dibangun sesuai kemampuan finansial pemilik lahan. Status kepemilikan lahan terdiri dari dibeli secara kredit atau sewa yang dibayar perbulan.
Kriteria Zona Industri Pendukung Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Tuban Naya Cinantya Drestalita; Dian Rahmawati
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.429 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10933

Abstract

Kabupaten Tuban merupakan kabupaten yang memiliki potensi sektor pertanian yang cukup besar, dengan kontribusi sebesar 24,6% dalam PDRB. Dalam RTRW Kabupaten Tuban terdapat arahan pengembangan kegiatan pengolahan hasil pertanian, serta terdapat arahan pengembangan KSK Agropolitan di lima kecamatan yaitu Kecamatan Palang, Kecamatan Semanding, Kecamatan Plumpang, Kecamatan Widang dan Kecamatan Jatirogo. Agroindustri merupakan salah satu kegiatan dalam sistem agribisnis yang dikembangkan dalam kawasan agropolitan, sehingga dalam kawasan agropolitan tersebut diharapkan terdapat zona untuk kegiatan agroindustri. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk menentukan kriteria zona industri dalam mendukung pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tuban. Teknik analisis yang digunakan dalam menyusun kriteria zona industri tersebut adalah analisis deskriptif menggunakan pedoman dan standar, literatur, maupun studi kasus yang relevan. Hasil akhir penelitian ini didapatkan delapan kriteria zona industri pendukung pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tuban yang divisualisasikan menggunakan software ArcGIS 10.2, yaitu kriteria kondisi fisik dasar, kriteria bahan baku, kriteria pasar, kriteria tenaga kerja, kriteria aksesibilitas (yang terdiri dari sub kriteria jaringan jalan dan jarak ke pusat kabupaten), kriteria sarana dan prasarana (yang terdiri dari sub kriteria ketersediaan jaringan listrik, jaringan air bersih, jaringan telekomunikasi, ketersediaan fasilitas perekonomian, dan ketersediaan rumah potong hewan), kriteria aglomerasi, serta kriteria penggunaan lahan.
Penentuan Cluster Pengembangan Agroindustri Pengolahan Minyak Kayu Putih di Kabupaten Buru Rizki Adriadi Ghiffari; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.162 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10964

Abstract

Potensi komoditas kayu putih di Pulau Buru merupakan yang terbesar di Indonesia, namun pendapatan industri minyak kayu putih di pulau buru terus menurun dalam 5 tahun terakhir dan masih dikelola secara konvensional. Sehingga penentuan Cluster pengembangan agroindustri diperlukan untuk mengetahui wilayah potensial yang perlu ditingkatkan kinerja industrinya. Penelitian ini bertujuan menentukan Cluster pengembangan agroindustri pengolahan minyak kayu putih di Kabupaten Buru, yang dilakukan melalui penentuan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan agroindustri pengolahan minyak kayu putih menggunakan analisis korelasi, dan menentukan Cluster menggunakan analisis Hierarcical Cluster. Hasil analisis menunjukkan teridentifikasinya faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan agroindustri pengolahan minyak kayu putih di Kabupaten Buru, yaitu jumlah industri rumah tangga (IRT), indeks aglomerasi, jumlah produksi, nilai investasi, jumlah tenaga kerja, potensi bahan baku, Jarak antara IRT dengan Permukiman, Jumlah Pengangguran, dan Pendapatan Rata-rata Pekerja, Jumlah Penduduk, Kepadatan Penduduk, Jumlah Penduduk Tamat SMA, tingkat pelayanan jalan, rasio kelompok pekerja, rasio lembaga pelatihan, dan rasio koperasi pekerja. Teridentifikasi juga 6 cluster pengembangan agroindustri pengolahan minyak kayu putih, dengan karakteristik yang berbeda-beda.