cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Studi Pengaruh Kekuatan dan Kekakuan Dinding Bata Pada Bangunan Bertingkat Redha Sadhu Leksono; Data Iranata; Heppy Kristijanto
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.489 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1024

Abstract

Dalam mendesain suatu struktur seperti portal, para perencana umumnya tidak memperhitungkan komponen dinding pengisi seperti batu bata sebagai komponen struktural (dianggap sebagai komponen non structural/beban terbagi rata). Pada kenyataannya, dinding pengisi tersusun atas  batu bata dengan mortar yang memiliki kekuatan dan kekakuan tertentu. Dinding pengisi, batu bata, ini juga memilki kecenderungan untuk berinteraksi bersama portal yang ditempatinya, terutama bila terkena gaya lateral (akibat gempa) yang cukup besar. Dalam studi ini akan dianalisa sampai pada tingkat berapakah kekuatan dan kekakuan  dinding bata berpengaruh cukup signifikan terhadap suatu struktur gedung bertingkat. Dinding bata dianggap sebagai bracing tekan dan akan dimodelkan dengan batang diagonal, lalu akan dibandingkan dengan dinding bata yang dianggap sebagai beban mati terbagi rata (open frame). Untuk analisa strukturnya akan digunakan metode Analisa Statik Non-Linier (Pushover) dengan program bantu SAP 2000. Hasil studi ini menunjukkan bahwa struktur open frame memiliki perilaku struktur yang lebih baik daripada struktur dengan bracing tekan. Hal ini ditunjukkan pada nilai target perpindahan saat performance point,  struktur open frame memiliki nilai yang lebih besar. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa dinding bata dapat mengganggu kinerja struktur utama untuk berdeformasi secara maksimal. Semakin tinggi tingkat lantai suatu gedung, maka tingkat pengaruh kekuatan dan kekakuan dinding bata semakin besar terhadap kinerja struktur utama. Oleh karena itu, perencanaan suatu desain bangunan harus memperhatikan kekuatan dan kekauaan dinding bata.
Analisa Life Cycle Cost pada Green Building Diamond Building Malaysia Trixy Firsani; Christiono Utomo
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.037 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1030

Abstract

Mengingat kenyataan bahwa seluruh emisi CO2 yang ada di dunia lebih dari sepertiganya dihasilkan oleh bangunan[1], maka dibutuhkan suatu antispasi untuk mengeliminir akan fakta tersebut, yaitu melalui penerapan suatu konsep bangunan ramah lingkungan atau biasa disebut dengan konsep green building. Salah satu bangunan yang mengadopsi konsep green building tersebut adalah Diamond Building Malaysia. Bangunan ini menghabiskan biaya yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan biaya pada pembangunan konvensional. Namun, dengan konsep green building yang memfokuskan pada pengefisiensi energi sepanjang siklus hidup proyek, penerapan konsep tersebut tentunya akan berbalik menjadi suatu keuntungan yang berkesinambungan pada biaya operasionalnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu studi analisa Life Cycle Cost untuk melihat seberapa besar biaya yang dikeluarkan oleh suatu bangunan berkonsep green building selama periode yang ditetapkan. Dalam melakukan analisa Life Cycle Cost dibutuhkan biaya-biaya yang relevan, antara lain Biaya Awal, Biaya Operasional dan Perawatan, Biaya Energi, Biaya Penggantian, dan Nilai Sisa. Analisa dilakukan dengan menggunakan Present Worth Methode, dimana periode analisa ditentukan selama 10 tahun. Dari hasil analisa Life Cycle Cost dengan kategori biaya yang terdiri dari Biaya Awal, Biaya Energi, Biaya Operasional dan Pemeliharaan, serta Biaya Penggantian, diperoleh total biaya siklus Diamond Building Malaysia adalah sebesar RM 235.096.883atau sebesar Rp 759.290.649.000. Jika memasukkan Nilai Sisa dalam kategori biaya Life Cycle Cost tersebut, total biaya hidup Diamond Building menjadi RM 186.646.883 atau sebesar Rp 559.940.649.000.
Prediksi Kuat Tekan Beton Berbahan Campuran Fly Ash dengan Perawatan Uap Menggunakan Metode Kematangan Candra Irawan; Januarti Jaya Ekaputri; Pujo Aji; Triwulan Triwulan
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.317 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1041

Abstract

Penambahan fly ash dan penggunaan steam curing membuat produksi beton lebih ekonomis, baik dari segi waktu maupun biaya. Selain ekonomis, kualitas beton juga harus dikontrol, salah satunya adalah kuat tekan. Di Indonesia prediksi kuat tekan beton diatur PBI 1971. Peraturan ini hanya dapat digunakan untuk prediksi kekuatan beton normal, sehingga tidaklah akurat jika peraturan ini kita gunakan untuk memprediksi kuat tekan beton berbahan campuran fly ash yang dirawat dengan steam curing. Sebagai solusinya Day (2006) mengusulkan prediksi menggunakan metode kematangan (maturity method). Penelitian ini mencoba memprediksi kuat tekan beton umur 7, 14 dan 28 hari berdasarkan data kuat tekan dan faktor waktu-suhu umur umur dasar 1 dan 2 hari. Benda uji beton yang digunakan berbentuk silinder 15 x 30 cm, berbahan campuran fly ash tipe F dan dirawat dengan perawatan uap (steam curing). Dari hasil penelitian ini diketahui nilai error antara kuat tekan prediksi dengan kuat tekan aktual kurang dari 5% untuk umur 7 dan 28 hari untuk semua benda uji, sedangan untuk umur 14 hari untuk benda uji 2 memberikan error di atas 5%, namun kurang dari 10%. Secara ilmu statistik dapat dikatakan kuat tekan prediksi sama dengan kuat tekan aktualnya. Hal ini dibuktikan dengan nilai t hitung berada di daerah penerimaan.
Studi Perbandingan Perilaku Profil Baja WF dan HSS Sebagai Bresing pada SCBF Akibat Beban Lateral dengan Program Bantu Finite Element Analysis Nuur Aziza Setiyowati; Budi Suswanto; R. Soewardojo
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.475 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1044

Abstract

Concentrically Braced Frame (CBF) adalah pengembangan dari Moment Resisting Frame (MRF), dimana CBF mempunyai kekakuan yang tinggi sehingga mempunyai simpangan yang lebih kecil dari MRF. Dalam hal ini juga balok, kolom, dan pengaku diatur sehingga membentuk suatu rangka vertikal. Dalam aksi inelastis pengaku diatur mengalami ada dua macam gaya yaitu leleh akibat gaya tarik dan tekuk akibat gaya tekan. Dalam Tugas Akhir ini akan membahas mengenai perbandingan perilaku dari 2 jenis profil baja yang digunakan sebagai bresing, yaitu profil WF dan HSS. Portal yang dianalisa adalah portal baja SCBF dengan tipe inverted-v 1 lantai yang menerima beban lateral. Analisa yang akan dilakukan menggunakan program bantu SAP 2000 v.14 dan kemudian dianalisa lagi dengan program bantu finite element analysis. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa bresing adalah elemen terlemah pada portal SCBF yang ditinjau karena tegangan pada bresing lebih besar daripada elemen pada portal SCBF yang lain.
Studi Respon Seismik Penggunaan Steel Slit Damper (SSD) pada Portal Baja Lisa Ika Arumsari; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.082 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1045

Abstract

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengurangi dampak dari beban gempa terhadap portal baja adalah menggunakan peredam. Steel Slit Damper (SSD) adalah salah satu jenis peredam yang dibuat dari sejumlah pelat baja lunak berbentuk segi-4 yang dimodelkan sebagai pegas-pegas yang disusun secara seri. Energi akibat gempa disalurkan melalui strip-strip damper yang mudah meleleh ketika perangkat mengalami deformasi inelastis siklik. SSD mendisipasi energi melalui pembentukan sendi plastis atau pelelehan pelat damper. Pada penelitian ini dilakukan analisa respon seismik Steel Slit Damper (SSD) pada portal baja 1 lantai yang menerima beban lateral berupa beban gempa, dengan membandingkan portal baja konvensional, portal baja inverted-v, dan portal baja dengan SSD. Hasil analisa menunjukkan bahwa gaya geser, gaya normal, dan momen yang dihasikan portal dengan SSD lebih kecil hingga 80,49% dari gaya-gaya yang dihasilkan portal konvensional, tetapi gaya-gaya tersebut masih lebih besar daripada yang dihasilkan portal inverted-V. Portal dengan SSD dapat memperkecil simpangan sebesar 94,12% pada portal konvensional dan sebesar 33,33% pada portal bracing inverted-v. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa portal SSD memiliki daktilitas 105,85% lebih tinggi dari portal konvensional dan 298,67% lebih tinggi dari portal bracing inverted-v
Analisa Alternatif Pembagian Zona Pekerjaan Bekisting dari Segi Biaya dan Waktu pada Proyek Konstruksi Puncak Kertajaya Apartemen Habsari Werdhi Setyo Wiranti; Retno Indryani
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.55 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1052

Abstract

Bangunan bertingkat seperti hotel, apartemen, perkantoran dan lain-lain memiliki bentuk struktur yang tipikal atau hampir sama pada tiap lantainya. Oleh karena itu, pekerjaan struktur pada bangunan tersebut mempunyai sirkulasi perpindahan bekisting yang teratur yaitu dengan cara menggunakan sistem pembagian zona.  Pembagian zona bekisting akan berpengaruh pada sirkulasi perpindahan material bekisting yang akan mempengaruhi besarnya biaya dan waktu.  Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui alternatif pembagian zona pekerjaan bekisting yang dapat menghasilkan waktu dan biaya terbaik untuk proyek konstruksi Puncak Kertajaya Apartemen. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan membuat simulasi pekerjaan bekisting dengan melakukan pembagian zona-zona pekerjaan dan waktu penyelesaian pekerjaan bekisting dalam satu lantai yang berbeda-beda. Alternatif pembagian zona yang ditentukan adalah 6 zona, 4 zona dan 3 zona. Alternatif waktu penyelesaian setiap lantainya adalah 10 hari, 11 hari dan 16 hari. Dari masing-masing alternatif akan diperoleh waktu penyelesaian pekerjaan bekisting, biaya total serta biaya pengadaan material,alat dan upah pekerja. Setelah itu, dilakukan analisa perbandingan biaya dan waktu yang telah dihitung dari masing-masing alternatif. Dari hasil pengolahan data dan analisa diperoleh bahwa alternatif pekerjaan bekisting yang terbaik untuk struktur bangunan Puncak Kertajaya Apartemen adalah untuk pembagian 6 zona pekerjaan dengan 10 hari waktu penyelesaian pekerjaan dalam satu lantai
Penerapan Value Engineering pada Pembangunan Proyek Universitas Katolik Widya Mandala Pakuwon City - Surabaya Ananda Yogi Wicaksono; Christiono Utomo
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.551 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1053

Abstract

Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) sebagai salah satu lembaga pendidikan swasta besar di Surabaya, secara mandiri tergerak untuk mendirikan Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran yang dibangun di kawasan Pakuwon City guna menanggulangi kurangnya tenaga medis di Indonesia. Adapun proyek dengan biaya pengerjaan total sebesar Rp 71.170.000.000,00 dengan luas bangunan 37.000 m2 memiliki harga per m2 sebesar Rp 1,923,513.51. Dengan membandingkan pada gedung dengan fungsi sejenis yaitu gedung Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma yang bernilai Rp 12,397,551,715.00 dengan luas bangunan 6800 m2 sehingga mempunyai harga per m2 sebesar Rp 1,823,169.37 maka harga per m2 gedung Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala lebih tinggi daripada gedung Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma. Dengan demikian terdapat potensi untuk dilakukan efisiensi biaya pada proyek tersebut. Metode value engineering digunakan dalam proyek ini karena merupakan metode yang mampu melakukan penghematan biaya tanpa mengurangi nilai fungsi yang ada. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi beberapa tahap seperti tahap pengumpulan data yang kemudian dilanjutkan dengan tahap informasi, tahap kreatif, tahap analisa, tahap pengembangan, dan tahap pelaporan yang berisi rekomendasi-rekomendasi. Dari hasil penerapan value engineering dapat di jelaskan bahwa terdapat dua item pekerjaan berbiaya tinggi yaitu item pekerjaan enclosing walls/dinding dan item pekerjaan finish to ceiling/plafon. Adapun penghematan yang dapat dilakukan dari hasil value engineering dalam proyek ini adalah sebagai berikut: pekerjaan enclosing walls/dinging sebesar Rp 159,138,100.00 atau 1,11% dari total rencana Life Cycle Cost item pekerjaan terpilih sedangkan untuk pekerjaan plafon adalah sebesar Rp 2,104,255,876,62 atau 14,68% dari total rencana Life Cycle Cost item pekerjaan terpilih. Sehingga total penghematan yang didapat dalam proyek ini adalah sebesar Rp 2,263,393,976.87 atau 15,79% dari total rencana Life Cycle Cost item pekerjaan terpilih.  
Analisa Perbandingan Biaya Kebutuhan Dan Penggunaan Energi Hotel Yusro Jombang Ryan Pramuditya; Yusroniya Eka Putri; Cahyono Bintang Nurcahyo
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.965 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1055

Abstract

Hotel Yusro, merupakan hotel berbintang 3 (tiga) pertama di Kota Jombang dengan fasilitas yang lengkap. Sebagai hotel berbintang tiga yang baik, haruslah memenuhi persyaratan kriteria hotel yang baik sesuai dengan KEPMEN No KM.03/HK 001/MKP.02 [1] salah satunya yaitu memiliki sistem kelistrikan yang memadai dengan pengunaan daya yang tidak boros, yaitu yang konsumsi listriknya sesuai dengan kebutuhan energinya. Seiring dengan tarif listrik yang terus meningkat tiap tahunnya, penggunaan konsumsi listrik pada hotel dapat menyebabkan biaya operasional hotel yang meningkat pula. Menurut Shiming & Burnett, 2002, konsumsi energi untuk penerangan, sistem pengaturan suhu (penghawaan), dan sistem pemanas air umumnya mencapai 70% dari total penggunaan energi pada bangunan hotel. Kesimpulannya konsumsi energi terbesar terletak pada sistem kelistrikan hotel. Analisa energi yang akan dilakukan adalah analisa terhadap sistem kelistrikan yang meliputi sistem penghawaan, pencahayaan, dan transportasi vertikal gedung. Metode yang digunakan yaitu menghitung kebutuhan energi kelistrikan pada hotel lalu dibandingkan dengan hasil observasi konsumsi energi listrik di lapangan. Dari hasil analisa data diketahui bahwa hasil perbandingan biaya untuk sistem penghawaan hotel adalah perhitungan sesuai kondisi lapangan lebih hemat 17,67% dibandingkan perhitungan teoritis; untuk sistem transportasi vertikal hotel adalah 0%;  untuk sistem pencahayaan hotel adalah perhitungan teoritis lebih hemat 23,72% dibandingkan perhitungansesuai kondisi lapangan.
Analisa Perbandingan Penggunaan Bekisting Semi Konvensional Dengan Bekisting Sistem Table Form Pada Konstruksi Gedung Bertingkat Yevi Novi Dwi Saraswati; Retno Indryani
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.234 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1068

Abstract

Pekerjaan bekisting memberikan kontribusi yang cukup besar dalam hal proporsi biaya pekerjaan beton. Produktifitas dan siklus dari pekerjaan bekisting juga mempengaruhi waktu pekerjaan beton. Oleh karena itu, dalam merencanakan pekerjaan bekisting  harus ditentukan jenis bekisting yang terbaik dan sesuai dengan kondisi proyek. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan penggunaan bekisting semi konvensional dengan bekisting table form system untuk low rise building dan high rise building. Masing-masing bekisting untuk kedua tipe gedung dihitung waktu pelaksanaan dan biaya pelaksanaan untuk low rise building dan high rise building. Dari hasil perhitungan akan dilakukan analisa perbandingan dengan menggunakan metode matriks evaluasi untuk menentukan bekisting mana yang lebih baik untuk low rise building dan high rise building berdasarkan kriteria biaya dan waktu pelaksanaan. Digunakan 5 ( lima ) skenario perbandingan antara biaya dan waktu yaitu 30%:70%, 40%:60%, 50%:50%, 60%:40%, 60%:40% dan 70%:30%. Gedung Sekolah Anak Panah digunakan sebagai contoh kasus low rise building. Hotel Ibis digunakan sebagai contoh kasus high rise building. Dari analisa perbandingan pada gedung Sekolah Anak Panah didapatkan bekisting yang terbaik untuk skenario 1, 2 dan 3 adalah bekisting semi konvensional, dan skenario 4 dan 5 adalah bekisting sistem table form. Dari analisa pada gedung Hotel Ibis didapatkan bekisting yang terbaik untuk skenario 1 dan 2 adalah bekisting semi konvensional, skenario 3 adalah keduanya, dan skenario 4 dan 5 adalah bekisting sistem table form.
Optimasi (Equal) Site Layout Menggunakan Multi-Objectives Function Pada Proyek A Dwiky Pranarka; Tri Joko Wahyu Adi
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.225 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1070

Abstract

Pada setiap proyek konstruksi,selalu menggunakan site facilities untuk menunjang kinerja dalam proyek. Jenis site facilities ini tidaklah sama pada setiap proyek karena masing – masing proyek memiliki karakteristik,metode,dan lahan yang berbeda. Tata letak site facilities tersebut harus di atur karena memiliki dampak terhadap waktu dan biaya pengerjaan proyek. Pada penelitian sebelumnya,untuk mengoptimasi site layout digunakan single objective function dan jarak perjalanan hanya diukur secara horizontal. Berbeda dengan penelitian ini yang menggunakan multi-objectives function yaitu Traveling Distance dan Safety Index dan jarak perjalanan yang diukur secara vertikal dan horizontal. Untuk mendapatkan site layout yang optimal,maka langkah yang dilakukan yaitu meminimalkan traveling distance dan safety index. Dari 6 skenario maka didapat hasil traveling distance paling minimum yaitu pada skenario 6 dengan nilai sebesar 119.754,9  atau mengalami penurunan nilai sebesar 9,91% bila dibandingkan dengan kondisi awal. Sedangkan nilai safety index paling minimum yakni pada skenario 4 dengan nilai Sebesar 3.149,84 atau mengalami penurunan sebesar 5,96% bila dibandingkan dengan kondisi awal