cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Optimasi Konstruksi Pilar Penyangga Helideck KP Yudistira 73 Meter Albert Caesario; Dony Setyawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.44470

Abstract

Produk teknologi pada dasarnya harus bisa mempermudah kehidupan manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya secara umum ataupun khusus. Kapal patroli Yudistira 8003 adalah salah satu produk teknologi perkapalan dalam negeri yang didesain khusus untuk penjagaan ketertiban dan keamanan negara dengan fitur utama kecepatan jelajah 18 Knot, kemampuan angkut 62 personel, sebuah helideck dan dilengkapi oleh meriam tempur haluan. Setiap fitur yang disematkan harusnya dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan bagi penggunanya, memenuhi standar teknis dan legal serta memperhatikan nilai ekonomis KP. Yudistira 8003 didefinisikan overdesign dan tidak memuaskan kebutuhan bagi pengguna ataupun pemilik kapal berdasarkan konfigurasi konstruki pilar penyangga helideck pada bagian buritan yang dianggap terlalu banyak. Area tersebut seharunysa difungsikan untuk area apel personel. Untuk memverifikasi sekaligus mencari solusi akan permasalahan tersebut peneliti melakukan pengujian dan optimasi konstruksi dengan cara mengurangi jumlah pilar penyangga. Penelitian diawali dengan pengujian kondisi tegangan struktur dengan konfigurasi pilar existing, pengurangan jumlah pilar satu-persatu dengan sejumlah skenario konfigurasi pilar, pengujian setiap skenario, penentuan skenario dan pengujian ulang dengan berbagai variasi pembebanan. Pengujian dilakukan dengan metode elemen hingga secara numerik dan hasil pengujian akan dibandingkan dengan standar teknis klas. Hasil pengujian menunjukan tegangan maksimum yang terjadi dengan konstruksi existing adalah sebesar 42,83 MPa untuk tegangan Von Misses dan tegangan kompresi maksimum pada pilar sebesar 9,38 MPa. Struktur existing terdapat 20 pilar penyanggah. Setelah dilakukan optimasi didapatkan jumlah pilar penyangga sebanyak 4 buah pilar dengan dimensi pilar yang sama. Tegangan Von Misses yang terjadi sebesar 95,83 MPa dan tegangan kompresi pilar maksimum sebesar 22,58 MPa dengan batasan tegangan izin maksimum sebesar 175 MPa untuk tegangan Von Misses dan 165 MPa untuk tegangan kompresi.
Analisis Izin Lokasi dan Pengelolaan Pemanfaatan Ruang Laut dengan RZWP3-K (Studi Kasus: Kab. Situbondo, Provinsi Jawa Timur) Dimas Haryo Nugroho Putro; Yanto Budisusanto
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.07 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.44615

Abstract

Indonesia mempunyai luas 3,25 juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Indonesia memperoleh hak kewenangan memanfaatkan ruang laut yang menyangkut eksplorasi, eksploitasi dan pengelolaan sumberdaya hayati dan non hayati, penelitian, dan yuridiksi mendirikan instalasi ataupun pulau buatan. Jika Indonesia tidak memaksimalkan kebijakan dalam mengatur ruang laut akan terjadi konflik dan merugikan negara dan masyarakat. Konflik yang terjadi di laut dikarenakan belum adanya kepastian batas-batas kegiatan (spatial boundary system) di wilayah perairan laut sehingga menimbulkan tumpang tindih antar jenis kegiatan pengusahaan dan pemanfaatan ruang laut. Untuk mereduksi konflik di ruang laut pemerintah menyusun Undang – Undang No 1 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil dan Undang – Undang 32 Tahun 2014 Tentang Kelautan. Luaran dari UU No. 1 Tahun 2014 salah satunya adalah Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3-K). Penelitian ini akan membuat peta kondisi eksisting pemanfaatan ruang laut, melakukan inventarisasi dan analisis izin lokasi dan pengelolaan ruang laut, di Kab. Situbondo menggunakan RZWP3-K yang disahkan di Perda Provinsi Jawa Timur No 1 Tahun 2018 Tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Penelitian ini menghasilkan bahwa pemanfaatan ruang laut yang terdapat di Kab.Situbondo berupa keramba jaring apung (KJA), wisata pariwisata pantai, wisata bawah laut, dan pipa gas bawah laut. Dari 79 pemanfaatan ruang laut hanya ada 1 (satu) yang memiliki izin yaitu pipa gas bawah laut, dan hanya 19% pemanfaatan ruang laut yang sesuaian dengan RZWP3-K Provinsi Jawa Timur.
Analisa Perbandingan Kedalaman dan Penetrasi Sinar Hijau Airborne Hydrography AB (AHAB) untuk Pengukuran Perairan Dangkal (Studi Kasus: Kabupaten Kebumen) Bramiasto Fakhruddin Eko Putranto; Danar Guruh Pratomo; Khomsin Khomsin
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.146 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.44493

Abstract

Berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 1996 Perairan Indonesia meliputi laut teritorial Indonesia, perairan kepulauan, dan perairan pedalaman. Pemetaan menggunakan menggunakan gelombang akustik kurang meng-cover untuk perairan dangkal. Perairan Dangkal dapat diukur menggunakan gelombang elektromagnetik yaitu menggunakan Airborne LiDAR Bathymetry. Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan pengukuran kedalaman perairan dangkal menggunakan metode mekanik dengan Airborne LiDAR Bathymetry. Selain kedalaman juga dilakukan validasi pengukuran kekeruhan air yang mempengaruhi penetrasi sinar hijau airborne hydrography dan melakukan uji akurasi vertikal airborne hydrography. Hasil menunjukkan bahwa perbandingan kedalaman memiliki selisih rata-rata 0,177 meter dengan nilai selisih minimal 0,037 meter dan nilai selisih maksimal 0,763 meter. Hasil pengukuran kedalaman menunjukkan bahwa terdapat selisih nilai Z permukaan dasar perairan antara validasi dan airborne hydrography yaitu selisih minimal 2 cm dan selisih maksimal 22 cm. Dari pengukuran kekeruhan menggunakan Secchi Disk penetrasi sinar hijau airborne hydrography hanya dapat menjangkau kedalaman 0,225 meter sampai dengan 0,960 meter. Uji akurasi vertikal airborne hydrography 11 lokasi memiliki nilai 0,239 meter.
Analisis Arus dan Transpor Sedimen Menggunakan Pemodelan Hidrodinamika 3 Dimensi (Studi Kasus: Teluk Ambon, Kota Ambon, Maluku) Fikri Hadyan Putra; Danar Guruh Pratomo
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.386 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.44519

Abstract

Teluk Ambon yang berlokasi di Kecamatan Teluk Ambon, Provinsi Maluku, merpakan teluk yang mempunyai karateristik daerah yang menyempit dan terbagi menjadi tiga area yaitu Teluk Ambon Luar, Bagian tengah yang menyempit merupakan lokasi Jembatan Merah Putih, dan Teluk Ambon Dalam. Pada setiap areanya mempunyai kedalaman dan luas area yang berbeda sehingga terdapat perbedaan pola arus pada Teluk Ambon. Selain itu terdapat beberapa sungai yang bermuara pada Teluk Ambon sehingga memungkinkan terjadinya sedimentasi pada Teluk Ambon. Dalam hal ini menggunakan perangkat lunak pemodelan hidrodinamika 3D. Parameter pada pemodelan ini yaitu data batimeri, arah dan kecepatan angin, dimensi pilar jembatan, river discharge, pasang surut air laut, dan sampel sedimen. Dari penelitian ini didapatkan hasil nilai kecepatan arus paling tinggi saat pasang tertinggi dan surut terendah yaitu 0.0089 m/s dan 0.05 m/s. Berdasarkan data kumulatif perpindahan sedimen dari hasil model, area sekitar pilar terjadi penumpukan dan erosi sedimen yang berbeda di tiap pilarnya.
Analisis Umur Kelelahan Sambungan Bracket Topside Module FPSO Menggunakan Fracture Mechanics Tyo Dwiki Prakoso; Mohammad Nurul Misbah
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (758.915 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.44734

Abstract

Salah satu tantangan dalam mendesain struktur FPSO adalah struktur antara topside structure dan hull structure. Struktur tersebut harus mempunyai kekuatan yang cukup akibat beban siklis seperti topside inertia loads dan hull girder bending moment akibat beban gelombang pada kondisi lingkungan dan sea states. Beban siklis tersebut menyebabkan terjadinya kelelahan yang memicu terjadinya fatigue cracking sehingga dapat mempengaruhi production integrity. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui umur kelelahan topside interface structure menggunakan dua pendekatan yaitu metode cumulative fatigue damage untuk menganalisis umur kelelahan akibat inisiai retak dan metode pendekatan fracture mechanics untuk menganalisis perambatan retak dan pengaruh perambatan retak terhadap umur kelelahan topside interface structure. Pemodelan struktur dilakukan dengan pemodelan elemen hingga secara global dan lokal. Dari analisis tegangan global didapatkan lokasi kritis yaitu sambungan TS10 untuk selanjutnya ditinjau dalam analisis tegangan lokal. Hasil tegangan normal (sumbu Z) yaitu 29,489 MPa. Setelah itu nilai tegangan tersebut diaplikasikan pada pemodelan retak untuk menentukan nilai stress intensity factor (SIF), laju perambatan retak, jumlah siklus dan umur kelelahan struktur. Dengan itu didapatkan nilai stress intensity factor (SIF) retak awal dari topside interface structure yaitu 1,469 MPa√m dan laju perambatan retak awal yaitu 2,2 x 10-11 m/cycle. Setelah itu didapatkan jumlah siklus dari retak awal sampai retak kritis yaitu 2,3 x 105 cycle. Umur kelelahan topside interface structure menggunakan pendekatan fracture mechanics yaitu 101,028 tahun dengan nilai safety factor adalah 5,05. Sedangkan dengan menggunakan  metode SN Cuve didapatkan umur yaitu 151,72 tahun.
Desain Dual Fuel Self-Propelled Barge (SPB) Pengangkut Crude Palm Oil (CPO) untuk Ekspor Rute Dumai-Singapura Willyam Nainggolan; Hesty Anita Kurniawati; Danu Utama
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.939 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.44808

Abstract

Pada tahun 2017 Kementrian Perdagangan mengeluarkan Permendag Nomor 82/2017 yang mewajibkan penggunaan kapal yang dikuasai oleh perusahaan pelayaran nasional untuk ekspor crude palm oil (CPO). Namun sayangnya kapal dalam negeri belum siap untuk melaksanakan ekspor CPO dikarenakan ekspor CPO selama ini hampir 94% menggunakan kapal asing. Selain permasalahan tersebut, pembatasan emsisi gas buang pada kapal yang diatur oleh IMO melalui MARPOL 73/78 Annex VI terus diperketat secara kontinu. Salah satu regulasi terbaru yang akan diimplementasikan ialah pembatasan emisi sulfur secara global yang akan dikurangi dari 3.5% menjadi 0.5% pada tahun 2020. Maka, dalam tugas akhir ini akan dibahas sebuah moda transportasi berupa self-propelled barge yang menggunakan bahan bakar ganda (dual fuel) untuk mengangkut CPO dari Dumai ke Singapura. Dengan kapal ini diharapkan pengangkutan CPO untuk jarak dekat dengan rute Dumai-Singapura dapat dilakukan dengan lebih efektif & efisien. Analisis teknis yang dibahas yaitu penentuan ukuran utama kapal, koefisien bentuk kapal, hambatan & propulsi kapal, berat & titik berat, trim, freeboard, dan stabilitas kapal. Ukuran utama kapal yang didapatkan dengan menggunakan metode optimisasi ialah Lpp = 74,27 m, B = 13,95 m, H = 5,02 m, dan T = 3.9 m. Analisis ekonomis yang dilakukan yaitu perhitungan biaya pembangunan kapal, biaya operasional kapal, penentuan harga sewa kapal serta perhitungan indikator kelayakan investasi. Harga penyewaan self-propelled barge ini untuk tipe voyage charter adalah Rp 149.440.476 per voyage, sedangkan untuk tipe time charter ialah sebesar Rp 800.000.000 per bulan.
Analisis Konfigurasi Floating Breakwater Bentuk Hexagonal terhadap Peredaman Gelombang dengan Menggunakan Flow-3D Dinda Amalia Rahmawati; Muhammad Zikra; Haryo Dwito Armono
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1080.156 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45091

Abstract

Gelombang dan angin yang bergerak secara dinamis seringkali menyebabkan kerusakan di pesisir pantai sehingga diperlukan bangunan pelindung pantai. Breakwater merupakan bangunan pelindung pantai yang berfungsi untuk menghancurkan energi gelombang datang sebelum mencapai pantai. Salah satu jenis breakwater adalah floating breakwater, struktur ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan fixed breakwater. Penelitian mengenai floating breakwater sudah banyak dikembangkan dengan tujuan utama yaitu struktur yang paling efisien dan dapat meredam gelombang dengan baik. Pada tugas akhir ini dilakukan pemodelan struktur floating breakwater berbentuk hexagonal dengan 3 konfigurasi struktur untuk mendapatkan nilai koefisien transmisi (Kt). Model hexagonal floating breakwater dimodelkan dengan gelombang reguler Hs = 0.1125 m dan variasi periode antara 0.95-1.1415 detik. Dari 3 variasi konfigurasi didapatkan Kt pada konfigurasi A1 dengan rata-rata nilai Kt sebesar 0.547; konfigurasi A2 sebesar 0.648 dan konfigurasi A3 sebesar 0.659. Dari nilai tersebut menandakan bahwa pada konfigurasi A1 adalah konfigurasi yang paling optimal dalam meredam gelombang.
Analisis Kekuatan Konstruksi Alas Kapal Akibat Grounding Iqbal Permana; Dony Setyawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.873 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45135

Abstract

Jumlah kecelakaan kapal di dunia, sejak tahun 2007 hingga tahun 2016, sebanyak 1186 kasus dengan 249 kasus berada di Lautan China, Indonesia, dan Phillipines. Dari semua kasus kecelakaan yang terjadi, kecelakaan yang terjadi akibat  karam sebanyak 598 kasus dan akibat grounding sebanyak 244 kasus. Grounding merupakan salah satu penyebab kecelakaan yang sering terjadi pada kapal. Oleh karena itu penelitian ini akan menganalisis tegangan yang diterima konstruksi alas kapal akibat grounding. Analisis dilakukan menggunakan metode elemen hingga dengan studi kasus konstruksi alas kapal tanker 17500 tonnes deadweight. Pemodelan dilakukan dengan software Finite Element Method (FEM). Hasil yang didapatkan berupa nilai tegangan von mises dan deformasi. Simulasi dilakukan dengan 3 skenario yaitu saat karang menabrak solid floor, open floor, dan watertight floor. Lokasi tempat karang mengenai konstruksi alas saat terjadinya grounding memengaruhi besar tegangan yang dihasilkan. Maka respon setiap komponen utama konstruksi alas akan berbeda. Besar tegangan maksimum dan deformasi maksimum global, bottom plate, side girder, transverse construction pada waktu 0,02 detik untuk skenario 1; skenario 2; dan skenario 3 adalah 1050 MPa; 965 MPa; dan 645 MPa, 62,1 MPa; 696 MPa; dan 94,4 MPa, 268 MPa; 366 MPa; dan 337 Mpa, 1050 MPa; 965 MPa; dan 645 Mpa dan 16,2 mm; 15,3 mm; dan 13,5 mm, 9 mm; 11,7 mm; dan 13,3 mm, 7 mm; 9,15 mm dan 6,98 mm, 16,2 mm; 15,3 mm dan 11,6 mm. Konstruksi alas kapal tidak mampu menerima beban akibat grounding dikarenakan tegangan yang dihasilkan pada respon konstruksi alas melebihi ultimate tensile strength.
Analisis Tegangan Haluan Kapal Akibat Tubrukan Nur Ahmad Dzikron; Totok Yulianto
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.491 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45284

Abstract

Tubrukan dan karam merupakan salah satu penyebab kecelakaan yang sering terjadi pada kapal. Dampak yang terjadi akibat tubrukan kapal, yaitu dapat mengancam kehidupan manusia, lingkungan, dan investasi ekonomi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan haluan kapal serta mengetahui respon struktur konstruksinya akibat tubrukan dengan Finite Element Method (FEM). Simulasi kasus tubrukan kapal dilakukan dengan variasi kecepatan awal haluan 1 m/s, 2 m/s, dan 3 m/s selama waktu 0,05 detik. Haluan kapal mengalami deformasi plastis pada saat nilai tegangan melebihi yield strength dan mencapai ultimate strength, yaitu pada sekitar waktu 0,018 detik; 0,009 detik; dan 0,0056 untuk kecepatan awal 1 m/s; 2 m/s; dan 3 m/s. Internal Energy yang diserap oleh haluan kapal pada waktu 0,05 detik untuk kecepatan 1 m/s; 2 m/s; dan 3 m/ adalah 118,01 KJ; 672,39 KJ; dan 1501,3 KJ. Gaya maksimal yang dihasilkan pada waktu 0,05 detik untuk kecepatan awal 1 m/s adalah 10,597 MN dengan penetrasi yang terjadi adalah 39,574 mm. Untuk kecepatan awal 2 m/s, nilai gaya maksimal yang dihasilkan adalah 25,221 MN dengan penetrasi 86,998 mm. Kemudian untuk kecepatan awal 3 m/s, nilai gaya maksimal yang dihasilkan adalah 29,35 MN dengan penetrasi 134,42 mm. Nilai tegangan, internal energy, gaya, dan penetrasi yang dihasilkan semakin besar apabila kecepatan awal semakin tinggi.
Analisis Sour Corrosion pada Baja ASTM A36 Akibat Pengaruh Asam Sulfat dengan Variasi Temperatur dan Waktu Perendaman di Lingkungan Laut Ray Adam Baihaqi; Herman Pratikno; Yoyok Setyo Hadiwidodo
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.281 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.45896

Abstract

Pada industri maritim masalah korosi merupakan masalah yang serius yang terjadi pada logam karena bisa mengurangi nilai ekonomis dari logam tersebut. Logam yang paling banyak digunakan pada industri maritim adalah Baja ASTM A36 yang merupakan baja karbon rendah dengan kandungan karbon 0,25% sampai 0,29%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui variasi medium perendaman, temperatur dan waktu perendaman terhadap laju korosi Baja ASTM A36. Pada medium perendaman menggunakan dua variasi yaitu medium NaCl 3,5% yang merupakan medium air laut buatan dan medium NaCl 3,5% + H2SO4 0,5 M. Kemudian untuk variasi temperatur adalah 20˚, 30˚, 40˚ C. Dan variasi waktu perendaman yang digunakan 24, 72, 120 dan 168 jam. Hasil dari uji immersion corrosion test menunjukkan nilai laju korosi tertinggi terjadi pada Baja ASTM A36 yang direndam pada medium NaCl 3,5% + H2SO4 0,5 M dengan temperatur perendaman 40˚ C yang menunjukkan nilai laju korosi 37,584 mmpy (24 jam), 31,965 mmpy (72 jam), 23,795 mmpy (120 jam), 19,375 mmpy (168 jam), kemudian pada material sampel uji tersebut terjadi korosi seragam dan korosi batas butir. Nilai laju korosi tertinggi pada medium perendaman NaCl 3,5% terjadi pada Baja ASTM A36 yang direndam pada temperatur 40˚ C yang menunjukkan nilai laju korosi 0,098 mmpy (24 jam), 0,105 mmpy (72 jam), 0,081 mmpy (120 jam), 0,063 mmpy (168 jam), kemudian pada material sampel uji tersebut terjadi korosi seragam dan korosi sumuran. Hasil penelitian ini didapatkan adanya senyawa H2SO4 dan temperatur yang tinggi dapat mempercepat laju korosi di lingkungan laut.