cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Arahan Pengembangan Green Infrastructure Pendukung Kuantitas Air Tanah di Kelurahan Sarangan Magetan berdasarkan Persepsi Stakeholder Rachmadiarazaq Rachmadiarazaq; Rulli Pratiwi Setiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.55633

Abstract

Kelurahan Sarangan yang terletak di Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur terpapar bahaya dan risiko kekeringan. Penduduk di Kecamatan Sarangan memiliki terpapar kekeringan hingga 100%, dengan bahaya kekeringan pada tingkat sedang hingga tinggi, kerentanan kekeringan pada tingkat rendah hingga tinggi, dan risiko kekeringan pada tingkat rendah hingga tinggi. Untuk menghindari potensi risiko yang semakin besar, maka perlu dirumuskan langkah-langkah pencegahan. Infrastruktur hijau dipilih sebagai alternatif karena memiliki dampak positif terhadap peningkatan kuantitas dan kualitas air tanah. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan infrastruktur hijau untuk peningkatan kuantitas air tanah pada Kelurahan Sarangan, Magetan, berdasarkan persepsi stakeholder. Langkah pertama adalah mengidentifikasi ketersediaan dan kondisi infrastruktur hijau yang dapat meningkatkan kuantitas sumber daya air tanah. Langkah kedua adalah mengidentifikasi komponen prioritas infrastruktur hijau menggunakan Importance-Performance Analysis (IPA). Langkah terakhir adalah merumuskan arahan pengembangan infrastruktur hijau untuk peningkatan kuantitas air tanah menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rainwater harvesting termasuk dalam kuadran 'prioritas utama', di mana strategi pengembangan infrastruktur hijau harus mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk jenis infrastruktur hijau ini. Sedangkan empat jenis infrastruktur hijau lainnya, yaitu permeable pavements, green streets, urban tree canopy, dan retention pond termasuk dalam kuadran 'pertahankan kinerja', di mana strategi pengembangan infrastruktur hijau harus tetap menjaga keempat jenis infrastruktur hijau tersebut untuk memastikan bahwa kinerja infrastruktur-infrastruktur tersebut tidak menurun.
Penentuan Prioritas Pengembangan Infrastruktur Wilayah Pesisir Kecamatan Sangatta Utara dan Kecamatan Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur Fahmy Abdillah Syaiful; Arwi Yudhi Koswara
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.55916

Abstract

Kecamatan Sangatta Utara dan Kecamatan Sangatta Selatan merupakan kecamatan pesisir Kabupaten Kutai Timur yang memiliki berbagai potensi untuk dikembangkan. Karena berada pada wilayah pesisir, potensi yang dapat dikembangkan yaitu seperti subsektor perikanan dan sub sektor wisata bahari. Namun dalam kondisi dilapangan, infrastruktur yang mendukung pengembangan kedua subsektor tersebut masih dinilai dan dirasa kurang. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan prioritas pengembangan infrastruktur pesisir di Kecamatan Sangatta Utara dan Kecamatan Sangatta Selatan. Metode penelitian yag digunakan adalah rasionalistik dan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Dalam penentuan prioritas pengambangan infrastruktur wilayah pesisir di Kecamatan Sangatta Utara dan Kecamatan Sangatta Selatan digunakan teknik importance-performance analysis dengan melibatkan stakeholder terpilih. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui prioritas kelompok infrastruktur yaitu: prioritas 1 (cold storage, TPI, dan drainase), prioritas 2 (jalan, air bersih, fasilitas pendukung transportasi, persampahan, dan jaringan telekomunikasi), dan prioritas 3 (SPBU, sentra pengolahan ikan, KUD, rumah makan, taman bermain, dan hotel atau homestay).
Identifikasi Karakteristik Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Pariwisata Geotourism di Desa Wonocolo, Kabupaten Bojonegoro Achmad Farabi Calyandra; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56126

Abstract

Desa Wonocolo termasuk salah satu desa di Kabupaten Bojonegoro yang memiliki potensi pariwisata berbasis geologi yang sedang dikembangkan yaitu Geopark Wonocolo atau lebih dikenal dengan nama Teksas Wonocolo berdasarkan RIPARDA Kabupaten Bojonegoro tahun 2019-2034. Selain itu desa ini memiliki pokdarwis (kelompok sadar wisata) sebagai pengembang dan pengelola wisata di Desa Wonocolo. Namun, dalam pengembangan pariwisata di Desa Wonocolo sendiri masih terdapat masalah salah satunya yaitu dari segi partisipasi masyarakat lokal yang belum meningkat dikarenakan kebanyakan masyarakat masih belum melihat peluang bahwa sektor pariwisata dapat menjadi salah satu mata pencaharian yang berpotensi serta wisata yang ditawarkan terbilang monoton contohnya saja hanya ada kegiatan tour guide dan edukasi yang hanya ada di museum geopark. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi karakteristik partisipasi masyarakat di Desa Wonocolo yang berkaitan dengan pengembangan pariwisata geotourism. Untuk menentukan karakteristik partisipasi masyarakat ini digunakan teknik content analysis dengan melibatkan para stakeholder yang telah ditentukan sebagai responden yang terdiri dari pemerintah, swasta, bumn, dan masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, dapat ditemukan karakteristik partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata geotourism di Desa Wonocolo, sebagai contohnya antara lain : Masyarakat aktif mengikuti seminar tentang pengembangan wisata yang diselenggarakan pemerintah yang diselenggarakan pemerintah, Masyarakat masih merencanakan dalam penyediaan sarana edukasi untuk wisatawan di area tambang, serta Tidak terdapatnya partisipasi masyarakat terkait pembangunan sarana pariwisata di Desa Wonocolo.
Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Pengembangan Agrowisata Berbasis Komoditas Buah Naga di Desa Kemuning Lor, Kabupaten Jember Sabilla Ananda Putri; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.55985

Abstract

Desa Kemuning Lor merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Jember yang ditetapkan sebagai destinasi agrowisata berbasis komoditas buah naga dalam RIPPDA Kabupaten Jember tahun 2015-2025. Desa ini memiliki sumber daya yang berpotensi untuk mendukung pengembangan agrowisata, dilihat dari sumber daya manusia, kondisi pertanian, atraksi wisata maupun aksesibilitasnya. Namun, faktanya potensi sumber daya yang ada di Desa Kemuning Lor belum dimanfaatkan dan dikelola secara optimal, sehingga masih terjadi peningkatan jumlah keluarga prasejatera setiap tahunnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang memengaruhi pengembangan agrowisata berbasis komoditas buah naga di Desa Kemuning Lor berkaitan dengan pengembangan Desa Kemuning Lor sebagai desa agrowisata. Dalam penentuan faktor pengembangan agrowisata dilakukan in-depth-interview pada stakeholder terpilih. Kemudian, dilakukan analisis konten pada transkrip hasil wawancara untuk menggali faktor yang memengaruhi pengembangan agrowisata berbasis komoditas buah naga di Desa Kemuning Lor. Hasil dari penelitian ini mengindikasi bahwa dari 19 faktor yang diujikan, seluruhnya berpengaruh terhadap pengembangan agrowisata serta ditemukan 1 faktor baru yang mempengaruhi pengembangan agrowisata berbasis buah naga di desa Kemuning Lor yaitu faktor kualitas SDM.
Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Integrasi Daya Tarik Wisata (DTW) di Kawasan Wisata Pantai Puger, Kabupaten Jember Nina Yuniar Tantri; Hertiari Idajati
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56164

Abstract

Kawasan Wisata Pantai Puger merupakan kawasan wisata yang berada di deretan pantai selatan Kabupaten Jember. Kawasan ini memiliki keberagaman Daya Tarik Wisata yang menjadi andalan wisata di Kabupaten Jember yaitu Pantai Pancer dan TPI Puger. Kawasan Wisata Pantai Pancer ini memiliki jarak yang berdekatan, namun tidak didukung oleh akses dan sarana transportasi penghubung yang memadai. Sehingga dibutuhkan konsep integrasi untuk pengembangannya. Dalam pengembangan pariwisata dengan konsep integrasi ini perlu mengetahui faktor apasaja berpengaruh di dalamnya. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi pengembangan pariwisata terintegrasi di Kawasan Wisata Pantai Puger, dengan melakukan in-depth interview bersama stakeholder terpilih. Kemudian dilakukan content analysis pada hasil transkrip wawancara untuk menggali faktor yang mempengaruhi pengembangan pariwisata terintegrasi di Kawasan Wisata Pantai Puger. hasil dari penelitian ini mengindikasikan, bahwa dari 16 sub-faktor yang diujikan, hanya faktor peran swasta yang tidak berpengaruh dalam pengembangannya.
Pengembangan Infrastruktur Tambak Garam Rakyat Berdasarkan Zonasi pada Kawasan Pegaraman di Kabupaten Pamekasan Pramita Rosyida; Eko Budi Santoso
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56257

Abstract

Kabupaten Pamekasan memiliki potensi geografis yang mendukung produksi garam. Namun hasil produksi garam masih memiliki kualitas rendah dan membutuhkan banyak perbaikan, seperti modernisasi peralatan, infrastruktur saluran irigasi, jaringan jalan, dan pergudangan. Pada masing-masing kawasan pegaraman telah memiliki potensi awal infrastruktur tambak garam untuk dikembangkan namun belum ditentukan kebutuhan infrastruktur berdasarkan zona kawasan pegaraman sehingga belum memaksimalkan infrastruktur yang telah tersedia. Penelitian pengembangan infrastruktur tambak garam berdasarkan zonasi pada kawasan pegaraman di Kabupaten Pamekasan yang membagi kawasan pegaraman menjadi tiga, yaitu produksi, pengolahan, dan pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk membuat arahan pengembangan infrastruktur tambak garam rakyat berdasarkan zona pegaraman di Kabupaten Pamekasan. Ada beberapa tahapan yang digunakan dalam menganalisis infrastruktur, yaitu (1) Content Analysis untuk mengetahui kebutuhan infrastruktur berdasarkan zona, (2) analisis Deskriptif untuk mengidentifikasi kondisi eksisting infrastruktur, dan (3) analisis Triangulasi untuk membuat arahan pengembangan infrastruktur berdasarkan peran dan fungsinya. Hasil penelitian menunjukkan beberapa arahan pengembangan infrastruktur yang dibutuhkan berdasarkan zonasi dalam kawasan pegaraman. Zonasi produksi membutuhkan infrastruktur seperti, mesin pompa air, kincir angin, gerobak sorong, geoisolator, tanggul, saluran primer, saluran sekunder, dan saluran tersier. Zonasi pengolahan membutuhkan infrastruktur seperti, jaringan air bersih, jaringan listrik, gudang, dan moda transportasi. Sedangkan untuk zona pemasaran membutuhkan infrastruktur seperti, jaringan jalan dan pelabuhan.
Perencanaan Pengembangan Sistem Penyaluran Air Limbah Terpusat IPAL Sewon Habib Dwi Putro Priambodo; Welly Herumurti
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56337

Abstract

Pemerintah Provinsi DIY melalui UPT IPAL Sewon berencana untuk meningkatkan pelayanan Sambungan Rumah dari yang awalnya 25.000 (2020) menjadi 50.000 (2040), diiringi dengan peningkatan kapasitas pengolahan IPAL Sewon. Jaringan pipa air limbah yang dilayani oleh IPAL Sewon adalah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan sebagian Kabupaten Bantul. Kondisi saat ini, panjang jaringan perpipaan yang dilayani oleh IPAL Sewon adalah 234 km yang terdiri atas pipa induk berdiameter lebih dari 300 mm, pipa gelontor dengan diameter lebih dari 300 mm, dan pipa lateral dengan diameter 200 – 300 mm. Pada perencanaan ini, dilakukan perencanaan pengembangan jaringan pelayanan penyaluran air limbah di Kota Yogyakarta yang nantinya akan diolah di IPAL Sewon. Perencanaan didahului dengan menganalisis kondisi eksisting, kemudian dilakukan perencanaan sesuai data primer dan sekunder yang diperoleh. Dari data tersebut dapat dilakukan analisis kondisi eksisting dan didapatkan perencanaan dalam pengembangan sistem penyaluran air limbah terpusat di Kota Yogyakarta. Dalam perencanaan ini, ditambahkan daerah layanan baru sebesar 550,68 hektar, yang meliputi Kecamatan Kotagede, Kecamatan Umbulharjo, Kecamatan Tegalrejo, Kecamatan Gedongtengen, dan Kecamatan Gondokusuman dengan total sambungan baru sebanyak 27.225 SR dan panjang pipa 25,68 km. Hasil perhitungan timbulan air limbah dan perencanaan perpipaan telah dilakukan dan disambungkan dengan sistem jaringan eksisting. Didapatkan pula jaringan pipa eksisting masih sanggup menerima beban air limbah pada daerah baru, sehingga tidak diperlukan penggantian pipa baru. Pada jaringan pengembangan, diameter pipa terkecil adalah 103 mm pada pipa lateral dan diameter terbesar adalah 500 mm pada pipa primer. Pipa yang melewati sungai direncanakan jembatan pipa dengan air limbah yang dipompa. Dari perencanaan ini, didapatkan debit air limbah sebesar 28.012 m3/hari, yang melampaui kapasitas desain IPAL Sewon saat ini. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan kapasitas IPAL Sewon yang baru.
Perencanaan Pengurasan dan Pengeringan Lumpur Skala Kecil IPALD-T Kabupaten Gresik Debbie Gabriella Hutagaol; Welly Herumurti
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56882

Abstract

Lumpur merupakan produk samping dari pengolahan air limbah yang memiliki karakteristik berbahaya terhadap lingkungan karena mengandung mikroorganisme patogen serta konsentrasi polutannya yang sangat tinggi. Beberapa IPAL di Kabupaten Gresik mengalami penurunan kualitas efluen yang disebabkan oleh terhambatnya pengurasan endapan lumpur di dalam unit pengolahan. Penyebab terhambatnya pengurasan lumpur adalah keterbatasan akses menuju IPAL. Tujuan dari perencanaan ini adalah merencanakan metode pengurasan dan pengangkutan lumpur skala kecil, merencanakan unit pengolahan lumpur skala kecil, serta merencanakan anggaran biaya yang dibutuhkan dalam pengelolaan lumpur skala kecil. Dalam penelitian ini, penentuan IPALD-T yang pengurasan lumpurnya terhambat direncanakan berdasarkan identifikasi kemampuan akses sarana pengangkut lumpur ke unit pengolahan lumpur. Periode pengurasan direncanakan berdasarkan produksi lumpur pada masing-masing bak dan membandingkannya dengan kapasitas kompartemen settler dan pengolahan biologis. Sarana pengurasan direncanakan berdasarkan lebar jalan dan lama pengurasan direncanakan berdasarkan kapasitas sarana pengurasan. Unit dewatering direncanakan berdasarkan ketersediaan lahan, efisiensi biaya, dan kemudahan dalam operasional. Periode pengurasan IPAL klaster 1 dilakukan 3 tahun sekali dengan menggunakan truk tinja. Sedangkan untuk klaster 2 dan 3 masing-masing dilakukan 1 dan 2 tahun sekali. Sarana pengurasan yang digunakan adalah kombinasi antara motor tinja dan kedoteng. Perencanaan unit dewatering skala kecil menghasilkan 2 unit bak pengering lumpur dan 3 unit tandon pengering lumpur, masing-masing dengan kapasitas total 2,88 m3 dan 1,9 m3. Total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunannya masing-masing adalah Rp 30.508.500,- dan Rp 16.114.500,-.
Perencanaan Ulang Sistem Drainase Perumahan Mulyosari, Surabaya Timur Rizaldi Firdaus Ardiyanto; Umboro Lasminto; Anak Agung Ngurah Satria Damarnegara
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56706

Abstract

Abstrak—Surabaya merupakan salah satu kota yang mengalami pengembangan yang cukup pesat dalam pembangunan perumahan. Daerah yang dulunya merupakan sawah ataupun lahan kosong diubah fungsinya menjadi perumahan. Termasuk perumahan Mulyosari dengan luas ± 85,397 ha yang memiliki kondisi geografis rendah dan cenderung datar. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, terjadi permasalahan yaitu adanya genangan di beberapa titik pada daerah perumahan saat musim hujan. Hal ini dapat diatasi dengan merencanakan ulang dimensi saluran drainase serta dengan penambahan fasilitas drainase seperti pembangunan kolam tampung, pintu air, ataupun pompa. Perencanaan pada studi ini menggunakan simulasi dengan program bantu Storm Water Management Model (SWMM) 5.1 yang diawali dengan melakukan pengumpulan data, yaitu data hidrologi (data curah hujan), data peta yang terdiri dari peta topografi dan layout perumahan, dan data hidrolika yang didapat dengan cara tinjauan langsung pada lapangan. Analisis yang dilakukan dengan program bantu SWMM bertujuan untuk mengetahui apakah saluran dapat menampung debit banjir yang ada. Kemudian dilakukan perencanaan ulang dimensi dan perencanaan fasilitas drainase seperti kolam tampung dan pompa. Hasil dari studi ini adalah dengan tinggi hujan periode ulang 10 tahun sebesar 120,328 mm, didapatkan debit banjir atau maksimum pada sistem drainase Perumahan Mulyosari sebesar 12,04 m3/dtk yaitu pada jam ke-2 setelah simulasi menggunakan program bantu SWMM dimulai. Pada studi ini direncanakan kolam tampung dan pompa pada hilir dengan debit masuk sebesar 2,66 m3/dtk, dan kolam tampung direncanakan memiliki luas sebesar 500 m2 dengan kedalaman 2,5 m dan membutuhkan 4 unit pompa dengan masing-masing berkapasitas 0,65 m3/dtk. Untuk spesifikasi pintu air pada hilir sistem drainase Perumahan Mulyosari berjumlah 2 dengan pilar selebar 0,5 m di antaranya. Dimensi dari pintu air tersebut yaitu lebar 0,85 m; tinggi daun pintu 0,75 m; tebal 0,01 m; dan diameter stang 5,00 cm.
Perencanaan Tipikal Unit Pengolahan Skala Kecil Lumpur IPAl Domestik Kabupaten Gresik Hilma Ayu Khansa; Welly Herumurti
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56811

Abstract

Abstrak—Lumpur IPALD-T memiliki kadar air yang tinggi serta kontaminan yang dapat mencemari lingkungan. Beberapa IPALD-T di Kabupaten Gresik memiliki kendala pengurasan yang tidak teratur karena IPALD-T yang tidak dapat dilewati oleh truk tinja dan jauh dari IPLT. Pengurasan yang tidak teratur menyebabkan penurunan kemampuan penyisihan kontaminan pada IPALD-T. Sehingga, diperlukan adanya pengolahan lumpur skala kecil di sekitar lokasi IPALD-T. Tujuan tugas akhir ini adalah menentukan kriteria desain unit dewatering berdasarkan studi literatur dan melakukan perencanaan pengolahan lumpur skala kecil. Tugas akhir ini menghasilkan kriteria desain unit dewatering dengan ketinggian lumpur berkisar 20-50 cm, ketinggian media filter geotekstil non woven 1-6 cm dengan jenis PET (Polietelena Tereftalat) dan PP (Polypropylene) (continuous filament dan Staple fibre dengan berat 150-500 GSM), ketinggian Media filter pasir diameter 0,2-0,6 setinggi 20-30 cm, dan kerikil penyangga diameter 2-3 cm setinggi 20-30 cm. Hasil perencanaan unit dewatering yang telah dilakukan menghasilkan unit dengan kapasitas 0,335 m3 dengan lumpur setinggi 40 cm, geotekstil non-woven setinggi 6 cm, pasir berdiameter 0,2-0,6 mm setinggi 20 cm, kerikil penyangga berdiameter 2-3 cm setinggi 20 cm, dan geotekstil non-woven 1 cm. Unit dewatering ini direncanakan menggunakan tandon dengan diameter 103,2 cm dan ketinggian tandon 100 cm, serta dilengkapi dengan bak penampung filtrat.