cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Analisis Kondisi dan Perbaikan Perkerasan pada Ruas Jalan R. E. Martadinata, Kecamatan Tanjung Priok, Kota Administrasi Jakarta Utara Daniel Pratama Sinaga; Cahya Buana
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.67858

Abstract

Jalan yang rusak akan menghambat serta mengganggu aktivitas masyarakat, seperti yang ditemui pada ruas Jalan R. E. Martadinata di kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Jalan tersebut mengalami kerusakan sepanjang 3,4 kilometer dari total panjang 7,4 kilometer. Kerusakan tersebut terjadi akibat beberapa faktor, salah satunya adalah kendaraan berat dengan muatan berlebih yang mengangkut barang dari Pelabuhan Tanjung Priok dan proyek pembangunan Jakarta International Stadium (JIS). Metode yang digunakan untuk melakukan penilaian kondisi perkerasan adalah metode Pavement Condition Index (PCI). Selanjutnya direncanakan perbaikan kerusakan perkerasan berdasarkan hasil survei lapangan dan analisis PCI. Dalam perencanaan, ada dua jenis data yang digunakan, yaitu data primer dan data sekunder. Untuk data primer berupa data kerusakan jalan dan data lalu lintas. Sedangkan untuk data sekunder berupa data HSPK. Setelah itu dilakukan perhitungan biaya yang dibutuhkan dalam melaksanakan perbaikan perkerasan. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa kendaraan yang paling berpengaruh terhadap kerusakan pada jalan R. E. Martadinata adalah truk trailer dengan konfigurasi sumbu 1.2 – 2.2 dengan persentase daya rusak jalan (VDF) sebesar 43,88 %. Nilai rata-rata PCI untuk semua segmen adalah 75,56 yang berarti jalan dalam kondisi baik. Meskipun kondisi keseluruhan baik, namun ada beberapa segmen yg memiliki kondisi buruk seperti pada segmen STA 2+200 sampai STA 2+600 sehingga harus dilakukan perbaikan. Perbaikan kerusakan yang digunakan ada 3 macam yaitu pengisian keretakan (crack sealing), penambalan (patching), dan pemadatan tanah. Total biaya untuk perbaikan perkerasan sebesar Rp 178.896.000.
Perencanaan Jalan Berkeselamatan di Kabupaten Tuban Abid Meihendra Suswanto; Anak Agung Gde Kartika
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69957

Abstract

Perkembangan Kabupaten Tuban yang cukup pesat adalah bentuk keberhasilan program pembangunan pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan standar hidup penduduk Kabupaten Tuban. Perkembangan tersebut tentu berkaitan erat dengan pertambahan penduduk yang akan membawa dampak pada peningkatan kebutuhan akan pelayanan jalan dan sistem transportasi. Kabupaten Tuban juga mempunyai angka kecelakaan yang cukup tinggi. Sering terjadinya kecelakaan di Kabupaten Tuban di daerah-daerah ataupun ruas jalan tertentu membuat perlu dilakukannya audit dan peninjauan terhadap jalan tersebut. Karena kecelakaan dapat terjadi disebabkan banyak faktor, diantaranya kelalaian pengguna jalan, tidak patuhnya pengguna jalan dengan peraturan, dan kondisi infrastruktur jalan yang kurang baik maupun kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Berdasarkan permasalahan tersebut, dilakukan analisis mengenai kecelakaan lalu lintas di ruas jalan nasional Kabupaten Tuban dengan pengolahan data kecelakaan lalu lintas jalan raya tahun 2018 sampai 2020, data volume kendaraan, dan data panjang jalan. Metode yang digunakan dalam analisis ini diantaranya adalah Z-Score, metode Angka Kecelakaan (Accident Rate), metode The Gross Output (Human Capital), dan menggambar Collision Diagram untuk mengetahui Blackspot pada ruas jalan yang rawan terjadi kecelakaan. Dari hasil analisis memperlihatkan bahwa angka kecelakaan tertinggi pada tahun 2018 sampai 2020 untuk kelas meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan adalah jalan Raya Semarang dengan angka kecelakaan sebesar 6,71 orang per satu juta kendaraan kilometer, sedangkan untuk kelas luka berat sebesar 1,92 orang per satu juta kendaraan kilometer, dan untuk korban kelas luka ringan sebesar 12,46 orang per satu juta kendaraan kilometer. Daerah rawan kecelakaan (Black Site) dengan nilai terbesar terdapat pada ruas jalan P. Sudirman, dengan nilai Z-Score selama 3 tahun sebesar 2,15 dan nilai Z-Score pada tahun terakhir sebesar 2,15. Total biaya korban kecelakaan berdasarkan metode Gross Output human capital pada 10 ruas jalan di Kabupaten Tuban adalah pada tahun 2018 sebesar Rp 12.377.627.618,00-, untuk tahun 2019 sebesar Rp 11.034.625.646,00-, dan tahun 2020 sebesar Rp 11.092.312.461,00-.
Analisis Bandar Udara Sam Ratulangi di Manado Sebagai Bandar Udara Super Hub untuk Jembatan Udara di Wilayah Indonesia Timur Ditinjau dari Konektivitas Kargo Widhi Utomo Megantoro; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69750

Abstract

Pada saat ini terdapat 34 bandara internasional di Indonesia, akan tetapi tidak semua bandar udara yang berstatus internasional memiliki penerbangan internasional. Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub dalam sebuah forum ilmiah menyampaikan rencana evaluasi status 34 bandar udara tersebut dan mengubah konsepan bandara internasional di Indonesia menjadi bandara Hub dan Super Hub. Bandar udara Sam Ratulangi di Manado, Sulawesi Utara direncanakan menjadi bandar udara Super Hub bidang logistik untuk mendukung jembatan udara wilayah Indonesia Timur. Di sisi lain, selama ini Bandar Udara Sultan Hasanuddin di Makassar, Sulawesi Selatan merupakan Hub untuk menghubungkan pergerakan penumpang dari wilayah Barat ke wilayah Timur Indonesia. Selama ini kargo diangkut bersamaan dengan pesawat penumpang. Apabila hub karhgo dipusatkan pada Bandar Udara Sam Ratulangi, maka perlu ada studi terkait konektivitas antar bandara Sam Ratulangi dan Sultan Hasanuddin. Pada Tugas Akhir ini dilakukan analisis mengenai indeks konektivitas Bandar Udara Sam Ratulangi dan Bandar Udara Sultan Hasanuddin sebagai pembanding. Perhitungan Indeks konektivitas ini menggunakan model NetScan yang diciptakan oleh SEO Economics. Data yang diperlukan meliputi data bandara koordinator wilayah (korwil), data jadwal pergerakan pesawat beserta bandar udara yang dilayani, data jenis pesawat yang melayani, dan data jarak antar bandar udara. Hasil dari analisis menunjukkan Bandar Udara Sultan Hasanuddin memiliki nilai konektivitas yang lebih baik, pada penerbangan langsung memiliki nilai konektivitas sebesar 79,4 dan nilai konektivitas penerbangan tidak langsung sebesar -470. Sedangkan nilai konektivitas Bandar Udara Sam Ratulangi pada penerbangan langsung sebesar 31,5 dan pada penerbangan tidak langsung sebesar -552. Akan tetapi Bandar Udara Sam Ratulangi memiliki jarak tempuh rata-rata yang lebih dekat yaitu 1807,1 km dibandingkan dengan jarak tempuh rata rata dari Bandar Udara Sultan Hasanuddin yang memiliki jarak rata- rata 2107,4 km.
Analisis Perbandingan Travel Cost dan Travel Time Bandara SAMS Sepinggan dan Bandara APT Pranoto sebagai Akses Masuk Menuju Ibu Kota Negara Maulina Indah Harvianti; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69238

Abstract

Usulan pemindahan ibu kota negara Republik Indonesia merupakan hal yang sudah didiskusikan sejak kepresidenan Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Alasan direncanakan pemindahan ibu kota negara yaitu menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015 menyebutkan bahwa sekitar 56,56% masyarakat Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa. Lokasi calon ibu kota negara yaitu berada di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Lokasi calon ibu kota negara tidak jauh dengan Bandara SAMS Sepinggan yang berada di Kota Balikpapan dan Bandara APT Pranoto yang berada di Kota Samarinda. Dalam penulisan ini dilakukan analisis radius penerbangan setiap tipe pesawat, perhitungan biaya operasi pesawat dan tarif pesawat dengan menggunakan Peraturan Menteri Nomor 126 Tahun 2015, analisis perbandingan waktu tempuh dan biaya perjalan dari ibu kota provinsi menuju ibu kota negara, dan analisis proporsi Bandara SAMS Sepinggan dan Bandara APT Pranoto. Hasil dari analisis perbandingan travel cost dan travel time dari ibu kota provinsi menuju ibu kota negara melalui Bandara SAMS Sepinggan berdasarkan penerbangan langsung didapatkan travel cost sebesar Rp. 730.303 dan travel time sebesar 2,28 jam pada Provinsi Sulawesi Tengah. Untuk rute eksisting melalui Bandara SAMS Sepinggan didapatkan travel cost sebesar Rp. 456.568 pada Provinsi Kalimantan Tengah. Untuk rute eksisting pada Bandara APT Pranoto travel cost didapatkan sebesar Rp. 1.076.301 pada Provinsi Jawa Timur dan travel time sebesar 3,17 jam pada Provinsi Sulawesi Selatan. Proporsi bandara dilakukan dengan membandingkan jarak tempuh penerbangan langsung didapatkan sebesar 76% untuk Bandara SAMS Sepinggan dan 24% untuk Bandara APT Pranoto. Sedangkan berdasarkan rute eksisting, proporsi bandara didapatkan sebesar 100% untuk Bandara SAMS Sepinggan dan 0% untuk Bandara APT Pranoto.
Analisis Konektivitas Transportasi Udara Antar Ibukota Provinsi di Indonesia Akibat Pandemi Covid-19 Udyani Salma Widyaswari; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69241

Abstract

Perkuatan konektivitas transportasi dibutuhkan untuk meningkatkan akses masyarakat seluruh Indonesia yang merupakan negara kepulauan, sehingga produktivitas dan daya saing dapat meningkat serta merata. Sejak Maret 2020, penerbangan menjadi salah satu sektor yang terdampak Covid-19 yang mendorong diterapkannya berbagai kebijakan untuk mengurangi penyebaran virus. Penurunan penerbangan dapat berdampak pada perusahaan pengelola bandara dan maskapai penerbangan, seperti berkurangnya pendapatan yang dapat berpengaruh pada dana pemeliharaan. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis tingkat indeks konektivitas transportasi udara antar ibukota provinsi di Indonesia saat terdampak pandemi Covid-19. Analisis tingkat konektivitas dilakukan dengan Graph Theory, menggunakan data sekunder berupa daftar bandara dan pergerakannya serta data pembanding. Data pergerakan direpresentasikan dalam grafik model jaringan dan matriks konektivitas. Kemudian dihitung indeks konektivitas yang ditunjukkan oleh indeks alfa, indeks beta, dan indeks gama. Dilakukan juga analisis perubahan pendapatan bandara saat Covid-19. Dari hasil pembuatan matriks konektivitas yang meninjau penerbangan langsung, didapatkan mayoritas perubahan tingkat konektivitas saat Covid-19 merupakan penurunan dan penurunan terbesar adalah 78% pada Bandar Udara Sultan Thaha. Sementara itu, berdasarkan Graph Theory yang meninjau penerbangan langsung dan tidak langsung, didapatkan indeks konektivitas terbesar pada Bandar Udara Internasional Juanda yaitu indeks alfa 0,857, indeks beta 2,559, dan indeks gama 0,906. Mayoritas perubahan saat Covid-19 merupakan penurunan dan penurunan terbesar terjadi pada Bandar Udara Rendani yaitu indeks alfa 119,4%, indeks beta 57,8%, dan indeks gama 57,8%. Hasil analisis perubahan pendapatan bandara adalah penurunan pendapatan, dengan penurunan terbesar pada Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara yaitu 77%.
Analisis Potensi Rute Penerbangan Bandar Udara Singkawang Terkait Keberlangsungan Operasional Bandar Udara William Bunkharisma; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69320

Abstract

Kota Singkawang memiliki potensi pariwisata yang besar dikarenakan keragaman budaya dan keindahan alamnya. Dalam meningkatkan potensi pariwisata Kota Singkawang, pemerintah berencana untuk membangun bandar udara di Kota Singkawang untuk meningkatkan aksesibilitas menuju Kota Singkawang. Pembangunan suatu bandar udara memerlukan biaya yang besar agar bandar udara dapat beroperasional untuk melayani maskapai penerbangan dan pengguna jasa angkutan udara. Salah satu sumber pemasukan terbear dari suatu bandar udara adalah jumlah jasa angkutan udara yang terdapat di bandar udara tersebut. Oleh karenanya mengetahui potensi rute penerbangan di suatu bandar udara dapat menentukan keberlangsungan operasional di sebuah bandar udara. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah dengan menganalisis potensi rute penerbangan berdasarkan daerah tangkapan, biaya dan durasi penerbangan tiap rute. Dari hasil analisis Penelitian ini diperoleh pesawat dengan jangkauan penerbangan optimum terbesar yang dapat beroperasi di bandar udara Singkawang adalah Boeing 737 8 – Max. Kemudian berdasarkan pesawat yang dapat beroperasi di bandar udara Singkawang, terdapat 39 rute penerbangan domestik potensial. Untuk mengetahui rute potensial digunakan analisis daerah tangkapan dari tiap bandar udara di Indonesia untuk memperoleh jumlah populasi dan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) yang akan berpengaruh dengan besarnya potensi penerbangan antar dua bandar udara. Daerah tangkapan bandar udara Singkawang akan melayani 1.119.861 orang dan PDRB sebesar Rp 1.389.941 miliar pada awal beroperasional. Untuk biaya penerbangan tiap rute termasuk cukup kompetitif, sebagai contoh untuk rute penerbangan bandar udara Singkawang menuju bandar udara Soekarno – Hatta dengan pesawat Airbus A320 – 200 memerlukan biaya jasa penerbangan sebesar Rp 1.296.149/seat. Adapun bandar udara yang memiliki potensi tertinggi untuk dibukanya rute menuju bandar udara Singkawang seperti Soekarno – Hatta, Husein Sastranegara, Ahmad Yani, Radin Inten II dan Sultan Mahmud Badaruddin II.
Analisis Transportasi Seaplane terhadap Konektivitas Antar Pulau di Kabupaten Halmahera Selatan Raihan Akbar Ghifari; Ervina Ahyudanari
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69458

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Dunia. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, dimana hanya sekitar 7.000 pulau yang berpenghuni. Untuk negara yang terdiri dari banyak pulau seperti Indonesia, diperlukannya konektivitas transportasi yang baik. Namun, tidak dapat dipungkiri lagi masih banyak pulau-pulau yang sangat jarang disinggah karena keterbatasan transportasi, waktu tempuh perjalanan yang begitu lama, dll. Kabupaten Halmahera Selatan adalah kabupaten yang memiliki jumlah penduduk dan luas wilayah terbesar di Provinsi Maluku Utara. Seaplane sebagai alat transportasi yang dapat memanfaatkan laut sebagai tempat pendaratan diharapkan bisa memenuhi kebutuhan berpergian antar pulau di Kabupaten Halmahera Selatan. Oleh sebab itu, pada penelitian ini dilakukan analisis transportasi seaplane terhadap konektivitas antar pulau di Kabupaten Halmahera Selatan. Pengerjaan penelitian ini dilakukan dengan memodelkan grafik representasi, membuat matriks konektivitas jaringan dan mencari travel time, travel cost serta kapasitas antara transportasi kapal dan seaplane, kemudian dianalisis dengan cara membandingkan travel time, travel cost dan kapasitas antara penggunaan transportasi kapal dengan transportasi seaplane dalam berpergian antar pulau. Dari hasil analisis penelitian ini didapatkan jarak tempuh dan travel time antar pulau di Kabupaten Halmahera Selatan menggunakan kapal dan seaplane. Kemudian didapatkan dari memodelkan grafik representasi dan membuat matriks konektivitas jaringan didapatkan pulau mana saja di Kabupaten Halmahera Selatan yang tidak memiliki direct koneksi dengan pulau yang memiliki bandar udara yaitu Pulau Bacan ada 3 pelabuhan. Kemudian dari hasil analisis travel time, travel cost, dan kapasitas didapatkan perbandingan antara transportasi kapal dan seaplane, yang mana transportasi seaplane dapat menghemat travel time sangat jauh dibandingkan menggunakan transpotasi kapal seperti dari Labuha ke Waikyon yang biasanya menggunakan kapal selama 331 menit, namun dengan menggunakan seaplane hanya selama 41 menit, akan tetapi harus mengeluarkan travel cost yang jauh lebih mahal dan hanya memiliki kapasitas terbatas dibanding dengan menggunakan kapal.
Perencanaan Dermaga Produk Curah Cair Kapal 10.000 DWT di Pelabuhan Kilang Minyak Tuban, Jawa Timur Fransisco Pascalino Adriana; Fuddoly Fuddoly; Cahya Buana
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69597

Abstract

Indonesia mengalami peningkatan kebutuhan akan minyak sejak 1 dekade terakhir dikarenakan tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Pemerintah mencanangkan untuk menumbuhkan industri Kilang Minyak sebagai upaya pencapaian ketahanan energi di Indonesia. Salah satunya akan dibangun Kilang Minyak di kabupaten Tuban, Jawa Timur yang diharapkan dapat meningkatkan penyediaan minyak mentah serta bahan bakar dalam negeri sehingga tidak bergantung pada impor. Kilang Minyak di kabupaten Tuban membutuhkan fasilitas yang memadai di area pelabuhan untuk menunjang produktifitasnya. Maka dari itu, perlu direncanakan dermaga produk untuk kegiatan loading dan pendistribusian hasil produksi minyak dengan kapasitas kapal sebesar 10.000 DWT. Pembangunan dermaga tersebut memerlukan perencanaan detail struktur seperti loading platform, breasting dolphin, mooring dolphin, catwalk, trestle, serta aksesoris dermaga berupa fender dan bollard. Lalu, melakukan evaluasi terhadap layout perairan serta daratan di area pelabuhan Kilang Minyak Tuban terhadap masterplan yang telah ada. Dan yang terakhir merencanakan metode pelaksanaan serta estimasi anggaran biaya dari pembangunan dermaga tersebut. Hasil dari perencanaan struktur dermaga produk curah cair ini diperoleh dimensi loading platform 15 x 20 m2, breasting dolphin 5 x 5 m2, mooring dolphin 3,8 x 3,8 m2, catwalk 1,2 x 5,75 m2 – 1,2 x 34,6 m2 – 1,2 x 29 m2, dan trestle 6 x 194 m2. Rencana anggaran biaya yang diperlukan dalam pembangunan dermaga ini sebesar Rp 80.471.264.000.- pembangunan dermaga ini sebesar Rp 80.471.264.000.-
Analisis Kelayakan Ekonomi dan Finansial Pembangunan Jalan Tol Mengwi-Gilimanuk Jyoti Krisnananda; Anak Agung Gde Kartika
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69868

Abstract

Wilayah Bali barat merupakan salah satu wilayah yang kurang tersentuh pembangunan. Oleh karena itu dalam rangka melakukan pemerataan pembangunan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan membangun Jalan Tol Mengwi-Gilimanuk yang nantinya akan melintasi tiga kabupaten di Provinsi Bali yaitu Kabupaten Jembrana, Kabupaten Tabanan, dan Kabupaten Badung. Analisis kelayakan proyek merupakan suatu penelitian untuk menilai proyek yang akan dikerjakan. Yang dimaksud penilaian disini ialah dengan memberikan rekomendasi apakah proyek yang bersangkutan layak dikerjakan atau sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Aspek ekonomi dan finansial merupakan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan suatu analisis kelayakan proyek. Dengan dilaksanakannya penelitian ini diperoleh besarnya penghematan dari BOK (Biaya Operasional Kendaraan) dan time value ketika nantinya jalan tol ini sudah dioperasikan, sehingga nantinya akan diketahui apakah pembangunan jalan tol ini layak secara aspek ekonomi dan finansial. Dari hasil analisis kelayakan ekonomi diperoleh nilai BCR sebesar 2.32 (BCR>1), NPV sebesar Rp24,227,067,710,657.20 (NPV>0), dan IRR sebesar 11.97% (IRR>Suku bunga). Sedangkan pada analisis kelayakan finansial diperoleh nilai BCR sebesar 1.18 (BCR>1), NPV sebesar Rp3,344,797,279,603.31, IRR sebesar 5.59% (IRR>Suku bugna), dan Payback Period pada tahun ke-32 bulan ke-2 setelah jalan tol dioperasikan. Berdasarkan analisis tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Jalan Tol Mengwi-Gilimanuk layak dari segi ekonomi dan finansial.
Analisis Kelayakan Jalan Lingkar Selatan Badung Ditinjau dari Segi Ekonomi Gusti Ngurah Aditya Satya Narayana Masta; Anak Agung Gde Kartika
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.69923

Abstract

Kabupaten Badung merupakan daerah pariwisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domsestik hingga internasional. Banyaknya kunjungan dari wisatawan tersebut mempengaruhi tingkat arus lalu lintas di Kabupaten Badung terutama pada wilayah Kuta dan Kuta Selatan yang menyebabkan terjadinya kemacetan di beberapa ruas jalan. Pemerintah Kabupaten Badung berencana membangun Jalan Lingkar Selatan Badung sebagai jalur alternatif untuk mengurangi kemacetan pada wilayah Badung Selatan. Jalan tersebut memiliki panjang total 23,5 kilometer yang akan menghubungkan Kelurahan Benoa-Desa Ungasan-Desa Kutuh-Desa Pecatu-Kelurahan Jimbaran. Untuk mengetahui layak dibangun atau tidaknya jalan lingkar tersebut dari segi kelayakan ekonomi maka dibutuhkanklah penelitian berupa analsis kelayakan Jalan Lingkar Selatan Badung ditinju dari segi ekonomi. Untuk menganalisis kelayakan dari aspek ekonomi, digunakan parameter berupa Benefit Cost Ratio (BCR), Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). Dari hasil analisis kelayakan yang dilakukan diperoleh nilai Benefit Cost Ratio (BCR) 1,23>1, Net Present Value (NPV) Rp 2,582,518,740,494>0 dan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 16,3 %> 4,43% (MARR). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Jalan Lingkar Selatan Badung layak secara ekonomi.