cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik ITS merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi mahasiswa ITS yang hendak mempublikasikan hasil Tugas Akhir-nya dalam bentuk studi literatur, penelitian, dan pengembangan teknologi. Jurnal ini pertama kali terbit pada September 2012, dimana setiap tahunnya diterbitkan 1 buah volume yang mengandung tiga buah issue.
Arjuna Subject : -
Articles 3,978 Documents
Dynamic Economic Dispatch dengan Mempertimbangkan Kerugian Transmisi Menggunakan Metode Sequential Quadratic Program Dika Lazuardi Akbar; Ontoseno Penangsang; Ni Ketut Aryani
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.134 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16217

Abstract

Economic dispatch (ED) merupakan hal penting dalam kontrol dan operasi pada sistem tenaga. Fungsi utama dari ED adalah untuk menjadwalkan pembangkitan dari setiap pembangkit yang beroperasi untuk dapat memenuhi kebutuhan beban pada biaya pembangkitan paling minimal. ED konvensional hanya dapat digunakan untuk satu level beban. Dynamic economic dispatch (DED) adalah perubahan beban secara  real time pada sistem tenaga. DED merupakan pengembangan dari ED konvensional. DED digunakan untuk menentukan pembagian pembebanan unit pembangkit secara ekonomis dalam rentang waktu tertentu dari unit pembangkit. Parameter yang akan dipertimbangkan adalah kerugian transmisi dengan memenuhi batasan ramp rate.. Kerugian transmisi dapat mempengaruhi daya yang dibangkitkan oleh generator dan total biaya yang digunakan untuk pembangkitan daya. Untuk mendapatkan biaya yang optimal dengan melibatkan kerugian transmisi maka diperlukan proses optimal power flow (OPF). Proses OPF ini akan dilakukan terus menerus setiap perubahan interval (jam). Untuk melakukan proses OPF, digunakan metode sequential quadratic program (SQP). SQP merupakan metode pengembangan dari quadratic program yang dilakukan iterasi dalam setiap prosesnya. Aplikasi untuk melakukan proses dynamic economic dispatch dengan mempertimbangkan kerugian transmisi adalah MATLAB. Matpower yang merupakan toolbox program MATLAB akan digunakan untuk proses optimasi. Hasil dari simulasi menggunakan MATLAB, didapatkan total biaya untuk DED tanpa melibatkan kerugian transmisi lebih murah jika dibandingkan hasil DED dengan melibatkan kerugian transmisi dalam proses optimasi
Economic and Emission Dispatch Pada Sistem Transmisi Jawa Bali 500 kV Berdasarkan RUPTL 2015-2024 Menggunakan Modified Artificial Bee Colony Algorithm Dio Adya Pratama; Ontoseno Penangsang; Ni Ketut Aryani
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.864 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16233

Abstract

Biaya bahan bakar sebuah pembangkit termal merupakan fungsi beban pembangkit tersebut. Pada unit pembangkit termal pertambahan beban akan mendorong pertambahan jumlah bahan bakar per satuan waktu dan pada akhirnya akan meningkatkan pertambahan biaya per satuan waktu. Selain itu, beban listrik merupakan fungsi biaya pembangkitan, maka perlu dicari solusi untuk mengoperasikan unit-unit pembangkit secara optimum dengan menekan biaya bahan bakar seminimum mungkin namun tetap memperhatikan constraint operasional. Selain itu, tiap pembangkit thermal yang beroperasi menghasilkan emisi seperti Nitrogen oksida (NOx). Dengan demikian perlu adanya minimalisasi emisi yang dihasilkan oleh tiap pembangkit. Penggabungan kedua permasalahan di atas disebut dengan economic and emission dispatch. Pada tugas akhir ini menggunakan kasus kelistrikan pada sistem transmisi jawa bali 500 kV. Pada penelitian ini diaplikasikan Modified Artificial Bee Colony Algorithm (MABCA) untuk menghitung economic and emission dispatch. Simulasi dilakukan dengan menggunakan faktor pembobotan dan diketahui bahwa Pada kondisi W1=1 dan W2=0, maka biaya pembangkitan memiliki nilai yang paling murah namun memiliki emisi yang paling tinggi. Jika W1=0.5 dan W2=0.5, maka biaya pembangkitan dan emisi akan sama-sama diprioritaskan. Jika W1=0 dan W2=1, maka biaya pembangkitan akan menyentuh harga termahal, namun memiliki emisi yang minimum.
Manajemen Optimal Power Flow Pada Jaring Terhubung PV Dilengkapi Baterai Menggunakan Bellman Algorithm Rizky Ramadyan Widiarto; Rony Seto Wibowo; Dedet Candra Riawan
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.526 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16257

Abstract

Optimal Power Flow (OPF) atau aliran daya optimal merupakan kombinasi antara metode Economic Dispatch dan Power Flow. Metode ini digunakan untuk mendapatkan aliran daya optimal dari suatu sistem kelistrikan agar didapatkan biaya operasi sistem seminimal mungkin. Dewasa ini penggunaan sumber energi listrik terbarukan seperti PV dan Baterai dalam membantu kebutuhan energi listrik semakin marak digunakan. Hal ini terjadi karena diprediksikan energi fosil dalam waktu dekat akan habis. Paper ini melakukan proses optimalisasi aliran daya pada sistem dengan memasukan pemodelan PV dan Baterai pada sistem. Pemodelan digunakan untuk mempertimbangkan biaya pergantian baterai karena harga baterai yang cukup mahal dan usia pemakaian baterai yang relatif singkat. Untuk meyelesaikan masalah ini digunakanlah metode Bellman Algorithm. Dengan memberikan batasan tertentu pada baterai, metode ini mampu mengatur energi baterai dari waktu ke waktu dengan menghitung setiap kemungkinan yang ada yang akhirnya akan dipilih jalur termurah dari semua perhitungannya.Simulasi dibuat pada software MATLAB dengan memasukkan data profil beban, PV (Data Sheet, Radiasi, Suhu) dan baterai untuk dihitung biayanya. Hasil simulasi didapatkan metode ini mampu memberikan aliran daya optimal dari sistem sehingga akhirnya didapatkan biaya pengeluaran yang minimal. Penggunaan baterai mampu memenuhi kebutuhan beban puncak yang pada titik tersebut tidak mampu dipenuhi oleh grid karena terbatas. Hasil simulasi menunjukkan baterai mampu melalui proses charge dan discharge dengan baik. Semakin kecil nilai δSOC maka usia baterai semakin lama.
Pemodelan Arus Arcing Tegangan Rendah pada Kabel Fleksibel (Serabut) menggunakan Elman Neural Network Liga Primabaraka; Dimas Anton Asfani; I Made Yulistya Negara
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.336 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16265

Abstract

Penggunaan listrik dapat menyebabkan bahaya jika tidak diperlakukan dengan baik. Salah satu bahaya yang dapat terjadi adalah kebakaran akibat dari adanya arc flash yang berasal dari peristiwa hubung singkat. Maka dari itu, diperlukan sebuah analisa bahaya listrik pada tegangan rendah sehingga keamanan pada sisi pelanggan dapat tetap terjaga. Arus Arc flash pada tegangan rendah memiliki karakteristik berupa bentuk gelombang yang nilainya tinggi, namun durasi yang relative singkat. Hal ini berakibat pada tidak bereaksinya alat pengaman dalam mengatasi gangguan ini. Dalam tugas akhir ini, penulis akan membuat sebuah pemodelan terhadap arus arcing pada tegangan rendah. Tujuan dari melakukan pemodelan adalah untuk memudahkan analisa terhadap fenomena arc flash pada tegangan rendah sehingga nantinya ditemukan solusi untuk mengatasi bahaya yang dapat diakibatkan oleh fenomena arc flash itu sendiri. Pemodelan ini menggunakan metode Elman Neural Network yang berfungsi untuk membentuk karakteristik dari bentuk arus arc flash dengan menentukan nilai hambatan pada tempat terjadinya arcing. Pemodelan dilakukan berdasarkan kasus arc flash pada kabel fleksibel dengan jumlah serabut yang berbeda-beda. Keluaran dari tugas akhir ini adalah sebuah arus arcing pemodelan yang bentuknya mirip dengan arus arcing hasil percobaan. Hasil yang didapatkan adalah arus arcing pemodelan memiliki bentuk yang mirip dengan arus arcing percobaan.
Economic Dispatch untuk Grid Mikro Hibrida dengan Distributed Energy Storage Berbasis Metode Quadratic Programming Kemas Robby Firmansyah; Rony Seto Wibowo; Adi Soeprijanto
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.642 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16278

Abstract

Kebutuhan daya listrik saat ini meningkat pesat dengan perkembangan teknologi. Peningkatan kebutuhan daya listrik bertolak belakang dengan ketersediaan sumber energi tak terbarukan. Permasalahan ini akan berdampak pada ketahanan listrik nasional, untuk memenuhi kebutuhan daya listrik yang besar dengan wilayah yang luas diperlukan pembangkit –pembangkit tersebar dengan skala kecil. Pembangkit tersebar diupayakan bersumber pada energi terbarukan untuk meminimalkan pemakaian sumber energi tak terbarukan. Selain itu diperlukan adanya Energy Storage, Energy Storage diperlukan untuk menyimpan kelebihan energi yang dihasilkan oleh pembangkit lainnya. Dengan adanya pembangkit tersebar dan Energy Storage yang dihubungkan dengan grid utama Perusahaan Listrik Negara melaui Grid Mikro, maka penting untuk menentukan optimisasi besarnya pembangkit daya listrik untuk masing-masing pembangkit yang sesuai dengan kebutuhan daya listrik. Optimisasi ini dikenal dengan istilah Economic Dispatch.  Metode yang diterapkan untuk optimisasi Economic Dispatch adalah dengan menggunakan Quadratic Programming. Simulasi dilakukan pada sistem IEEE 14 bus menggunakan software MATLAB. Hasil simulasi dan analisis menunjukkan bahwa program dapat memenuhi batasan yang ditentukan dan biaya pembangkitan tenaga listrik untuk pengoperasian Grid Mikro Hibrida adalah  25,53 $
Dynamic Economic Dispatch Pada Sistem Kelistrikan Microgrid Dengan Penambahan Media Penyimpan Energi Menggunakan Quadratic Programming Fakhruddin Wirakusuma; Heri Suryoatmojo; Rony Seto Wibowo
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.345 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16283

Abstract

Kebutuhan daya listrik saat ini meningkat pesat seiring dengan perkembangan teknologi. Peningkatan kebutuhan daya listrik ini bertolak belakang dengan menipisnya ketersediaan sumber energy minyak dan batu bara. Permasalahan ini berdampak pada ketahanan listrik nasional. Untuk memenuhi kebutuhan daya listrik yang besar dengan cakupan wilayah yang luas diperlukan pembangkit tersebar berskala kecil. Pembangkit tersebar ini diupayakan bersumber pada energi terbarukan untuk meminimalkan pemakaian dari sumber energy minyak dan batu bara lalu dihubungkan ke Micro Grid serta digunakan baterai sebagai power balance. Oleh karena banyaknya pembangkit tersebar dan penggunaan baterai maka penting untuk menentukan besarnya pembangkitan daya listrik yang optimal dari masing-masing pembangkit serta penggunaan baterai berdasarkan kapasitas yang optimal sehingga kebutuhan daya listrik dapat dipenuhi dengan biaya yang minimal tiap waktunya. Optimisasi ini dikenal dengan istilah Dynamic Economic Dispatch. Optimisasi ini sudah banyak dilakukan dilakukan dengan berbagai macam metode Artificial Intelligence. Pada penelitian ini, metode Artificial Intellegence yang diaplikasikan yakni Quadratic Programming. Metode ini diterapkan pada software MATLAB. Dengan metode tersebut, diketahui bahwa penggunaan baterai mampu mengurangi total biaya pembangkitan.
Load Frequency Control (LFC) Menggunakan Metode Noise-Tolerable PID Feedback pada Power Generation Plant Simulator PLTU PT. Pembangkitan Jawa dan Bali (PJB) Unit Pembangkitan (UP) Paiton Rahmadhi Prihandono; Mochammad Rameli
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1027.721 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16401

Abstract

Frekuensi sebesar 50 Hz harus dijaga agar memberikan kualitas energi listrik yang baik. Pengaruh dari switching pada sisi beban akan membuat frekuensi energi listrik menjadi fluktuatif. Nilai frekuensi yang fluktuatif akan membuat fungsi derivatif pada kontroler Proportional Integral Derivative (PID) menjadi sangat besar, sehingga akan mempengaruhi sinyal kontrol. Nilai tersebut memaksa aktuator bekerja sangat cepat dan akan mengurangi masa pemakaian aktuator. Penambahan filter pada kontroler PID untuk sistem pengaturan pembangkitan energi listrik mampu meredam noise yang timbul akibat fluktuasi beban. Penambahan Low Pass Filter (LPF) pada sisi derivatif memberikan redaman noise begitu pula menggunakan fungsi Averaged Derivative (AD). Dengan beban acak yang dimodelkan dengan Pseudo Random Binary Sequences (PRBS), nilai kesalahan dengan perhitungan Integral Absolute Error (IAE) terkecil dimiliki oleh PID dengan averaged derivative sebesar 110,246 Hz dan PID dengan low pass filter sebesar 110,486 Hz
Studi Pendirian Pabrik Dimetil Karbonat di Blok Tangguh Fajar Premana Putra; Rizky Renanda Nofa; Kuswandi Kuswandi; Gede Wibawa
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.872 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16781

Abstract

Sejak adanya revolusi industry emisi dari gas CO2 semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dampak dari peningkatan emisi CO2 adalah global warming yang menyebabkan suhu bumi yang semakin meningkat. Terjadinya global warming juga menyebabkan berbagai bencana dan perubahan iklim. Bahan bakar cair seperti gasoline adalah jenis bahan bakar yang paling banyak digunakan dalam bidang transportasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir emisi CO2 dari kendaraan serta mengurangi penggunaan bahan bakar fosil ialah dengan penambahan zat aditif yang memiliki kandungan oksingen tinggi (oxygenated compound) pada bahan bakar cair seperti gasoline. DMC (Dimethyl Carbonate) merupakan salah satu zat aditif yang dianggap mampu untuk menggantikan zat aditif karena DMC lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan zat aditif lainnya karena dapat mengurangi emisi hidrokarbon, CO, NOx dan partikel lainya. DMC juga memiliki kadar oksigen yang relatif tinggi (53,3 wt.%), tekanan uap rendah, nilai oktan campuran yang tinggi.Indonesia sendiri belum memiliki plant untuk menghasilkan DMC. Sehingga untuk dijadikan zat aditif maka produksi DMC dalam negeri harus ditingkatkan terlebih dahulu. Secara garis besar Pabrik DMC terdiri dari Purifikasi Gas Bumi, Sintesa Metanol, Purifikasi Metanol, Sintesa DMC, Purifikasi DMC. Dari studi yang dilakukan untuk Pabrik DMC dengan kapasitas 132,2 MMSCFD Gas Bumi masuk dibutuhkan investasi sebesar MUSD 369,1. Dari analisa ekonomi diperoleh: Internal Rate of Return : 26,49%; POT: 4,1 tahun; BEP : 67,8 %; dan NPV 10 year : MUSD 928,8. Dari keempat parameter sensitifitas yaitu fluktuasi biaya investasi, harga bahan baku, kapasitas, dan harga jual dari produk, terlihat bahwa keempatnya tidak memberikan pengaruh cukup signifikan terhadap kenaikan atau penurunan nilai IRR kilang. Sehingga Pabrik Dimetil Karbonat ini layak untuk didirikan.
Desain Pabrik Olefin berbahan baku Low Rank Coal di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Anastasia Ayu Pratiwi; Galih Dwi Prasetya; Gede Wibawa; Kuswandi Kuswandi
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.056 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16784

Abstract

Olefin dapat didefinisikan sebagai hidrokarbon tak jenuh yang mengandung satu atau lebih pasangan atom karbon yang memiliki ikatan rangkap. Dua jenis produk industri olefin yang paling penting adalah etilena dan propilena sebagai bahan baku utama bermacam-macam industri petrokimia. Umumnya produksi etilena dan propilena menggunakan bahan baku Naphta yang diperoleh dari pengolahan minyak bumi dan gas alam. Ketersediaan bahan baku tersebut di Indonesia terbatas dan memiliki harga jual yang fluktuatif. Dengan berorientasi pada efisiensi produksi dan mengurangi impor bahan baku, inovasi proses produksi maupun pembangunan industri olefin yang baru sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, diperlukan bahan baku alternatif yang berlimpah dan mudah didapat serta memiliki harga yang murah, seperti batubara. Sumber daya batubara kelas rendah (low rank coal) di Indonesia mencapai 30,57 milyar ton dan perlu dioptimalkan menjadi produk yang bernilai jual lebih. Oleh karena itu, pendirian pabrik olefin dari batubara kualitas rendah sangat potensial dan penting untuk terus dikembangkan. Olefin yang terdiri dari Etilena, Propilena dan Butilena dapat diproduksi melalui indirect process dengan methanol sebagai produk intermediate. Unit – unit prosesnya terdiri dari unit preparasi batubara, unit Gasifikasi batubara untuk menghasilkan gas sintesa (syngas), unit Water Gas Shift untuk pengaturan komposisi gas CO dan H2, unit sintesa Methanol, unit Pemurnian Methanol dari CO2 dan H2O, unit sintesa Olefin dan pemurnian produk serta unit pemisahan produk Olefin yang memisahkan campuran olefin menjadi Etilena, Propylene dan Butylene. Pabrik direncanakan beroperasi dengan kapasitas produksi sebesar 1.485.725 ton Olefin/tahun. Berdasarkan hasil analisa ekonomi, Net Present Value (NPV) pada tahun ke sepuluh pabrik ini sebesar $ 5.723.433.852, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 71,68 % yang lebih besar dari bunga bank 10,5% per tahun. Modal pabrik akan kembali setelah pabrik beroperasi selama 2.51 tahun. Sedangkan brdasarkan analisa kepekaan, terdapat 3 variabel yang sangat peka terhadap fluktuasi yaitu harga katalis SAPO-34, harga produk dan kapasitas produksi Etilena, yang dapat mengakibatkan penurunan nilai IRR. Agar stabilitas IRR pabrik tetap terjaga, perlu dilakukan upaya penetapan supplier katalis untuk mendapatkan harga katalis yang stabil, mencari pasar tetap untuk penjualan produk dan menjaga stabilitas kapasitas produksi pabrik.
Studi Pendirian Pabrik Natrium Sulfat Dekahidrat di Kabupaten Sampang Fanny Husna Ar-rosyidah; Hilal Abdur Rochman; Nuniek Hendrianie; Sri Rachmania Juliastuti
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.841 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16846

Abstract

Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan pembangunan di segala bidang. Dalam hal ini, pemerintah menitikberatkan pada pembangunan di sektor industri. Salah satu produk yang dibutuhkan saat ini adalah natrium sulfat (Na2SO4). Natrium sulfat adalah garam natrium dari asam sulfur. Dalam bentuk anhidratnya, senyawa ini berbentuk padatan kristal putih dengan rumus kimia Na2SO4, atau lebih dikenal dengan mineral tenardit sedangkan bentuk dekahidratnya mempunyai rumus kimia Na2SO4.10H2O yang lebih dikenal dengan nama garam glauber atau sal mirabilis. Natrium sulfat banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri, antara lain di industri pulp dan kertas, deterjen, pembuatan flat glass, tekstil, keramik, farmasi, zat pewarna dan sebagai reagent di laboratorium kimia. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia kebutuhan impor natrium sulfat di Indonesia (tahun 2010 hingga tahun 2014) rata – rata pertahunnya sebesar 218.967,238 ton. Meskipun kebutuhan industri akan natrium sulfat sangat banyak dan kegunaannya pun beragam, namun hingga saat ini Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri karena produksi natrium sulfat secara komersial masih sangat rendah. Hingga saat ini Indonesia baru memiliki 3 pabrik natrium sulfat dengan total kapasitas produksi sebesar 265.000 ton/tahun. Melihat data tersebut menunjukkan bahwa persediaan akan natrium sulfat di Indonesia masih sangat minim. Sehingga, pendirian pabrik natrium sulfat dekahidrat di Indonesia selain akan menguntungkan dari segi ekonomi, juga dapat memicu berkembangnya industri – industri pengguna natrium sulfat itu sendiri, sekaligus membuka lapangan kerja sehingga mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia. Dan ditinjau dari analisa ekonomi, didapatkan besar total investasi              : Rp 94.716.122.794; internal rate of return           : 30%; POT : 3.44 tahun; dan BEP : 33.73 %.

Page 94 of 398 | Total Record : 3978