Articles
279 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 2 (2016)"
:
279 Documents
clear
Bogor Tourism Information Center
Rifandi Rahasanto;
Andy Mappajaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (155.022 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18026
Bogor memiliki banyak potensi pariwisata yang tersebar di seluruh daerah. Banyak daerah yang menjadi kawasan wisata di Kota Bogor, seperti prasasti, lansekap, bangunan bersejarah, dan kuliner. Diperlukan sebuah rancangan yang bisa memunculkan potensi-potensi wisata yang ada di Bogor sehingga wistawan dapat meminati seluruh objek wisata dan pada akhirnya dapat menegmbangkan kepariwisataan Bogor. Tourism Information Center merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan potensi suatu daerah kepada wisatawan, tetapi tourism information center biasanya menjadi tempat yang kurang menarik sehingga wisatawan enggan untuk datang. Perancangan tourism information center dengan inovasi yang baru membuat rancangan lebih diminati oleh wisatawan. Tourism information center yang menyajikan informasi dalam media 3 dimensi dan juga media digital. Media ini membuat interaksi antara informasi dengan pengunjung yang datang
Integrasi Budaya dan Alam dalam Preservasi Candi Gambarwetan
Shinta Octaviana Putri;
Rabbani Kharismawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (713.703 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18062
Banyak bangunan bersejarah atau cagar budaya yang mengalami kerusakan di Indonesia. Kerusakan ini dapat ditimbulkan oleh dua faktor. Faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain usia dan proses pelapukan. Sedangkan faktor eksternal antara lain faktor alam, lingkungan, dan manusia. Salah satu cagar budaya yang mengalami kerusakan adalah Candi Gambarwetan yang terletak di Desa Sumberasri, Kab. Blitar tepatnya di kaki Gunug Kelud. Candi ini masih dalam proses observasi oleh pihak BPCB (Badan Pelestarian Cagar Budaya) Mojokerto. Pelestarian cagar budaya yang baik adalah pelestarian dengan mempertimbangkan aktifitas masyarakat lokal dan wisatawan serta kondisi lingkungan. Metode narasi adalah metode penyampaian informasi dengan melibatkan elemen bangunan dan pengguna. Metode narasi diterapkan pada jalur sirkulasi, dimana terdapat dua pengguna yang memiliki jalur sirkulasi berbeda namun selaras dan tidak saling terganggu. Dalam proses pelestarian candi Gambarwetan tidak hanya menjaga candi dari kerusakan, tetapi juga membuat interaksi antar pengguna berjalan harmonis. Preservasi Candi Gambarwetan dikemas dalam bentuk museum terbuka, dimana wisatawan mendapatkan informasi mengenai kegiatan masyarakat lokal dan menikmati alam dari kawasan candi Gambarwetan
Optimalisasi Fungsi Masjid Pendekatan superimposisi (Desain masjid bulak)
Akbar Fala;
Rabbani Kharismawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (745.095 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18080
Masjid memiliki peran penting dalam kemajuan peradaban manusia pada masa kejayaan islam. Namun saat ini di Indonesia masjid mengalami penyempitan makna dan fungsi. Jumlahnya banyak namun tidak berkualitas dan tidak makmur. Menghadirkan peran fungsi masjid yang sebenarnya diharapkan dapat menjadikan masjid pusat kegiatan masyarakat dan menyelesaikan masalah kemiskinan di kelurahan kedung cowek. Permasalahan desain yang timbul adaalah bagaimana masjid dapat menjadi pusat dari beragam kegiatan dan ibadah masyarakat kecamatan kedung cowek. Untuk mewujudkan itu berarti masjid harus mewadahi berbagai aktivitas dengan beragam program, berarti menggabungkan tempat ibadah yang diharuskan kondusif dengan tempat umum yang kurang kondusif. Untuk menjawab permasalahan desain tersebut digunakan pendekatan desain superimposisi. Program di eksplorasi sedemikian rupa untuk menimbulkan event-event baru yang tidak terduga agar masjid hidup dan makmur. Metode desain yang dipakai adalah programmatic dissociations yang dipakai Bernard tschumi dalam mendesain Tokyo opera house. Hasil rancangan berupa masjid yang terbuka dan menjadi wadah pusat kegiatan masyarakat.
Hunian Vertikal Sewa dengan Konsep Eko-modular Arsitektur
Nilla Ardya Prihatanti;
Muhammad Faqih
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (464.896 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18095
Sebuah kawasan akan menjadi tidak ideal ketika kerusakan lingkungan semakin meluas. Kerusakan lingkungan yang paling disorot adalah kondisi fisik lingkungan. Terdapat banyak kawasan yang menjadi permukiman kumuh dan mengganggu kualitas hidup manusia. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain tingginya angka urbanisasi, pertumbuhan kepadatan penduduk dan berkurangnya area tempat tinggal manusia. Oleh karena itu, hal tersebut harus ditangani melalui sektor permukiman dan sektor lingkungan. Dengan merespon tingginya angka urbanisasi di area industri maka Surabaya Industrial Estate Rungkut adalah kawasan paling potensial untuk ditangani. Sehingga objek arsitektural yang diusulkan adalah hunian vertikal sewa bagi pelaku urbanisasi dan penduduk musiman di Surabaya. Metode desain yang digunakan berdasarkan pada metode pencarian masalah. Fakta-fakta menentukan perfomance requirements dan konsep desain. Objek arsitektural ini menggunakan pendekatan ekologi arsitektur sehingga objek seharusnya mampu menjawab masalah permukiman di kawasan Rungkut Industri. Hunian vertikal sewa ini menerapkan konsep modular arsitektur pada setiap unitnya. Jenis modul berdasarkan pada skala manusia dan kebutuhan ruang gerak manusia. Sehingga terbentuk modul dengan ukuran 2,4 meter x 2,4 meter x 2,4 meter. Modul tersebut dapat diproduksi secara fabrikasi. Konsep ekologi arsitektur yang diterapkan adalah sustainable constraction, green living environment dan social cohesion.
Konsep Ekshibisi Dinamika Lalu Lintas di Bangunan Prasarana Transportasi Umum
Cindy Oktavia;
Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (451.813 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18111
Visual adalah salah satu hal yang penting di dalam sebuah bangunan fasilitas publik. Visualisasi yang baik akan memudahkan pengguna bangunan untuk dapat membaca situasi atau sistem di dalam bangunan sehingga tingkat keberhasilan bangunan dapat tercapai dengan baik, terutama dalam bangunan prasarana transportasi umum. Bangunan fasilitas transportasi umum sangat mengutamakan perpindahan (movement) dari penumpang dan kendaraan yang ada di dalamnya. Sejalan dengan itu, konsep ekshibisi yang mengedepankan visualisasi diintegrasikan dengan pergerakan (movement) di dalam bangunan untuk mencapai efisiensi baik dari aspek pergerakan penggunanya maupun visualisasi di dalamnya.
Sintesis Logika Spasial Kota dan Skala Manusia dalam Merancang Komponen Urban Fabric
Kadek Ary Wicaksana;
Endy Yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1167.163 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18130
Semenjak era Moderenisme, mesin mulai perlahan mengganti peran manusia dalam berbagai aspek kehidupan, yang kemudian secara keseluruhan menggelembungkan skala urban fabric yang mereka bangun. Akibatnya, aktivitas sosial tertentu hanya dapat terjadi dalam sebuah lingkungan tertutup dengan kondisi yang dibuat nyaman. Jakarta merupakan salah satu metropolitan yang mengalami fenomena tersebut, terindikasi dengan adanya pencabangan supergrid. Akibatnya, seluruh urban fabric yang seharusnya dapat saling menyokong satu sama lain ini terfragmen dan tidak terstruktur dengan baik, sehingga sebuah intervensi dibutuhkan untuk menyatukannya. Tingginya diversitas kebutuhan dari fragmen yang ada memiliki faktor interaksi sosial sebagai penyatu dan merupakan hal utama yang patut diselesaikan. Pendekatan perilaku sosial kemudian diimplementasikan, dengan memperhatikan berbagai spektrum aktivitas eksisting maupun laten di area studi, serta faktor kemampuan jangkau indera manusia terhadap ruang urban. Hasil rancangan menggambarkan bahwa sebuah komponen urban fabric, seminim apapun, selayaknya memiliki sifat sugestif dan kelenturan sehingga pengguna memiliki berbagai kemungkinan pengalaman dalam menggunakannya.
Pusat Pelatihan Manajerial Dengan Pendekatan Arsitektur Organik
Ersa Malindawati;
Erwin Sudarma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (389.146 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18136
Trend perusahaan untuk melakukan pelatihan atau training terhadap karyawannya merupakan sebuah kebutuhan utama perusahaan untuk memperbaiki kinerja karyawan. Keberadaan bangunan pusat pelatihan merupakan bangunan yang mempunyai tingkat permintaan yang tinggi di wilayah Trawas, namun diperlukan konsep desain yang tepat agar bangunan mempunyai fungsi maksimal dan meminimalisir perusakan lingkungan di sekitar area tapak. Konsep Resort adalah konsep yang dinilai mampu memaksimalkan fungsi bangunan sebagai tempat pelatihan manajerial, karena memiliki susasana rekreatif yang mudah diterima oleh peserta sehingga materi dapat tersampaikan dengan maksimal. Sedangkan pendekatan Arsitektur organik akan membantu dalam mewujudkan konsep utama dari segi bentukan, massa, suasana yang jauh dari kesan formal dan dekat dengan alam dan mewujudkan bangunan yang bersifat Ekologis.
Pariwisata Heritage sebagai Hasil Reinkarnasi Kawasan Pecinan Surabaya
Anggriani Christy;
Wahyu Setyawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (703.843 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18152
Surabaya sebagai kota besar dan tertua di Indonesia memiliki kawasan Pecinan yang khas. Daya tarik Surabaya sebagai kota pelabuhan dan perdagangan wilayah Timur menarik para imigran, khususnya etnis Tiongkok untuk mendiami kawasan kota tua Surabaya. Aktivitas masyarakat Tiongkok sebagai zona permukiman-perdagangan sampai saat ini masih utuh. Namun, terdapat aspek yang mulai hilang seiring proses perbaikan dan pengembangan, yaitu arsitektur Cina yang sangat kental sebagai ciri khas kawasan Pecinan. Bertahannya elemen arsitektur yang ada seharusnya mampu menjadi potensi untuk lebih mengembangkan kawasan Pecinan Surabaya. Namun, munculnya moderninsasi di sisi lain kota menjadi ancaman bagi kelestarian kawasan ini. Kondisi ini membuat kawasan Pecinan Surabaya perlahan mati dan kehilangan eksistensinya sebagai kota lama Surabaya. Langkah pembangunan kembali eksistensi kota lama Surabaya merupakan strategi budaya dimana karakter Tiongkok yang merupakan jiwa dan perwujudan identitas kota Pecinan dapat diolah menjadi kawasan pariwisata heritage. Metoda architectural programming milik Donna P Duerk merupakan metoda yang tepat untuk menjabarkan alur penyelesaian hingga menghasilkan sebuah konsep rancangan yang jelas. Metoda ini berangkat dari permasalahan yang ada di lokasi yang kemudian dikategorikan untuk diproses menjadi sebuah penyelesaian.
Meningkatkan Eksistensi Kampung melalui Arsitektur sebagai Tantangan Modernisasi Kota Surabaya
Aji Kurnia Sudarmawan;
Sri Nastiti Nugrahani Ekasiwi;
Kirami Bararatin
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (743.494 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18160
Surabaya, banyak aspek yang dapat menggambarkan seperti apa Surabaya itu. Tidak hanya sebagai kota Pahlawan yang digambarkan dengan monumen Tugu Pahlawan (Gambar 1). Surabaya sejak dulu selalu berkembang dengan budaya dan masyarakatnya. Kota Metropolitan, mungkin julukan tersebut yang dipandang masyarakat luas sekarang. Maka ada sebuah pertanyaan besar apabila kita semata-mata menyatakan kota metropolitan sebagai identitas Surabaya di luar lingkup besaran skala kota. Identitas kota pada hakekatnya adalah citra mental yang terbentuk dari ritme natural tempat dan ruang tertentu yang mencerminkan waktu serta ditumbuhkan dari dalam secara mengakar oleh aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya, serta mengacu pada makna individualitas yang mencerminkan perbedaan dengan objek lain serta pengenalannya sebagai entitas tersendiri. Citra mental Surabaya itu sendiri terdapat pada sebuah tempat yaitu “kampung” (Gambar 2). Kampung adalah bagian dari kota yang sekilas memberikan makna ruang yang menggambarkan identitas melalui berbagai entitas yang berbeda-beda. Perlu penyelesaian secara mikro untuk menggambarkan entitas yang berbeda-beda tersebut. Sebuah ruang yang menggambarkan sejarah dan interaksi sosial secara luas dan semestinya. Konsep kampung yang dikemas sebagai galeri sebagai objek wisata merupakan solusi untuk meningkatkan eksistensi kampung.
Arsitektur Perilaku : Desain DPRD Bojonegoro
Arcadius Mahatma Nuragadikara;
Wawan Ardiyan Suryawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (460.617 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18391
Kinerja aparat pemerintah negara sebagai wakil rakyat masih dirasa tidak optimal. Banyaknya kasus yang menimpa para wakil rakyat semakin membuat masyarakat ragu dan kehilangan kepercayaan akan aparatur negara. Tidak hanya pada skala pemerintahan pusat saja yang menjadi sorotan masyarakat, tetapi juga pemerintah daerah (Pemkab / Pemkot). Kurangnya tingkat produktivitas kerja serta transparansi para wakil rakyat daerah ini kerapkali menjadi pertanyaan besar. Kelakuan buruk oknum wakil rakyat ditambah dengan kinerja yang terkesan asal–asalan menjadi lubang hitam bagi citra wakil rakyat. Dengan metode desain yang tepat, sebuah arsitektur mampu menjadi jalan keluar atas permasalahan ini. Pendekatan berdasarkan pola dan kebiasaan kerja, yang dimainkan sedemikian rupa, dapat meningkatkan produktivitas dan transparansi para wakil rakyat. Suasana kantor dan bentuk arsitektural yang baik mampu menunjang terciptanya kondisi kondusif kerja. Objek rancang bertujuan untuk menghasilkan desain bagi kantor pemerintahan daerah yang berdampak langsung pada kinerja para wakil rakyat. Menonjolkan aspek transparansi serta produktivitas kerja sehingga terbangun kembali kepercayaan pada para wakil rakyat.