cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Hunian. Rumah Betang (Agregasi Budaya. Alkimia Arsitektur Dayak demi Fundamentalisme Arsitektur Nusantara) Radian Zaki Rabbani; Endy Yudho Prasetyo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19099

Abstract

Perang. Perang dunia satu dan dua telah memberikan berbagai macam efek negatif ke seluruh penjuru dunia dalam berbagai aspek. Salah satu aspeknya adalah budaya, dimana budaya luar memaksa masuk dan menggantikan budaya-budaya yang sudah ada, seperti yang telah diungkapkan oleh Rem koolhaas “in 1914, it made sense to talk about a ‘chinese’ architecture, a ‘swiss’ architecture, an ‘indian’ architecture. one hundred years later, under the influence of wars, diverse political regimes, different states of development, national and international architectural movements, individual talents, friendships, random personal trajectories and technological developments, architectures that were once specific and local have become interchangeable and global. national identity has seemingly been sacrificed to modernity”. Sama halnya dengan Indonesia, arsitektur Nusantara telah dikorbankan demi komodernan. Lantas apakah seorang arsitek hanya akan tinggal diam melihat kasus ini? Untuk menangani kasus ini maka sudah tentu diperlukan sebuah upaya arsitektur untuk meresponnya. Sebuah percobaan melalui angan-angan “akan seperti apa arsitektur Nusantara (rumah betang) jika perang dunia satu dan dua tidak pernah terjadi?”, “akan seperti apa arsitektur Nusantara (rumah betang) jika budaya luar masuk dan ditanggapi dengan pemikiran kritis?”. Objek rancangan ini selain bertujuan untuk memvisualisasikan arsiektur Nusantara (rumah betang) sekaligus juga untuk mengembalikan identitas nasional dan fundamentalisme arsitektur nusantara, karena sejatinya kehilangan identitas nasional merupakan kekalahan terbesar yang dapat dialami oleh sebuah Negara.
Fasilitas Penunjang Peningkatan Kesejahteraan Keluarga Nelayan Kenjeran Dwi Cahyo Husodo; Irvansyah Irvansyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.637 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19136

Abstract

Masalah kesejahteraan merupakan sebuah problematika yang kerap dihadapi oleh keluarga nelayan di kenjeran. hal ini terjadi karena hasil laut yang didapatkan oleh para nelayan belum dapat dikelola secara optimal dan juga belum adanya fasilitas yang mampu mendukung dalam pengolahan hasil laut nelayan. Tujuan dari proyek ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan kenjeran dengan cara meningkatkan nilai jual hasil laut nelayan kenjeran. Cara tersebut di lakukan dengan menghadirkan sebuah fasilitas sebagai wadah dalam proses pengolahan hasil laut nelayan menjadi sebuah produk dengan nilai jual lebih tinggi, yaitu produk kuliner (seafood). Dalam proses ini anggota keluarga seperti istri nelayan yang lain dapat ikut dilibatkan, Sehingga mereka juga dapat berkontribusi meningkatkan kesejahteraan keluarganya Fasilitas yang akan menjadi tempat penjualan hasil laut nelayan dan seafood ini Pondok Seafood Kampung Nelayan Kenjeran.
Denyut di Griya Esok: Arsitektur Pemersatu Kehidupan dan Kematian Rr Windya Putri Hapsari; Johanes Krisdianto
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.753 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19386

Abstract

Keterbatasan lahan merupakan sebuah masalah yang banyak diperbincangkan dewasa ini. Penggunaan lahan sangatlah luas, mulai dari permukiman, peternakan, sawah, hingga pemakaman. Ketersediaan lahan untuk pemakaman semakin lama semakin menipis karena jumlah orang yang meninggal juga meninggkat setiap waktu dan pemakaman yang sudah ada akan tetap berada di tempatnya, sehingga lahan pemakaman lambat laun akan penuh. Untuk itu, arsitektur seharusnya dapat merespon bagaimana lahan yang digunakan untuk pemakaman dapat dihemat sehingga lahan yang lain dapat difungsikan untuk aktivitas lain. Tidak hanya itu, arsitektur juga harus dapat menghilangkan kesan mengerikan yang biasanya timbul di area pemakaman karena pemakaman adalah tempat dimana pengunjung datang untuk mengenang yang sudah mendahului, bukan sebuah tempat yang harus ditakuti. Sangat penting untuk dapat menyatukan area pemakaman dengan ruang publik dimana pengunjung dapat bebas beraktivitas di dalamnya dan menghilangkan kesan mengerikan yang ditimbulkan.
Malang Urban Square, Eksplorasi Desain Ruang Terbuka Hijau dengan Kebutuhan Komersil Savitri Retno Kusumastuti; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.786 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19530

Abstract

Ruang terbuka hijau merupakan salah satu bagian penting dalam perkotaan. Namun ironisnya, ruang terbuka hijau kurang mendapat perhatian di Kota Malang. Sehingga dari tahun ke tahun banyak ruang terbuka hijau yang dialihfungsikan menjadi bangunan komersial. Pembangunan seperti ini memang tidak dapat dihindari. Kini Pemerintah Kota Malang sedang berusaha untuk merevitalisasi ruang terbuka hijau yang ada di Malang. Eksistensi ruang terbuka hijau menjadi meningkat dikalangan warga Malang. Namun, hal ini tidak mempengaruhi bertambahnya persentase ruang terbuka hijau di Kota Malang. Selain itu fungsi dari ruang terbuka hijau penting untuk diperhatikan dalam proses revitalisasi ini. Perlu adanya eksplorasi desain agar keduanya tidak ada yang dikorbankan dan dengan memperhatikan fungsi dari keduanya. Lewat arsitektur, menanggapi fenomena ini melalui serangkaian dengan metode desain dari Donna P. Duarck. Sehingga dapat disimpulkan respon yang tepat terhadap masalah ini. Respon yang berupa objek arsitektur diharapkan menjadi suatu penyelesaian masalah pembangunan ruang terbuka hijau dan bangunan komersial.
Pusat Terapi Anak Autis Sindrom Asperger di Surabaya Putri Andiny Desmaniar; Johanes Krisdianto
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.633 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19572

Abstract

Autisme atau biasa disebut ASD (Autistic Spectrum Disorder) merupakan suatu gangguan perkembangan, gangguan pemahaman atau gangguan fungsi otak yang bersifat pervasif, dan bukan suatu bentuk penyakit mental. Sindrom Asperger disebut juga sindrom profesor kecil, little professor(s) syndrome, Asperger disorder, gangguan Asperger, Asperger syndrome. Disebut sindrom profesor kecil karena anak dengan sindrom ini sering menunjukkan keunikan perilaku, cara berpikir, dan berkomunikasi. Sindrom Asperger ini ditemukan oleh Hans Asperger seorang dokter anak asal Austria pada tahun 1944. Pusat terapi anak autis di Surabaya merupakan lembaga milik swasta yang bergerak di bidang pendidikan khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Meningkatnya jumlah anak autis tidak diimbangi dengan jumlah pusat terapi dan sekolah untuk anak autis. Ditinjau dari segi fisik bangunan, segi kapasitas, segi kebutuhan aktivitas dan ruang masih banyak yang belum memadai terutama bagi penderita Autis Sindrom Asperger. Perancangan ini ditujukan agar anak – anak autis Sindrom Asperger dapat berkembang menjadi lebih baik dengan fasilitas yang disediakan seperti ruang terapi one on one, ruang terapi wicara, ruang okupasi, ruang biomedis, ruang medikamentosa, aula, dan ruang pendukung lainnya seperti lobby, kantor, toilet dan service.
Perancangan Destination Spa Mandalika sebagai Objek Wisata yang Paling Diminati Maharani Maharani; Muhammad Faqih
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.699 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19609

Abstract

Destination Spa merupakan hotel resort berbintang 4 dengan fokus pelayanan fasilitas spa dan fasilitas kebugaran. Pengunjung objek ini sangat spesifik yaitu wisatawan penggemar spa dan olahraga yoga. Hotel Resort dengan fasilitas tersebut sangat potensial untuk direalisasikan karena sangat diminati. Mandalika Resort merupakan kawasan Ekonomi Khusus (KEK) jenis pariwisata di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Area ini memiliki potensi wisata bahari yang memikat wisatawan, khususnya Pantai Tanjung Aan. Saat ini belum tersedia hotel resort dengan fasilitas spa dan fasilitas kebugaran di kawasan Pantai Tanjung Aan. Melihat peluang ini, Destination Spa dirancang di Pantai Tanjung Aan, Mandalika Resort dengan tujuan menjadi objek wisata yang rekreatif dan juga menyehatkan bagi wisatawan. Objek ini sangat berkaitan dengan eksplorasi lokasi sehingga perancangan ini menggunakan strategi meng-kini-kan arsitektur Nusantara yang memadukan rupa Indonesia dan pola global dalam rangka menunjukkan ke-khas-an lokal. Melalui pendekatan studi preseden dan studi lapangan, rancangan ini cukup banyak merujuk pada karakteristik lokasi dan arsitektur tradisional suku Sasak untuk mewujudkan objek wisata yang memiliki daya tarik tinggi dan berdaya saing.
Konsep Panopticon dan Persepsi Ruang pada Rumah Bina Nusa Barong Yulia Rosaena; Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.14 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19706

Abstract

Lembaga pemasyarakatan yang memiliki fungsi pembinaan bagi narapidana pada kenyataannya justru menjadi sekolah kejahatan. Mereka melakukan transfer ilmu dan juga melakukan tindakan menyimpang di dalam lapas. Tidak sebandingnya kebutuhan ruang dengan jumlah penghuni serta pengawasan yang kurang optimal merupakan faktor utama yang menyebabkan adanya kriminalitas di dalam lapas. Dengan menggunakan metoda desain Programming and Designing, tahapan merancang dapat dikelompokkan menjadi empat tahap utama yaitu menggali isu, mencari permasalahan, menyelesaikan permasalahan, dan mengoptimalkan solusi. Kemudian di dalam pencarian permasalahan dijabarkan lagi menjadi lima tahapan, yaitu menentukan tujuan, mengumpulkan dan menganalisa fakta-fakta, membongkar dan menguji konsep, menentukan kebutuhan, dan menyatakan permasalahan. Obyek arsitektur yang diharapkan yaitu berupa lembaga pemasyarakatan dengan sistem keamanan dan pengawasan tingkat tinggi yang dapat mengoptimalkan pengawasan sehingga narapidana benar-benar terbina serta tercipta ruang gerak yang memadahi bagi narapidana di dalamnya.
Konsep Perancangan Kampung Baru Nelayan Kenjeran Surabaya Fadhila Amani Hardiyanti; Muhammad Faqih
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19862

Abstract

Pantai Kenjeran, merupakan salah satu wilayah pesisir yang membatasi kota Surabaya dan juga merupakan salah satu daya tarik wisata bagi kota Surabaya. Pantai yang terletak di kecamatan Bulak ini ramai dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan yang berasal dari dalam kota Surabaya maupun wisatawan yang datang dari luar kota Surabaya. Oleh sebab itu, pengembangan dan pembangunan oleh pemerintah di wilayah Kenjeran ini dilakukan secara intensif demi meningkatkan kualitas sektor wisata di kota Surabaya. Berdasarkan RDTRK, wilayah kenjeran memiliki pembagian area yang terdiri dari area wisata pantai Kenjeran (Kenpark) dan area kampung nelayan Kenjeran. Pada pengembangan dan pembangunan oleh pemerintah yang dilakukan saat ini lebih terfokus pada area wisata Kenjeran. Padahal di sepanjang wilayah pesisir pantai Kenjeran memiliki banyak sekali potensi sumber daya alam. Pengembangan yang dilakukan pada area wisata pantai Kenjeran menyebabkan terjadinya ketimpangan atau ketidakseimbangan antara area wisata dengan area kampung nelayan sekitarnya. Padahal area kampung nelayan Kenjeran selain memiliki potensi sumber daya alam juga memiliki potensi sumber daya manusia yang siap untuk dikembangkan sesuai dengan karakteristik potensi tersebut, untuk menghasilkan suatu ikon baru di wilayah tersebut. Perancangan kawasan permukiman dan wisata ini menghasilkan kawasan terpadu yang berkelanjutan. Rancangan ini menggabungkan potensi permukiman untuk mendukung kawasan wisata yang menjadi ikon Surabaya.
Konsep Perancangan Kawasan Desa Wisata Deling Aji Yogyakarta berbasis Lokalitas Niti Anggarajati Etsahandy; Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.155 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19887

Abstract

Keunikan dan keistimewaan adalah hal penting yang harus dimiliki untuk mendapatkan perhatian. Citra yang dihasilkan dari keunikan inilah yang akan membentuk keistimewaan yang akan menjadi pembeda akan suatu hal lainnya. Arsitektur tidak hanya membuat bangunan yang indah dan nyaman bagi penggunasaja, tetapi seharusnya memberikan dampak yang baik bagi lingkungan sekitar juga, salah satunya yaitu dengan berbasis lokalitas. Lokalitas merupakan cara pemanfaatan mengenai potensi-potensi lokal yang dimiliki pada suatu kawasan sehingga memiliki nilai keistimewan sendiri. Kawasan Desa Wisata Deling Aji hendaknya memiliki tolak ukur untuk menentukan keberhasilan dari kehadirannya. Dengan dirumuskan terlebih dahulu mengenai kriteria yang tepat, maka dihasilkan konsep perancangan Kawasan Desa Wisata Deling Aji Yogyakarta.
Pendekatan Ekologis dan Tektonika Bahan Pada Perancangan Galeri Seni Ketukangan Nurul Fauziah; Murtijas Sulistijowati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.395 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.19892

Abstract

Arsitektur di nusantara saat ini lebih mengedepankan ‘tren’ modern dan kurang mempertimbangkan seni ketukangan dengan aspek lokal dalam berkarya sehingga identitas arsitektur nusantara semakin terkikis dan budaya/kearifan lokal bukan lagi menjadi pertimbangan utama para penggiat arsitektur dalam merancang. Perancangan objek ini berusaha untuk meningkatkan kemampuan para tukang agar terus berinovasi dalam mencipta serta mengenalkan potensi ketukangan lokal kepada masyarakat umum. Dengan mengeksplorasi potensi alam dan ketukangan menggunakan pendekatan arsitektur ekologis kedalam objek rancang Galeri Seni Ketukangan diharapkan dapat melestarikan identitas kelokalan arsitektur nusantara serta para tukang di masa depan dapat terus berinovasi dalam berkarya dan dapat  menarik antusias masyarakat terutama para penggiat arsitektur untuk kembali menerapkan aspek budaya lokal nusantara dalam mencipta karya. Objek rancang mewadahi kegiatan eksplorasi ketukangan untuk melestarikan identitas serta potensi material arsitektur di nusantara. Metoda desain yang akan digunakan adalah metoda desain William M. Pena & Steven A. Pharsall dengan pendekatan ekologis guna meminimalisir dampak objek rancang terhadap lahan dan lingkungan.