Articles
2,279 Documents
Pendekatan Materialitas dan Lokalitas Penggugah Kesadaran Material Bambu
Rizqi Heronova Putra;
Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (324.289 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20051
Bambu merupakan material yang dapat diperbaharui dan selalu tersedia di Indonesia hingga sekarang. Dari 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis (11%) diantaranya adalah asli Indonesia Namun, kejayaan bambu perlahan runtuh sejak pemerintah Hindia Belanda memvonis bahwa bambu tidak layak pakai sebagai material bangunan.Di saat bersamaan, datanglah pengetahuan tentang penggunaan material batubata, besi, serta semen dalam konstruksi bangunan dan menjelma menjadi material bergengsi dan disebut ‘gedongan’, sehingga secara tidak langsung bambu dianggap sebagai material ‘jelata’.Walaupun bambu memiliki banyak keunggulan, namun keberadaan bambu di Indonesia masih jauh dari maksimal dalam pemanfaatannya. Hal ini karena pada umumnya material bambu masih dianggap tradisional. Keraguan masyarakat tentang kekuatan dan kelebihan bambu ini akan berubah jika mereka diperlihatkan contoh nyata. Permasalahan desain yang dihadapi adalah bagaimana obyek arsitektur dapat menyadarkan masyarakat mengenai potensi bambu sebagai salah satu material lokal arsitektur. Obyek yang diusulkan adalah sebuah bengkel yang menggugah kesadaran masyarakat terhadap material bambu.
Mengatasi Isu Kekakuan Sekolah Melalui Pendekatan Proxemics dan Dis-programming dalam Perancangan Sekolah
Mohamad Alfian Aziz;
Angger Sukma Mahendra
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (741.837 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20278
Sekolah merupakan media belajar formal. Sekolah dan elemen-elemennya umumnya memiliki aturan sehingga dapat mendidik dan mengarahkan remaja kepada perilaku yang sesuai. Sekolah merupakan tempat dimana remaja menghabiskan sebagian besar waktunya. Permasalahan terletak pada faktor sekolah yang dianggap sudah tidak sesuai dengan perilaku remaja modern. Secara arsitektur, ruang yang ada pada sekolah belum cukup dipahami dan dimaknai oleh remaja sebagai media belajar. Salah satu kesimpulan yang diambil adalah bahwa bentuk sekolah umum dan sistemnya terlaku kaku sehingga remaja kurang bisa berkreasi dan mendapat ruang bebas lebih. Konsep yang diusulkan adalah dinamis dan fleksibel sebagai solusi atas permasalahan kekakuan sekolah. Konsep dibawa melalui pendekatan perilaku dan proxemics lalu diolah melalui konsep dis-programming. Usulan objek diharapkan mampu menciptakan model kelas yang tidak konvensional, mengakomodasi minat remaja dan memanfaatkan tendensi berkumpul remaja untuk menciptakan ruang sosial yang efektif dan positif pada jenjang sekolah menengah atas.
Tower Turbin Heliks: Analisa Bentuk Bangunan Penghasil Energi
Nyoman Apristhi Putri Yaniar;
Erwin Sudarma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (483.994 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20774
Enam puluh persen energi dunia dihasilkan dari energi yang tidak dapat diperbaharui dan 40% dihabiskan oleh bangunan. Padahal tidak dapat dipungkiri peningkatan jumlah bangunan utamanya hunian akan terus bertambah. Jumlah hunian ini tentu saja akan meningkatkan konsumsi energi dalam grid sedangkan hal ini tidak diimbangi dengan supply energi. Padahal, terdapat banyak energi yang dapat diserap/ absorb bangunan untuk menghasilkan energy. TOWER TURBIN HELIKS merupakan solusi berupa bangunan ‘near zero energy’ yang mampu memanfaatkan potensi lahan secara maksimal. Bentuk bangunan mempresentasikan cara dalam memanfaatkan energi angin dan matahari.
Arsitektur Titik Balik: Participatory Design dan Memori Kolektif
Mahdi Irfani Muhammad;
I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (405.005 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.20784
Kenangan adalah ingatan yang akan menjadi cerminan manusia dalam menghadapi keadaan kedepannya. Sehingga, momen akan kenangan itu sendiri harus dibangkitkan. Arsitektur sebagai media membangkitkan momen tidak hanya sebatas intrusi ruang semata. Namun, juga mengajak pengguna dan penghuni untuk berpartisipasi dalam membangkitkan momen tersebut. Karena ruang bukanlah sesuatu yang statis melalui material yang disajikannya. Selama ini, kita tidak pernah menyadari bahwa arsitektur yang kita alami sehari-hari selalu menjadi bagian dari kenangan hidup kita. Dari permasalahan ini penulis menyadari perlu adanya sesuatu dari rancangan yang membuat user menyadari bahwa mereka sedang merakit kenangan mereka sendiri. Rancangan yang dapat disempurnakan oleh penggunanya, seperti baju jemuran yang menjadi elemen estetika, sirkulasi yang diberi pekerasan sendiri oleh penggunanya, dan material yang bersifat temporer yang diganti secara berkala, akan memberi kesadaran secara penuh kepada penggunanya bahwa mereka sedang merajut kenangan mereka terhadap tempat tinggal mereka.
Eksplorasi Tema Gila Dalam Perancangan Arena Supercross
Dyka Imanda Karyanto;
Murtijas Sulistijowati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (651.555 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.21011
Sarana dan pra sarana masih belum sesuai dengan standar internasional. Kejuaraan motorcross itu sendiri memiliki beberapa kriteria, diantara kriteria-kriteria itu yang paling banyak menyedot perhatian publik adalah motorcross, supercross, dan freestyle motorcross. Untuk sirkuit motorcross di Indonesia sudah ada beberapa namun hanya berupa lintasan tanpa adanya fasilitas penunjang yang memadai. Sedangkan supercross adalah peningkatan perlombaan motorcross yang dibawa masuk ke dalan suatu arena indoor. Lintasan dan tingkat kesusahan balap ini di atas motorcross, namun begitu lintasan supercross tidak dapak dipakai untuk kejuaraan motorcross.
Application of Yospan as a Programmatic Method for Spatial Experience and Flexibility in the Central Marketplace of Manokwari
Asterica Deviana Ardhikawati;
Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (827.374 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i1.22563
As a coastal city, Manokwari’s coastline is where the central development grows, one of which is the Sanggeng Marketplace. This central market area is a vital system in the city. Yet, it lacks the development required to accommodate future growth and risks. The issue at hand discusses the marketplace’s position as a commercial and recreational space and how both can be integrated into a space that caters to the bright, multicultural citizens of the city of Manokwari. The design proposed in this final project accommodates the merging of both commercial, recreational, and social spaces in a single marketplace through spatial flexibility and the programming of spatial experiences. By designing a marketplace that not only delivers flexible spatial functions but also reflects the vibrancy and provides a spatial experience, the Sanggeng Market can exist as a central marketplace that can significantly further benefit the city, both economically and socially.
Penerapan Metoda Superimposisi pada Desain Public Space untuk Meningkatkan Apresiasi Masyarakat Urban terhadap Alam
Husna Abharina Mulyani;
wahyu setyawan
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (893.916 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i1.22572
Isu kerusakan alam dan rendahnya apresiasi masyarakat urban terhadap alam urban yang ada, maka disimpulkan bahwa perlu adanya sebuah arsitektur yang ditujukan untuk merubah persepsi masyarakat terhadap alam, dimana persepsi tersebut akhir-akhir ini makin dikaburkan karena terjadi pemisahan antar alam dan manusia. Dengan menggunakan pendekatan biophilic maka didapatkan rincian-rincian program yang dapat meningkatkan keterikatan antara masyarakat urban dan alam yang selanjutnya, diiringi oleh metode superimposisi, mampu menjadikan ruang publik ini terlepas dari identitas program utama yang dimaksudkan oleh perancang namun menyatu secara bersamaan dengan program-program lainnya untuk membangun identitas program utama tanpa harus meneksklusifkan dirinya. Sehingga, ruang publik dengan tujuan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap alam dapat tercapai.
Penerapan Healing Architecture dalam Desain Rumah Sakit
Asma' Arinal Haq;
Erwin Sudarma
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (835.318 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i1.22579
Healing architecture secara umum diartikan sebagai penyembuhan yang dilakukan melalui elemen arsitektur. Dalam penerapannya, Healing Architecture umumnya dikaitkan dengan pemberian aspek warna dan alam ke dalam bangunan, mengingat kedua aspek inilah yang terbukti mampu membantu tingkat kesembuhan pasien. Namun secara definisi, penerapan Healing Architecture ini tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk kedua aspek di atas. Pada objek rancang ini, sebuah pendekatan baru diterapkan dalam prinsip Healing Architecture. Pendekatan ini diterapkan dalam objek rancang dengan menghadirkan kehidupan sehari-hari yang disukai sebagian besar masyarakat dalam kegiatan rumah sakit. Perwujudan konsep ini dihadirkan dengan memberikan konsep pusat perbelanjaan (Mall) ke dalam bangunan rumah sakit, sehingga suasana rumah sakit yang dingin dan kaku menjadi lebih hidup dan penuh dengan aktivitas. Pada penerapannya, cakupan rumah sakit dibatasi untuk menampung penyakit kanker dan penyakit yang membutuhkan perawatan paliatif lainnya.
Aspek Alam sebagai Bagian Therapeutic Architecture pada Rumah Sakit Ketergantungan Obat
Afra Mustika;
Nur Endah Nuffida
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (427.403 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i1.22586
Arsitektur adalah produk dari manusia untuk manusia. Sejak jaman dulu kala, meskipun bentuknya masih sederhana (naungan, lindungan, tumpukan batu), manusia tidak dapat dipisahkan darinya. Sedikit banyak arsitektur atau lingkungan binaan berdampak bagi user bangunan dan lingkungan sekitarnya, seperti kutipan dari Winston Churchill “We shape our building, thereafter they shape us”. Secara umum, arsitektur sebagai media behaviour modifier diharapkan membawa dampak positif untuk proses kesehatan jiwa bila diterapkan pada bangunan atau lingkungan binaan. Konsep therapeutic architecture dapat diterapkan pada healthcare building ataupun lingkungan binaan yang terdapat aktivitas pengobatan di dalamnya, seperti rumah sakit ataupun pusat rehabilitasi. Dalam konsepnya, aspek-aspek arsitektur dimanipulasi sedemikian rupa untuk mempercepat proses penyembuhan.
Pelestarian Identitas Arsitektural Lokal melalui Redesain Terminal Bandar Udara
Dela Erawati;
Nur Endah Nuffida
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (335.088 KB)
|
DOI: 10.12962/j23373520.v6i1.22609
Identitas lokal merupakan sebuah wujud kekayaan dari kearifan lokal. Masing-masing daerah memiliki kearifan lokal yang bermaksud untuk mempertahankan keseimbangan pada daerah tersebut. Sehingga sudah sepatutnya hal tersebut dilestarikan. Mewujudkan sebuah bentukan yang ikonik pada ruang publik berdasarkan ciri atau identitas khusus suatu daerah merupakan salah satu cara mengabadikan identitas lokal tersebut, terutama saat bentukan hadir sebagai gerbang kota yang menyambut datangnya orang dari luar daerah. Bangunan tersebut menyambut dan menjadi wajah pertama kota tempatnya berada. Disini kegiatan redesain memiliki tujuan secara khusus untuk memperkenalkan kembali identitas arsitektural khas Papua yang kian hilang melalui sebuah transformasi bentuk serta penyesuaian terhadap tipologi bangunan yang ada.