cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sains dan Seni ITS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 2,279 Documents
Optimasi Bangunan Mixed-Use untuk Mengantisipasi Kemacetan di Jakarta Puti Tyas Ambunsari; Rullan Nirwansyah
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1025.411 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18541

Abstract

Sebagian besar komuter di Jabodetabek melakukan perjalanan ulang-alik dari hunian ke tempat kerja. Lokasi hunian yang jauh dari tempat kerja, sekolah, serta lokasi pemenuhan kebutuhan lainnya menyebabkan tingginya tingkat komuter di Jabodetabek. Kemacetan lalu lintas yang luar biasa di Jakarta sangat merugikan, baik dari aspek psikologis, ekonomis, maupun ekologis. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan konsep mixed use building. Pembahasan masalah dibatasi pada optimasi rancangan mixed use building. Optimasi difokuskan pada faktor bangunan secara fisik dan bagaimana bangunan dapat mempengaruhi psikologis user. Objek desain yang diusulkan adalah sebuah mixed use building yang mengintegrasikan fungsi kantor dan hunian bagi karyawannya. Kasus yang diambil pada usulan objek desain adalah kantor perusahaan Kaskus dengan asumsi bahwa perusahaan ini didominasi oleh karyawan muda yang kebutuhan akan huniannya tinggi. Rancangan diharapkan dapat mengurangi terjadinya komuter yang menggunakan kendaraan bermotor sehingga akan dapat membantu mengurangi masalah kepadatan dan kemacetan lalu lintas di Jakarta. Metode desain yang akan diterapkan pada usulan objek rancangan adalah metode Architectural Programming yang berfokus pada pemrograman arsitektur berbasis isu.
Meningkatkan Level Stadion Nasional menjadi Level Stadion Internasional Muhammad Luthfi; V Totok Noerwasito
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.525 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18542

Abstract

Saat ini sepak bola telah berkembang menjadi olahraga yang populer serta menjadi sebuah hiburan/entertainment yang bisa dinikmati oleh siapa saja di dunia. Perkembangan sepak bola di dunia tak lepas dari dukungan klub–klub yang ada, melalui kompetisi yang selalu diselenggarakan tiap tahunnya. Melalui kompetisi inilah klub–klub tersebut terus mengasah kemampuan timnya agar dapat terus berprestasi. Tidak hanya melalui pertandingan kompetisi saja yang diperlukan dalam peningkatan mutu tim, namun juga keberadaan sebuah fasilitas sepak bola dalam hal ini adalah stadion menjadi mutlak diperlukan. Keberadaan sebuah stadion sebagai wadah berkegiatan sepak bola semestinya didukung dengan fasilitas yang layak sesuai standar yang disyaratkan sebuah bangunan stadion baik nasional bahkan internasional. Stadion ini nantinya diharapkan mampu memenuhi tuntutan sepak bola modern yang memerlukan fasilitas penunjang yang sesuai standar kelayakan dan keberadaan fasilitas pelengkap, juga sebagai daya tarik lain bagi stadion nantinya. Desain arsitektur terhadap perencanaan dan perancangan stadion sepak bola yang menarik didasari pada penekanan aspek strukturnya. Dalam perancangan stadion sepak bola yang terpenting adalah aspek struktur yang digunakan, perkembangan sistem struktur terutama dalam perancangan stadion di dunia telah mengalami kemajuan dari segi teknologi bahan, kini telah berkembang seperti sistem kabel, membran, busur lengkung ataupun space frame. Stadion ini diharapkan mampu memunculkan unsur keindahan bangunan melalui ekspose aspek struktur yang ada, sehingga stadion ini memiliki tampilan bangunan yang estetis selain tetap memiliki konstruksi yang kokoh
Perancangan Pusat Komunitas Tunanetra Indonesia dengan Pendekatan Indera Yustisia Sekar Pratiwi; Murni Rachmawati
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.011 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18603

Abstract

Tunanetra adalah suatu kondisi dimana seseorang kehilangan kemampuan pengelihatan. Jumlah penyandang tunanetra di Indonesia saat ini mencapai 3 juta jiwa. Jumlah tersebut tentu saja terbilang cukup banyak. Namun perhatian pemerintah terhadap tunanetra masih sangat kecil. Pandangan masyarakat terhadap tunanetra pun tidak terlalu baik. Hal ini tercermin dari sedikitnya fasilitas khusus tunanetra serta keterbatasan profesi bagi tunanetra. Tidak sedikit penyandang tunanetra yang berprofesi sebagai tukang pijit dan pengemis yang tergolong sebagai masyarakat marjinal. Kondisi tersebut membuat penyandang tunanetra tidak memiliki kesempatan untuk berkembang. Banyak penyandang yang sebenarnya memiliki kemampuan yang sama atau bahkan melebihi kemampuan yang dimiliki non-tunanetra. Namun potensi tersebut kurang terasah akibat kurangnya fasilitas dari pemerintah dan pandangan dari masyarakat yang menanggap penyandang tunanetra tidak mampu melakukan apapun. Pada perancangan ini akan membahas mengenai fasilitas untuk mewadahi pengembangan potensi bakat dan minat yang dimiliki oleh tunanetra sekaligus sebagai area publik yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mengenalkan potensi bakat dan minat tunanetra kepada khalayak umum. Sehingga nantinya rancangan dapat menyadarkan masyarakat terhadap kemampuan tunanetra, serta membuka peluang bagi penyandang tunanetra untuk memperoleh profesi yang lebih baik di masa depan.
Penerapan Konsep Exchanging Experience untuk Menghapus Pelabelan terhadap Difabel Henni Henni; Nur Endah Nuffida
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.66 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18691

Abstract

Lebih dari satu milyar manusia di dunia hidup dengan keterbatasan fisik atau mental yang menghambatnya untuk beraktivitas, atau yang disebut dengan difabel. Difabel di Indonesia belum memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri, terbukti dengan rendahnya tingkat pendidikan, kemampuan ekonomi, dan partisipasi sosial difabel. Salah satu faktor penyebabnya adalah stigma yang berkembang di masyarakat yang cenderung meremehkan difabel. Respon secara arsitektural untuk menghapus pelabelan pada difabel adalah dengan menghadirkan arsitektur berkonsep pertukaran pengalaman (exchanging experience), khususnya pengalaman indra, antara difabel dan non-difabel. Permasalahan desain yang muncul adalah bagaimana penerapan konsep tersebut dalam arsitektur, baik pada program ruang, interior, fasad, hingga ruang luar. Untuk menghadirkan konsep tersebut digunakan metode Rationalist Approaches yang membutuhkan pengetahuan di bidang lain sebagai dasar, dalam hal ini terkait indra dan psikologi pengguna. Dengan metode tersebut, arsitektur yang hadir mengundang penggunanya lebih peka dalam mengeksplorasi indra. Elemen-elemen arsitektur seperti dinding, lantai, hingga ramp memberikan pengalaman pada indra manusia melalui pemilihan dan pengaplikasian material dengan karakteristik tertentu.  
Fleksibilitas Ruang dalam Mengoptimalkan Proses Edukasi di Sekolah Menengah Atas Ade Imelda W Br Purba; Bambang Soemardiono
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.372 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18726

Abstract

Lanskap pendidikan telah berubah secara signifikan dalam lima belas tahun terakhir. Proses belajar di sekolah kini telah jauh berbeda dengan keadaan perkembangan sekolah mula-mula. Dewasa ini, Anak-anak cenderung lebih bebas dan kreatif dalam mengekspresikan dirinya. Hal ini pun terjadi di sekolah ketika generasi pelajar tersebut melakukan proses edukasi. Mereka cenderung untuk mengeksplorasi proses belajar dengan cara apapun dan dimanapun. Ketika murid memiliki perasaan yang bebas, dan tidak dikekang maka mereka dapat secara optimal menyerap ilmu pengetahuan yang ada. Dengan demikian, maka pola ruang sekolah akan disusun secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan kegiatan ruang (Teori Konfigurasi Ruang Sekolah oleh Dr. Kenn Fisher.) Ruang ruang yang terdapat pada sekolah tersebut akan didesain dengan memiliki fungsi ganda juga sebagai ruang belajar, baik ruang dalam maupun ruang luar. Dengan kesimpulan bahwa ruang belajar (Learning Class Room) dapat dilakukan di setiap tempat di sekolah.
Pendekatan Arsitektur Bioklimatik Pada Bangunan Pesisir Faiz Dewangga Binar Diwari; Purwanita Setijanti
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.644 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18832

Abstract

Pada sebuah perancangan diperlukan adanya sebuah pendekatan desain untuk mempermudah melakukan eksplorasi bentuk. Hal ini juga berguna untuk dapat mempersempit konteks permasalahan desain dan juga memberikan batasan desain. Dalam perancangan Pusat Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan Permukiman, Jawa Timur ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan bioklimatik dan pendekatan perilaku, namun pada jurnal ini hanya akan dibahas mengenai pendekatan bioklimatik saja. Pendekatan arsitektur bioklimatik dipillih karena berkaitan dengan konteks lahan di daerah pesisir, tepatnya di daerah kenjeran. Kenjeran berada di kota Surabaya, Jawa Timur yang juga beriklim tropis, sehingga pendekatan yang dipilih juga menyangkut konteks iklim.
Median Vertical Dwelling dan Horizontal Dwelling untuk Masyarakat Penggusuran Lidya Kartika; Andy Mappajaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.445 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18857

Abstract

Meninggalkan tempat tinggal lama dan bermukim di tempat yang baru merupakan hal yang lumrah untuk manusia namun ada kalanya seorang manusia terpaksa berpindah dan harus bermukim di tempat yang jauh berbeda. Seperti halnya pada fenomena penggusuran dimana warga kampung yang terbiasa dengan kehidupan horizontal harus menjajaki rasanya bermukim secara vertikal. Tak jarang para korban penggusuran memilih untuk kembali bermukim di kampung halamannya atau bahkan membuat koloni kumuh yang baru. Rekonstruksi bermukim vertikal adalah sebuah bangunan transisi yang menjembatani perubahan dari permukiman horizontal dengan permukiman vertikal.
Kampung Singgah Produktif : Pemicu Peningkatan Ekonomi Masyarakat Permukiman Kumuh Riama Pamukka Anna Vinilia Sagala; Ima Defiana
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.656 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18865

Abstract

Permukiman menjadi kebutuhan yang menampung manusia dalam kehidupan berkeluarga, sosial masyarakat, keberlangsungan hidup sebagai manusia dengan sehat dan dengan segala perilakunya. Gagasan ide objek permukiman yang menjadi milik masyarakat kumuh Bantaran Kali Jagir ini berawal dari persoalan masih adanya permukiman kumuh di kota Surabaya. Kualitas hidup masyarakat yang hidup miskin dapat meningkat dengan pengubahan gaya hidup, tanpa mengurangi jiwa sosial yang sangat positif dalam kehidupan bermasyarakat kampung. Juga menambah peluang masyarakat untuk menambah sumber pemasukan untuk perekonomian mereka. Sebagaimana arsitektur, respon yang diberikan pada fenomena tersebut adalah serangkaian proses penggalian informasi dan penjabaran masalah, yang menghasilkan kesimpulan bahwa penyediaan objek arsitektur dapat menjadi solusi, dengan tetap mengedepankan kebutuhan dan mengabadikan karakter positif masyarakat kumuh Bantaran Kali Jagir dalam penerapan metode. Objek arsitektur muncul dengan segala sistem di dalamnya yang dapat menjadi objek percontohan untuk kasus permukiman-permukiman kumuh Bantaran Kali di kota Surabaya maupun di kota lain yang tidak seharusnya menjadi masalah berlarut di negara Indonesia.
Memoar : Ada - Tiada ( Trans-Programming Fasilitas Pemakaman dan Museum pada Lahan Pemakaman Ngagel ) Haris Widi Pratama; Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.201 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18931

Abstract

Memoar : Ada-tiada; untuk membentuk sebuah arsitektur yang mampu membangkitkan jiwa dari sebuah tempat, perancang perlu mempertimbangkan bagaimana sebuah cerita dapat di sampaikan melalui bahasa – bahasa arsitektural. Rangkaian pesan tersublimasi ke dalam gubahan ruang yang dimanifestasikan oleh material – konstruksi ke dalam rangkaian sekuen ruang - ruang. Desain ini mengangkat cerita mengenai artifak sebuah kota, dimana muara semua akhir yang kini terancam akibat perkembangan sebuah kota. Keberadaannya mulai terisolir di tengah lingkungan padat penduduk akibat tiadanya aktivitas selain membumikan sanak kerabat. Taman Makam Pahlawan Ngagel didesak dari berbagai arah, semakin ia terdesak, semakin dijejali batu – batu berukirkan nama – nama tak bertuan. Semakin terdesak, semakin terisolir dari sekitar. Letaknya yang sangat strategis membuat fasilitas pemakaman tersebut membutuhkan sebuah... untuk dapat beradaptasi terhadap kondisi yang semakin menghimpitnya. Jika tidak, ia akan mulai disuksesi oleh kegiatan lain yang sangat mungkin terjadi dan mengakibatkannya terbengkalai sebagaimana fasilitas pemakaman lain di tengah kota Surabaya. Selain itu, pemakaman tersebut juga merupakan artefak kota Surabaya dimana beberapa pahlawan dimakamkan, yang salah satunya adalah pahlawan revolusioner Bung Tomo.  Memoar : Ada – tiada mencoba menjadi pionir dalam memecahkan keadaan tersebut dengan memadukan aktivvitas pemakaman dengan aktivitas rekreasi-edukasi yang akan menghadirkan ruang – ruang kontemplatif pada pengunjung dengan menitik beratkan kepada desain yang mampu menggugah jiwa pengunjungnya untuk berkontemplasi.
Konsep Defamiliarisasi pada Desain Museum Tambang Pasir Sungai Brantas Septi Triana; I Gusti Ngurah Antaryama
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.852 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v5i2.18945

Abstract

Aktivitas penambangan pasir tradisional di Sungai Brantas telah menjadi bagian dari budaya yang dikenal oleh masyarakat sekitar. Meski sempat tergeser  oleh adanya modernisasi peralatan penambangan pasir, teknik tradisional ini kembali digalakkan sebagai respon permasalahan hilangnya karakteristik kawasan tersebut akibat kegiatan penambangan pasir modern. Arsitektur merupakan cara untuk membentuk identitas pada suatu kawasan, salah satunya dengan menerapkan pendekatan Regionalisme Kritis yang mengacu pada masa depan perkembangan suatu kawasan. Hal-hal terkait dengan budaya tambang pasir yang telah ada dihidupkan kembali secara aktif dan dijadikan bagian dari kebudayaan universal dalam bentuk yang baru dan berbeda. Artikel ini bertujuan untuk menginterpretasi ulang nilai-nilai dalam proses penambangan pasir tradisional di Sungai Brantas. Metoda desain Precedent digunakan untuk memperoleh abstraksi dari nilai-nilai tersebut kemudian menerapkannya ke dalam obyek arsitektur. Perwujudkan konsep Defamiliarisasi telah mampu dihadirkan dalam tatanan massa dan pola sirkulasi dalam ruang pada obyek desain Museum Tambang Pasir.