cover
Contact Name
Patar Gultom
Contact Email
pataraprizal@gmail.com
Phone
+6281361744012
Journal Mail Official
paramathetes75@gmail.com
Editorial Address
Jl. Gereja No. 38 Medan-Helvetia, Sumatera Utara, 20126 Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 29640946     DOI : https://doi.org/10.64005/jtpk
Paramathetes adalah jurnal yang menjadi wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pendidikan kristen yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Medan. Kajian Jurnal Paramathetes meliputi : Teologi Biblika,Teologi Sistematika,Teologi Pastoral, Teologi Misi dan Apologetika dan Pendidikan Kristiani.
Articles 42 Documents
Pemahaman Jemaat GBI AM terhadap Doktrin Kasih Karunia dan Relevansinya terhadap Pertumbuhan Rohani dalam perspektif Teologi Reformed-Injili (Studi berdasarkan Efesus 2:1-10 dan Roma 5:1-11) Rasmalem Raya Sembiring; Robbye Manik; Aslinawati; Petrus Posma Silaban
Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2025): Vol 4 No 1 : November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64005/jtpk.v4i1.260

Abstract

Abstract This study aims to describe the GBI Antiokhia Medan congregation's understanding of the doctrine of God's grace and examine how this understanding is relevant to their spiritual growth. This study employed a qualitative, descriptive-phenomenological approach through in-depth interviews with several GBI AM congregation members. Two biblical texts form the the theological foundation of the study : Ephesians 2:1-10 and Romans 5:1-11, which emphasize that salvation is received solely by God’s grace. The findings indicate that, in general, the congregation understands grace as an undeserved gift from God. However, some members still tend to associate it with human efforts to "repay" that grace through good deeds. Analysis from a Reformed-Evangelical theological perspective highlights that a proper understanding of grace fosters a humble, grateful, and Christ-centered spirituality. Based on these findings, the study recommends that spiritual formation programs at GBI Anthiokia Medan emphasize grace as the foundation principle for the congregation's spiritual growth. Keywords: grace; spiritual growth; Reformed-Evangelical; Ephesians 2; Romans 5. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman jemaat GBI Antiokhia Medan terhadap doktrin kasih karunia Allah dan menelaah bagaimana pemahaman tersebut relevan terhadapa pertumbuhan rohani mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-fenomenologis melalui wawanara mendalam dengan sejumlah jemaat GBI AM. Dua teks Alkitab yang menjadi dasar teologis penelitian adalah Efesus 2:1-10 dan Roma 5:1-11, yang menekankan bahwa keselamatan adalah anugerah semata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum jemaat memahami kasih karunia sebagai pemberian Allah yang tidak layak diterima. Namun sebagian anggota masih cenderung mengaitkannya dengan usaha manusia untuk “membalas” kasih karunia dengan perbuatan baik. Analisis dari perspektif teologi Reformed-Injili menegaskan bahwa pemahaman kasih karunia yang benar melahirkan spiritualitas yang rendah hati, penuh rasa syukur, dan berpusat pada Kristus. Penelitian ini merekomendasikan agar pembinaan rohani di GBI Antiokhia Medan menekankan kasih karunia sebagai fondasi utama dalam pertumbuhan rohani jemaat. Kata Kunci: kasih karunia; pertumbuhan rohani; Reformed-Injili; Efesus 2; Roma 5
Pembentukan Mahasiswa Teologi sebagai Calon Pemimpin Umat : Analisis Reflektif Ketokohan Daud ‘Sebelum dan Sesudah’ menjadi Raja Gultom, Patar; Sipayung, Gerhard; Ginting, Baskita; Hutauruk, Theresia
Paramathetes : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2025): Vol 4 No 1 : November 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64005/jtpk.v4i1.268

Abstract

The challenge of forming Generation Z theology students to become future leaders and servants of the community is increasingly urgent in the digital era with all its excesses. This study aims to prove that the formation of theology students can occur organically and progressively to prepare them with the qualities needed by the church and other service institutions. Using biblical studies by analyzing the character based on Sindunata Kurniawan's five formations: Spiritual Formation, Knowledge, Personality/Character, Leadership, and Service, the author conducts reflective analysis steps with a 'before' and 'after' perspective on the figure of David. David was chosen because he exemplifies a leader who underwent a thorough and meaningful formation process, and can be studied before and after he became king. This serves as a reflective study for student formation before and after they graduate and enter professional ministry. This research demonstrates that, like David, theology students can also develop into community leaders by undergoing in-depth, extensive, integrative, and authentic formation processes, which can be achieved through learning in theology classrooms, practical ministry, dormitory life, personal and communal worship, independent study, and relationships and interactions with the world of ministry in the light of truth. Abstrak. Tantangan formasi mahasiswa teologi generasi Z untuk menjadi pemimpin dan pelayan umat masa depan saat ini semakin urgent dihadapi di era digital dengan segala eksesnya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa formasi mahasiswa teologi dapat terjadi secara organik dan progresif untuk mempersiapkan mereka dengan kualitas diri yang diperlukan gereja dan institusi pelayanan lainnya. Menggunakan kajian biblikal dengan melakukan analisis ketokohan berdasar 5 formasi Sindunata Kurniawan yakni Formasi Spiritual,  Pengetahuan, Kepribadian/ Karakter, Kepemimpinan dan Pelayanan, penulis melakukan langkah-langkah analisis reflektif dengan sudut pandang ‘before’ and ‘after’  terhadap tokoh Daud. Daud dipilih karena menjadi contoh pemimpin yang mengalami proses pembentukan yang baik dan dapat dikaji sebelum dan sesudah ia menjadi raja. Ini menjadi kajian reflektif bagi pembentukan mahasiswa sebelum dan sesudah mereka tamat dan terjun ke pelayanan secara profesional. Melalui penelitian ini didapati bahwa sebagaimana Daud, mahasiswa teologi juga dapat berproses menjadi pemimpin umat dengan menjalani semua proses pembentukan in-depth, ekstensif, integratif dan otentik yang bisa didapat melalui semua proses belajar di ruang kelas teologi, pelayanan praktis, kehidupan asrama, ibadah personal dan komunal, studi mandiri, relasi dan interaksi dengan dunia pelayanan dalam terang kebenaran