cover
Contact Name
Desti Verani, S.Pd
Contact Email
desti@iphorr.com
Phone
-
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
CHI JOURNAL OF Community Health Issues
ISSN : 28092511     EISSN : 28092724     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian dibidang kesehatan komunitas meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, maupun kelompok. Penelitian sesuai tren terbaru dalam kesehatan komunitas ditinjau dari berbagai aspek pada budaya masyarakat yang tinggal di benua Asia. Terbit 2 kali dalam satu tahun bulan April dan Desember.
Articles 38 Documents
The relationship between family support and lifestyle management in type 2 diabetes mellitus patients Puji Astutik; Iwan Ardian; Nutrisia Nu’im Haiya
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2487

Abstract

Background: Adopting a healthy lifestyle is the primary solution for treating type 2 diabetes mellitus. Family support plays a crucial role as an external factor that can strengthen a patient's commitment to adopting a healthy lifestyle. The greater the family support, the better the self-care outcomes for patients with type 2 diabetes mellitus. Purpose: To determine the relationship between family support and lifestyle management in patients with type 2 diabetes mellitus. Method: The research method used was an observational cross-sectional approach. The study sample consisted of 200 diabetes mellitus patients who met the inclusion and exclusion criteria. The instruments used were the HDFSS and SDSCA questionnaires. Data analysis used the Chi-square test with a significance level of α = 0.05. Results: The results showed that the majority of respondents received good family support, and the majority of respondents' lifestyle management was in the good category. The Chi-square test showed a significant relationship between family support and lifestyle management (p = 0.001), indicating a significant relationship between family support and lifestyle management. Conclusion: There is a significant relationship between family support and lifestyle management.   Keywords: Diabetes Mellitus; Family; Lifestyle; Management; Support.
Persepsi dan penerimaan pengguna terhadap aplikasi kesehatan digital: studi kasus pada masyarakat perkotaan Syahrul Ramadhan; Eka Lestari Sitepu
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2496

Abstract

Background: Digital transformation has penetrated various health sectors, giving rise to digital health applications that offer access to health services and information. A deep understanding of user perceptions and acceptance, particularly in urban communities exposed to technology, is crucial for optimizing the implementation of these applications. This study seeks to fill the knowledge gap regarding subjective factors influencing the adoption of digital health technology from a user perspective: Purpose: To explore in-depth the perceptions, experiences, and factors influencing user acceptance of digital health applications among urban communities.The research focuses on identifying perceived benefits, challenges faced, and user expectations regarding the features and services of digital health applications. Method: This research employed a qualitative approach with a case study design. Data collection was conducted through in-depth interviews with participants who are active users of digital health applications in urban areas, selected purposively. The collected data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, themes, and categories emerging from participant narratives, providing a rich and contextual understanding. Results: The research findings indicate that perceived usefulness and perceived ease of use are key drivers of digital health application acceptance. However, concerns about data privacy and the need for personal interaction with healthcare professionals present significant barriers. Digital health applications are perceived as supporting tools that complement conventional services, not as a complete replacement. Conclusion: This study concludes that the acceptance of digital health applications in urban communities is selective, influenced by the balance between perceived benefits, ease of use, and guaranteed data security and privacy.   Keywords: Digital Health Applications, Qualitative Research; Technology Acceptance; Urban Communities; User Perception.   Pendahuluan: Transformasi digital telah merambah berbagai sektor kesehatan, menghadirkan aplikasi kesehatan digital yang menawarkan akses layanan dan informasi kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai persepsi dan penerimaan pengguna, khususnya di masyarakat perkotaan yang terpapar teknologi, menjadi krusial untuk optimalisasi implementasi aplikasi tersebut. Studi ini berupaya mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai faktor-faktor subjektif yang memengaruhi adopsi teknologi kesehatan digital dari perspektif pengguna. Tujuan: Untuk mengeksplorasi secara mendalam persepsi, pengalaman, dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan pengguna terhadap aplikasi kesehatan digital di kalangan masyarakat perkotaan. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi manfaat yang dirasakan, tantangan yang dihadapi, serta harapan pengguna terhadap fitur dan layanan aplikasi kesehatan digital. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan partisipan yang merupakan pengguna aktif aplikasi kesehatan digital di wilayah perkotaan, dipilih secara purposif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dari narasi partisipan, sehingga memberikan pemahaman yang kaya dan kontekstual. Hasil:  Temuan penelitian menunjukkan bahwa persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) merupakan pendorong utama penerimaan aplikasi kesehatan digital. Namun, kekhawatiran mengenai privasi data dan kebutuhan akan interaksi personal dengan tenaga medis menjadi hambatan signifikan. Aplikasi kesehatan digital diterima sebagai alat pendukung yang melengkapi layanan konvensional, bukan pengganti total. Simpulan: Penerimaan aplikasi kesehatan digital di masyarakat perkotaan bersifat selektif, dipengaruhi oleh keseimbangan antara manfaat yang dirasakan, kemudahan penggunaan, serta jaminan keamanan dan privasi data.   Kata Kunci: Aplikasi Kesehatan Digital; Masyarakat Perkotaan; Penelitian Kualitatif; Penerimaan Teknologi; Persepsi Pengguna. Background: Digital transformation has penetrated various health sectors, giving rise to digital health applications that offer access to health services and information. A deep understanding of user perceptions and acceptance, particularly in urban communities exposed to technology, is crucial for optimizing the implementation of these applications. This study seeks to fill the knowledge gap regarding subjective factors influencing the adoption of digital health technology from a user perspective: Purpose: To explore in-depth the perceptions, experiences, and factors influencing user acceptance of digital health applications among urban communities.The research focuses on identifying perceived benefits, challenges faced, and user expectations regarding the features and services of digital health applications. Method: This research employed a qualitative approach with a case study design. Data collection was conducted through in-depth interviews with participants who are active users of digital health applications in urban areas, selected purposively. The collected data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, themes, and categories emerging from participant narratives, providing a rich and contextual understanding. Results: The research findings indicate that perceived usefulness and perceived ease of use are key drivers of digital health application acceptance. However, concerns about data privacy and the need for personal interaction with healthcare professionals present significant barriers. Digital health applications are perceived as supporting tools that complement conventional services, not as a complete replacement. Conclusion: This study concludes that the acceptance of digital health applications in urban communities is selective, influenced by the balance between perceived benefits, ease of use, and guaranteed data security and privacy.   Keywords: Digital Health Applications, Qualitative Research; Technology Acceptance; Urban Communities; User Perception.   Pendahuluan: Transformasi digital telah merambah berbagai sektor kesehatan, menghadirkan aplikasi kesehatan digital yang menawarkan akses layanan dan informasi kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai persepsi dan penerimaan pengguna, khususnya di masyarakat perkotaan yang terpapar teknologi, menjadi krusial untuk optimalisasi implementasi aplikasi tersebut. Studi ini berupaya mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai faktor-faktor subjektif yang memengaruhi adopsi teknologi kesehatan digital dari perspektif pengguna. Tujuan: Untuk mengeksplorasi secara mendalam persepsi, pengalaman, dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan pengguna terhadap aplikasi kesehatan digital di kalangan masyarakat perkotaan. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi manfaat yang dirasakan, tantangan yang dihadapi, serta harapan pengguna terhadap fitur dan layanan aplikasi kesehatan digital. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan partisipan yang merupakan pengguna aktif aplikasi kesehatan digital di wilayah perkotaan, dipilih secara purposif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dari narasi partisipan, sehingga memberikan pemahaman yang kaya dan kontekstual. Hasil:  Temuan penelitian menunjukkan bahwa persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) merupakan pendorong utama penerimaan aplikasi kesehatan digital. Namun, kekhawatiran mengenai privasi data dan kebutuhan akan interaksi personal dengan tenaga medis menjadi hambatan signifikan. Aplikasi kesehatan digital diterima sebagai alat pendukung yang melengkapi layanan konvensional, bukan pengganti total. Simpulan: Penerimaan aplikasi kesehatan digital di masyarakat perkotaan bersifat selektif, dipengaruhi oleh keseimbangan antara manfaat yang dirasakan, kemudahan penggunaan, serta jaminan keamanan dan privasi data.   Kata Kunci: Aplikasi Kesehatan Digital; Masyarakat Perkotaan; Penelitian Kualitatif; Penerimaan Teknologi; Persepsi Pengguna. Background: Digital transformation has penetrated various health sectors, giving rise to digital health applications that offer access to health services and information. A deep understanding of user perceptions and acceptance, particularly in urban communities exposed to technology, is crucial for optimizing the implementation of these applications. This study seeks to fill the knowledge gap regarding subjective factors influencing the adoption of digital health technology from a user perspective: Purpose: To explore in-depth the perceptions, experiences, and factors influencing user acceptance of digital health applications among urban communities.The research focuses on identifying perceived benefits, challenges faced, and user expectations regarding the features and services of digital health applications. Method: This research employed a qualitative approach with a case study design. Data collection was conducted through in-depth interviews with participants who are active users of digital health applications in urban areas, selected purposively. The collected data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, themes, and categories emerging from participant narratives, providing a rich and contextual understanding. Results: The research findings indicate that perceived usefulness and perceived ease of use are key drivers of digital health application acceptance. However, concerns about data privacy and the need for personal interaction with healthcare professionals present significant barriers. Digital health applications are perceived as supporting tools that complement conventional services, not as a complete replacement. Conclusion: This study concludes that the acceptance of digital health applications in urban communities is selective, influenced by the balance between perceived benefits, ease of use, and guaranteed data security and privacy.   Keywords: Digital Health Applications, Qualitative Research; Technology Acceptance; Urban Communities; User Perception.   Pendahuluan: Transformasi digital telah merambah berbagai sektor kesehatan, menghadirkan aplikasi kesehatan digital yang menawarkan akses layanan dan informasi kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai persepsi dan penerimaan pengguna, khususnya di masyarakat perkotaan yang terpapar teknologi, menjadi krusial untuk optimalisasi implementasi aplikasi tersebut. Studi ini berupaya mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai faktor-faktor subjektif yang memengaruhi adopsi teknologi kesehatan digital dari perspektif pengguna. Tujuan: Untuk mengeksplorasi secara mendalam persepsi, pengalaman, dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan pengguna terhadap aplikasi kesehatan digital di kalangan masyarakat perkotaan. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi manfaat yang dirasakan, tantangan yang dihadapi, serta harapan pengguna terhadap fitur dan layanan aplikasi kesehatan digital. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan partisipan yang merupakan pengguna aktif aplikasi kesehatan digital di wilayah perkotaan, dipilih secara purposif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dari narasi partisipan, sehingga memberikan pemahaman yang kaya dan kontekstual. Hasil:  Temuan penelitian menunjukkan bahwa persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) merupakan pendorong utama penerimaan aplikasi kesehatan digital. Namun, kekhawatiran mengenai privasi data dan kebutuhan akan interaksi personal dengan tenaga medis menjadi hambatan signifikan. Aplikasi kesehatan digital diterima sebagai alat pendukung yang melengkapi layanan konvensional, bukan pengganti total. Simpulan: Penerimaan aplikasi kesehatan digital di masyarakat perkotaan bersifat selektif, dipengaruhi oleh keseimbangan antara manfaat yang dirasakan, kemudahan penggunaan, serta jaminan keamanan dan privasi data.   Kata Kunci: Aplikasi Kesehatan Digital; Masyarakat Perkotaan; Penelitian Kualitatif; Penerimaan Teknologi; Persepsi Pengguna. Background: Digital transformation has penetrated various health sectors, giving rise to digital health applications that offer access to health services and information. A deep understanding of user perceptions and acceptance, particularly in urban communities exposed to technology, is crucial for optimizing the implementation of these applications. This study seeks to fill the knowledge gap regarding subjective factors influencing the adoption of digital health technology from a user perspective: Purpose: To explore in-depth the perceptions, experiences, and factors influencing user acceptance of digital health applications among urban communities.The research focuses on identifying perceived benefits, challenges faced, and user expectations regarding the features and services of digital health applications. Method: This research employed a qualitative approach with a case study design. Data collection was conducted through in-depth interviews with participants who are active users of digital health applications in urban areas, selected purposively. The collected data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, themes, and categories emerging from participant narratives, providing a rich and contextual understanding. Results: The research findings indicate that perceived usefulness and perceived ease of use are key drivers of digital health application acceptance. However, concerns about data privacy and the need for personal interaction with healthcare professionals present significant barriers. Digital health applications are perceived as supporting tools that complement conventional services, not as a complete replacement. Conclusion: This study concludes that the acceptance of digital health applications in urban communities is selective, influenced by the balance between perceived benefits, ease of use, and guaranteed data security and privacy.   Keywords: Digital Health Applications, Qualitative Research; Technology Acceptance; Urban Communities; User Perception.   Pendahuluan: Transformasi digital telah merambah berbagai sektor kesehatan, menghadirkan aplikasi kesehatan digital yang menawarkan akses layanan dan informasi kesehatan. Pemahaman mendalam mengenai persepsi dan penerimaan pengguna, khususnya di masyarakat perkotaan yang terpapar teknologi, menjadi krusial untuk optimalisasi implementasi aplikasi tersebut. Studi ini berupaya mengisi kesenjangan pengetahuan mengenai faktor-faktor subjektif yang memengaruhi adopsi teknologi kesehatan digital dari perspektif pengguna. Tujuan: Untuk mengeksplorasi secara mendalam persepsi, pengalaman, dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan pengguna terhadap aplikasi kesehatan digital di kalangan masyarakat perkotaan. Fokus penelitian adalah mengidentifikasi manfaat yang dirasakan, tantangan yang dihadapi, serta harapan pengguna terhadap fitur dan layanan aplikasi kesehatan digital. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan partisipan yang merupakan pengguna aktif aplikasi kesehatan digital di wilayah perkotaan, dipilih secara purposif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tema, dan kategori yang muncul dari narasi partisipan, sehingga memberikan pemahaman yang kaya dan kontekstual. Hasil:  Temuan penelitian menunjukkan bahwa persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan kemudahan penggunaan (perceived ease of use) merupakan pendorong utama penerimaan aplikasi kesehatan digital. Namun, kekhawatiran mengenai privasi data dan kebutuhan akan interaksi personal dengan tenaga medis menjadi hambatan signifikan. Aplikasi kesehatan digital diterima sebagai alat pendukung yang melengkapi layanan konvensional, bukan pengganti total. Simpulan: Penerimaan aplikasi kesehatan digital di masyarakat perkotaan bersifat selektif, dipengaruhi oleh keseimbangan antara manfaat yang dirasakan, kemudahan penggunaan, serta jaminan keamanan dan privasi data.   Kata Kunci: Aplikasi Kesehatan Digital; Masyarakat Perkotaan; Penelitian Kualitatif; Penerimaan Teknologi; Persepsi Pengguna.VVV
Analisis hubungan lama penggunaan gadget dengan perkembangan emosional pada anak usia prasekolah Rodhyatun Ulfa; Herry Susanto; Indra Tri Astuti
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2497

Abstract

Background: Preschool-aged children are increasingly exposed to gadgets, which can significantly impact their emotional development. Excessive gadget use without parental supervision is known to impair emotional regulation, while controlled usage with appropriate guidance can support healthy emotional development. Purpose: To analyze the relationship between the duration of gadget use and emotional development among preschool-aged children. Method: This study employed a quantitative research design with a correlational method using a cross-sectional approach. A total of 100 preschool-aged children participated as respondents, selected through purposive sampling method. Data analysis was conducted using Spearman Rank correlation test at a significance level of α = 0.05. Results: The majority of respondents demonstrated prolonged gadget usage (>2 hours/day), with significant variations in emotional development. The Spearman Rank test revealed a significant correlation between duration of gadget use and emotional development (p < 0.05), indicating a negative relationship where longer gadget exposure was associated with poorer emotional regulation and increased behavioral problems. Conclusion: Data analysis demonstrated a meaningful correlation between gadget usage duration and emotional development among preschool-aged children. The longer the duration of gadget use, particularly without parental supervision, the greater the tendency for emotional developmental issues.   Keywords: Emotional Development; Gadget Usage; Preschool Children.   Pendahuluan: Anak usia prasekolah semakin terpapar penggunaan gadget yang dapat berdampak signifikan terhadap perkembangan emosional mereka. Penggunaan gadget yang berlebihan tanpa pengawasan orang tua diketahui dapat mengganggu regulasi emosi, sementara penggunaan terkontrol dengan bimbingan yang tepat dapat mendukung perkembangan emosional yang sehat. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan lama penggunaan gadget dengan perkembangan emosional pada anak usia prasekolah. Metode: Studi ini menerapkan rancangan penelitian kuantitatif dengan metode korelasional melalui pendekatan potong lintang (cross-sectional). Jumlah responden yang terlibat sebanyak 100 anak usia prasekolah yang ditentukan menggunakan metode purposive sampling. Pengolahan data dilaksanakan dengan uji korelasi Spearman Rank pada taraf signifikansi α sebesar 0,05. Hasil: Sebagian besar responden menunjukkan penggunaan gadget yang berkepanjangan (>2 jam/hari) dengan variasi signifikan dalam perkembangan emosional. Uji Spearman Rank menunjukkan ditemukan keterkaitan yang signifikan antara lama penggunaan gadget dan perkembangan emosional (p < 0,05), menunjukkan hubungan negatif dimana paparan gadget yang lebih lama berkaitan dengan regulasi emosi yang lebih buruk dan peningkatan masalah perilaku. Simpulan: Analisis data menunjukkan keterhubungan yang bermakna antara lama penggunaan gadget dengan perkembangan emosional pada anak usia prasekolah. Semakin lama durasi penggunaan gadget, khususnya tanpa pengawasan orang tua, semakin besar kecenderungan munculnya masalah perkembangan emosional.   Kata Kunci: Anak Prasekolah; Penggunaan Gadget; Perkembangan Emosional.
Hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan sosial anak usia prasekolah Rizka Fauzia Latif; Indra Tri Astuti; Herry Susanto
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2503

Abstract

Background: Social development was a crucial aspect in forming children's abilities to interact, cooperate, empathize, and adapt to their environment. Parenting styles were one of the main factors that influenced children's social development. Inappropriate parenting styles could impact the weakness of children's social abilities, such as difficulties in communicating, withdrawing, or being unable to follow social rules. Purpose: To identify the parenting styles applied by parents, determine children's social development based on parenting styles, and examine the correlation between parenting styles and preschool children's social development. Method: This study used a cross-sectional design with a sample of 100 preschool children from RA Tarbiyatul Athfal 37 Semarang. Data on parenting styles and children's social development were collected through questionnaires completed by parents. Statistical analysis was conducted using Spearman Correlation test. Results: Showed a significant positive relationship between parenting styles and children's social development (r = 0.653, p = 0.001). Children who received good parenting styles tended to have positive social development, whereas poor parenting styles showed an association with negative social development. Conclusion: There was a strong and significant relationship between parenting styles and children's social development. The implementation of consistent democratic parenting styles, full of affection, and involving open communication was essential to support optimal social development of preschool children.   Keywords: Parenting Styles; Preschool Children; Social Development.   Pendahuluan: Perkembangan sosial merupakan aspek penting dalam pembentukan kemampuan anak untuk berinteraksi, bekerja sama, berempati, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan. Pola asuh orang tua menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi perkembangan sosial anak. Pola asuh yang tidak sesuai dapat berdampak pada lemahnya kemampuan sosial anak, seperti kesulitan berkomunikasi, menarik diri, atau kurang mampu mengikuti aturan sosial. Tujuan: Untuk mengidentifikasi pola asuh yang diterapkan orang tua, mengetahui perkembangan sosial anak berdasarkan pola asuh, serta mengetahui keeratan hubungan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan sosial anak usia prasekolah. Metode: Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan jumlah sampel 100 anak prasekolah dari RA Tarbiyatul Athfal 37 Semarang. Data mengenai pola asuh dan perkembangan sosial anak dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh orang tua. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Korelasi Spearman. Hasil: Menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara pola asuh orang tua dan perkembangan sosial anak (r = 0.653, p = 0.001). Anak yang menerima pola asuh kategori baik cenderung memiliki perkembangan sosial yang positif, sedangkan pola asuh kurang menunjukkan keterkaitan dengan perkembangan sosial negatif. Simpulan: Terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara pola asuh orang tua dengan perkembangan sosial anak. Penerapan pola asuh demokratis yang konsisten, penuh kasih sayang, serta melibatkan komunikasi terbuka sangat penting untuk mendukung perkembangan sosial anak prasekolah secara optimal.   Kata Kunci: Anak Prasekolah; Perkembangan Sosial; Pola Asuh.V
Pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada diabetes melitus tipe 2 Tri Endah Widiarti; Widiastuti Widiastuti; Sriyati Sriyati
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2519

Abstract

Background:  Diabetic foot exercises are exercises performed by diabetics to prevent wounds and improve blood circulation in the feet. Stimulating sensitivity in the soles of the feet affects nerves and can lead to a variety of problems known as neuropathy. The physiological effects of regular foot exercises will achieve both mechanical and reflex effects. Purpose: The aim of this study was to determine the effect of diabetic foot exercises on the level of foot sensitivity in type 2 diabetes mellitus patients. Results: The results of data analysis using the Wilcoxon test obtained a correlation coefficient value of -3.994 weak with a significance of 0.000 because the p value ≥0.05, then Ha is accepted and Ho is rejected, which means there is an effect of diabetic foot exercise on the level of foot sensitivity in type 2 diabetes mellitus patients. Conclusion: There is an effect of diabetic foot exercises on the level of foot sensitivity in type 2 diabetes mellitus patients.   Keywords: Foot Exercises; Foot Sensitivity.   Pendahuluan: Senam kaki diabetik merupakan latihan yang dilakukan bagi penderita untuk mencegah terjadinya luka dan membantu peredaran darah bagi kaki. Sensitivitas kaki yang merangsang didaerah telapak kaki yang dipengaruhi oleh saraf dan menyebabkan beragam masalah yang disebut dengan neuropati. Efek fisiologis senam kaki yang dilakukan secara rutin akan mencapai efek mekanis dan refleks yang terjadi.   Tujuan: untuk mengetahui pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi-eksperimen, dan pendekatan waktu yang digunakan adalah cross- sectional. Hasil: Analisa data menggunakan uji wilcoxon diperoleh nilai koefisien korelasi -3.994 (lemah) dengan signifikansi sebesar 0,000 karena nilai p value ≥0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak, yang berarti terdapat pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe 2. Simpulan:Terdapat pengaruh senam kaki diabetik terhadap tingkat sensitivitas kaki pada pasien diabetes melitus tipe.   Kata Kunci: Senam Kaki; Sensitivitas Kaki.
Hubungan aktivitas fisik dengan keluhan nyeri punggung bawah pada perawat Ferdy Hendra Saputra Saputra; Moch Aspihan; Iskim Luthfa
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2522

Abstract

Background: Low back pain is one of the most common musculoskeletal disorders experienced by nurses due to high physical workload, repetitive movements, prolonged standing, and improper working posture. Excessive or inappropriate physical activity without adequate ergonomic application may increase the risk of low back pain and negatively affect nurses’ performance and quality of care. Purpose: To analyze the relationship between physical activity and low back pain complaints among nurses. Method: This study employed a quantitative approach with a descriptive correlational design using a cross-sectional method. A total of 228 nurses were selected using convenience sampling. Physical activity was measured using the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ), while low back pain complaints were assessed using a structured questionnaire. Data were analyzed using the Spearman Rank (Rho) test with a significance level of α = 0.05. Results: A significant positive relationship between physical activity and low back pain complaints (p = 0.000; r = 0.513). Higher levels of physical activity were associated with increased low back pain complaints among nurses. Conclusion: There is a significant relationship between physical activity and low back pain complaints among nurses. These findings highlight the importance of managing physical activity and implementing ergonomic principles to prevent low back pain in nursing practice.   Keywords: Low Back Pain; Musculoskeletal Disorders; Nurses; Physical Activity.   Pendahuluan: Nyeri punggung bawah merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang sering dialami oleh perawat akibat tingginya beban kerja fisik, aktivitas berulang, berdiri dalam waktu lama, serta penerapan postur kerja yang tidak ergonomis. Aktivitas fisik yang berlebihan atau tidak sesuai dapat meningkatkan risiko terjadinya keluhan nyeri punggung bawah dan berdampak pada kinerja serta kualitas pelayanan keperawatan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara aktivitas fisik dengan keluhan nyeri punggung bawah pada perawat. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif melalui metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 228 perawat yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Aktivitas fisik diukur menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ), sedangkan keluhan nyeri punggung bawah diukur menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan dengan uji Spearman Rank (Rho) pada taraf signifikansi α = 0.05. Hasil: Adanya hubungan positif yang signifikan antara aktivitas fisik dan keluhan nyeri punggung bawah (p = 0.000; r = 0.513). Semakin tinggi tingkat aktivitas fisik, semakin besar keluhan nyeri punggung bawah yang dialami perawat. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan keluhan nyeri punggung bawah pada perawat. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan aktivitas fisik serta penerapan prinsip ergonomi dalam upaya pencegahan nyeri punggung bawah di lingkungan kerja keperawatan.   Kata Kunci: Aktivitas Fisik; Gangguan Muskuloskeletal; Nyeri Punggung Bawah; Perawat.
Hubungan pola asuh orang tua dengan status gizi balita Putri Arvina Kurniawati; Suryani Suryani; Suri Salmiyati
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2636

Abstract

Bacground: Malnutrition in Indonesia remains a major challenge in public health development. Malnutrition in toddlers can cause brain development disorders that affect learning abilities and future productivity. Growth disorders in toddlers are not only influenced by nutritional intake, but also by parenting patterns. Parenting practices play an important role in determining children's nutritional status, as good parenting practices can support optimal nutritional needs and growth and development. Purpose: To determine the relationship between parenting practices and the nutritional status of toddlers. Method: This was a non-experimental quantitative study using a cross-sectional approach. The study population consisted of parents and toddlers who actively attended health center activities at the Melati Kwarasan Nogotirto Health Center in Gamping District, Sleman, with a total of 80 respondents. The sampling technique used total sampling with 80 respondents. The research instruments were a parental care questionnaire and a calibrated digital weighing scale to determine the nutritional status of toddlers. Data analysis was performed using Fisher's Exact Test because the assumptions of the Chi-Square test were not met. Results: Statistical test results using Fisher's Exact Test show a significant relationship between parenting patterns and toddler nutritional status (p = 0.000) with a strong correlation (0.709). Conclusion: There is a significant and strong relationship between parenting patterns and the nutritional status of toddlers.   Keywords: Nutritional Status; Parenting Patterns;  Toddler.   Pendahuluan: Masalah gizi buruk di Indonesia masih menjadi tantangan besar dalam pengembangan kesehatan masyarakat. Kekurangan gizi pada balita dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak yang berdampak pada kemampuan belajar serta produktivitas di masa depan. Gangguan pertumbuhan pada balita tidak hanya dipengaruhi oleh asupan nutrisi, tetapi juga oleh pola asuh orang tua. Pola asuh memiliki peran penting dalam menentukan status gizi anak, karena praktik pengasuhan yang baik dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi dan tumbuh kembang secara optimal. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua dengan status gizi balita. Metode: Penelitian kuantitatif non eksperimental menggunakan pendekatan studi cross sectional. Populasi penelitian ini adalah orang tua dan balita yang aktif menghadiri kegiatan posyandu di Posyandu Melati Kwarasan Nogotirto Kecamatan Gamping Sleman dengan jumlah 80 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah 80 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner pola asuh orang tua dan timbangan berat badan digital terkalibrasi untuk penentuan status gizi balita. Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher’s Exact Test karena asumsi uji Chi-Square tidak terpenuhi. Hasil: Uji statistik menggunakan Fisher’s Exact Test menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dan status gizi balita (p = 0.000) dengan keeratan hubungan kuat (0.709). Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan dan kuat antara hubungan pola asuh orang tua dengan status gizi balita.   Kata Kunci: Balita; Pola Asuh; Status Gizi.
Hubungan status gizi dengan kejadian dismenore pada mahasiswa Nabila Nur Hanifah; Suratini Suratini; Agustina Rahmawati
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 2 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i2.2933

Abstract

Background : Adolescence is a developmental transition period toward adulthood that begins with puberty, one sign of puberty in females being menstruation, which is generally accompanied by various complaints. Dysmenorrhea, or menstrual pain, is a menstrual disorder that can cause physical discomfort, reduce concentration, disrupt academic activities, and lower the quality of life of students. One factor suspected to contribute to the occurrence of dysmenorrhea is nutritional status, which is assessed using the Body Mass Index (BMI). Purpose: To determine the relationship between nutritional status and the occurrence of dysmenorrhea. Method: Quantitative research with a cross-sectional approach. The population in this study consisted of 180 third-semester students in the Nursing Study Program at 'Aisyiyah University Yogyakarta. The sampling technique used was non-probability sampling with a simple random sampling method, totaling 124 students. The data analysis used was univariate and bivariate analysis with the Pearson Chi-Square test. Results: Based on the frequency distribution of nutritional status, 76 people (61.3%) of respondents had a normal nutritional status. Based on the frequency distribution of dysmenorrhea occurrence, 87 respondents (70.2%) experienced dysmenorrhea. A p-value of 0.004 was obtained with an A p-value 0.004< (0.05). Conclusion : There is a relationship between nutritional status and the incidence of dysmenorrhea.   Keywords: Body Mass Index; Dysmenorrhea; Nutritional Status; University Students.   Pendahuluan: Masa remaja adalah periode transisi perkembangan menuju kedewasaan yang diawali dengan pubertas, salah satu tanda seseorang mengalami pubertas pada wanita adalah menstruasi yang umumnya disertai berbagai keluhan. Dismenore, atau nyeri haid merupakan gangguan menstruasi yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan fisik, menurunkan konsentrasi, mengganggu aktivitas akademik, serta menurunkan kualitas hidup mahasiswa. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap kejadian dismenore adalah status gizi, yang dinilai menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan status gizi dengan kejadian dismenore pada Mahasiswa. Metode : Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester 3 Program Studi Keperawatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta sebanyak 180 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling dengan metode simple random sampling sebanyak 124 mahasiswa. Analisa data yang digunakan  yaitu analisis univariate dan bivariat dengan uji Pearson  Chi-Square . Hasil: Berdasarkan distribusi frekuensi Status gizi, 76 orang (61.3%) responden memiliki status gizi normal. Berdasarkan distribusi frekuensi kejadian dismenore, 87 responden (70.2%) mengalami dismenore. Didapatkan p value 0.004< (0.05). Simpulan: Ada hubungan status gizi dengan kejadian dismenore pada Mahasiswa.   Kata Kunci: Dismenore; Mahasiswa; Indeks Massa Tubuh; Status Gizi.  

Page 4 of 4 | Total Record : 38