cover
Contact Name
Reno Fernandes
Contact Email
socialemperical@ppj.unp.ac.id
Phone
+6281261444136
Journal Mail Official
socialemperical@ppj.unp.ac.id
Editorial Address
Departemen Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang (Integrated Classroom B UNP Air Tawar Padang) Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar, Padang
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Social Empirical
ISSN : -     EISSN : 30630703     DOI : https://doi.org/10.24036
Social Empirical merupakan wadah yang penting untuk mempublikasikan artikel-artikel ilmiah yang dihasilkan dari seminar nasional maupun internasional. Dengan fokus pada ilmu sosial dan humaniora, prosiding ini menjadi platform yang sangat relevan bagi para peneliti dan akademisi dalam bidang tersebut untuk berbagi pengetahuan, temuan, dan pemikiran terkini. Melalui prosiding ini, berbagai disiplin ilmu seperti sosiologi, ilmu Pendidikan, psikologi, komunikasi, antropologi, sejarah, ekonomi, dan ilmu politik dapat bersatu dalam satu wadah untuk memperluas cakupan dan memperdalam pemahaman terhadap beragam isu sosial dan humaniora yang sedang berkembang. Dengan demikian, Prosiding Social Empirical tidak hanya menjadi tempat untuk mempublikasikan hasil penelitian, tetapi juga menjadi ajang untuk merangsang diskusi, kolaborasi, dan pertukaran gagasan yang dapat mengarah pada perkembangan ilmu pengetahuan yang lebih lanjut di bidang ini.
Articles 102 Documents
Dinamika Komunikasi Antarbudaya pada Mahasiswa Perantau Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang Nadyan Achmad; Rizky Azzrany; Najwa Izzatul Waafirah; Feby Tria Octari; Zahara Rijani; Delmira Syafrini; Ikhwan Ikhwan; Bunga Dinda Permata
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.186

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika komunikasi antar budaya pada mahasiswa perantau di Universitas Negeri Padang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena permasalahan komunikasi mahasiswa perantau sering terjadi di lingkungan mahasiswa karna mereka perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Pendekatan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara berkaitan tentang bagaimana komunikasi antar budaya yang dilakukan terhadap 10 mahasiswa perantau Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang angkatan 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa perantau mengalami dinamika yang kompleks, meliputi kesulitan memahami bahasa antarbudaya, hambatan lainnya yaitu mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu, strategi yang digunakan dalam mengatasi hambatan ini diantaranya belajar bersama teman lokal dan mengikuti komunitas bahasa daerah untuk memahami budaya, menyesuaikan gaya komunikasi, serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi mahasiswa perantau dengan lingkungan sekitar.
Analisis Etika Komunikasi Digital pada Fenomena Sindiran Halus di Platform Tiktok di Kalangan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Padang Syaluna Nabila Prisyairin; Zikri Alfarozi; Siti Jasmine Syifa Al-Mira; Zil Khairani; Sausan Meilany Putri; Delmira Syafrini; Desy Mardhiah
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.187

Abstract

Konten sindiran halus di TikTok sering terjadi oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi dan menjadi salah satu cara mereka mengekspresikan pengalaman atau pendapat. Fenomena ini menarik untuk dikaji karena berkaitan dengan bagaimana mereka memahami etika komunikasi digital dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menggambarkan cara mahasiswa memaknai etika bermedia ketika membuat dan menyebarkan konten sindiran halus. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui studi kasus di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang pada November 2025. Informan pada penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah informan delapan mahasiswa yang aktif membuat konten. Hasil wawancara menunjukkan adanya perbedaan cara berpikir antar mahasiswa. Ada yang membuat konten dengan hati-hati karena memikirkan dampaknya bagi orang lain, terutama terkait privasi dan kemungkinan menyinggung pihak tertentu. Ada juga yang membuat konten dengan lebih santai karena menganggapnya sebagai bagian dari ekspresi diri di media sosial. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penerapan etika digital sangat dipengaruhi pengalaman pribadi, kebiasaan menggunakan media, serta hubungan sosial yang dimiliki masing-masing mahasiswa.
Analisis Perbedaan Persepsi Bahasa Toxic dalam Komunikasi Antara Gen Z dan Gen Milenial Nazwa Wahyuni; Refny Yanti; Nada Nafisyah Salsabila; Nada Nabilah; Naysila Berliandri Putri; Delmira Syafrini; Nora Susilawati; Bunga Dinda Permata
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.188

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab perbedaan makna bahasa toxic yang digunakan oleh Gen Z dan Gen Milenial. Fenomena ini penting untuk dikaji sebab adanya kesenjangan komunikasi dan potensi konflik antar generasi yang diakibatkan oleh perbedaan dalam memaknai, menggunakan, dan menanggapi bahasa yang dianggap kasar atau ofensif antara Gen Z dan Gen Milenial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk menggali dan menganalisis fenomena penggunaan bahasa toxic dalam komunikasi sehari-hari. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interviews) yang melibatkan partisipan dari Generasi Z dan Generasi Milenial sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gen Z cenderung menormalisasi bahasa toxic sebagai humor atau bentuk keakraban, sementara Milenial lebih memaknainya sebagai tindakan tidak sopan dan berpotensi menyinggung. Perbedaan ini dipengaruhi oleh budaya digital, pengalaman sosial, serta sensitivitas emosional masing-masing generasi. Temuan ini menegaskan pentingnya pemahaman lintas generasi untuk meminimalkan kesenjangan komunikasi dalam penggunaan bahasa toxic.
Pemaknaan Healing Sebagai Salah Satu Bentuk Self-Care Pada Mahasiswa Universitas Negeri Padang Putri Fatima Natasha; Puti Syahira; Nurul Muthia Afifah; Muhammad Gauvi Al Mustakim; Muhammad Falih Al Hakim; Delmira Syafrini; Bunga Dinda Permata
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.190

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan mahasiswa Universitas Negeri Padang tentang healing sebagai kegiatan yang membantu merawat kesehatan mental mereka dalam proses perkuliahan. Healing memiliki pemakanaan ditinjau dari sisi psikologis, namun yang menarik dalam penelitian ini dari sisi sosial makna healing memiliki perbedaan sehingga mempengaruhi persepsi mahasiswa. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif, dengan jenis studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan studi kasus kepada 20 orang mahasiswa Universitas Negeri Padang. Narasumber diberikan pertanyaan terkait pemaknaan healing bagi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pemaknaan healing bagi setiap mahasiswa Universitas Negeri Padang, mahasiswa Universitas Negeri Padang memaknai healing sebagai bentuk kegiatan untuk menenangkan diri dari setiap rutinitas. Bentuk kegiatan healing bagi mahasiswa Universitas Negeri Padang antara lain seperti rekreasi, mengistirahatkan diri, atau sekadar meluangkan waktu untuk bersosialisasi bersama orang terdekat.
Literasi Digital Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Padang dalam Penggunaan Platform X sebagai Media Informasi Tiara Putri Anggraini; Syifah Ayu Lia Sabrina; Rice Yunica Azkia; Shifa Hulqha Andari; Zaki Ibnu Rasyid; Zaki Mubarok Arrafly; Delmira Syafrini; Ikhwan Ikhwan; Bunga Dinda Permata
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.191

Abstract

Penelitian ini menjelaskan literasi digital mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Padang dalam menggunakan platform X sebagai media informasi. Permasalahan utama penelitian adalah masih bervariasinya kemampuan mahasiswa dalam menyeleksi, memahami, dan memverifikasi informasi di tengah arus informasi digital yang cepat. Penelitian bertujuan mengetahui strategi mahasiswa dalam menilai kredibilitas sumber, menyikapi berita viral, serta kecenderungan mereka dalam membagikan informasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki sikap kritis dalam menerima informasi, seperti memeriksa sumber resmi dan membandingkan informasi dari berbagai platform sebelum membagikan konten. Namun, beberapa mahasiswa masih bersikap pasif dan hanya memverifikasi informasi tertentu. Secara keseluruhan, literasi digital mahasiswa tergolong baik, tetapi konsistensi verifikasi informasi masih perlu ditingkatkan.  
Identitas yang Terbuka: Doxing dan Urgensi Keamanan Serta Etika Komunikasi di Era Media Baru Hazel Revano Akbar; Hasanatul Awaliyah; Halimah Tusaddiyah; Disty Adinda Putri; Dea Nanda Nayla Aprilia; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.197

Abstract

Saat ini, kita telah memasuki era perkembangan teknologi digital yang sangat pesat, perkembangan ini mencakup berbagai bidang. Salah satu bidang yang juga mengalami perkembangan pesat adalah bidang komunikasi, komunikasi digital adalah bentuk dari perkembangan teknologi digital yang menghasilkan media sosial. Media sosial merupakan bentuk komunikasi baru yang membuat orang bisa bebas berekspresi di dalamnya, namun banyak orang yang menyalahgunakan kebebasan ini seperti menyebarkan informasi pribadi seseorang yang disebut dengan doxing. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana bentuk kesadaran dan tanggung jawab masyarakat terhadap praktik doxing. Penelitian ini juga memperluas pembahasan pada upaya edukatif dan kesadaran digital yang harus dibangun agar dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab di media digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang melibatkan beberapa informan dengan mengumpulkan data atau jawaban informan terkait masalah doxing dengan cara wawancara. Hasil wawancara menunjukkan bahwa ternyata masih banyak orang yang belum memahami masalah doxing dan menganggap hal itu sepele. Hal ini tentu perlu diatasi salah satunya dengan membuat konten tentang doxing atau melibatkan lembaga komunikasi untuk membuat sosialisasi mengenai bahayanya doxing dan pentingnya etika dalam media sosial.
Fenomena Flexing Influencer di Media Sosial: Antara Gaya Hidup dan Pengaruh ke Audiens Aquina Zultan; Dimas Naufal Kurniawan; Hafizh Ramadhan; Alysha Ayuna Azzahra; Ervina Nisa Septiani; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.201

Abstract

Fenomena flexing di media sosial semakin marak seiring dengan berkembangnya budaya digital dan meningkatnya peran influencer sebagai pembentuk opini publik. Flexing tidak hanya dimaknai sebagai pamer harta kekayaan, tetapi juga sebagai strategi membangun citra diri dan identitas digital di ruang publik virtual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana influencer memanfaatkan konten flexing sebagai bagian dari personal branding serta bagaimana pengaruhnya terhadap audiens. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dan analisis isi terhadap konten flexing yang diunggah oleh dua influencer TikTok, yaitu Reuzuki Ari dan Reza Gladys. Data dikumpulkan melalui observasi konten, dokumentasi, serta analisis komentar audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa flexing digunakan sebagai alat komunikasi simbolik untuk menunjukkan status sosial, keberhasilan finansial, dan legitimasi diri di media sosial. Konten seperti unboxing barang mewah, pamer koleksi, dan gaya hidup eksklusif mampu meningkatkan interaksi audiens sekaligus membentuk standar kesuksesan yang bersifat materialistik. Namun, fenomena ini juga berpotensi mendorong perbandingan sosial dan perubahan nilai dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa flexing merupakan bentuk self-disclosure yang dikomodifikasi dalam budaya populer digital dan memiliki dampak signifikan terhadap persepsi audiens mengenai gaya hidup dan kesuksesan.
Dampak Pembangunan Destinasi Wisata Homestay Berkelanjutan Berbasis Komunitas di Daerah Alahan Panjang Ramadani Fitriyah Harahap; Raihani Sava Alzena; Muhammad Rizki Alvarizi; Delmira Syafrini; Putri Cindy Clarissa; Irvan Rasyid; Rezki Amelia Safitri; Renaldi Aprinel Putra; Lovia Phica Yola Emilza; Bunga Dinda Pertama
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.205

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak pembangunan homestay berbasis komunitas terhadap pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya, hubungan sosial dan kelestarian lingkungan. Pembangunan destinasi wisata dan homestay di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, telah membawa dampak signifikan terhadap aspek ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan masyarakat lokal. Teori yang digunakan untuk menganalisis hasil penelitian ini adalah teori struktural fungsional oleh Talcott Parsons. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus. Pengumpulan informan menggunakan teknik purposive sampling, informan dalam penelitian ini berjumlah delapan orang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi secara langsung di Alahan Panjang untuk melihat kondisi suasana homestay. Selanjutnya wawancara mendalam dilakukan dengan para informan guna untuk mengetahui bagaimana pandangan mereka terhadap dampak pembangunan destinasi wisata homestay berkelanjutan berbasis komunitas. Teknik analisis data yang digunakan adalah interaktif dari Miles dan Huberman melalui empat tahap analisis yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan wisata ini telah meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dan pengembangan usaha kecil, dan menengah, keterlibatan aktif masyarakat dalam mengambil keputusan dan bermusyawarah di setiap pembangunan, eksistensi budaya dan nilai - nilai tradisi masih dipertahankan, keindahan alam yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung.
Mengidentifikasi Peran Platform Media Baru dalam Memfasilitasi dan Menghambat Penyebaran Revenge Porn Fitri Muliani; Azzizullah Cardova; Dirga Wira Sakti; Farelino Ernata; Habib Maulana; Ayu Adriyani
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.211

Abstract

Dengan kemajuan teknologi tindak pidana tidak hanya bisa dilakukan di dunia nyata tetapi juga bisa dilakukan di dunia maya salah satunya adalah revenge porn. Revenge porn atau porno balas dendam merupakan bentuk utama dari kekerasan berbasis gender online (KBGO). Tindakan ini merujuk pada penyebaran foto atau vidio intim seseorang tanpa persetujuan dari sang korban. Hal ini sering dilakukan oleh mantan pasangan yang sakit hati, sering kali dilakukan dengan motif balas dendam dengan tujuan untuk mempermalukan korban di ruang digital. Dengan kemajuan teknologi revenge porn dapat dilakukan dengan mudah melalui platform / aplikasi digital. Salah satu platform digital tersebut meliputi whatsapp, Instagram, telegram, dan tiktok. Pelaku bertujuan untuk membuat korban mengalami kerugian psikologis, sosial, dan ekonomi yang mendalam. Tujuan dari tulisan ini yaitu untuk mengidentifikasi platform digital yang memfasilitasi dan menghambat penyebaran revenge porn. Hasil penelitian ini menyimpulkan whatsapp dan Instagram memiliki system keamanan yang kurang terhadap konten foto atau video yang diupload oleh pengguna. Ini menyebabkan pelaku dapat dengan mudah menyebarkan dan mengupload materi visual korban. Baik di akun pelaku maupun di akun korban sendiri.
Implementasi Program GATI terhadap Penguatan Kesehatan Mental Anak dalam Keluarga di Kota Padang Zoya Anandhita Ifwan; Vioni Siti Nurhadijah; Nazifa Neysha Gumanti; Salsa Martavena; Zhaskiah Amelia; Delmira Syafrini; Bunga Dinda Permata
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.222

Abstract

Penelitian ini menganalisis pengalaman remaja perempuan yang hidup dalam kondisi fatherless serta mengevaluasi relevansi Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dalam mengurangi dampak psikologis dan sosial akibat ketidakhadiran ayah. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini ditujukan kepada remaja perempuan yang ayahnya mengikuti program GATI di Kota Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fatherless memengaruhi konsep diri, regulasi emosi, dan hubungan interpersonal perempuan dewasa awal. Program GATI dinilai relevan karena mampu meningkatkan keterlibatan ayah, memperbaiki pola komunikasi keluarga, dan memberikan edukasi mengenai peran ayah dalam perkembangan psikososial anak. Penelitian ini menarik karena tidak hanya menggambarkan dampak fatherless, tetapi juga menyoroti bagaimana program GATI dapat menjadi jembatan untuk membangun komunikasi yang lebih intim, hangat, dan efektif antara ayah dan anak.

Page 9 of 11 | Total Record : 102