cover
Contact Name
Yudha Adi Pradana
Contact Email
moj@ub.ac.id
Phone
+6281285130860
Journal Mail Official
moj@ub.ac.id
Editorial Address
Jl. JA Suprapto No. 2 Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 31094147     EISSN : 31094139     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
MOJ (Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal) is a peer-reviewed and open access journal that provides timely information for physicians and scientists concerned with diseases of the head and neck. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. We place a high priority on strong study designs that accurately identify etiologies, evaluate diagnostic strategies, and distinguish among treatment options and outcomes. Letters and commentaries of our published articles are welcome. Subjects suitable for publication include: Otology Rhinology Allergy and immunology Laryngology Bronchoesophagology Speech science Swallowing disorder Facial plastic surgery Head and neck surgery Sleep medicine Pediatric otolaryngology Geriatric otolaryngology Oncology Neurotology Audiology Auditory and vestibular neuroscience Salivary Gland Skull base surgery Community Ear, Nose and Throat Craniofacial pathology
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2024): September 2024" : 5 Documents clear
Hipertrofi Adenoid Residu Perbandingan Teknik Adenoidektomi  Kuretase Dan Kauter Suction Dengan Endoskopi Hartawan Wijaya, Julian; Surjotomo, Hendradi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 3 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Adenoidektomi adalah salah satu prosedur paling tua dan merupakan prosedur yang paling sering dilakukan pada prosedur pembedahan THT yang sering dilakukan pada anak-anak yang mengalami hipertofi adenoid. Adenoidektomi dengan kuretase telah dilakukan secara konvensional selama bertahun-tahun, dan belakangan ini adenoidektomi dengan endoskopik telah ada sebagai metode pembedahan yang inovatif, dengan masing-masing teknik memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri. Tujuan: Melaporkan satu kasus yang menggambarkan keadaan hipertrofi adenoid residu dan tatalaksana yang ideal untuk menangani hipertofi adenoid. Laporan Kasus: Seorang anak perempuan berusia 12 tahun datang ke Poliklinik THT-KL RSUD Dr. Saiful Anwar Malang dengan keluhan tidur mendengkur dan terlihat bernafas dari mulut pada saat tidur terkadang disertai bangun gelagapan sejak 1 bulan yang lalu. Oleh bagian THT pasien telah menjalani operasi adenotonsilektomi sebanyak 1 kali, dan telah dievaluasi menggunakan nasoendoskopi dan pada nasofaring D/S didapatkan adenoid hipertrofi Parikh IV dengan mukosa mengeluarkan sekret seromukoid dan pasien direncanakan adenoidektomi dengan menggunakan metode koblasi atau elektrokauter suction.  Metode: Telaah literatur berbasis bukti mengenai hipertrofi adenoid residu dan tatalaksana pembedahan yang ideal melalui Google Scholar dan Proquest. Hasil: Hipertrofi adenoid residu dapat terjadi akibat adenoidektomi dengan kuretase tidak dapat mencapai atap dari nasofaring dan dinding lateral nasofaring. Kesimpulan: Adenoidektomi dengan bantuan endoskopik dapat menjadi metode yang aman dan tepat untuk pengambilan jaringan adenoid secara penuh dibandingkan dengan metode kuretase konvensional.
Inverted Papilloma Sinonasal Bilateral Utomo, Priyobudi; Soehartono
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 3 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Inverted papilloma atau Shneiderian papilloma merupakan tumor jinak sinonasal yang bersifat invasif lokal, cenderung rekuren, dan dapat berubah menjadi keganasan. Inverted papilloma memiliki kecenderungan rekuren dan berpotensial berubah menjadi ganas, oleh karena itu terapi pembedahan disertai follow-up jangka panjang diperlukan untuk menurunkan angka rekurensi dan komplikasi terkait kasus tersebut. Tujuan:Melaporkan suatu kasus yang menggambarkan kondisi inverted papilloma dan langkah manajemen yang ideal untuk kasus tersebut. Laporan Kasus: Seorang pria berusia 54 tahun datang ke Poliklinik THT-BKL RSUD Dr. Saiful Anwar Malang dengan keluhan hidung buntu 2 tahun secara progresif disertai keluar sekret jernih dari kedua hidung dan penurunan fungsi penghidu sejak 1 tahun sebelum berobat. Pasien pernah menjalani operasi polip hidung 8 tahun sebelumnya dan telah dilakukan pemeriksaan histopatologi biopsi hidung menunjukkan inverted papilloma. Terapi pembedahan maksilektomi medial dengan rhinotomi lateral dengan panduan nasoendoskopi dilakukan pada pasien diikuti dengan cuci hidung. Follow up berkala dilakukan dengan harapan tindakan tersebut dapat menurunkan angka rekurensi tumor. Metode: Telaah literatur berbasis bukti mengenai inverted papilloma dan tatalaksana pembedahan yang ideal melalui Google Scholar dan Proquest. Pembahasan: Prosedur diagnosis dengan biopsi sel hidung merupakan baku emas untuk mendiagnosis inverted papilloma.  Tatalaksana kombinasi pembedahan dengan follow up yang tepat diharapkan dapat membantu menurunkan angka rekurensi dan deteksi dini bila terdapat kemungkinan keganasan. Kesimpulan: Inverted papilloma merupakan tumor jinak sinonasal yang bersifat invasif lokal, rekuren dan dapat berubah menjadi ganas sehingga tatalaksana dan follow up yang tepat diharapkan menurunkan rekurensi dan mencegah keganasan pada kasus tersebut.
Karakteristik Penderita Abses Leher Dalam pada Bagian THT-KL RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Periode 1 Januari 2020 – 31 Desember 2021 Prasetyo, Herthyaning; Surjotomo, Hendradi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 3 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Angka kematian pasien abses leher dalam mencapai 40% sampai 50% jika terjadi komplikasi. Organisme aerob yang sering dijumpai antara lain: Streptococcus viridans, Streptococcus ß-haemoliticus, Staphylococcus, Klebsiella pneumoniae, sedangkan untuk bakteri anaerob adalah Bacteriodes dan Peptostreptococcus. Tujuan: Mengetahui karakteristik penderita abses leher dalam di Bagian THT-KL RSUD Dr. Saiful Anwar Malang periode 1 Januari 2020 hingga 31 Desember 2021. Metode: Deskriptif retrospektif dengan cross sectional yang dilakukan di bagian THT-KL dan Departemen Mikrobiologi Klinik RSUD Dr. Saiful Anwar Malang dengan melihat data rekam medik periode 1 Januari 2020 – 31 Desember 2021. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Data disajikan secara deskriptif dengan bentuk frekuensi dan persentase. Hasil: Terdapat 55 penderita abses leher yang mengikuti penelitian ini dengan kelompok usia terbanyak adalah 51-60 tahun (21,82%). Secara anatomis, lokasi terbanyak terjadi abses leher adalah submandibular (58,18%) dengan sumber infeksi berasal dari gigi (90,90%) dan tonsil (9,09%). Etiologi bakteri yang menyebabkan abses submandibular terbanyak adalah Klebsiella pneumonia (18,18%). Adapun golongan obat yang paling sensitif terhadap bakteri adalah meropenem (9,06%) dan ceftazidime (9,06%) serta kebanyakan dari kasus abses leher tidak menyebabkan komplikasi (80%). Kesimpulan: Penderita abses leher di bagian THT-KL RSUD Dr. Saiful Anwar Malang memiliki karakteristik yang bervariasi mulai dari rentang usia, lokasi anatomis, sumber infeksi, etiologi, kepekaan antibiotik, hingga komplikasi.
Laporan Kasus: Kista Laring Rihansyah, Akbar; Surjotomo, Hendradi
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 3 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kista laring adalah suatu kantong yang terbentuk secara abnormal yang berisi cairan dan bertumbuh dari seluruh lokasi mukosa laring. Meskipun tergolong jinak, kista laring dapat menjadi berbahaya karena berpotensi menyebabkan sesak napas, stridor, hingga obstruksi jalan napas. Penegakkan diagnosis kista laring menggunakan prinsip modalitas visualisasi pada bagian laring. Tatalaksana umumnya berupa tindakan operatif yaitu eksisi kista. Ini merupakan kondisi langka dengan prevalensi yang rendah sehingga menjadi kesulitan tersendiri bagi praktisi kesehatan untuk mengevaluasi serta memberi tatalaksana secara cepat. Tujuan: Memahami mengenai aspek klinis kista laring beserta tatalaksananya. Laporan kasus: Pasien laki-laki berusia 35 tahun dengan keluhan utama suara parau yang diamati sejak satu setengah tahun yang lalu. Awalnya bersifat hilang timbul, namun menetap dalam 1 tahun terakhir dan bertambah berat sejak 2 bulan yang lalu. Dilakukan pemeriksaan FOL dengan hasil ditemukan massa putih licin pada 1/3 anterior vocal cord kanan, mengesankan kista. Pasien didiagnosa dengan tumor jinak laring dengan kecurigaan kista corda vocalis. Dilakukan ekstirpasi kista corda vokalis kanan dan pemeriksaan histoPA dengan Kesimpulan kista laring. Kesimpulan: Diagnosis kista laring pada pasien dewasa dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang di bidang THT-KL, terutama melalui analisis histopatologis dengan penemuan barisan epitel kistik. Tindakan invasif merupakan tatalaksana dari kista laring, mulai dari aspirasi jarum, marsupialisasi, hingga pembedahan.
Laporan Kasus: Spasmodic Dysphonia Yuwono, Hosana Tridho; Murdiyo, Mohammad Dwijo
Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal Vol. 3 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Department of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Spasmodic dysphonia (SD) adalah bentuk distonia pada laring yang hingga kini mekanisme penyakitnya masih belum sepenuhnya dimengerti.SD mempengaruhi kelancaran suara selama berbicara. SD merupakan kondisi kronis yang akan terus berlangsung sepanjang hidup pasien. Patofisiologi SD yang hingga saat ini masih dianut adalah adanya keterlibatan sistem saraf pusat dan perifer. Pengobatan SD hingga saat ini juga belum ada yang menjanjikan efek pemulihan gejala secara permanen. Tujuan: Mengetahui aspek klinis serta tatalaksana pada spasmodic disfonia yang jarang dijumpai. Laporan kasus: Disajikan pasien wanita usia 24 tahun dengan keluhan utama suara serak sejak 6 bulan yang lalu. Awalnya suara pasien parau disertai batuk dan pilek. Batuk dan pilek dirasakan oleh pasien sudah sembuh namun untuk suara serak masih ada semakin lama semakin memberat. Pasien juga merasa saat mengeluarkan suara, leher tegang dan suaranya kasar. Keluhan dirasakan terus-menerus saat pasien sedang berbicara biasa. Dilakukan pemeriksaan FOL dan didapati pita suara tampak bergetar saat aduksi. Pasien didiagnosa dengan Adduction Spasmodic Dyshphonia dan ditatalaksana dengan injeksi toksin botulinum. Kesimpulan: Diagnosis disfonia pada pasien dewasa dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang di bidang THT-KL yang sesuai untuk evaluasi gangguan suara. Spasmodik disfonia terdiri dari 2 tipe, yaitu tipe adduktor dan abduktor.  spasmodik disfonia karena luasnya diagnosis banding. Tatalaksana spasmodik disfonia yang dapat diterima hingga saat ini hanya terbatas pada perbaikan gejala. Injeksi toksin botulinum merupakan terapi gold standard untuk spasmodic disfonia, baik tipe adduksi maupun abduksi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5