cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA KARSA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 382 Documents
Aplikasi Material Metal pada Desain Elemen Taman ditinjau dari Aspek Keamanan Manusia di Alun-alun Cicendo Bandung Shera Diva M. Dai; Mozza Putri Cuaca Elmart; Zhavia Nurkhalifah; IPW. Thomas Brunner
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i3.3700

Abstract

Abstrak Material bangunan merupakan salah satu unsur yang ada dalam sebuah karya arsitektur. Pemilihan material sangat penting dan harus diperhitungkan sebagai nilai suatu karya. Hasil desain yang baik didasari pengetahuan mengenai sifat-sifat bahan bangunan yang akan digunakan untuk mengetahui berbahaya atau tidaknya bagi manusia. Pemilihan material metal didasari oleh banyaknya penduduk lokal Cicendo yang berprofesi sebagai pengrajin besi, sehingga dapat dijadikan peluang untuk menjadikan Taman Alun-alun Cicendo sebagai ikon daerah tersebut. Aplikasi metal pada taman ini dapat dilihat pada setiap fungsi taman yang dirancang seperti bukit pada Area Patung, area Kolam dan Canyon, Amphitheater dan berpusat pada Paviliun ditengahnya. Pembahasan material metal dilihat dari segi visual dan fisik keseluruhan taman yang ditinjau dari aspek keamanaan manusia. Tujuan penelitian ini yaitu agar masyarakat dapat melihat pentingnya visual sebagai nilai estetika apabila disempurnakan dengan keamanan yang terjamin agar tidak membahayakan manusia. Kata kunci: Material Metal, Elemen Taman, Konstruksi, Keamanan Manusia
Studi Ruang Ergonomis pada Unit Hunian Rusunami Grand Asia Afrika Ghahzul Fikri A; Anggaraup Anggaraup P; Murdiono Siringoringo; Mamiek Nur Utami
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3691

Abstract

Abstrak Hunian vertikal sebagai solusi pemecahan masalah keterbatasan lahan di perkotaan, sehingga hunian di lahan perkotaan dibuat vertikal dengan luasan yang terbatas. Rumah susun Grand Asia Afrika merupakan hunian vertikal yang berada di perkotaan dan merupakan rumah susun sederhana milik (rusunami) dengan segmentasi kalangan menengah. Besaran luas unit yang tersedia sangat terbatas,sehingga aktifitas penghuninya tidak terpenuhi secara optimal. Untuk merancang sebuah bangunan rumah susun seorang arsitek memerlukan analisa studi ruang agar disetiap aktifitasnya dapat terpenuhi secara optimal. Oleh karena itu studi ruang menjadi elemen penting pada saat mendesain hunian vertikal di perkotaan. Ruang adalah tempat manusia untuk melakukan berbagai aktivitas. Agar mendapatkan sebuah ruang yang optimal, dalam proses analisa studi ruang harus memperhatikan beberapa hal yaitu studi antropometri dan studi ergonomi ruang. Dengan memperhatikan studi antropometri dan ergonomi pengguna ruang akan memperoleh sebuah ruang yang nyaman, efisien dan optimal sesuai aktifitas manusia. Dengan metode penelitian kuantitatif peneliti melakukan survey lapangan serta mengambil teori-teori sebagai acuan analisis. Hasil analisis menunjukan bahwa ketersiediaan ruang pada unit hunian ini belum memenuhi aktifitas pengguna secara optimal. Dalampenelitian ini penulis membuat sebuah usulan desain interior yang ergonomi agar segala aktifitas pengguna hunian dapat terpenuhi secara optimal. Kata kunci: Studi Ruang, Rusunami, Ergonomi, Fleksibilitas.
Desain Bangunan Apung Sebagai Upaya Pengembangan Urban Farming Di Teluk Kendari Made Supriatna; Annas Ma’ruf; Weko Indira Romanti Aulia
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i1.7963

Abstract

AbstrakPesatnya laju pertumbuhan populasi dan perkembangan pembangunan sarana dan prasarana di suatu kota akan menimbulkan masalah lingkungan, mulai dari konversi lahan sampai degradasi kualitas lingkungan akibat polusi dan sampah. Dalam Jurnal Geografi Aplikasi Dan Teknologi, UHO, 2020 memproyeksikan penggunaan lahan terbangun di kota kendari dalam jangka waktu 5 tahun saja lahan terbangun di kota kendari mengalami penambahan yang cukup besar, rata- rata ±16%. Hal ini diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk yang juga cukup tinggi di kota Kendari.. Hal ini akan berdampak pada jumlah konsusmsi pangan kota. Tujuan yang ingin dicapai adalah menciptakan sebuah gagasan desain metode pengembangan kawasan pertanian perkotaan dengan memanfaatkan ruang air sebagai respon terhadap berkurangnya lahan produktif beberapa tahun kedepan yang tetap mengedepankan prinsip berkelanjutan. Konsep desain bangunan mengedepankan fungsi produksi melalui ruang budidaya serta edukasi tentang pertanian perkotaan. Hal ini bertujuan agar kedepan dapat menjadi acuan pengembangan-pengembangan konsep serupa. Dengan menggunakan sistem floating structure pada bangunan sehingga dapat mengurangi dampak negatif yang diberikan terhadap lingkungan. Dengan konsep ini bangunan memiliki sifat yang lebih fleksibel serta lebih mudah dalam pengembangan kedepannya.Kata Kunci: Bangunan, Ruang Air, Urban Farming, Struktur ApungAbstractThe rapid rate of population growth and the development of facilities and infrastructure development in a city will cause environmental problems, ranging from land conversion to environmental quality degradation due to pollution and waste. In the Journal of Geography Applications and Technology, UHO, 2020 projects that the use of built-up land in the city of Kendari in just 5 years, the built-up land in the city of Kendari will experience a fairly large increase, an average of ±16%. This is caused by population growth which is also quite high in the city of Kendari. This will have an impact on the amount of food consumption in the city. The goal to be achieved is to create an idea for a design method for developing urban agricultural areas by utilizing water space as a response to the reduction of productive land in the next few years that still prioritizes the principle of sustainability. The concept of building design puts forward the function of production through cultivation spaces and education about urban agriculture. It is intended that in the future it can be a reference for the development of similar concepts. By using a floating structure system in buildings so as to reduce the negative impact on the environment. With this concept, the building has a more flexible nature and is easier to develop in the future.Keywords: Building, Floating Structure, Urban Farming, Water Room
Eksterior Bangunan Café Lekker 188 Sebagai Bangunan Cagar Budaya Terhadap Ruang Dalamnya Ardhiana Muhsin; Widi Hudaya F.; Reina Syavira C. M.; Nurul Mu'minin
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i1.3652

Abstract

AbstrakCafe Lekker 188 saat ini berada di wilayah bangunan konservasi kelas A yang terletak di Jl. Asia Afrika, Bandung. Awalnya berupa apotik dengan nama De Voor Zorg dan kemudian lebih dikenal dengan nama gedung Vigano. Selama perubahannya pemerintah kota Bandung telah melakukan rehabilitasi pada bangunan tersebut. Oleh karena itu, perlu diketahui aspek apa saja yang menjadi keselarasan elemen-elemen eksterior gedung cafe Lekker 188 terhadap ruang dalamnya setelah mengalami perkembangan zaman. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif pada hasil analisis karena objek yang dianalisis mengenai perubahan fungsi yang dipengaruhi oleh zaman dan keselarasan hubungan aspek luar dan dalam bangunan sehingga penelitian ini bersifat subjektif dan deskriptif. Proses analisis ini dibagi kedalam beberapa yang terdiri dari material, warna dan tekstur, serta ornamen pada elemen elemen yang terdapat di café Lekker 188 seperti pada pintu, jendela, dinding,dll. Untuk memudahkan proses analisisnya dan memahami selaras atau tidaknya bangunan yang sekarang ditempati oleh café Lekker 188. Pada penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam memahami bagaimana keselarasan dan hubungan antar ruang dalam dan bangunan yang sudah ada bagaimanapun langgam bangunan yang digunakan sehingga pemanfaatan ruang tetap maksimal walaupun bangunan tidak mengalami perubahan bentuk. Kata kunci: Cafe Lekker 188, konservasi, eksterior dan ruang dalam, keselarasan.
Bentuk Gubahan Massa Terhadap Tatanan Ruang Dalam Hotel Rifky Rama Herlambang; Maharani Diadra Zulcy; Trestyar Ambarani
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i3.3696

Abstract

Abstrak Hotel U Janevalla merupakan hunian vertikal yang terletak di Jalan Aceh No. 65, Bandung. Berbeda dengan tipologi hotel lainnya, U Janevalla memiliki gubahan massa yang dinamis sehingga memiliki konsekuensi bentuk yang memengaruhi tatanan ruang dalam terkait kenyamanan spasial dan aktivitas pengguna di dalam bangunan. Perencanaan desain perancang memengaruhi bentuk gubahan massa. Tujuan dari kajian ini adalah mengamati bentuk gubahan massa terhadap tatanan ruang dalam Hotel U Janevalla terkait penerapan persyaratan terhadap kenyamanan spasial. Perencanaan desain meliputi konsep desain, transformasi bentuk, proporsi, dan skala sehingga berpengaruh pada desain ruang kamar, restoran, dan lobi hotel dilihat dari spesifikasi, standar, serta desain furnitur, saniter, dan aksesori ditinjau berdasarkan standar, dimensi, proporsi dan skala, tata letak, dan kelengkapan. Metoda analisis yang digunakan meliputi analisis dengan pendekatan secara kuantitatif, kualitatif, dan mixing method. Hasil akhir pendekataan analisis merupakan pembobotan terhadap tiga pendekatan yaitu data kualitatif, kuantitatif, dan mixing method kemudian diharapkan dapat menunjukkan bagaimana konsekuensi bentuk gubahan massa yang memengaruhi tatanan ruang dalam Hotel U Janevalla serta dijadikan rujukan dalam mendesain gubahan massa agar dapat mengoptimalkan penggunaan ruang dalam hotel. Kata kunci: gubahan massa, tatanan ruang.
Revitalisasi Gedung ‘Sarinah’ Di Kawasan Konservasi Jalan Braga Bandung Almo Senja Kulinan; Windra Rachmawan; Tresna Fuji Wiwitan
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 8, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v8i2.7951

Abstract

Kota Bandung merupakan sebuah kota yang memiliki cukup banyak bangunan cagar budaya yang tersebar di enam kawasan cagar budaya, salah satunya adalah di Jalan Braga. Jalan Braga terletak di jantung Kota Bandung dan sangat legendaris dengan bangunan bergaya art decco yang didirikan pada masa pemerintah Kolonial Belanda. Salah satu dari bangunan itu adalah Onderling Belang, sebuah semtral mode cabamg dari kota Amsterdam, Negeri Belanda yang pada tahun 1960 berubah menjadi Sarinah, sebuah department store, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi upaya revitalisasi yang dilakukan pada Gedung Sarinah sehingga bangunan tersebut masih bertahan hingga saat ini meskipun sempat terbengkalai selama 10 tahunan. Untuk mengidentifikasi kondisi saat ini dilakukan observasi ke lapangan sedangkan kondisi di masa lalu diperoleh dari buku sejarah Bandung dan kawasan Braga. Hasil observvasi menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi pada ruang dalam cukup significant tetapi tidak demikian dengan façade dan bentuk bangunannya. Transformasi ini merubah kategori tingkat cagar budaya Gedung Sarinah dari A menjadi C. Meskipun demikian revitalisasi yang dilakukan pada Gedung Sarinah dinilai sukses dan diharapkan dapat dilakukan pada bangunan cagar budaya lain sehingga bangunan cagar budaya sebagai warisan budaya dapat dilestarikan. Upaya revitalisasi diharapkan tidak hanya menghidupkan bangunan dan kawasan tetapi juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.  Kata kunci: bangunan cagar budaya, jalan Braga, revitalisasi, Gedung Sarinah, transformasi.
Pencahayaan Alami Dalam Desain Bukaan Fasad Kafe Kalpa Tree Bandung Gendis Dwi Rahma Widasari; Syntikhe Amanda Christie; Muhamad Rhizki Fadilah
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3662

Abstract

ABSTRAK Saat ini,banyak kafe di Kota Bandung yang sangat beragam serta mempunyai keunikan desain arsitektur tersendiri. Salah satu kafe yang diteliti adalah Kafé Kalpa Tree Dine & Chill,yang berlokasi di Jalan Kiputih No.37,Ciumbuleuit,Kota Bandung. Kafe ini mengandalkan cahaya matahari sebagai sumber pencahayaan alaminya. Melalui desain jendela atau bukaan tersebut secara tidak langsung tercipta pengaturan tata pencahayaan alami yang optimal pada kafe tersebut. Hal ini tampak terlihat juga minimnya penggunaan pencahayaan buatan di ruang makan kafe pada siang hari. Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam perancangan bangunan. Standar minimal sistem pencahayaan alami dalam suatu bangunan yaitu 250 - 300 lux. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu dengan survey lapangan,pengumpulan data primer dan sekunder serta mengukur tingkat pencahayaan rata-rata suatu ruangan diukur menggunakan Luxmeter. Proses pengukurannya meliputi penentuan luas ruangan, dimensi jendela,penentuan Titik Ukur Samping 1 (TUS 1),Titik Ukur Samping 2 (TUS 2),Titik Ukur Utama 1 (TUU 1),dan Titik Ukur Utama 2 (TUU 2) , serta pengambilan data pengukuran dengan Software Ecotect. Lalu dari hasil pengukuran dan analisa tersebut dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) kemudian didapatkan hasil besaran pencahayaan alami pada Kafe Kalpa Tree telah memenuhi standar. Kata kunci: desain bukaan, kafe, dimensi, jendela, pencahayaan alami, luxmeter, ecotect ,SNI ABSTRACT This time many cafes in Bandung are very diverse and have their own unique architectural design. One of the cafes studied was the Café Kalpa Tree Dine & Chill, which is located on Jalan Kiputih No.37, Ciumbuleuit, Bandung City. This cafe relies on sunlight as its natural lighting source. Through the design of windows or openings indirectly created an optimal natural lighting arrangement in the cafe. This seems to be seen also the minimal use of artificial lighting in the cafe dining room during the day. Lighting is one of the important factors in building design. The minimum standard of natural lighting systems in a building is 250 - 300 lux. The study was conducted with quantitative and qualitative methods. Data collection techniques are by field surveys, primary and secondary data collection and measuring the average level of lighting of a room measured using Luxmeter. The measurement process includes determining the area of the room, window dimensions, determining the Side Measuring Points 1 (TUS 1), Side Measuring Points 2 (TUS 2), Main Measuring Points 1 (TUU 1), and Main Measuring Points 2 (TUU 2), and taking measurement data with Ecotect Software. Then from the results of the measurement and analysis compared to Standar Nasional Indonesia (SNI), it was then obtained that the amount of natural lighting in the Kalpa Tree Cafe had suitable the standards. Keywords: openings design, cafe, dimensions, windows, natural lighting, luxmeter, ecotect, SNI
Penerapan Filosofi Islam Dalam Rancangan Arsitektur Masjid Agung Trans Studio Bandung Utami Utami; Kristopo Sarimandala Putra; Stevine Surya Murti; Wahyu Arga Arthanti; Reza Tri Kurniawan
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i3.3701

Abstract

Abstrak Penelitian ini berupaya mengupas penerapan filosofi Islam yang terdapat pada rancangan arsitektur bangunan Masjid Agung Trans Studio Bandung. Untuk memahami rancangan arsitektur bangunan masjid tersebut, maka di sini dilakukan metode kualitatif berdasarkan observasi langsung pada Masjid Agung Trans Studio Bandung dan wawancara kepada Projek Manager masjid tersebut mengenai informasi-informasi terkait masjid. Penelitian ini tidak bermaksud untuk memberikan suatu penelitian (Judgement) yang bersifat subjektif, tetapi merupakan suatu usaha untuk dapat memahami suatu proses perancangan arsitektur masjid berdasarkan filosofi serta kaidah-kaidah Islam yang terkandung di dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi. Lingkup studi penelitian ini mencakup penerapan filosofi Islam yang di uraikan berdasarkan orientasi bangunan, bentuk bangunan, fasade bangunan, zoning, dan interior bangunan dilengkapi oleh informasi-informasi terkait filosofi Islam, sehingga memudahkan para pembaca memahami apa saja filosofi ataupun kaidah-kaidah Islam terkait perancangan suatu masjid. Landasan filosofi Islam yang ada menjadi rujukan bagi para arsitek untuk merancang sebuah tempat ibadah. Tahap selanjutnya arsitek dapat memadupadankan filosofi Islam tersebut dengan perkembangan teknologi dan trend arsitektur saat ini, serta dengan olahan imajinasi yang terbentuk dalam memori masyarakat secara umum. Kata Kunci : Filosofi Islam, Masjid Agung Trans Studio Bandung.
Penerapan Konsep Rasionalisme Pada Rancangan Arsitektur Bangunan Masjid Salman Bandung Utami Utami; Rafika Ghassani; Nurman Fadhillah; Nadya Ghifani Syahputri
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3692

Abstract

ABSTRAK Arsitektur rasionalisme merupakan gaya arsitektur yang terbentuk pada awal abad ke-20 dengan memandang keindahan dari suatu bangunan akan timbul dari fungsi elemen-elemen dari bangunan tersebut, bukan dari pola keindahan arsitektur itu sendiri. Dalam artian, gaya ini lebih pada pemikiran yang logis (rasional) sehingga akan terbentuk suatu bangunan murni tanpa unsur-unsur hiasan, estetika, ataupun ornamen-ornamen seperti berbentuk komposisi balok, kubus dan sebagainya. Pada tahun 1960-an, literatur barat mulai masuk ke dunia pendidikan arsitektur di Indonesia. Karya-karya dan pemikiran-pemikiran para arsitek terkemuka seperti Walter Gropius, Frank Llyod Wright, dan Le Corbusier menjadi referensi normatif dalam diskusi di kelas dan latihan di studio, sehingga karakter pendidikannya menjadi lebih akademis. Hal ini menimbulkan munculnya gaya-gaya baru dalam dunia arsitektur di Indonesia, salah satunya dalam arsitektur masjid. Gaya tersebut terus berkembang dan muncul pula gaya kontemporer. Masjid Salman Bandung merupakan masjid kontemporer pertama di Indonesia yang dibangun pada tahun 1963. Masjid ini dibangun dengan konsep arsitektur yang berani tampil beda dalam arti mampu melepaskan diri dari unsur-unsur yang biasanya sebuah bangunan masjid identik dengan penggunaan kubah. Penerapan konsep rasionalisme pada Masjid Salman Bandung ini diteliti menggunakan metode deskriptif kualitatif dan rasionalistik melalui observasi secara langsung terhadap objek studi dan studi literatur yang berhubungan dengan objek studi. Analisis dilakukan mengacu pada data-data hasil observasi lapangan berdasarkan aspek arsitektural berupa bentuk dan elemen arsitektur. Hasil penelitian pun menunjukkan bahwa penerapan konsep rasionalisme pada rancangan arsitektur bangunan MAsjid Salman diterapkan dengan baik. Salah satunya adalah kesederhanaan bentuk Masjid Salman yang memiliki atap datar dengan material beton yang di ekspose. Kata kunci: arsitektur rasionalisme, elemen bangunan, arsitektur masjid, gaya kontemporer. ABSTRACT The architecture of rationalism is an architectural style that was formed in the early 20th century by looking at the beauty of a building that will arise from the function of the elements of the building, not from the pattern of the beauty of the architecture itself. In a sense, this style is more on logical (rational) thinking so that a pure building will be formed without ornamental, aesthetic, or ornamental elements such as beam composition, cube and so on. In the 1960s, western literature began to enter the world of architectural education in Indonesia. The works and thoughts of prominent architects such as Walter Gropius, Frank Llyod Wright, and Le Corbusier became normative references in class discussions and exercises in the studio, so that the character of his education became more academic. This raises the emergence of new styles in the world of architecture in Indonesia, one of which is in the architecture of the mosque. The style continues to grow and contemporary styles emerge. Salman Mosque Bandung is the first contemporary mosque in Indonesia which was built in 1963. This mosque was built with an architectural concept that dared to appear different in the sense that it was able to escape from the elements that usually a mosque building is identical to the use of domes. The application of the concept of rationalism to the Salman Mosque in Bandung was examined using descriptive qualitative and rationalistic methods through direct observation of the object of study and study of literature related to the object of study. The analysis is carried out referring to data from field observations based on architectural aspects in the form of architectural forms and elements. The results of the study also showed that the application of the concept of rationalism to the architectural design of the mosque of Masjid Salman was well applied. One of them is the simplicity of form from the Salman Mosque which has a flat roof with exposed concrete material. Keywords: architectural rationalism, building elements, mosque architecture, contemporary style
Genius Loci Dalam Ritual dan Struktur Ruang Permukiman Pada Kawasan Wisata Religi Situs Ziarah Umat Muslim
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 9, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v9i3.7966

Abstract

AbstrakGenius loci merupakan konsep keunikan suatu tempat, yang terbentuk karena dialog antara lingkungan  alam dengan lingkungan binaan. Genius loci dapat menciptakan spirit of place, sence of place, authenticity, dan karakter khusus dari suatu kawasan. Genius loci dapat terbentuk salah satunya berhubungan dengan aktivitas ritual yaitu dari aspek religius suatu masyarakat. Kampung Mahmud merupakan sebuah kampung adat bersejarah di Kabupaten Bandung yang memiliki spirit of place bagi umat muslim dengan nilai-nilai religius dalam kehidupan masyarakatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui genius loci yang berada pada kawasan ziarah umat muslim di Kampung Mahmud, dilihat dari sejarah budaya kawasan, dan pola aktivitas para peziarah dalam ritual yang membentuk struktur ruang permukiman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif mengenai genius loci kawasan wisata religi situs ziarah umat muslim di Kabupaten Bandung. Pada tahap pengambilan data dilakukan secara observasi lapangan, dokumentasi (foto) penulis, wawancara dan kajian literatur yang terkait dengan objek studi. Beberapa point yang akan dijabarkan dalam kajian ini meliputi deskripsi tempat dan konteks sosial budaya masyarakat setempat, sejarah makom Eyang Abdul Manaf dan keturunanya, ritual dan aktivitas religi Kampung Mahmud, dan struktur ruang permukiman yang terbentuk berdasarkan sosial budaya masyarakat dan aktivitas ritual peziarah. Genius loci pada kawasan ziarah Kampung Mahmud terletak pada makom leluhur (para wali) penyebar agama Islam yaitu makom Eyang Dalem Abdul Manaf yang memiliki makna religius, dan mampu memberikan ciri atau karakter khusus pada kawasan tersebut sebagai tempat ziarah umat Muslim di Kabupaten Bandung. Diharapkan Lokalitas yang menjadikan identitas kawasan ini dapat menjadi potensi budaya lokal sebagai warisan budaya di Indonesia khususnya tanah Jawa.Kata kunci : Genius Loci, Ritual, Situs Ziarah, Wisata Religi, Struktur Ruang, dan Kampung Mahmud.AbstractGenius loci is a concept of the uniqueness of a place, which is formed due to dialogue between the natural environment and the built environment. Genius loci can create spirit of place, sense of place, authenticity, and region-specific characters. Genius loci can be formed, one of which is related to ritual activities, namely from the religious aspect of a society. Kampung Mahmud is a historic traditional village in Bandung Regency which has a spirit of place for Muslims with religious values in people's lives. The purpose of this study was to find out the genius loci in the Muslim pilgrimage area in Kampung Mahmud, seen from the cultural history of the area, and the activity patterns of the pilgrims in the rituals that shape the spatial structure of the settlement. The research method is descriptive qualitative. The focus of the research to be studied includes descriptions of the place and the socio-cultural context of the local community, the history of makom Eyang Abdul Manaf and his descendants, the rituals and religious activities of Kampung Mahmud, as well as the spatial structure of the settlement which was formed based on the socio-cultural community and pilgrim ritual activities. The genius loci in the Kampung Mahmud pilgrimage area lies in the ancestral makom (walis) who propagated Islam, namely the makom Eyang Dalem Abdul Manaf which has religious meaning, and is able to give special characteristics or character to the area as a place of pilgrimage for Muslims in Bandung Regency.Keywords: Genius Loci, Kampung Mahmud, Rituals, Pilgrimage Sites, Spatial Structures, and Religious Tourism.