cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA KARSA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 382 Documents
Konsep Green Building Pada Fasad Bangunan dikaji Berdasarkan Aspek Estetika Erwin Yuniar Rahadian; Shafira Aulia P.; Syifa Khoerunissa; Nur Afiaty F.
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i1.3661

Abstract

Abstrak Dalam penanganan isu global warming yang disebabkan oleh kegiatan pembangunan yang tidak memperhatikan keadaan lingkungan berdampak pada semakin tingginya suhu dipermukaan bumi, sehingga salah satu upaya untuk mengurangi dampak global warming yang harus dilakukan oleh seorang arsitek ialah dengan menerapkan konsep Green Building pada desain bangunan. Namun dalam penerapan konsep green perlu diperhatikan pula aspek estetikanya, sehingga dapat menambah nilai arsitektural bangunan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana aspek estetika diterapkan pada fasad bangunan yang menerapkan konsep green. Penelitian ini diawali dengan perhitungan OTTV untuk membuktikan bahwa bangunan ITSB telah memenuhi kaidah green. Setelah itu dilakukan metode kualitatif dan kuantitatif berupa studi komparasi terhadap teori estetika dan kuesioner untuk mendapatkan tanggapan dari masyarakat. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sekalipun menerapkan aspek estetika pada bangunan berkonsep green, dengan penerapan yang seimbang antara aspek estetika dan aspek green maka tidak akan mengurangi nilai green dari bangunan. Kata kunci: global warming, green building, perhitungan OTTV, estetika fasad.
Desain Bangunan dan Tapak Bandung Creative Hub (BCH) Ditinjau dari Peraturan Bangunan Gedung Hijau Vindy Riyadhinta; Ari Dwi Satria; Esa Fahrul Hilmi
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 8, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v8i1.3697

Abstract

Abstrak Pada desain sebuah bangunan gedung diperlukan peraturan bangunan gedung hijau dalam proses perencanaan. Langkah kerja yang dilakukan adalah memperhatikan orientasi bangunan gedung, area Ruang Terbuka Hijau (RTH), jalur pedestrian bagi pengguna gedung, pengelolaan tapak besmen, penyediaan lahan parkir dengan memperhatikan batasan KDB, selubung bangunan, penyediaan sistem ventilasi, pengondisian udara dan sistem pencahayaan. Peraturan yang dibuat pemerintah menjadi acuan seorang arsitek dalam mendesain bangunan gedung hijau, pada era modern hal tersebut menjadi poin yang diperhatikan. Kajian ini akan membahas bangunan Bandung Creative Hub (BCH) yang berfungsi sebagai sarana penunjang bagi masyarakat untuk menyalurkan kreativitas dan ide kreatif. Aspek yang diutamakan adalah desain bangunan BCH dan tapaknya ditinjau dari peraturan bangunan gedung hijau. Kajian ini diharapkan dapat menjadi rujukan pada saat mendesain bangunan gedung publik pada umumnya, khususnya dapat digunakan sebagai rujukan untuk pertimbangan dalam mendesain bangunan yang sesuai dengan peraturan bangunan gedung hijau. Kata kunci: Desain Bangunan, Desain Tapak, Peraturan Bangunan Gedung Hijau.
Kritik Normatif - Sistematik Bangunan Mesjid Al-Irsyad Nadila Tamisanesia
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 8, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v8i3.7954

Abstract

AbstrakMasjid adalah tempat penting bagi umat islam karena disanalah aktivitas ibadah dan penyebaran agama islam berlangsung. Masjid menjadi tempat utama untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan ibadah dan keagamaan, kegiatan yang sering dilakukan adalah  sholat berjamaah untuk orang yang beragam muslim namun seiring berjalan waktu masjid menjadi tempat sarana bersosialisasi baik secara vertikal maupun horizontal. Tetapi terdapat banyak masjid yang memiliki fasilitas yang diluar dari fungsi kegiatan keagamaan seperti kegaiatan belajar yang dilakukan didalam satu bangunan yang menjadi fungsi masjid. Di Indonesia masjid menjadi sebuah simbol daerah terutama di Pulau Jawa. Masjid menjadi bangunan utama bagi daerah seperti alun-alun yang menjadi titik pusat dari aktivitas kegiatan masyarakat sebuah kota yang berada di daerah Pulau Jawa, karena alun alun  menjadi pusat dari aktivitas masyarakat keagamaan maupun aktivitas lainya. Masjid Agung yang mejadi sebagai alun-alun sebuah daerah memiliki fungsi tambahan dari sebuah perkembangan zaman yang terjadi pada saat ini. Masjid Agung menjadi contoh yang nyata bahwa masjid dapat memiliki fungsi yang diluar keagamaan seperti hal nya masjid Al-Irsyard yang menjadi masjid utama di Kota Baru Parahyangan yang berfungsi juga sebagai tempat sekolah islam yang berafiliasi di Singapura sebagai sekolah internasional. Masjid pada jaman sekarang dapat memiliki fungsi ganda selain tempat beribadah karena perkembangan jaman dan budaya yang terus berkembang sehingga masjid menjadi sebuah tempat yang memiliki multi fungsi seperti masjid Al-Irsyard yang digabungkan dengan sebuah sekolah islam internasional. Nilai yang berkembang dengan penambahan fasilitas menjadikan sebuah masjid menjadi tempat yang nyata sebagai aktivitas bersosialisasi secara vertikal maupun horizontal.Kata kunci: Alun-alun kota, islam, mesjid, penyebaran agama
Depictive Criticism - “Static Aspect Criticism” Komponen dan Fungsi Menara Marina Bay Sands Di Singapura Nadia Fransiska
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 9, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v9i1.7956

Abstract

Abstrak Bangunan menara Marina Bay Sands adalah resor multi fungsi dengan 57 lantai, dimana terdiri dari 2.560 kamar hotel. Pada bagian roof top terdapat Skypark dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan kota. Seluruh SkyPark memiliki panjang 340 meter (1115 kaki) dan 40 meter (131 kaki) lebarnya. Kolam eksterior dapat menampung 3.900 orang serta 250 pohon dan 650 tanaman.Masing-masing dari tiga menara hotel Marina Bay Sands 55 lantai ini memiliki geometri yang unik, dengan kelengkungan yang bervariasi. Bangunan Marina Bay Sands memiliki bentuk meruncing pada lantai atas. Geometri ganda pada lantai bawah membentuk atrium besar di lantai dasar yaitu Atrium Essaint. Desain fasad menggunakan double glazed berlapis curtain wall. Kulit luar bangunan mengikuti bentuk lengkung bangunan. Sirip bangunan berfungsi untuk menciptakan efek 30 % kaca reflektif dan sebagai 20 % shading fasad terhadap cahaya matahari. Studi kasus ini termasuk kedalam Descriptive Criticism yaitu kritik yang didasarkan pada komponen dan ,fungsional Marina Bay Sands. Kata kunci: Marina Bay Sands, Skypark, Fasad, Descriptive Criticism.
Penerapan Bangunan Masjid Terhadap Tipologi Arsitektur Modern Pada Studi Kasus Masjid Jammi Al-Multazam Cherry Field Bandung Udjianto Pawitro; Ima Fatila; Riyan Rahmanto; Alvida Auliana Ali
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 8, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v8i1.3694

Abstract

Abstrak Agama Islam adalah kepercayaan yang dianut oleh mayoritas penduduk di Indonesia. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil tahun 2017, di Kota Bandung umat Islam berjumlah 2.214.320 orang.Prinsip desain awal masjid pada jaman dahulu berbentuk seperti Masjid Jammi Al Multazam yang memiliki bentuk dasar bangunan kubus yang sederhana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Metoda Primer yang dilakukan untuk memperoleh data secara langsung dan sesuai dengan kondisi sebenarnya dengan cara observasi dan wawancara. Metode Sekunder ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai bangunan yang menjadi studi kasus. Analisis dilakukan berdasarkan aspek asitektur modern yang mengacu pada data observasi dilapangan. Data analisis tersebut dapat menyimpulkan bahwa Masjid Jammi Al Multazam ini dapat dikategorikan ke dalam bangunan dengan konsep Arsitektur Modern yang berdasarkan pada Tipologi Arsitektur Modern, karena bangunan ini memenuhi kriteria pada konsep Cubism, De Stijl, Functionalism, Rationalism, dan International Style. Kata kunci : Masjid, Tipologi, Arsitektur Modern.
Penerapan Sustainable Site Plan Di Kawasan Dusun Bambu Lembang Jawa Barat Tifania Dwinas Anggraini
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 8, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v8i1.3693

Abstract

ABSTRAK Pembangunan lansekap berkelanjutan (sustainable site) berkaitan erat dengan peraturan, standar dan kriteria. Pesatnya pembangunan yang terjadi berbanding lurus dengan pembagian lahan hijau dan penggunaan material sesuai parameter yang berlaku. Kajian dilakukan terhadap salah satu tempat wisata di kota Bandung, khususnya pada daerah dataran tinggi yang bertujuan untuk mengetahui dan memahami tentang seberapa besar keberadaan Ruang Terbuka Hijau sebagai resapan air dan material yang digunakan di kawasan tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metodologi observasi dan wawancara yang dilakukan untuk menganalisa sebuah kawasan rekreasi dengan kriteria sustainable site plan terhadap ruang terbuka hijau dan pemanfaatan material. Kajian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi dalam mengetahui dan memahami penerapan kriteria sustainable site plan pada kawasan Dusun Bambu – Lembang, Bandung dan terletak di daerah konservasi air Bandung.Kata kunci: Ruang Terbuka Hijau, material, sustainable site plan. ABSTRACT Landscape sustainable development (sustainable site) closely related to regulation, standards and criteria. A rapidly development is directly of proportional to the green land and the use of material in accordance with the parameters. The study was important to one tourist destinantions in Bandung, particularly in regions highland aims to review and understanding of how much the green zone as absorbing and material used in the area. The method used in this review are methodology observation and the interviews conducted to analyze a recreational area on sustainable site plan to a green open space and the use of material. This study is expected to become a recommendations in knowing the criteria of sustainable site plan for  Dusun Bambu – Lembang, Bandung and located in the area of water conservation.Keywords : Green Open Space, material, sustainable site plan.
Karakteristik Fisik Hunian Permukiman Bantaran Sungai Lasolo Nuzul Iqra Muhammad; Ishak Kadir; Sitti Rosyidah; I Made Krisna Adhi Dahrma
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i1.7964

Abstract

AbstrakKota Kendari merupakan salah satu Kota perdagangan dan jasa yang berkembang pesat sehingga menimbulkan daya tarik bagi masyarakat luar untuk urbanisasi sehingga menimbulkan kepadatan penduduk. Salah satu permukiman yang memiliki kepadatan hunian yang tinggi yakni di bantaran Sungai Lasolo. Fenomena yang berkembang pada kawasan permukiman ini yakni adanya bangunan yang berdiri di tepian tanggul sungai padahal hal tersebut bertentangan dengan regulasi yang ditetapkan, Keberadaan permukiman pada daerah tepian tanggul membahayakan penghuni dan mengganggu ekologi tepian sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskriptifkan karakteristik bentuk hunian di Bantaran Sungai Lasolo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi sebagai upaya memaknai suatu fenomena dengan menganalisis data berdasarkan indikator keteraturaan bangunan, kualitas bangunan, dan kepadatan bangunan. Metode pengambilan data dilakukan dengan observasi sample hunian di permukiman RT.002/RW.001 Kelurahan Sanua, kemudian dianalisis berdasarkan indikator tersebut. Hasil penelitian pada zona 1 diketahui bahwa tampilan bangunan secara visual tidak beraturan karena dipengaruhi arah aliran sungai sehingga berpola linear memanjang dengan komposisi kepadatan bangunan yang besar. Dari segi material didominasi oleh bahan dasar kayu serta penempatan ruang lebih bersifat terbuka, Beberapa hunian berada pada daerah sempadan sungai dengan orientasi bangunan yang menghadap kearah sungai.Kata Kunci: Bantaran Sungai Lasolo, Bentuk hunian, Karakteristik, Permukiman,FenomenologiAbstractKendari City is one of the cities of trade and services that is growing rapidly so that it attracts outsiders to urbanize, causing population density. One of the settlements that has a high residential density is on the banks of the Lasolo River. The phenomenon that develops in this residential area is the existence of buildings that stand on the banks of river embankments even though this is contrary to established regulations. This study aims to describe the characteristics of residential forms on the Lasolo Riverbank. This study uses a qualitative descriptive method with a phenomenological approach as an effort to interpret a phenomenon by analyzing data based on indicators of building regularity, building quality, and building density. The data collection method was carried out by observing the residential sample in the settlements of RT.002/RW.001, Sanua Village, then analyzed based on these indicators. The results of the research in zone 1 show that the visual appearance of the building is irregular because it is influenced by the direction of the river flow so that it has an elongated linear pattern with a large composition of building density. In terms of material, it is dominated by wood base material and the placement of the space is more open. Some of the dwellings are located on the river border area with the orientation of the building facing the river.Keywords: Lasolo Riverbank, Residential form, Characteristics, Settlement, Phenomenology
Perubahan Tatanan Ruang Dalam Terhadap Aksesibilitas dan Sirkulasi Pengguna Pada Bangunan Stasiun Bandung Riantiza Avesta; Ashri Farhana Dea; Billiandi Muhammad Fitri; Ahmad Tijani; Tasya Puspita Puspita
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3678

Abstract

AbstrakSebagai salah satu bangunan perhubungan dan perekonomian utama di Jawa Barat, Stasiun Kereta Api Bandung memiliki jumlah pengguna yang cukup tinggi, baik yang berasal dari kawasan Bandung Raya maupun dari luar Bandung. Oleh karena tingkat pertumbuhan ekonomi dan mobilitas di kota Bandung yang cukup pesat, maka bangunan stasiun yang pertama kali diresmikan pada tahun 1884 ini, mengalami beberapa perubahan maupun pengembangan dari segi bentuk bangunan dan fungsi ruang dalam bangunan, diantaranya adalah penambahan bangunan peron disebelah utara pada tahun 1909 oleh arsitek Belanda FJA Cousin yang menghadap Jl. Kebon Kawung, pemindahan muka stasiun utama dari bangunan peron selatan menuju bangunan peron utara pada tahun 1990, hingga perubahan tata cara pemesanan tiket dari loket manual menjadi digital (e-ticket) pada tahun 2013, yang mana perubahan-perubahan ini berpengaruh terhadap tatanan dan fungsi ruang dalam dan juga mempengaruhi alur sirkulasi dan aksesibilitas pengguna didalam stasiun. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif analitis meliputi metode kualitatif dan kuantitatif, pembahasan teori-teori berdasarkan studi literatur dan studi pustaka, observasi secara langsung, survey, dan data lapangan. Kata kunci: stasiun kereta api bandung, ruang dalam, sirkulasi dan aksesibilitas 
Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan Ditinjau dari Teori-Teori Arsitektur Modern Meta Riany; Siti Fatimah; Daniar Dhaniwiano; Julio Perdana
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 8, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v8i1.3698

Abstract

Abstrak Bangunan Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat beribadah umat muslim di Kota Baru Parahyangan, Bandung. Masjid Al-Irsyad ini direncanakan dan dibangun oleh Arsitek Ridwan Kamil. Bangunan tersebut dibangun untuk menambah sarana peribadahan untuk masyarakat muslim di perumahan Kota Baru Parahyangan untuk beribadah dalam kesehariannya. Maka dari itu dibangunlah bangunan Masjid Al-Irsyad dengan keunikan desain gaya arsitektur bangunan. Setelah dibangun bangunan Masjid Al-Irsyad, sebagian masyarakat sekitar, masyarakat dari dalam dan dari luar kawasan memberi kesan pada bangunan dan menyebutkan bahwa Masjid Al-Irsyad merupakan bangunan dengan gaya arsitektur futuristik, dengan bentuk bangunan yang unik dengan konsep desain idealis dan bentuk bangunan baru. Metode yang dilakukan dalam pengamatan dan penelitian bangunan adalah secara deskriptif analitis meliputi metode kualitatif, observasi secara langsung dan wawancara. Diharapkan hasil pengamatan dan penelitian bangunan dapat menjadi kiasan bagi karya seni arsitektural bangunan yang berorientasi terhadap konsep desain aristektur gaya baru, agar para arsitek dapat memahami maksud dan pola pemikiran dan perasaan desain arsitektur gaya baru pada bangunan.  Kata Kunci : Gaya Arsitektur Bangunan, Futuristik, Masjid Al-Irsyad
Identifikasi Babakan Siliwangi Sebagai Ruang Terbuka Publik Di Kota Bandung Dwi Kustianingrum; Fiqry Fadhilla; Fadhli Arifin Bachdar; Muhammad Agung Hidayat
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 7, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v7i2.3689

Abstract

Abstrak Saat ini di Kota Bandung sedang gencar merevitalisasi atau mengembalikan fungsi ruang terbuka yang sebelumnya tidak aktif bahkan terbengkalai menjadi ruang terbuka publik aktif yang dapat menampung kegiatan baik secara individu maupun secara berkelompok. Salah satu ruang terbuka publik yang terdapat di kota Bandung adalah Babakan Siliwangi yang merupakan sebuah kawasan ruang terbuka publik yang direncanakan secara penataan kota dan arsitektural menjadi wadah untuk menampungberbagai aktivitas sosial masyarakat di kota Bandung, seperti aktivitas olahraga dan aktivitas rekreasi dengan cara menikmati keindahan alam dan suasana dari hutan kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ruang terbuka publik Babakan Siliwangi Bandung yang ditinjau berdasarkan fungsi, aktivitas, dan fitur dominan dengan metode penelitian deskriptif analitis. Hasil pembahasan dapat menggambarkan bahwa Babakan Siliwangi Bandung dapat berfungsi sebagai ruang terbuka publik berdasarkan pertimbangan fungsi, aktivitas, dan fitur dominan. Kata Kunci : Ruang Terbuka Publik, Fungsi, Aktivitas, Fitur Dominan, Babakan Siliwangi