cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
REKA RACANA
ISSN : -     EISSN : 24772569     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1: Maret 2026" : 10 Documents clear
Evaluasi Kinerja Seismik Struktur Rangka Beton Pemikul Momen dengan Pengaruh Dinding Pengisi Menggunakan SNI 9273:2025 (Studi Kasus: Wilayah Gempa Kota Palu) Zain, Arzal M.
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1: Maret 2026
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v12i1.36

Abstract

ABSTRAKbertulang sering kali menghasilkan prediksi perilaku seismik yang tidak akurat, khususnya di wilayah dengan intensitas gempa tinggi seperti Kota Palu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh interaksi dinding-rangka terhadap kinerja seismik gedung perkantoran 5 lantai pada kondisi tanah sedang (SD) menggunakan standar evaluasi terbaru SNI 9273:2025. Analisis dilakukan secara komparatif menggunakan Prosedur Dinamik Linear (Respons Spektrum) terhadap dua model struktur: Model A (Bare Frame) dan Model B (Infilled Frame) yang dimodelkan dengan metode makro Equivalent Diagonal Strut (Mainstone). Hasil simulasi menunjukkan bahwa pemodelan dinding pengisi meningkatkan kekakuan global secara signifikan, yang mereduksi periode getar fundamental sebesar 71%. Peningkatan kekakuan ini berimplikasi pada lonjakan Gaya Geser Dasar (Base Shear) sebesar 162% akibat pergeseran respons spektral ke area percepatan tinggi, namun secara efektif mereduksi simpangan antarlantai (drift) hingga 69%. Evaluasi kapasitas berdasarkan kriteria Force-Controlled menunjukkan bahwa dinding pada lantai 1-4 mengalami kegagalan geser dengan rasio DCR > 1,0. Kesimpulan studi ini menegaskan bahwa asumsi bare frame cenderung memberikan estimasi gaya geser dasar yang terlalu rendah (underestimate).Kata kunci: dinding pengisi, Equivalent Diagonal Strut, Kota Palu, respon spektrum, SNI 9273:2025 ABSTRACTOmitting the contribution of infill wall stiffness in the structural analysis of reinforced concrete buildings often leads to inaccurate predictions of seismic behavior, especially in areas with high earthquake intensity, such as Palu City. This study aims to evaluate the effect of wall-frame interaction on the seismic performance of a 5-story office building on moderate soil conditions (SD) using the latest evaluation standard SNI 9273:2025. The analysis was conducted comparatively using the Linear Dynamic Procedure (Spectrum Response) on two structural models: Model A (Bare Frame) and Model B (Infilled Frame), modeled with the Equivalent Diagonal Strut (Mainstone) macro method. The simulation results show that infill wall modeling significantly increases global stiffness, thereby reducing the fundamental vibration period by 71%. This increase in stiffness implies a 162% increase in Base Shear Force due to the shift in the spectral response toward the high-acceleration area, but effectively reduces the drift between floors (Drift) by 69%. Capacity evaluation based on Force-Controlled criteria indicates that walls on floors 1-4 experienced shear failure with a DCR ratio > 1.0. The conclusion of this study confirms that the bare frame assumption tends to provide an underestimate of the base shear force.Keywords: infill wall, Equivalent Diagonal Strut, Palu city, spectrum response, SNI 9273:2025
Hubungan Balok-Kolom Glulam Jabon dengan Pelat Baja Siku dan Pengencang Sekrup Kunci Desimaliana, Erma; Tjondro, Johannes Adhijoso
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1: Maret 2026
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v12i1.78

Abstract

ABSTRAKPenggunaan glulam Jabon pada struktur kayu rekayasa memerlukan hubungan balok-kolom yang kuat, stabil, dan daktil. Penelitian ini mengevaluasi perilaku hubungan balok-kolom glulam Jabon dengan pelat baja siku dan pengencang sekrup kunci. Pengujian monotonik dilakukan pada tiga benda uji identik dengan pembebanan lateral di ujung balok. Data beban dan perpindahan diolah menjadi kurva beban-perpindahan serta momen-rotasi untuk menentukan kapasitas, kekakuan, faktor bilinier, dan daktilitas. Hasil menunjukkan beban puncak rata-rata sebesar 2,64 kN pada perpindahan 23,44 mm. Momen leleh dan momen ultimit rata-rata masing-masing 0,75 kN-m dan 1,59 kN-m. Kekakuan rotasi leleh rata-rata 59,55 kN-m/rad, kekakuan ultimit 40,77 kN-m/rad, faktor bilinier 0,688, dan daktilitas rotasi 3,09. Kurva menunjukkan respons nonlinier dengan penurunan kekakuan akibat slip, deformasi tumpu lokal, dan rotasi sambungan. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa transfer gaya berlangsung bertahap tanpa kegagalan mendadak pada zona sambungan. Sambungan berperilaku semi-rigid, daktil, dan tidak getas sehingga berpotensi dikembangkan sebagai alternatif sambungan glulam Jabon untuk struktur kayu rekayasa.Kata kunci: glulam Jabon, hubungan balok-kolom, pelat baja siku, sekrup kunci ABSTRACTThe use of Jabon glulam in engineered wood structures requires strong, stable, and ductile beam-column connections. This study evaluates the behavior of Jabon glulam beam-column connections with angle steel plates and keyed screw fasteners. Monotonic testing was conducted on three identical test specimens with lateral loading applied at the beam end. Load and displacement data were processed into load-displacement and moment-rotation curves to determine capacity, stiffness, bilinearity factor, and ductility. The results showed an average peak load of 2.64 kN at a displacement of 23.44 mm. The average yield moment and ultimate moment were 0.75 kN-m and 1.59 kN-m, respectively. The average yield rotational stiffness was 59.55 kN-m/rad, the ultimate stiffness was 40.77 kN-m/rad, the bilinearity factor was 0.688, and the rotational ductility was 3.09. The curves show a nonlinear response with a decrease in stiffness due to slip, local bearing deformation, and joint rotation. This behavior indicates that force transfer occurs gradually without sudden failure in the joint zone. The joint behaves as semi-rigid, ductile, and non-brittle, making it a potential alternative to Jabon glulam joints for engineered wood structures.Keywords: Jabon glulam, beam-column connection, angle steel plate, lag screw
Implementasi Konsep Building Information Modelling (BIM) pada Struktur Beton Gedung Poned Puskesmas Ujung Jaya Kabupaten Sumedang Djaenudin, Kamaludin
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1: Maret 2026
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v12i1.1

Abstract

ABSTRAKPembangunan infrastruktur di Indonesia terus meningkat sehingga diperlukan efektivitas dalam pengelolaan informasi proyek konstruksi agar mutu, biaya, dan waktu pelaksanaan lebih terkontrol. Building Information Modeling (BIM) menawarkan solusi melalui pemodelan bangunan berbasis informasi yang mendukung perhitungan volume dan biaya secara lebih akurat. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi BIM pada pekerjaan struktural dan arsitektural proyek pembangunan Gedung PONED Puskesmas Ujung Jaya, Kabupaten Sumedang, serta membandingkannya dengan metode konvensional. Proses penelitian dilakukan dengan pemodelan struktural menggunakan Tekla Structures dan pemodelan arsitektural menggunakan ArchiCAD, kemudian dilakukan Quantity Take-Off dan analisis biaya berdasarkan hasil model. Hasil penelitian menunjukkan selisih biaya metode BIM sebesar −14,68% untuk pekerjaan struktural dan +1,25% untuk pekerjaan arsitektural terhadap RAB perencana. BIM mampu meningkatkan akurasi estimasi biaya dan koordinasi data lintas disiplin pada proyek konstruksi di Indonesia.Kata kunci: ArchiCAD, Building Information Modeling, Estimasi Biaya, Quantity Take-Off, Tekla StructuresABSTRACTInfrastructure development in Indonesia continues to grow, requiring effective project information management to improve quality, control costs, and increase efficiency. Building Information Modeling (BIM) provides a solution through information-based digital modeling, enabling more accurate volume and cost estimation. This research aims to analyze the implementation of BIM in the structural and architectural works of the PONED Ujung Jaya Health Facility project in Sumedang Regency and to compare the results with conventional methods. The research process involved structural modeling using Tekla Structures and architectural modeling using ArchiCAD, followed by Quantity Take-Off extraction and cost analysis based on the generated model. The results show cost differences using BIM of −14.68% for structural works and +1.25% for architectural works compared to the planner’s budget. BIM improves cost estimation accuracy and enhances interdisciplinary data coordination in construction projects in Indonesia.Keywords: ArchiCAD, Building Information Modeling, Cost Estimation, Quantity Take-Off, Tekla Structures
Evaluasi Kelayakan Struktur Gedung SDN Cipageran Mandiri 1 Kota Cimahi Jawa Barat Muchtar, Muchtar; Gunadi, Riawan; Puspitasari, Ira; Nurdin, Muhamad Irfan; Zakiyyah, Amirah; Muflih, Moch. Imam
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1: Maret 2026
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v12i1.44

Abstract

ABSTRAKSDN Cipageran Mandiri 1 Kota Cimahi memiliki gedung bertingkat yang menimbulkan kekhawatiran terkait keselamatan dan kenyamanan pengguna akibat kerusakan struktural maupun arsitektural. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kelayakan struktur gedung C melalui inspeksi visual, pengujian non-destruktif (NDT), serta analisis struktur menggunakan perangkat lunak berbasis metode elemen hingga. Metode penelitian dilakukan secara kuantitatif melalui tahapan studi literatur, pengumpulan data sekunder, pemeriksaan visual, pengujian NDT (Rebound Hammer Test, Ultrasonic Pulse Velocity, Brinell Hardness Test, Liquid Penetrant Test, dan uji vertikalitas), hingga pemodelan struktur 3D. Hasil pengujian menunjukkan variasi mutu beton yang signifikan (29,1–407,4 kg/cm²) serta mutu baja yang tidak seragam (693,3–1432,6 MPa). Selain itu, ditemukan cacat pada sambungan las, korosi pada elemen baja, serta penyimpangan vertikal pada beberapa kolom. Analisis permodelan memperlihatkan stress ratio >1 pada sejumlah elemen balok dan kolom serta deformasi yang melebihi batas standar L/240, sehingga struktur dinyatakan tidak memenuhi persyaratan SNI 1729:2020. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa gedung C SDN Cipageran Mandiri 1 memerlukan perbaikan struktural secara menyeluruh untuk menjamin keselamatan, kenyamanan, serta keberlangsungan fungsi bangunan sebagai sarana pendidikan.Kata kunci: evaluasi struktur, gedung sekolah, kelayakan bangunan, keselamatan konstruksi, NDT ABSTRACTSDN Cipageran Mandiri 1 in Cimahi City has a multi-story building that raises concerns regarding the safety and comfort of its users due to both structural and architectural damage. This study aims to evaluate the feasibility of Building C through visual inspection, non-destructive testing (NDT), and structural analysis using finite element software. The research was conducted quantitatively through several stages, including literature review, secondary data collection, visual inspection, NDT (Rebound Hammer Test, Ultrasonic Pulse Velocity, Brinell Hardness Test, Liquid Penetrant Test, and verticality test), and 3D structural modeling. The results indicate significant variations in concrete strength (29.1–407.4 kg/cm²) and non-uniform steel quality (693.3–1432.6 MPa). In addition, defects were found in the welding joints, corrosion in steel elements, and deviations in verticality in several columns. Structural modeling analysis revealed stress ratios greater than 1 in several beam and column elements, as well as deformations exceeding the L/240 limit, indicating that the structure does not comply with the requirements of SNI 1729:2020. This study concludes that Building C of SDN Cipageran Mandiri 1 requires comprehensive structural rehabilitation to ensure safety, comfort, and the continued functionality of the facility as an educational facility.Keywords: structural evaluation, school building, building feasibility, construction safety, NDT
Pengaruh Bakteri Bacillus megaterium sebagai Self-Healing Agent terhadap Kuat Lentur dan Kuat Tarik Tidak Langsung Beton Geopolimer Nathania, Stella; Mauludin, Luthfi M.; Widiarnoko, Gandhi; Azhar A. D., Muhammad
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1: Maret 2026
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v12i1.11

Abstract

ABSTRAKBeton geopolimer disusun dari material daur ulang yang ramah lingkungan, yaitu fly ash, recycled concrete aggregate, serta limbah serbuk cangkang telur dan kerang, sebagai upaya pengurangan penggunaan semen portland. Metode penelitian dilakukan melalui pengembangbiakan bakteri, pengolahan agregat limbah, pengujian sifat fisis material, serta pembuatan benda uji silinder dan balok. Hasil pengujian menunjukkan beton normal memiliki kuat tarik tidak langsung dan kuat lentur lebih tinggi dibandingkan dengan beton geopolimer. Penambahan bakteri mampu meningkatkan kekuatan beton geopolimer secara signifikan. Nilai kuat lentur beton geopolimer berbasis self-healing meningkat sekitar 29% dibandingkan dengan geopolimer biasa dan mendekati performa beton normal. Namun, beton geopolimer tidak mengalami self-healing disebabkan oleh larutan aktivator alkali 10 M dengan pH > 14. Meskipun kekuatan tekan mungkin melebihi beton geopolimer biasa, lingkungan alkali yang kuat bukanlah pH yang sesuai untuk bakteri Bacillus megaterium.Kata kunci: Bacillus megaterium, beton geopolimer, kuat lentur, kuat tarik tidak langsung, self-healing  ABSTRACKGeopolymer concrete is composed of environmentally friendly recycled materials, namely fly ash, recycled concrete aggregate, as well as waste powder from eggshells and seashells, as an effort to reduce the use of Portland cement. The research method was carried out through bacterial cultivation, waste aggregate processing, testing of the physical properties of materials, and the fabrication of cylindrical and beam specimens. The test results showed that normal concrete had higher splitting tensile strength and flexural strength compared to geopolymer concrete. The addition of bacteria was able to significantly improve the strength of geopolymer concrete. The flexural strength of self-healing-based geopolymer concrete increased by about 29% compared to ordinary geopolymer and approached the performance of normal concrete. However, geopolymer concrete did not undergo self-healing due to the use of a 10M alkaline activator solution with a pH > 14. Although the compressive strength may exceed that of ordinary geopolymer concrete, the strong alkaline environment is not a suitable pH for Bacillus Megaterium bacteriaKeywords: Bacillus megaterium, geopolymer concrete, flexural strength, indirect tensile strength, self-healing 
Studi Literatur Sistematis: Analisis Peran Abu Terbang dalam Pengembangan Teknologi Beton Ringan Alifa, Haikal Putra Habibie; Fathalhuda, Ilman; Rabbani, Arrahmah Syifa; Masri, Rina Marina
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1: Maret 2026
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v12i1.58

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini menyintesis hasil berbagai studi yang berfokus pada pengembangan beton ringan struktural (LWAC) berbasis limbah untuk mewujudkan material konstruksi berkelanjutan. Inovasi LWAC terutama mengoptimalkan penggunaan agregat alternatif berupa sintered fly ash aggregate (SFAA) dan agregat plastik daur ulang polipropilena (PPCA). Evaluasi dilakukan melalui studi eksperimental, mencakup pengujian sifat beton segar, kekuatan tekan, modulus elastisitas, serta karakteristik jangka panjang seperti susut dan rangkak pada sampel standar hingga elemen struktural skala besar. Dibandingkan dengan Beton Agregat Normal (NWAC), LWAC menunjukkan performa unggul, terutama formulasi SFAA yang mampu mencapai kekuatan tekan struktural sekaligus menurunkan massa jenis 20–30 persen. Selain itu, reologi LWAC meningkat dengan susut 36 persen lebih rendah dan koefisien rangkak 53 persen lebih rendah, menjadikannya ideal untuk aplikasi prategang. PPCA juga memenuhi kriteria kekuatan beton ringan struktural. Secara keseluruhan, LWAC berbasis limbah terbukti layak secara teknis dan ramah lingkunganKata kunci: abu terbang, agregat,  beton ringan, daur ulang, kuat tekan ABSTRACTThis study synthesizes findings from various research focusing on the development of sustainable Lightweight Aggregate Concrete (LWAC) using waste-based materials. The innovation of LWAC primarily relies on alternative aggregates such as sintered fly ash aggregate (SFAA) and recycled polypropylene plastic aggregate (PPCA). The evaluation was carried out through experimental studies, including tests on fresh concrete properties, compressive strength, elastic modulus, and long-term characteristics such as shrinkage and creep, using specimens ranging from standard samples to full-scale prestressed beams. Compared with Normal-Weight Aggregate Concrete (NWAC), LWAC demonstrated superior performance, particularly the SFAA formulation, which achieved adequate structural compressive strength while reducing density by 20–30 percent. Furthermore, LWAC exhibited enhanced rheology with 36 percent lower shrinkage and 53 percent lower creep, making it highly suitable for prestressed applications. PPCA also satisfied the strength requirements of structural lightweight concrete. Overall, waste-based LWAC proved technically feasible and environmentally advantageous.Keywords: fly ash, aggregate, lightweight concrete, recycling, compressive strength
Model Prediksi Kerugian Bangunan Hunian Bertingkat Rendah Eksisting dengan Risiko Kegempaan Tinggi Sugianto, Joesack Renaldi; Pranata, Yosafat Aji
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1: Maret 2026
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v12i1.20

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengembangkan model prediksi kerugian gempa untuk bangunan hunian bertingkat rendah eksisting pada wilayah dengan risiko kegempaan tinggi. Empat tipe rumah (A–D) dimodelkan sebagai Reinforced Masonry Walls (RM1) dan dianalisis menggunakan SAP2000 melalui analisis pushover berdasarkan FEMA 440 untuk memperoleh kurva kapasitas serta performance point. Parameter kurva kapasitas Hazus kemudian dimodifikasi menggunakan hasil pushover agar lebih merepresentasikan kondisi konstruksi lokal. Estimasi kerugian dilakukan dengan menghitung probabilitas tingkat kerusakan (damage state) dan loss ratio, lalu dikonversi menjadi kerugian moneter per unit bangunan. Hasil menunjukkan prediksi kerugian menggunakan Hazus orisinal relatif seragam antartipe, sedangkan Hazus modifikasi menghasilkan loss ratio lebih tinggi dan lebih sensitif terhadap perbedaan tipologi rumah. Model ini dapat digunakan sebagai alat skrining cepat untuk menentukan prioritas mitigasi/retrofit pada perumahan sejenis.Kata kunci: Hazus, kerugian gempa, performance point, pushover ABSTRACTThis study develops a seismic loss prediction model for existing low-rise residential buildings in a high-seismic-hazard area. Four house typologies (A–D) are classified as reinforced masonry walls (RM1) and analyzed in SAP2000 using FEMA 440 pushover procedures to obtain capacity curves and performance points. Hazus capacity curve parameters are then modified using the pushover results to better represent local construction characteristics. Seismic losses are estimated by computing damage state probabilities and loss ratios, which are converted into monetary losses per building unit. Results indicate that the original Hazus approach yields relatively uniform loss estimates across typologies, whereas the modified Hazus model produces higher and more typology-sensitive loss ratios. The proposed model can support rapid screening and prioritization of mitigation/retrofit measures for similar housing clusters.Keywords: Hazus, seismic loss, performance point, pushover
Hubungan Balok-Kolom Kayu Glulam dengan Pelat Baja dan Pengencang Baut Diredja, Nessa Valiantine; Tjondro, Johannes Adhijoso
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1: Maret 2026
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v12i1.65

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengevaluasi perilaku hubungan balok–kolom kayu glued laminated timber (glulam) dengan pelat baja dan baut melalui pengujian monotonik. Tiga spesimen (SB1, SB2, SB3) diuji untuk memperoleh respons beban–perpindahan dan momen–rotasi, serta menentukan kapasitas, kekakuan rotasi awal, faktor bilinier, dan daktilitas sambungan. Kapasitas puncak berada pada rentang 3,826–3,906 kN dengan rata-rata 3,857 kN. Momen ultimit berada pada rentang 2,296–2,344 kNm dengan rata-rata 2,315 kNm, kekakuan rotasi awal ( ) rata-rata 35,761 kNm/rad, faktor bilinier pada rentang 0,72–0,77 dengan rata-rata 0,74, dan daktilitas rotasi ( ) pada rentang 1,81–2,44 dengan rata-rata 2,19. Kurva momen–rotasi menunjukkan respons yang relatif stabil dengan penurunan kapasitas bertahap setelah puncak. Secara keseluruhan, hubungan balok–kolom glulam dengan pelat baja dan baut menunjukkan kapasitas yang konsisten serta deformabilitas pasca-leleh yang memadai pada pembebanan monotonik.Kata kunci: Glulam, hubungan balok-kolom, baut, pelat baja, momen-rotasi, daktilitas ABSTRACTThis study evaluates the behavior of glued-laminated timber (Glulam) beam–column connections with steel plates and bolts under monotonic loading. Three specimens (SB1, SB2, SB3) were tested to obtain load–displacement and moment–rotation responses, and to determine connection capacity, initial rotational stiffness, bilinear factor, and ductility. Peak load ranged from 3,826 to 3,906 kN, with an average of 3,857 kN. Ultimate moment ranged from 2,296 to 2,344 kNm with an average of 2,315 kNm, initial rotational stiffness ( ) averaged 35,761 kNm/rad, the bilinear factor ranged from 0,72 to 0,77 with an average of 0,74, and rotational ductility ( ) ranged from 1,81 to 2,44 with an average of 2,19. Moment–rotation curves showed a relatively stable response with gradual post-peak capacity degradation. Overall, the Glulam beam–column connection with steel plates and bolts demonstrated consistent capacity and adequate post-yield deformability under monotonic loading.Keywords: LVLGlulam, beam–column connection, bolts, steel plate, monotonic test, moment–rotation
Pengaruh Penerapan Last Planner System Terhadap Pengurangan Pemborosan dan Efisiensi Proyek Konstruksi Bendungan Apriadi, Reza; Lesmana, Cindrawaty
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1: Maret 2026
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v12i1.30

Abstract

ABSTRAKProyek bendungan memiliki kompleksitas teknis dan manajerial yang tinggi sehingga rentan memunculkan pemborosan dan menurunkan efisiensi pelaksanaan. Penelitian ini mengevaluasi implementasi Last Planner System (LPS) serta pengaruhnya terhadap pengurangan pemborosan dan peningkatan efisiensi proyek bendungan, dengan mempertimbangkan faktor kontekstual proyek. Data diperoleh melalui kuesioner skala Likert 1–5 dari 106 responden pada proyek bendungan, dengan periode pengisian 10 November 2025 s.d. 15 Januari 2026. Analisis dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan indikator tingkat dimensi. Hasil menunjukkan bahwa implementasi LPS berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengurangan pemborosan (β = 0,482; t = 6,627; p < 0,001); dan pengurangan pemborosan berpengaruh positif dan signifikan terhadap efisiensi proyek (β = 0,494; t = 6,431; p < 0,001). Faktor kontekstual juga menunjukkan pengaruh langsung signifikan terhadap efisiensi proyek (β = 0,472; t = 6,131; p < 0,001) dan pengurangan pemborosan (β = 0,415; t = 5,238; p < 0,001).  Secara deskriptif, dimensi dengan mean tertinggi adalah dukungan manajemen (4,481) dan commitment planning & weekly work plan (4,474); sedangkan dimensi dengan mean terendah adalah mengurangi waiting time (4,085). Temuan menegaskan perlunya penguatan mekanisme make-ready, disiplin rencana mingguan, dan percepatan alur keputusan/persetujuan untuk menekan waste dan meningkatkan efisiensi proyek bendungan.Kata kunci: bendungan, efisiensi proyek, last planner system, pemborosan ABSTRACTDam construction projects are characterized by high technical and managerial complexity, making them prone to waste and reduced project efficiency. This study evaluates the implementation of the Last Planner System (LPS) in dam projects and examines its effect on waste reduction and project efficiency while considering contextual project factors. Data were collected using a 1–5 Likert-scale questionnaire from 106 respondents during 10 November 2025–15 January 2026. Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (PLS-SEM) was employed using dimension-level indicators. The results indicate that LPS implementation significantly improves waste reduction (β = 0.482; t = 6.627; p < 0.001), and that waste reduction, in turn, significantly improves project efficiency (β = 0.494; t = 6.431; p < 0.001).  Contextual factors also show significant direct effects on project efficiency (β = 0.472; t = 6.131; p < 0.001) and waste reduction (β = 0.415; t = 5.238; p < 0.001).  Descriptive findings highlight strong performance in management support and weekly planning commitment, while waiting waste from lengthy approvals/decisions remains a key area for improvement. Findings emphasize strengthening make-ready practices, weekly planning discipline, and faster approval flows to reduce waste and enhance dam project efficiency.Keywords: dam, project efficiency, last planner system, waste
Perbandingan Pengaruh Beberapa Jenis Serat Alami Terhadap Kuat Tekan dan Kuat Tarik Belah Beton Lirawati, Lirawati; Hati, Astri Suci; Satria, Zafran; Fortuna, Adiatma
RekaRacana: Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1: Maret 2026
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekaracana.v12i1.72

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini membandingkan pengaruh serat alam bambu, pelepah pisang, dan daun pandan duri dengan kadar 1%, 2%, dan 3% dari berat semen untuk meningkatkan kekuatan beton yang rendah pada tarik dan bersifat getas. Pengujian dilakukan menggunakan standar ASTM dan SNI pada beton umur 28 hari. Hasil menunjukkan agregat memenuhi standar kualitas. Penambahan serat mengurangi berat volume beton, dengan serat pandan duri memiliki berat tertinggi pada setiap kadar. Kuat tekan beton menurun secara signifikan pada 3% serat bambu (8,323 MPa) dan pelepah pisang (5,681 MPa), sementara 1% serat pandan duri memberikan kuat tekan lebih baik dan stabil (16,683 MPa). Kuat tarik belah meningkat pada 1% serat bambu (7,341 MPa) dan 2% pelepah pisang (6,653 MPa) tetapi menurun pada kadar 3%. Serat pandan duri menunjukkan kestabilan kuat tarik belah (5,258 MPa) di semua kadar. Optimalisasi jenis dan kadar serat diperlukan untuk performa mekanik beton serat ramah lingkungan.Kata kunci: beton bertulang serat, kuat tarik belah, kuat tekan, serat bambu, serat pandan duri, serat pelepah pisang ABSTRACTThis study compares the effects of natural fibers—bamboo, banana stem, and screw pine leaf—at 1%, 2%, and 3% of cement weight to improve the low tensile strength and brittle nature of conventional concrete. Testing was conducted in accordance with ASTM and SNI standards on 28-day-old concrete. The results show that the aggregates met quality standards. Fiber addition reduced concrete density, with screw pine leaf fiber concrete maintaining the highest density across all proportions. Compressive strength significantly decreased at 3% bamboo fiber (8.323 MPa) and banana stem fiber (5.681 MPa), while 1% screw pine leaf fiber provided better and more stable compressive strength (16.683 MPa). Splitting tensile strength increased at 1% bamboo fiber (7.341 MPa) and 2% banana stem fiber (6.653 MPa) but declined at 3%. Screw pine leaf fiber showed stable splitting tensile strength (5.258 MPa) across all percentages. Optimizing fiber type and proportion is key to mechanical performance and environmentally friendly fiber-reinforced concrete.Keywords: fiber-reinforced concrete, splitting tensile strength, compressive strength, bamboo fiber, screw pine fiber, banana stem fiber

Page 1 of 1 | Total Record : 10