cover
Contact Name
Dewi Susanna
Contact Email
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkesmas.ui@gmail.com
Editorial Address
G301 Building G 3th Floor Faculty of Public Health Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal)
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 19077505     EISSN : 24600601     DOI : https://doi.org/10.7454/kesmas
Core Subject : Health,
The focus of Kesmas is on public health as discipline and practices related to preventive and promotive measures to enhance the public health through a scientific approach applying a variety of technique. This focus includes areas and scopes such as Biostatistics, Environmental Public Health, Epidemiology, Health Policy, Health Services Research, Nutrition, Occupational Health and Industrial Hygiene, Public Health, Public Health Education and Promotion, Women Health.
Articles 928 Documents
Tingkat Fertilitas di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Yogyakarta Rahmadewi, Rahmadewi; Asih, Leli
Kesmas Vol. 6, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki Total Fertility Rate (TFR) tertinggi (4,2 anak) dan yang terendah adalah Provinsi Yogyakarta (1,8 anak). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan angka fertilitas total di kedua provinsi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif berdasarkan sumber data sekunder berbagai survei meliputi Survei Demografi Kesehatan Indonesia (1991-2007); Survei Kesehatan Nasional dan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2003; dan Mini Survei tahun 2007 dan 2008. Metode kualitatif dilakukan dengan diskusi kelompok terarah pada wanita pasangan usia subur (PUS) dan wawancara mendalam dengan pengelola program di kabupaten/ kota hingga ke desa/kelurahan. Ditemukan TFR di Yogyakarta sangat rendah dan sebaliknya di NTT sangat tinggi. Perbedaan TFR tersebut disebabkan oleh latar belakang demografi dan nondemografi seperti respons terhadap berbagai program penurunan fertilitas. Faktor budaya terhadap nilai anak berpengaruh besar terhadap jumlah anak yang ingin dimiliki. Tingkat pendidikan yang rendah berhubungan dengan faktor yang berpengaruh langsung terhadap pemakaian kontrasepsi, termasuk jenis kontrasepsi. Pelayanan Keluarga Berencana (KB) yang rendah memicu tingginya kebutuhan kontrasepsi yang tidak terpenuhi. Kesertaan ber-KB di NTT dan di Yogyakarta adalah 42,2% dan 66,9%. Wanita PUS yang keinginan ber-KB tidak terpenuhi masih tinggi di NTT (17,4%) dibandingkan dengan Yogyakarta (6,8%). Province of Nusa Tenggara Timur (NTT) have a total fertility rate (TFR) to the highest (4,2 children) and the lowest is the Province of Yogyakarta (1,8 children). This research is to identify factors that associated with total fertility rate in both provinces. This study uses qualitative method from the Indonesia Demography and Health Surveys (from 1991 to 2007), National Health Survey and Household Health Survey (2003), and Family Planning Mini Surveys (2007 and 2008). The qualitative method were collected using focus group discussions with fertile couple and in-depth interviews with family planning fieldworkers in district to village . The research reveals that TFR of Yogyakarta is very low and NTT is very high. The differentiation of the TFR is due to the demographic and nondemographic background as well as the respond againts the program to decrease the fertility. Cultural factor is the important one againts the value of children that will be influenced to the number of children desired in one family. Low education will be directly related to the use of contraceptive including mix contraceptive. Low family planning services which triggers the high unmet need oc contraceprive. Family Planning participation in NTT is 42,2% and 66,9% in Yogyakarta. Women on childbearing age who wishes to use contraceptive but unmet need in NTT were still high (17,4%) compared with Yogyakarta (6,8%).
Instrumen Pengukuran Kualitas Hidup Anak Terinfeksi HIV Muhaimin, Toha; Utomo, Budi; Utoyo, Dharmayati B.; Kurniati, Nia; Anugrahini, Triyanti; Zuliatie, Enny
Kesmas Vol. 6, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Indonesia memperlihatkan tren yang semakin meningkat karena meningkatnya proporsi perempuan terinfeksi HIV/AIDS. Pertimbangan pada dampak besar yang dihadapi anak penderita HIV mendorong kebutuhan pengembangan instrumen khusus untuk mengukur kualitas hidup mereka. Penelitian ini bertujuan mengembangkan instrumen kualitas hidup anak penderita AIDS dengan memodifikasi instrumen yang ada sesuai dengan konteks Indonesia. Pada penelitian ini ditemukan hasil bahwa instrumen yang dikembangkan mempunyai reliabilitas yang cukup baik pada balita dan anak usia 5 – 11 tahun. Nilai reliabilitas (Cronbach’s Alpha) balita, domain fungsi fisik, fungsi sosial, dan gejala HIV masing masing adalah 0,71; 0,72; dan 0,88, sedangkan pada anak 5 – 11 tahun, domain fungsi-fungsi fisik, psikologis, sosial, sekolah, dan gejala terkait HIV masing-masing 0,76; 0,89; 0,67; 0,67; dan 0,88. Penelitian ini menunjukkan untuk konteks Indonesia, nilai ambang batas CD4 yang menunjukkan perbedaan kualitas hidup adalah 15%. Pada balita, dari berbagai ketiga domain, hanya domain gejala terkait HIV yang cukup sensitif untuk mendeteksi perbedaan kualitas hidup anak, sementara pada anak 5 – 11 hanya domain fungsi fisik dan fungsi psikologis yang cukup sensitif untuk mendeteksi perbedaan kualitas hidup anak. Penelitian ini menunjukkan bahwa dampak HIV pada anak masih terkonsentrasi pada gangguan fungsi fisik, fungsi psikologis, dan gejala terkait HIV. Children with HIV/AIDS in Indonesia are increasing due to the increase of woman with HIV. A special instrument for measuring quality of life (QoL) of children with HIV is needed to be developed as the great impact of the infection to children. This study was conducted by modifying the existing QoL instrument of children for Indonesian context. The study indicated that the reliability of the instrument is quite good both for children under 5 and 5 – 11 years old. Reliability values (Cronbach’s Alpha) for under 5, domains of physical function, social function, and HIV-related symptoms are 71, 72, and 88 respectively while for children 5 – 11 years old, domains of physical, psychological, social, and school functions, and HIV-related symptoms are 76, 89, 67, 67, and 88 respectively. The study showed, for Indonesian context, 15% of CD4 is indicated as the threshold to detect the difference of QoL for children with HIV. However, for under 5 years old, only questions of HIV-related symptoms domain which is sensitive to detect difference QoL, whereas for children of 5 – 11 years old, the questions concerning physical and psychological domains which are sensitive to detect difference QoL. The study indicated that the impact of HIV on children is mostly on physical and psychological functions and HIV-related symptoms.
Karakteristik Sosial Ekonomi dan Kesehatan Maternal Ekawati, Rindang
Kesmas Vol. 6, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan maternal yang tergolong tinggi di Indonesia merupakan indikator keberhasilan pembangunan pada Millenium Development Goals yang terus diupayakan untuk diperbaiki. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara karakteristik sosial, demografi, dan ekonomi dengan tingkat kesehatan ibu. Penelitian yang menggunakan sumber data sekunder Survei Demografi Kesehatan di Jawa Barat yang mencakup 86 blok sensus yang meliputi 2.150 rumah tangga meliputi 1.100 rumah tangga di perkotaan dan 1.050 rumah tangga di pedesaan. Jumlah sampel terpilih adalah 1.720 wanita pernah kawin berumur 15 – 49 tahun. Analisis data dilakukan secara deskriptif analitik dan uji kai kuadrat. Terdapat hubungan signifikan antara umur ibu, pendidikan ibu, dan indeks kesejahteraan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan oleh tenaga kesehatan. Juga terdapat hubungan yang signifikan antara kesertaan dalam program Keluarga Berencana dengan umur ibu, pendidikan, dan indeks kesejahteraan. Tidak ada hubungan yang signifikan antara kesertaan ber-KB dengan daerah tempat tinggal dan jumlah anak yang masih hidup. Terdapat hubungan signifikan antara tempat persalinan dengan daerah tempat tinggal, tingkat pendidikan ibu, indeks kesejahtaraan, serta jumlah anak yang masih hidup. High level of maternal health in Indonesia is one of Millenium Development Goal’s indicators, so that the government continually put this variable as priority to be improved. This study attempted to know the relationship between social, demographic, and economic characteristics with maternal health. Data source is obtained from Demographic and Health Survey 2007, West Java Province, which included 86 census blocks, 2.150 households. Among 2.150 households, 1.100 live in urban area, while 1.050 in rural area. Total selected sample is 1.720 ever married women aged between 15 – 49 years old. This research using chi-square test to observed whether there is a significant relationship between age, level of education, and wealth indexes with birth attendance. There is also significant relationship between contraceptive use with women’s age, level of education, and level of wealth indexes. While, there is no significant relationship between contraceptive use with place of residence and number of children alive. According to the result, there is significant relationship beetween place of birth delivery with place of residence, level of education, wealth indexes, and number of children alive.
Perbedaan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Perkotaan dan Daerah Terpencil Sarumpaet, Sori M.; Tobing, Bisara L.; Siagian, Albiner
Kesmas Vol. 6, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbaikan pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia berjalan lamban dan tidak merata. Mutu layanan kesehatan sangat bervariasi karena distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu layanan kesehatan ibu dan anak di daerah pedesaan dan perkotaan. Survei ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Mogang yang mewakili daerah terpencil dan Puskesmas Buhit yang mewakili wilayah perkotaan di Kabupaten Samosir. Mutu layanan kesehatan dinilai dengan metode Services Quality. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata- rata skor harapan untuk semua dimensi mutu layanan kesehatan di Puskesmas Buhit dan Puskemas Mogang tinggi. Persepsi pelayanan ke- sehatan oleh pasien di Puskemas Buhit dan Puskesmas Mogang dimensi tangibility, reliability, emphaty, accessibility, dan affordability yang berbeda (p < 0,05). Tidak ada perbedaan persepsi masyarakat terhadap dimensi tangibility, reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty (p > 0,05). Ada perbedaan nyata antara harapan dan kondisi mutu layanan kesehatan yang dipersepsikan oleh masyarakat pengguna puskesmas di wilayah kerja Puskesmas Buhit dan Puskesmas Mogang (p < 0,05). Harapan masyarakat pada pelayanan kesehatan puskesmas yang lebih baik antara masyarakat perkotaan dan pedesaan hampir sama. Hal ini meng- indikasikan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak yang diberikan oleh puskemas belum memenuhi harapan masyarakat. The purpose of the study is to understand the quality of service of mother and child health service in both urban and rural areas in District of Samosir. This cross sectional study was conducted in two health center areas repre- senting rural (Puskesmas Mogang) and urban (Puskesmas Buhit) in District of Samosir. In measuring the quality of service, Servqual concept of Albert Parasuraman was used. Result shows that the score for all expectations are high for all of health service dimension both in Puskesmas Mogang and Puskesmas Buhit. There are differences in perception of patients with re- gard to tangibility, reliability, empathy, accessibility, and affordability (p < 0,05) between those of Puskesmas Buhit and Mogang. There is no differ- ences in perception of community at large both in Mogang and Buhit regarding tangibility, reliability, responsiveness, assurance, and empathy (p > 0,05). There are significant differences on expectation and the reality of health service quality (p < 0,05) as it perceived by the community in both Puskesmas Buhit and Puskesmas Mogang. Community’s expectations of better health services quality are profound in both urban and rural areas. It is concluded that the existing quality of service not meeting the community expectation.
Hubungan Pergantian Waktu Kerja dengan Pola Tidur Pekerja Amran, Yuli; Handayani, Putri
Kesmas Vol. 6, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan tidur dapat dialami oleh setiap orang tanpa mengenal status sosial dan pendidikan. Diperkirakan setiap tahun terdapat 20% – 40% orang dewasa mengalami gangguan tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerapan pergantian waktu kerja (shift) serta beberapa faktor lain terhadap pola tidur pekerja di bagian produksi sebuah PT Enka Parahiyangan tahun 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian pola tidur kurang baik pada kelompok pekerja shift (67,1%) lebih tinggi daripada non-shift (32,9%). Selain itu, didapatkan odds ratio pola tidur pada pekerja shift 7,1 kali jauh lebih tinggi dibandingkan dengan non-shift. Faktor konsumsi kafein dan penggunaan obat tidur terbukti dapat memengaruhi pola tidur dan keduanya terbukti sebagai perancu. Disimpulkan bahwa penerapan shift (pagi, sore, malam) dapat menyebabkan kejadian pola tidur kurang baik lebih tinggi daripada non-shift sehingga perlu dilakukan peninjauan kembali penerapan rotasi shift oleh perusahaan. Pekerja disarankan agar menjaga jadwal tidur, menghindari konsumsi minuman berkafein, serta menggunakan obat tidur. Sleeping disorder could be experiended by everyone without seeing social and education status. Approximately there 20% -40% adults with sleeping disorder per year, 17% of it having serious problems. This study was aimed to explain relationship between working-shift (shift and non-shift) implementation and workers’ sleeping pattern at the production department of a company PT Enka Parahiyangan in the year 2008. The result showed that shift workers that experienced bad sleeping pattern (67,1%) more than non shift workers (32,9%). The risk to odds ratio (OR) of experience bad sleeping pattern were higher among shift workers increased by 7,1 times more than non-shift workers. Caffein and sleeping drug consumption were found influencing sleeping pattern as well as being confounding factors. This study concluded that implemenation of working shift (day, evening, night) affect sleeping pattern negatively among shift workers. It is recommended that to review working shift rotation, advice workers to maintain sleeping schedule, and avoid taking caffein and sleeping drug.
Pengaruh Pelayanan Kesehatan terhadap Gizi Buruk Anak Usia 6 _ 24 Bulan Kusumawati, Erna; Rahardjo, Setiyowati
Kesmas Vol. 6, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gizi kurang dan gizi buruk merupakan penyebab kematian sekitar 55% anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia. Kelompok usia 6 – 24 bulan merupakan masa kritis anak karena selain merupakan periode pertumbuhan kritis juga karena kegagalan tumbuh mulai terlihat. Tujuan penelitian ini adalah menilai faktor risiko gizi buruk anak usia 6 – 24 bulan dalam upaya mengendalikan pencegahan dan pengendalian gizi buruk. Penelitian menggunakan rancangan studi kasus kontrol pendekatan retrospektif. Faktor risiko yang berpengaruh adalah pemanfaatan pelayanan kesehatan (odds ratio, OR = 12,5), penyakit infeksi (OR = 4,04), pola asuh makan (OR = 4,8); dan pendapatan keluarga (OR = 5,8). Peningkatan status gizi anak diupayakan dengan meningkatkan peran posyandu dan ibu dalam upaya pencegahan penyakit infeksi serta mensosialisasikan menu gizi seimbang agar anak dapat tumbuh dan kembang secara optimal. Malnutrition is the cause of death of about 55% of children under the age of five worldwide. A critical period happen on children aged between 6 and 24 months because those ranges of age groups indicate extremely serious condition regarding their growth. The objective of this research was to identify risk factors for the occurrence of malnutrition on children between 6 and 24 months at the Health Center of Kembaran I, Banyumas Regency as an effort to develop a model for controlling them. This research used a case control design with a retrospective approach towards eighty-six children. Data was analyzed using univariate, bivariate and multivariate (logistic regression) methods The risk factors that influenced to the occurrence of malnutrition were the use of health services (odds ratio, OR = 12,5); infectious diseases (OR = 4,04); eating pattern (OR = 4,8); and family income (OR = 5,8). As a suggestion, to improve a nutrition status on children, it needs to increase roles of an integrated services post and roles of mothers as efforts to prevent infectious diseases and socialize balanced nutrition menu to achieve a child’s growth and development optimally.
Dampak Rehabilitasi Medis pada Penyandang Disabilitas Kusta Nasution, Sylvia; Ngatimin, M. Rusli; Syafar, Muhammad
Kesmas Vol. 6, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada periode tahun 2004 _ 2007, penderita baru disabilitas kusta tingkat II kerusakan syaraf sebanyak 8,6% _ 8,7% kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2008 (9,6%) dan 2009 (10,27%) jauh di atas target (< 5%). Hal ini mengindikasikan keterlambatan penemuan kasus. Penelitian bertujuan untuk menilai dampak kondisi fisik, psikologi, sosial, dan ekonomi pascatindakan rehabilitasi medis di Rumah Sakit Dr. Tadjuddin Chalid Makassar. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan rancangan studi kasus bermula dari kasus penyandang disabilitas kusta yang menjalani tindakan medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rehabilitasi medis dapat mengatasi luka kronis, memperbaiki tampilan fisik, fungsi, dan meningkatkan kemampuan anggota tubuh untuk aktivitas sehari-hari. Secara psikologis, mereka merasa senang, puas, rasa percaya diri meningkat, tetapi ada juga yang merasa sedih, malu, dan minder karena kehilangan anggota tubuh. Mereka dapat diterima oleh keluarga dan lingkungan sekitar, tetapi ada juga yang memilih hidup dalam koloni kusta. Mereka melakukan perubahan dan kekuatan bekerja yang lama sesuai dengan kondisi kecacatan, kemampuan, dan keterampilan pascarehabilitasi medis. Kondisi psikologis, sosial, dan ekonomi masih dipengaruhi oleh stigma yang telah ada sejak menderita kusta. This aim of the study was to assess the impact of a variety of physical, psychological, sosial and economic after medical rehabilitation measures in Dr. Tadjuddin Chalid hospital Makassar. This study used qualitative methods with case study design, which departed from cases of leprosy disabled patients who had undergone medical treatment. The results showed that medical rehabilitation can overcome chronic wounds, improve physical appearance, function and increase the ability of the body for daily activities. Psychologically, people with leprosy disabilities feel happy, satisfied, selfconfidence increases, there is also feeling sad, ashamed and insecure due to loss of limbs disabled leprosy patients can be accepted by the family and the environment, sosial shame because there is loss of limbs, some choose to live in leper colonies. Leprosy disability person had changed the way to work and earn money, length of working and strength adapted to the conditions of disability, ability and skills of post-medical rehabilitation. Psychological condition, sosial and economic disability post-medical rehabilitation of leprosy is still influenced by the stigma that has existed since suffered from leprosy.
Reimplantasi Lensa Setelah Komplikasi Operasi Katarak Simanjuntak, Gilbert W. S.
Kesmas Vol. 6, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ada keterbatasan laporan implementasi lensa intraokuler sekunder di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melaporkan hasil implementasi lensa intraokuler sekunder di Rumah Sakit Communion of Churches in Indonesia (CCI) Cikini, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia Jakarta. Penelitian dengan sumber data sekunder rekam medis pasien dengan bedah inclusi eventful dengan atau tanpa implementasi lensa dan setiap komplikasi post operasi, termasuk penurunan penglihatan dan inflamasi katarak. Segmen anterior dan posterior diperiksa secara menyeluruh dan dicatat. Sinechiolisis dilakukan 360o dan viskoelastik disuntikkan untuk membuka ruangan antara iris dan kapsul rensi remain. Remain vitreous di depan chamber dipotong dan diangkat. Intraocular lens (IOL) ditanam di sulkus. Hasilnya yaitu ada 8 pasien yang memenuhi kriteria inklusi yang kemudian dievaluasi (50% adalah pria), 6 pasien underwent extracapsular catarac extraction (ECCE), dan 2 pasien underwent phacoemulsification before. Semua pasien mempunyai kornea sentral yang jernih. Ada 5 pasien dengan Jakarta. Penelitian dengan sumber data sekunder rekam medis pasien dengan bedah inclusi eventful dengan atau tanpa implementasi lensa dan setiap komplikasi post operasi, termasuk penurunan penglihatan dan inflamasi katarak. Segmen anterior dan posterior diperiksa secara menyeluruh dan dicatat. Sinechiolisis dilakukan 360o dan viskoelastik disuntikkan untuk membuka ruangan antara iris dan kapsul rensi remain. Remain vitreous di depan chamber dipotong dan diangkat. Intraocular lens (IOL) ditanam di sulkus. Hasilnya yaitu ada 8 pasien yang memenuhi kriteria inklusi yang kemudian dievaluasi (50% adalah pria), 6 pasien underwent extracapsular catarac extraction (ECCE), dan 2 pasien underwent phacoemulsification before. Semua pasien mempunyai kornea sentral yang jernih. Ada 5 pasien dengan cadalah 56,3 + 18,5 tahun. Rata-rata best corrected visual acuity (BCVA) sebelum operasi 0,33 + 0,26 dan setelah operasi 0,89 + 0,16 (p = 0,000). Rata-rata intraocular pressure (IOP) adalah 20,25 + 8,2 dan 15,25 + 3,5 mmHg sebelum dan sesudah operasi secara berurutan (p = 0,140). Pemantauan dilakukan 1 - 60 bulan. Implementasi IOL sekunder dapat memperbaiki penglihatan dan mengurangi subjektif dan temuan klinik setelah operasi katarak sebelumnya. There are limited reports of secondary intraocular lens implantation in Indonesia. The purpose of study is to report the result of secondary intraocular lens implantation in Cikini Communion of Churches in Indonesia (CCI) Hospital/Faculty of Medicine University Universitas Kristen Indonesia Jakarta. Retrospective study of medical records of patients with inclusion eventful cataract surgery with or without lens implantation with any complications postoperatively, including reduced vision and inflammation. Anterior and posterior segment findings were examine thoroughly and recorded. Synechiolysis done 360 degree and viscoelastic injected to open space between iris and remain lens capsule. Remain vitreous in anterior chamber cut and removed. Intraocular lens (IOL) implanted in the sulcus. There are 8 patients that fulfills inclusion criteria which then evaluated (50% are men), 6 patients underwent extracapsular catarac extraction (ECCE), and 2 patients underwent phacoemulsification before. All patient have clear central cornea. There are 5 patients with uveitis and vitreous opacity. There are 1 patients with (AC IOL), 2 patients with (PC IOL) dislocated some part to vitreous cavity and the rest aphakic. All surgical procedures were done under local retrobulbar anesthesia and IOL implanted in the sulcus without fixation. Mean age were 56,3 + 18,5 years. Mean best corrected visual acuity (BCVA) preoperatively 0,33 + 0,26 and postoperatively 0,89 + 0,16 (p = 0,000). Mean intraocular pressure (IOP) were 20,25 + 8,2 and 15,25 + 3,5 mmHg pre and post operative respectively (p = 0,140). Follow up was 1 - 60 months. Secondary IOL implantation can improve vision and reduce subjective and clinical findings after remarkable cataract surgery.
Kebersihan Diri dan Sanitasi Rumah pada Anak Balita dengan Kecacingan Yudhastuti, Ririh; D. Lusno, M. Farid
Kesmas Vol. 6, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, prevalensi kecacingan berada pada kisaran 45% - 65% dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. Berbagai cacing yang menginfeksi anak berusia di bawah 12 tahun dengan prevalensi tinggi meliputi Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale, Necator americanus, dan Enterobius vermicularis. Infeksi cacing perut diduga menyebar melalui sanitasi lingkungan dan higiene perorangan yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lingkungan rumah dan kejadian kecacingan pada anak di bawah lima tahun (balita). Penelitian dilaksanakan pada anak balita di Kampung Keputih Kecamatan Sukolilo Surabaya selama bulan Maret – Mei 2010 dengan desain penelitian kasus kontrol terhadap 51 kasus dan 51 kontrol. Pengumpulan data melalui pemeriksaan laboratorium, wawancara, dan observasi. Analisis data dengan uji chi square dan regresi logistik. Prevalensi kejadian kecacingan dengan pemeriksaan tinja pada anak balita adalah 9,8%. Faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada anak balita adalah keberadaan sarana sanitasi (jamban) (OR = 5,245), kebiasaan buang air besar (BAB) (OR = 4,821), masih adanya lantai tanah (OR = 5,342), kebiasaan cuci tangan setelah BAB (OR = 4,654), dan pengetahuan ibu tentang kecacingan (OR = 2,425). Disarankan untuk pengadaan jamban yang memenuhi syarat kesehatan dan plester rumah, meningkatkan penyuluhan pada orang tua balita dan kader kesehatan tentang kejadian kecacingan. In Indonesia, helminthiasis is still a public health problem due to its prevalence. The prevalence is 45% - 65%. The species of helminthes whom infecting children under 12 years old are Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale, Necator americanus, and Enterobius vermicularis. It suspected that infestation of helmint can transmit through lack of environment sanitation and personal hygiene. The objective of research was analyze an association between housing environmental and helminthiasis among students of early childhood age. This research conducted since March until May 2010 with case control design and sample size was 51 subjects for cases and 51 subjects for control. Data analysis used chi square test and logistic regression. The prevalence of helminthiasis with feces examination among the students was 9,8%. The factors associated with helminthiasis were presence of latrines (OR = 5,245), defecation habits (OR = 4,821), type of floor (OR = 5,342), washing hands after defecation (OR = 4,654), and parental knowledge (OR = 2,425). It’s appleated to provide a close with good standard of environmental health, making the cement floor, increase knowledge about helminthiasis and the risk factors
Mitigasi Kebakaran melalui Masyarakat Nasution, Yusran
Kesmas Vol. 6, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya dini pencegahan kebakaran telah mampu menurunkan risiko kecelakaan di lingkungan permukiman padat perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dalam mitigasi kebakaran, menilai bentuk-bentuk penanggulangan kebakaran di masyarakat dan mengembangkan model berbasis masyarakat dalam mitigasi kebakaran. Kelompok diskusi terarah dilakukan pada 130 informan yang terdiri dari unsur-unsur rukun tetangga, rukun warga, pembinaan kesejahteraan keluarga, perlindungan masyarakat atau pertahanan sipil, tokoh masyarakat, dewan kelurahan, karang taruna, dan anggota barisan sukarelawan kebakaran (Balakar). Seluruh informan menilai bahwa masyarakat perlu memiliki tujuan bersama dan motivasi yang kuat untuk mencegah kebakaran guna menurunkan risiko kebakaran serta mencegah dan meminimalkan korban. Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat yang telah dilakukan dalam mencegah kebakaran adalah saling mengingatkan warga lain tentang bahaya kebakaran, remaja dan hansip mengikuti pelatihan Balakar di kelurahan dan setelah pelatihan mempersiapkan kelompok remaja sebagai pelopor yang bergerak memadamkan api saat terjadi kebakaran, serta mempraktekkan perilaku aman saat menggunakan peralatan listrik dan kompor di rumah. Namun demikina, informan belum memiliki suatu model berbasis masyarakat yang khusus menangani kebakaran, kecuali Balakar. Melalui pengembangan model berbasis komunitas ini diharapkan kejadian kebakaran dapat diminimalisir sehingga kejadian kebakaran tidak meningkat pada masa mendatang. The efforts on fire prevention and early fire fighting can reduce fire risk mainly in urban slum area. The research objectives were to identify needs community on fire mitigation, to assess types of fire controlling in community, and to develop community-based model in fire mitigation. Focus group discussions were conducted in 130 informants consisted of RT, RW, PKK, linmas/hansip, community leaders, dewan kelurahan, youth organization, and balakar members. All informants considered that community should have the similar objective and strong motivation on fire prevention to reduce fire cases, and also to minimize the number of victims. There were a lot of types of preventive efforts on fire cases i.e. reminding other people on fire dangers, youth people and security staffs involved in balakar training at village office, and practicing safe behavior when using electrical tools/kits and stove at home. However, some informants said that they had no specific other community based model on fire prevention, except balakar. By developing community based model, it can reduce fire cases in order not to increase anymore in future.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20, No. 5 Vol. 20, No. 3 Vol. 20, No. 2 Vol. 20, No. 1 Vol. 19, No. 5 Vol. 19, No. 4 Vol. 19, No. 3 Vol. 19, No. 2 Vol. 19, No. 1 Vol. 18, No. 5 Vol. 18, No. 4 Vol. 18, No. 3 Vol. 18, No. 2 Vol. 18, No. 1 Vol. 17, No. 5 Vol. 17, No. 4 Vol. 17, No. 3 Vol. 17, No. 2 Vol. 17, No. 1 Vol. 16, No. 5 Vol. 16, No. 4 Vol. 16, No. 3 Vol. 16, No. 2 Vol. 16, No. 1 Vol. 15, No. 5 Vol. 15, No. 4 Vol. 15, No. 3 Vol. 15, No. 2 Vol. 15, No. 1 Vol. 14, No. 2 Vol. 14, No. 1 Vol. 13, No. 4 Vol. 13, No. 3 Vol. 13, No. 2 Vol. 13, No. 1 Vol. 12, No. 4 Vol. 12, No. 3 Vol. 12, No. 2 Vol. 12, No. 1 Vol. 11, No. 4 Vol. 11, No. 3 Vol. 11, No. 2 Vol. 11, No. 1 Vol. 10, No. 4 Vol. 10, No. 3 Vol. 10, No. 2 Vol. 10, No. 1 Vol. 9, No. 4 Vol. 9, No. 3 Vol. 9, No. 2 Vol. 9, No. 1 Vol. 8, No. 8 Vol. 8, No. 7 Vol. 8, No. 6 Vol. 7, No. 12 Vol. 7, No. 11 Vol. 7, No. 10 Vol. 8, No. 5 Vol. 8, No. 4 Vol. 8, No. 3 Vol. 8, No. 2 Vol. 8, No. 1 Vol. 7, No. 9 Vol. 7, No. 8 Vol. 7, No. 7 Vol. 7, No. 6 Vol. 7, No. 1 Vol. 7, No. 5 Vol. 7, No. 4 Vol. 7, No. 3 Vol. 7, No. 2 Vol. 6, No. 6 Vol. 6, No. 5 Vol. 6, No. 4 Vol. 6, No. 3 Vol. 6, No. 2 Vol. 6, No. 1 Vol. 5, No. 6 Vol. 5, No. 5 Vol. 5, No. 4 Vol. 5, No. 3 Vol. 5, No. 2 Vol. 5, No. 1 Vol. 4, No. 6 Vol. 4, No. 5 Vol. 4, No. 4 Vol. 4, No. 3 Vol. 4, No. 2 Vol. 4, No. 1 Vol. 3, No. 6 Vol. 3, No. 5 Vol. 3, No. 4 Vol. 3, No. 3 Vol. 3, No. 2 Vol. 3, No. 1 Vol. 2, No. 6 Vol. 2, No. 5 Vol. 2, No. 4 Vol. 2, No. 3 Vol. 2, No. 2 Vol. 2, No. 1 Vol. 1, No. 6 Vol. 1, No. 5 Vol. 1, No. 4 Vol. 1, No. 3 Vol. 1, No. 2 Vol. 1, No. 1 More Issue