cover
Contact Name
Joni Setiawan
Contact Email
setiawanjoni@gmail.com
Phone
+628151657716
Journal Mail Official
redaksi.dkb@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kusumanegara No. 7 Yogyakarta, Indonesia 55166
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah
ISSN : 20874294     EISSN : 25286196     DOI : https://doi.org/10.22322/dkb.v42i1
Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH is an open-access journal published by Center for Handicraft and Batik, Ministry of Industry as scientific journal to accommodate current topics related to include materials research and development, production processes, waste treatment management, designs and entrepreneur of handicrafts and batik. Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH publishes communications, articles, and reviews. The first volume of DKB has been published in 1987 and continued until today with 2 (two) issues of publication each year. The number of articles for each issue is 9 (nine) articles. The official language of the journal is Bahasa Indonesia, but manuscripts in English are also welcomed. Manuscript submission and reviewing process is fully conducted through online journal system, using a double-blind review process
Articles 308 Documents
Penelitian Nilai Beban Pencemaran Pada Beberapa Ekstrak Zat Warna Alam Lestari, Kun; Sulaeman, Sulaeman
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i18.1091

Abstract

Zat Pewarna Alam (ZWA) akan direkomendasikan sebagai pewarna yang ramah baik bagi lingkungan maupun kesehatan, disebabkan karena kandungan komponen alaminya mempunyai nilai beban pencemaran yang rendah, mudah terdegradasi secara biologis dan tidak beracun. Pernyataan tersebut perlu diyakinkan kebenarannya. Telah dilakukan pengujian terhadap ekstrak pekat (0,75-1,00° Be) dari 13 jenis sumber ZWA dari beberapa daerah di Indonesia yaitu: bakau, secang. sonokeling. bayam, markisa. bengkirai, nangka, pinus, kruing, kara benguk, tingi, tegeran dan mengkudu. Bahan pencemaran dinyatakan terhadap nilai BOD5, COD dan kandungan Fe (besi) dalam ekstrak pekat yang telah tersimpan selama ±12 bulan. Dari hasil pengujian terlihat bahwa kadar BOD5 dan COD dari 13 jenis ekstrak ZWA mempunyai nilai 1700 mg/l. Tujuh jenis ekstrak ZWA yaitu ekstrak dari kayu nangka, kayu pinus. kayu kruing, kulit kara benguk, kulit kayu tingi, kayu tegeran dan akar mengkudu mempunyai nilai BOD5 dan COD 1000 mg/l, sedangkan ekstrak kulit batang bakau, kayu secang, kayu sonokeling, kayu buyam, kulit buah markisa dan kayu bengkirai mempunyai nilai BOD5 dan COD antara 1100 - 1700 mg/I. Dibandingkan dengan beban pencemaran yang diakibatkan oleh limbah cair pada pencelupan batik menggunakan zat warna sintetis (ZWS) seperti Indigosol yang mempunyai nilai BOD5 = 3.053 mg/I, COD = 10.230 mg/I, dan Naphtol yang mempunyai nilai BOD5 = 5.411 mg/I, COD= 19.921 mg/I maka beban pencemaran ekstrak pekat ZWA masih jauh lebih kecil. Melihat perbandingan COD/BOD5 (=1,3-1,6), beban pencemaran ekstrak pekat ZWA dapat dikelompokkan ke dalam golongan air limbah rumah tangga (COD/BOD5 (2).Zat Pewarna Alam (ZWA) akan direkomendasikan sebagai pewarna yang ramah baik bagi lingkungan maupun kesehatan, disebabkan karena kandungan komponen alaminya mempunyai nilai beban pencemaran yang rendah, mudah terdegradasi secara biologis dan tidak beracun. Pernyataan tersebut perlu diyakinkan kebenarannya. Telah dilakukan pengujian terhadap ekstrak pekat (0,75-1,00° Be) dari 13 jenis sumber ZWA dari beberapa daerah di Indonesia yaitu: bakau, secang. sonokeling. bayam, markisa. bengkirai, nangka, pinus, kruing, kara benguk, tingi, tegeran dan mengkudu. Bahan pencemaran dinyatakan terhadap nilai BOD5, COD dan kandungan Fe (besi) dalam ekstrak pekat yang telah tersimpan selama ±12 bulan. Dari hasil pengujian terlihat bahwa kadar BOD5 dan COD dari 13 jenis ekstrak ZWA mempunyai nilai 1700 mg/l. Tujuh jenis ekstrak ZWA yaitu ekstrak dari kayu nangka, kayu pinus. kayu kruing, kulit kara benguk, kulit kayu tingi, kayu tegeran dan akar mengkudu mempunyai nilai BOD5 dan COD 1000 mg/l, sedangkan ekstrak kulit batang bakau, kayu secang, kayu sonokeling, kayu buyam, kulit buah markisa dan kayu bengkirai mempunyai nilai BOD5 dan COD antara 1100 - 1700 mg/I. Dibandingkan dengan beban pencemaran yang diakibatkan oleh limbah cair pada pencelupan batik menggunakan zat warna sintetis (ZWS) seperti Indigosol yang mempunyai nilai BOD5 = 3.053 mg/I, COD = 10.230 mg/I, dan Naphtol yang mempunyai nilai BOD5 = 5.411 mg/I, COD= 19.921 mg/I maka beban pencemaran ekstrak pekat ZWA masih jauh lebih kecil. Melihat perbandingan COD/BOD5 (=1,3-1,6), beban pencemaran ekstrak pekat ZWA dapat dikelompokkan ke dalam golongan air limbah rumah tangga (COD/BOD5 (2).
Efisiensi Alat Pelubang Pada Industri Kerajinan Sangkar Pristiwati, Endang; Hastuti, Lies Susilaning Sri
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i18.1092

Abstract

Proses pelubangan pada industri sangkar pada umumnya dilakukan dengan menggunakan bor tangan yang dioperasikan secara manual. Pengaturan jaraknya menggunakan mal/pola yang diletakan disamping bahan yang akan dilubang. Dengan demikian kapasitas pelohungannya rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, telah dilakukan upaya pengembangan alat pelubang khususnya untuk kerajinan sangkar yaitu dengan memodifikasi bor tangan dengan penghantar yang dilengkapi dengan tangkai yang berfungsi sebagui pegangan saat akan menggerakan bahan dan sekaligus mengatur jarak lubangnya yang digerakkan dengan tenaga listrik. Dari hasil uji coba laboratorium alat ini telah dapat memperbaiki sistem yang telah ada. Untuk dapat mengetahui kelayakkan dari alat ini dilakukan uji coba di lapangan. Hasil ujl coba menunjukkan bahwa dengan alat pelubang hasil modifikasi tersebut dapat mempercepat proses pelubangan sampai tiga (3) kali, tidak memerlukan ketrampilan khusus dan kecermatan yang tinggi, tidak memerlukan mal, serta lubang bisa tepat ditengah.Proses pelubangan pada industri sangkar pada umumnya dilakukan dengan menggunakan bor tangan yang dioperasikan secara manual. Pengaturan jaraknya menggunakan mal/pola yang diletakan disamping bahan yang akan dilubang. Dengan demikian kapasitas pelohungannya rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, telah dilakukan upaya pengembangan alat pelubang khususnya untuk kerajinan sangkar yaitu dengan memodifikasi bor tangan dengan penghantar yang dilengkapi dengan tangkai yang berfungsi sebagui pegangan saat akan menggerakan bahan dan sekaligus mengatur jarak lubangnya yang digerakkan dengan tenaga listrik. Dari hasil uji coba laboratorium alat ini telah dapat memperbaiki sistem yang telah ada. Untuk dapat mengetahui kelayakkan dari alat ini dilakukan uji coba di lapangan. Hasil ujl coba menunjukkan bahwa dengan alat pelubang hasil modifikasi tersebut dapat mempercepat proses pelubangan sampai tiga (3) kali, tidak memerlukan ketrampilan khusus dan kecermatan yang tinggi, tidak memerlukan mal, serta lubang bisa tepat ditengah.
Tekno Ekonomi Uji Coba Alat Pembuat Kancing Tempurung Pristiwati, Endang; Rufaida, Evi Yuliati
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i19.1094

Abstract

Tempurung kelapa mempunyai sifat fisik yang menarik dan cocok dimanfaatkan menjadi produk kerajinan khususnya kerajinan perhiasan atau perabot busana. Salah satu barang kerajinan yang dapat dibuat dari tempurung kelapa adalah kancing baju untuk busana ataupun kancing untuk asesoris tas. Pembuatan kancing tempurung dengan menggunakan alat hasil rekayasa Balai Besar Industri Kerajinan dan Batik yang terdiri dari 3 unit alat, yaitu alat pengeplong, alat pelubang dan alat bubut. Untuk mengetahui kelayakan operasional dari alat tersebut maka perlu dilakukan uji coba dan analisa secara tekno ekonominya.Hasil pengujian alat menunjukkan bahwa 1 jam dapat membuat kancing tempurung sebanyak 12,43 set. Kapasitas produksi perhari sebanyak 87 set kancing tempurung rangkap dengan tenaga kerja 5 orang. Alat hasil rekayasa tersebut akan mencapai efektifitas dan efisiensi dengan spesialisasi dalam proses produksinya, yaitu 1 orang spesialisasi dalam proses plong dan bur dan 4 orang spesialisasi dalam pembubutan. Perhitungan ekonomi uji coba a/at tersebut sebagai berikut : - Total modal Rp. 4.752.150,- - Biaya produksi Rp. 6.426.050,-- Jumlah produksi 6.525 set per 3 bulan - Harga jual perset sekitar Rp. 1.350 .-- Hasil penjualan per 3 bulan Rp. 8.808. 750,- - Keuntungan sebelum pajak Rp. 2.382. 700,- - Prosentase keuntungan 50,14 % - Waktu pengembalian modal 5,6 bulan - Prosentase batas rugi laba 65,2 %- Harga jual perset sekitar Rp.1.350 ,-Tempurung kelapa mempunyai sifat fisik yang menarik dan cocok dimanfaatkan menjadi produk kerajinan khususnya kerajinan perhiasan atau perabot busana. Salah satu barang kerajinan yang dapat dibuat dari tempurung kelapa adalah kancing baju untuk busana ataupun kancing untuk asesoris tas. Pembuatan kancing tempurung dengan menggunakan alat hasil rekayasa Balai Besar Industri Kerajinan dan Batik yang terdiri dari 3 unit alat, yaitu alat pengeplong, alat pelubang dan alat bubut. Untuk mengetahui kelayakan operasional dari alat tersebut maka perlu dilakukan uji coba dan analisa secara tekno ekonominya.Hasil pengujian alat menunjukkan bahwa 1 jam dapat membuat kancing tempurung sebanyak 12,43 set. Kapasitas produksi perhari sebanyak 87 set kancing tempurung rangkap dengan tenaga kerja 5 orang. Alat hasil rekayasa tersebut akan mencapai efektifitas dan efisiensi dengan spesialisasi dalam proses produksinya, yaitu 1 orang spesialisasi dalam proses plong dan bur dan 4 orang spesialisasi dalam pembubutan. Perhitungan ekonomi uji coba a/at tersebut sebagai berikut : - Total modal Rp. 4.752.150,- - Biaya produksi Rp. 6.426.050,-- Jumlah produksi 6.525 set per 3 bulan - Harga jual perset sekitar Rp. 1.350 .-- Hasil penjualan per 3 bulan Rp. 8.808. 750,- - Keuntungan sebelum pajak Rp. 2.382. 700,- - Prosentase keuntungan 50,14 % - Waktu pengembalian modal 5,6 bulan - Prosentase batas rugi laba 65,2 %- Harga jual perset sekitar Rp.1.350 ,-
Pengaruh Anyaman Kain Bahan Polis Terhadap Efektivitas Proses Pengkilapan Perak Machmud, Djumala
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i19.1095

Abstract

Proses pengkilapan perak banyak menggunakan cakram/polis dari kain blacu dan kain jeans/denim sehingga diperlukan pengkajian efektifitasnya.Kain blacu dan kain jeans/denim mempunyai anyaman berbeda sehingga karakter kedua kain tersebut tidak sama, kain blacu lebih kaku dari pada kain jeans. Perbedaan kedua sifat kain dalam perlakuan proes pengkilapan yang sama akan diperoleh tingkat kilau perak yang berbeda. Cakram/polis dibuat dari kain blacu dan kain jeans dengan ukuran ∅ 20 cm dan tebal 2,5 cm. Masing-masing mempunyai 2 buah jahitan melingkar dengan jarak jahitan (stitch) 0,5 cm. Kedua bahan polis dipakai untuk mengkilapkan perak berbentuk plat yang kemudian diuji kilaunyaKilau perak yang terjadi oleh polis dari kain blacu menghasilkan kilau pada skala 17.65 dan polis dari kain jeans menghasilkan kilau pada skala 19,35.Proses pengkilapan perak banyak menggunakan cakram/polis dari kain blacu dan kain jeans/denim sehingga diperlukan pengkajian efektifitasnya.Kain blacu dan kain jeans/denim mempunyai anyaman berbeda sehingga karakter kedua kain tersebut tidak sama, kain blacu lebih kaku dari pada kain jeans. Perbedaan kedua sifat kain dalam perlakuan proes pengkilapan yang sama akan diperoleh tingkat kilau perak yang berbeda. Cakram/polis dibuat dari kain blacu dan kain jeans dengan ukuran ∅ 20 cm dan tebal 2,5 cm. Masing-masing mempunyai 2 buah jahitan melingkar dengan jarak jahitan (stitch) 0,5 cm. Kedua bahan polis dipakai untuk mengkilapkan perak berbentuk plat yang kemudian diuji kilaunyaKilau perak yang terjadi oleh polis dari kain blacu menghasilkan kilau pada skala 17.65 dan polis dari kain jeans menghasilkan kilau pada skala 19,35.
Perbedaan Kain Sarong Plekat Dengan Kain Sarong Poleng; Serta Teknik Pembuatannya Machmud, Djumala
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i19.1097

Abstract

Indonesia mempunyai populasi penduduk yang cukup besar dimana mayoritas beragama Islam. Salah satu sarana peribadatan dalam agama Islam secara tradisi adalah menggunakan kain sarong. Berbagai jenis kain sarong yang diproduksi, terdapat dua macam kain tersebut sekilas tidak terdapatnya perbedaan yang menyolok. Akan tetapi keduanya mempunyai ketidaksamaan apabila dikaji lebih mendalam.Kain sarong merupakan kain yang mempunyal bentuk konstruksi tertentu seperti: tepi, pinggir, corak dasar, corak kembang serta tumpal/kepala, yang dihasilkan dari proses pertenunan benang berwarna maupun basil proses pengecapan. Kain sarong plekat dan poleng merupakan kain sarong hasil proses pertenunan benang berwarna polos, yang mana masing-masing mempunyai disain kotak-kotak dengan konstruksi yang tidak berbeda.Penelitian dilakukan dengan mengevaluasi hasil produksi kain sarong plekat dan sarong poleng dari berbagai perusahaan kain sarong di Indonesia. Evaluasi yamg dilakukan meliputi ukuran, konstruksi dan disain corak kain sarong. Kemudian dilakukan analisa guna mendapatkan kejelasan perbedaannya. Hasil evaluasi menunjukan 'bahwa ukuran dan konstruksi kain sarong tersebut tidak adanya perbedaan, akan tetapi terdapat perbedaan yang menyolok pada disain coraknya. Perbedaan tersebut terdapat pada susunan corak badan dan susunan corak tumpal/kepala.Indonesia mempunyai populasi penduduk yang cukup besar dimana mayoritas beragama Islam. Salah satu sarana peribadatan dalam agama Islam secara tradisi adalah menggunakan kain sarong. Berbagai jenis kain sarong yang diproduksi, terdapat dua macam kain tersebut sekilas tidak terdapatnya perbedaan yang menyolok. Akan tetapi keduanya mempunyai ketidaksamaan apabila dikaji lebih mendalam.Kain sarong merupakan kain yang mempunyal bentuk konstruksi tertentu seperti: tepi, pinggir, corak dasar, corak kembang serta tumpal/kepala, yang dihasilkan dari proses pertenunan benang berwarna maupun basil proses pengecapan. Kain sarong plekat dan poleng merupakan kain sarong hasil proses pertenunan benang berwarna polos, yang mana masing-masing mempunyai disain kotak-kotak dengan konstruksi yang tidak berbeda.Penelitian dilakukan dengan mengevaluasi hasil produksi kain sarong plekat dan sarong poleng dari berbagai perusahaan kain sarong di Indonesia. Evaluasi yamg dilakukan meliputi ukuran, konstruksi dan disain corak kain sarong. Kemudian dilakukan analisa guna mendapatkan kejelasan perbedaannya. Hasil evaluasi menunjukan 'bahwa ukuran dan konstruksi kain sarong tersebut tidak adanya perbedaan, akan tetapi terdapat perbedaan yang menyolok pada disain coraknya. Perbedaan tersebut terdapat pada susunan corak badan dan susunan corak tumpal/kepala.
PENGEMBANGAN TEKNIK TRITIK JUMPUTAN DENGAN SISTEM LIPAT IKAT DAN LIPAT JELUJUR Ristiani, Suryawati
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v33i1.1102

Abstract

ABSTRAKTritik jumputan adalah proses pewarnaan rintang pada kain dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu. Pada umumnya motif yang dihasilkan dari teknik tritik jumputan adalah bulat-bulat dan garis berupa motif  seperti biji mentimun berderet. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan teknik tritik jumputan sehingga menghasilkan motif selain bulat dan garis. Metode yang digunakan dalam  kegiatan ini  adalah  metode ujicoba  pengembangan tritik jumputan dengan teknik lipat ikat dan lipat jelujur. Hasil ujicoba dianalisa secara kualitatif dengan pengamatan visual dan uji kesukaan. Analisa kuantitatif dilakukan melalui uji laboratorium dan uji kesukaan berdasarkan pengukuran Likert dengan skala 5. Kegiatan ini menghasilkan enam belas teknik lipat tritik jumputan yang terdiri dari sembilan teknik lipat ikat dan tujuh teknik lipat jelujur. Hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian, keringat, cahaya, dan penekanan panas pada kain warna sintetis maupun alam menunjukkan rata-rata 4-5 (baik). Hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap gosokan menunjukkan  rata-rata  3-4 (cukup baik). Hasil uji kesukaan terhadap 10 sampel produk jumputan teknik lipat, menunjukkan bahwa rata-rata responden menilai bagus, dengan nilai rata-rata 116,4.Kata kunci: Teknik lipat, kain, pewarnaan, tritik jumputan ABSTRACT Tritik jumputan is resist dyeing technique on textiles by using rope, yarn or others as resisting materials, following certain motifs. The most common motifs of tritik jumputan are circles and lines, such as a row of cucumber seeds. The purpose of this research is to develop tritik jumputan techniques to produce motif other than circles and lines. The method of this research is experimental exploration of tritik Jumputan motif with folded tie and folded hem technique. The results are analyzed qualitatively by visual observation, being watched with eyes (observe) and preference test. Quantitative analysis were conducted through laboratory and preference test based on the 5-point Likert scale. This research produces sixteen new innovations of tritik jumputan techniques, namely: nine folded tie technique and seven  folded hem technique.The average test results of color fastness to washing, perspiration, light, and heat presseson synthetic or natural color fabricare 4-5 (good). The average results of color fastness to rubbing are 3-4 (rather good). The preference test results for 10 samples of jumputan with folded tie technique show good responds, with an average score of 116,4. Keywords: Folded technique, fabrics, dyeing, tritik jumputan.
Modifikasi Alat Uji Ketahanan Luntur Warna Terhadap Cahaya Matahari Djumala Machmud Machmud, Djumala
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i19.1104

Abstract

Industri kecil batik maupun tekstil kerajinan merupukan industri padat karya yang harus dilestarikan keberadaannya karena sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Industri tersebut dalam menjaga kontinuitas kwalitas hasil produksinya membutuhkan sarana peralatan sederhana untuk pengujian ketahanan luntur warna terhadap sinar matahari. Posisi keberadaan matahari di Indonesia yang selalu berubah membutuhkan sarana peralatan yang dengan leluasa dapat dipindah-pindah dan diatur sudut kemiringannya agar dapat menerima sinar. Peralatan terbuat dari bahan sederhana berupa tempat penyimpanan contoh uji yang dapat matahari secara langsung dengan sudut yang tepat kemiringannya dan secara keseluruhan dapat dipindahkan lokasinya. Kemiringan diatur dengan teknik tuas sliding pada kedua samping tempat contoh uji yang dapat berayun pada engsel/as dan bertumpu pada kerangka. Kerangka peralatan berdiri diatas empat buah roda agar dengan mudah dapat dipindah-pindahkan dari satu lokasi kelokasi yang lain. Teknik pengerjaan pembuatan peralatan dilakukan sesuai standar teknik pengujian yang berlaku.Unjuk kerja peralatan memperlihatkan bahwa peralatan dapat dipergunakan sebagai mana fungsinya dengan biaya pembuatan masih terjangkau oleh pengrajin.Industri kecil batik maupun tekstil kerajinan merupukan industri padat karya yang harus dilestarikan keberadaannya karena sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Industri tersebut dalam menjaga kontinuitas kwalitas hasil produksinya membutuhkan sarana peralatan sederhana untuk pengujian ketahanan luntur warna terhadap sinar matahari. Posisi keberadaan matahari di Indonesia yang selalu berubah membutuhkan sarana peralatan yang dengan leluasa dapat dipindah-pindah dan diatur sudut kemiringannya agar dapat menerima sinar. Peralatan terbuat dari bahan sederhana berupa tempat penyimpanan contoh uji yang dapat matahari secara langsung dengan sudut yang tepat kemiringannya dan secara keseluruhan dapat dipindahkan lokasinya. Kemiringan diatur dengan teknik tuas sliding pada kedua samping tempat contoh uji yang dapat berayun pada engsel/as dan bertumpu pada kerangka. Kerangka peralatan berdiri diatas empat buah roda agar dengan mudah dapat dipindah-pindahkan dari satu lokasi kelokasi yang lain. Teknik pengerjaan pembuatan peralatan dilakukan sesuai standar teknik pengujian yang berlaku.Unjuk kerja peralatan memperlihatkan bahwa peralatan dapat dipergunakan sebagai mana fungsinya dengan biaya pembuatan masih terjangkau oleh pengrajin.
Pengaruh Jenis Lead Dan Tenol Pada Pembuatan Kerajinan Kaca Patri Rufaida, Evi Yuliati; Pristiwati, Endang
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i19.1105

Abstract

Bahan utama untuk pembuatan kerajinan kaca patri adalah kaca, lead dan tenol. Bahan-bahan tersebut terdapat di pasaran dengan bermacam-macam jenis, sehingga dlbutuhkun bahan untuk mendapatkan yang terbaik. Semakin tinggi kandungan Pb maka waktu pematrian semakin cepat. Dalam penelitian ini dilakukan kegiatan pembuatan produk kaca patri dengan menggunakan variasi 3 jenis lead (X, Y, Z) dan 3 jenis tenol (A, P, C) dan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap waktu pematrian dan pemasangan lead pada kaca serta pengujian komposisi jenis lead dan tenol.Hasil uji coba menunjukkan bahwa semua tenol (A, P, C) mempunyai komposisi Pb, Sb dan semua lead (X Y. Z) mengandung unsur Pb, Sb, kecualt lead X mempunyai komposisi Ph, Sb, dan Sn serta mempunyai sifat paling kaku. Jenis tenol tidak mempengaruhi waktu pematrian pada ketiga jenis lead, tetapi jenis lead berpengaruh terhadap waktu pemasangan dan waktu pematrian. Penggunaan lead pada pembuatan kerajinan kaca patri paling baik menggunakan lead X.Bahan utama untuk pembuatan kerajinan kaca patri adalah kaca, lead dan tenol. Bahan-bahan tersebut terdapat di pasaran dengan bermacam-macam jenis, sehingga dlbutuhkun bahan untuk mendapatkan yang terbaik. Semakin tinggi kandungan Pb maka waktu pematrian semakin cepat. Dalam penelitian ini dilakukan kegiatan pembuatan produk kaca patri dengan menggunakan variasi 3 jenis lead (X, Y, Z) dan 3 jenis tenol (A, P, C) dan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap waktu pematrian dan pemasangan lead pada kaca serta pengujian komposisi jenis lead dan tenol.Hasil uji coba menunjukkan bahwa semua tenol (A, P, C) mempunyai komposisi Pb, Sb dan semua lead (X Y. Z) mengandung unsur Pb, Sb, kecualt lead X mempunyai komposisi Ph, Sb, dan Sn serta mempunyai sifat paling kaku. Jenis tenol tidak mempengaruhi waktu pematrian pada ketiga jenis lead, tetapi jenis lead berpengaruh terhadap waktu pemasangan dan waktu pematrian. Penggunaan lead pada pembuatan kerajinan kaca patri paling baik menggunakan lead X.
Teknologi Pembengkokan Kayu Rufaida, Evi Yuliati; Jakfar, Mahdi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i21.1106

Abstract

Kerajinan kayu merupakan kerajinan yang membutuhkan komponen dengan bentuk yang bermacam-macam, antara lain bentuk bengkok/lengkung. Pada waktu memotong menjadi bentuk lengkung akan mengakibatkan banyak kayu yang terbuang dan pengerjaannyapun relatif lebih sulit. Untuk itu diperlukan teknologi pembengkokan kayu yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan kayu dan pengerjaan yang lebih cepat dan mudah.Pada penelitian int dilakukan pembengkokan 5 jenis kayu, yaitu Jati, Kruing, Kamper, Mahoni, Meranti dengan sistem steaming, dan variasi perlakuan waktu perendaman, waktu steaming, tebal kayu. Evaluasi dilakukan dengan cara pengamatan langsung pada hasil pembengkokan. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa kayu mahoni dapat dibengkokkan dengan baik (tidak pecah) sampai ketebalan 3 cm hampir pada semua variasi rendaman dan steaming. Kayu meranti dapat dibengkokkan dengan baik pada ketebalan 2 cm dan 3 cm untuk perlakuan dengan rendaman kostik 48 jam maupun air 7 hari dengan pemberian tekanan 2 atmosfir. Kayu kamper dan jati dapat dibengkokkan cukup baik pada tebal 2 cm dengan perendaman air J mi11ggu, steaming dengan a tau tanpa tekanan. Kayu kruing tidak dapat dibengkokkan dengan baik pada semua ukuran teba/ maupun semua perlakuan.Kerajinan kayu merupakan kerajinan yang membutuhkan komponen dengan bentuk yang bermacam-macam, antara lain bentuk bengkok/lengkung. Pada waktu memotong menjadi bentuk lengkung akan mengakibatkan banyak kayu yang terbuang dan pengerjaannyapun relatif lebih sulit. Untuk itu diperlukan teknologi pembengkokan kayu yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan kayu dan pengerjaan yang lebih cepat dan mudah.Pada penelitian int dilakukan pembengkokan 5 jenis kayu, yaitu Jati, Kruing, Kamper, Mahoni, Meranti dengan sistem steaming, dan variasi perlakuan waktu perendaman, waktu steaming, tebal kayu. Evaluasi dilakukan dengan cara pengamatan langsung pada hasil pembengkokan. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa kayu mahoni dapat dibengkokkan dengan baik (tidak pecah) sampai ketebalan 3 cm hampir pada semua variasi rendaman dan steaming. Kayu meranti dapat dibengkokkan dengan baik pada ketebalan 2 cm dan 3 cm untuk perlakuan dengan rendaman kostik 48 jam maupun air 7 hari dengan pemberian tekanan 2 atmosfir. Kayu kamper dan jati dapat dibengkokkan cukup baik pada tebal 2 cm dengan perendaman air J mi11ggu, steaming dengan a tau tanpa tekanan. Kayu kruing tidak dapat dibengkokkan dengan baik pada semua ukuran teba/ maupun semua perlakuan.
Pembuatan Pewarna Biru Dari Tanaman Indigofera tinctoria Lestari, Kun; Riyanto, Riyanto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i21.1107

Abstract

Tanaman Indigofera yang terdapat di beberapa daerah di persada nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera dll) menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai potensi SDA yang melimpah yang dikaitkan dengan perbendaharaan sumber pewarna alami. Sementara itu telah dilakukan percobaan pengambilan zat warna indigo dari daun dan ranting tanaman liar Indigofera tinctoria secara fermentasi dingin. Dalam daun dan ranting tanaman Indigofera terdapat zat warna alam yang mengandung senyawa indigoida dengan struktur >N-H dan kromofor gugus carbonyl (>C == 0).Daun dan ranting tanaman Indigo/era segar direndam dalam air dengan perbandingan 1: 5. Ekstrak larutan dibuat suasana alkalis dengan penambahan kapur untuk mengendapkan indigo.Dari hasil percobaan ternyata bahwa kondisi optimum pembuatan pasta indigo dari daun segar tanaman Indigofera tinctoria adalah pada penggunaan kapur/alkali 30 g/kg daun, dengan waktu fermentasi antara 24 - 48 jam (24 jam<wakiu fermentasi < 48 jam). Sedang rata - rata hasil /kg daun dan ranting segar adalah 167,2 g pasta murni, 197,2 g pasta dan kapur, dan randemen 16, 72 %. Dengan memvariasikan jenis dan dosis reduktor untuk melarutkan kembali pasta indigo dan kemudian digunakan untuk mewarnai serat katun dan sutera ternyata kesempurnaan proses reduksi pasta indigo dan hasil pewarnaan terbaik (baik sutera maupun katun) dicapai oleh larutan pewarna yang menggunakan reduktor gula merah sejumlah berat pasta. Hasil pewarnaan diuji ketahanan luntur warnanya terhadap pencucian, gosokan, keringat asam dan sinar matahari yang menghasilkan ni/ai baik (4 - 5).Tanaman Indigofera yang terdapat di beberapa daerah di persada nusantara (Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera dll) menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai potensi SDA yang melimpah yang dikaitkan dengan perbendaharaan sumber pewarna alami. Sementara itu telah dilakukan percobaan pengambilan zat warna indigo dari daun dan ranting tanaman liar Indigofera tinctoria secara fermentasi dingin. Dalam daun dan ranting tanaman Indigofera terdapat zat warna alam yang mengandung senyawa indigoida dengan struktur >N-H dan kromofor gugus carbonyl (>C == 0).Daun dan ranting tanaman Indigo/era segar direndam dalam air dengan perbandingan 1: 5. Ekstrak larutan dibuat suasana alkalis dengan penambahan kapur untuk mengendapkan indigo.Dari hasil percobaan ternyata bahwa kondisi optimum pembuatan pasta indigo dari daun segar tanaman Indigofera tinctoria adalah pada penggunaan kapur/alkali 30 g/kg daun, dengan waktu fermentasi antara 24 - 48 jam (24 jam<wakiu fermentasi < 48 jam). Sedang rata - rata hasil /kg daun dan ranting segar adalah 167,2 g pasta murni, 197,2 g pasta dan kapur, dan randemen 16, 72 %. Dengan memvariasikan jenis dan dosis reduktor untuk melarutkan kembali pasta indigo dan kemudian digunakan untuk mewarnai serat katun dan sutera ternyata kesempurnaan proses reduksi pasta indigo dan hasil pewarnaan terbaik (baik sutera maupun katun) dicapai oleh larutan pewarna yang menggunakan reduktor gula merah sejumlah berat pasta. Hasil pewarnaan diuji ketahanan luntur warnanya terhadap pencucian, gosokan, keringat asam dan sinar matahari yang menghasilkan ni/ai baik (4 - 5).

Page 11 of 31 | Total Record : 308


Filter by Year

1987 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 42 No. 1 (2025): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 41 No. 2 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 41 No. 1 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 40 No. 2 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 40 No. 1 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 39 No. 2 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 39 No. 1 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 38 No. 2 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 38 No. 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 37 No. 2 (2020): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 37 No. 1 (2020): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 2 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 1 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 2 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 1 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 34 No. 1 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 33 No. 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 1 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 30 No. 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 30 No. 1 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 1 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 28 No. 1 (2011): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 27 No. 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 28 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 24 (2007): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 23 (2006): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 22 (2005): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 10 (1992): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 9 (1991): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 8 (1988): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 7 (1987): Dinamika Kerajinan dan Batik More Issue