cover
Contact Name
Joni Setiawan
Contact Email
setiawanjoni@gmail.com
Phone
+628151657716
Journal Mail Official
redaksi.dkb@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kusumanegara No. 7 Yogyakarta, Indonesia 55166
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah
ISSN : 20874294     EISSN : 25286196     DOI : https://doi.org/10.22322/dkb.v42i1
Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH is an open-access journal published by Center for Handicraft and Batik, Ministry of Industry as scientific journal to accommodate current topics related to include materials research and development, production processes, waste treatment management, designs and entrepreneur of handicrafts and batik. Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH publishes communications, articles, and reviews. The first volume of DKB has been published in 1987 and continued until today with 2 (two) issues of publication each year. The number of articles for each issue is 9 (nine) articles. The official language of the journal is Bahasa Indonesia, but manuscripts in English are also welcomed. Manuscript submission and reviewing process is fully conducted through online journal system, using a double-blind review process
Articles 308 Documents
Unggulan Proses Pengelantangan dan Pewarnaan Akar Keladi Air untuk Bahan Baku Barang Kerajinan Sulaeman, Sulaeman; Haryanto, Tri
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i16.1064

Abstract

Percobaan proses pengelantangan dan pewarnaan akar keladi air (Caladium aquatile) dilakukan secara laboratoris untuk memperoleh bahan baku yang dapat mendukung mutu barang kerajinan.Pengelantangan menggunakan larutan hidrogen peroksida dilakukan dengan cara perendaman pada suhu kamar selama 48 jam dan pada suhu 85°C selama 1 jam. Konsentrasi larutan H2O2 divariasi 5, 10, 15, 20 dan 25 cc/l. pewarnaan pada akar keladi air yang telah dikelantang dilakukan dengan menggunakan zat warna direk, basis dan reaktif. Terhadap contoh uji dilakukan pengujian derajat putih dan kecerahan warna secara visual serta pengujian ketahanan luntur warna terhadap sinar.Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pengelantangan menggunakna larutan hidrogen peroksida 15cc/l cara dingin maupun cara panas menghasilkan derajat putih yang paling baik. Kecerahan hasil pewarnaan yang paling baik diperoleh pada akar keladi air hasil pengelantangan cara dingin menggunakan larutan hidrogen peroksida 15 cc/l atau cara panas menggunakn larutan hidrogen peroksida 20cc/l.Percobaan proses pengelantangan dan pewarnaan akar keladi air (Caladium aquatile) dilakukan secara laboratoris untuk memperoleh bahan baku yang dapat mendukung mutu barang kerajinan.Pengelantangan menggunakan larutan hidrogen peroksida dilakukan dengan cara perendaman pada suhu kamar selama 48 jam dan pada suhu 85°C selama 1 jam. Konsentrasi larutan H2O2 divariasi 5, 10, 15, 20 dan 25 cc/l. pewarnaan pada akar keladi air yang telah dikelantang dilakukan dengan menggunakan zat warna direk, basis dan reaktif. Terhadap contoh uji dilakukan pengujian derajat putih dan kecerahan warna secara visual serta pengujian ketahanan luntur warna terhadap sinar.Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pengelantangan menggunakna larutan hidrogen peroksida 15cc/l cara dingin maupun cara panas menghasilkan derajat putih yang paling baik. Kecerahan hasil pewarnaan yang paling baik diperoleh pada akar keladi air hasil pengelantangan cara dingin menggunakan larutan hidrogen peroksida 15 cc/l atau cara panas menggunakn larutan hidrogen peroksida 20cc/l.
Unggulan Ekonomis Penggunaan Zat Penguat Lapisan Peka Sinar Dari Gondorukem untuk Kasa Cap Lestari, Kun
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i16.1065

Abstract

Dibuat formulasi zat penguat lapisan peka sinar yang komponen utamanya adalah gondorukem. Gondorukem dicairkan dengan beberapa pelarut organik selektif sampai kekentalan tertentu. Untuk meningkatkan laju pengeringan, sistem larutan gondorukem setelah diberi stabilisator diemulsikan dengan kecepatan pengadukan 5000 RPM (konstant, selama 5 menit dengan pengemulsinya dibuat variatif.Formulasi yang mempunyai tingkat ketahanan optimal ditentukan sebagai berikut: zat penguat lapisan peka cahaya setelah dioleskan diatas lapisan peka sinar (pada kasa cap) diamati laju pengeringannya kemudian diuji ketahanannya terhadap gosokan (mekanik) dan pasta zat warna (kimia). Nilai ketahanannya dibandingkan dengan ketahanan zat penguat peka sinar yang biasa dipakai seperti: lak merah, renyulux dan kopal vernis. Dari hasil percobaan, ternyata bahwa formulasi yang menggunakan pelarut organik terpentin dan emulsifier TS memberikan ketahanan yang paling baik dengan laju pengeringan sekitar 3 jam (alamiah) atau 2 jam (dibantu kipas angin), nilai ketahanan gosok 3-4, sedikit lebih rendah dari nilai ketahanan gosok lak merah (4), sedang komposisinya sebagai berikut: gondorukem : terpentin = 1 : 1. asam sitrat 0,5%, air 5% dan pengemulsi 0,325% - 0,35%.Dibuat formulasi zat penguat lapisan peka sinar yang komponen utamanya adalah gondorukem. Gondorukem dicairkan dengan beberapa pelarut organik selektif sampai kekentalan tertentu. Untuk meningkatkan laju pengeringan, sistem larutan gondorukem setelah diberi stabilisator diemulsikan dengan kecepatan pengadukan 5000 RPM (konstant, selama 5 menit dengan pengemulsinya dibuat variatif.Formulasi yang mempunyai tingkat ketahanan optimal ditentukan sebagai berikut: zat penguat lapisan peka cahaya setelah dioleskan diatas lapisan peka sinar (pada kasa cap) diamati laju pengeringannya kemudian diuji ketahanannya terhadap gosokan (mekanik) dan pasta zat warna (kimia). Nilai ketahanannya dibandingkan dengan ketahanan zat penguat peka sinar yang biasa dipakai seperti: lak merah, renyulux dan kopal vernis. Dari hasil percobaan, ternyata bahwa formulasi yang menggunakan pelarut organik terpentin dan emulsifier TS memberikan ketahanan yang paling baik dengan laju pengeringan sekitar 3 jam (alamiah) atau 2 jam (dibantu kipas angin), nilai ketahanan gosok 3-4, sedikit lebih rendah dari nilai ketahanan gosok lak merah (4), sedang komposisinya sebagai berikut: gondorukem : terpentin = 1 : 1. asam sitrat 0,5%, air 5% dan pengemulsi 0,325% - 0,35%.
Pengaruh Suhu Dan Waktu Oksidasi Pada Proses Pencelupan Batik Kain Kapas Dengan Zat Warna Indigosol Hasanudin, Hasanudin
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i16.1066

Abstract

Pencelupan batik dengan zat warna indigosol memerlukan energi sinar matahari untuk membangkitkan warnanya (oksidasi), karenanya pencelupan batik bentuk panjang dengan alat celup BLC mengalami kesulitan agar batik bentuk panjang (dengan alat Bf, C) dapat dicelup dengan zal warna indigosol, maka dilakukan penelitian untuk mengganti energi matahari dengan larutan oksidasi panas. Mengingat sifat Iilin batik yang melunak pada suhu tinggi, maka oksidasi dilakukan pada suhu 40°C dan 50°C selama 1, 2 dan 3 menit. Hasil penelitian diuji kekuatan tarik dan ketuaan warnanya. Dari evaluasi dapat diketahui bahwa kekuatan tarik arah lusi terendah sebesar 19,81 kg/cm2 lebih tinggi dari standar (Standar SII 13,55 kg/cm2) dan arah pakan terendah sebesar 12,70 kg/cm2 lebih tinggi dari standar (Standar SIl 10,39 kg/cm2). Untuk ketuaan warna, warna Grey IBL dan Green I3B lebih tinggi dari warna hasil celupan tradisional, sedangkan warna Pink R berada I tingkat di bawah hasil celupan tradisional.Pencelupan batik dengan zat warna indigosol memerlukan energi sinar matahari untuk membangkitkan warnanya (oksidasi), karenanya pencelupan batik bentuk panjang dengan alat celup BLC mengalami kesulitan agar batik bentuk panjang (dengan alat Bf, C) dapat dicelup dengan zal warna indigosol, maka dilakukan penelitian untuk mengganti energi matahari dengan larutan oksidasi panas. Mengingat sifat Iilin batik yang melunak pada suhu tinggi, maka oksidasi dilakukan pada suhu 40°C dan 50°C selama 1, 2 dan 3 menit. Hasil penelitian diuji kekuatan tarik dan ketuaan warnanya. Dari evaluasi dapat diketahui bahwa kekuatan tarik arah lusi terendah sebesar 19,81 kg/cm2 lebih tinggi dari standar (Standar SII 13,55 kg/cm2) dan arah pakan terendah sebesar 12,70 kg/cm2 lebih tinggi dari standar (Standar SIl 10,39 kg/cm2). Untuk ketuaan warna, warna Grey IBL dan Green I3B lebih tinggi dari warna hasil celupan tradisional, sedangkan warna Pink R berada I tingkat di bawah hasil celupan tradisional.
Pemanfaatan Limbah Ranting Kayu Manis (Cinnamomun Burmanii) untuk Penciptaan Seni Kerajinan dengan Teknik Laminasi Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 31 No. 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v31i2.1068

Abstract

ABSTRAKLimbah ranting kayu manis (Cinnamomum burmanii) merupakan sisa kayu yang tidak ikut dikupas untuk diambil kulitnya sebagai bahan rempah-rempah. Limbah ranting ini jumlahnya cukup banyak pada saat panen kulit kayu manis. Pada saat ini limbah tersebut hanya dibuang ataupun dibakar. Penciptaan seni ini bertujuan untuk memanfaatan limbah ranting kayu manis tersebut menjadi aneka produk seni kerajinan. Metode yang digunakan yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan karya. Hasilnya berupa prototip produk kerajinan dengan teknik laminasi yaitu berupa: tatakan saji (tatakan gelas, mangkuk, dan piring), pigura foto, dan aneka wadah. Metode dan prototip produknya dapat dijadikan model untuk pemberdayaan industri kreatif masyarakat daerah penghasil kayu manis. Dari penciptaan seni ini dapat disimpulkan bahwa limbah ranting kayu manis bisa ditingkatkan kemanfaatan dan nilai ekonomisnya menjadi lebih tinggi dengan mengreasikannya menjadi aneka produk seni kerajinan dengan aplikasi teknik laminasi. Teknik laminasi dipilih untuk mengolah limbah ranting yang berukuran kecil agar dapat menjadi aneka produk dengan ukuran variatif yang lebih besar. Keunggulan kerajinan limbah ranting kayu manis ini adalah memiliki aroma harum alami kayu manis yang khas. Kata kunci: limbah ranting, kayu manis, seni kerajinan, teknik laminasiABSTRACTWaste of cinnamon twig (Cinnamomum burmanii) is the rest of the wood unpeeled for its pelt as a spice. These twigswaste are quite a lot at the time of harvesting cinnamon bark. At this time the waste is simply dumped or burned as trash. The creation of art aims to utilize waste into cinnamon twig art craft products. The method used is the exploration, design, and realization of the work. The result is a prototype craft products with lamination techniques those are: food placemat (coasters, bowls, and plates), picture frames, and various containers. Method and prototype products can be used as a model for community empowerment creative industries producing regions cinnamon. From this creation of art can be concluded that the waste of cinnamon twigs can be improved from their sefulness and economic values to become higher than before by creating them into some varieties of craft products applied with lamination technique. Lamination technique chosen to treat small twigs waste to make into some product varieties with the larger varied sizes. The eminence of the waste of cinnamon twigs are those have sweet natural  distinctive aroma of cinnamon twigs theirselves.Keywords: waste twigs, cinnamon, arts crafts, lamination techniques
Seni Ukir Tradisional Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Batik Khas Baturaja Salma, Irfa'ina Rohana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 31 No. 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v31i2.1070

Abstract

ABSTRAKPada saat ini kota Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan belum mempunyai motif batik khas daerah. Oleh karena itu perlu diciptakan desain motif batik khas daerah yang sumber inspirasinya digali dari kekayaan seni tradisional daerah setempat yaitu seni ukir. Tujuan penciptaan seni ini adalah untuk menghasilkan motif batik yang unik, kreatif dan inovatif yang mempunyai ciri khas kota Baturaja. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data, pengamatan mendalam terhadap motif-motif ukir, pengkajian sumber inspirasi, pembuatan desain motif, dan perwujudan menjadi batik. Dari penciptaan seni ini berhasil dikreasikan 5 (lima) motif batik yaitu Bungo Nan Indah, Embun Nan Sejuk, Air Nan Segar, Kotak Nan Rancak, dan Ceplok Nan Elok.Kata kunci: seni ukir tradisional, inspirasi, penciptaan, batik khas BaturajaABSTRACTAt this time Baturaja City, of Ogan Komering Ulu, of South Sumatra does not have the local typical motif of batik. It is therefore necessary to create a local distinctive motif designed by the source of excavated area inspiration of the wood carving as it is the wealth of the traditional of the local art. The purpose of the creation of this art is to generate a unique, creative and innovative motif that has characteristics as Baturaja. The method used are the data collection, deep insight of carved motifs, assessment of the inspiration sources, making it into the design motifs, and emboding them into batik. From the creation of this art works has give 5 (five) motifs those are Bungo Nan Indah, Embun Nan Sejuk, Air Nan Segar, Kotak Nan Rancak, and Ceplok Nan Elok.Keywords: traditional wood carving, inspiration, creation, unique batik of Baturaja
Eksplorasi Pewarnaan Teknik Smock Kombinasi Tritik Jumputan untuk Produk Fashion Ristiani, Suryawati; Nugrahani, Irianti
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 31 No. 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v31i2.1071

Abstract

ABSTRAKKain tritik jumputan merupakan salah satu jenis kerajinan tekstil dari Jawa. Jumlah industri pembuat kain tritik jumputan semakin berkurang, sehingga perlu dilakukan pengembangan motif pada tritik jumputan agar lebih menarik. Smock adalah salah satu teknik keterampilan menjahit dan menyulam tangan, yaitu teknik tusukan menjahit untuk membuat kerutan-kerutan yang menghasilkan motif menarik sesuai pola tertentu. Tujuan kegiatan ini adalah melakukan pengembangan teknik smock sebagai teknik dalam pewarnaan yang dikombinasikan dengan teknik tritik jumputan sehingga dapat meningkatkan daya saing produk fashion tritik jumputan. Metode dalam kegiatan ini adalah melakukan survey langsung ke industri tritik jumputan serta eksplorasi literatur. Data-data yang diperoleh kemudian dianalisa dari segi proses maupun desain motifnya. Tahap berikutnya dilakukan ujicoba pewarnaan dengan mengkombinasikan dua teknik yaitu teknik smock dan teknik tritik jumputan. Ujicoba yang dilakukan tercipta desain motif baru yang indah. Hasil kegiatan diperoleh 23 desain motif baru. Pengamatan visual menunjukkan hasil pewarnaan yang paling optimal adalah pada kain mori Primissima. Berdasarkan hasil uji labolatorium, tekstil kerajinan ini mempunyai ketahanan luntur warna terhadap pencucian, keringat, dan sinar yang bagus, dengan nilai hasil uji 4 – 5. Sedangkan nilai ketahanan luntur warna terhadap gosokan, adalah 3. Dapat dikatakan hasil pewarnaan dengan mengkombinasikan dua teknik ini memenuhi standar kualitas sebagai produk bahan sandang. Ujicoba pasar yang dilakukan menunjukkan bahwa ternyata respon masyarakat sangat bagus. Hasil uji kesukaan responden mendapatkan nilai sangat bagus sebanyak 55%, dan bagus sebanyak 45%. Teknik pewarnaan smock kombinasi tritik jumputan ini prosesnya sederhana, tidak memerlukan alat khusus, sehingga berpotensi untuk dikembangkan menjadi sumber daya ekonomi yang signifikan. Kata kunci: ABSTRACTTritik jumputan is one kind of craft textile from Java. The number of craftsmen in this industrial craft is diminishing from time to time. Therefore it is necessary to execute improvement on its motive so that it will be more attractive. Smock is one technique in handsewing and embroidery. It is a needling technique to create wrinkles stitches that produce attractive motive in accordance with certain pattern. The objective of this research is to carry out an expansion on smock technique as a technique in coloring method that is combined with tritik jumputan technique so that it can enhance its commercial value as a fashion product. The method of this research is by direct surveys on the industry and also by literary exploration. Then, the data are analyzed from the process and motive design point of view. The next stage is executing an experiment in coloring process by combining two techniques namely smock technique and tritik jumputan technique. From the result of the experiment, it creates new beautiful motive design. From this research it creates 23 new motive designs. Visual observation shows that the most optimal result of coloring process is on primissima cloth. Based on the laboratory test, this textile craft has resistance of color fastness toward washing, perspiration and fine light with the test result 4-5. While, the grade of color fastness toward ribbing is 3. Thus, it can be said that the result of coloring process that combines these two techniques accomplish quality standard as clothing material product. The market trial shows that the people respond toward this product is apparently excellent. The result of the respondent keen test derives very good grade 55% and good grade 45%. The process of smock coloring technique combined with tritik jumputan is simple and does not need specific tools so that it is potential to develop becoming significant economical source.Key words: jumputan technique, smock technique, kain tritik jumputan, fashion
Penggunaan Briket Batubara Sebagai Bahan Bakar Pada Proses Peleburan Perak Dan Kuningan Suheryanto, Dwi; Marjono, Marjono
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i16.1072

Abstract

Briket Batubara adalah hasil olah lanjut dari batubara yang penggunaannya dalam  proses peleburan menggunakan tungku pelebur bentuk silindris dengan penyuapan angin dari blower. Peleburan perak dan kuningan dengan menggunakan bahan bakar briket batubara dilakukan dalam tungku yang berbentuk silindris, Dari hasil peleburan logam perak maupun kuningan, temperatur yang dapat dicapai melebihi titik leleh (melting point) dari kedua logam tersebut yaitu 128°C. Briket batu bara yang digunakan untuk peleburan 1 kg kuningan sebanyak 995,32 gram atau setara dengan Rp348,362, sedang untuk peleburan perak 775,20 gram atau setara dengan Rp264,32,-.Briket Batubara adalah hasil olah lanjut dari batubara yang penggunaannya dalam  proses peleburan menggunakan tungku pelebur bentuk silindris dengan penyuapan angin dari blower. Peleburan perak dan kuningan dengan menggunakan bahan bakar briket batubara dilakukan dalam tungku yang berbentuk silindris, Dari hasil peleburan logam perak maupun kuningan, temperatur yang dapat dicapai melebihi titik leleh (melting point) dari kedua logam tersebut yaitu 128°C. Briket batu bara yang digunakan untuk peleburan 1 kg kuningan sebanyak 995,32 gram atau setara dengan Rp348,362, sedang untuk peleburan perak 775,20 gram atau setara dengan Rp264,32,-.
Penelitian Rekayasa Pembuatan Alat Celup Benang Tenun Bentuk Hank Hasanudin, Hasanudin; Machmud, Djumala
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i16.1073

Abstract

Proses pengerjaan benang tenun bentuk hank dengan alat celup tradisional (bak) dapat ditingkatkan efisiensi dan kualitas hasilnya apabila ditambah peralatan yang lebih efektif dan mempunyai kestabilan yang mantap. Teknologi penggulungan benang, pencelupan dan pengerjaan bahan logam dan pengetahuan tentang elemen mesin merupakan landasan yang dipergunakan dalam perencanaan rekayasa peralatan. Kegiatan penelitian meliputi pembuatan desain, bagian peralatan, suku cadang, perakitan dan uji coba. Kemudian dilakukan pengujian ketidakrataan warna serta pengamatan jalannya proses.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peralatan dapat berfungsi dengan baik dan selama uji coba terjadi kekusutan benang sebanyak satu kali untuk warna biru dan dua kali pada warna merah dengan hasil kerataan kedua warna mempunyai koefisien variasi dibawah satu persen.Proses pengerjaan benang tenun bentuk hank dengan alat celup tradisional (bak) dapat ditingkatkan efisiensi dan kualitas hasilnya apabila ditambah peralatan yang lebih efektif dan mempunyai kestabilan yang mantap. Teknologi penggulungan benang, pencelupan dan pengerjaan bahan logam dan pengetahuan tentang elemen mesin merupakan landasan yang dipergunakan dalam perencanaan rekayasa peralatan. Kegiatan penelitian meliputi pembuatan desain, bagian peralatan, suku cadang, perakitan dan uji coba. Kemudian dilakukan pengujian ketidakrataan warna serta pengamatan jalannya proses.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peralatan dapat berfungsi dengan baik dan selama uji coba terjadi kekusutan benang sebanyak satu kali untuk warna biru dan dua kali pada warna merah dengan hasil kerataan kedua warna mempunyai koefisien variasi dibawah satu persen.
Daya Saing Proses "Batik Radioan" dengan Zat Warna Reaktif dan Indanthreen Murwati, Sri; Djijono, Djijono; Setiadji, Umar
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i16.1074

Abstract

Pada proses Batik Radioan digunakan tahapan proses pemutihan yang berdampak menurunnya kekuatan tarik kain. Untuk mengatasi hal ini perlu dikembangkan proses penyempurnaan Batik Radioan yang tidak mengurangi kekuatan tarik tetapi kemurnian warnanya sama, sehingga warna pertama bila ditumpangi warna kedua tidak akan timbul warna tumpangan; warna yang diperoleh tetap warna kedua. Dari hasil penelitian proses Batik Radioan dengan zat warna reaktif dan indanthreen sesuai dengan sifat kimianya, diperoleh efektifitas proses tanpa diperlukan tahap pemutihan karena zat warna reaktif dan indanthreen mengandung gugus yang, bila tereduksi akan pecah dan mengikat ion H dan membentuk gugus amin yang tidak berwama. Selain itu biaya proses dapat ditekan dengan memperhitungkan harga zat warna dari yang termurah sampai yang termahal. Zat warna yang diperhitungkan antara lain zat warna reaktif, indanthreen, indigosol dan naphtol. Efisiensi proses Batik Radioan dengan zat warna reaktif dan indanthreen mencapai 8,76% sampai dengan 41,33% dari perhitungan harga zat warna yang termurah sampai yang termahal untuk zat warna tersebut diatas.Pada proses Batik Radioan digunakan tahapan proses pemutihan yang berdampak menurunnya kekuatan tarik kain. Untuk mengatasi hal ini perlu dikembangkan proses penyempurnaan Batik Radioan yang tidak mengurangi kekuatan tarik tetapi kemurnian warnanya sama, sehingga warna pertama bila ditumpangi warna kedua tidak akan timbul warna tumpangan; warna yang diperoleh tetap warna kedua. Dari hasil penelitian proses Batik Radioan dengan zat warna reaktif dan indanthreen sesuai dengan sifat kimianya, diperoleh efektifitas proses tanpa diperlukan tahap pemutihan karena zat warna reaktif dan indanthreen mengandung gugus yang, bila tereduksi akan pecah dan mengikat ion H dan membentuk gugus amin yang tidak berwama. Selain itu biaya proses dapat ditekan dengan memperhitungkan harga zat warna dari yang termurah sampai yang termahal. Zat warna yang diperhitungkan antara lain zat warna reaktif, indanthreen, indigosol dan naphtol. Efisiensi proses Batik Radioan dengan zat warna reaktif dan indanthreen mencapai 8,76% sampai dengan 41,33% dari perhitungan harga zat warna yang termurah sampai yang termahal untuk zat warna tersebut diatas.
Pengaruh Kecepatan Putaran dan Tekanan Pada Proses Polis terhadap Kilau Perak Machmud, Djumala; Supardi, Supardi; Marjono, Marjono
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i16.1075

Abstract

Proses penyempurnaan produk kerajinan perak dengan permukaan datar dengan sistim polis dapat mempercepat produksi. Hal ini mendorong perajin utuk menambah kecepatan putaran peralatan polis tanpa memperhitungkan efektifitas kerja peralatan. Peningkatan kecepatan akan memperbesar gaya lempar yang terjadi sehingga mengurangi efektifitas proses polis, sedangkan tekanan yang semakin besar akan meningkatkan gaya gesek yang terjadi. Percobaan dilakukan pada 3 tingkat kecepatan yaitu RPM 1440, 1550 dan 1950. Tekanan yang diberikan pada masing-masing kecepatan adalah 3; 3,5 dan 4 kg. Kilau perak yang terjadi kemudian dianalisa. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kilau perak yang paling bagus diperoleh pada RPM 1440 dengan tekanan 4 kg.Proses penyempurnaan produk kerajinan perak dengan permukaan datar dengan sistim polis dapat mempercepat produksi. Hal ini mendorong perajin utuk menambah kecepatan putaran peralatan polis tanpa memperhitungkan efektifitas kerja peralatan. Peningkatan kecepatan akan memperbesar gaya lempar yang terjadi sehingga mengurangi efektifitas proses polis, sedangkan tekanan yang semakin besar akan meningkatkan gaya gesek yang terjadi. Percobaan dilakukan pada 3 tingkat kecepatan yaitu RPM 1440, 1550 dan 1950. Tekanan yang diberikan pada masing-masing kecepatan adalah 3; 3,5 dan 4 kg. Kilau perak yang terjadi kemudian dianalisa. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kilau perak yang paling bagus diperoleh pada RPM 1440 dengan tekanan 4 kg.

Page 9 of 31 | Total Record : 308


Filter by Year

1987 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 42 No. 1 (2025): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 41 No. 2 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 41 No. 1 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 40 No. 2 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 40 No. 1 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 39 No. 2 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 39 No. 1 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 38 No. 2 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 38 No. 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 37 No. 2 (2020): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 37 No. 1 (2020): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 2 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 1 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 2 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 1 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 34 No. 1 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 33 No. 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 1 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 30 No. 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 30 No. 1 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 1 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 28 No. 1 (2011): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 27 No. 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 28 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 24 (2007): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 23 (2006): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 22 (2005): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 10 (1992): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 9 (1991): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 8 (1988): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 7 (1987): Dinamika Kerajinan dan Batik More Issue