cover
Contact Name
Joni Setiawan
Contact Email
setiawanjoni@gmail.com
Phone
+628151657716
Journal Mail Official
redaksi.dkb@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kusumanegara No. 7 Yogyakarta, Indonesia 55166
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah
ISSN : 20874294     EISSN : 25286196     DOI : https://doi.org/10.22322/dkb.v42i1
Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH is an open-access journal published by Center for Handicraft and Batik, Ministry of Industry as scientific journal to accommodate current topics related to include materials research and development, production processes, waste treatment management, designs and entrepreneur of handicrafts and batik. Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH publishes communications, articles, and reviews. The first volume of DKB has been published in 1987 and continued until today with 2 (two) issues of publication each year. The number of articles for each issue is 9 (nine) articles. The official language of the journal is Bahasa Indonesia, but manuscripts in English are also welcomed. Manuscript submission and reviewing process is fully conducted through online journal system, using a double-blind review process
Articles 308 Documents
Pemanfaatan Ragam Hias Etnik Sumatera Utara Untuk Pengembangan Motif Batik Suhartini, Tien; Haryanto, Tri; Adiyanto, Adiyanto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i21.1108

Abstract

Batik hasil teknik pendekorasian kain adalah produk seni rupa Indonesia dengan teknik pewarnaan rintang, menggunakan Ii/in batik sebagai bahan perintangnya. Dengan demikian Batiksebagai salah satu produk kerajinan merupakan aset budaya yang perlu dilestarikan keberadaannya. Untuk itu perlu adanya pengembangan-pengembangan eksistensi batik baik dibidang teknologi maupun disain dan pemasaran melalui penanganan UKM-nya.Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan perancangan disain batik dengan unsur-unsur ragam hias Sumatera Utara sebagai aspek disainnya. Ragam hias Suma/era Utara sangat variatif karena berasal dari berbagai suku bangsa. Dengan kondisi pluralis tersebut perlu dikembangkan desain yang memenuhi tuntutan konsumen melalui stilir motif sebagai berikut: Penciptaan motif baru dengan cara mengambil bentuk dari alam langsung seperti manusia, flora fauna; penciptaan motif baru dengan cara mengembangkan motif-motif yang sudah ada menjadi motif baru, dan Menggabungkan keduanya seperti motif dari alam dan motif-motif yang sudah adaHasil rancangan diaplikasikan sebagai prototipe produk dan diseminasikan dalam bentuk peragaan prototipe produk, pengenalan teknologi batik dan penilaian terhadap aplikasi rancangan prototype produk. Hasil penilaian menunjukkan pemanfaatan ragam hias etnik Sumatera Utara layak untuk diproduksi menjadi produk batik yang menarik sehingga menambahkhasanah batik Indonesia. Yang apabila diaplikasikan sebagai produk selain untuk pelestarian  juga memantapkan identitas daerah yang akan mewujudkan serta merupakan lahan peningkatan SDM dan terbentuknya wirausaha baru bidang batik.Batik hasil teknik pendekorasian kain adalah produk seni rupa Indonesia dengan teknik pewarnaan rintang, menggunakan Ii/in batik sebagai bahan perintangnya. Dengan demikian Batiksebagai salah satu produk kerajinan merupakan aset budaya yang perlu dilestarikan keberadaannya. Untuk itu perlu adanya pengembangan-pengembangan eksistensi batik baik dibidang teknologi maupun disain dan pemasaran melalui penanganan UKM-nya.Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan perancangan disain batik dengan unsur-unsur ragam hias Sumatera Utara sebagai aspek disainnya. Ragam hias Suma/era Utara sangat variatif karena berasal dari berbagai suku bangsa. Dengan kondisi pluralis tersebut perlu dikembangkan desain yang memenuhi tuntutan konsumen melalui stilir motif sebagai berikut: Penciptaan motif baru dengan cara mengambil bentuk dari alam langsung seperti manusia, flora fauna; penciptaan motif baru dengan cara mengembangkan motif-motif yang sudah ada menjadi motif baru, dan Menggabungkan keduanya seperti motif dari alam dan motif-motif yang sudah adaHasil rancangan diaplikasikan sebagai prototipe produk dan diseminasikan dalam bentuk peragaan prototipe produk, pengenalan teknologi batik dan penilaian terhadap aplikasi rancangan prototype produk. Hasil penilaian menunjukkan pemanfaatan ragam hias etnik Sumatera Utara layak untuk diproduksi menjadi produk batik yang menarik sehingga menambahkhasanah batik Indonesia. Yang apabila diaplikasikan sebagai produk selain untuk pelestarian  juga memantapkan identitas daerah yang akan mewujudkan serta merupakan lahan peningkatan SDM dan terbentuknya wirausaha baru bidang batik.
Kajian Produksi Bersih Untuk Industri Batik Sulaeman, Sulaeman
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No. 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i21.1109

Abstract

Telah dilakukan penelitian penerapan Produksi Bersih pada 20 IKM batik di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kegiatan penerapan Produksi Bersih pada industri batik diperoleh antara lain dengan cara: merubah input bahan yang diproses, merubah produk yang dibuat, merubah teknologi dan menata kerumahtanggaan serta memperbaiki praktek operasinal. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa semua IKM sudah menerapkan strategi Produksi Bersih hanya belum menyeluruh. Pada masing-masing IKM masih banyak peluang Produksi Bersih yang harus digali. Dengan menerapkan Produksi Bersih dapat diperoleh keuntungan lingkungan seperti pengurangan limbah dan keuntungan finansial serta meningkatkan citra perusahaan menjadi lebih baik.Telah dilakukan penelitian penerapan Produksi Bersih pada 20 IKM batik di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kegiatan penerapan Produksi Bersih pada industri batik diperoleh antara lain dengan cara: merubah input bahan yang diproses, merubah produk yang dibuat, merubah teknologi dan menata kerumahtanggaan serta memperbaiki praktek operasinal. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa semua IKM sudah menerapkan strategi Produksi Bersih hanya belum menyeluruh. Pada masing-masing IKM masih banyak peluang Produksi Bersih yang harus digali. Dengan menerapkan Produksi Bersih dapat diperoleh keuntungan lingkungan seperti pengurangan limbah dan keuntungan finansial serta meningkatkan citra perusahaan menjadi lebih baik.
Rekayasa Pengembangan Desain Motif Batik Khas Melayu Murwati, Eustasia Sri; Masiswo, Masiswo
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 30 No. 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v30i2.1111

Abstract

ABSTRAKPengembangan desain batik melalui rancang bangun perekayasaan desain menurut ragam hias Melayu meliputi pengembangan motif dan proses, termasuk pemilihan komposisi warna. Proses yang sering dilakukan yaitu proses celup, penghilangan lilin dan celup warna tumpangan atau proses colet, celup, penghilangan lilin atau celup kemudian penghilangan lilin yang disebut Batik Kelengan. Setiap pulau di Indonesia mempunyai ciri khas budaya dan kesenian yang dikenal dengan corak/ragam hias khas daerah, juga ornamen yang diminati oleh masyarakat dari daerah tersebut atau dari daerah lain. Kondisi demikian mendorong pertumbuhan industri kerajinan yang memanfaatkan unsur–unsur seni. Adapun motif yang diperoleh adalah: Ayam Berlaga, Bungo Matahari, Kuntum Bersanding, Lancang Kuning, Encong Kerinci, Durian Pecah, Bungo Bintang, Bungo Pauh Kecil, Riang-riang, Bungo Nagaro. Pengembangan desain tersebut dipilih 3 produk terbaik yang dinilai oleh 5 penilai yang ahli di bidang desain batik, yaitu motif Durian Pecah, Ayam Berlaga, dan Bungo Matahari. Rancang bangun diversifikasi desain dengan memanfaatkan unsur–unsur seni dan ketrampilan etnis Melayu yaitu pemilihan ragam hias dan motif batik Melayu untuk diterapkan ke bahan sandang dengan komposisi warna yang menarik, sehingga produk memenuhi selera konsumen. Memperbaiki keberagaman batik dengan meningkatkan desain produk antara lain menuangkan ragam hias Melayu ke dalam proses batik yang menggunakan berbagai macam warna sehingga komposisi warna memadai. Diperoleh hasil produk batik dengan ragam hias Melayu yang berkualitas dan komposisi warna yang sesuai dengan karakter ragam hias Melayu. Rancang bangun desain produk untuk mendapatkan formulasi desain serta kelayakan prosesnya dengan penekanan pada teknologi akrab lingkungan dilaksanakan dengan alternatif pendekatan yaitu penciptaan desain bentuk baru.Kata kunci: desain, batik, rancang bangun, ragam hias, MelayuABSTRACTDevelopment of batik design through design engineering to be adapted with Melayu motives consists of motives and processes developments, including selection of colour composition. The most common processes are dip dyeing-wax removal and “tumpangan” which is paint dyeing-dip dyeing-wax removal or dip dyeing then wax removal or called Batik Kelengan. Indonesian people have distinctivecultures and arts in every regions known as distinctive ethnic motives, contain ornaments considered interesting by people in the area as well as people from another areas. That condition supports development of art industries. The motives are: Ayam Berlaga, Bungo Matahari, Kuntum Bersanding, Lancang Kuning, Encong Kerinci, Durian Pecah, Bungo Bintang, Bungo Pauh Kecil, Riang-riang, Bungo Nagaro. In this development of design, 3 best products are chosen by 5 judges who are experts of batik design, namely: Durian Pecah, Ayam Berlaga and Bungo Matahari motives. Engineering of design diversification by using Melayu art elements and ethnic skills is selection of Melayu motives and pattern to be applied on clothing materials with attractive colour composition, so the products can fulfill consumers’ taste. Improving batik diversity by increasing product designs among others by put Melayu motives into batik process which use various colours so the colour composition are adequate. It obtains batik products using Melayu motives wich have high quality and colour composition compatible with Melayu motives characterization. Product design engineering to get design formulation and process feasibility which focus in environmental friendly technologies is conducted with alternative approach namely creation of new designs. Keywords: design, batik, engineering, motives, Melayu
Krisis Bahan Baku Seni Kerajinan Kayu di Jepara dan solusi Pemecahannya Eskak, Edi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 30 No. 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v30i2.1112

Abstract

ABSTRAKKrisis bahan baku kayu jati yang sedang terjadi telah menurunkan produktivitas perajin dan perusahaan kerajinan kayu di Jepara. Banyak IKM yang menutup usahanya karena tidak mampu membeli bahan baku yang harganya semakin mahal karena ketersediaannya terbatas. Tulisan ini bertujuan menganalisis dan mencari pemecahan keterbatasan kayu jati sebagai bahan baku kerajinan kayu dengan berbagai pemikiran, agar IKM tetap mampu bertahan melanjutkan usaha. Metode pendekatan yang dipakai yaitu studi kepustakaan yang dipadukan dengan pengalaman bekerja di industri kerajinan kayu Jepara, serta observasi lapangan untuk mengetahui kondisi terkini. Hasil pembahasannya berupa beberapa alternatif solusi untuk memecahkan permasalahan krisis bahan baku pada industri kerajinan kayu Jepara, yaitu: 1) penggunaan jati kampung, 2) eksplorasi kayu jati ke berbagai daerah, 3) substitusi bahan baku non jati, 4) efisiensi penggunaan bahan baku kayu, 5) pengembangan desain hemat kayu berciri khas Jepara, 6) aplikasi dengan bahan lain, 7) pemanfaatan kembali limbah kayu, 8) recycle kayu bekas, 9) kayu jati sebagai bahan baku karya fine art dan high end product, 10) pemanfaatan bahan alternatif: bambu sebagai subtitusi kayu, 11) reboisasi hutan dan lahan kosong, 12) tata kelola hutan lestari. Kata Kunci: krisis, kayu jati, kerajinan kayu, JeparaABSTRACTTeak wood raw material crisis that is happening has reduced the productivity of craftsmen and wood crafts companies in Jepara. Many SMEs are shut down due to not be able to buy the more expensive price of raw materials because of their limited availability. This paper aims to analyze and find solutions to teak wood raw material shortages for wood craft with a variety of thought, so that SMEs still be able to survive to continue their businesses. Approximation method used is literature study combined with the experience of working in Jepara wood craft industry, as well as field observations to determine the current condition. The results of the discussion is in the form of several alternative solutions to solve the problems of raw material crisis in Jepara wood craft industry , namely : 1) the use of local teak wood, 2) teak wood exploration to various regions , 3) the substitution of non teak wood raw materials, 4) efficient use of raw materials , 5) the development of a efficient wood design in Jepara distinctively , 6) application with other materials, 7) wood waste recovery, 8) scrap wood recycle, 9) teak wood as raw material for works of fine art and high end product, 10) use of alternative materials : bamboo as a substitute for wood, 11 ) and the reforestation of vacant land, 12 ) sustainable forest governance.Keywords: crisis , teak , wood crafts , Jepara
Corak Etnik dan Dinamika Batik Pekalongan Salma, Irfa'ina Rohana
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 30 No. 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v30i2.1113

Abstract

ABSTRAKBatik Pekalongan mempunyai ciri khas atau karakter yang berbeda dengan batik dari daerah pesisir lainnya. Corak yang berbeda ini karena adanya pengaruh budaya dari etnis-etnis pembuat batik yang berdomisili di Pekalongan, yaitu etnis Jawa, etnis Cina dan etnis Belanda. Tulisan ini bertujuan untuk melakukan tinjauan dan mengkritisi lebih dalam ciri khas atau karakter corak dari batik yang dihasilkan para pembatik dari etnis yang berbeda di Pekalongan. Metode pendekatan yang dipakai yaitu studi kepustakaan dan eksplorasi di lapangan. Beberapa sampel motif dari ketiga etnis pembatik dianalisis untuk mengetahui keunikan dan kekhasannya masing-masing, serta dengan tinjauan aspek-aspek lain yang melingkupi dinamika industri batik di Pekalongan. Hasilnya menunjukkan bahwa latar belakang budaya yang berbeda menghasilkan corak batik baru yang kemudian menjadi ciri khas batik Pekalongan secara umum. Ada tiga corak batik Pekalongan yaitu: Batik Pekalongan bergaya Jawa, Batik Pekalongan bergaya Cina, dan Batik Pekalongan bergaya Belanda, yang mempunyai keunikan sendiri-sendiri yang membedakan corak batik di antara mereka. Kajian ini dapat menjadi inspirasi pembinaan seni dan industri kreatif di daerah lain yang multietnis.Kata-kata kunci: batik, corak, etnisABSTRACTPekalongan batik has a specific or a different characteristic from other batik of coastal areas. Thestyle is differently from other because of the cultural influences of ethnic batik maker who lives in Pekalongan, namely Javanese, Chinese and Dutch. This paper aims to conduct a review and criticize the deeper characteristics or specific pattern of the Pekalongan batik results from the different ethnics. Approximation method used is library research and exploration in the field. Several samples of the three ethnic batik motifs were analyzed to determine the uniqueness and each characteristic, as well as the review of other aspects surrounding the dynamics of the industry in Pekalongan batik. The results show that different cultural backgrounds produce new batik patterns that later became the hallmark of Pekalongan batik in general. There are three Pekalongan batik patterns: Javanese, Chinese, and Dutch style which each of them has its own uniqueness that distinguishes batik patterns among themselves. This study may be the inspiration of art and creative industries development in other areas of the multiethnic. Key words: batik , complexion , ethnic
KERTAS SENI BERBAHAN LIMBAH PEWARNA ALAM RUMPUT LAUT JENIS SARGASSUM, ULVA DAN PELEPAH PISANG ABAKA Mandegani, Guring Briegel; Sumarto, Hadi; Perdana, Arif
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v33i1.1114

Abstract

ABSTRAKKertas seni merupakan kerajinan tangan dengan bahan dasar berbagai macam tanaman berserat. Serat pisang abaka, serat jerami dan serat padi telah mampu diolah menjadi kertas seni secara mandiri tanpa bahan perekat tambahan. Selama ini industri kertas seni yang ada sebagian besar menggunakan bahan baku pelepah pisang raja, pisang abaka, jerami, serat padi dan sebagainya. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan keanekaragaman bahan baku, di antaranya dengan memanfaatkan material dari rumput laut maupun limbah rumput laut limbah pewarna alam tekstil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakter kertas seni yang terbuat dari limbah pewarna alam dari rumput laut Sargassum sp. dan Ulva serta kombinasinya dengan material serat pisang abaka. Bahan baku pelepah pisang abaka dan limbah rumput laut diolah dengan cara pencacahan dengan ukuran 2-3 cm, direbus dengan soda api selama 2 jam, kemudian disaring dan didinginkan. Bahan kemudian saling dikombinasi dan dijadikan pulp menggunakan mesin blender. Pulp kemudian dicetak dan dianalisis secara fisik. Limbah rumput laut jenis Sargassum sp. dan Ulva dalam keadaan murni (100%) tidak dapat digunakan sebagai bahan pembuatan produk kertas seni, dikarenakan kandungan selulosa yang masih di bawah 40% sehingga kertas yang dihasilkan dari proses pencetakan bersifat rapuh, mudah sobek dan tidak rekat antara satu dengan yang lain. Sedangkan kertas dengan campuran serat pisang abaka, menghasilkan kualitas kertas seni dengan kekuatan fisik yang lebih baik daripada kertas seni murni dari rumput laut Sargassum sp. dan Ulva. Kata Kunci: kertas seni, rumput laut, Sargassum sp., Ulva, pisang abaka  ABSTRACTPaper art is a craft that uses a wide variety of fibrous plants. Abaca, straw and rice fibers can be processed into paper art independently without additional adhesive material. During this time, the existing art paper industries use many raw materials such as banana, abaca, etc., Therefore, it is necessary to conduct research and development in exploring new raw materials such as seaweed and waste of natural dyes from seaweed. The purpose of this study is to determine the character of art paper made from waste of natural dyes from Sargassum sp. and Ulva and its combination with abaca fiber. Abacá and waste materials from the seaweed are processed by being cut into 2-3 cm of length, boiled with caustic soda for 2 hours, then filtered and cooled. The materials are combined with each other and converted into pulp using a blender. The pulp is then printed and analyzed physically. Waste of seaweed Sargassum sp. and Ulva in a pure state (100%) cannot be used as materials for art paper products because the content of cellulose is still below 40% so that the paper produced from the printing process are fragile, easily brittle and  no adhesion between one another. Meanwhile, the paper art that uses abaca fibers produces paper art with better physical quality than paper art with 100% seaweed Sargassum sp. and Ulva. Keywords: Paper art, seaweed, Sargassum sp., Ulva
PEMANFAATAN ZAT WARNA ALAM DARI LIMBAH PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DAN KAKAO SEBAGAI BAHAN PEWARNA KAIN BATIK Pujilestari, Titiek; Farida, Farida; Pristiwati, Endang; Haerudin, Agus; Atika, Vivin
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v33i1.1119

Abstract

ABSTRAKPenelitian pemanfaatan limbah perkebunan kelapa sawit dan kakao sebagai bahan pewarna pada batik bertujuan untuk menggali sumber daya alam limbah perkebunan yang belum dimanfaatkan dan mencoba bahan baku baru untuk pewarna batik. Limbah perkebunan cangkang kelapa sawit dan kulit buah kakao merupakan sisa hasil proses pengolahan yang tidak termasuk dalam produk utama yang dianggap berpotensi menjadi beban pencemaran lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Kegiatan ini dibatasi pada pengambilan zat warna dari cangkang kelapa sawit dan kulit buah kakao dengan memakai pelarut air dan pelarut organik. Zat warna alam yang diperoleh digunakan sebagai pewarna pembatikan pada kain katun dan sutera. Fiksasi dilakukan dengan tiga jenis fiksator yaitu tawas, kapur dan tunjung. Pewarnaan dilakukan pada kain katun dan sutera dengan sistem celupan dingin sebanyak enam kali. Pengujian dilakukan terhadap ketahanan luntur warna akibat pencucian dan gosokan, arah dan beda warna. Hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan rata-rata menunjukan hasil cukup sampai baik sekali (3-5). Nilai kelunturan warna terhadap pencucian pada kain katun dengan pewarna cangkang kelapa sawit lebih baik daripada kulit buah kakao. Arah warna cangkang kelapa sawit menunjukkan warna coklat muda sampai coklat tua, sedang kulit buah kakao memberikan arah warna abu-abu sampai coklat tua. Pembacaan uji beda warna diperoleh rata-rata warna berada pada daerah antara kuning ke merah. Kata Kunci: cangkang kelapa sawit, kulit buah kakao, warna alam, batik  ABSTRACTUtilization of plantation waste as batik dyes research aims to explore the plantation waste potential asraw materials for batik dyeing. Plantation waste of palmkernel shell and cocoa fruit peel are side products of the main process thatbecome environmental pollution if not managed properly. This activity is restricted to making dyes from palmkernel shells and cocoa fruit peel by using water solvent and organic solvent. Natural dyes obtained are used as batik dyes on cotton and silk. Fixation is done each with alum, lime and ferrosulphate. Dyeing on cotton and silk fabric is done with six times cold immersion. The testing are include color fastness of washing and rubbing, color shades and color difference. The test results of color fastness to washing and rubbing shows enough to excellent results (3-5). The average yield value of color fastness to washing in cotton cloth with palm kernel shells dyes is better than using cocoa peel dyes. The color shade of coconut shell dye is tanish to brownish, while cocoa peel is greyish to brownish. The color difference testing average result is color coordinate located between yellowish to reddish area. Keywords: palm kernel shell, cocoa peel, natural dye, batik.
Canting Listrik Sederhana Antana, Aan Eddy
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 27 No. 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v27i1.1126

Abstract

Perajin batik selama ini menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar kompor dalam proses pembatikan. Salah satu permasalahan yang dihadapi perajin adalah kelangkaan dan mahalnya harga minyak tanah. Kebijakan pemerintah mengkonversi minyak tanah ke gas juga belum mengentaskan permasalahan yang dihadapi oleh perajin.Penelitian yang dilakukan adalah membuat canting listrik sederhana yang ramah lingkungan untuk menggantikan canting konvensional yang masih membutuhkan kompor minyak tanah untuk mencairkan lilin batik. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Alih Teknologi dan Inkubasi Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta. Metode yang dilakukan yaitu survey lapangan dan literature, perancangan desain, pemilihan dan pengadaan bahan, pembuatan, ujicoba, finishing, evaluasi dan pembahasan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah elemen pemanas 30 W, 220 V, plat tembaga 0,5 mm, kabel, saklar geser, kayu, baut dan isolasi.Luaran dari penelitian ini adalah satu unit canting listrik dengan daya 30 W, 220 V, panjang 148 mm, lebar 20 mm dan tinggi 35 mm. Kata kunci: canting, canting listrik, batik
Tinjauan Tekno Ekonomi Cap Batik dari Bahan Kayu Sri Hastuti, Lies Susilaning; Pristiwati, Endang
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 27 No. 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v27i1.1127

Abstract

Batik telah diakui sebagai warisan dunia, hal ini yang memberikan semangat kepada industri batik untuk dapat berkembang dan menghasilkan produk yang bermutu. Salah sau alat yang digunakan dalam membatik adalah canting cap yang umumnya terbuat dari tembaga. Pada tinjauan ini yang dilakukan adalah perhitungan tekno ekonomi terhadap canting kayu.Hasil tinjauan adalah sebagai berikut: Canting kayu dibuat dengan dua cara yaitu Jig-Saw Rekat dan Ukir Rekat. Kapasitas produksi cara Jigsaw Rekat adalah 4 buah/hari. Diasumsikan dalam 1 (satu) bulan ada 25 hari kerja sehingga kapasitas produksi per bulan adalah 100 buah canting kayu JigSaw Rekat dan 75 buah canting kayu Ukir Rekat. Jumlah total produksi adalah 175 buah canting kayu. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 1 (satu) orang pimpinan dan 20 orang karyawan. Modal yang dibuuhkan adalah Rp 87.740.000,-, biaya produksi Rp 20.573.334,-/bulan dan harga pokok Rp 120.000,-. Harga jual diperkirakan Rp 250.000,-/canting mengingat cara pengerjaannya yang cukup rumit. Keuntungan yang didapat Rp 19.700.166,-/bulan dan BEP=70 buah canting serta model diperkirakan dapat kembali dalam waktu 1,5 (satu setengah) bulan.Kesimpulan yang dapat ditetapkan adalah bahwa industri caning cap kayu merupakan industri yang dapat dikembangkan serta mempunyai prospek yang baik dalam mendukung perkembangan industri batik saat ini meskipun canting cap kayu mempunyai kelemahan yaitu desain motif yang dapat diterapkan pada canting kayu terbatas pada motif yang tidak menggunakan isen-isen. Kata Kunci: batik, canting cap kayu, tekno ekonomi
Penilaian (Assessment) Kecanggihan Komponen Teknologi Infoware pada IKM (Studi Kasus: IKM Mebel Propinsi DI. Yogyakarta) Umah, Siti Rohmatul
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 27 No. 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v27i1.1128

Abstract

Infoware adalah salah satu komponen teknologi di samping komponen lain yaitu technoware, humanware dan orgaware. Infoware adalah teknologi yang melekat pada dokumen yang berisi semua data dan gambar yang diperlukan dalam proses transformasi seperti informasi, prosedur, teknis, metode, spesifikasi, observasi dan hubungna dokumen dan cetak biru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai komponen teknologi infoware yang ada di IKM Mebel dengan menggunakan metode teknometrik. Sampel pengamatan terdiri dari 20 IKM Mebel di Provinsi DIY.Hasil penelitian menunjukkan bahwa batas bawah dari komponen infoware berada pada klasifikasi 1 (fakta pengenalan) dan batas atas pada klasifikasi 2 (fakta menjelaskan). Hal ini berarti bahwa tingkat state of the art dari komponen teknologi infoware yang ada di IKM Mebel berada pada kemampuan penggunaan fasilitas, sehingga perlu suatu kebijakan IKM dengan focus pada peningkatan kemampuan teknologi informasi sebaga upaya mendukung kinerja IKM. Kata kunci: komponen teknologi, infoware, IKM Mebel

Filter by Year

1987 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 42 No. 1 (2025): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 41 No. 2 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 41 No. 1 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 40 No. 2 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 40 No. 1 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 39 No. 2 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 39 No. 1 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 38 No. 2 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 38 No. 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 37 No. 2 (2020): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 37 No. 1 (2020): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 2 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 36 No. 1 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 2 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 35 No. 1 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol. 34 No. 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 34 No. 1 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol. 33 No. 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 33 No. 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 1 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 30 No. 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 30 No. 1 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 32 No. 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 31 No. 1 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 28 No. 1 (2011): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 27 No. 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 28 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 24 (2007): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 23 (2006): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 22 (2005): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol. 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 10 (1992): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 9 (1991): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 8 (1988): Dinamika Kerajinan dan Batik No. 7 (1987): Dinamika Kerajinan dan Batik More Issue