cover
Contact Name
Anwar Hafidzi
Contact Email
anwar.hafidzi@uin-antasari.ac.id
Phone
+6285251295964
Journal Mail Official
journalsharia@gmail.com
Editorial Address
Sharia Journal and Education Center Publishing Jalan Gotong Royong, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia Kode Pos 70711
Location
Kota banjarbaru,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory
ISSN : 30310458     EISSN : 30310458     DOI : https://doi.org/10.62976/ijijel.v3i3.1280
Core Subject : Religion, Social,
The Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory (IJIJEL) is a peer-reviewed academic journal that focuses on advancing research in Islamic jurisprudence, economics, and legal theory within the Indonesian context. Published quarterly (March, June, September, and December), the journal serves as a platform for scholars, researchers, and practitioners to explore theoretical and practical developments in Islamic law. IJIJEL welcomes original research articles, conceptual papers, critical reviews, and comparative studies covering topics such as Islamic legal methodology, contemporary jurisprudential issues, legal reform, and interdisciplinary perspectives. The journal aims to foster academic discourse, enhance understanding of Islamic law, and contribute to the integration of Islamic legal principles within Indonesia’s legal and socio-economic systems.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 550 Documents
The Position of Concurrent Creditors in Indonesian Bankruptcy Proceedings: Legal Challenges and Uncertainty Hermawan, S.H., M.H.,, Muhammad Bayu; Prof. Dr. Adi S, SH., MH; Yunari SH., MH, Dr. Sri Bakti
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 3 (2024): The articles in this volume explore various legal and social topics, including
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i3.664

Abstract

Abstract Suspension of Payment and Bankruptcy is a great tool for every entrepreneur in Indonesia, it provided a legal mechanism when a debtor unable to fulfill his obligation when it due. Indonesian government stipulated this proceeding process and requirement very well in the Law No. 37 of 2004 concerning Suspension of Payment and Bankruptcy. While PKPU proceeding act as some kind a legal moratorium that benefitted both Debtor and Creditors, Bankruptcy proceeding shall guaranteed Creditors able to recollect if not all, some of their wealth from the debtor. During the distribution of wealth in Indonesia’s corporation bankruptcy procedures, the wealth is often used to satisfy the debts owed by the debtor towards preferred creditors and secured creditors. The long process and enormous cost of the bankruptcy process before paying back the concurrent creditors puts a lack of emphasis towards these types of creditors’ rights since the company is dissolved and theoretically will not allow them to get any payment towards their loans given to the company. This leads to concurrent creditors earning a status of uncertainty and confusion in earning their credits. In Indonesia system, practically, concurrent always getting unfair preference and undervalued transaction that provides more wealth to another creditors Keywords: bankruptcy, concurrent creditors, company Abstrak Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan Kepailitan merupakan alat yang sangat penting bagi setiap pengusaha di Indonesia, karena menyediakan mekanisme hukum ketika debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo. Pemerintah Indonesia telah mengatur proses dan persyaratan ini dengan sangat baik dalam Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan Kepailitan. Sementara proses PKPU bertindak sebagai semacam moratorium hukum yang menguntungkan baik bagi Debitor maupun Kreditor, proses kepailitan menjamin Kreditor untuk mendapatkan kembali, jika tidak semua, sebagian dari kekayaan mereka dari Debitor. Dalam proses pembagian harta dalam prosedur kepailitan perusahaan di Indonesia, harta tersebut sering kali digunakan untuk memenuhi hutang debitur kepada kreditur preferen dan kreditur yang dijamin. Proses yang panjang dan biaya yang sangat besar dalam proses kepailitan sebelum membayar kreditur konkuren membuat hak-hak kreditur ini kurang diperhatikan karena perusahaan dibubarkan dan secara teoritis tidak memungkinkan mereka untuk mendapatkan pembayaran atas pinjaman yang diberikan kepada perusahaan. Hal ini menyebabkan kreditur konkuren mendapatkan status ketidakpastian dan kebingungan dalam mendapatkan haknya. Dalam sistem kepailitan di Indonesia, secara praktis, kreditur konkuren selalu mendapatkan preferensi yang tidak adil dan transaksi yang kurang menguntungkan sehingga memberikan keuntungan yang lebih besar kepada kreditur lain. Kata kunci: kepailitan, kreditur konkuren, perusahaan
Analisis Dampak Cfw Program Kotaku Dalam Pemberdayaan Perekonomian Masyarakat Ditengah Pandemi Covid-19 Ditinjau Dari Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus Kelurahan Sepang Jaya Labuhan Ratu Kota Bandar Lampung) Rachmawati, Della
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 3 (2024): The articles in this volume explore various legal and social topics, including
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i3.665

Abstract

Abstract The Covid-19 pandemic has caused many companies to close operations and lay off employees. As a solution, the Ministry of Public Works and Public Housing through the Directorate General of Human Settlements adopted a cash for work mechanism in the KOTAKU government assistance program (BPM). This research discusses the impact of the KOTAKU program on community empowerment and the economy amid the Covid-19 pandemic and the Islamic economic perspective on this impact. The research method used is qualitative and a case study on the KOTAKU program in Sepang Jaya Village, Bandar Lampung City. Primary data is obtained from in-depth interviews, focus group discussions, observations or surveys, while secondary data comes from documentation and literature studies related to the KOTAKU program. The results showed that the KOTAKU program had a positive impact on the community of Sepang Jaya Village. The program creates jobs, increases income, and meets household needs. The success of this program is supported by cooperation between the community and the local government. This positive impact is in accordance with Islamic teachings, helping to overcome unemployment and poverty due to the Covid-19 pandemic, as well as increasing togetherness and social responsibility. Keywords: CFW KOTAKU, Empowerment, Economy Abstrak Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak perusahaan menutup operasional dan merumahkan karyawan. Sebagai solusi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya mengadopsi mekanisme cash for work dalam program bantuan pemerintah untuk masyarakat (BPM) KOTAKU. Penelitian ini membahas dampak program KOTAKU terhadap pemberdayaan dan perekonomian masyarakat di tengah pandemi Covid-19 serta perspektif ekonomi Islam terhadap dampak tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan studi kasus pada program KOTAKU di Kelurahan Sepang Jaya, Kota Bandar Lampung. Data primer diperoleh dari in-depth interview, focus group discution, observasi atau survei, sedangkan data sekunder berasal dari dokumentasi dan studi pustaka terkait program KOTAKU. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program KOTAKU memberikan dampak positif bagi masyarakat Kelurahan Sepang Jaya. Program ini menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Keberhasilan program ini didukung oleh kerjasama antara masyarakat dan pemerintah setempat. Dampak positif ini sesuai dengan ajaran Islam, membantu mengatasi pengangguran dan kemiskinan akibat pandemi Covid-19, serta meningkatkan kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Kata Kunci: CFW KOTAKU, Pemberdayaan, Perekonomian
Application of La Yubtilu Haqqul Ghoir Rules to Compensation in Minor Crimes Hamdi, Ahmad; Asmuni
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 3 (2024): The articles in this volume explore various legal and social topics, including
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i3.666

Abstract

Abstract Several years ago, the legal world in Indonesia experienced a stir. The reason is that cases occur that ensnare ordinary people in order to survive. These cases are minor crimes with a small nominal amount and are categorized as light theft. In fact, most of these cases involve elderly people. Unfortunately, these cases were reported to law enforcers and some were even investigated and decided by the court. This article wants to examine what is meant by the rule of al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair and how this rule is applied to cases of minor criminal acts committed by the elderly to survive which are linked to compensation. This paper uses research of the type normative legal research or doctrinal research. The approaches used in this paper are the statute and the case approach. The results of this research show that the rule of al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair is a situation where if someone is in an emergency situation and inevitably has to use other people's belongings to deal with the emergency situation, then he still has the responsibility to replace other people's belongings that have been taken advantage of it. The application of the rule of al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair in cases of light theft crimes such as people who in an emergency are still allowed to take or use other people's goods provided that they still have the obligation to replace the other person's goods with similar goods or value. Keywords: Darurat, petty theft, haqqul ghair Abstrak Beberapa tahun yang lalu, dunia hukum di Indonesia pernah mengalami kehebohan sekaligus menggelitik. Pasalnya terjadi kasus-kasus yyang menjerat rakyat jelata guna menyambung hidupnya. Kasus-kasus tersebut merupakan tindak piidana ringan dengan jumlah nnominal yang tidak terlalu besar dan dikategorikan pencurian ringan. Bahkan kasus-kasuss tersebut sebagian besar melibatkan orang-orang yang sudah lanjut usia (lansia). Sangat disayangkan kasus-kasus tersebut sampai diadukan kepada para penegak hukum bahkan ada yang sampai diperiksa dan diputus pengadilan. Tulisan ini ingin mengupas apakah yang dimaksud dengan kaidah al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair dan bagaimana penerapan dari kaidah tersebut terhadapp kasus-kasus tindak pidana ringan yang dilakukan para lansia untuk menyambung hidupnya yang dikaitkan dengan ganti rugi. Tulisann ini menggunakannpenelitian yang berjenis penelitian hukum normatif atau penelitian doktrinal. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan perundang-undangann(statute approach) dan pendekatan kasuss(case approach). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kaidah al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair merupakan keadaan apabila seseorang dalam kondisi darurat dan mau tidak mau harus mengambil dan memanfaatkan barang milik orang lain untuk menanggulangi kondisi daruratnya maka ia masih memiliki tanggungan untuk mengganti barang milik orang lain yang telah ia manfaatkan. Penerapan kaidah al-idtiraru la yubtilu haqqul ghair pada kasus-kasus tindak pidana pencurian ringan seperti orang yang dalam keadaan darurat masih diperbolehkan mengambil atau memanfaatkan barang orang lain dengan catatan ia masih memiliki kewajiban untuk mengganti barang orang lain tersebut dengan barang atau nilai yang serupa. Kata kunci: Darurat, pencurian ringan, haqqul ghair
Analisis Pengaturan Hukum Terhadap Kejahatan Siber Doxing Di Indonesia Prisdallini, Diaz Marsillo; Irawan, Andrie
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 3 (2024): The articles in this volume explore various legal and social topics, including
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i3.667

Abstract

Abstract The idea of conducting research related to "Reconstruction of Doxing Cybercrime Regulation in Indonesia", is based on the purpose of knowing; first, what is the background for the emergence of cybercrime, especially doxing cybercrime in Indonesia?; second, to what extent do state institutions in charge of legislative affairs respond to problems (social and legal) due to the development of cybercrime doxing in Indonesia, so that law enforcement officials can anticipate and overcome them?; Third, how can the regulation of cybercrime doxing in Indonesia be reconstructed, so that it can be a solution to the problems that occur? The research method used is a normative juridical method with a legislative approach, a conceptual approach, and a case approach. The results of the study show that: (1) The reality of cybercrime must be observed first from the parent of cybercrime, namely; Cyberspace which is a new reality in human life, identification begins with; (a) analysis of the occurrence of social change as an impact of the development of technological innovation, (b) innovation is an alternative approach for humans as social creatures in interacting, (c) this social interaction forms a newcommunity in the form of a virtual form, namely cybercommunity (cybercommunity/cybersociety), (d) currently a new form of cybercrime has emerged called doxing, which is a violation of the right to personal data. (2) Regulatory readiness in anticipating and overcoming cybercrime, especially doxing cybercrime in Indonesia, begins with; (a) analysis of general regulations on cybercrime, (b) analysis of special regulations on cybercrime, and (c) analysis of problems in cybercrime regulations, especially doxing cybercrime. As a complement to the results of this study, it is recommended to state administrators to respond to the development of cybercrime doxing by reconstructing the current laws and regulations. Keywords: Regulation, Crime, Cyber Doxing Abstrak Gagasan melakukan penelitian terkait “Rekonstruksi Pengaturan Kejahatan Siber Doxing di Indonesia”, didasarkan kepada tujuan untuk mengetahui; pertama, apa yang melatarbelakangi timbulnya kejahatan siber, khususnya kejahatan siber doxing di Indonesia?; kedua, sejauhmana lembaga negara yang membidangi urusan legislasi menyikapi problematika (sosial maupun hukum) akibat berkembangnya kejahatan siber doxing di Indonesia, sehingga aparat penegak hukum dapat mengantisipasi dan mengatasinya?; ketiga, bagaimana sejatinya pengaturan kejahatan siber doxing di Indonesia direkonstruksi, sehingga dapat menjadi solusi atas permasalahan yang terjadi? Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, pendekatan kasus. Hasil dari penelitian memperlihatkan, bahwa: (1) Realita kejahatan siber (cybercrime) harus dicermati terlebih dahulu dari induk kejahatan siber, yaitu; ruang maya (cyberspace) yang merupakan realita baru dalam kehidupan manusia, identifikasi diawali dengan; (a) analisis terjadinya perubahan sosial sebagai dampak dari perkembangan inovasi teknologi, (b) inovasi menjadi pendekatan alternatif bagi manusia sebagai mahkluk sosial dalam berinteraksi, (c) interaksi sosial ini membentuk suatu komunitas baru yang berwujud virtual, yaitu masyarakat siber (cybercommunity/ cybersociety), (d) saat ini muncul bentuk kejahatan siber baru yang disebut doxing, yaitu pelanggaran hak atas data pribadi. (2) Kesiapan regulasi dalam mengantisipasi dan mengatasi kejahatan siber khususnya kejahatan siber doxing di Indonesia, diawali dengan; (a) analisis regulasi umum atas tindak kejahatan siber, (b) analisis regulasi khusus atas tindak kejahatan siber, dan (c) analisis problematika regulasi kejahatan siber khususnya kejahatan siber doxing. Sebagai pelengkap dari hasil penelitian ini, maka direkomendasikan kepada penyelenggara negara agar memberi respon atas berkembangnya kejahatan siber doxing dengan melakukan rekonstruksi peraturan perundang-undangan yang ada saat ini. Kata Kunci: Pengaturan, Kejahatan, Siber Doxing
Pertanggungjawaban Pihak Terkait (BPN, Kelurahan, dan PPAT) Mengenai Pemberitahuan Terhadap Jual Beli Tanah Letter C Yang Belum Dilakukan Pencoretan di Kelurahan Yang Sudah Menjadi SHM Atas Nama Ahli Waris Pembeli Dewandari, Dewi; Supriyono, Supriyono
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 3 (2024): The articles in this volume explore various legal and social topics, including
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i3.670

Abstract

Abstract This research focuses on the legal protection of the heirs of buyers who have a Certificate of Ownership (SHM) for land objects that have not been crossed out in the Letter C Book Indonesia. This thesis aims to examine the obligations or responsibilities of related parties, such as the National Land Agency (BPN), Village Heads, and Land Deed Making Officials (PPAT), in the process of buying and selling Land Letter C and to analyze the legal protection that can be given to the buyer's heirs. This study uses a normative-empirical method, where data is collected through literature studies and the collection of supporting empirical data. This research is descriptive analytical, which provides an overview and analysis of the implementation of the provisions of laws and regulations related to the transfer of land rights. The results of the study show that even though SHM has been issued, there are still problems related to the status of land in Book Letter C that are not crossed out, thus causing conflicts and legal uncertainty for SHM holders. Penelitian ini menekankan pentingnya koordinasi yang lebih baik antara pihak-pihak terkait dan implementasi yang konsisten dari peraturan perundang-undangan untuk memastikan perlindungan hukum yang memadai bagi pemilik hak atas tanah. Keywords: Legal Protection, Heirs, Certificate of Ownership Abstrak Penelitian ini berfokus pada perlindungan hukum terhadap ahli waris pembeli yang memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) atas objek tanah yang belum dilakukan pencoretan dalam Buku Letter C. Fenomena ini masih sering terjadi di Indonesia, meskipun peraturan perundang-undangan telah mengatur dengan jelas mengenai kepemilikan tanah. Skripsi ini bertujuan untuk mengkaji kewajiban atau pertanggungjawaban pihak terkait, seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN), Lurah, dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), dalam proses jual beli tanah Letter C serta untuk menganalisis perlindungan hukum yang dapat diberikan kepada ahli waris pembeli. Penelitian ini menggunakan metode normatif-empiris, di mana data dikumpulkan melalui studi pustaka dan pengumpulan data empiris yang mendukung. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yang memberikan gambaran dan analisis mengenai pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait peralihan hak atas tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun SHM telah diterbitkan, masih ada permasalahan terkait status tanah dalam Buku Letter C yang tidak dicoret, sehingga menimbulkan konflik dan ketidakpastian hukum bagi pemegang SHM. Penelitian ini menekankan pentingnya koordinasi yang lebih baik antara pihak-pihak terkait dan implementasi yang konsisten dari peraturan perundang-undangan untuk memastikan perlindungan hukum yang memadai bagi pemilik hak atas tanah. Kata Kunci: Perlindungan Hukum, Ahli Waris, Sertifikat Hak Milik
The Theory of the Rule 'Ijtihad Cannot Be Overturned by another Ijtihad' and Its Application in the Case of Bid'ah Divorce Riandi, Muhamad
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 3 (2024): The articles in this volume explore various legal and social topics, including
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i3.671

Abstract

Abstract This study delves into the theoretical principle of "Ijtihad cannot annul Ijtihad" and its application in cases of talaq bid’i (irregular divorce). The principle suggests that a juristic decision made through Ijtihad cannot be overturned by another subsequent Ijtihad unless there is a compelling reason rooted in the Islamic legal framework. The study emphasizes the continuous need for Islamic jurisprudence to evolve in response to new circumstances while adhering to established legal principles. Using a comparative analysis approach, the research examines how this principle is applied across various Islamic legal schools and its implications within Indonesian Personal Law concerning cases of talaq bid’i. The research concludes that while Ijtihad allows for the adaptation of Islamic law to different contexts and times, it must also respect the integrity and continuity of previous juristic efforts, ensuring that legal stability is maintained unless a more compelling and contextually relevant argument is presented. Keywords: Theory of Ijtihad, Fiqh Rule Bid'ah, Divorce, Islamic Law, Ijtihad in Islamic Law Abstrak Kaidah "Ijtihad tidak dapat dibatalkan oleh ijtihad" merupakan prinsip yang telah dikenal luas dalam hukum Islam, yang menyatakan bahwa ijtihad baru tidak dapat membatalkan ijtihad sebelumnya dalam perkara yang sama, kecuali terdapat alasan kuat yang didasarkan pada perubahan kondisi atau adanya pengetahuan baru yang lebih tepat. Studi ini berfokus pada penerapan kaidah ini dalam kasus talak bid'ah, yaitu perceraian yang dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Penulis meneliti bagaimana kaidah ini diaplikasikan oleh para ulama dalam kasus-kasus talak bid'ah dan dampaknya terhadap hukum keluarga Islam di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan induktif untuk mengumpulkan berbagai pandangan ulama serta metode komparatif untuk menganalisis penerapan kaidah ini di berbagai mazhab fikih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ijtihad baru dapat dilakukan, penerapan kaidah ini tetap mempertahankan stabilitas hukum dalam masyarakat dengan tidak serta merta membatalkan keputusan sebelumnya, kecuali jika ditemukan kesalahan yang mendasar dalam ijtihad pertama. Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami bagaimana prinsip-prinsip ijtihad dapat diterapkan dalam konteks hukum modern, khususnya dalam hukum keluarga Islam. Kata Kunci: Teori ijtihad, kaidah fiqh, talak bid'ah, hukum islam, ijtihad dalam hukum islam
Pengaruh Normalisasi Pernikahan Dini Terhadap Kesiapan Psikologi Calon Pengantin Masyarakat Pedesaan Rusmalinda S.A.B.,MM, Sinta; Syara NSS.,MH, Ajeung Syilva; Nurazijah, Windari
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 3 (2024): The articles in this volume explore various legal and social topics, including
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i3.675

Abstract

Abstract This research aims to analyze the influence of normalizing early marriage on the psychological readiness of prospective brides and grooms in rural communities. The phenomenon of early marriage is inherent, especially in rural communities, but we can avoid this by fully understanding the significant negative impact on prospective brides and grooms. In an effort to prevent the crisis of early marriage in society, researchers examined several factors that contribute to society's indifference to the negative impacts on underage teenagers.The methodology used in this research is a quantitative method with descriptive analysis and simple linear regression. Data was collected through distributing questionnaires and case studies to provide a comprehensive picture of the influence of normalizing early marriage on the psychological readiness of prospective brides and grooms in rural communities. The results of the analysis show that there is a significant impact between the normalization of early marriage on the psychological readiness of prospective brides and grooms in rural communities in that social values ​​and norms actually influence the survival of the prospective bride and groom after marriage. This research found that society must be more open-minded and prioritize the lives of minors by providing more education and guidance regarding early marriage, and looking for other solutions besides the causes of marriage at a young age. The conclusion of this research shows that early marriage is influenced by the complex interaction of various socio-cultural, educational, belief and psychological factors. Supportive norms and traditions, lack of parental control, and the psychological readiness of the prospective bride and groom play an important role. This research emphasizes the need for a multidimensional approach and comprehensive intervention programs to prevent early marriage and increase the psychological readiness of prospective brides and grooms. Keywords: Early Marriage, Psychological Readiness, Social Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh normalisasi pernikahan dini terhadap kesiapan psikologi calon pengantin masyarakat pedesaan. Fenomena pernikahan dini sudah melekat terkhusnya pada masyarakat pedesaan, akan tetapi hal ini bias kita hindari dengan memahami betul dampak negative yang signifikan terhadap calon pengantin. Dalam upaya untuk mencegah krisisnya pernikahan dini di kalangan masyarakat maka peneliti mengkaji beberapa factor yang menjadi acuhnya masyarakat akan dampak negative terhadap remaja remaja dibawah umur. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kuntitatif dengan analisis deskriptif dan regresi linier sederhana. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner dan studi kasus untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai pengaruh normalisasi pernikahan dini terhadap kesiapan psikologi calon pengantin masyarakat pedesaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat dampak yang signifikan antara normalisasi pernikahan dini terhadap kesiapan psikologi calon pengantin masyarakat pedesaan dalam nilai-nilai dan norma sosial ternyata mempengaruhi keberlangsungan kehidupan calon pengantin setelah menikah. Penelitian ini menemukan bahwa masyarakat harus lebih berfikir terbuka dan mengedepankan kehidupan anak dibawah umur dengan memberi edukasi dan pengarahan lebih mengenai pernikahan dini, dan mencari solusi lain dari selain terjadinya penyebab menikah pada usia muda.Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pernikahan dini dipengaruhi oleh interaksi kompleks berbagai faktor sosial budaya, pendidikan, kepercayaan, dan psikologis. Norma dan tradisi yang mendukung, kurangnya kontrol orang tua, serta kesiapan psikologis calon pengantin memainkan peran penting. Penelitian ini menekankan perlunya pendekatan multidimensional dan program intervensi komprehensif untuk mencegah pernikahan dini dan meningkatkan kesiapan psikologis calon pengantin. Kata Kunci: Pernikahan Dini, Kesiapan Psikologi, Sosial
Analisis Mengenai Pengaturan dan Pelaksanaan Pidana Penjara Seumur Hidup Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Ikawati, Linda
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 3 (2024): The articles in this volume explore various legal and social topics, including
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i3.678

Abstract

Abstract The criminal justice system is a crucial component of maintaining order and justice in society. It plays a vital role in upholding the law, punishing offenders, and providing a sense of justice to victims. One of the primary instruments within the criminal justice system is punishment. In the context of punishment, life imprisonment stands as one of the most severe penalties that can be imposed by a court. This punishment is reserved for perpetrators of extremely serious crimes deemed worthy of a lifetime behind bars without the possibility of parole. This raises a fundamental question: what is the primary purpose of utilizing life imprisonment within the criminal justice system? This inquiry delves into the four pillars of sentencing: reformation, restraint, retribution, and deterrence. This study employs a normative juridical approach, relying on the analysis of secondary data. Secondary data encompasses information gathered through literature review, drawing upon sources such as laws, legal theories, jurisprudence, and previous research in the form of journals, theses, dissertations, and essays. The extracted data is then analyzed using a qualitative approach and presented in descriptive language. The research reveals that the provisions regarding life imprisonment in the new Criminal Code (Law No. 1/2023) and the old Criminal Code (WvS) exhibit no significant differences in terms of the penal provisions themselves. However, a notable distinction lies in the new Criminal Code's introduction of requirements for convicts to qualify for life imprisonment. Furthermore, the new Criminal Code outlines clearer sentencing objectives compared to the old Criminal Code. Keywords: life imprisonment, Criminal Code. Abstrak Sistem peradilan pidana merupakan komponen penting dalam menjaga ketertiban dan keadilan dalam masyarakat. Sistem ini memainkan peran penting dalam menegakkan hukum, menghukum pelanggar, dan memberikan rasa keadilan bagi para korban. Salah satu instrumen utama dalam sistem peradilan pidana adalah hukuman. Dalam konteks pemidanaan, hukuman penjara seumur hidup merupakan salah satu hukuman terberat yang dapat dijatuhkan oleh pengadilan. Hukuman ini diperuntukkan bagi pelaku kejahatan yang sangat serius yang dianggap layak untuk dipenjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apa tujuan utama dari penggunaan hukuman penjara seumur hidup dalam sistem peradilan pidana? Penelitian ini menyelidiki empat pilar pemidanaan: reformasi, pengekangan, pembalasan, dan pencegahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan mengandalkan analisis data sekunder. Data sekunder mencakup informasi yang dikumpulkan melalui studi kepustakaan, dengan menggunakan sumber-sumber seperti undang-undang, teori-teori hukum, yurisprudensi, dan penelitian terdahulu dalam bentuk jurnal, tesis, disertasi, dan esai. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketentuan mengenai pidana penjara seumur hidup dalam KUHP yang baru (UU No. 1 Tahun 2023) dan KUHP yang lama (WvS) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam hal ketentuan pidana itu sendiri. Namun, perbedaan yang menonjol terletak pada pengenalan persyaratan bagi narapidana untuk memenuhi syarat untuk dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dalam KUHP yang baru. Selain itu, KUHP yang baru juga menjabarkan tujuan pemidanaan yang lebih jelas dibandingkan dengan KUHP yang lama. Kata kunci: Penjara seumur hidup, KUHP.
Kesetaraan Gender dalam Perlindungan Hak Anak dalam Perspektif Maqashid Syariah Megasari, Indah Dewi
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 3 (2024): The articles in this volume explore various legal and social topics, including
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i3.682

Abstract

Abstract Examining gender in scientific research is increasingly discussed in various studies in order to realize gender equality that brings balance in their respective roles and opportunities to live life fairly. Using a qualitative approach and literature analysis, this study aims to understand how the principles of maqashid sharia, such as justice and protection of life, can provide a foundation for gender equality in children's rights. The results show that maqashid sharia supports the fair and equal protection of all children, regardless of gender, and provides a strong basis for more inclusive family law reform. This research explores how maqashid sharia (the primary objectives of sharia) can be applied to ensure gender equality in the protection of children's rights, both male and female, in the context of Islamic law. This research contributes to the development of an Islamic legal discourse that is more responsive to issues of gender and children's rights. Keywords: Gender Equality, Children's Rights, and Maqashid Sharia Abstrak Mengkaji tentang gender dalam penelitian ilmiah semakin banyak dibahas dalam berbagai penelitian demi mewujudkan kesetaraan gender yang membawa keseimbangan dalam perannya masing-masing dan kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan adil. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis literatur, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana prinsip-prinsip maqashid syariah, seperti keadilan dan perlindungan jiwa, dapat memberikan landasan bagi kesetaraan gender dalam hak-hak anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maqashid syariah mendukung perlindungan yang adil dan setara terhadap semua anak, tanpa membedakan jenis kelamin, dan memberikan dasar yang kuat untuk reformasi hukum keluarga yang lebih inklusif. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana maqashid syariah (tujuan-tujuan utama syariah) dapat diterapkan untuk memastikan kesetaraan gender dalam perlindungan hak anak, baik laki-laki maupun perempuan, dalam konteks hukum Islam. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan wacana hukum Islam yang lebih responsif terhadap isu-isu gender dan hak anak. Kata Kunci: Kesetaraan Gender, Hak Anak, dan Maqashid Syariah
Application of the Principles of Justice in the Distribution of Wealth: A Literature Review of Contemporary Islamic Economics Fahrudin , Fahrudin
Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence, Economic and Legal Theory Vol. 2 No. 3 (2024): The articles in this volume explore various legal and social topics, including
Publisher : Sharia Journal and Education Center Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ijijel.v2i3.684

Abstract

Abstract This research discusses the application of the principles of justice in wealth distribution in the context of Islamic economics, focusing on instruments such as zakat, sadaqah, and the prohibition of usury. These principles are recognized as key foundations in creating social justice and reducing economic disparities. However, despite their great potential theoretically, the application of these principles in practice often faces various challenges. This research uses a descriptive qualitative approach through a literature review to evaluate the extent to which these principles of justice are applied in the real world and to identify factors that hinder their implementation. The findings indicate a gap between theory and practice in the application of the principles of equity in wealth distribution. The main challenges faced include the lack of adequate regulation, inefficiencies in the management of zakat and alms, as well as the dominance of the conventional financial system which is not always in line with sharia principles. In addition, there are still differences in the understanding and application of these principles across different economic and social contexts, which complicates efforts to realize equitable wealth distribution. The implications of these findings emphasize the need for more effective regulatory and governance reforms to support the implementation of equity principles in Islamic economics. Policymakers are expected to develop a stronger legal framework, as well as improve Islamic financial literacy among the public. For economic actors, especially Islamic financial institutions, there is a need for innovation in financial products and services that truly reflect the spirit of social justice and not only focus on formal compliance with sharia. Thus, this study provides recommendations that can be used as a reference to improve the effectiveness of the application of the principles of justice in wealth distribution, in order to achieve broader and more sustainable social welfare. Keywords: Principles Equality, Distribution of Wealth Rights, Islamic Economics Abstrak Penelitian ini membahas penerapan prinsip-prinsip keadilan dalam distribusi kekayaan dalam konteks ekonomi Islam, dengan fokus pada instrumen seperti zakat, sedekah, dan larangan riba. Prinsip-prinsip ini diakui sebagai fondasi utama dalam menciptakan keadilan sosial dan mengurangi kesenjangan ekonomi. Namun, meskipun secara teoritis memiliki potensi besar, penerapan prinsip-prinsip ini dalam praktik sering kali menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian pustaka (literature review) untuk mengevaluasi sejauh mana prinsip-prinsip keadilan tersebut diterapkan di dunia nyata dan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat implementasinya. Hasil temuan menunjukkan adanya kesenjangan antara teori dan praktik dalam penerapan prinsip-prinsip keadilan dalam distribusi kekayaan. Tantangan utama yang dihadapi termasuk kurangnya regulasi yang memadai, inefisiensi dalam pengelolaan zakat dan sedekah, serta dominasi sistem keuangan konvensional yang tidak selalu sejalan dengan prinsip-prinsip syariah. Selain itu, masih terdapat perbedaan pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip ini di berbagai konteks ekonomi dan sosial, yang memperumit upaya untuk mewujudkan distribusi kekayaan yang adil. Implikasi dari temuan ini menekankan perlunya reformasi regulasi dan tata kelola yang lebih efektif untuk mendukung penerapan prinsip-prinsip keadilan dalam ekonomi Islam. Pembuat kebijakan diharapkan dapat mengembangkan kerangka hukum yang lebih kuat, serta meningkatkan literasi keuangan syariah di kalangan masyarakat. Bagi pelaku ekonomi, terutama lembaga keuangan Islam, diperlukan inovasi dalam produk dan layanan keuangan yang benar-benar mencerminkan semangat keadilan sosial dan tidak hanya terpaku pada kepatuhan formal terhadap syariah. Dengan demikian, penelitian ini memberikan rekomendasi yang dapat digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan efektivitas penerapan prinsip-prinsip keadilan dalam distribusi kekayaan, guna mencapai kesejahteraan sosial yang lebih luas dan berkelanjutan. Kata Kunci: Prinsip Kesetaraan, Distribusi Hak Kekayaan, Ekonomi Islam