cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
FIKkeS
ISSN : 19786735     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 102 Documents
HUBUNGAN PERSEPSI PERAWAT PELAKSANA TENTANG KEMAMPUAN SUPERVISI KEPALA RUANG DENGAN KINERJA PERAWAT DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH UMUM DAERAH KOTA SEMARANG Ati Tyaa Hastuti
FIKkeS Vol 7, No 2 (2014): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.352 KB)

Abstract

Latar belakang : Supervisi adalah salah satu fungsi manajerial yang harus dijalankan oleh kepala ruangan. Supervisi yang tepat akan membantu pihak manajemen rumah sakit untuk meningkatkan kinerja perawat pelaksana khususnya dalam melakukan pekerjaannya sesuai dengan uraian tugas perawat pelaksana. Untuk itu sebagai seorang supervisor kepala ruang harus siap dalam menjalankan supervisi dengan di bekali kompetensi dan keterampilan yang cukup. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana persepsi perawat pelaksana tentang kemampuan supervisi kepala ruangan mempengaruhi kinerja perawat pelaksana di instalasi rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang pada tahun 2013. Metode : penelitian menggunakan desain penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 68 orang. Untuk memperoleh informasi dari responden, peneliti menggunakan alat pengumpul data berupa kuesioner dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Persepsi perawat pelaksana tentang kemampuan supervisi kepala ruang di instalasi rawat inap rumah sakit umum daerah kota semarang tahun 2013 yaitu sebesar ( 76.5 %) dalam kategori baik dan kinerja perawat pelaksana dalam pendokumentasian keperawatan yaitu sebesar (64.7 %) dalam kategori baik. Analisis persepsi perawat pelaksana tentang kemampuan supervisi kepala ruang dengan kinerja perawar dilakukan menggunakan Rank Spearman, p value 0.00 (<0.05). Sehingga kesimpulan dari penelitian ini ada hubungan bermakna antara persepsi perawat pelaksana tentang kemampuan supervisi kepala ruang dengan kinerja perawat pelaksana khususnya kinerja dalam pendokumentasian keperawatan. Saran: untuk meningkatkan pelaksanaan dokumentasi asuhan keperawatan, perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan pengetahuan perawat mengenai dokumentsai asuhan keperawatan sekaligus kemampuan kepala ruang dalam supervisi secara bersama-sama.Kata kunci : kinerja perawat, supervisi
DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERILAKU MIRAS REMAJA DESA SAMBIREJO, KECAMATAN PLUPUH, SRAGEN Amin Samiasih; Nanad Triyunadi Putra
FIKkeS Vol 3, No 2 (2010): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.038 KB)

Abstract

Berdasarkan survey awal yang di lakukan peneliti di desa Sambirejo, kecamatan Plupuh, Sragen terhadap 7 responden remaja laki - laki yang berperilaku mengkonsumsi miras didapatkan bahwa dari 7 remaja yang mengkonsumsi alkohot 4 diantaranya mengatakan karena keluarganya tidak pernah menegur dan melarangnya, sedangkan 3 remaja mengatakan mengkonsumsi alkohol sebagai protes atas aturan ketat yang diberlakukan keluarga. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku minum - minuman keras remaja Desa Sambirejo, Kecamatan Plupuh, Sragen. penelitiain ini adalah jenis penelitian deskriptil korelasi. Rancangan penetitian yang digunakan adalah Cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 64 responden. Metode pengambilan sampel menggunakan sample random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 64 responden. Variabel bebas dukungan keluarga dan variabel terikat adalah perilaku miras remaja. Uji statistik yang digunakan Rank Spearman, dengan taraf signifikan 5 %. Hasil penetitian didapat dukungan keluarga rendah sebesar 50 %, sedang sebesar 39,1 % dan tinggi sebesar 10,9 %. Remaja yang berperilaku miras berat sebesar 14,1 %, perilaku miras sedang sebesar 45,3 % dan perilaku miras ringan sebesar 40,6 %. Hasil uji statlstik dengan Rank Spearman didapatkan ada hubungan secara signifikan (bermakna) antara dukungan keluarga dengan perilaku miras di kalangan remaja, dengan nilai r hitung sebesar 0,351 dan p = 0,005. menuniukkan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga maka perilaku miras dikalangan remaja akan semakin ringan demikian sebaliknya semakin rendah dukungan keluarga yang diberikan maka semakin berat tingkat perilaku miras di kalangan remaja. Kata Kunci : Dukungan Keluarga, Remaja, Perilaku Miras.  
HUBUNGAN PEMBERIAN INFORMED CONSENT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD KAJEN KABUPATEN PEKALONGAN Anna Rohmawati; Tri Hartiti; Machmudah -
FIKkeS Vol 5, No 1 (2012): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.428 KB)

Abstract

Tindakan pembedahan merupakan salah satu bentuk terapi dan merupakan upaya yang dapat mendatangkan ancaman terhadap tubuh, integritas dan jiwa seseorang. Pembedahan merupakan stressor yang dapat menimbulkan cemas psikologik dan fisik. Pada pasien pre operasi yang terjadi karena pasien tidak dapat mengekspresikan sesuatu yang tidak diketahui dan antisipasi pada sesuatu yang tidak dikenal dan prosedur-prosedur yang mungkin menyakitkan akan menjadi penyebab utama yang paling umum salah satunya pemberian informed consent. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian informed consent dengan tingkat kecemasan pasien pre operasi di Instalasi Rawat Inap RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. Desain penelitian ini yaitu deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan total sampling sebanyak 32 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan analisa data menggunakan uji korelasi sperman rank.Hasil uji korelasi sperman rank diperoleh ? value sebesar 0,026 < 0,05 berarti Ada hubungan pemberian informed consent dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di ruang rawat inap RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan.Petugas kesehatan sebaiknya lebih menekankan pada komunikasi timbal balik dalam pemberian informed consent pada pasien sehingga dapat mengetahui kebutuhan informasi pasien sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan pasien.Kata kunci : Informed Consent, Tingkat Kecemasan
TINGKAT STRES MAHASISWA PROFESI NERS STASE KOMUNITAS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG Tri Nurhidayati
FIKkeS Vol 7, No 1 (2014): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.431 KB)

Abstract

Clinical components are very important in the curriculum of nursing education. One of the barriers in learning is stress caused by many tasks, financial issues, exams, and lecturers. This study aimed to find out the level of distress among the students of nursing profession of Universitas Muhammadiyah Semarang and was to explore the experience of stress.This study used a descriptive. A questionnaire was administered to all 38 students the intern year in conjuction with the 28 item version of the general health questionnaire in first week and fourth week community stase. Semi-structured interviews were subsequently undertaken with two volunteers.Results of this study approximately 43,7% of respondents reported levels of severe stress. There were differences in distress between first week (4,41) and fourth week (7,27). That indicates elevating stress in fourth week.. It happened elevating stress in fourth week. It is recommended academic counselors, good support system and academic environment.Keywords: level of distress
PENGARUH EDUKASI KELOMPOK SEBAYA TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU PENGEGAHAN ANEMIA GIZI BESI PADA WANITA USIA SUBUR DI KOTA SEMARANG Siti Aisah; Junaiti Sahar; Sutanto Priyo Hastono
FIKkeS Vol 2, No 1 (2008): Keperawatan dan Kebidanan
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.843 KB)

Abstract

Kelompok sebaya wanita usia subur (WUS) yang ada dan berkembang di masyarakat sudah banyak terbentuk salah satunya adalah kelompok sebaya dalam wadah PKK RT. Salah satu permasalahan yang terjadi pada kelompok WUS adalah anemia gizi besi (AGB). Kelompok sebaya PKK RT diharapkan dapat membantu WUS dalam melakukan pencegahan AGB. Tuiuan penelitian untuk mengetahui pengaruh edukasi kelompok sebaya terhadap perubahan perilaku dalam pencegahan AGB, jenis penelitian eksperimen semu, desain non-equivalent pretest-postest with control group, dengan intervensi edukasi kelompok sebaya PKK RT. Proses penelitian telah ditaksanakan pada bulan Maret-Juni 2008 di Kota Semarang dengan metode multistage random sampling, jumlah sampel 110 (55 responden kelompokperlakuan, dan 55 responden kelompokkontrol). Hasil penelitian menunjukkan rata+ata umur WUS 35.5 tahun dengan pendidikan W|JS terbesar SMA. Ada hubungan yang signifikan antara usia dengan pengetahuan (p<0,05).Ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan pengetahuan dan sikap (p<0.05), Ada perbedaan yang signifikan (p<0.05) rata-rata nilai pengetahuan, sikap, ketrampilan antara sebelum dan setelah pada kedua kelompok, namun masih lebih tinggi pada kelompok perlakuanyang mendapat intervensi edukasi Relompok sebaya. Ada perbedaan yang signifikan (p<0.05) rata-rata nitai pengetahuan, sikap, ketrampilan antara kelompok perlakuan dan kontrol. lntervensi edukasi kelompok sebaya mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang dapat dilihat dari nilai p <0.05, berarti bahwa pengetahuan, sikap, dan Retrampilan tidak dipengaruhi oleh umur dan tingkat pendidikan tetapi dipengaruhi oleh intervensi edukasi kelompok sebaya. Berdasar hasil tersebut perlu optimalisasi kelompok sebaya wanita yang sudah ada di masyarakat, mengintegrasikan upaya promotif dan preventif AGB kedalam programnya.Kata kunci : Perilaku pencegahan, anemia gizi besi, wanita usia subur, edukasi kelompok sebaya
ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA (1 5 TAHUN) DI POSYANDU CEMPAKA DESA NGREMBEL KELURAHAN GUNUNGPATI KOTA SEMARANG Eli Setiasih
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.666 KB)

Abstract

Gizi kurang dan gizi buruk pada balita dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan jasmani dan kesehatan. Akibat jangka panjang yaitu berkaitan dengan kesehatan anak, pertumbuhan anak, penyakit infeksi dan kecerdasan anak. Apabila hal ini dibiarkan tentunya balita sulit sekali berkembang. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi status gizi pada balita adalah pendapatan keluarga, tingkat pengetahuan ibu, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan tingkat konsumsi makanan. Hasil survey di posyandu Cempaka Desa Ngrembel diketahui bahwa ada keengganan para ibu untuk menimbangkan berat badan anaknya di posyandu, selain itu juga ditemukan ibu yang menganggap hal biasa melihat berat badan anaknya berada di bawah garis merah.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi anak usia 1- 5 tahun di Posyandu Cempaka Desa Ngrembel Kelurahan Gunung Pati.Jenis penelitian ini deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak balita di wilayah kerja Posyandu Cempaka Gunung Pati Desa Ngrembel RW VII Kelurahan Gunung Pati kota Semarang yang berjumlah 55 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah sampel jenuh.Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji Chi square didapatkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan orang tua dengan status gizi anak balita (p=0,028), terdapat hubungan yang bermakna antara pendapatan orang tua dengan status gizi anak balita (p=0,009), tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu dengan status gizi anak balita (p=0,312), terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan status gizi anak balita (p=0,000), terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi makanan yang diberikan dengan status gizi anak balita (p=0,000)Diharapkan kepada setiap ibu balita untuk memberikan asupan gizi yang baik kepada anak balitanya walaupun dalam kondisi perekonomian keluarga yang pas-pasan.Kata Kunci : Pendidikan, Pendapatan, Pekerjaan, Pengetahuan, Konsumsi makanan, Status giziPustaka : 27 (1999-2010).
HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT DALAM DOKUMENTASI KEPERAWATAN DENGAN PELAKSANAANNYA DI RAWAT INAP RSI KENDAL Sri Sugiyati
FIKkeS Vol 8, No 2 (2015): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.467 KB)

Abstract

Dokumentasi keperawatan sangatlah penting, akan tetapi pada kenyataannya masih banyak perawat yang kurang mengetahui dokumentasi keperawatan yang baik dan benar, salah satunya di Rumah Sakit Islam Kendal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisa adanya hubungan antara pengetahuan perawat dalam dokumentasi dengan pelaksanaannya di Rawat Inap Rumah Sakit Islam Kendal. Metode dalam penelitian ini menggunakan kuantitatif korelasi, jenis penelitian observasional dengan pendekatan crosscectional dan kuantitatif. Populasi penelitian ini yaitu perawat pelaksana penanggung jawab rawat inap dari 6 Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Islam Kendal. Jumlah populasi tersebut ada 80 perawat. Sampel untuk pengetahuan perawat ada 30 perawat, untuk dokumentasi ada 90, yaitu setiap sampel dokumentasi perawat diambil 3 dokumen, hal ini untuk menghindari hasil bias.Hasil dari penelitian ini : ada hubungan antara pengetahuan perawat dalam dokumentasi keperawatan dengan pelaksanaannya, p value = 0,001. Analisis menggunakan Pearson product moment. Perawat di Rumah Sakit Islam Kendal berpengetahuan baik 24 orang (80%) dan pelaksanaan dokumentasi keperawatan dari jumlah rekam medik 90 pasien rata rata baik (84,9). Dokumentasi keperawatan tidak lengkap pada pengkajian 20%, diagnosa 12.6%, perencanaan keperawatan 28%, tindakan keperawatan 3%, evaluasi 8%, dan catatan keperawatan 16.4%. Catatan keperawatan paling banyak ditemukan tidak ada pengesahan atau nama dan keduanya, serta tulisan kurang dapat dibaca. Untuk menjaga mutu dan kelengkapan dokumentasi keperawatan maka perlu adanya supervisi atau audit dokumentasi asuhan keperawatan secara kontinyu, terjadwal serta tertib. Agar mengetahui secara obyektif hasil catatan asuhan keperawatan sesuai dengan target dan standar yang dibakukanKata kunci : Pengetahuan Perawat, Dokumentasi Keperawatan.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN PSIKOMOTOR ANAK USIA 3.5 TAHUN DI DESA SARIREJO KEC. GUNTUR KAB. DEMAK Eni Hidayati
FIKkeS Vol 1, No 2 (2008): Keperawatan dan Kebidanan
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.632 KB)

Abstract

Anak adalah individu yang unik dan bukanlah miniature orang dewasa, anak memerlukan perhatian khusus untuk optimalisasi tumbuh kembang. Salah satu tahap tumbuh kembang adatah usia prasekolah yang mempunyai karakteristik sendiri sebagai masa persiapan menuju periode sekolah. Peran seorang ibu penting dalam menentukan perkembangan anak, sehingga ibu harus memiliki pengetahuan tentang perkembangan anak. Penelitian untuk mengetahu hubungan pengetahuan ibu tentang perkembangan anak dengan perkembangan psikomotoranak usia 3-S tahun. Subjek penetitian ini adalah pasangan ibu dan anak usia 3-5 tahun, sebayak 37 responden.Rancangan penelitian ini adalah dengan menggunakan potong lintang (cross sektional). Cara pengumpulan data dengan mengisi kuesioner dan melakukan observasi tas skrining perkembangan Denver II. Kedua variable di hubungkan dengan menggunakan uji Chi-Sguare, Pengolahan data dilakukan dengan progam SPSS 11,00.Dari uji sosialisasi antar pengetahuan ibu tentang perkembangan anak dengan perkembangan psikomotor anak usia 3-5 tahun didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan yang bermakna secara statistic dengan a = 0,0 5.Disarankan ibu yang mempunyai anak usia 3-5 tahun lebih meningkatkan pengetahuan. Bagi petugas kesehatan perlu memberikan pedidikan kesehatan pada keluarga tentang hal-hal yang meipengaruhi perkembangan anak, misalnya: ststus gizi, serta mengaiarkan cara stimulasi perkembangan anak. Bagi peneliti setanjutnya diharapkan meneliti factor lain yang berpengaruh terhadap perkembangan anak.Kata kunci : pengetahuan tentang perkembangan anak, perkembangan psikomotor anak
HUBUNGAN ANTARA KONDISI LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN JATUH PADA LANJUT USIA DI KELURAHAN NGIJO GUNUNG PATI SEMARANG Ariastika Irine Sofyan; Heryanto Adi Nugroho; Rahayu Astuti
FIKkeS Vol 4, No 1 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.356 KB)

Abstract

Jatuh merupakan kejadian terbesar kecelakaan pada lanjut usia. Kejadian jatuh harus dicegah agar jatuh tidak terjadi berulang-ulang. Salah satunya adalah dengan cara identifikasi faktor resiko, di antaranya adalah kondisi lingkungan fisik rumah yang berbahaya. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kondisi lingkungan fisik rumah dengan kejadian jatuh pada lanjut usia, jenis penelitian correlation study, pendekatan cross sectional, dengan subyek penelitian adalah lanjut usia yang tinggal di kelurahan Ngijo, Gunung Pati Semarang. Proses penelitian telah dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2010 di Kota Semarang. Jumlah populasi sebanyak 201 responden dan sampel 133 responden. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah proportional random sampling. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata umur 69 tahun dengan pendidikan lanjut usia tertinggi SD. Responden yang pernah jatuh(n=46) dan tidak pernah jatuh(n=87). Kondisi lingkungan yang membahayakan(n=79) dan lingkungan tidak membahayakan(n=54). Ada hubungan yang signifikan antara kondisi lingkungan fisik rumah dengan kejadian jatuh pada lanjut usia (?<0,05), berarti bahwa kondisi lingkungan fisik rumah mempengaruhi kejadian jatuh pada lanjut usia, sebagian besar lanjut usia yang pernah mengalami kejadian jatuh memiliki kondisi lingkungan fisik rumah yang membahayakan Berdasarkan hasil tersebut perlu pendidikan kesehatan, penyuluhan dan komunikasi dengan warga mengenai pentingnya memodifikasi kondisi lingkungan fisik rumah yang aman bagi lanjut usia dalam meminimalkan kejadian jatuh pada lanjut di rumahKata Kunci : jatuh, lanjut usia, lingkungan fisik
TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG TANDA-TANDA SEKS SKUNDER DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA PUTRA DAN PUTRI DI SMP NEGERI 1 KARANGAWEN KABUPATEN DEMAK Agung Hidayat; Machmudah -; Sufiati Bintanah
FIKkeS Vol 6, No 1 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.524 KB)

Abstract

Remaja merupakan masa seseorang untuk mencari jati diri, dengan pengetahuan tentang tanda-tanda seks sekunder yang baik maka remaja akan berhati dalam pergaulan sehari-hari . Perubahan sekunder pada masa pubertas adalah perubahan-perubahan yang menyertai perubahan primer yang terlihat dari luar . Perilaku seksual adalah perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual . Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui tingkat pengetahuan tentang tanda-tanda seks skunder dengan perilaku seksual remaja putra dan putri di SMP N 1 Karangawen kab Demak . Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif dengan metode correlation study . Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 1 karangawen kab Demak sebayak 172 , dan pengambilan sempel menngunakan metode stratified random sampling yaitu berjumlah 99 orang. Variabel yang dikaji dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dan prilaku seksual terhadap tanda-tanda seks skunder . Analisa yang digunakan adalah uji korelasi Rank Spearman . Berdasarkan hasil data statistik didapatkan jenis kelamin laki-laki 44 siswa (44,4%) dan perempuan 55 siswa (55,6%) Sebagian besar umur rata-rata responden 13,35 tahun . Tingkat pengetahuan remaja putra sebagian besar adalah cukup yaitu sebanyak 28 (63,6%) dan yang baik yaitu sebanyak 4(9,1%) dan yang kurang yaitu sebanyak 12(27,3%) sedangkan tingkat pengetahuan remaja putri sebagian besar adalah cukup yaitu sebanyak 42(76,4%) dan yang baik yaitu sebanyak 9(16,4%) dan yang kurang yatu sebanyak 4(7,3%) . Prilaku seksual putra sebagian besar adalah baik yatu sebanyak 21 (47,7%) dan yang cukup yaitu sebanyak 17 (38,6%) dan yang kurang baik yaitu sebanyak 6 (13,6%) dan prilaku remja putri sebagian besar adalah cukup baik yaitu sebanyak 24 (43,6%) dan yang baik yaitu sebanyak 22 (44,0%) dan yang kurang baik yaitu sebanyak 9 (16,4%). dengan p value sebesar 0,029 < 0,05 , maka ada hubungan pengetahuan tentang tanda-tanda seks sekunder dengan perilaku seksual remaja putra di SMP N 1 Karangawen Kabupaten Demak tahun 2012. sedangkan pada remaja putri didapatkan p value sebesar 0,029 < 0,05 , maka ada hubungan pengetahuan tentang tanda-tanda seks sekunder dengan perilaku seksual remaja putri di SMP N 1 Karangawen Kabupaten Demak tahun 2012Kata kunci : Pengetahuan, remaja, tanda-tanda seks sekunder, prilaku seksual.

Page 4 of 11 | Total Record : 102