cover
Contact Name
Wahyudin
Contact Email
wahyuwahyudin@unsoed.ac.id
Phone
+6281390952818
Journal Mail Official
alit.jdbeditor@gmail.com
Editorial Address
Kampus Karangwangkal, Jl. Dr. Soeparno, Purwokerto Utara, Jawa Tengah 53122 Telp. (0281) 643744/629191 Fax. (0281) 621966
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Dental and Biosciences
ISSN : -     EISSN : 30892619     DOI : https://doi.org/10.20884/1.jdentbios.2025.2.01.12
Core Subject : Health,
Journal of Dental and Biosciences (JDB), is a publication of scientific writings related to dentistry and other biosciences fields in efforts to diagnose, prevent, treat oral diseases, and improve oral health. The spread of dental fields comprises pediatric dentistry, conservative dentistry, endodontics, periodontics, prosthodontics, orthodontics, oral and maxillofacial surgery, oral medicine and pathology, community dentistry, dental material science and technology, oral biology, biomolecular dentistry, oral and maxillofacial radiology, and forensic odontology.
Articles 30 Documents
Mukositis Oral pada Pasien Kanker Rektum yang Menjalani Kemoterapi: Laporan Kasus Resmaputri, Ayu Meitri; Triani, Maulina; Rahmah, Hanny Aulia
Journal of Dental and Biosciences Vol 2 No 01 (2025): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2025.2.01.13216

Abstract

Background: Chemotherapy is a cancer therapy modality that uses high-energy ionizing radiation rays. One of the effects of chemotherapy on the oral cavity is that it can increase the occurrence of opportunistic infections such as oral mucositis. Purpose: The purpose of this publication is to report the findings of oral mucositis in rectal cancer patients undergoing chemotherapy. Case: A 45-year-old female patient complained of sore lips and mouth two weeks ago. The patient has a history of rectal cancer and anemia and was treated in the internal disease inpatient ward at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, this patient has undergone chemotherapy procedures three times and blood transfusion treatment. Case Management: The treatment plan that can be given is in the form of pharmacological therapy by administering benzydamine HCl mouthwash, chlorhexidine gluconate, vitamin B12, and folic acid. Non-pharmacological therapy in the form of communication, information and education is given to patients to avoid several predisposing factors and requires collaboration with specialist doctors who are treating systemic diseases. In this case, the patient is given non-pharmacological therapy. Conclusion: The principles of managing oral mucositis include administering mouthwash that varies based on the severity of the oral mucositis and supportive therapy with vitamin B12 and folic acid.
Perbandingan Tingkat Kekasaran Permukaan Glass Ionomer Cement Konvensional Berdasarkan Variasi Jumlah Hisapan Rokok Kretek Non-Filter : Studi In Vitro Bimantoro, Muhammad Satriyo; Dwiandhono, Irfan; Widyaningsih, Pratiwi Nur
Journal of Dental and Biosciences Vol 2 No 01 (2025): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2025.2.01.13623

Abstract

Latar belakang: Glass ionomer cement (GIC) konvensional merupakan bahan restorasi gigi yang bersifat antikariogenik dan dapat melepaskan flouride. Merokok dapat mempengaruhi sifat fisik GIC. Kekasaran permukaan merupakan salah satu sifat fisik bahan restorasi yang dapat memengaruhi keberhasilan restorasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kekasaran permukaan GIC setelah hisapan asap rokok kretek non filter. Metode: Penelitian ini dilakukan di laboratorium secara eksperimental dengan desain pretest - posttest control group design sejumlah 32 spesimen GIC dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok perlakuan diberikan paparan 75, 150, dan 250 hisapan rokok kretek non filter, dan kelompok kontrol diberikan perendaman air liur buatan tanpa paparan asap rokok kretek non filter. Seluruh perlakuan dilakukan selama 21 hari. Kekasaran permukaan diukur dengan alat surface roughness tester dan dievaluasi melalui analisis statistik, One-Way ANOVA dan Post-Hoc LSD. Hasil : Rerata selisih pretest - posttest kelompok I, II, III, dan kontrol sebesar 0,056, 0,094, 0,167, dan 0,008 μm. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbedaan kekasaran permukaan GIC yang signifikan (p <0,05), dengan variasi antara semua kelompok. Simpulan: Peningkatan jumlah hisapan rokok kretek non-filter dapat meningkatkan kekasaran permukaan GIC konvensional.
Pengaruh Pengetahuan Mahasiswa Kedokteran Gigi Tentang Gigi Berjejal Terhadap Minat Melakukan Perawatan Ortodonti Cekat Elgiva, Nabiel Lavina; Handayani, Fani Tuti; Hidayah, Arfi Nurul; Hidayah, Riski Amalia; Wulansari, Rahmawati
Journal of Dental and Biosciences Vol 2 No 02 (2025): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2025.2.02.15660

Abstract

Pendahuluan: Gigi berjejal dapat dikoreksi dengan perawatan ortodonti cekat. Perawatan ini memiliki beberapa tantangan dengan sifatnya yang melekat dan tidak dapat dilepas pasang oleh pasien sehingga dapat memengaruhi minat individu terhadap perawatan. Minat dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah pengetahuan. Mahasiswa kedokteran gigi secara khusus belajar mengenai maloklusi, estetika wajah, dan estetika gigi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengetahuan mahasiswa kedokteran gigi mengenai gigi berjejal terhadap minat perawatan ortodonti cekat; Metode: Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa kedokteran gigi Universitas Jenderal Soedirman sejumlah 185 orang. Sampel dipilih menggunakan teknik total sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Jumlah sampel penelitian adalah 113 orang. Pengambilan data dilakukan dengan dua kegiatan yaitu kegiatan daring berupa pengisian kuesioner google form dan kegiatan luring berupa pemeriksaan dan pengambilan foto intraoral. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji regresi linear sederhana; Hasil: Hasil pada penelitian menunjukkan terdapat pengaruh pengetahuan mahasiswa kedokteran gigi mengenai gigi berjejal terhadap minat perawatan ortodonti cekat (p<0,05) dengan nilai R Square sebesar 0,245; and Kesimpulan: Simpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh pengetahuan mahasiswa kedokteran mengenai gigi berjejal terhadap minat perawatan ortodonti cekat sebesar 24,5%.
Aktivitas Antibakteri Granul Effervescent Ekstrak Etanol Daun Pepaya Sebagai Pembersih Gigi Tiruan Resin Akrilik Yang Terkontaminasi Streptococcus Mutans Siregar, Raja Ronaldo; Rachmani, Eka Prasasti Nur; Ichsyani, Meylida
Journal of Dental and Biosciences Vol 2 No 02 (2025): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2025.2.02.17142

Abstract

Latar belakang: Denture stomatitis merupakan peradangan pada mukosa rongga mulut yang sering dikaitkan dengan pembentukan biofilm Streptococcus mutans pada permukaan gigi tiruan. Daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung senyawa antibakteri sehingga berpotensi dikembangkan sebagai agen pembersih gigi tiruan alternatif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efek antibakteri granul effervescent ekstrak etanol daun pepaya terhadap S. mutans pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan granul effervescent ekstrak etanol daun pepaya dengan konsentrasi 3,125%; 6,25%; dan 12,5%. Alkali peroksida digunakan sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif. Spesimen resin akrilik diinokulasi dengan S. mutans, diberi perlakuan sesuai kelompok, kemudian dihitung jumlah koloni (colony-forming units/CFU). Data dianalisis menggunakan uji One-way ANOVA dan Post hoc LSD. Hasil: Rerata jumlah koloni (×10⁴) berturut-turut adalah 8,14±1,62; 5,32±0,51; 3,84±0,90; 3,46±0,64; dan 13,4±2,57 untuk kelompok 3,125%; 6,25%; 12,5%; kontrol positif; dan kontrol negatif. Terdapat perbedaan bermakna antara semua kelompok dengan kontrol negatif (p<0,05), namun tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok 12,5% dengan kontrol positif. Simpulan: Granul effervescent ekstrak etanol daun pepaya efektif menghambat pertumbuhan S. mutans pada basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas, dengan konsentrasi 12,5% menunjukkan efektivitas setara dengan alkali peroksida.
Effect of Miswak (Salvadora persica) Toothbrushing on Salivary Flow Rate in Children with Down Syndrome: a Pre–Post Controlled Study Artika, Suci Idia; Satrio, Rinawati; Ramadhani, Amilia
Journal of Dental and Biosciences Vol 3 No 01 (2026): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2026.3.01.19117

Abstract

Background: Saliva plays a vital role in maintaining oral health. Children with Down syndrome often experience reduced salivary flow due to salivary gland hypoplasia, increasing their risk of oral health problems. Miswak (Salvadora persica), a traditional toothbrush, provides both mechanical and chemical stimulation that may enhance salivary secretion. This study aimed to evaluate the effect of miswak toothbrushing on salivary flow rate in children with Down syndrome. Methods: A controlled pre-post study­ was conducted among 20 children with Down syndrome in SLB C-C1 Yakut Purwokerto and SLB ABCD Banyumas, Central Java, Indonesia. Participants were randomly assigned to a miswak group or a conventional toothbrush group. Saliva was collected using the spitting method before and after brushing. Results: The miswak group showed a significant increase in salivary flow rate (0.21 to 1.01 mL/min), compared to a modest increase in the control group (0.21 to 0.31 mL/min). The difference between groups was statistically significant (p < 0.01). Conclusions: These findings suggest that miswak toothbrushing may be an effective method to enhance salivary flow in children with Down syndrome, potentially contributing to improved oral health outcomes. Keywords: Down syndrome, salivary flow rate, Salvadora persica, oral health
Association Between Mesiodistal Tooth Width and Soft Tissue Facial Profile Convexity among Chinese Adolescents in Jember, Indonesia Rohmah, Fatihatur; Netiani, Ernita; Utami, Mellyna Trismi; Taqwim, Ali
Journal of Dental and Biosciences Vol 3 No 01 (2026): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2026.3.01.19766

Abstract

B Background: Tooth size and soft tissue facial profile are influenced by genetic, sexual, and ethnic factors. Understanding their relationship is important for orthodontic diagnosis, particularly in specific ethnic populations. Methods: A cross-sectional study was conducted on 50 Chinese adolescents (25 males, 25 females) aged 17-18 years. Mesiodistal tooth width from maxillary and mandibular central incisors to first molars was measured on dental casts. Soft tissue facial profile convexity was assessed using standardized lateral facial photographs. Sex differences were analyzed using independent t-tests, while associations were evaluated using Pearson correlation and linear regression (α = 0.05). Results: Males exhibited significantly larger mesiodistal tooth widths than females in both arches (p < 0.05). No significant sex differences were observed in facial profile convexity (p > 0.05). A weak but statistically significant negative correlation was found between mesiodistal tooth width and facial profile convexity (r = −0.35 maxilla; −0.34 mandible), accounting for 12.2% of the variance. Conclusion: Mesiodistal tooth width demonstrated a weak association with soft tissue facial profile convexity among Chinese adolescents in Indonesia, indicating that mesiodistal tooth width alone has limited predictive value for facial profile morphology and supporting the multifactorial basis of facial esthetics. Key words: Mesiodistal tooth width; soft tissue facial profile; facial convexity; Chinese ethnicity
Integrasi Pelayanan Primer Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Pendekatan Multi-Aktor di Negara Berkembang: Studi Kualitatif di Chiang Mai, Thailand Prakosa, Aditya Priagung; Amalia, Rahma Ika; Cahyarani, Sabrina Febita; Putri, Rosalyn Agnes Dwi; Fardhilah, Adelia Rahma; Azzahra, Aulia Eka; Prastiya, Wahyu; Erwina, Ariella Bernadine; Handayani, Fani Tuti
Journal of Dental and Biosciences Vol 3 No 01 (2026): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2026.3.01.11093

Abstract

Latar belakang: Sistem Kesehatan Nasional merupakan pengelolaan kesehatan yang diselenggarakan negara untuk mencapai tujuan pemberian pelayanan pencegahan dan pengobatan bagi masyarakat. Thailand termasuk negara berkembang yang berkomitmen untuk mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang adil dan merata melalui Universal Health Coverage (UHC) Scheme yang telah mencakup 76% dari populasinya. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi partisipatif di lapangan didukung dengan wawancara mendalam kepada civitas rumah sakit yang dipilih secara purposif. Data direduksi, disajikan dan diverifikasi melalui triangulasi teknik untuk menjamin keabsahan data. Hasil: Thailand memiliki fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang memadai. Kemudahan untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan dukungan pembiayaan dari pemerintah setempat yang berfokus pada pelayanan kesehatan primer melalui upaya promotif dan preventif sehingga dapat mencapai tingkatan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam mempertahankan kesehatan dirinya. Kesimpulan: Thailand mampu mewujudkan Sistem Kesehatan Nasional karena adanya kolaborasi yang baik antara penyelenggara, sumber daya manusia, fasilitas, serta partisipasi masyarakat untuk meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat yang lebih baik. Kata kunci: Sistem Kesehatan Nasional, manajemen kesehatan gigi dan mulut, negara berkembang, status kesehatan gigi, perilaku kesehatan mulut
Aktivitas Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut serta Risiko Trauma Dental pada Penderes Nira Kelapa di Desa Sokawera, Kabupaten Banyumas Sari, Aniis Rakhmah; Bagus, Zahran Uzla Attaqi; Firdaus, Ananda Nurul; Izzati, Salsabila Dzil; Rosyadah, Nada Janardita; Setyaliani, Razin Alifahrezy; Nurcahyo, Ferdhana; Vida, Mary; Hidayah, Riski Amalia; Oktadewi, Fitri Diah
Journal of Dental and Biosciences Vol 3 No 01 (2026): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2026.3.01.11108

Abstract

Latar Belakang: Pekerjaan sebagai penderes nira kelapa masih banyak dijalani masyarakat Desa Sokawera akibat keterbatasan keahlian dan keterampilan di bidang pekerjaan lain. Aktivitas menderes nira menuntut kerja fisik yang tinggi serta paparan lingkungan yang berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan gigi dan mulut, termasuk risiko terjadinya trauma dental akibat kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aktivitas pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, upaya pengobatan mandiri atau tradisional saat mengalami keluhan sakit gigi, serta potensi risiko trauma dental pada penderes nira kelapa di Desa Sokawera. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan subjek sebanyak enam penderes nira kelapa di Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, berusia antara 19 hingga 61 tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi perilaku dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta perbedaan cara pengobatan mandiri yang dilakukan oleh penderes nira. Sebagian besar responden menyatakan tidak mengonsumsi gula secara berlebihan, sementara dua responden mengonsumsi gula nira hanya sebagai campuran makanan. Selain itu, tidak ditemukan adanya kasus trauma dental pada subjek penelitian selama periode pengamatan. Kesimpulan: Penderes nira kelapa memiliki risiko pekerjaan yang tinggi, praktik pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan relatif beragam, dan tidak ditemukan kejadian trauma dental pada responden yang diteliti. Kata kunci: Kesehatan gigi dan mulut, trauma dental, penderes nira, pengobatan gigi dan mulut
Chronic Hyperplastic Candidiasis pada Pasien Imunokompromi dengan Anemia dan Melena: Laporan Kasus Zahirah, Nur Faizah; Apriandi, Aditya Adha; Oktadewi, Fitri Diah; Taqwim, Ali; Nugraha, Indra Adhi
Journal of Dental and Biosciences Vol 3 No 01 (2026): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2026.3.01.11743

Abstract

Latar Belakang: Chronic hyperplastic candidiasis merupakan bentuk oral candidiasis yang relatif jarang dan sering menyerupai lesi oral berpotensi ganas. Kondisi imunosupresi akibat penyakit sistemik dapat menjadi faktor predisposisi penting terjadinya infeksi ini. Tujuan: Mendeskripsikan diagnosis, tata laksana, dan luaran klinis chronic hyperplastic candidiasis pada pasien dengan anemia dan melena. Kasus: Seorang pasien laki-laki usia 69 tahun datang dengan keluhan lemas dan tinja berwarna hitam. Pasien memiliki riwayat anemia, melena, nefrolitiasis, serta transfusi darah berulang. Pemeriksaan intraoral menunjukkan plak putih persisten dan eritema luas pada dorsum lidah yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dengan swab. Tata Laksana dan Luaran: Pasien mendapatkan terapi sistemik untuk anemia dan melena, disertai terapi antifungal topikal nystatin dan edukasi kesehatan rongga mulut. Evaluasi intraoral serial menunjukkan perbaikan progresif dengan resolusi klinis lesi pada hari keempat perawatan. Simpulan: Chronic hyperplastic candidiasis perlu dipertimbangkan pada pasien imunokompromi dengan kelainan sistemik. Diagnosis dini dan terapi antifungal yang tepat, disertai kontrol kondisi sistemik, memberikan luaran klinis yang baik. Kata kunci: Chronic hyperplastic candidiasis, imunokompromi, anemia, melena
Integrasi Sistem Pelayanan dan Pendidikan Kedokteran Gigi di Malaysia: Implikasi bagi Penguatan Sistem Kesehatan Gigi Indonesia Romdlon, Mahindra Awwaludin; Salsabila, Alya; Putri, Jihan Widiani; Sari, Kristiana Indah; Maulana, Muhammad Irsyad; Calista, Nabila Diva; Hasti, Nadya Orneova; Balqis, Naila; Ferdinand, Ryan; Nabila, Salma Alya; Taufiqah, Ula Naila
Journal of Dental and Biosciences Vol 3 No 01 (2026): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2026.3.01.19566

Abstract

Latar Belakang: Malaysia telah mencapai cakupan kesehatan universal sejak 1990-an dan menunjukkan peningkatan kesehatan rongga mulut melalui National Oral Health Plan 2022-2030. Keberhasilan ini didukung oleh sistem pelayanan yang komprehensif dan pendidikan kedokteran gigi yang mendorong kolaborasi interdisipliner serta pendekatan holistik. Pemahaman sistem pelayanan dan pendidikan kedokteran gigi di Malaysia menjadi pembelajaran penting bagi Indonesia dalam penguatan sistem kesehatan gigi dan mulut nasional. Metode: Penyusunan kajian literatur ini dilakukan melalui Google Scholar, PubMed, dan Cureus dalam 10 tahun terakhir menggunakan kata kunci “dental health care Malaysia”, “dental education Malaysia”, “health care system Malaysia” dan dihasilkan 23 artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Sistem kesehatan Malaysia didominasi sektor publik berbasis pajak dan sektor swasta dengan proporsi out of pocket yang tinggi. Pada layanan kedokteran gigi, sektor publik berfokus pada anak-anak dan kelompok rentan, sedangkan sektor swasta lebih banyak digunakan oleh orang dewasa. Dalam pendidikan, Malaysia menerapkan kurikulum berbasis kompetensi dengan penguatan praktik klinis dan pendekatan komunitas. Secara keseluruhan, perkembangan layanan dan pendidikan kedokteran gigi Malaysia menunjukkan kemajuan, meskipun akses dan pemerataan tenaga kesehatan menjadi tantangan. Kesimpulan: Integrasi kuat antara sistem pelayanan dan pendidikan kedokteran gigi di Malaysia meningkatkan mutu layanan kesehatan serta memberikan pembelajaran bagi Indonesia dalam mengintegrasikan pendidikan dengan pelayanan kesehatan. Kata Kunci: Sistem kesehatan Malaysia, layanan kedokteran gigi, pendidikan kedokteran gigi

Page 3 of 3 | Total Record : 30