cover
Contact Name
Muharsyam Dwi Anantama
Contact Email
muharsyam.anantama@fkip.unila.ac.id
Phone
+6287715316393
Journal Mail Official
sakabahasa73@gmail.com
Editorial Address
Jl. Soemantri Brojonegoro, No.1 Gedongmeneng.
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Published by Universitas Lampung
ISSN : -     EISSN : 31105920     DOI : https://doi.org/10.23960/sakabahasa
Saka Bahasa merupakan jurnal kajian dan penelitian yang berfokus pada pendidikan, bahasa, sastra, dan budaya. Setiap artikel di Saka Bahasa telah melewati proses telaah pustaka dan penyuntingan sehingga memenuhi standar publikasi ilmiah. Saka Bahasa terbit pada bulan Juli dan Desember setiap tahunnya.
Articles 39 Documents
DARI MITOS KE MEMORI: TRADISI LISAN SEBAGAI MEDIA TRANSMISI PENGETAHUAN VULKANIK DI GUNUNG KELUD Rahmad Agus Majid; A. Zahid
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.1966

Abstract

Volcanic events are rarely understood solely as geophysical phenomena; instead, they are articulated through mythological narratives that encode collective ecological experiences. This study examines how oral tradition functions as a medium for transmitting volcanic knowledge among communities living on the slopes of Mount Kelud, East Java, Indonesia. Utilizing a descriptive qualitative approach, in-depth interviews were conducted with community elders and local knowledge keepers selected through purposive sampling. The findings reveal three interconnected dynamics: oral narratives contain sophisticated pre-scientific indicators of volcanic activity sulfur odors as early warning proxies, changes in animal behavior as ecological signals, and sacred spatial prohibitions as risk zone demarcations; traumatic eruption experiences are continuously reconstructed into symbolic narratives through social interaction, forming a living collective memory that serves as cross-generational risk education; and this transmission chain is becoming increasingly fragile under the pressures of digital culture and the epistemological authority of modern volcanology. This study argues that oral tradition constitutes a legitimate epistemological system that complements, rather than refutes, scientific hazard management.   Peristiwa vulkanik jarang dipahami semata-mata sebagai fenomena geofisika, ia diartikulasikan melalui narasi mitologis yang mengodekan pengalaman ekologis kolektif. Penelitian ini mengkaji bagaimana tradisi lisan berfungsi sebagai medium transmisi pengetahuan vulkanik pada komunitas yang tinggal di lereng Gunung Kelud, Jawa Timur, Indonesia. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, wawancara mendalam dengan sesepuh komunitas dan penjaga pengetahuan lokal yang dipilih melalui purposive sampling. Temuan menunjukkan tiga dinamika yang saling terkait narasi lisan mengandung indikator pra-ilmiah yang canggih tentang aktivitas vulkanik bau belerang sebagai proksi peringatan dini, perubahan perilaku hewan sebagai sinyal ekologis, dan larangan spasial sakral sebagai demarkasi zona risiko, pengalaman traumatik erupsi terus direkonstruksi menjadi narasi simbolik melalui interaksi sosial, membentuk memori kolektif yang hidup dan berfungsi sebagai pendidikan risiko lintas generasi dan rantai transmisi ini semakin rapuh di bawah tekanan budaya digital dan otoritas epistemologis vulkanologi modern. Penelitian ini berargumen bahwa tradisi lisan merupakan sistem epistemologis yang sah yang melengkapi, bukan menyangkal, manajemen bahaya ilmiah.
ANALISIS TEKS ARTIKEL KORAN MAHASISWA INDONESIA PENILAIAN PKI SEKARANG TERHADAP KAUM TENGAH OLEH SOE HOK GIE DENGAN MENGGUNAKAN TEORI JURGEN HABERMAS Marzius Insani; Muharsyam Dwi Anantama; Syam Agung Yudistira
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2002

Abstract

This study aims to analyse the text of the newspaper article ‘The PKI’s Current Assessment of the Centrists’ by Soe Hok Gie using Jürgen Habermas’s theory of intellectual criticism. The method employed is historical research using a qualitative approach. The research findings indicate that Gie’s criticism represents a communicative act that upholds the rational public sphere amidst the dominance of the Guided Democracy ideology, through three dimensions: substantive criticism of the PKI’s discourse monopoly, the use of Mingguan Mahasiswa Indonesia as an alternative channel, and the state’s response in the form of political polarisation that curtails intellectual freedom. Gie’s writings demonstrate that the colonisation of the public sphere during the Guided Democracy era was institutionalised through regulations that systematically reduced intellectual pluralism. Penelitian ini bertujuan menganalisis teks artikel koran "Penilaian PKI Sekarang terhadap Kaum Tengah" karya Soe Hok Gie menggunakan teori kritik intelektual Jurgen Habermas. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kritik Gie merepresentasikan tindakan komunikatif yang mempertahankan ruang publik rasional di tengah dominasi ideologi Demokrasi Terpimpin, melalui tiga dimensi: kritik substantif terhadap monopoli wacana PKI, penggunaan Mingguan Mahasiswa Indonesia sebagai saluran alternatif, serta respons negara berupa polarisasi politik yang mengekang kebebasan intelektual. Tulisan Gie membuktikan bahwa kolonisasi ruang publik pada era Demokrasi Terpimpin dilembagakan melalui regulasi yang secara sistemis mereduksi pluralisme intelektual.
KONSTRUKSI MAKNA TERSEMBUNYI DALAM LIRIK DJ VIRAL: KAJIAN PRAGMATIK-KOGNITIF PADA PLATFORM VIDEO PENDEK Muhammad Ramdhan Fathin Al Farabi; Mei Fatmila Sari; Andriansyah; Aditya Pratama; Septia Uswatun Hasanah
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2025

Abstract

Lyrics containing sexual, drug-related, and violent content are widely consumed by teenagers as background music for dancing and memes without adequate semantic understanding. This study aims to analyze the pragmatic-cognitive mechanisms at work in the consumption of such problematic lyrics, using four viral songs as case studies. The method used is a qualitative pragmatic-cognitive analysis based on Relevance Theory, cognitive schema theory, and media cultivation theory. The analysis focuses on identifying illocutionary acts, conversational implicatures, presuppositions, and mapping the patterns of adolescents’ cognitive processing. The research findings reveal two dominant cognitive patterns: the “Ignorant Pattern,” in which adolescents consume lyrics without decoding problematic meanings due to a lack of relevant cognitive schemas; and the “Deliberate Framing Pattern,” in which adolescents are aware of the problematic meanings but reframe them within a context of humor or social irony. This study introduces the concept of an “algorithmic vacuum of meaning.” These findings extend media cultivation theory to the context of fragmented algorithmic consumption and provide a foundation for the development of a differential media literacy model for short-form video platforms.   Lirik bermuatan seksual, narkoba, dan kekerasan dikonsumsi secara masif oleh remaja sebagai backsound tarian dan meme tanpa pemahaman semantik yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme pragmatik-kognitif yang bekerja dalam proses konsumsi lirik bermasalah tersebut, dengan studi kasus empat lagu viral. Metode yang digunakan adalah analisis pragmatik-kognitif kualitatif berbasis Relevance Theory, teori skema kognitif, dan teori kultivasi media. Analisis difokuskan pada identifikasi tindak tutur ilokusioner, implikatur konversasional, presuposisi, serta pemetaan pola pemrosesan kognitif remaja. Hasil penelitian mengungkap dua pola kognitif dominan: Pola Ignorant, di mana remaja mengonsumsi lirik tanpa mendekode makna bermasalah karena minimnya skema kognitif yang relevan; serta Pola Deliberate Framing, di mana remaja menyadari makna bermasalah namun mengemas ulangnya dalam bingkai humor atau ironi sosial. Penelitian ini memperkenalkan konsep vacuum of meaning algoritmik. Temuan ini memperluas teori kultivasi media ke konteks konsumsi algoritmik terfragmentasi dan memberikan landasan bagi pengembangan model literasi media yang diferensial untuk platform video pendek.
KAJIAN INTERTEKSTUALITAS JULIA KRISTEVA: LAGU SEDIA AKU SEBELUM HUJAN DAN AYAT AL-QUR’AN Nur Aulia Azzahra; Ahmad Fattony; Solichatul Ulmu
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2029

Abstract

This study examines the intertextual relationship between the lyrics of the song “Sedia Aku Sebelum Hujan” by Idgitaf and verses from the Qur’an using Julia Kristeva’s theory of intertextuality. The primary objective of this study is to uncover the forms and meanings of intertextuality that emerge in the song’s lyrics. The study employs a descriptive qualitative method, with data sources consisting of the song lyrics as primary data, as well as verses from the Qur’an and scholarly references as secondary data. Data were collected through documentary analysis and analyzed by identifying forms of intertextuality, such as allusion, transformation, and symbolization. The results of the study indicate that the song lyrics are semantically linked to a number of Qur’anic verses that convey the values of protection, assistance, forgiveness, and compassion. The intertextuality identified takes the form of the transformation of religious values into the context of interpersonal relationships. Thus, the song represents the actualization of Qur’anic values in everyday life.   Penelitian ini mengkaji hubungan intertekstual antara lirik lagu Sedia Aku Sebelum Hujan karya Idgitaf dan ayat-ayat Al-Qur’an menggunakan teori intertekstualitas Julia Kristeva. Tujuan utama penelitian adalah mengungkap bentuk dan makna intertekstualitas yang muncul dalam lirik lagu tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa lirik lagu sebagai data primer serta ayat-ayat Al-Qur’an dan referensi ilmiah sebagai data sekunder. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi dan dianalisis dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk intertekstualitas, seperti alusi, transformasi, dan simbolisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu memiliki keterkaitan makna dengan sejumlah ayat Al-Qur’an yang mengandung nilai perlindungan, pertolongan, pengampunan, dan kasih sayang. Intertekstualitas yang ditemukan berupa transformasi nilai-nilai religius ke dalam konteks hubungan antarmanusia. Dengan demikian, lagu tersebut merepresentasikan aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
UJARAN KEBENCIAN WARGANET PADA POSTINGAN AKUN INSTAGRAM PS (@prabowo): KAJIAN LINGUISTIK FORENSIK Viora Alifah; Agustina
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2030

Abstract

This study aims to identify forms of hate speech by netizens in the comment section of the official Instagram account of Indonesian President @prabowo and to analyze the legal implications of such hate speech based on the Criminal Code (KUHP) and the Electronic Information and Transactions Law (UU ITE). A mixed methods approach with a case study design was applied. Data consisted of 500 comments from five posts uploaded between August 27 – September 2, 2025, coinciding with a national demonstration. The study found 911 instances of hate speech in six categories: insult (313 data; 62.6%), unpleasant conduct (145 data; 29%), defamation (193 data; 38.6%), vilification (131 data; 26.2%), provocation (77 data; 15.4%), and incitement (52 data; 10.4%). Each form potentially violates relevant articles in the New Criminal Code and UU ITE. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk ujaran kebencian warganet pada kolom komentar akun Instagram resmi Presiden Indonesia @prabowo serta menganalisis dampak ujaran kebencian tersebut dalam perspektif hukum berdasarkan KUHP dan UU ITE. Metode yang digunakan adalah campuran (mixed method) dengan studi kasus. Data berjumlah 500 komentar dari lima unggahan pada rentang 27 Agustus – 2 September 2025 yang berkaitan dengan demonstrasi nasional. Hasil penelitian menemukan 911 data ujaran kebencian dengan enam bentuk: penghinaan (313 data; 62,6%), perbuatan tidak menyenangkan (145 data; 29%), pencemaran nama baik (193 data; 38,6%), penistaan (131 data; 26,2%), provokasi (77 data; 15,4%), dan menghasut (52 data; 10,4%). Setiap bentuk ujaran kebencian berpotensi melanggar pasal-pasal dalam KUHP Baru dan UU ITE.
PEMANFAATAN KEARIFAN LOKAL TUPING DALAM PEMBELAJARAN SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN NILAI KARAKTER PESERTA DIDIK DI SEKOLAH MENENGAH Istiqomah Nurzafira; Aditya Pratama; Septia Uswatun Hasanah; Fadila Amalia
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2070

Abstract

Local wisdom-based character education is crucial in facing the challenges of globalization, which have the potential to erode students' moral values and cultural identity. This study aims to describe the use of local wisdom, tuping, in learning as a medium for character education for students in secondary schools. This topic was chosen because tuping, as a cultural heritage of Lampung, contains religious, moral, social, and ethical values relevant to the objectives of character education. The study used a qualitative approach with a descriptive qualitative type. Data were collected through learning observations, in-depth interviews with teachers and students, and documentation studies at a secondary school in Lampung Province. The results showed that the use of tuping in learning was carried out through the stages of introducing the cultural context, discussing symbolic meanings, analyzing cultural values, exploring character values, reflective discussions, and internalizing values through reflection tasks and simple social practices.Tuping-based learning has been proven to develop religious, moral, social, ethical, responsibility, cooperation, and respect for local culture values in students. These findings confirm that the local wisdom of tuping plays a strategic role as an effective contextual learning medium for strengthening character education in secondary schools.   Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal menjadi penting dalam menghadapi tantangan globalisasi yang berpotensi mengikis nilai moral dan identitas budaya peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan kearifan lokal tuping dalam pembelajaran sebagai media pendidikan nilai karakter peserta didik di sekolah menengah. Topik ini dipilih karena tuping sebagai warisan budaya Lampung mengandung nilai religius, moral, sosial, serta etika yang relevan dengan tujuan pendidikan karakter. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran, wawancara mendalam dengan guru dan peserta didik, serta studi dokumentasi di SMA N 2 Kalianda Provinsi Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan tuping dalam pembelajaran dilakukan melalui tahapan pengenalan konteks budaya, diskusi makna simbolik, analisis nilai budaya, eksplorasi nilai karakter, diskusi reflektif, dan internalisasi nilai melalui tugas refleksi serta praktik sosial sederhana. Pembelajaran berbasis tuping terbukti mampu mengembangkan nilai religius, moral, sosial, etika, tanggung jawab, kerja sama, dan sikap menghargai budaya lokal pada peserta didik. Temuan ini menegaskan bahwa kearifan lokal tuping memiliki peran strategis sebagai media pembelajaran kontekstual yang efektif dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah menengah.
PELANGGARAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA WARGANET PADA KOLOM KOMENTAR INSTAGRAM @JOKOWI: KAJIAN PRAGMATIK Zahara Rahmadani; Agustina
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2084

Abstract

This study aims to classify the violations of language politeness principles and describe the causal factors in the comment section of the @jokowi Instagram account. This study employed a descriptive qualitative method with observation and note-taking techniques, in which data were collected from netizens' comments on posts uploaded to the @jokowi Instagram account during the period of April–May 2025. The results show that 146 utterances violated the language politeness principles based on Leech's theory (2015), covering the maxims of tact (29 data), generosity (13 data), approbation (72 data), modesty (8 data), agreement (10 data), and sympathy (14 data), with violations of the approbation maxim being the most dominant. Meanwhile, the most dominant causal factor based on Pranowo's theory (2012) was direct criticism using rude words or phrases (55 data). These findings indicate that social media comment sections often serve as a space for impolite expression without regard for the principles of language politeness.   Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dan mendeskripsikan faktor penyebabnya pada kolom komentar akun Instagram @jokowi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat. Data dikumpulkan dari komentar warganet pada postingan akun Instagram @jokowi periode April–Mei 2025. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 146 tuturan yang melanggar prinsip kesantunan berbahasa berdasarkan teori Leech (2015), mencakup maksim kearifan (tact maxim) (29 data), kedermawanan (generosity maxim)  (13 data), pujian (approbation maxim) (72 data), kerendahan hati (modesty maxim)  (8 data), kesepakatan (agreement maxim) (10 data), dan simpati (sympathy maxim) (14 data), dengan pelanggaran maksim pujian sebagai yang paling dominan. Adapun faktor penyebab pelanggaran berdasarkan teori Pranowo (2012) yang paling dominan adalah kritik secara langsung dengan kata atau frasa kasar (55 data). Temuan ini menunjukkan bahwa kolom komentar media sosial kerap menjadi wadah ekspresi ketidaksantunan tanpa mempertimbangkan prinsip kesantunan berbahasa.
PERSONA DALAM FILM IMPERFECT: KARIER, CINTA & TIMBANGAN (KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA) Denti Karina Anjayani; Nazwa Alifia Azzahra; Rizkika Nora Diah Pangestika; Siti Maemunah
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2100

Abstract

society, as depicted in Indonesian cinema. It aims to deeply examine and analyze the "persona" archetypes of characters in the film Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (Imperfect: Career, Love & Scales) by Ernest Prakasa, utilizing Carl Gustav Jung’s theory of literary psychology. The study focuses on the protagonist, Rara, and supporting characters such as Dika and Lulu, analyzing how their characterization and the story's conflict dynamics reflect the pressures exerted by their social environment. The research employs a descriptive qualitative design, integrating a literature review approach with comprehensive "listen-and-note" techniques applied to specific scenes and character dialogue. The analysis identified four distinct forms of persona masks: an "angry" persona (4 instances), a "caring" persona (2 instances), a "seemingly fine" persona (3 instances), and a "disappointed" persona (1 instance). The findings demonstrate that the formation of these four persona types is driven by factors such as past trauma, stigma, environmental influences, parenting styles, and internal psychological conflict. These social masks exert significant emotional pressure and impact the harmony of interpersonal relationships among the characters. Ultimately, this study offers comprehensive theoretical and conceptual insights into the application of the persona concept in an audiovisual work, while also contributing to the reader's psychological understanding of the importance of total self-acceptance.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya fenomena diskriminasi fisik atau tindakan body shaming di lingkungan sosial masyarakat modern yang direpresentasikan melalui media sinema Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar secara dalam dan menganalisis wujud arketipe persona tokoh yang terdapat dalam film Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan karya Ernest Prakasa memanfaatkan landasan teori psikologi sastra dari Carl Gustav Jung. Tokoh utama seperti Rara, dan tokoh pendukung seperti Dika dan Lulu, dijadikan pusat perhatian dalam kajian ini guna menelaah bagaimana model penokohan dan jalinan konflik cerita yang merepresentasikan beban tekanan dari lingkungan sekitar. Rancangan riset ini berstandar penuh pada metode kualitatif deskriptif yang dipadukan bersama pendekatan studi kepustakaan serta teknik simak dan catat terhadap fragmen adegan maupun dialog para tokoh secara komprehensif. Berdasarkan tahapan analisis yang dilakukan, diperoleh total 6 pertemuan data sahih yang mengidentifikasi empat wujud topeng persona, yaitu meliputi manifestasi persona marah sebanyak 4 data, persona peduli sebanyak 2 data, persona selalu terlihat baik-baik saja sebanyak 3 data, dan persona kecewa sebanyak 1 kata. Hasil riset membuktikan bahwa proses pembentukan keempat jenis persona tersebut didorong kuat oleh faktor trauma masa lalu, akibat stigma, pengaruh lingkungan, serta pola asuh orang tua, hingga pergolakan konflik batin individu. Berbagai wujud topeng sosial ini memberikan dampak signifikan berupa tekanan emosional yang masif sekaligus memengaruhi keharmonisan relasi interpersonal antartokoh dalam cerita. Melalui perolehan hasil tersebut, kajian ini menyuguhkan wawasan teoritis serta konseptual yang lebih komprehensif mengenai implementasi konsep persona pada sebuah karya audio-visual, sekaligus memberikan kontribusi praktis bagi pemahaman psikologis pembaca mengenai pentingnya penerimaan diri secara utuh.
EGO TOKOH UTAMA DALAM CERPEN KELUARGA M KARYA BUDI DARMA (KAJIAN PSIKOANALISIS) Raisha Fujianty Sofyan; Dini Samsiah; Siti Maemunah
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2026): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/sakabahasa.v3i1.2101

Abstract

For This study aims to analyze the role of the “I” character’s ego as the agent of aggressive impulses and to identify the forms of ego defense mechanisms used to maintain psychological stability in Budi Darma’s short story Keluarga M. The research method employed is qualitative descriptive, using a literary psychology approach grounded in Sigmund Freud’s psychoanalytic theory. The results of the study reveal massive ego dysfunction in the first half of the story, where the ego of the “I” character aligns with the id’s aggressive impulses to orchestrate destructive sabotage as a result of external frustration. However, the momentum of a tragic accident serves as a psychological turning point for the character. The ego mitigates this anxiety through defense mechanisms, including rationalization, repression, isolation of effects, dissociation, reaction formation, and social sublimation in the form of disability advocacy. In conclusion, the “I” character’s ego ultimately succeeds in achieving a complete psychological reconstruction, thereby reaching a new, rational state of equilibrium (homeostasis) in accepting his existential solitude by the story’s end. At the same time, this reveals the dark defensive tactics of the ego in Budi Darma’s fiction.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran ego tokoh “Saya” sebagai pelaksana dominasi dorongan agresi serta mengidentifikasi bentuk mekanisme pertahanan ego yang digunakan untuk menjaga kestabilan psikis dalam cerpen Keluarga M karya Budi Darma. Metode penelitian menggunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra berlandaskan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Hasil penelitian menunjukan disfungsi ego yang masif pada paruh awal cerita, dimana ego tokoh “Saya” bersekutu dengan dorongan agresi id untuk merancang  sabotase destruktif  akibat frustasi eksternal. Namun, momentum kecelakaan tragis menjadi titik balik kejiwaan tokoh. Kecemasan tersebut diredam ego melalui mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism), meliputi rasionalisasi, represi, isolasi efek, disosiasi, reaction formation, hingga sublimasi sosial berupa advokasi disabilitas. Kesimpulannya, ego tokoh “Saya” pada akhirnya berhasil melakukan rekonstruksi kejiwaan secara utuh sehingga mencapai titik keseimbangan baru (homeostasis) yang rasional dalam menerima kesendirian eksistensialnya di akhir cerita. Sekaligus membongkar taktik pertahanan ego yang kelam dalam fiksi Budi Darma.

Page 4 of 4 | Total Record : 39