cover
Contact Name
Khairunnisa Simbolon
Contact Email
pshi@fisip.unila.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
pshi@fisip.unila.ac.id
Editorial Address
Jalan Purnawirawan 1 Gang Senen blok f2
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia (JHII)
Published by Universitas Lampung
ISSN : 26158361     EISSN : 29853583     DOI : https://doi.org/10.23960/jhii.v6i2
Core Subject : Social,
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia is a biannual journal published by the Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, University of Lampung. JHII discusses both theoretical and empirical findings, as well as current developments in International Relations. JHII welcomes academics as well as practitioners to contribute their thoughts on International Relations. JHII accepts research and review articles. A research article should be a results of original research, assesses its contribution to the body of knowledge in International Relations. A review article is an article that summarizes the current state of understanding on International Relations. A review article surveys and summarizes previously published studies, rather than reporting new facts or analysis. The main theory and concepts should refer to studies in these areas, Theory of International Relations Theory of International Security Theory of International Political Economy Theory of International and Transnational Studies The main themes consisted: Indonesian Foreign and Security Policy ASEAN Great Power Dynamics Regional Dynamics Global Development Human Rights in International Relations International Political Economy Multinational Corporations Defense Strategy and Arms Dynamics International Institutions Globalization Global Migration Peace and Conflict Resolution International Law
Articles 41 Documents
City in Global Conversations: A Constructivist Study of Jakarta's Para-Diplomacy and Regional Leader's International Visibility Luerdi, Luerdi; Fitria, Arie
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 5 No. 2 (2023): JHII Oktober 2023
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v5i2.41

Abstract

Para-diplomacy has been the agenda of many mega-cities and through which they can express their capacity as well as creativity to pursue specific interests beyond borders. For cities, para-diplomacy can be conducted in many forms starting from merely ceremonial activities to the transnational municipal networks (TMNs). The city active engagement in global forums which mostly belong to the TMNs’ agenda is often associated with the regional leader’s international visibility in global conversations. This paper aims to explain the determinant driving the regional leader’s international visibility within para-diplomacy practice, choosing Jakarta as a case study. This research applied the qualitative method and constructivist approach to investigate the role of ideational factor. The research found that the idea of global city embraced by the regional leader – constructing the city’s identity and interests – encouraged the leader to be active in global forums. The city’s international visibility which was represented by the leader paved Jakarta to be an active global city and through which it would be able to promote its local development and enhance its global role in responding to global issues. This paper suggests that the internal determinants like the regional leaders (governor, mayor) with certain values matter to direct city para-diplomacy whether to project its leadership or merely to prioritize its bilateral para-diplomacy.
Kerjasama Indonesia dan Uni Emirat Arab dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia Yuli, Yuliana; S, Subaidi
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 5 No. 2 (2023): JHII Oktober 2023
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v5i2.43

Abstract

Meningkatnya persaingan di seluruh dunia dan penurunan ketersediaan sumber daya alam saat ini mendorong sebagian negara untuk mencari cara lain untuk mengembangkan ekonomi mereka. Salah satu cara yang dapat mereka lakukan adalah ekonomi kreatif, yang merupakan bentuk ekonomi yang lebih bergantung pada kreativitas, pemahaman, dan pengetahuan. Ekonomi kreatif, juga dikenal sebagai orange economy, adalah bentuk ekonomi baru yang berfokus pada kreativitas sebagai sumber utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Indonesia adalah salah satu dari banyak negara yang mengadopsi model ini. Dengan menjalin kerjasama dengan Uni Emirate Arab, Indonesia telah mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif menjadi prioritas nasional. Tujuan penelitian ini untuk menjawab hubungan kerjasama Indonesia-Uni Emirate Arab terkait pengembangan ekonomi kereatif khususnya di Indonesia dan program apa saja yang telah dilakukan selama berlangsungnya kerjasama tersebut. Dalam penelitian ini, teori ekonomi pembangunan digunakan bersama dengan pendekatan ekonomi politik. Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia dan Uni Emirat Arab bekerja sama dalam tiga proyek: fashion, kuliner, dan TI. Meskipun pengaruh yang diberikan tidak begitu signifikan, kerja sama ini telah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia dalam penyerapan ekspor, termasuk ekspor nonmigas; pakaian muslim menjadi perhatian nasional. Kata Kunci: Indonesia, Uni Emirate Arab, Ekonomi Kreatif, Kerjasama, Bilateral
Interkonektivitas Multi Sektor dalam Upaya Pencapaian Agenda SDGs 2030 (United In Diversity) Dharma, Dewa Putu Bhagastya; Widya Nugraha, Anak Agung Bagus Surya; Kartika Dewi, Ayu Putu Gari
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024): JHII Juli 2024
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v6i1.44

Abstract

Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 Agenda is a mission that countries who adopt it strive to achieve. SDGs are a blueprint oriented towards peace and prosperity for a better world, with 17 goals to be achieved. Seeing the development in every country is differ to one another, there is a need for action from various sectors to jointly achieve the SDGs. These sectors are government, private, community, non-governmental organizations or NGOs is important. This collaboration is called the multi-sector role. Each sector must carry out its respective roles simultaneously. However, even though all sectors are performing their roles to achieve the 2030 SDGs, the interconnectivity of these sectors is still a discussion. In this paper, the researcher tries to describe the relationship of the multi-sector role in an effort to achieve the 2030 SDGs agenda, especially the role of NGOs through the case study of the United In Diversity Indonesia. In addition, it tries to analyze the efforts made by these sectors towards achieving the 2030 SDGs in Indonesia. The author uses qualitative methods, and finds that the role of each sector is interconnected to one another based on their duty and qualifications in each initiative for the 2030 SDGs.
Ketidakpatuhan Sudan Selatan Dalam Skema Perjanjian Internasional R-ARCSS Terkait Keterlibatan Tentara Anak Dalam Angaktan Bersenjata farah, farah agnis
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024): JHII Juli 2024
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v6i1.55

Abstract

Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengetahui sekaligus memahami alasan-alasan suatu aktor tidak mematuhi suatu aturan dalam Perjanjian Internasional yang telah disepakati. Dalam hal ini adalah Pemerintah Sudan Selatan yang tidak mematuhi Perjanjian Internasional yang berkaitan dengan keterlibatan tentara anak dalam angkatan bersenjata. Perjanjian internasional pada dasarnya merupakan persetujan untuk mengikat para anggotanya terhadap aturan-aturan tertentu yang telah disepakati masing-masing pihak. Dalam kasus ini akan dibahas Perjanjian R-ARCSS yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak yang sebelumnya bertikai pada perang sipil di Sudan Selatan ditengahi oleh UN dan IGAD. Penelitan ini selanjutnya berusaha untuk mengupas aturan yang tidak dipatuhi oleh Sudan Selatan khususnya mengenai keterlibatan tentara anak dalam angkatan bersenjata dengan pertanyaan penelitian menjadi “Mengapa Sudan Selatan tetap melakukan perekrutan tentara anak walaupun sudah menandatangani perjanjian R-ARCSS?”. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan non-compliance theory, yang mana terdapat tiga variable yang akan menjawab alasan-alasan mengapa Sudan Selatan tidak mematuhi aturan dalam perjanjian internasional yang dilihat dari ketidakjelasan ketentuan-ketentuan dalam perjanjian yang menimbulkan multitafsir (ambiguity), adanya keterbatasan kapasitas untuk mematuhi aturan atau regulasi (capacity limitations), dan adanya perubahan keadaan dalam negeri (temporal dimensions). Kata kunci: Perjanjian Inrternasional; Tentara Anak; Angkatan Bersenjata; Sudan Selatan; Non-compliance Theory. Abstract This article aims to find out and understand the reasons why an actor does not comply with a rule in an agreed International Agreement. In this case it is the Government of South Sudan that does not comply with International Agreements relating to the involvement of child soldiers in the armed forces. International agreements are basically agreements to bind their members to certain rules that have been agreed upon by each party. In this case, we will discuss the R-ARCSS Agreement which was signed by the two parties who previously clashed in the civil war in South Sudan mediated by the UN and IGAD. This research further attempts to examine the regulations that South Sudan does not comply with, especially regarding the involvement of child soldiers in the armed forces with the research question being "Why does South Sudan continue to recruit child soldiers even though it has signed the R-ARCSS agreement?". This research will use qualitative methods with a non-compliance theory approach, where there are three variables that will answer the reasons why South Sudan does not comply with the rules in international agreements as seen from the unclear provisions in the agreements which give rise to multiple interpretations (ambiguity), the existence of limited capacity to comply with rules or regulations (capacity limitations), and changes in domestic conditions (temporal dimensions). Keywords: International Agreement; Child Soldiers; Armed Force; South Sudan; Non-compliance Theory.
Warisan Budaya Pemikat Dunia: Revitalisasi Kota Lama Semarang dalam Paradiplomasi Global Kusumawikan, James William; Siregar, Ramsan
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024): JHII Juli 2024
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v6i1.56

Abstract

Abstrak Revitalisasi Kota Lama Semarang merupakan upaya penting dalam melestarikan warisan budaya Indonesia sekaligus meningkatkan diplomasi budaya di kancah internasional. Kawasan ini tidak hanya dipulihkan untuk mempertahankan identitas sejarahnya, tetapi juga diposisikan sebagai alat untuk memperkuat hubungan diplomatik Indonesia dengan negara lain melalui pendekatan paradiplomasi. Penelitian ini membahas bagaimana revitalisasi Kota Lama berfungsi sebagai bagian dari soft power, di mana budaya digunakan sebagai sarana untuk memperkenalkan identitas Indonesia ke dunia. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur kualitatif dengan menelaah berbagai sumber terkait pelestarian budaya dan diplomasi. Hasilnya menunjukkan bahwa kolaborasi internasional, pemanfaatan teknologi digital, dan keterlibatan masyarakat lokal menjadi langkah penting dalam mempertahankan keberlanjutan dan memperkuat daya tarik Kota Lama di tingkat global. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan revitalisasi terletak pada sinergi antara pelestarian budaya dan modernisasi, yang menjadikan Kota Lama sebagai ikon budaya dan bagian dari diplomasi lunak Indonesia. Kata Kunci: Revitalisasi, Paradiplomasi, Soft power, Identitas, Globalisasi, Kota Lama Semarang, Pelestarian Abstract The revitalization of Semarang Old Town is a crucial initiative aimed at preserving Indonesia’s cultural heritage while enhancing its cultural diplomacy on the international stage. This site is not only restored to retain its historical identity but is also positioned as a tool for strengthening Indonesia’s diplomatic ties with other countries through paradiplomacy. This study examines how the revitalization of Semarang Old Town functions as a component of soft power, where culture is utilized as a medium for introducing Indonesia's identity globally. The research method used is a qualitative literature review, analyzing various sources related to cultural preservation and diplomacy. The findings indicate that international collaboration, the use of digital technology, and local community involvement are essential steps in maintaining sustainability and enhancing the appeal of Semarang Old Town globally. The study concludes that the success of revitalization lies in balancing cultural preservation with modernization, establishing Semarang Old Town as a cultural icon and part of Indonesia's soft diplomacy. Keywords: Revitalization, Paradiplomacy, Soft power, Identity, Globalization, Semarang Old Town, Preservation
Relevansi Komponen Kualitas Manusia Terhadap Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Kota Surakarta Syakira, Hasna Dherin
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024): JHII Juli 2024
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v6i1.57

Abstract

Surakarta telah berkali-kali melakukan upaya globalisasi melalui keterlibatannya dalam hubungan internasional. Sebagai the Spirit of Java, Kota Surakarta diunggulkan sebagai pusat kebudayaan Jawa yang memiliki kekayaan budaya melimpah. Peran aktif Surakarta dengan identitasnya sebagai Kota Budaya telah mengantarkannya menjadi bagian dari Jaringan Kota Kreatif UNESCO (UCCN) pada tahun 2023 dengan bidang kreatif kerajinan dan kesenian rakyat. Penelitian ini menggunakan konsep paradiplomasi dan pengembangan pariwisata berkelanjutan (STD) untuk menjabarkan upaya paradiplomasi Surakarta dalam membangun pariwisata berkelanjutan, terutama dalam promosi budaya kerajinan dan kesenian rakyat. Penelitian ini secara lebih spesifik akan mengevaluasi relevansi aspek sosial dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Aktor paradiplomasi seringkali memberikan penekanan pada output ekonomi untuk mengembangkan pariwisata berkelanjutan. Oleh karena itu, aspek sosial menjadi fokus penekanan dalam penelitian ini. Terlebih lagi, paradiplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Surakarta menggunakan instrumen budaya sehingga kualitas manusia merupakan komponen penting untuk mengukur efektivitas paradiplomasi. Metode yang digunakan adalah campuran, dengan kuantitatif melalui model regresi linier sederhana dan kuantitatif melalui pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas dasar manusia memiliki pengaruh signifikan terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan di Surakarta daripada aspek ekonomi. Upaya paradiplomasi dijabarkan melalui dua sektor, yaitu kerajinan dan kesenian rakyat. Kata Kunci: Paradiplomasi, Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan, Surakarta, UCCN, Kualitas Manusia, Regresi Linier Sederhana
IORA: Peluang bagi Indonesia dalam Upaya Peningkatan Kerjasama Indonesia - Timur Tengah Karisma, Gita
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024): JHII Juli 2024
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v6i1.58

Abstract

Sejak 2017, IORA (The Indian Ocean Rim Association) akhirnya berhasil menggelar Summit pertama yang menjadikan organisasi ini tidak lagi dilevel pertemuan antar menteri namun antar kepala negara. Indonesia memiliki banyak peluang dalam Organisasi ini, terutama dengan meningkatkan kerjasama dengan wilayah Timur Tengah dan Afrika yang memang belum banyak memiliki media kerjasama yang cukup kuat. IORA dapat dimanfaatkan oleh Indonesia. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, maka dijelaskan bahwa Indonesia, pertama, dapat menjadikan IORA sebagai loncatan untuk kerjasama kemitraan strategis, terutama dalam mempelopori terbangunnya hubungan perdagangan yang lebih intensif antara Indonesia dengan Timur Tengah. kedua, IORA bisa menjadi wadah untuk meraih secara langsung kerjasama di bidang ekonomi seperti pembentukan mekanisme penangkapan ikan, dan sumber daya laut lainnya, bahkan kedepan mungkin dapat membentuk mekanisme batasan tariff dan bea masuk khusus negara di Samudra Hindia. Dalam kerangka hubungan dengan Timur Tengah Indonesia dapat mengembangkan kerjasama dengan fokus pada produk kelautan, sector tekstil, produk bersertifikasi halal dengan Timur Tengah. Indonesia sebagai gateway Timur Tengah ke Pasifik juga perlu memperhatikan pertama, tersedianya kualitas infrastruktur dan suprastruktur pelabuhan yang baik bagi transit barang dan kapal cargo dari Timur Tengah maupun Pasifik. Kedua, keamanan laut antara timur Tengah dan Asia yaitu kawasan Samudra Hindia harus terjaga dengan baik.
Perang dan Lingkungan: Menelaah Konsekuensi Ekologis Perang dan Perlindungan Hukum Wiranata, Indra Jaya; Revilia, Regiana
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024): JHII Juli 2024
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v6i1.59

Abstract

Dalam konflik kekerasan bersenjata, selain penderitaan manusia dan kerusakan infrastruktur, terdapat dampak yang cukup besar terhadap lingkungan. Dampak konflik bersenjata dan perang melampaui pertimbangan sosial-politik dan ekonomi. Dampak ini menyebabkan kerusakan ekosistem yang meliputi kerusakan habitat, polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi sumber daya, antara lain, dan ini terus berlanjut lama setelah konflik berakhir. Penelitian ini menyoroti dampak lingkungan dari konflik bersenjata berskala besar, khususnya, perang yang melibatkan Israel-Palestina, perang Irak, atau perang Vietnam. Penelitian ini meneliti bagaimana bencana lingkungan terlibat melalui penggundulan hutan, perang kimia, polusi udara, polusi air, erosi situs selama konflik ini. Penelitian ini berupaya menjawab masalah ini dengan menggunakan pendekatan kualitatif, meninjau literatur dan studi kasus. Data yang digunakan meliputi jurnal akademik, informasi yang diberikan oleh lembaga internasional serta studi kasus yang terkait dengan wilayah yang terkena dampak konflik. Analisis ini didasarkan pada konsep keamanan lingkungan dan perang, yang menyatakan bahwa kerusakan lingkungan menimbulkan bahaya bagi ekosistem dan meningkatkan kekacauan sosial-politik yang berujung pada konflik yang berkepanjangan. Instrumen hukum internasional lain yang diteliti meliputi Konvensi Jenewa, the Environmental Modification Convention (ENMOD), dan Statuta Roma dari the International Criminal Court (ICC), yang diperiksa kapasitasnya untuk memastikan integritas lingkungan selama perang. Selain itu, fungsi UNEP dan berbagai LSM terkait perlindungan lingkungan di wilayah yang terkena dampak perang juga diteliti. Sementara perdebatan gerakan senjata global masih berlangsung, tantangan baru muncul dalam bentuk perlindungan dan rehabilitasi alam setelah perang.
Diaspora Indonesia-Filipina sebagai Aktor Multi-Track Diplomacy dalam Diplomasi Ekonomi dan Perdagangan Putri, Rara Gusnita
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): JHII Juni 2025
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v6i2.61

Abstract

Abstract In July 2012, the first Indonesian Diaspora congress was held in Los Angeles, United States. The congress, which was attended by various Diasporas from all over the world, produced the Indonesian Diaspora Declaration which raised enthusiasm to become a developed and prosperous country. Apart from that, from this congress, the Indonesian Diaspora Network Global (IDN Global) was formed. IDN Global was formed at the second congress in Jakarta, August 2013. IDN Global is spread across more than 50 countries, including one of them, the Philippine Chapter of IDN Global or better known as the Indonesia-Filipina Diaspora. By using a descriptive qualitative approach, it is explained that the Indonesia-Filipina Diaspora supports Indonesian and Philippine diplomacy in the fields of economics and trade. Economic diplomacy and trade are important aspects in bilateral relations between Indonesia and the Philippines, where one element that is increasingly being taken into account in strengthening relations between the two countries is the role of the Indonesian diaspora in the Philippines. Currently, the Indonesia-Filipina Diaspora as part of a broader diplomatic strategy is considered to be able to play a role as an actor in multi-track diplomacy. Apart from that, the presence of the Indonesian diaspora in the Philippines can also increase Indonesia's economic growth and contribute to the nation's progress. Keywords: Indonesian Diaspora Network Global (IDN Global), Indonesia-Filipina Diaspora, Multi-track Diplomacy, Economic and Trade Diplomacy
Literature Study of Efforts to Settlement the Russia-Ukraine Dispute According to International Law Syuryansyah, Syuryansyah; Amalia, Ridha
Jurnal Hubungan Internasional Indonesia Vol. 6 No. 2 (2025): JHII Juni 2025
Publisher : Lampung Center for Global Studies (LCGS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhii.v6i2.62

Abstract

This research focuses on the efforts to resolve the dispute between Russia and Ukraine based on international law. The method used in this study is a qualitative-descriptive approach, where the discussion on dispute resolution methods between the two countries is presented using descriptions based on facts found in the field. The data sources analyzed in this study come from various articles and news about resolving the Russia-Ukraine dispute. The analytical framework refers to the international dispute resolution law introduced by Huala Adolf to identify academics' efforts to resolve the Russia-Ukraine conflict. The findings of this research show that numerous efforts have been made to resolve the dispute between Russia and Ukraine, but until now, no comprehensive solution has been achieved.