cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Gedung Graha Medika Lt. 1, Ruang 104
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Brawijaya
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 02169347     EISSN : 23380772     DOI : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jkb
Core Subject : Health,
JKB contains articles from research that focus on basic medicine, clinical medicine, epidemiology, and preventive medicine (social medicine).
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 27, No 2 (2012)" : 13 Documents clear
Ketepatan Diagnosis Apendisitis dengan USG Abdomen Halim, Nana; Iskandar, Arief
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.655 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.12

Abstract

Apendisitis akut merupakan penyebab terbanyak dilakukannya operasi abdomen cito. Kekeliruan diagnosa apendisitis sekitar 8-30% berakibat dilakukan pemotongan apendiks yang normal. Ultrasonografi (USG) abdomen merupakan pemeriksaan yang penting dalam penegakan diagnosa apendisitis akut, mampu menunjukkan kemungkinan diagnosa  lain  pada pasien dengan nyeri perut kanan bawah dan menurunkan angka kejadian laparotomi negatif. Data pada penelitian ini didapatkan dari  data rekam medis pasien rawat inap dengan apendisitis, hasil USG dan histopatologi pasien apendisitis dari bulan Januari 2010 sampai bulan Desember 2011. Data menunjukkan pada tahun 2010-2011 ada 104 pasien UGD atau rawat jalan yang datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah dan pemeriksaan fisik dicurigai apendisitis. Sebanyak 104 pasien yang dicurigai apendisitis dilakukan pemeriksaan USG abdomen dan hasil USG yang positif  apendisitis 74 pasien (71,1%), negatif 30 pasien (28,8%). Penelitian ini menunjukkan sensitivitas dan spesifitas USG abdomen untuk diagnosis apendisitis yang cukup tinggi yaitu 84,1% dan 100%. Kata Kunci: Apendisitis, sensitivitas, spesifitas, USG abdomen
Hubungan Kadar Transforming Growth Factor-Beta 1 (TGF-β1) Urin dengan Proteinuria pada Anak Sindrom Nefrotik Resisten Steroid Ismail P, Prasetya; Fitri, L Enggar; Subandijah, Krisni
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.061 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.6

Abstract

 Transforming  Growth  Factor-Beta  1  (TGF-β1)  menjadi  perantara  fibrosis  interstisial,  atrofi  tubular,  dan  kerusakan gromelurus ginjal. Proteinuria menunjukkan prognosis yang buruk pada  sindroma nefrotik. Terdapat kecenderungan persisten proteinuria pada sindroma nefrotik resisten steroid. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan hubungan kadar Transforming Growth Factor-Beta 1 (TGF-β1) urin dengan proteinuria pada anak sindrom nefrotik resisten steroid. Empat puluh  lima  sampel urin dikumpulkan  terdiri dari 15 anak dengan  sindrom nefrotik  resisten steroid, 15 anak dengan sindrom nefrotik sensitif steroid dan 15 anak sehat. Sampel tersebut diukur kadar TGF-β1 dan rasio protein-kreatinin kemudian dibandingkan.  Terdapat  perbedaan  bermakna  dalam  pengukuran  rasio protein-kreatinin  (p=0,000),  tidak terdapat perbedaan bermakna dalam pengukuran TGF-β1 dan tidak terdapat hubungan antara kadar TGF- β1 dan rasio protein-kreatinine  (r=-0,222; p=0,427).Kata Kunci: Kadar TGF-β1 urin, proteinuria,  rasio protein-kreatinin, sindrom nefrotik  resisten steroid
USIA ANAK DAN PENDIDIKAN IBU SEBAGAI FAKTOR RISIKO GANGGUAN PERKEMBANGAN ANAK Ariani, Ariani; Yosoprawoto, Mardhani
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.09 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.13

Abstract

Masalah perkembangan anak saat ini makin meningkat sehingga perlu deteksi dini untuk menurunkan gangguan perkembangan anak. Kuesioner Pra Skrining perkembangan (KPSP) merupakan skrining perkembangan yang mudah dilakukan oleh tenaga kesehatan, bahkan oleh guru sekolah atau orangtua anak. Penelitian ini  dilakukan untuk mengetahui  gambaran  perkembangan  balita  di  daerah  perkotaan  di  Kotamadya  Malang  dan  faktor  yang mempengaruhinya dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-Desember 2010 di Kecamatan Klojen, Kotamadya Malang. Subyek penelitian adalah semua anak di Taman Kanak-Kanak dan PAUD di wilayah kerja Puskesmas Arjuno Kecamatan Klojen Kotamadya Malang. Didapatkan 2,1% angka kejadian suspek keterlambatan perkembangan pada balita yang tinggal di Kecamatan Klojen, Kotamadya Malang. Faktor yang berperan dalam tumbuh kembang anak adalah umur anak dan pendidikan ibu.Kata Kunci: Anak, developmen, skrining
Kuantitas, Kualitas, dan Daya Fagositosis Neutrofil pada Saliva dan Darah Bayi Baru Lahir dengan Faktor Risiko Sepsis Yunanto, Ari; Chandra, MS; Widjajanto, Edi; Widodo, M Aris
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.774 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.7

Abstract

Sepsis neonatal adalah  sindrom klinik pada bulan pertama kehidupan bayi akibat  respons  sistemik  terhadap  infeksi.   Analisis saliva menjadi sumber daya penting untuk mengevaluasi kondisi saliva pada  implikasi keadaan  fisiologis dan patologis,  yang berguna sebagai sarana untuk diagnosis penyakit. Neutrofil merupakan merupakan sel yang pertama kali datang di lokasi inflamasi dan merupakan komponen seluler utama untuk respon natural selama infeksi akut, influks ke saliva  terjadi  terus-menerus. Tujuan dari penelitian  ini adalah untuk mengetahui kualitas dan kuantitas neutrofil saliva dan darah bayi baru lahir dengan risiko sepsis. Sebanyak 30 sampel dari saliva dan darah bayi dengan risiko sepsis diambil sebagai kasus serta 30 sampel saliva dan darah bayi sehat sebagai kontrol. Terdapat perbedaan yang bermakna antara jumlah neutrofil, daya fagositosis (30 menit dan 60 menit), ekspresi TLR2 & TLR4, myeloperoksidase (MPO), H2O2, dan laktoferin (LTF) pada saliva dan darah bayi kasus dibandingkan dengan saliva dan darah bayi kontrol. Hasil menunjukkan neutrofil saliva dapat digunakan sebagai salah satu biomarker adanya sepsis neonatal awitan dini.Kata Kunci: Fagositosis, H O LTF, MPO, neutrofil, sepsis neonatal, TLR2, TLR4 2 2,
Pengaruh Paparan Akut Asam Sulfat (HSO) dan Asam Nitrat (HNO) terhadap Penebalan 2 4 3 Septum Interalveolaris Tikus Darmawan, Arief; Makiyah, SN Nurul
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.49 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.1

Abstract

Udara merupakan faktor penting dalam kehidupan. Pencemaran udara berpengaruh terhadap terjadinya hujan asam. Asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3) dalam hujan asam dapat terinhalasi ke dalam sistem pernapasan. Alveoli adalah komponen fisiologik penting dari sistem pernapasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh paparan akut material hujan asam berupa H2SO4 dan HNO3 terhadap gambaran histologi alveoli tikus. Desain penelitian ini adalah quasi experiment dengan subjek penelitian tikus putih (Rattus norvegicus) sebanyak 20 ekor jantan galur Spraque-Dawley berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata 200-300 gram, terbagi dalam 4 kelompok: kelompok I (kontrol), kelompok II (paparan H2SO4 8,4 mg/L), kelompok III (paparan HNO3 30 mg/L) dan kelompok IV (paparan H2SO4 8,4 mg/L dan HNO3 30 mg/L). Paparan diberikan akut selama 4 jam. Pengamatan histologi dilakukan melalui pengukuran ketebalan septum interalveolaris. Data dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan septum interalveolaris kelompok paparan H2SO4 8,4 mg/L paling tebal, disusul kelompok paparan HNO3 30 mg/L, kelompok paparan H2SO4 8,4 mg/L dan HNO3 30 mg/L dan terakhir kelompok kontrol. Disimpulkan bahwa paparan akut material hujan asam berupa H2SO4 (182,7%) dan HNO3 (129,9%) menyebabkan penebalan septum interalveolaris tikus.Kata Kunci: Alveoli, H2SO4, HNO3, hujan asam, ketebalan septum interalveolaris
Respon Imun terhadap Vaksin Influenza pada Remaja Dhamayanti, Meita; Rusmil, Kusnandi; Idjradinata, Ponpon
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.659 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.9

Abstract

Influenza merupakan penyakit yang mudah menular dengan mortalitas dan morbiditas tinggi serta sering menimbulkan kejadian  luar biasa, epidemi, dan pandemi. Pada anak  sekolah,  influenza menyebabkan  tingginya angka absensi dan remaja merupakan  sumber  penularan  terbesar .  Penelitian  dilakukan  untuk menilai  respons  imun    terhadap  vaksin influenza pada kelompok remaja 12–18 tahunpada bulan Juni–September 2008, di Puskesmas Garuda Bandung. Desain dilakukan dengan  intervensional,  longitudinal, acak sederhana, dan tersamar tunggal. Vaksin  influenza yang mengandung 3 jenis virus A/H1N1, A/H3N2 dan B, disuntikkan intramuskular. Pengambilan darah dilakukan pra dan pasca vaksinasi. Pemeriksaan kadar antibodi dilakukan dengan metode hemaglutinasi inhibisi (HI). Respons imun dinilai berdasarkan nilai serokonversi, dan peningkatan geometric mean titer (GMT). Subjek dibagi 2 kelompok, 69 (52,7%) remaja pertengahan (12–15  tahun) dan 62  (47,3%)  remaja akhir  (16–18  tahun). Semua  subjek  telah mempunyai kadar antibodi protektif HI>1:40 pascavaksinasi. Nilai serokonversi kedua kelompok berbeda bermakna pada pra  (p=0,02) dan pascavaksinasi (p=0,02). Serokonversi  terhadap virus A/H3N2 antara remaja pertengahan dan akhir berbeda bermakna pada pravaksinasi (p=0,02). Pada pra dan pascavaksinasi  terdapat peningkatan GMT bermakna  terhadap ketiga  jenis virus  influenza  (Zw 9,73; 9,19; 9,59 dan p=0,00). Simpulan, vaksinasi influenza pada remaja menghasilkan kadar protektif. Respons imun remaja pertengahan dan akhir  tidak berbeda, namun  remaja pertengahan  tampak   lebih  responsif.Kata Kunci: Influenza,  remaja,  responsimun, vaksin
Kadar Antibodi Anti-dsDNA dan Urine Monocyte Chemoattractant Protein-1 pada Nefritis Lupus Susianti, Hani; Salman, Yuliana; Gunawan, Atma; Handono, Kusworini
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.079 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.8

Abstract

ABSTRAKKata Kunci: Lupus  eritematosus  sistemik  (LES) merupakan  penyakit  autoimun  yang  ditandai  oleh  peradangan  kronis  dan  akut. Biomarker klasik untuk mendeteksi adanya penyakit LES adalah antibody anti-double stranded DNA (anti-dsDNA) dan urine Monocyte Chemoattractant Protein-1   (uMCP-1).   Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan antara kedua biomarker tersebut dengan klasifikasi histopatologis nefritis lupus untuk mengganti biopsi ginjal dalam penentuan kelas histopatologi nefritis lupus.   Penelitian ini dilakukan selama 11 bulan   berupa studi observasional dengan pengambilan sampel darah dan urin untuk mengetahui kadar antibodi anti-dsDNA dan MCP-1, serta biopsi ginjal untuk menentukan kelas nefritis lupus berdasarkan klasifikasi WHO tahun 1982.   Data hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (p=0,208>α) antara mean rank kadar anti-dsDNA pada kelompok kontrol dan kelompok kasus,begitu pula dengan hasil perbandingan mean rank kadar uMCP-1 (p=0,247>α).   Uji korelasi Spearman's rho,menunjukkan hubungan signifikan kadar anti-dsDNA dan kadar uMCP-1 (r = 0,861; p<0,001). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar biomarker antibodi anti-dsDNA dan urine MCP1 pada kejadian nefritis lupus dan klasifikasi histopatologi nefritis lupus, namun terdapat hubungan yang sangat erat antara kadar biomarker antibodi anti-dsDNA dengan kadar urine MCP-1. Nilai sensitifitas kadar anti-dsDNA dan uMCP-1  lebih rendah yaitu 20% – 40% dibandingkan dengan nilai spesifisitasnya, yaitu 50% – 83,33%.Kata Kunci: Anti-dsDNA, uMCP-1, klasifikasi histopatologi, nefritis  lupus
Aktifitas Fisik Berat Menyebabkan Degenerasi Sel Hepatosit melalui Mekanisme Stres Oksidatif hairrudin, Hairrudin; Helianti, Dina; Widiastuti, Yulestrina
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.2

Abstract

Hepar mempunyai peranan yang penting dalam mempertahankan homeostasis metabolisme tubuh. Stres oksidatif akibat aktifitas fisik berat dapat meningkatkan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) yang kemudian menyebabkan kondisi patologis pada sel hepatosit, ditandai dengan perubahan struktur dan fungsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak stres oksidatif akibat aktifitas fisik berat terhadap kerusakan sel hepatosit. Penelitian ini menggunakan 16 ekor tikus putih Wistar jantan yang berumur 3 bulan, dengan berat badan antara 150 s.d. 200 gram yang dibagi ke dalam kelompok kontrol dan perlakuan. Aktifitas fisik berat yang berupa renang dengan beban dan intensitas maksimal diberikan pada kelompok kontrol, dilakukan setiap pagi selama 30 hari. Penilaian stres oksidatif ditentukan melalui pengukuran kadar MDA serum menggunakan teknik Thiobarbituric Acid Reactive Substance (TBARS). Perubahan histopatologi sel hepatosit berupa degenerasi sel dinilai berdasarkan klasifikasi sistem skoring NAFLD dari the Pathology Committee of the NASH Clinical Research Network. Rerata kadar MDA pada kelompok kontrol sebesar 42,38 nmol/ml, sedangkan pada kelompok perlakuan sebesar 89,63 nmol/ml. Pada pengamatan histopatologi hepar menunjukkan adanya proses degenerasi sel. Dapat disimpulkan bahwa aktifitas fisik berat dapat menyebabkan degenerasi sel hepatosit melalui mekanisme stres oksidatif.Kata Kunci: Aktifitas fisik berat, degenerasi, sel hepatosit, stres oksidatif.
Gambaran Klinis Ketoasidosis Diabetikum Anak Aji C, Haryudi
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.4 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.10

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan profil klinis ketoasidosis diabetikum pada anak. Data dikumpulkan dari rekam medik gambaran klinis pasien ketoasidosis diabetikum yang didapatkan di Bagian Anak Rumah Sakit dr . Saiful Anwar Malang pada tahun 2005-2009. Pada masa penelitian ini didapatkan 19 pasien dengan usia 1-14 tahun dengan proporsi 58% perempuan, 53% berusia antara 5-10 tahun dan 63% mengalami gizi kurang. Pada 53% pasien memberikan gambaran konsentrasi bikarbonat pada darah sebesar   5-9,9 mmol/L. osmolaritas darah >295-400 mOsm/l ditemukan pada 84% pasien dan 53% pasien mempunyai level potasium 3,5-5 mmol/L dan 42% pasien mempunyai kadar leukosit 10.000-<20.000/ul.  Keluhan  yang  paling  banyak  ditemukan  pada  pasien  adalah  muntah,  nyeri  perut,  penurunan kesadaran, kejang, diare, penurunan berat badan, polyuria, polydipsia, polyphagi dan demam. Keluhan terbanyak adalah polyuria yang didapatkan pada 16% kasus. Sebagian besar (67%) penderita Ketoasidosis Diabetikum anak mempunyai kadar keton  lebih dari 5 mmol/l dan 61% mengalami ketonuri  (4+) serta 63% pasien mempunyai anion gap 12.0-24.0.Kata Kunci: Anak, gambaran klinis, ketoasidosis diabetikeum
Pengaruh Paparan Akut Asam Sulfat (H SO ) dan Asam Nitrat (HNO ) terhadap Penebalan 2 4 3 Septum Interalveolaris Tikus Darmawan, Arief; Makyah, SN Nurul
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.49 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2012.027.02.3

Abstract

Udara merupakan faktor penting dalam kehidupan. Pencemaran udara berpengaruh terhadap terjadinya hujan asam.Asam sulfat (H SO ) dan asam nitrat (HNO ) dalam hujan asam dapat terinhalasi ke dalam sistem pernapasan. Alveoli 2 4 3adalah komponen fisiologik penting dari sistem pernapasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruhpaparan akut material hujan asam berupa H SO dan HNO terhadap gambaran histologi alveoli tikus. Desain penelitian ini 2 4 3adalah quasi experiment dengan subjek penelitian tikus putih (Rattus norvegicus) sebanyak 20 ekor jantan galur Spraque-Dawley berumur 3 bulan dengan berat badan rata-rata 200-300 gram, terbagi dalam 4 kelompok: kelompok I (kontrol),kelompok II (paparan H SO 8,4 mg/L), kelompok III (paparan HNO 30 mg/L) dan kelompok IV (paparan H SO 8,4 mg/L dan 2 4 3 2 4HNO 30 mg/L). Paparan diberikan akut selama 4 jam. Pengamatan histologi dilakukan melalui pengukuran ketebalan 3septum interalveolaris. Data dianalisis dengan ANOVA dilanjutkan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan septuminteralveolaris kelompok paparan H SO 8,4 mg/L paling tebal, disusul kelompok paparan HNO 30 mg/L, kelompok 2 4 3paparan H SO 8,4 mg/L dan HNO 30 mg/L dan terakhir kelompok kontrol. Disimpulkan bahwa paparan akut material 2 4 3hujan asam berupa H SO (182,7%) dan HNO (129,9%) menyebabkan penebalan septum interalveolaris tikus.Kata Kunci: Alveoli, H SO , HNO , hujan asam, ketebalan septum interalveolaris 2 4 3Air

Page 1 of 2 | Total Record : 13