cover
Contact Name
Findi Citra Kusumasari
Contact Email
findi.citra@polije.ac.id
Phone
+6281515128562
Journal Mail Official
jofit@polije.ac.id
Editorial Address
Jl. Mastrip PO BOX 164, Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Food Industrial Technology
ISSN : -     EISSN : 30324963     DOI : https://doi.org/10.25047/
The journal publishes original research and reviews papers on any subject at the interface between food industrial technology, particularly those of relevance to industry, including: Functional Food, Food Sensory, Food Nutrition, Food Security and Safety, Food Processing and Engineering, Food Microbiology, Agroindustrial Biotechnology, Agroindustrial Management and Systems, Waste Management and Technology, Sustainable and Smart Agroindustry, Food Packaging Technology
Articles 30 Documents
Kinetika Perubahan Mutu Puree Tomat (Lycopersicum Esculantum) Pada Berbagai Jenis Kemasan: Kinetics of Quality Change of Tomato Puree (Lycopersicum esculentum) In Various Types of Packaging Fitri Rahma Sari; Andi Eko Wiyono; Herlina
Journal of Food Industrial Technology Vol. 1 No. 3 (2024): November
Publisher : Journal of Food Industrial Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofit.v1i3.4952

Abstract

Buah tomat merupakan salah satu komoditi pertanian yang mudah rusak. Salah satu bentuk olahan tomat yang sering digunakan dalam industri pangan adalah puree. Dibutuhkan kemasan yang tepat agar mutu serta kualitas puree terjaga. Jenis kemasan yang biasa digunakan seperti jar, vakum polipropilen, dan silver aluminium foil pouch. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa perubahan mutu pada puree tomat dan menganalisa model kinetika perubahan mutu puree tomat dengan berbagai jenis kemasan selama penyimpanan menggunakan model Arrhenius. Perhitungan model Arrhenius menggunakan tiga suhu penyimpanan yaitu pada suhu 35°C, 45°C, dan 55°C selama delapan hari. Parameter yang diamati yaitu pH, warna (L* dan a*), TPT serta kadar air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu puree tomat menurun di setiap kemasan baik jar, PP vakum maupun SAF. Model kinetika degradasi mutu puree tomat dengan variasi kemasan pada parameter pH dan TPT menggunakan orde nol sedangkan parameter warna (L* dan a*) dan kadar air menggunakan orde satu. Perlakuan kemasan PP vakum pada puree tomat memiliki energi aktivasi terkecil pada parameter pH, L*, a*, TPT, kadar air secara berturut-turut yaitu 18603,5 Kkal/mol; 10269,41 Kkal/mol; 18603,46 Kkal/mol; 7050,697 Kkal/mol; 1012,066 Kkal/mol sehingga menjadikan kemasan PP vakum mengalami reaksi degradasi yang lebih cepat. Perlakuan kemasan silver aluminium foil pouch pada puree tomat memiliki energi aktivasi terbesar di parameter pH, L*, a*, TPT, kadar air dengan nilai 24799,18 Kkal/mol; 24799,18 Kkal/mol; 7446,706 Kkal/mol; 12172,39 Kkal/mol. Kata Kunci : Degradasi, Kemasan, Model Kinetika, Puree Tomat
Karakteristik Fisikokimia, Organoleptik dan Harga Pokok Produksi (HPP) Permen Jelly Labu Kuning: Characteristics Of Physicochemical, Organoleptik And Production Cost (COGS) Of Yellow Pumkin Jelly Candy Tri Riwayati Sudarmono; Nadya Shara Mahardhika; Andi Eko Wiyono
Journal of Food Industrial Technology Vol. 1 No. 3 (2024): November
Publisher : Journal of Food Industrial Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofit.v1i3.4954

Abstract

Permen jelly merupakan permen yang disukai karena memiliki sifat yang khas. Permen jelly yang diproduksi dari buah-buahan ataupun sayuran memiliki kelebihan tersendiri akan nilai nutrisi dibandingkan dengan produk permen jelly yang ada di pasaran yang hanya berasal dari penambahan essence dari bahan kimia dan dapat dijadikan sebagai bahan pewarna alami. Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan jelly adalah gelatin yang berfungsi sebagai bahan pengental, gula sebagai pemanis dan asam organik sebagai bahan pengawet dan memberi rasa asam pada produk. Pewarna alami yang digunakan pada permen jelly ini yaitu dengan penambahan labu kuning yang akan memberikan warna kuning pada permen jelly selain itu juga mendapat penambahan sari jahe sebagai pemberi rasa pedas terhadap permen jelly. Parameter yang diamati yaitu karakteristik fisik (warna dan rendemen), karakteristik kimia (pH dan kadar betakaroten), uji organoleptik dan perhitungan Harga Pokok Produksi). Dilakukan perlakuan terbaik menggunakan uji efektivitas De Garmo yaitu perlakuan A2 dengan konsentrasi penambahan sari jahe sebesar 10% yang memiliki warna (L*) 76,46 ; rendemen 62,13 gram ; pH 7,63 ; betakaroten 33,51 mg/g dan nilai Harga Pokok Produksi (HPP) sebesar Rp.26.000. Kata Kunci : Labu Kuning, Jahe, dan Permen Jelly
Manajemen Mutu Agroindustri Pengolahan Ikan Surabaya: Quality Management In Fish Processing Agro-Industries Surabaya Dio Samudra; Alfen Ridho
Journal of Food Industrial Technology Vol. 1 No. 3 (2024): November
Publisher : Journal of Food Industrial Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofit.v1i3.5519

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen mutu dalam agroindustri pengolahan ikan di Surabaya. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada beberapa perusahaan pengolahan ikan terkemuka di kota tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem manajemen mutu seperti HACCP dan ISO 9001 telah meningkatkan kualitas produk dan efisiensi proses produksi. Namun, ditemukan beberapa tantangan seperti inkonsistensi pasokan bahan baku dan keterbatasan sumber daya manusia terampil. Penerapan teknologi modern dalam proses pengolahan dan pengemasan terbukti efektif dalam menjaga kualitas produk. Kesimpulannya, manajemen mutu yang efektif sangat penting bagi keberlanjutan dan daya saing agroindustri pengolahan ikan di Surabaya. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kolaborasi antara industri, pemerintah, dan lembaga pendidikan untuk mengatasi tantangan yang ada dan meningkatkan standar mutu secara keseluruhan.
Tinjauan Penghilangan Fosfatida Pada Crude Palm Oil Menggunakan Metode Air Dan Asam Degumming Sebagai Bahan Baku Pembuatan Biodisel: Review Of Phosphatide Removal In Crude Palm Oil Using Water And Acid Degumming Method As Raw Material For Biodiesel Production Randy Lesmana Putra; Ida Zahrina; Yelmida Aziz
Journal of Food Industrial Technology Vol. 1 No. 3 (2024): November
Publisher : Journal of Food Industrial Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofit.v1i3.5560

Abstract

Salah satu proses pemurnian minyak sawit mentah disebut proses degumming, proses ini menghilangkan gum yang terdiri dari beberapa pengotor yang tidak diharapkan untuk proses lebih lanjut. Salah satu pengotor itu ialah fosfatida, fosfatida terdiri dari fosfatida hydratable dan non hydratable. Penghilangan fosfatida ini lebih banyak dilakukan dengan metode water deguming, hanya saja water degumming tidak bisa menghilangkan fosfatida non hydratable, sehingga untuk proses penghilangan fosfatida non hydratable dilakukan dengan penambahan asam. Artikel ini menyajikan informasi terkait produksi biodisel, penghilangan fosfatida melalui metode water degumming dan acid degumming, serta pengaruh dari efektivitas penyisihan fosfatida terhadap produksi biodisel.
Management Konservasi Dalam Mitigasi Erosi Berbagai Penggunaan Lahan Di Sub Das Lunto Sumatera Barat: Conservation Management In Erosion Mitigation For Various Land Uses In Sub Watershed Lunto, West Sumatera Elsa Lolita Putri; Adrinal; Gusmini; Muhammad Faiz Barchia
Journal of Food Industrial Technology Vol. 1 No. 3 (2024): November
Publisher : Journal of Food Industrial Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofit.v1i3.5641

Abstract

Penelitian tentang prediksi erosi menggunakan metode USLE telah dilakukan di Sub DAS Lunto di DAS Kuantan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memprediksi tingkat erosi tanah dengan metode USLE, erosi yang dapat ditoleransi, dan konservasi untuk meminimalkan erosi di Sub DAS tersebut. Laboratorium Jurusan Fisika Tanah Universitas Andalas adalah tempat penyelidikan ini dilakukan. Studi ini menggunakan metode survei purposive random sampling di sembilan satuan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada SL7 (oxisol, 25%–45%, pertanian lahan kering), erosi tertinggi mencapai 577,27 ton/ha per tahun. Pada SL 8 (oxisol, kemiringan 8%–15%, pertanian lahan kering), erosi tertinggi mencapai 30,02 ton/ha per tahun. Ada dua satuan lahan, SL 2 (oxisol, kemiringan 15%-25%, pertanian lahan kering) dan SL8 (oxisol, kemiringan 8%-15%, pertanian lahan kering), masing-masing dengan nilai prediksi erosi (A) yang lebih kecanggihan. Nilai erosi tertinggi ditoleransi pada SL8, yang mencapai 46,28 ton/ha per tahun, sedangkan nilai erosi terendah ditoleransi pada SL1, yang mencapai 38,52 ton/ha per tahun.
Pengaruh Media Molase Dan Media Sukrosa Terhadap Pertumbuhan Aspergillus Niger Dalam Memproduksi Asam Sitrat: Effect of Molasses and Sucrose Media on Growth of Aspergillus niger for Citric Acid Production Angga Prasetyo; Rasmiyana
Journal of Food Industrial Technology Vol. 2 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Journal of Food Industrial Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofit.v2i1.5800

Abstract

Pemanfaatan limbah molase sebagai media pertumbuhan Aspergillus niger untuk produksi asam sitrat bisa menjadi alternatif dalam mengatasi permasalahan limbah dari industri gula. Selain itu, asam sitrat yang dihasilkan bisa dimanfaatkan sebagai pengawet dan pengatur nilai pH pada industri pangan. Penelitian ini bertujuan mengukur pertumbuhan dan produksi asam sitrat oleh A. niger yang ditumbuhkan dalam media molase dan media sukrosa sebagai pembanding. Metode penelitian dilakukan dengan inkubasi A. niger pada media molase dan media sukrosa selama 6 hari pada suhu ruang. Parameter yang diukur adalah biomassa dan kadar asam sitrat pada hari ke-0, 2, 4, dan 6. Hasil penelitian menunjukkan pada media molase, biomasa jamur mengalami kenaikan hingga hari ke-6 yaitu 0,295 gram dan kadar asam sitrat sebesar 10,24 mg/ml. Pada media sukrosa, biomasa jamur mengalami peningkatan hingga hari ke-6 yaitu 0,102 gram dan kadar asam sitrat sebesar 20,49 mg/ml. Berdasarkan hasil penelitian, molase memiliki potensi untuk dioptimalkan sebagai media untuk produksi asam sitrat oleh A. niger.
Uji Faktor biotik (Komensalisme dan Sinergisme) Escherichia coli terhadap Bacillus flexus dan Staphylococcus aureus : Biotic Factor Testing (Commensalism and Synergism) of Escherichia coli with Bacillus flexus and Staphylococcus aureus Rasmiyana; Angga Prasetyo
Journal of Food Industrial Technology Vol. 2 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Journal of Food Industrial Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofit.v2i1.5831

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui interaksi komensalisme dan sinergisme antara Escherichia coli dengan Bacillus flexus, dan Staphylococcus aureus. Uji komensalisme dilakukan dengan mengamati pertumbuhan bakteri dalam media Nutrient Broth (NB) pada isolat tunggal dan kombinasi dua bakteri. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi E. coli dan B. flexus menghasilkan kekeruhan yang lebih tinggi, mengindikasikan adanya hubungan komensalisme, sementara kombinasi E. coli dan S. aureus menunjukkan kekeruhan yang serupa dengan inokulasi tunggal, menandakan hubungan netralisme. Uji sinergisme menggunakan media laktosa dan sukrosa menunjukkan bahwa E. coli mampu memfermentasi kedua gula (laktosa dan sukrosa). B. flexus dapat memfermentasi sukrosa. S. aureus tidak dapat melakukanfermentasi laktosa maupun sukrosa. Kombinasi E. coli dan B. flexus menunjukkan interaksi komensalisme pada proses pertumbuhannya dan interaksi netral pada proses fermentasi gula. E.coli dan S. aureus menunjukkan interaksi netral pada proses pertumbuhannya. Sedangkan pada proses fermentasi keduanya menunjukkan interaksi antagonistime. Penelitian ini memberikan wawasan mengenai jenis interaksi bakteri yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme dalam ekosistem.
Charlie: Pengembangan Teknologi Pengemasan Aktif Berbasis Nano-Hydroxyapatite (N-Hap) Dari Limbah Lele Pangasius Untuk Memperpanjang Masa Simpan Produk Agro-Industrial Di Indonesia: Charlie: Development Of Active Packaging Technology Based On Nano-Hydroxyapatite Nanomaterial (N-Hap) From Pangasius Catfish For Extending Shelf Life Of Agroindustrial Product In Indonesia Hanif Yusran Makarim; Andian Sandi Pamungkas; Alya Fitria Sukma
Journal of Food Industrial Technology Vol. 2 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Journal of Food Industrial Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofit.v2i1.5834

Abstract

Lonjakan limbah plastik global menjadi ancaman signifikan terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesehatan publik, dengan Indonesia termasuk salah satu penyumbang terbesar polusi plastik. Menjawab tantangan ini, proyek CHARLIE menghadirkan pendekatan inovatif dengan mengubah limbah tulang ikan lele (Pangasius) menjadi kemasan aktif biodegradable. Penelitian ini mencakup tiga tahap utama: sintesis nano-hydroxyapatite (n-HAP) melalui pretreatment dan kalsinasi termal, pembuatan biofilm berbasis pati, serta integrasi n-HAP, kitosan, dan polifenol teh ke dalam sistem kemasan aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa n-HAP memiliki kemurnian tinggi dengan ukuran partikel rata-rata 71,38 nm. Biofilm yang dihasilkan menunjukkan sifat mekanik optimal dengan ketebalan 0,06 ± 0,01 mm, kekuatan tarik 13,69 MPa, dan elongasi putus 6,87%. Kemasan aktif ini juga menunjukkan efektivitas antimikroba terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus, serta kapasitas antioksidan mencapai 80%. Analisis ekonomi mengungkapkan bahwa proyek ini layak secara finansial, dengan Net Present Value (NPV) sebesar Rp 120.861.676 selama lima tahun pada tingkat diskonto 10%, serta Return on Investment (ROI) sebesar 78,22%. Dengan harga jual Rp 5.467,50 per lembar, proyek CHARLIE muncul sebagai solusi berkelanjutan dan layak secara ekonomi untuk mengurangi limbah plastik sekaligus mendukung kebutuhan kemasan agroindustri. The global surge in plastic waste poses significant threats to environmental sustainability and public health, with Indonesia ranking among the highest contributors to plastic pollution. Addressing this crisis, the CHARLIE project introduces an innovative approach by transforming Pangasius catfish bone waste into biodegradable active packaging. This study encompasses three major stages: the synthesis of nano-hydroxyapatite (n-HAP) via pretreatment and thermal calcination, the development of starch-based biofilms, and the integration of n-HAP, chitosan, and tea polyphenols into an active packaging system. Results revealed that n-HAP exhibited high purity with an average particle size of 71.38 nm. The resulting biofilm demonstrated optimal mechanical properties with a thickness of 0.06 ± 0.01 mm, tensile strength of 13.69 MPa, and elongation at break of 6.87%. The active packaging showcased antimicrobial efficacy against Escherichia coli and Staphylococcus aureus, along with antioxidant activity reaching 80%. Economic analysis highlights the project’s feasibility, with a Net Present Value (NPV) of Rp 120,861,676 over five years at a 10% discount rate and a robust Return on Investment (ROI) of 78.22%. At a selling price of Rp 5,467.50 per sheet, the CHARLIE project emerges as a sustainable and economically viable solution for reducing plastic waste while supporting agro-industrial packaging needs.
Pengaruh Bahan Perendam Terhadap Parameter Organoleptik Dan Rendemen Kripik Kentang: The Effect of Soaking Materials on the Organoleptic Parameters and Yield of Potato Chips Casilda Aulia Rakhmadina; Amellia Dwi Rizkyana; Yulia Rachmawati; Nadiyah Zuhroh
Journal of Food Industrial Technology Vol. 2 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Journal of Food Industrial Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofit.v2i1.5858

Abstract

Keripik kentang merupakan salah satu makanan ringan yang populer di masyarakat. Makanan ini dikenal karena rasa gurih, tekstur renyah, serta kemudahan dalam penyajiannya. Mutu keripik kentang dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah bahan perendam yang digunakan sebelum proses penggorengan. Oleh karena itu, pemilihan bahan perendam yang tepat sangat penting untuk menghasilkan keripik kentang dengan mutu yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bahan perendam, yaitu air kapur, air biasa, air cucian beras, dan air asam sulfat terhadap parameter organoleptik dan rendemen keripik kentang. Variasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah bahan perendam. Terdapat 4 varian bahan perendam berbeda yang dikenakan pada pembuatan keripik kentang, yaitu air biasa, air kapur, air rendaman beras, dan metabisulfit. Parameter pengamatan yang dilakukan adalah organoleptik (warna, rasa, aroma, tekstur, dan kenampakan) pada saat sebelum dan sesudah keripik kentang digoreng. Parameter lainnya adalah rendemen. Analisis data menggunakan Anova One Way dan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test. Analisis Anova One Way dan Duncan Multiple Range Test menunjukan adanya pengaruh signifikan dari perbedaan jenis bahan perendam terhadap nilai rendemen. Dimana nilai rendemen pada keripik kentang yang direndam pada metabisulfit paling tinggi,diikuti oleh nilai rendemen dari bahan perendam air kapur, air biasa, dan air rendaman beras. Sementara varian bahan perendam menghasilkan kecenderungan karakteristik yang berbeda antar satu dan yang lainnya.
Pengaruh Lama Waktu Pengeringan Terhadap Karakteristik Sensoris Seduhan Teh Herbal Daun Berenuk (Crescentia Cujete L.): Effect of Long Drying Time on Sensory Characteristics of Berenuk (Crescentia Cujete L.) Leaf Herbal Tea Steeping Aulia Brilliantina; Nur Widya Aprisa Arisnawati
Journal of Food Industrial Technology Vol. 2 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Journal of Food Industrial Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofit.v2i1.5861

Abstract

Tanaman berenuk merupakan tanaman fungsional. Daun dari tanaman berenuk memiliki kandungan antioksidan yang tinggi sehingga dapat dikembangkan menjadi minuman fungsional. Dalam pengolahannya proses pengeringan tentu dapat mempengaruhi kualitas teh. Minuman Teh Herbal Daun Berenuk (Crescentia Cujete L.) dikeringkan menggunakan mesin cabinet dryer dengan suhu dan variasi lama pengeringan yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan karakteristik sensoris dari teh herbal daun berenuk yang dikeringkan menggunakan cabinet dryer dengan suhu 50℃ dengan variasi lama pengeringan 1,5 jam, 2 jam, 2,5 jam, dan 3 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu pengeringan berpengaruh nyata terhadap uji hedonic atau kesukaan panelis pada parameter warna dan aroma, namun tidak berpengaruh nyata terhadap parameter rasa. Pada Uji Mutu Hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata terhadap semua parameter yaitu warna, rasa, dan aroma.

Page 2 of 3 | Total Record : 30