cover
Contact Name
A. A. Sg. A. Sukmaningsih
Contact Email
sukmaningsih@unud.ac.id
Phone
+6285339155574
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Open Access DRIVERset
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Bile Salt Hydrolase pada Probiotik sebagai Agen Penurun Kolesterol: Kajian Pustaka Kristina Wulandari; Noval Wahyu Adi; Ida Ayu Agung Prawitasari; Ni Nengah Dwi Fatmawati; Komang Ayu Nocianitri; I Nengah Sujaya
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p1

Abstract

Dislipidemia menjadi salah satu faktor pemicu risiko penyakit metabolit dan beban kesehatan global. Tingginya kadar kolesterol total atau LDL pada jaringan kardiovaskular menjadi kasus dislipidemia yang kerap dijumpai di masyarakat. Salah satu metode alternatif dalam mencegah dan mengatasi masalah kolesterol tinggi adalah dengan memanfaatkan probiotik melalui aktivitas Bile Salt Hydrolase (BSH). BSH merupakan enzim yang berperan dalam pembentukan garam empedu bebas yang dapat menyebabkan peningkatan sintesis de novo pada asam empedu hepatik. Kehadiran BSH akan mengganggu siklus enterohepatik dengan menghidrolisis ikatan amida pada asam empedu terkonjugasi menjadi asam empedu bebas dengan perubahan sifat menjadi lebih hidrofobik dan sedikit diserap kembali oleh tubuh, sehingga akan lebih banyak dikeluarkan melalui feses. Semakin banyak ekskresi asam empedu melalui feses, maka semakin sedikit asam empedu yang dibawa kembali ke hati melalui siklus enterohepatik, sehingga untuk menggantikan asam empedu yang hilang, diperlukan jumlah kolesterol yang lebih banyak untuk sintesis de novo di hati. Lebih lanjut, kehadiran BSH juga dapat memicu mekanisme penurunan kolesterol lain seperti kopresipitasi kolesterol dengan garam empedu terdekonjugasi serta penurunan efisiensi pelarutan dan penyerapan lipid di usus. Saat ini, bakteri yang memiliki BSH tidak hanya berasal dari saluran pencernaan manusia seperti Lactobacillus dan Bifidobacteria, tetapi dapat juga ditemukan pada bakteri makanan fermentasi dan bakteri patogen seperti Listeria monocytogenes dan Brucella abortus. Perlu diperhatikan bahwa setiap strain bakteri memiliki katalisator, kemampuan serta jenis dan jumlah gen BSH yang spesifik. Dengan perkembangan aplikasi probiotik dalam dasa warsa terakhir, kajian pustaka ini diharapkan dapat memberikan pandangan terkini tentang peranan probiotik dalam menurunkan kolesterol. Kata Kunci: dislipidemia, LDL, asam empedu, siklus enterohepatik
Jenis-Jenis Diatom di Sungai Asahan dan Bak Mandi Sekitar Kabupaten Toba Putri Karenina Siregar; I Ketut Junitha; Ni Made Suartini
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p6

Abstract

Diatom adalah organisme uniseluler, mikroskopis, serta tersusun dari dinding silika yang tahan terhadap pemanasan dan pengasaman. Diatom dapat ditemukan di berbagai jenis perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan jenis diatom yang ditemukan di Sungai Asahan dan bak mandi sekitar Kabupaten Toba. Sampel air diambil sebanyak 50 liter di tiap lokasi kemudian disaring menggunakan plankton net dan ditampung dalam botol kaca 25 ml. Sampel dalam botol diberi 10 tetes larutan iodin sebagai pengawet. Identifikasi diatom dilakukan dengan mengamati karakter morfologi dan morfometri menggunakan Image Raster III. Analisis data dilakukan secara deskriptif komparatif dan mengacu pada pustaka untuk menentukan jenis diatom. Hasil penelitian ini memperoleh sebanyak 40 jenis diatom dari 21 genus, 13 famili, sembilan ordo, dan satu kelas yang sama Bacillariophyceae. Sebanyak 37 jenis diatom ditemukan dari sampel air Sungai Asahan. Hanya empat jenis diatom yang ditemukan di wadah air mandi I. Demikian pula, hanya dua jenis diatom yang ditemukan di wadah air mandi III. Namun, lebih banyak jenis diatom yang ditemukan di wadah air mandi II, yaitu 14 jenis. Empat belas jenis diatom ditemukan baik di Sungai Asahan maupun di bak mandi. Jumlah sel diatom yang paling ditemukan adalah jenis Aulacoseira granulata. Kata kunci: bak mandi, diatom, sungai
Kajian Etnobotani pada Masyarakat Lokal Dusun Segenter, Desa Sukadana, Kabupaten Lombok Utara Deyalis Almahira; Sukiman; Kurniasih Sukenti
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p8

Abstract

Traditional use of plants by people in Indonesia has been carried out for centuries. There are several areas on Lombok Island with local knowledge regarding the use of plants that has not been revealed, one of which is Dusun Segenter, Sukadana Village, North Lombok Regency. This research aims to reveal aspects of utilization, examine socio-cultural aspects, as well as local wisdom in plant management by the people of Dusun Segenter. This research was carried out by collecting data through observation, structured interviews, open ended, and documentation. Determining informants used purposive sampling and snowball sampling techniques. Data analysis was carried out descriptively based on observations and interviews, while quantitative data analysis was carried out by calculating the Index of Cultural Significance (ICS), Fidelity level (FL), and calculating percentages for plant parts, habitat and cultivation status. The results of the research showed that there were 10 categories of plant utilization involving 76 species from 36 families. These plants are used as food, medicine, tradition, firewood, animal feed, handicrafts, natural dyes, natural pesticides, construction materials for traditional houses in Segenter, and fences. The highest ICS score belongs to Gigantochloa atter (Hassk) Kuzr ex Munro, at 76. Meanwhile, some utilization category have more than one species with maximum value of 100%. Socio-cultural values and local wisdom are reflected in terms of mutual cooperation, sharing, and prayer before carrying out traditional ritual activities, the use of plants as medicine, construction construction, and the erection of fences. This research is expected to support the preservation of biological and cultural resources. Keyword: ethnobotany, local wisdom, Index of Cultural Significance, Fidelity Level
Repetitif Embriogenesis Dendrobium sp. pada Teknik Media Kultur Padat, Thin-film, dan Double-layer secara In-Vitro Thiya Fathiyatul Fauziyah; Tintrim Rahayu; Gatra Ervi Jayanti; Dita Agisimanto
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p2

Abstract

Dendrobium sp. merupakan salah satu jenis anggrek yang banyak dibudidayakan di Indonesia sebagai tanaman hias pot dan bunga potong. Industri florikultur di Indonesia masih dihadapkan dengan masalah terbatasnya kesediaan bibit tanaman, karena perbanyakan konvensional membutuhkan waktu yang lama, sehingga tidak mampu memenuhi permintaan pasar. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan secara in vitro yang mampu menghasilkan tanaman dalam jumlah banyak dengan waktu yang lebih singkat. Teknik media yang digunakan dalam kultur jaringan dapat mempengaruhi pekembangan eksplan. Protocorm like bodies (PLB) merupakan embrio somatik anggrek yang di dalamnya terdapat sel-sel embrionik, sehingga tidak sulit untuk menghasilkan embrio somatik baru. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui bagaimana perkembangan PLB Dendrobium sp. pada teknik media padat, thin liquid film dan double-layer. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan Acak Lengkap (RAL) dimana terdapat 3 perlakuan dengan 4 kali pengulangan. Analisis data menggunakan uji perbandingan secara univariat, Bonferroni dan Games-Howell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada teknik media thin liquid film memiliki waktu munculnya embrio somatik baru tercepat, pertambahan berat tertinggi dan variasi warna terbanyak dibandingkan dengan teknik media double-layer dan padat. Namun teknik media padat, thin liquid film dan double layer tidak berpengaruh signifikan terhadap munculnya akar pertama, tunas pertama dan panjang akar. Warna daun dan embrio yang dihasilkan oleh teknik media thin liquid film lebih bervariasi yaitu 3 variasi pada warna embrio dan 4 variasi pada warna daun, sedangkan teknik media double-layer hanya memiliki 1 warna embrio dan 1 warna daun dan teknik media padat memiliki 1 pada warna embrio dan 3 variasi pada warna daun. Kata kunci: Repetitif embriogenesis, Thin liquid film, Double-layer, Kultur in-vitro, kultur cair
Identifikasi Jamur Kontaminan Pada Biji Kopi Arabika (Coffea Arabica L.) Dari Desa Belok/Sidan, Kecamatan Petang Anak Agung Devina Asana Putri; Ida Bagus Gede Darmayasa; Ni Luh Arpiwi
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p3

Abstract

Rendahnya kualitas biji kopi arabika disebabkan oleh kontaminasi beberapa jenis jamur pada permukaan biji, salah satu jenis jamur yang dominan adalah Aspergillus. Langkah pertama dari pencegahan kontaminasi jamur pada permukaan biji kopi arabika adalah mengetahui informasi jenis jamur tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik jamur kontaminan yang diisolasi dari biji kopi arabika dengan pendekatan morfologi dan molekuler. Prosedur penelitian ini adalah pemeriksaan jamur kontaminan, isolasi dan identifikasi jamur dari biji kopi arabika, dan identifikasi molekuler jamur dengan persentase kontaminasi tertinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji kopi arabika yang berasal dari Banjar Bon, Desa Belok/Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung terkontaminasi oleh 3 jenis jamur yaitu Aspergillus, Penicillium, dan Rhizopus. Jenis jamur dengan kontaminasi tertinggi adalah Aspergillus sp. 1 dengan persentase kontaminasi sebesar 68,89 ± 0,96%. Karakter morfologi jamur Aspergillus sp. 1 yaitu koloni berwarna hijau kekuningan, koloni bertekstur kasar, konidia berbentuk bulat dan bertekstur halus, vesikel berbentuk bulat, dan struktur konidiofor tunggal. Identifikasi molekuler menunjukkan bahwa Aspergillus sp. 1 memiliki panjang pita DNA yaitu 582 base pair (bp), serta konstruksi pohon filogenetik menunjukkan bahwa Aspergillus sp. 1 berada pada satu kelompok dengan Aspergillus flavus A26R dengan kode aksesi MN095167.1. Berdasarkan identfikasi morfologi dan molekuler yang telah dilakukan, biji kopi arabika telah terkontaminasi oleh Aspergillus flavus. Kata kunci: identifikasi molekuler, internal transcribed spacer (ITS), jamur kontaminan, komoditas pasca panen, uji kertas saring.
Potensi Ekstrak Etanol Daun Serai Wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle) Dalam Menghambat Pertumbuhan In Vitro Bakteri Staphylococcus aureus Dan Escherichia coli Yuliya Ayu Lestari; Yan Ramona; Fainmarinat Selviani Inabuy
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p9

Abstract

Serai wangi (Cymbopogon nardus (L.) Randle) merupakan tanaman yang umum digunakan masyarakat untuk mengobati eksim, diare, batuk pilek, serta sebagai obat kumur, karena tanaman ini memiliki aktivitas antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration (MIC) dan Lethal Concentration 50% (LC50) dari ekstrak etanol daunnya pada bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Selain itu, golongan senyawa kimia yang terkandung di dalam ekstrak daun serai wangi juga dielusidasi. Penelitian ini menggunakan metode sumur difusi dan menguji lima konsentrasi ekstrak daun serai wangi (10, 20, 30, 40, 50% b/v), etanol 96% dan Ciprofloxacin masing-masing berperan sebagai kontrol negatif dan kontrol positif. Nilai LC50 dihitung dari persamaan regresi yang diperoleh dari kurva yang menunjukkan hubungan antara konsentrasi dengan kerapatan sel mikroba uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai MIC ekstrak terhadap S. aureus dan E. coli adalah 2%. Konsentrasi paling efektif dalam menghambat pertumbuhan S. aureus adalah 10% dengan diameter hambatan sebesar 12,4±0,52mm, dan terhadap E. coli adalah 30% dengan diameter hambatan sebesar 10,4±0,65 mm. Nilai LC50 S. aureus dan E. coli berturut-turut sebesar 4,71% (b/v) dan 3,35% (b/v). Golongan senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak etanol daun serai wangi adalah flavonoid, polifenol, alkaloid, steroid, dan tanin. Kata kunci: Daya hambat, sumur difusi, konsentrasi, fitokimia
Potensi Ekstrak Daun Kayu Manis (Cinnamomum burmannii Blume.) dalam Menghambat Fusarium spp. Penyebab Penyaki Busuk Buah Kakao (Theobroma cacao L.) Kadek Dian Lila Sawitri Kumala; Sang Ketut Sudirga; Made Ria Defiani
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2024.v11.i02.p5

Abstract

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan komoditas produk pertanian yang berasal dari sub sektor perkebunan. Hasil produksi biji kering kakao memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai sumber devisa negara. Permintaan biji kering kakao semakin meningkat sedangkan produksi semakin menurun. Penurunan produktivitas terjadi akibat infeksi jamur patogen menyebabkan busuk buah. Salah satu jamur patogen penyebab busuk buah yaitu Fusarium spp. Pengendalian infeksi yang disebabkan jamur patogen saat ini menggunakan pestisida sintetis. Penggunaan pestisida sintetis berlebihan menunjukkan dampak negatif bagi manusia dan lingkungan. Untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetis, dilakukan pengendalian dengan memanfaatkan fungisida nabati, salah satu tanaman yang dapat digunakan yaitu kayu manis. Kayu manis dapat digunakan sebagai biofungisida, dengan memanfaatkan metabolit sekundernya. Tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi jenis jamur patogen penyebab busuk buah kakao secara makroskopis, dan mikroskopis, mengetahui potensi, MIC dan konsentrasi efektif ekstrak metanol daun kayu manis dalam menghambat jamur patogen secara in vitro. Berdasarkan hasil identifikasi makroskopis dan mikroskopis, jenis jamur patogen penyebab penyakit busuk buah kakao adalah Fusarium spp. Hasil uji daya hambat ekstrak metanol daun kayu manis dengan metode sumur difusi diperoleh zona hambat sebesar 23 mm, dengan nilai MIC 0,2% sebesar 6,63 mm dan konsentrasi efektif 5% sebesar 20,03 mm.
Formulasi Sediaan Lotion Antinyamuk Dari Ekstrak Daun Malapari (Pongamia Pinnata (L.) Pierre) Terhadap Nyamuk Aedes Aegypti (Linnaeus, 1762) I Gusti Ayu Suasthiti Asri; Ni Luh Arpiwi; Ni Made Suartini
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2025.v12.i01.p2

Abstract

Nyamuk merupakan vektor penyakit yang dapat menyebarkan beberapa jenis penyakit seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), Malaria, Filariasis, Chikungunya dan Japanese encephalitis. Masyarakat diharapkan untuk selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap keberadaan nyamuk khususnya pada nyamuk Aedes aegypti yang dapat membawa virus dengue penyebab DBD. Salah satu cara untuk memberikan perlindungan kulit dari gigitan nyamuk dan dapat diterapkan sehari-hari secara terus-menerus yaitu dengan mengaplikasikan bahan antinyamuk kedalam lotion yang terbuat dari ekstrak daun malapari yang memiliki beberapa senyawa kandungan tumbuhan obat yang berkhasiat sebagai antinyamuk diantaranya: flavonoid, steroid, alkaloid dan terpenoid. Pembuatan ekstrak daun malapari pada lotion ini menggunakan metode ekstraksi dengan cara maserasi. Adapun tujuan dari pembuatan lotion antinyamuk yaitu untuk mengetahui daya proteksi lotion antinyamuk dengan konsentrasi yang berbeda terhadap gigitan nyamuk Ae. aegypti dan mengetahui tingkat kesukaan probandus terhadap lotion antinyamuk ekstrak daun malapari. Hasil uji daya proteksi menunjukkan persentase daya proteksi berbeda nyata antar perlakuannya (P<0,05). Formulasi lotion F3 memiliki daya proteksi tertinggi hingga jam ke-5, kemudian lotion F2 dengan daya proteksi hingga jam ke-2, lalu lotion F1 dengan daya proteksi hanya di jam ke-1, dan lotion F0 yang sama sekali tidak memiliki daya proteksi dari jam ke-1 hingga jam ke-6. Tingkat kesukaan probandus terhadap formulasi lotion F1 mendapat penilaian sangat disukai, kemudian lotion F0 mendapat penilaian suka, lotion F2 dengan penilaian tidak suka dan lotion F3 mendapat penilaian sangat tidak disukai oleh probandus. Kata kunci: antinyamuk, Aedes aegypti, lotion, malapari
The Content of Lead Metals in Water and Green Shells (Perna viridis) in the Waters of Tanjung Emas Semarang Rizkita Dimar Agnevia; Ni Luh Watiniasih; Alfi Herawati Waskita Sari
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843./metamorfosa./2025.v12.i01.p5

Abstract

Tanjung Emas waters are a coastal area in Semarang City which is a productive area and has potential resources for the country's development in the economic field. The existence of industrial activities and ports in the waters of Tanjung Emas Semarang is suspected to be a contributor to the influx of heavy metals such as Lead (Pb) into the waters. Changes in the polluted water environment will affect the survival of conch animals because these animals have limited mobility and are easily affected by the presence of pollutants, both physical and organic pollutants. The waters of the Port of Tanjung Emas Semarang functioned as a place for fish farming and cultivation of clam. One of them is green shells (Perna viridis). Shellfish belong to the type of filter animal (filter feeder). Water samples and extracted green shells (Perna viridis) were measured for lead content (Pb) using the AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer) tool which refers to SNI 6989.4.2009 for water and SNI 01.2896.1998 for green shells (Perna viridis). The results of this study found that the concentration of heavy metals in shells was higher than in water. The measurement results of heavy metals lead (Pb) in water ranged from 0.008 to 0.010 Mg / L while the values ​​in green shells (Perna viridis) ranged from 0.274 to 0.320 Mg / Kg Then for water quality parameters the pH value ranges from 7 to 7.7 while the temperature value is 28.6 - 29.8o C and the value of dissolved oxygen (DO) is 5 - 5.2 ppm. Keywords: Heavy Metal, Pb, Water, Green Shells
Profil Pencemaran Mikroplastik Pada Sedimen Ekosistem Mangrove di Pulau Serangan, Bali Made Bayu Khrisna Pramana; Nyoman Dati Pertami; Ni Luh Gede Rai Ayu Saraswati
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/metamorfosa.2025.v12.i01.p1

Abstract

Microplastics are defined as small particles plastic with less than 5 mm in size. These small plastic particles were polluted all environments compartments, including mangrove ecosystem. This study aims to investigate microplastics pollution in mangrove sediment in Serangan waters, Bali. Moreover, sediment sample were collected in different sediment depth (0-10 cm, 10-20 cm and 20-30 cm) to understand the vertical abundance and morphology of microplastics in mangrove sediment. Sampling points were also distributed across mangrove ecosystem of Serangan Island with different characteristics, including near road and landfill station (St 1), residential area and small bussineses (St 2 and 3), and near bay area with less anthropogenic influence (St 4). A total of 182 suspected microplastic particles were identified from all sediment sample. The average of microplastics abundance vertically was ranging from 0.025±0.015 to 0.026±0.014 particle/g, while the average abundance horizontally was from 0.021±0.010 to 0.036±0.015 particle/g. Fragment was the most common microplastics types identified (76.37%), followed by fiber (15.38%) and film (8.24%). Our result highlight that microplastics has polluted the sediment layers of mangrove ecosystem in Serangan oWaters. The source of suspected microplastics particle in the sampling area was suggested from both land (through river pathway) and ocean (due to oceanographic factors, such as tides, wind and current). A further study on determining the polymer of suspected microplastics particle is needed. This is important to confirm the validity of visual identification in this study. Keyword: Microplastics, Mangrove ecosystem, Mangrove sediment, Serangan Island

Page 3 of 4 | Total Record : 31