cover
Contact Name
Eny Puspani
Contact Email
eny_fapet@unud.ac.id
Phone
+62818555700
Journal Mail Official
jurnaltropika@unud.ac.id
Editorial Address
Gedung AB Lt. 1, Jl. Kampus Bukit Jimbaran, Fakultas Peternakan Universitas Udayana
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Peternakan Tropika
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 27227286     DOI : -
Jurnal Peternakan Tropika (JPT) merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan teknologi) dan bidang sosial ekonomi peternakan.
Articles 100 Documents
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) MELALUI AIR MINUM TERHADAP ORGAN SALURAN PENCERNAAN AYAM KAMPUNG UNGGUL BALITNAK (KUB) Putri D.A.; G. A. M. K. Dewi; N. M. S. Sukmawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aimed to determine the effect of papaya seed extract on the digestive tract organs of Kampung Unggul Balitnak (KUB) chickens, has been conducted at Sesetan Farm, Faculty of Animal Science, Udayana University for 8 weeks. The design used was a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replicates so that there were 16 experimental units. Each experimental unit was filled with 5 chickens. The four treatments were: drinking water without papaya seed extract (P0), drinking water + 3% papaya seed extract (P1), drinking water + 4% papaya seed extract (P2), drinking water + 5% papaya seed extract (P3). The variables observed were percentage of proventriculus, percentage of ventriculus, percentage of small intestine, length of small intestine, length of large intestine, and length of cecum. The results showed that the application of papaya seed extract through drinking water at the level of 3%, 4%, and 5% had no significant effect (P>0.05) on the percentage of proventriculus, percentage of ventriculus, percentage of small intestine, length of small intestine, length of large intestine and length of cecum. Based on the results of this study, it was concluded that administering papaya seed extract through drinking water at a level of 3% - 5% did not affect the digestive tract organs of Kampung Unggul Balitnak (KUB) chickens. ABSTRAK Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak biji pepaya terhadap organ saluran pencernaan ayam kampung unggul balitnak (KUB), telah dilaksanakan di Farm Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana selama 8 minggu. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dan 4 ulangan sehingga terdapat 16 unit percobaan. Setiap unit percobaan diisi 5 ekor ayam. Keempat perlakuan tersebut yaitu : air minum tanpa ekstrak biji pepaya (P0), air minum + 3% ekstrak biji papaya (P1), air minum + 4% ekstrak biji pepaya (P2), air minum + 5% ekstrak biji pepaya(P3). Variabel yang diamati adalah persentase proventrikulus, persentase ventrikulus, persentase usus halus, panjang usus halus, panjang usus besar, dan panjang sekum. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak biji pepaya melalui air minum pada level 3%, 4%, dan 5% berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap persentase proventrikulus, persentase ventrikulus, persentase usus halus, panjang usus halus, panjang usus besar dan panjang sekum. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pemberian ekstrak biji pepaya melalui air minum pada level 3% - 5% tidak mempengaruhi organ saluran pencernaan ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB).
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus L., Merr.) MELALUI AIR MINUM TERHADAP PERSENTASE POTONGAN KARKAS KOMERSIAL ITIK BALI JANTAN (Anas plathyrynchos) Puspitadewi N. K. Y.; N. W. Siti; G. A. M. K. Dewi
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of giving pineapple peel extract to drinking water on the percentage of commercial male Bali duck carcass cuts. This research was carried out for 8 weeks at Sesetan Farm, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, Bali. The design used was a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replications, so there were 16 experimental units. Each experimental unit contained 3 male Balinese ducks that were 1 day old with a total of 48 ducks used with an average weight of 48.25 ± 2.58 g. The treatment given was male Bali ducks given drinking water without pineapple peel extract, namely 0%, 6%, 8%, and 10% in treatments P0, P1, P2, P3. The variables observed were chest percentage, upper thigh percentage, lower thigh percentage, wing percentage, and back percentage. The results showed that male Bali ducks given pineapple skin in treatments P1, P2, P3 did not show a significant difference (P>0.05) with P0 (control) in the percentage of commercial male Bali duck carcass cuts. Based on the research results, it can be concluded that administering pineapple peel extract through drinking water at levels of 6%, 8% and 10% has not been able to increase the percentage of commercial male Bali duck carcass cuts. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit buah nanas pada air minum terhadap persentase potongan karkas komersial itik bali jantan. Penelitian ini dilaksanakan selama 8 minggu di Farm Sesetan Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Bali. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan dan 4 kali ulangan, sehingga terdapat 16 unit percobaan. Setiap unit percobaan berisi 3 ekor itik bali jantan yang berumur 1 hari dengan total itik yang digunakan sebanyak 48 ekor dengan berat rata 48,25 2,58 g. Perlakuan yang diberikan adalah itik bali jantan yang diberi air minum tanpa ekstrak kulit buah nanas yaitu 0%, 6%, 8%, dan 10% pada perlakuan P0, P1, P2, P3. Variabel yang diamati adalah persentase dada, persentase paha atas, persentase paha bawah, persentase sayap, dan persentase punggung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa itik bali jantan yang diberi kulit buah nanas pada perlakuan P1, P2, P3 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) dengan P0 (kontrol) terhadap persentase potongan karkas komersial itik bali jantan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kulit buah nanas melalui air minum pada level 6%, 8% dan 10% belum mampu meningkatkan persentase potongan karkas komersia itik bali jantan.
PENAMPILAN REPRODUKSI SAPI BALI BETINA DENGAN INSEMINASI BUATAN DI KECAMATAN SIDEMEN KABUPATEN KARANGASEM Nurhalizah S.; N. L. G. Sumardani; I. W. Suberata
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to determine the reproductive performance of female Balinese cattle with artificial insemination in Sidemen District, Karangasem Regency. This study is a survey research using a sample of 51 female Balinese cattle that have given birth at least twice, owned by farmers taken by purposive sampling method in three villages. Data analysis used in this study was quantitative descriptive analysis. Research variables included age at puberty, age at first mating, length of pregnancy, service per conception, and calving interval. The results showed that the reproductive performance of female Balinese cattle with artificial insemination in Sidemen District, Karangasem Regency was good seen from the variable aspects of puberty age 16.64±3.95 months, age of first mating 21.57±3.03 months), gestation length 8.76±0.43 months, service per conception 1.58±0.73 times, and calving interval 15.13±063 months. Based on the results of the study, it can be concluded that the reproductive performance of female Balinese cattle with artificial insemination in Sidemen District, Karangasem Regency is in accordance with the characteristics of reproductive traits of Balinese cattle listed in Ministerial Decree No. 325/Kpts/OT.140/1/2010. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penampilan reproduksi sapi bali betina dengan inseminasi buatan di Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem. Penelitian ini merupakan penelitian survei menggunakan sampel 51 ekor sapi bali betina yang pernah beranak minimal dua kali, milik dari peternak yang diambil dengan metode purposive sampling di tiga desa. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif kuantitatif. Variabel penelitian meliputi umur pubertas, umur pertama kawin, lama kebuntingan, service per conception, dan calving interval. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penampilan reproduksi sapi bali betina dengan inseminasi buatan di Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem adalah baik dilihat dari aspek variabel umur pubertas 16,64±3,95 bulan, umur pertama kawin 21,57±3,03 bulan, lama kebuntingan 8,76±0,43 bulan, service per conception 1,58±0,73 kali, dan calving interval 15,13±063 bulan. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penampilan reproduksi sapi bali betina dengan inseminasi buatan di Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem adalah sesuai dengan karateristik sifat reproduksi sapi bali yang tercantum dalam Kepmenten Nomor 325/Kpts/OT.140/1/2010.
KARAKTERISTIK FISIK DAN SENSORI DAGING AYAM PETELUR AFKIR YANG DIMARINASI DENGAN EKSTRAK DAUN KENIKIR Cosmos caudatus kunth Hairullah; N. W. Siti; I. N. S. Miwada
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of the study was to determine the effect of concentration and time period in extracting kenikir leaves on the sendori and physical characteristics of meat of culled laying hens. The implementation of this research was carried out at the Laboratory of Animal Products Technology and Microbiology, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, located on Jalan Raya Campus Unud. Jimbaran Bali with a research period of 4 weeks. This study used a Completely Randomised Design (CRD) which has two factorial patterns, namely the concentration of the extracted kenikir leaves (E1: 25%, and E2: 50%) and the marination time factor in the extracted kenikir leaves (M1: 30 minutes, M2: 60 minutes). The application was carried out in a number of 3 repetitions by observing pH, cooking shrinkage, total meat yield and sensory tests (taste, aroma and tender texture of meat). The results showed that the treatment factor of kenikir leaf extract concentration (E) significantly influenced (P<0.05) all research variables. While the marination duration factor (M) had a significant effect (P<0.05) on pH, yield, flavour and tenderness of meat, but no significant effect (P>0.05) on cooking shrinkage variables and meat aroma. The interaction between the two factors showed that the E2M2 treatment significantly (P<0.05) increased the pH value, but had no significant effect (P>0.05) on cooking shrinkage, yield and organoleptic properties. Based on the results obtained from the research process, it can be concluded that the concentration of kenikir leaf extract significantly affects pH, cooking shrinkage, yield and hedonic quality. Similarly, the soaking time factor significantly affects pH, tenderness, yield and flavour, but not significantly on cooking shrinkage and aroma. ABSTRAK Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui adanya pengaruh konsentrasi serta jangka waktu dalam pengektraksian daun kenikir terhadap karakteristik sendori dan fisik daging ayam petelur afkir. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada Laboratorium Teknologi Hasil Ternak dan Mikrobiologi Fakultas Peternakan Universitas Udayana yang berada di Jalan Raya Kampus Unud. Jimbaran bali dengan jangka waktu penelitian selama 4 minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang memiliki dua pola faktorial yaitu konsentrasi terhadap ekstraksi daun kenikir (E1: 25%, dan E2: 50%) dan faktor lama marinasi dalam ekstrak daun kenikir (M1: 30 menit, M2: 60 menit). Pelaksanaan pemberlakukan dilakukan sejumlah 3 kali pengulangan dengan mengamati pH, Susut masak, total rendemen daging serta uji sensori (cita rasa, aroma dan tekstur empuk daging). Penelitian menghasilkan jika faktor perlakuan konsentrasi ekstrak daun kenikir (E) mempengaruhi secara nyata (P < 0,05) terhadap seluruh variabel penelitian. Sedangkan faktor lama marinasi (M) berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap pH, rendemen, citarasa dan keempukan daging, namun tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) terhadap variabel susut masak dan aroma daging. Interaksi antar kedua faktor menunjukkan bahwa perlakuan E2M2 nyata (P < 0,05) meningkatkan nilai pH, namun tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) kepada susut masak, rendemen serta organoleptik. Berlandaskan dari hasil yang didapatkan dari proses penelitian sehingga dapat diambil kesimpulan jika konsentrasi ekstrak daun kenikir nyata mempengaruhi pH, susut masak, rendemen serta mutu hedonik. Demikian pula pada faktor lama perendaman nyata pengaruhnya pada pH, keempukan, rendemen dan cita rasa, namun tidak nyata pada susut masak dan aroma.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus L.) MELALUI AIR MINUM TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS ITIK BALI JANTAN Arifin M. Z.; I. N. T. Ariana; I. G. Mahardika
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The physical composition of male Bali duck carcasses can be improved by administering pineapple peel extract as a feed addive to replace antibiotics (AGP). This research aims to determine the effect of giving pineapple peel extract on the physical composition of male Bali duck carcasses. This research was carried out at Sesetan Farm, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University for 8 weeks starting from February 24 2024 to April 21 2024. The design used was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replications, so the total experiment was 16 units. Each experimental unit contained 3 male Balinese ducks aged 1 day, a total of 48 ducks used with an average weight of 48.25 ± 2.58 g. The treatment given to male Bali ducks was pineapple rind extract through drinking water, namely: (P0) drinking water without pineapple rind extract, (P1) drinking water with 6% pineapple rind extract, (P2) drinking water with 8% extract pineapple peel, (P3) drinking water with 10% pineapple peel extract. The variables observed were slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, and physical composition of the carcass including bones, meat, and subcutaneous fat including skin. The results of this study show that the effect of giving pineapple peel extract (Ananas comosus L.) through drinking water at 6%, 8%, and 10% gives no different results on slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, and subcutaneous fat percentage. It can be concluded that administering pineapple peel extract through drinking water at levels of 6%, 8%, and 10% gave no different results on the physical composition of male Bali duck chicken. ABSTRAK Komposisi fisik karkas itik bali jantan dapat diperbaiki dengan pemberian ekstrak kulit buah nanas sebagai feed addive untuk pengganti antibiotic (AGP). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit buah nanas terhadap komposisi fisik karkas itik Bali jantan. Penelitian ini dilaksanakan di Farm Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana selama 8 minggu dimulai tanggal 24 Februari 2024 sampai tanggal 21 April 2024. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 kali ulangan, sehingga total percobaan adalah 16 unit. Setiap unit percobaan berisi 3 ekor itik Bali jantan yang berumur 1 hari, total itik yang digunakan sebanyak 48 ekor dengan berat rata 48,25±2,58 g. Perlakuan yang diberikan pada itik Bali jantan berupa ekstrak kulit buah nanas melalui air minum yaitu : (P0) air minum tanpa ekstrak kulit buah nanas, (P1) air minum dengan 6% ekstrak kulit buah nanas, (P2) air minum dengan 8% ekstrak kulit buah nanas, (P3) air minum dengan 10% ekstrak kulit buah nanas. Variabel yang diamati adalah bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, dan komposisi fisik karkas meliputir tulang, daging, dan lemak subkutan termasuk kulit. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengaruh pemberian ektrak kulit buah nanas (Ananas comosus L.) melaluir air minum sebanyak 6%, 8%, dan 10% memberikan hasil yang tidak berberda terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, dan komposisi fisik karkas meliputi persentase tulang, persentase daging, dan persentase lemak subkutan. Dapat disimpulkan bahwa permberian ekstrak kulit buah nanas melalui air minum pada level 6%, 8%, dan 10% memberikan hasil yang sama pada komposisi fisik karkas itik Bali jantan.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT NANAS (Ananas comosus L. Merr) MELALUI AIR MINUM TERHADAP ORGANOLEPTIK DAGING ITIK BALI JANTAN Al Fath W. S.; N. L. P. Sriyani; I. N. T. Ariana
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meat is an animal product that is a complete source of protein, balanced and easily digested by the body. Bali ducks are local Indonesian ducks which have very high protein and fat nutritional value, and the quality of the meat produced is better than other poultry. This research aims to determine the organoleptic quality of male Bali duck meat given pineapple skin extract through drinking water. The analysis used is Non-Parametric Kruskal Wallis and if the results are significantly different then proceed with Mann-Whitney analysis. The treatments consisted of P0: male Bali ducks without extract, P1: male Bali ducks given 6% extract, P2: male Bali ducks given 8% extract, P3: male Bali ducks given 10% extract. The research results showed that the highest value of color, aroma, taste, texture and overall acceptability of meat was in the P3 treatment, which was statistically significantly different (P<0.05) compared to P0, P1, and P2. The highest overall meat acceptability value in the P3 treatment was 4.10, which was statistically significantly different (P<0.05). The conclusion of this research is that administering 10% pineapple skin extract through drinking water can improve the organoleptic quality of male Bali duck meat in terms of color, aroma, texture, taste and overall acceptability with an acceptance value of 4.10 (leading to very like). ABSTRAK Daging merupakan produk hewani sumber protein lengkap, seimbang dan mudah dicerna oleh tubuh. Itik bali sebagai itik lokal Indonesia yang memiliki nilai gizi protein dan lemak yang sangat tinggi, serta kualitas daging yang dihasilkan lebih baik dibandingkan unggas lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas organoleptik daging itik bali jantan yang diberi ekstrak kulit nanas melalui air minum. Analisis yang digunakan adalah Non-Parametrik Kruskal Wallis dan jika mendapatkan hasil berbeda nyata maka dilanjutkan dengan analisis Mann-Whitney. Perlakuan terdiri dari P0: itik bali jantan tanpa diberi ekstrak, P1: itik bali jantan diberi 6% ekstrak, P2: itik bali jantan diberi 8% ekstrak, P3: itik bali jantan diberi 10% ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai warna, aroma, citarasa, tekstur dan penerimaan keseluruhan daging tertinggi ada pada perlakuan P3 yaitu secara statistik berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan P0, P1, dan P2. Nilai penerimaan keseluruhan daging tertinggi pada perlakuan P3 yaitu 4,10 secara statistik berbeda nyata (P<0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian 10% ekstrak kulit nanas melalui air minum dapat meningkatkan kualitas organoleptik daging itik bali jantan terhadap warna, aroma, tekstur, cita rasa dan penerimaan keseluruhan dengan nilai penerimaan 4,10 (mengarah ke sangat suka).
HASIL Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha PADA PEMOTONGAN KEDUA YANG DIBERI CAMPURAN PUPUK KANDANG KAMBING DAN LIMBAH ANGGUR Robbani M. A.; N. G. K. Roni; N. N. C. Kusumawati
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to evaluate the yield of Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha treated with a mixture of goat manure and grape waste. The research was conducted in Sading Village, Mengwi District, Badung Regency, Bali Province, over a period of 12 weeks. The study employed a Completely Randomized Design (CRD) consisting of six treatments and five replications, as follows: treatment A = 0% goat manure + 0% grape waste, B = 0% goat manure + 100% grape waste, C = 100% goat manure + 0% grape waste, D = 75% goat manure + 25% grape waste, E = 50% goat manure + 50% grape waste, and F = 25% goat manure + 75% grape waste. The observed variables included: dry weight of leaves, dry weight of stems, dry weight of roots, total forage dry weight, the ratio of leaf dry weight to stem dry weight, and the ratio of total forage dry weight to root dry weight. The results showed that the mixture of goat manure and grape waste in treatment E significantly increased leaf dry weight, stem dry weight, total forage dry weight, and the ratio of total forage dry weight to root dry weight of Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha during the second harvest. Based on these findings, it can be concluded that the combination of goat manure and grape waste improves the yield of Asystasia gangetica, with the best results observed in the 50% goat manure + 50% grape waste mixture during the second harvest. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha yang diberi campuran pupuk kandang kambing dan limbah anggur. Penelitian ini berlokasi di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali yang berlangsung selama 12 minggu. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 perlakuan dan 5 pengulangan yaitu; perlakuan A = 0% pupuk kandang kambing + 0% limbah anggur, B = 0% pupuk kandang kambing + 100% limbah anggur, C = 100% pupuk kandang kambing + 0% limbah anggur, D = 75% pupuk kandang kambing + 25% limbah anggur, E = 50% pupuk kandang kambing + 50% limbah anggur, F = 25% pupuk kandang kambing + 75% limbah anggur. Variabel yang diamati meliputi; berat kering daun, berat kering batang, berat kering akar, berat kering total hijauan, nisbah berat kering daun dengan berat kering batang dan nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar. Hasil penelitian menunjukkan campuran pupuk kandang kambing dengan campuran limbah anggur pada perlakuan E dapat meningkatkan berat kering daun, berat kering batang, berat kering total hijauan, dan nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha pada pemotongan kedua. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan campuran pupuk kandang kambing dan limbah anggur meningkatkan hasil Asystasia gangetica, dan campuran 50% pupuk kandang kambing + 50% limbah anggur memberikan hasil terbaik pada pemotongan kedua.
ORGANOLEPTIK DAGING ITIK BALI YANG DIBERI PROBIOTIK SARI DAUN KELOR BACILLUS LENTUS DENGAN LEVEL BERBEDA Budiani N. K. R.; I. M. Mudita; E. Puspani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Duck meat is one of the types of poultry livestock that is starting to be in great demand but still has shortcomings, namely tough meat, dark red meat color and has a fishy smell. The utilization of fermented Moringa leaf juice can be used in these efforts, because it has nutrient content that will affect the texture of duck meat, produce phenol compounds which are expected to reduce fishy odors and can increase hemoglobin levels which are expected to improve the color of duck meat. This study aims to determine the organoleptic quality of Balinese duck meat given Moringa leaf juice. This research was conducted at Sesetan Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University. The design used was a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replicates. Each unit contained 3 male Balinese ducks DOD and a total of 48 ducks. The four treatments were: P0 (without probiotic moringa juice), P1 (added 2.5% probiotic moringa juice), P2 (added 5% probiotic moringa juice), P3 (added 7.5% probiotic moringa juice). The observed variable is the organoleptic quality of Bali duck meat using the hedonic test of favorability. The results showed that the highest results in the variables of color, aroma, texture, taste and overall acceptance were in the P2 treatment which received a score of 5 (very very like) as much as 28%, 16%, 36%, 36% and 28% among other treatments, namely P0, P1 and P3. Based on the results of the study, it can be concluded that the provision of moringa leaf juice with probiotic Bacillus lentus bacteria through drinking water with treatments of 2.5%, 5%, and 7.5% can improve the quality of color, aroma, texture, and overall acceptance of Balinese duck meat. ABSTRAK Daging itik merupakan salah satu dari jenis ternak unggas yang mulai banyak peminatnya namun masih memiliki kekurangan yaitu daging yang alot, warna daging merah gelap dan memiliki bau amis. Pemanfaatan sari daun kelor terfermentasi dapat digunakan dalam pengupayaan tersebut, karena memiliki kandungan nutrient yang akan berpengaruh pada tekstur daging itik, menghasilkan senyawa-senyawa fenol yang diharapkan akan mengurangi bau amis dan dapat meningkatkan kadar hemoglobin yang diharapkan dapat meningkatkan warna pada daging itik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas organoleptik pada daging itik bali yang diberi sari daun kelor. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Sesetan Fakultas Peternakan Universitas Udayana. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Setiap unit berisi 3 ekor itik bali jantan DOD dan total keseluruhan 48 ekor. Keempat perlakuan tersebut yakni: P0 (tanpa sari daun kelor berprobiotik), P1 (ditambahkan 2,5% sari daun kelor berprobiotik), P2 (ditambahkan 5% sari daun kelor berprobiotik), P3 (ditambahkan 7,5% sari daun kelor berprobiotik). Variabel yang diamati adalah kualitas organoleptik pada daging itik bali yang menggunakan uji hedonik kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tertinggi pada variabel warna, aroma, tekstur, citarasa dan penerimaan keseluruhan adalah pada perlakuan P2 yang mendapatkan skoring 5 (sangat amat suka) sebanyak 28%, 16%, 36%, 36% dan 28% diantara perlakuan lainnya yaitu P0, P1 dan P3. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian sari daun kelor berprobiotik bakteri Bacillus lentus melalui air minum dengan perlakuan 2,5%, 5%, dan 7,5% dapat meningkatkan kualitas warna, aroma, tekstur, dan penerimaan keseluruhan daging itik bali.
HASIL ASOSIASI RUMPUT BENGGALA (Panicum maximum cv. Trichoglume) DAN KEMBANG TELANG (Clitoria ternatea) PADA TINGKAT NAUNGAN BERBEDA Almakki S.; N. N. C. Kusumawati; A. A. P. P. Wibawa
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of forage has constraints on limited land. One way to provide forage throughout the year is by utilizing land under shade such as plantation or forestry areas. This research aims to determine the effect of different levels of shade on the results of grass association Panicum maximum cv. Trichoglume and Clitoria ternatea and determine the best results of Panicum maximum cv. Trichoglume and Clitoria ternatea against different shade levels. The research was conducted in Sading Village, Mengwi District, Badung Regency, from May to July 2024. The design used was a complete randomized design (CRD) with one factor. The treatment used was the level of shade with N0 = 0% shade; N1 = 20% shade; N2 = 40% shade; N3 = 60% shade, each treatment was repeated 7 times. The variables observed were the results of the association, namely leaf dry weight, stem dry weight, total forage dry weight, root dry weight, ratio of leaf dry weight to stem and ratio of total forage dry weight to root dry weight. The results showed the effect of shading level on the results of the association Panicum maximum cv. Trichoglume and Clitoria ternatea. The 20% shade treatment gave the best results in the variables of leaf dry weight, stem dry weight, total forage dry weight, and root dry weight. It can be concluded that the treatment of different levels of shade can affect the results of the association of Panicum maximum cv. Trichoglume and Clitoria ternatea, and the best results were obtained at 20% shade level. ABSTRAK Pengembangan hijauan pakan memiliki kendala pada keterbatasan lahan. Salah satu cara menyediakan hijauan pakan sepanjang tahun adalah dengan cara memanfaatkan tanah di bawah naungan seperti daerah perkebunan atau kehutanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat naungan berbeda terhadap hasil asosiasi rumput Panicum maximum cv. Trichoglume dan Clitoria ternatea dan mengetahui hasil terbaik asosiasi rumput Panicum maximum cv. Trichoglume dan Clitoria ternatea terhadap tingkat naungan berbeda. Penelitian dilaksanakan di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, berlangsung dari bulan Mei-Juli 2024. Rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor. Perlakuan yang digunakan yaitu pada tingkat naungan dengan N0 = Naungan 0%; N1 = Naungan 20%; N2 = Naungan 40%; N3 = Naungan 60%, setiap perlakuan diulang 7 kali. Variabel yang diamati adalah variabel hasil dari asosiasi yaitu berat kering daun, berat kering batang, berat kering total hijauan, berat kering akar, nisbah berat kering daun dengan batang dan nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh tingkat naungan terhadap hasil asosiasi Panicum maximum cv. Trichoglume dan Clitoria ternatea. Perlakuan naungan 20% memberikan hasil terbaik pada variabel berat kering daun, berat kering batang, berat kering total hijauan, dan berat kering akar. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan tingkat naungan berbeda dapat mempengaruhi hasil asosiasi Panicum maximum cv. Trichoglume dan Clitoria ternatea, serta hasil terbaik diperoleh pada tingkat naungan 20%.
DISTRIBUSI LEMAK ITIK BALI YANG DIBERI JUS DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) BERPROBIOTIK BAKTERI SELULOLITIK DENGAN LEVEL BERBEDA MELALUI AIR MINUM Putra A. H.; I. M. Mudita; A. A. P. P. Wibawa
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balinese ducks also have a fairly high calorie content, so it can be said to contain high energy. ducks have a high cholesterol content due to the high special fat contained in duck meat. High and excessive levels of fat and cholesterol can interfere with heart performance and narrowing of blood vessels for people who consume it. Giving feed supplements with probiotics can improve the fat profile and cholesterol levels of duck meat. Providing probiotic feed supplements can improve the quality of nutrient content in the livestock body. For example, Moringa leaves (Moringa oleifera). This study was conducted to determine the effect of the utilization of Moringa leaf juice on the distribution of Balinese duck fat. The design used was a complete randomized design (CRD) consisting of four treatments and four replicates, each replicate consisting of three male Balinese ducks. Treatments consisted of P0 (without provision of probiotic moringa juice), P1 (added 2.5% probiotic moringa juice), P2 (added 5% probiotic moringa juice), P3 (added 7.5% probiotic moringa juice). The observed variables were slaughter weight, bearing fat, mesentery fat, ventriculus fat, and abdominal fat. The results showed that the cutting weight of Balinese ducks in the treatment of 2.5%, 5%, 7.5% had no significant effect compared to P0. The percentage of fat pads, percentage of mesentery fat, percentage of ventricular fat, and percentage of abdominal fat in the P1, P2, and P3 treatments decreased but had no significant effect compared to P0. The results of this study can be concluded that the utilization of 2.5%, 5%, and 7.5% probiotic Moringa leaf juice proved to have no negative effect and did not affect the fat content of the body of Balinese ducks. ABSTRAK Itik bali juga memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi,sehingga dapat dikatakan mengandung energi yang tinggi. itik mempunyai kandungan kolestrol tinggi yang disebabkan tingginya lemak khusus yang terkandung pada daging itik. Kadar lemak dan kolestrol yang tinggi dan berlebihan dapat mengganggu kinerja jantung dan penyempitan pembuluh darah bagi orang yang mengkonsumsinya. Pemberian feed suplemen berprobiotik mampu memperbaiki profile lemak dan kadar kolesterol daging itik. Pemberian feed suplement berprobiotik dapat meningkatkan kualitas kandungan nutrien pada tubuh ternak. Contohnya seperti daun kelor (Moringa oleifera). Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan jus daun kelor berprobiotik terhadap distribusi lemak itik bali. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan, setiap ulangan terdiri atas tiga ekor itik bali jantan. Perlakuan terdiri atas P0 (tanpa pemberian jus daun kelor berprobiotik), P1 (ditambahkan 2,5% jus daun kelor berprobiotik), P2 (ditambahkan 5% jus daun kelor berprobiotik), P3 (ditambahkan 7,5% jus daun kelor berprobiotik). Variabel yang diamati adalah berat potong, lemak bantalan, lemak mesenterium, lemak ventrikulus, dan lemak abdomen. Hasil penelitian menunjukan berat potong itik bali pada perlakuan 2,5%, 5%, 7,5% tidak berpengaruh nyata dibanding P0. Persentase lemak bantalan, persentase lemak mesentrium, persentase lemak ventrikulus, dan persentase lemak abdomen pada perlakuan P1, P2, dan P3 terjadi penurunan tetapi tidak berpengaruh nyata dibanding P0. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan 2,5%, 5%, dan 7,5% jus daun kelor berprobiotik terbukti tidak berefek negatif dan tidak mempengaruhi kandungan lemak pada tubuh itik bali.

Page 1 of 10 | Total Record : 100