cover
Contact Name
Eny Puspani
Contact Email
eny_fapet@unud.ac.id
Phone
+62818555700
Journal Mail Official
jurnaltropika@unud.ac.id
Editorial Address
Gedung AB Lt. 1, Jl. Kampus Bukit Jimbaran, Fakultas Peternakan Universitas Udayana
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Peternakan Tropika
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 27227286     DOI : -
Jurnal Peternakan Tropika (JPT) merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan teknologi) dan bidang sosial ekonomi peternakan.
Articles 100 Documents
PENGARUH PENAMBAHAN SODA KUE (Sodium bicarbonate) SEBAGAI BUFFER DALAM RANSUM BERBASIS SILASE TERHADAP TINGKAT DEGRADASI DAN PRODUK FERMENTASI IN-VITRO Adnyana I. G. N. A. P.; I. G. L. O. Cakra; I. M. Mudita
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aims to determine the level of degradation and in-vitro fermentation products from the addition of baking soda in silage-based rations. The study used a Completely Randomized Design (CRD), 4 treatments and 4 replications. The treatments given were: P0 (50% silage + 50% concentrate without baking soda), P1 (50% silage + 47.5% concentrate + 2.5% baking soda), P2 (50% silage + 45% concentrate + 5% baking soda), P3 (50% silage + 42.5% concentrate + 7.5% baking soda). The variables observed were the level of BK degradation, BO degradation, pH, N-NH3 concentration, and VFA (Volatile Fatty Acid) in-vitro. The results showed that the addition of 5.0% and 7.5% baking soda (P2 and P3) increased (P<0.05) pH by 3.67% and 5.19%, while the addition of 2.5% baking soda increased pH by 1.98%, but was not statistically significantly different (P>0.05) compared to P0 (6.55). N-NH3, the addition of 5% baking soda increased (P<0.05) N-NH3 by 26.81%, but the administration of P1 and P3 produced N-NH3 that was not significantly different (P>0.05) namely 5.97 mM/L and 5.6 mM/L compared to P0 (5.52 mM/L). Degradation of BK, BO, administration of P2 and P3 increased (P<0.05) by 25.65% and 24.30% and 16.43% and 10.78% respectively, while P1 produced values ​​of 21.58% and 32.12% not significantly different (P>0.05) compared to P0 (20.74% and 32.19%), VFA concentrations of all treatments produced values ​​not significantly different (P>0.05) namely 41.68-46.84 mM/L. Based on the results of the study, it was concluded that the addition of baking soda of 2.5%, 5.0% and 7.5% as a buffer in silage-based rations increased pH, N-NH3, degradation of BK and BO, but produced the same VFA. The addition of baking soda of 5% produced the highest N-NH3, degradation of BK and BO. ABSTRAK Penelitian bertujuan mengetahui tingkat degradasi dan produk fermentasi in-vitro dari penambahan soda kue dalam ransum berbasis silase. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu: P0 (50% silase + 50% konsentrat tanpa soda kue), P1 (50% silase + 47,5% konsentrat + 2,5% soda kue), P2 (50% silase + 45% konsentrat + 5% soda kue), P3 (50% silase + 42,5% konsentrat + 7,5% soda kue). Variabel yang diamati yaitu tingkat degradasi BK, degradasi BO, pH, konsentrasi N-NH3, dan VFA (Volatile Fatty Acid) secara in-vitro. Hasil penelitian menunjukkan penambahan soda kue 5,0% dan 7,5% (P2 dan P3) meningkatkan (P<0,05) pH sebesar 3,67% dan 5,19%, sedangkan penambahan soda kue sebesar 2,5% meningkatkan pH sebesar 1,98%, namun secara statistik berbeda tidak nyata (P>0,05) dibandingkan P0 (6,55). N-NH3, penambahan soda kue 5% meningkatkan (P<0,05) N-NH3 sebesar 26,81%, namun pemberian P1 dan P3 menghasilkan N-NH3 berbeda tidak nyata (P>0,05) yaitu 5,97 mM/L dan 5,6 mM/L dibandingkan P0 (5,52 mM/L). Degradasi BK, BO, pemberian P2 dan P3 meningkatkan (P<0,05) masing-masing sebesar 25,65% dan 24,30% serta 16,43% dan 10,78%, sedangkan P1 menghasilkan nilai sebesar 21,58% dan 32,12% berbeda tidak nyata (P>0,05) dibandingkan P0 (20,74% dan 32,19%), Konsentrasi VFA semua perlakuan menghasilkan nilai berbeda tidak nyata (P>0,05) yaitu 41,68-46,84 mM/L. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan penambahan soda kue sebesar 2,5%, 5,0% dan 7,5% sebagai buffer dalam ransum berbasis silase meningkatkan pH, N-NH3, degradasi BK dan BO, namun menghasilkan VFA yang sama. Penambahan soda kue sebesar 5% menghasilkan N-NH3, degradasi BK dan BO tertinggi.
PENGARUH PENAMBAHAN BERBAGAI MACAM LEGUM DALAM SILASE RUMPUT GAJAH TERHADAP KECERNAAN DAN PRODUK FERMENTASI IN-VITRO Parwata I. N. T. A.; I. G. L. O. Cakra; A. A. A. S. Trisnadewi
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Elephant grass is a palatable forage with good nutritional value for ruminant livestock, and a good forage material to make silage. However, silage that only relies on grass material has a relatively low protein content. Forage feed, a combination of grass and legumes, is needed to complement nutrients needed by livestock. Gliricidia sepium, Calliandra calothyrsus and Indigofera zollingeriana are some of the legumes that can be used as an additional source of protein in silage. This study aimed to determine the effect of adding various legumes in elephant grass silage on digestibility and in-vitro fermentation products. The study used a completely randomize design (CRD), consisting of four treatments and each treatment was repeated four times, so there were 16 experimental units. The treatments given were: P0 (87,5% elephant grass + 10% rice bran + 2,5% molasses), P1 (57,5% elephant grass + 30% Gliricidia sepium + 10% rice bran + 2,5% molasses), P2 (57,5% elephant grass + 30% Calliandra calothyrsus + 10% rice bran + 2,5% molasses), P3 (57,5% elephant grass + 30% Indigofera zollingeriana + 10% rice bran + 2,5% molasses). The observed variables consisted of dry matter digestibility, organic matter digestibility, pH, NH3, and volatile fatty acid (VFA) in-vitro. The results showed no significant difference between pH and N-NH3 values between all treatments. The highest dry matter digestibility, organic matter digestibility, and VFA were obtained in the P3 treatment, which was 69.12%, 70.00%, and 253.33 mMol. Based on the study’s results, adding various legumes in elephant grass silage could improve the digestibility of dry matter, the digestibility of organic matter and VFA of total silage. ABSTRAK Rumput gajah merupakan hijauan pakan yang palatable, memiliki nilai nutrisi yang baik untuk ternak ruminansia dan merupakan bahan pakan hijauan yang baik untuk dibuat silase. Namun, silase yang hanya mengandalkan bahan rerumputan memiliki kandungan protein yang relatif rendah. Pakan hijauan yang merupakan kombinasi rumput dan legum dibutuhkan untuk saling melengkapi unsur nutrien yang diperlukan oleh ternak. Gamal, kaliandra dan Indigofera merupakan beberapa legum yang dapat dimanfaatkan untuk menjadi sumber protein tambahan dalam silase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan berbagai macam legum dalam silase rumput gajah terhadap kecernaan dan produk fermentasi in-vitro. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), terdiri dari empat perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali, sehingga terdapat 16 unit percobaan. Perlakuan yang diberikan yaitu: P0 (87,5% rumput gajah + 10% dedak padi + 2,5% molases), P1 (57,5% rumput gajah + 30% gamal + 10% dedak padi + 2,5% molases), P2 (57,5% rumput gajah + 30% kaliandra + 10% dedak padi + 2,5% molases), P3 (57,5% rumput gajah + 30% Indigofera zollingeriana + 10% dedak padi + 2,5% molases). Peubah yang diamati terdiri dari kecernaan bahan kering (KcBK), kecernaan bahan organik (KcBO), pH, NH3, dan VFA (vollatile fatty acid) secara in-vitro. Hasil penelitian menunjukkan nilai pH dan N-NH3 tidak terdapat perbedaan yang nyata antar semua perlakuan. KcBK, KcBO dan VFA tertinggi diperoleh pada perlakuan P3 yaitu sebesar 69,12%, 70,00%, dan 253,33 mMol. Berdasarkan hasil penelitian penambahan berbagai macam legum dalam silase rumput gajah dapat meningkatkan kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan VFA total silase.
SELEKSI PEJANTAN SAPI BALI BERDASARKAN LIBIDO DAN KUALITAS SEMEN DI UPTD BIBDPTHPT BATURITI Tarigan I. Y. B.; I. N. Ardika; D. A. Warmadewi
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to select libido, macroscopic semen quality, and microscopic semen quality in Bali bulls at UPTD BIBDPTHPT Baturiti, Bali. The study was conducted over two months, from August to September 2024, using eight Bali bulls. The observed libido variables included the time from courtship to ejaculation, courtship duration, time of flehmen response, false mounting, and ejaculation time. Macroscopic semen evaluation included volume, color, and odor, while microscopic evaluation covered sperm motility, sperm mass movement, and sperm concentration. The results of the libido assessment showed that the average time from courtship to ejaculation ranged from 252 to 912 seconds, courtship duration ranged from 74.4 to 444.75 seconds, flahmen response occurred between 8.4 and 17 seconds, false mounting ranged from 3.4 to 4.6 times, and ejaculation took between 3.75 and 5.6 seconds. Macroscopic evaluation showed that the average semen volume ranged from 4.52 ml to 6.8 ml, with a cream color resembling milk and a characteristic semen odor. Microscopic evaluation showed that the average sperm motility reached 70%, mass movement was graded as +++, and sperm concentration ranged from 633.6 to 926.25 x10⁶ cells/ml. Based on the results, it can be concluded that the libido and semen quality of Bali bull sires at UPTD BIBDPTHPT Baturiti were within the normal range. Among all the bulls observed, the best-performing sire was Abimayu. ABSTRAK Penelitian ini mempunyai tujuan dalam menyeleksi libido, kualitas semen makroskopis, dan kualitas semen mikroskopis pada pejantan sapi bali yang di UPTD BIBDPTHPT Baturiti, Bali. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan, dari bulan Agustus sampai September 2024, menggunakan 8 ekor pejantan sapi bali yang sudah. Variabel libido yang diamati meliputi jangka waktu bercumbu sampai dengan ejakulasi, lama bercumbu, waktu timbul flehmen, false mounting, dan waktu ejakulasi. Variabel evaluasi semen terdiri dari evaluasi makroskopis semen meliputi volume, warna, dan bau dan evaluasi mikroskopis mencakup motilitas spermatozoa, gerakan massa spermatozoa, dan konsentrasi spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jangka waktu bercumbu sampai dengan ejakulasi 252 detik hingga 912 detik, lama bercumbu sapi bali berkisar antara 74,4 detik hingga 444,75 detik, waktu timbul flehmen antara 8.4 detik hingga 17 detik, false mounting 3,4 hingga 4,6 kali, dan ejakulasi 3,75 hingga 5,6 detik. Evaluasi makroskopis menunjukkan bahwa rata rata volume semen berkisar antara 4,52 ml hingga 6,8 ml dengan warna krem menyerupai susu dan bau khas semen. Evaluasi mikroskopis menujukkan bahwa rata-rata motilitas spermatozoa mencapai 70%, gerakan massa +++ dan konsentrasi spermatozoa berkisar antara 633,6 hingga 926,25 x10⁶ sel/ml. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa libido, kualitas semen pejantan sapi bali di UPTD BIBDPTHPT Baturiti berada dalam batas norma dan pejantan sapi bali yang terbaik adalah pejantan abimayu.
PENGARUH SERVICE PER CONCEPTION PADA KAWIN ALAM TERHADAP PENAMPILAN REPRODUKSI BABI LANDRACE PERSILANGAN Wijaya I. W. Y..; N. L. G. Sumardani; I. N. Ardika
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to find out how the effect of Service Per Conception on natural mating on the reproductive performance of crossbred Landrace pigs. The pig farming business is one of the businesses that produces products as a source of animal protein as well as a source oAf family income which has a very important economic meaning. The research was conducted in Br. Puseh, Perean Village, Baturiti District, Tabanan Regency, lasted for 5 months. The design used was a group random design (GRD) which was divided into three groups with two treatments and each treatment used 5 sows, so that the sows used were 30 heads. This study uses treatment by mating sows once and twice. The variables observed were pregnancy duration, litter size, birth weight, weaning weight, and weaning age. The results showed that the duration of gestation for sows was not significantly different between 113 and 114 days. The results of research on the birth weight variable showed that the results were not significantly different between 1.3 and 1.7. The litter size produced from each mating treatment of sows was not significantly different between 9.6 and 12 pigs, and the results of the study showed an increase in the number of litter sizes in the subsequent birth period. The birth weight obtained in this study was 1.3 kg to 1.7 kg. The weaning weight obtained in this study was 7.0 to 7.5 and the weaning age used was 30 days. ased on the research results, it can be concluded that Service Per Conception has no effect on the reproductive performance of cross-bred Landrace pigs. This means that mating of sows is only done once. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh Service Per Conception pada kawin alam terhadap penampilan reproduksi babi Landrace persilangan. Usaha peternakan babi merupakan salah satu usaha yang menghasilkan produk sebagai sumber protein hewani maupun sumber pendapatan keluarga yang mempunyai arti ekonomi yang sangat penting. Penelitian dilakukan di Br. Puseh, Desa Perean, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, berlangsung selama 5 bulan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) yang dibagi menjadi tiga kelompok dengan dua perlakuan dan setiap perlakuan menggunakan 5 ekor indukan babi, sehingga induk babi yang digunakan sebanyak 30 ekor. Penelitian ini menggunakan perlakuan dengan mengawinkan induk babi sebanyak satu kali dan dua kali. Variabel yang diamati adalah lama kebuntingan, litter size, berat lahir, berat sapih, dan umur sapih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama kebuntingan induk babi berbeda tidak nyata antara 113 dan 114 hari. Hasil penelitian pada variabel berat lahir menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata antara 1,3 dan 1,7. Litter size yang dihasilkan dari setiap perlakuan pengawinan induk babi berbeda tidak nyata antara 9,6 dan 12 ekor, dan hasil penelitian menunjukkan adanya kenaikan jumlah litter size pada periode kelahiran selanjutnya. Berat lahir yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 1,3 kg sampai 1,7 kg. Berat sapih yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 7,0 sampai 7,5 dan umur sapih yang digunakan adalah umur 30 hari. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Service Per Conception tidak berpengaruh terhadap penampilan reproduksi babi Landrace persilangan. Hal ini berarti bahwa pengawinan induk babi cukup dilakukan satu kali.
PERTUMBUHAN GENERATIF Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha YANG DITANAM PADA JENIS TANAH DAN TINGKAT NAUNGAN BERBEDA Astiko W. J.; N. N. C. Kusumawati; N. M. Witariadi
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to evaluate the interaction and influence of soil types and shade levels on the generative growth of Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. The research was conducted in Sading Village, Mengwi District, Badung Regency, from February to April 2023, using a randomized complete block design (RCBD) with a split-plot pattern and two factors. The first factor is the soil type, which includes Mediterranean Soil (TM), Latosol Soil (TL), and Regosol Soil (TR), while the second factor is the shade level, consisting of 20% shade (N1), 40% shade (N2), and 60% shade (N3). The variables observed in this study include the number of inflorescences, flowers, pods, seeds, and seed weight. The results of the study show that there was no significant interaction between soil types and shade levels on the generative growth of Asystasia gangetica. The soil treatment significantly affected the number of pods, while the shade treatment influenced the number of inflorescences, flowers, pods, and seeds. Shade levels of 20%-40% provided the best results for generative growth, while 60% shade was more suitable for forage development. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi interaksi serta pengaruh jenis tanah dan tingkat naungan terhadap pertumbuhan generatif Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, pada periode Februari hingga April 2023, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola split-plot dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis tanah yang meliputi Tanah Mediteran (TM), Tanah Latosol (TL), dan Tanah Regosol (TR), sedangkan faktor kedua adalah tingkat naungan, yang terdiri dari Naungan 20% (N1), 40% (N2), dan 60% (N3). Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi jumlah inflorescence, jumlah bunga, jumlah polong, jumlah biji, dan berat biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi yang signifikan antara jenis tanah dan tingkat naungan terhadap pertumbuhan generatif Asystasia gangetica. Perlakuan jenis tanah berpengaruh signifikan terhadap jumlah polong, sementara perlakuan tingkat naungan berpengaruh terhadap jumlah inflorescence, bunga, polong, dan biji. Tingkat naungan 20%-40% memberikan hasil terbaik untuk pertumbuhan generatif, sementara naungan 60% lebih cocok untuk pengembangan hijauan pakan.
MASA SIMPAN DAGING BROILER PACSA PEMELIHARAAN PADA CLOSED HOUSE DITINJAU DARI INDIKATOR SENSORIS Malau R. N. P. S.; I. N. S. Miwada; I. N. T. Ariana
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research investigates the sensory evaluation of broiler meat in a closed house system with different durations of meat storage to determine the sensory quality of broiler meat raised in the closed house system. The study employs a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments, denoted as M1 (chicken breast) stored at room temperature for 1 hour, M2 for 3 hours, M3 for 5 hours, and M4 for 7 hours. Four replications were conducted, and samples were randomly collected at four points for each treatment. These samples were then utilized in organoleptic tests, which involved inviting a panel of 20 assessors to evaluate the sensory quality of broiler meat. Results indicate that treatments M1, M2, M3, and M4 did not exhibit significant differences (P>0.05) with mean values ranging from 3.85 to 4.05 in terms of preference for broiler meat taste. Panelist preference for broiler meat color did not significantly differ (P>0.05) among treatments M1, M2, M3, and M4, with mean values ranging from 3.8 to 4.45, indicating a tendency toward liking. Similarly, panelist preference for broiler meat aroma did not show significant differences (P>0.05) across treatments M1, M2, M3, and M4, with mean values ranging from 3.8 to 4.05, reflecting a tendency toward liking. The level of preference for broiler meat texture in treatments M1, M2, M3, and M4 did not differ significantly (P>0.05) with mean values ranging from 3.75 to 4.1, indicating a tendency toward liking. In conclusion, the overall acceptance of broiler meat in the closed house system with varying storage durations (M1, M2, M3, and M4) did not exhibit significant differences (P>0.05) with a mean value of 4.2, suggesting a general preference among consumers. ABSTRAK Penelitian mengenai evaluasi sensoris daging broiler pada pemeliharaan sistem closed house dengan lama masa penyimpan daging ayam yang berbeda telah dilakukan untuk mengetahui kualitas sensoris daging broiler yang di pelihara pada sistem closed house. Hal tersebut dilakukan dengan metode rancangan Acak Lengkap (RAL) pola sederhana yakni dengan 4 perlakuan, di mana M1 daging ayam (dada) yang disimpan dalam suhu kamar selama 1 jam, M2 selama 3 jam, M3 selama 5 jam, dan M 4 selama 7 jam kemudian 4 ulangan yaitu pada tiap perlakuan dilakukan pengambilan sampel pada 4 titik yang dipilih secara acak lalu pada tiap titik akan diambil sampel broiler yang akan digunakan pada uji organoleptik, pada uji organoleptik dilakukan dengan mengundang panelis berjumlah 20 orang untuk menilai kualitas sensoris daging broiler. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan M1, M2, M3 dan M4 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai rataan 3,85-4,05. Kesukaan panelis terhadap warna daging broiler menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) antara perlakuan M1, M2, M3 dan M4 dengan nilai perlakuan 3,8-4,45 (cenderung suka). Kesukaan panelis, terhadap aroma daging broiler perlakuan M1, M2, M3 dan M4 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai rataan 3,8-4,05 (cenderung suka). Tingkat kesukaan terhadap tekstur daging broiler M1, M2, M3 dan M4 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai rataan 3,75-4,1 (cenderung suka). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu penerimaan keseluruhan terhadap daging broiler pada pemeliharaan sistem Closed House dengan lama masa penyimpanan yang berbeda menunjukkan perlakuan M1, M2, M3 dan M4 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan nilai rataan 4,2 (cenderung suka).
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK LIMBAH WINE ANGGUR TERFERMENTASI MELALUI AIR MINUM TERHADAP PERFORMA ITIK BALI JANTAN Putri I. S.; N. W. Siti; E. Puspani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of giving fermented grape wine waste extract through drinking water on the performance of male Balinese ducks. This research was conducted at Sesetan Research Station, Faculty of Animal Science, Udayana University located at Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No. 6, Denpasar, starting from August 4, 2024 - September 28, 2024. The design used in this study was a complete randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replications. Each replicate contained 3 ducks with a homogeneous weight of 46.96 ± 1.84 g, so that a total of 48 male bali ducks were used. The treatments were drinking water without fermented grape wine waste extract as control (P0), drinking water with 2% fermented grape wine waste extract (P1), drinking water with 4% fermented grape wine waste extract (P2), drinking water with 6% fermented grape wine waste extract (P3). The observed variables were final body weight, body weight gain, ration consumption, drinking water consumption, and feed conversion ratio (FCR). The results showed that the administration of fermented grape wine waste extract at the level of 2%, 4%, and 6% through drinking water had no effect on the variables of final body weight, body weight gain, ration consumption, drinking water consumption, and feed conversion ratio (FCR). The results of this study can be concluded that giving fermented grape wine waste extract through drinking water at levels of 2%, 4%, and 6% has not been able to improve the performance of male bali ducks aged 8 weeks. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak limbah wine anggur terfermentasi melalui air minum terhadap performa itik bali jantan. Penelitian ini dilaksanakan di Stasiun Penelitian Sesetan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana yang berlokasi di Jalan Raya Sesetan, Gang Markisa No. 6, Denpasar, mulai dari 4 Agustus 2024 – 28 September 2024. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kali ulangan. Setiap ulangan berisi 3 ekor itik dengan berat yang homogen 46,96 ± 1,84 g, sehingga total itik bali jantan yang digunakan sebanyak 48 ekor. Perlakuan yang diberikan adalah air minum tanpa ekstrak limbah wine anggur terfermentasi sebagai kontrol (P0), air minum yang diberi 2% ekstrak limbah wine anggur terfermentasi (P1), air minum yang diberi 4% ekstrak limbah wine anggur terfermentasi (P2), air minum yang diberi 6% ekstrak limbah wine anggur terfermentasi (P3). Variabel yang diamati adalah bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, konsumsi air minum, dan feed convertion ratio (FCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak limbah wine anggur terfermentasi pada level 2%, 4%, dan 6% melalui air minum tidak berpengaruh terhadap variabel bobot badan akhir, pertambahan bobot badan, konsumsi ransum, konsumsi air minum, dan feed convertion ratio (FCR). Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak limbah wine anggur terfermentasi melalui air minum pada level 2%, 4%, dan 6% belum mampu meningkatkan performa itik bali jantan umur 8 minggu.
PENGARUH EKSTRAK LIMBAH WINE ANGGUR TERFERMENTASI MELALUI AIR MINUM TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK DAGING ITIK BALI JANTAN Astiti N. M. S. D.; N. W. Siti; I. G. L. O. Cakra
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the organoleptic quality of male Balinese duck meat fed with fermented grape wine waste extract through drinking water. This research was conducted at the Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, located at Jalan Raya Sesetan, Denpasar for 2 months. The design used was a complete randomised design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates, each replicate consisting of 3 male Balinese ducks aged 1 day. Treatments consisted of P0 (male Balinese ducks given drinking water without fermented grape wine waste extract), P1 (male Balinese ducks given 2% fermented grape wine waste extract), P2 (male Balinese ducks given 4% fermented grape wine waste extract) and P3 (male Balinese ducks given 6% fermented grape wine waste extract). Variables observed were colour, aroma, texture, taste and overall acceptance of male Balinese duck meat. The analysis used was Non-Parametric kruskal wallis and if getting significantly different results continued with the Mann-Withney test. The results showed that the provision of grape wine waste extract cemented through drinking water at the level of 2%, 4%, and 6% was able to improve the texture and taste of male Balinese duck meat, but had no effect on the variables of colour, aroma and overall acceptance of male Balinese duck meat. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas organoleptik daging itik bali jantan yang diberi ekstrak limbah wine anggur terfermentasi melalui air minum. Penelitian ini dilaksanakan di kandang milik Fakultas Peternakan Universitas Udayana yang berlokasi di Jalan Raya Sesetan, Denpasar berlangsung selama 2 bulan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, masing masing ulangan terdiri dari 3 ekor itik bali jantan berumur 1 hari. Perlakuan terdiri dari P0 (itik bali jantan yang diberikan air minum tanpa ekstrak limbah wine anggur terfermentasi), P1 (itik bali jantan yang diberikan 2% ekstrak limbah wine anggur terfermentasi), P2 (itik bali jantan yang diberikan 4% ekstrak limbah wine anggur terfermentasi) dan P3 (itik bali jantan yang diberikan 6% ekstrak limbah wine anggur terfementasi). Variabel yang diamati adalah warna, aroma, tekstur, cita rasa serta penerimaan keseluruhan daging itik bali jantan. Analisis yang digunakan adalah Non-Parametrik kruskal wallis dan jika mendapatkan hasil yang berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Mann-Withney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak limbah wine anggur terfementasi melalui air minum pada taraf pemberian 2%, 4%, dan 6% mampu memperbaiki tekstur dan citarasa daging itik bali jantan, namun belum berpengaruh pada variable warna, aroma dan penerimaan keseluruhan daging itik bali jantan.
ANALISIS FINANSIAL USAHA PETERNAKAN AYAM BROILER YANG DIBERI EKSTRAK DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius Roxb) MELALUI AIR MINUM Dapatoma C. N. A.; I. G. Mahardika; N. W. T. Inggriati
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to determine the income of broiler chicken farms given fragrant pandan leaf extract (Pandanus amaryllifolius Roxb). This research was carried out for 35 days at the Teaching Farm, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, Jl. Passion Fruit No.6, Sesetan, Denpasar, Bali. The design used was a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 5 replications, each replication consisting of 4 broiler chickens. The treatment given was drinking water without fragrant pandan leaf extract as a control (P0), then treatments P1, P2, and P3 were drinking water given 3%, 6% and 9% of fragrant pandan leaf extract, respectively. Observed variables include costs, revenues, income, R/C ratio and BEP prices. The results of this research show that giving fragrant pandan leaf extract to broiler chickens can increase breeder income. Treatment P2 gave the best results with an income of Rp. 162,214 (64% higher than P0) with an R/C ratio of 1.204 and a break-even price of Rp. 17.313/kg live weight. Based on the research results, it can be concluded that broiler chicken farming by administering fragrant pandan leaf extract at a level of 6% can increase the farmer's income. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan peternakan ayam broiler yang diberi ekstrak daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb). Penelitian ini dilaksanakan selama 35 hari di Teaching Farm Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Jl. Markisa No.6, Sesetan, Denpasar, Bali. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 4 ekor ayam broiler. Perlakuan yang diberikan yaitu air minum tanpa ekstrak daun pandan wangi sebagai kontrol (P0), selanjutnya perlakuan P1, P2, dan P3 air minum yang diberikan ekstrak daun pandan wangi masing-masing sebanyak 3%, 6% dan 9%. Variabel yang diamati meliputi biaya, penerimaan, pendapatan, R/C ratio dan BEP harga. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pemberian ekstrak daun pandan wangi pada ayam broiler dapat meningkatkan pendapatan peternak. Perlakuan P2 memberikan hasil yang paling baik dengan pendapatan sebesar Rp. 162.214 (64% lebih tinggi dari P0) dengan nilai R/C ratio sebesar 1,204 dan titik impas harga sebesar Rp. 17.313/kg bobot hidup. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peternakan ayam broiler dengan pemberian ekstrak daun pandan wangi pada level 6% dapat meningkatkan pendapatan peternak.
PENGARUH TINGKAT NAUNGAN BERBEDA TERHADAP HASIL ASOSIASI Panicum maximum cv. Trichoglume DAN Centrosema pubescens Girsang D. M.; N. M. Witariadi; N. G. K. Roni
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 1 (2025): Vol. 13 No.1(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The availability of feed for livestock in terms of quantity, quality and continuity is an important factor in supporting the success of livestock development. The staple food for ruminants such as cows, goats, and buffaloes, about 70% comes from forage. This study aims to determine the effect of different shading levels and the best shading level on the yield of grass association Panicum maximum cv. Trichoglume and Centrosema pubescens. The research was conducted in Sading Village, Mengwi District, Badung Regency, from May to July 2024. The design used was a complete randomized design (CRD) with one factor. The treatment used was the level of shade with N0: 0% shade (no shade); N1: 20% shade; N2: Shade 40%; N3: 60% shade, each treatment was repeated 7 times. The observed variable was the yield variable of the association. The results of the study showed that the level of shade was able to affect the results of the association of Panicum maximum cv. Trichoglume and Centrosema pubescens on variable leaf dry weight, stem dry weight, total dry weight of forage, dry weight of roots, ratio of dry weight of leaves to stems, and ratio of total dry weight of forage to dry weight of roots. The higher the shade level can decrease the results of the association of Panicum maximum cv. Trichoglume and Centrosema pubescens. It can be concluded that the shade level can affect the yield and the shade level of 20% gives the Panicum maximum cv association result. Trichoglume and Centrosema pubescens are best. ABSTRAK Ketersediaan pakan bagi ternak baik kuantitas, kualitas maupun kontinuitasnya merupakan faktor penting dalam mendukung keberhasilan pengembangan peternakan. Makanan pokok bagi hewan memamah biak seperti sapi, kambing, dan kerbau, sekitar 70% berasal dari hijauan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat naungan berbeda dan tingkat naungan terbaik terhadap hasil asosiasi rumput Panicum maximum cv. Trichoglume dan Centrosema pubescens. Penelitian dilaksanakan di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, berlangsung dari bulan Mei-Juli 2024. Rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor. Perlakuan yang digunakan yaitu pada tingkat naungan dengan N0 : Naungan 0% (tanpa naungan); N1 : Naungan 20%; N2 : Naungan 40%; N3 : Naungan 60%, setiap perlakuan diulang 7 kali. Variabel yang diamati adalah variabel hasil dari asosiasi. Hasil peneliatian menunjukkan bahwa tingkat naungan mampu mempengaruhi hasil asosiasi Panicum maximum cv. Trichoglume dan Centrosema pubescens pada variabel berat kering daun, berat kering batang, berat kering total hijauan, berat kering akar, nisbah berat kering daun dengan batang, dan nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar. Tingkat naungan semakin tinggi dapat menurunkan hasil asosiasi Panicum maximum cv. Trichoglume dan Centrosema pubescens. Dapat disimpulkan bahwa tingkat naungan dapat mempengaruhi hasil dan tingkat naungan 20% memberikan hasil asosiasi Panicum maximum cv. Trichoglume dan Centrosema pubescens terbaik.

Page 2 of 10 | Total Record : 100