cover
Contact Name
Eny Puspani
Contact Email
eny_fapet@unud.ac.id
Phone
+62818555700
Journal Mail Official
jurnaltropika@unud.ac.id
Editorial Address
Gedung AB Lt. 1, Jl. Kampus Bukit Jimbaran, Fakultas Peternakan Universitas Udayana
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Peternakan Tropika
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 27227286     DOI : -
Jurnal Peternakan Tropika (JPT) merangkum berbagai manuskrip di bidang peternakan seperti nutrisi, produksi, reproduksi, pasca panen (pengolahan dan teknologi) dan bidang sosial ekonomi peternakan.
Articles 100 Documents
PENGARUH EKSTRAK AIR KULIT BUAH PEPAYA TERHADAP PERSENTASE POTONGAN KARKAS KOMERSIAL BROILER I W. A. Y. Saputra; G. A. M. K. Dewi; E. Puspani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prohibition of antibiotic growth promoters (AGP) due to the risk of antibiotic resistance has necessitated the exploration of natural feed additive alternatives to maintain broiler productivity and carcass quality. This study aimed to evaluate the effect of administering papaya peel aqueous extract through drinking water on the proportion of commercial carcass cuts in broilers. The experiment was conducted over a period of five weeks at Farm Sesetan, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, in February 2025. A Completely Randomized Design (CRD) was employed, consisting of four treatments with five replications, involving a total of 80 broilers. The treatments included P0 as the control (0% papaya peel aqueous extract), P1 (4% papaya peel aqueous extract), P2 (6% papaya peel aqueous extract), and P3 (8% papaya peel aqueous extract). The variables observed were the percentages of breast, back, upper thigh, lower thigh, and wing. The results demonstrated that the administration of papaya peel aqueous extract through drinking water at levels of 4%, 6%, and 8% exerted no significant effect (P>0.05) compared to the control (P0) on the percentages of breast, back, thigh, drumstick, and wing. It can therefore be concluded that supplementation of drinking water with papaya peel aqueous extract at inclusion levels of 4%, 6%, and 8% did not affect the proportion of commercial carcass cuts of broilers. ABSTRAK Larangan penggunaan AGP akibat risiko resistensi antibiotik mendorong perlunya alternatif feed additive alami untuk menjaga produktivitas dan kualitas broiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian ekstrak air kulit buah pepaya melalui air minum terhadap potongan karkas komersial broiler. Penelitian ini dilakukan selama 5 minggu di Farm Sesetan Fakultas Peternakan, Universitas Udayana pada bulan Februari tahun 2025. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan yang melibatkan 80 ekor broiler diberikan ekstrak air kulit buah pepaya melalui air minum dengan level pemberian yang berbeda yaitu P0 sebagai kontrol (pemberian 0% ekstrak air kulit buah pepaya), P1 (pemberian 4% ekstrak air kulit buah pepaya), P2 (pemberian 6% ekstrak air kulit buah pepaya), dan P3 (pemberian 8% ekstrak air kulit buah pepaya). Variabel yang diamati adalah persentase dada, punggung, paha atas, paha bawah, dan sayap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak air kulit buah pepaya melalui air minum dengan pemberian dosis 4%, 6%, dan 8% berbeda tidak nyata (P>0,05) dibandingkan dengan kontrol (P0) terhadap persentase dada, punggung, paha atas, paha bawah, dan sayap broiler. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak air kulit buah pepaya melalui air minum pada level pemberian 4%, 6%, dan 8% belum mampu memberi pengaruh terhadap persentase potongan karkas komersial broiler.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH PEPAYA (Carica papaya L.) MELALUI AIR MINUM TERHADAP PERFORMA BROILER I K. I. Cahyadi; G. A. M. K. Dewi; M. Wirapartha
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Papaya peel is one of the wastes that contains active phytochemical compounds becomes pure feed additives, because the prohibition on use of AGP, due to the resistance effects caused in broilers. This study intends to understand the impact providing papaya peel extract from Drinking water by broiler performance which held at Sesetan Farm, Faculty of Animal Husbandry, Denpasar, Bali in 34 days. This study uses a complete random design (RAL) from 4 actions, 5 replications as well as each replication consisted of four broilers with a body weight of 45.57 ± 2.47 g. The treatments given were; P0 (Drinking water without papaya peel extract), P1 (Drinking water + 4% papaya peel extract), P2 (Drinking water + 6% papaya peel extract), and P3 (Drinking water + 8% papaya peel extract). The variables observed include First body weight, feed consumption, drinking water consumption, final body weight, weight gain, and feed conversion ratio (FCR). The findings of this study showed that the administration of papaya peel extract at levels of 4%, 6%, and 8% significantly differed (P<0.05) in drinking water use, weight gain, final weight, as well as fcr, however did not significantly affect (P>0.05) on feed consumption. The conclusion of this study is that the presentation of papaya peel extract at 4%, 6%, and 8% can increase water consumption, final body weight, weight gain, and reduce FCR, but did not significantly affect feed consumption of 34-day-old broilers. ABSTRAK Kulit buah pepaya ialah salah satu limbah yang memiliki kandungan senyawa fitokimia yang aktif sebagai sumber feed additive alami, dikarenakan adanya pelarangan pemakaian Antibiotic Growth Promoter (AGP), akibat efek resistensi yang ditimbulkan pada broiler. Studi ini memiliki tujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit buah pepaya dari air minum terhadap performa broiler yang dilangsungkan pada Farm Sesetan, Fakultas Peternakan, Denpasar, Bali dalam 34 hari. Studi ini memakai Rancangan Acak Lengkap (RAL) dari 4 perlakuan, 5 ulangan serta tiap ulangan terbagi dari empat ekor broiler dengan berat badan 45,57 ± 2,47 g. Perlakuan yang disediakan, ialah; P0 (Air minum tidak adanya ekstrak kulit buah pepaya), P1 (Air minum + 4% ekstrak kulit buah pepaya), P2 (Air minum + 6% ekstrak kulit buah pepaya), serta P3 (Air minum + 8% ekstrak kulit buah pepaya). Variabel yang diamati mencakup berat badan awal, konsumsi ransum, konsumsi air minum, berat badan akhir, pertambahan berat badan serta feed conversion ratio (FCR). Temuan studi ini menunjukan bahwa pemberian ekstrak kulit buah pepaya pada level 4%, 6%, dan 8% berbanding nyata (P<0,05) atas konsumsi air minum, pertambahan BB, berat badan akhir serta FCR, namun tidak berbanding nyata (P>0,05) atas konsumsi ransum. Kesimpulan studi ini yaitu penyajian ekstrak kulit buah pepaya pada 4%, 6%, dan 8% dapat meningkatkan konsumsi air, berat badan akhir, pertambahan berat badan, serta mengurangi FCR, tetapi tidak berdampak nyata atas konsumsi ransum broiler usia 34 hari.
PENGARUH LEVEL PROTEIN YANG BERBEDA DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS FISIK DAGING BABI BALI I D. M. W. Putra; I N. T. Ariana; E. Puspani
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali pigs are prolific germplasm, meaning they are able to produce many litters in one birth. However, the disadvantage of Balinese pigs is that they grow slower than imported pig breeds. One of the factors causing the slow production of Balinese pigs is due to the maintenance that is still done traditionally without cages and low feeding both in terms of quantity and quality. This study aims to determine the effect of protein level in the ration on the physical quality of Balinese pig meat, for 12 weeks of rearing. The research design used was a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and four replications, so there were 16 experimental units. Each experimental unit consisted of a single Bali pig. The four treatments were: P1 (ration with 14% protein level), P2 (ration with 16% protein level), P3 (ration with 18% protein level) and P4 (ration with 20% protein level). The variables observed were pH, meat colour, raw shrinkage, cooking shrinkage, and water binding capacity. The results showed that the provision of protein levels from 14% to 16%, 18% and 20% did not give significant results (P>0,05) on pH, meat colour, raw shrinkage, cooking shrinkage, and water binding capacity. It can be concluded that the application of protein levels of rations with protein levels of 14%; 16% 18%; and 20% have no effect on the pH value, meat colour, weep loss, cooking loss and water binding capacity of Bali pigs. ABSTRAK Babi bali merupakan plasma nutfah “prolifik” yang artinya mampu menghasilkan anak banyak dalam satu kali kelahiran. Namun kekurangan babi bali adalah pertumbuhannya lebih lambat dibandingkan dengan babi ras impor. Salah satu faktor penyebab lambatnya produksi babi bali adalah karena pemeliharaan yang masih dilakukan secara tradisional tanpa kandang dan pemberian pakan yang rendah baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh level protein dalam ransum terhadap kualitas fisik daging babi bali, selama 12 minggu pemeliharaan. Rancangan penelitian yang digunakan ialah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan dan empat kali ulangan, sehingga terdapat 16 unit percobaan. Setiap unit percobaan berisi satu ekor babi. Keempat perlakuan tersebut, yaitu: P1 (ransum dengan level protein 14%), P2 (ransum dengan level protein 16%), P3 (ransum dengan level protein 18%) dan P4 (ransum dengan level protein 20%). Variabel yang diamati yaitu nilai pH, warna daging, susut mentah, susut masak, dan daya ikat air. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian level protein dari 14% menjadi 16%, 18% dan 20% tidak memberikan hasil yang berbeda nyata (P>0,05) terhadap nilai pH, warna daging, susut mentah, susut masak, dan daya ikat air. Dapat disimpulkan bahwa pemberian ransum dengan level protein 14%; 16% 18%; dan 20% tidak berpengaruh terhadap kualitas daging babi bali pada variabel nilai pH, warna daging, susut mentah, susut masak dan daya ikat air babi bali.
PENGARUH EKSTRAK AIR KULIT BUAH PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM AIR MINUM TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS BROILER I. K. P. A. Ariadi; G. A. M. K. Dewi; I. N. T. Ariana
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The ban on the use of Antibiotic Growth Promoters (AGP) due to antibiotic resistance in livestock encourages the search for safe and natural feed additive solutions to maintain broiler productivity, one of which is using papaya peel. Papaya peel water extract is used as a natural feed additive given to broiler drinking water for 35 days of maintenance. This study aims to determine the effect of papaya peel water extract (Carica papaya L.) in drinking water on the physical composition of broiler carcasses. The study was conducted at Sesetan Farm, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University, Denpasar, Bali in February 2025. The study used a Completely Randomized Design (CRD) method with 4 treatments and 5 replications using 80 broilers. The treatments given were drinking water without papaya peel water extract (P0) as a control, drinking water with 4% papaya peel water extract (P1), drinking water with 6% papaya peel water extract (P2), and drinking water with 8% papaya peel water extract (P3). The variables observed included slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, meat percentage, bone percentage, and skin and subcutaneous fat percentage. The results showed that the administration of papaya peel water extract at dosage levels of 4%, 6%, and 8% in drinking water on slaughter weight, carcass weight, carcass percentage, meat percentage, bone percentage, and skin and subcutaneous fat percentage of broilers were not significantly different (P>0.05) compared to the control treatment (P0). Based on the results of the study, it was concluded that the administration of papaya peel water extract at dosage levels of 4%, 6%, and 8% in drinking water was not able to significantly improve the physical composition of broiler carcasses. ABSTRAK Pelarangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) akibat resistensi antibiotik pada tubuh ternak mendorong untuk mencari solusi feed additive yang aman dan alami untuk tetap menjaga produktivitas broiler, salah satunya menggunakan kulit buah pepaya. Ekstrak air kulit buah pepaya dimanfaatkan sebagai feed additive alami yang diberikan ke dalam air minum broiler selama 35 hari pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak air kulit buah pepaya (Carica papaya L.) dalam air minum terhadap komposisi fisik karkas broiler. Penelitian dilaksanakan di Farm Sesetan, Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Denpasar, Bali pada bulan Februari 2025. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan dengan menggunakan 80 ekor broiler. Perlakuan yang diberikan yaitu air minum tanpa ekstrak air kulit buah pepaya (P0) sebagai kontrol, air minum dengan 4% ekstrak air kulit buah pepaya (P1), air minum dengan 6% ekstrak air kulit buah pepaya (P2), dan air minum dengan 8% ekstrak air kulit buah pepaya (P3). Variabel yang diamati meliputi bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, persentase daging, persentase tulang, serta persentase kulit dan lemak subkutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak air kulit buah pepaya pada level dosis 4%, 6%, dan 8% dalam air minum terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, persentase daging, persentase tulang, serta persentase kulit dan lemak subkutan broiler tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan perlakuan kontrol (P0). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian ekstrak air kulit buah pepaya pada level dosis 4%, 6%, dan 8% dalam air minum belum mampu meningkatkan komposisi fisik karkas broiler secara signifikan.
SUBSTITUSI RANSUM KOMERSIAL DENGAN TEPUNG CANGKANG KERANG DAN MINYAK IKAN TERHADAP ORGANOLEPTIK DAGING BROILER A. M. Pamungkas; I P. A. Astawa; A. A. Oka
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to evaluete the effect of substituting commercial rations with clam shell flour and fish oil on the organoleptic quality of broiler meat. The study used 64 day-old broiler chicks divided into 4 treatments and 4 replications in a Completely Randomized Design (CRD). The treatments were: P0 (control), P1 (1% clam shell flour + 0.5% fish oil), P2 (1% clam shell flour + 1% fish oil), and P3 (1% clam shell flour + 1.5% fish oil). The observed variables included color, aroma, texture, taste, and overall acceptance through organoleptic testing. Results showed that treatment P3 tended to yield the highest average scores for color (3.71), texture (3.76), taste (3.43), and overall acceptance (3.48), while the highest aroma score was found in P0 (3.35). Although no significant differences (P>0.05) were observed among treatments, the overall scores were within the moderately preferred category. The study concluded that the addition of 1% clam shell flour and up to 1.5% fish oil in the ration does not reduce the organoleptic quality of broiler meat. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh substitusi ransum komersial dengan tepung cangkang kerang dan minyak ikan terhadap organoleptik daging broiler. Materi yang digunakan terdiri dari 64 ekor ayam broiler umur sehari yang dibagi ke dalam 4 perlakuan dan 4 ulangan (RAL). Perlakuan meliputi: P0 (kontrol), P1 (1% tepung cangkang kerang + 0,5% minyak ikan), P2 (1% tepung cangkang kerang + 1% minyak ikan), dan P3 (1% tepung cangkang kerang + 1,5% minyak ikan). Variabel yang diamati meliputi warna, aroma, tekstur, cita rasa, dan penerimaan keseluruhan secara organoleptik. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan P3 cenderung menghasilkan nilai rata-rata tertinggi pada warna (3,71), tekstur (3,76), cita rasa (3,43), dan penerimaan keseluruhan (3,48), sedangkan aroma tertinggi diperoleh pada P0 (3,35). Meskipun tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) antar perlakuan, skor keseluruhan berada dalam kategori cukup disukai panelis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan 1% tepung cangkang kerang hingga 1,5% minyak ikan dalam ransum tidak menurunkan kualitas organoleptik daging broiler.
PENGARUH TINGKAT NAUNGAN TERHADAP HASIL ASOSIASI Pennisetum purpureum cv. Mott DENGAN Centrosema pubescens PADA PEMOTONGAN KEDUA F. K. Saragih; N. M. Witariadi.; I W. Wirawan
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Forage is one of the important factors in the life of ruminants that determines the success of a livestock business, so that the availability of sufficient forage, both in quantity and quality, needs attention to increase the productivity of ruminants. This study aims to determine the effect of shade levels on the yield of the association between Pennisetum purpureum cv. Mott and Centrosema pubescens at the second cutting and to determine the optimal shade level. The study was conducted in Sading Village, Mengwi Subdistrict, Badung Regency from January to March 2025, using a completely randomized design (CRD) with four shade level treatments: N0 = 0% shade; N1 = 20% shade; N2 = 40% shade; and N3 = 60% shade, with each treatment replicated seven times. The variables observed included: dry leaf weight, dry stem weight, total dry forage weight, dry root weight, the ratio of dry leaf weight to dry stem weight, and the ratio of dry leaf weight to total dry forage weight. The results of the study showed that the level of shade significantly (P<0.05) reduced the dry weight of all variables observed. The 0% shade treatment (N0) produced the highest dry weight (leaves, stems, roots, and total forage), as well as the maximum ratio of dry weight of leaves to dry weight of stems. Based on the research results, it can be concluded that higher shading levels reduce the yield of the association between Pennisetum purpureum cv. Mott and Centrosema pubescens, and 0% shading provides the best results. Translated with DeepL.com (free version). ABSTRAK Hijauan pakan merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan ternak ruminansia yang menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan, sehingga ketersedian hijauan yang cukup, baik kuantitas maupun kualitas perlu mendapat perhatian untuk meningkatkan produktivitas ternak ruminansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat naungan terhadap hasil asosiasi Pennisetum purpureum cv. Mott dengan Centrosema pubescens pada pemotongan kedua. Penelitian dilaksanakan di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung pada bulan Januari - Maret 2025, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan tingkat naungan, yaitu: N0 = naungan 0%; N1 = naungan 20%; N2 naungan 40%; dan N3 = naungan 60%, dan masing-masing perlakuan diulang tujuh kali. Variabel yang diamati, meliputi: berat kering daun, berat kering batang, berat kering total hijauan, berat kering akar, nisbah berat kering daun dengan berat kering batang, dan nisbah berat kering total hijauan dengan berat kering akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat naungan nyata (P<0,05) menurunkan hasil berat kering pada semua variabel yang diamati. Perlakuan naungan 0% (N0) menghasilkan berat kering (daun, batang, akar, dan total hijauan) tertinggi, serta nisbah berat kering daun dengan berat kering batang dan nisbah berat kering total hijauan dan berat kering akar yang maksimal. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat naungan, dapat menurunkan hasil asosiasi Pennisetum purpureum cv. Mott dengan Centrosema pubescens dan naungan 0% memberikan hasil terbaik.
APLIKASI PUPUK CAIR ORGANIC BOOST TERHADAP HASIL Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha D.P.J. Jayantara; N.N.C. Kusumawati; N.M. Witariadi
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asystasia igangetica ihas ipotential ias ia ihigh-quality iforage icrop; ihowever, iits icultivation irequires iadditional inutrients ithrough ifertilization ito iimprove iplant iproductivity. iThis istudy iaimed ito idetermine ithe ieffect iof iliquid iorganic ifertilizer “Organic iBoost” ion ithe iyield iof iAsystasia igangetica i(L.) isubsp. iMicrantha. iThe iresearch iwas iconducted iin ia igreenhouse ilocated iin iSading iVillage, iBadung iRegency, iBali iProvince, ifor i12 iweeks, ifrom iApril i20 ito iJune i20, i2025. iThe iexperiment iused ia icompletely irandomized idesign i(CRD) iconsisting iof ifive ifertilizer idosage itreatments: iD0 i(0 il iha-1), iD1 i(2.500 il iha-1), iD2 i(5.000 il iha-1), iD3 i(7.500 il iha-1), idan iD4 i(10.000 il iha-1), ieach ireplicated isix itimes. iThe iobserved ivariables iincluded ileaf idry iweight, istem idry iweight, itotal iforage idry iweight, ithe iratio iof ileaf ito istem idry iweight, iand ithe iratio iof ileaf ito itotal iforage idry iweight. iThe iresults ishowed ithat ithe iapplication iof iliquid iorganic ifertilizer “Organic iBoost” iat ia idosage iof i10.000 il iha-1 i iproduced ihigher ivalues ifor ileaf idry iweight, istem idry iweight, iand itotal iforage idry iweight icompared ito iother itreatments, ialthough ithe idifferences iwere inot istatistically isignificant i(P>0,05). iIn icontrast, ithe icontrol itreatment (0 il iha-1) iproduced islightly ihigher ivalues ifor ithe iratios iof ileaf ito istem idry iweight iand ileaf ito itotal iforage idry iweight, ibut ithe idifferences iwere ialso inot isignificant. iIt ican ibe iconcluded ithat ithe iapplication iof iliquid iorganic ifertilizer “Organic iBoost” idid inot isignificantly iincrease ithe iyield iof iAsystasia igangetica i(L.) isubsp. iMicrantha, ialthough ithe i10.000 il iha-1 idosage itended ito iprovide ithe ibest ioverall igrowth iresponse. ABSTRAK Asystasia igangetica iberpotensi isebagai ihijauan ipakan iberkualitas, inamun idalam ipengembangan itanaman iini imemerlukan itambahan iunsur ihara imelalui ipemupukan iuntuk imeningkatkan iproduktivitas itanaman. iPenelitian iini ibertujuan iuntuk imengetahui ipengaruh ipemberian ipupuk.cair iOrganic iboost iterhadap ihasil iAsystasia igangetica i(L.) isubsp. iMicrantha. iPenelitian iini idilaksanakan idi irumah ikaca, idi iDesa iSading, iKabupaten iBadung, iProvinsi iBali, iselama i12 iminggu idimulai idari itanggal i20 iApril i- i20 iJuni i2025. iPenelitian imenggunakan irancangan iacak ilengkap i(RAL) idengan ilima iperlakuan idosis ipupuk iOrganic iboost, iyaitu: i iD0 i(0 il iha-1), iD1 i(2.500 il iha-1), iD2 i(5.000 il iha-1), iD3 i(7.500 il iha-1), idan iD4 i(10.000 il iha-1), idan isetiap iperlakuan idiulang ienam ikali. iVariabel iyang idiamati, imeliputi: iberat ikering idaun, iberat ikering ibatang, iberat ikering itotal ihijauan, inisbah iberat ikering idaun idengan iberat ikering ibatang, idan inisbah iberat ikering idaun idengan iberat ikering itotal ihijauan. iHasil ipenelitian imenunjukkan ibahwa ipemberian ipupuk icair iOrganic iboost ipada iAsystasia igangetica i(L.) isubsp. iMicrantha ipada iperlakuan i10.000 il iha-1 imemberikan ihasil ilebih itinggi ipada iberat ikering idaun, iberat ikering ibatang, idan iberat ikering itotal ihijauan, inamun itidak iberbeda inyata, isedangkan iperlakuan i0 il iha-1 imenunjukan ihasil ilebih itinggi ipada ivariabel inisbah iberat ikering idaun idengan iberat ikering ibatang, idan inisbah iberat ikering idaun idengan iberat ikering itotal ihijauan, inamun iberbeda itidak inyata. iDapat idisimpulkan ibahwa ipemberian ipupuk icair iOrganic iboost ibelum imampu imeningkatkan ihasil iAsystasia igangetica i(L.) isubsp. iMicrantha idan idosis i10.000 il iha-1 ipupuk icair iOrganic iboost icendrung imemberikan ihasil iAsystasia igangetica i(L.) isubsp. iMicrantha ipaling ibaik.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KULIT BUAH NANAS TERFERMENTASI MELALUI AIR MINUM TERHADAP KUALITAS FISIK DAGING AYAM KUB K. Kautzardi; N.L.P. Sriyani; I.M. Nuriyasa
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The physical quality of meat is a parameter of meat physical quality testing, which consists of acidity level (pH), Water Holding Capacity, Cooking Loss, and Drip Loss. This study aimed to determine the effect of administering fermented pineapple peel extract through drinking water on the physical meat quality of superior native chickens (KUB chickens) developed by the Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (Balitbangtan). The research was conducted over 8 weeks using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 5 replications, resulting in a total of 20 experimental units. Each experimental unit consisted of 3 two-week-old KUB chickens. The treatments were as follows: P0 = 0% fermented pineapple peel extract, P1 = 11% fermented pineapple peel extract, P2 = 12% fermented pineapple peel extract, and P3 = 13% fermented pineapple peel extract, administered through drinking water. The observed variables included pH (degree of acidity), water holding capacity, cooking loss, and raw meat loss. The results showed that administration of fermented pineapple peel extract at levels of 11%, 12%, and 13% through drinking water had no significant effect (P>0.05) on pH, water holding capacity, cooking loss, or raw meat loss. Based on these findings, it can be concluded that the administration of fermented pineapple peel extract at levels of 11%, 12%, and 13% through drinking water does not affect the physical meat quality of KUB chickens. ABSTRAK Kuialitas fisik daging meiruipakan parameiteir dari peinguijian kuialitas fisik daging yang teirdiri dari deirajat keiasaman (pH), Daya Ikat Air, Suisuit Masak, dan suisuit meintah. Peineilitian ini beirtuijuian uintuik meingeitahuii peingaruih peimbeirian eikstrak kuilit buiah nanas teirfeirmeintasi meilaluii air minuim teirhadap kuialitas fisik daging ayam kampuing uingguil balitbangtan. Peineilitian ini teilah dilaksanakan seilama 8 minggui, meingguinakan rancangan acak leingkap (RAL) deingan 4 peirlakuian dan 5 uilangan, seihingga teirdapat 20 uinit peircobaan. Seitiap uinit peircobaan beirisi 3 eikor ayam KUiB beiruimuir 2 minggui. Peirlakuian eikstrak kuilit buiah nanas teirfeirmeintasi meilaluii air minuim yaitui P0 = 0% eikstrak kuilit buiah nanas teirfeirmeintasi, P1 = 11% eikstrak kuilit buiah nanas teirfeirmeintasi, P2 = 12% eikstrak kuilit buiah nanas teirfeirmeintasi, P3 = 13% eikstrak kuilit buiah nanas teirfeirmeintasi. Variabeil yang diamati adalah deirajat keiasaman (pH), daya ikat air, suisuit masak, dan suisuit meintah. Hasil peineilitian meinuinjuikkan bahwa peimbeirian eikstrak kuilit buiah nanas teirfeirmeintasi pada leiveil 11%,12% dan 13% meilaluii air minuim tidak beirpeingaruih nyata (P>0,05) teirhadap variabeil deirajat keiasaman (pH), daya ikat air, suisuit masak, suisuit meintah. Beirdasarkan peineilitian ini dapat disimpuilkan bahwa peimbeirian eikstrak kuilit buiah nanas teirfeirmeintasi deingan leiveil 11%, 12% dan 13% meilaluii air minuim tidak beirpeingaruih teirhadap kuialitas fisik daging ayam KUiB.
PENGGANTIAN RANSUM KOMERSIAL DENGAN TEPUNG KULIT KERANG DAN MINYAK IKAN TERHADAP ORGAN PENCERNAAN BROILER M. R. Athallah; I P. A. Astawa; A. A. Oka
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of replacement clam shell meal and fish oil as a substitute for commercial rations on the weight of broiler digestive organs. The design used was a completely randomized design (CRD) consisting of four treatments and four replications, each replication consisting of four broilers. The treatments consisted of P0 (ration without being replaced with clam shell meal and fish oil), P1 (1.5% of the commercial ration was replaced with 1% clam shell meal and 0.5% fish oil), P2 (2% of the commercial ration was replaced with 1% clam shell meal and 1% fish oil), and P3 (2.5% of the commercial ration was replaced with 1% clam shell meal and 1.5% fish oil). The variables observed were the length of the small intestine, the percentage weight of the small intestine, gallbladder, liver, pancreas, and proventriculus. The results of this study showed that the length of the small intestine in P1, P2, and P3 was significantly different (P<0.05) higher than the P0 treatment, and the percentage of small intestine weight in P1, P2, and P3 was significantly different (P<0.05) higher than P0, while the percentage of bile, liver, pancreas, and proventriculus weight did not produce a significant difference (P>0.05) compared to the P0 treatment. The results of this study can be concluded that the replacement of 1% shellfish flour and 0.5%, 1%, and 1.5% fish oil in commercial rations can increase the length of the small intestine and the percentage of small intestine weight, but gives the same results for the percentage of bile, liver, pancreas, and proventriculus weight. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian tepung kulit kerang dan minyak ikan sebagai pengganti ransum komersial terhadap bobot organ pencernaan broiler. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan empat ulangan, setiap ulangan terdiri dari empat ekor broiler. Perlakuan terdiri atas P0 (ransum tanpa diganti dengan tepung kulit kerang dan minyak ikan), P1 (1,5% ransum komersial diganti dengan 1% tepung kulit kerang dan 0,5% minyak ikan), P2 (2% ransum komersial diganti dengan 1% tepung kulit kerang dan 1% minyak ikan), dan P3 (2,5% ransum komersial diganti dengan 1% tepung kulit kerang dan 1,5% minyak ikan). Variabel yang diamati adalah panjang usus halus, persentase berat usus halus, empedu, hati, pankreas, dan proventrikulus. Hasil dari penelitian ini menunjukan Panjang usus halus pada P1, P2, dan P3 berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan perlakuan P0, dan persentase berat usus halus pada P1, P2, dan P3 berbeda nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan P0, sedangkan untuk persentase berat empedu, hati, pankreas, dan proventrikulus menghasilkan tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan perlakuan P0. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggantian 1% tepung kulit kerang dan 0,5%, 1%, dan 1,5% minyak ikan pada ransum komersial dapat meningkatkan panjang usus halus dan persentase berat usus halus, akan tetapi memberikan hasil yang sama terhadap persentase berat empedu, hati, pankreas, dan proventrikulus.
APLIKASI PUPUK ORGANIC BOOST TERHADAP PERTUMBUHAN Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha S.A.F. Sinaga; N.N.C. Kusumawati; N.G.K. Roni
Jurnal Peternakan Tropika Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No. 5 (2025): Vol. 13 No.5(2025)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha is a weed with potential for use as livestock feed. Efforts to increase the productivity of Asystasia gangetica are made by adding nutrients through fertilization. This study aimed to determine the effect of various doses of Organic Boost fertilizer on the growth of Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. The research was conducted in a greenhouse in Sading Village, Mengwi District, Badung Regency, Bali Province, from April 20 to June 20, 2025. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments of Organic Boost fertilizer doses: D0 (0 l ha-1), D1 (2,500 l ha-1), D2 (5,000 l ha-1), D3 (7,500 l ha-1), and D4 (10,000 l ha-1), with each treatment was replicated six times. Variables observed included plant height, number of leaves, number of branches, leaf color, and leaf area per pot. The results showed that the application of Organic Boost fertilizer had no significant effect (P>0.05) on any of the measured growth variables of Asystasia gangetica. However, the highest trend was observed for plant height at treatment D4 (10,000 l ha-1) at 69.67 cm, the number of leaves at D4 with 45.17 blades, leaf color at D4 with a score of 6.50, and leaf area per pot at D4 with 830.73 cm2. The number of branches showed the highest trend at treatment D1 with 6.83 branches. It can be concluded that the Organic Boost fertilizer was not yet able to significantly affect the growth of Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha, although the dose of 10,000 l ha-1 of Organic Boost fertilizer tended to result in the best growth of Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. ABSTRAK Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha merupakan tanaman gulma yang berpotensi digunakan sebagai hijauan pakan ternak. Usaha meningkatkan produktivitas Asystasia gangetica dilakukan dengan penambahan unsur hara melalui pemupukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk Organic boost terhadap pertumbuhan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca, di Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Provinsi Bali yang berlangsung dari tanggal 20 April sampai dengan 20 Juni 2025. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dosis pupuk Organic boost, yaitu: D0 (0 l ha-1), D1 (2.500 l ha-1), D2 (5.000 l ha-1), D3 (7.500 l ha-1), dan D4 (10.000 l ha-1), dan setiap perlakuan diulang enam kali. Variabel yang diamati, meliputi: tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, warna daun, dan luas daun per pot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Organic boost tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap seluruh variabel pertumbuhan Asystasia gangetica. Variabel tinggi tanaman menunjukkan hasil cenderung tertinggi pada perlakuan D4 (10.000 l ha-1) sebesar 69,67 cm, jumlah daun cenderung tertinggi pada perlakuan D4 sebanyak 45,17 helai, jumlah cabang cenderung tertinggi pada perlakuan D1 sebanyak 6,83 batang, warna daun cenderung tertinggi pada perlakuan D4 sebesar 6,50, dan luas daun per pot cenderung tertinggi pada perlakuan D4 sebesar 830,73 cm2. Dapat disimpulkan bahwa pupuk Organic boost belum mampu meningkatkan pertumbuhan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha dan dosis 10.000 l ha-1 pupuk Organic boost cenderung menghasilkan pertumbuhan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha terbaik.

Page 10 of 10 | Total Record : 100