cover
Contact Name
Fariz Nizar
Contact Email
jurnalvastutara@uinsaizu.ac.id
Phone
+6285156340961
Journal Mail Official
jurnalvastutara@uinsaizu.ac.id
Editorial Address
Program Studi S1 Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. A. Yani No. 40, Purwokerto Jawa Tengah, Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan
ISSN : -     EISSN : 31107788     DOI : https://doi.org/10.24090/vastutara.v1i2.13924
Vastutara derives its name from Sanskrit, where Vastu means “building” and Tara means “excellent” or “superior.” This journal is a scientific publication managed by the Bachelor of Architecture Study Program at the State Islamic University of Prof. Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto. Vastutara is open to contributions from authors in the field of architectural science. It is published twice a year, in June and December, covering themes such as: Archipelago Architecture; Structure and Construction; Architectural Conservation; Architectural Theory; Architectural Science; Architectural History; Architecture and Behavior; Cultural Landscape; and Digital Architecture.
Articles 25 Documents
TRANSFORMASI RUANG JALAN MENJADI RUANG SOSIAL – EKONOMI: STUDI KASUS AKTIVITAS KULINER MALAM DI GANG MAYONG, PURBALINGGA Revi Aulia Purbandini; Eva Priyanti; Artanti Kusuma Ayu
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/vastutara.v1i2.15441

Abstract

The transformation of streets into spaces for social and economic activities reveals how residents of small towns continuously negotiate their spatial and everyday lives. Gang Mayong in Purbalingga offers a vivid example: a vehicle corridor that appears ordinary by day transforms into a lively culinary street filled with interaction and sensory experiences at night. This transformation reflects a form of spatial adaptation born from the community’s creativity and collective effort to make the most of limited urban space. Through field observation, interviews, and morphological analysis, it becomes clear how simple elements—tents, folding tables, and modest lighting—blend with an oriental-style gate to create a distinctive hybrid visual identity. Amid the vibrant night economy, this space also serves as a social meeting ground that strengthens community ties. Yet, such dynamism brings new challenges, particularly regarding cleanliness and order. Therefore, adaptive and participatory design strategies are essential to ensure that this night culinary corridor continues to function not only as an arena for informal economic activity but also as a productive public space that preserves its oriental–vernacular character as an expression of local cultural identity.
EVALUASI KESESUAIAN PEDESTRIAN WAYS TERHADAP STANDAR TATA RUANG PERKOTAAN Azhar Hasna Rany; Suci Aini Suryaning Pertiwi; Revi Aulia Purbandini
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/vastutara.v1i2.15448

Abstract

This study aims to evaluate the compliance level of pedestrian ways in front of Goeteng Regional General Hospital (RSUD Goeteng) in Purbalingga with architectural and urban spatial planning standards. The area has undergone significant land-use conversion, where pedestrian spaces have been transformed into informal economic zones occupied by street vendors with semi-permanent structures. This situation creates spatial conflicts between public circulation functions and commercial activities, reducing safety and comfort for users, particularly vulnerable groups such as patients, the elderly, and persons with disabilities. The research employed a descriptive qualitative approach using measurable observation, behavioral mapping, and comparative analysis between the existing conditions and relevant regulations, including Pedestrian Comfort Theory, Technical Standards for Sidewalks Ministerial Regulation of Public Works No. 03/PRT/M/2014, and the Principles of Spatial Utilization Control Law No. 26/2007. The results indicate that the conversion of pedestrian paths into vending areas has reduced the free pedestrian zone width by up to 70%, obstructed accessibility for persons with disabilities, and decreased the Level of Service (LOS) for pedestrians to category F. This reflects a violation of public space functions and ineffective spatial utilization control. The study recommends implementing a human-centered and inclusive design approach for pedestrian ways that integrates social and economic activities while maintaining safety, accessibility, and sustainability in urban environments.
KONFIGURASI SPASIAL GAPURA PADURAKSA, KELIR, DAN PAGER DI KOMPLEKS MASJID DAN MAKAM RAJA MATARAM KOTAGEDE Feri Setiyanto
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/vastutara.v1i2.15471

Abstract

The Kotagede Mosque and Royal Tomb Complex represents Javanese–Islamic vernacular architecture, showcasing a synthesis of religious, social, and symbolic functions. This study examines the spatial configuration of gapura paduraksa, kelir, and pager as architecture element in forming the hierarchical sacred space of the complex. A qualitative-descriptive method was employed with morphological and phenomenological approaches through field observation, visual documentation, and interviews. The results indicate that these three elements function as boundaries and transitional spaces guiding users from profane to sacred zones, resulting in five spatial layers (mosque, bangsal dudha, bangsal pengapit, sendang seliran, and royal tomb) that philosophically represent the relationship between Habluminallah and Habluminannas. Architectural forms and ornaments reflect the cultural acculturation between Hindu–Buddhist and Islamic values typical of the Mataram era.  
PREFERENSI PENGGUNA DALAM PEMILIHAN JOGGING TRACK: STUDI KASUS GOR SOESILO SOEDARMAN PURWOKERTO Raina Ghinaa Pratitasari
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/vastutara.v1i2.15892

Abstract

Berkembangnya trend lari di kalangan masyarakat, membuat kebutuhan akan jogging track di area perkotaan meningkat. Masyarakat mulai melihat jogging track sebagai salah satu elemen penting dalam perkotaan yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang publik, tetapi juga sebagai wadah aktivitas masyarakat. Adanya perbedaan dalam karakteristik ruang pada jogging track dapat memengaruhi preferensi pengguna dalam memilih tempat berlari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik ruang terhadap preferensi pengguna jogging track melalui studi perbandingan jalur dalam dan luar di GOR Soesilo Soedarman Purwokerto. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskripitf-kualitatif dengan metode komparatif dan behavioral mapping (pemetaan perilaku). Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan yang dilakukan pada hari-hari tertentu di weekdays maupun weekend dalam periode waktu yang umum digunakan untuk berolahraga. Variable penelitian meliputi kenyamanan, keamanan, aksesibilitas, kualitas ruang, dan pola penggunaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jogging track di area dalam GOR membutuhkan lebih banyak naungan dan vegetasi, sedangkan untuk jogging track di area luar GOR membutuhkan perawatan material penutup dan pemisah antara jalur pelari dengan kendaraan bermotor.
STRATEGI KONSERVASI DAN EFISIENSI ENERGI PADA BANGUNAN DI INDONESIA: ROADMAP MENUJU NET ZERO BUILDING Eva Priyanti
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/vastutara.v1i2.15910

Abstract

Sektor bangunan merupakan salah satu penyumbang tertinggi konsumsi energi dan emisi karbon di Indonesia. Makalah ini membahas strategi konservasi dan efisiensi energi pada bangunan melalui kajian literatur tentang bangunan hijau, sistem sertifikasi Greenship, konsep intensitas konsumsi energi (IKE), dan prinsip desain pasif dan aktif. Kajian dilakukan dengan membandingkan pendekatan pada bangunan konvensional, bangunan hijau, high performance building, hingga net zero building dalam konteks teknologi, manajemen operasional, dan desain arsitektural. Makalah ini mencoba untuk menyusun rekomendasi strategi bertahap menuju bangunan net zero, termasuk audit energi, retrofitting sistem mekanikal-elektrikal, penerapan Building Management System, dan integrasi energi terbarukan. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa konservasi dan efisiensi energi dapat dilakukan secara sistematis melalui roadmap jangka pendek, menengah, dan panjang. Strategi ini dapat diterapkan pada bangunan baru maupun existing building untuk mendukung penurunan emisi dan mencapai target energi berkelanjutan di Indonesia.
SUSTAINABLE INTERIOR ARCHITECTURE STUDY THROUGH THE EXPLORATION OF RECYCLED MATERIAL AESTHETICS IN SEKUTU RUMAH KARYA SOLO: KAJIAN ARSITEKTUR INTERIOR BERKELANJUTAN MELALUI EKSPLORASI ESTETIKA MATERIAL DAUR ULANG PADA SEKUTU RUMAH KARYA SOLO Sela Agustin Eka Nila Sela
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/7bkvkt27

Abstract

Penerapan konsep keberlanjutan dalam arsitektur interior semakin berkembang sebagai respons terhadap isu lingkungan dan peningkatan limbah material konstruksi. Sekutu Rumah Karya Solo hadir sebagai ruang kreatif yang memanfaatkan material daur ulang sebagai elemen utama pembentuk karakter interior bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan arsitektur interior berkelanjutan melalui eksplorasi estetika material daur ulang pada Sekutu Rumah Karya Solo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi lapangan, dokumentasi visual, dan analisis elemen interior bangunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan material bekas seperti anyaman kawat, besi ekspos, kayu daur ulang, serta elemen konstruksi lama tidak hanya berfungsi sebagai upaya pengurangan limbah, tetapi juga membentuk identitas visual dan atmosfer ruang yang unik, industrial, serta adaptif terhadap iklim tropis. Eksplorasi estetika material daur ulang pada bangunan ini menghasilkan kualitas ruang yang fungsional, ekonomis, dan memiliki nilai artistik tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan material daur ulang dalam interior mampu mendukung prinsip arsitektur berkelanjutan sekaligus menciptakan pengalaman ruang yang kontekstual dan inovatif.
EKSISTENSI COURTYARD SIHEYUAN TIONGHOA PADA RUMAH RAKIT DI SUNGAI MUSI, PALEMBANG, INDONESIA Prima Della; Dessy Syarlianty
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/bwpn2b34

Abstract

Rumah merupakan respons manusia terhadap karakteristik iklim, geografi, topografi, dan budaya melalui penerapan teknologi yang diperkaya oleh ritual normatif dan seni. Permukiman berbasis air di Palembang merupakan manifestasi kultural dari pentingnya air, di mana masyarakatnya secara konstan beradaptasi terhadap transisi lingkungan dan sosial. Rumah rakit di Palembang pada masa lalu sebagian besar dihuni oleh etnis Tionghoa, sehingga pengaruh budaya Tionghoa melekat kuat pada bentuk dan konfigurasi ruangnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana konsep ruang terbuka tengah (courtyard) sebagai elemen fundamental arsitektur Tionghoa (Siheyuan) tetap eksis dalam sistem tata ruang rumah rakit dan rumah panggung, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam terhadap 16 warga lokal dan 2 pakar arsitektur tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terjadi transformasi morfologis akibat perpindahan hunian dari air ke daratan (rumah panggung), prinsip courtyard tetap dipertahankan melalui adaptasi ruang tengah (Undang) pada rumah rakit. Faktor utama bertahannya elemen ini adalah adanya idealisme kultural untuk menjaga pola hidup, religi, dan struktur sosial patriarki secara turun-temurun, yang bersandar pada pergeseran filosofis dari Daoisme menuju Konfusianisme.
TAMAN TESDA PURWOKERTO SEBAGAI PEMANFAAATAN BAWAH JEMBATAN MENJADI RUANG PUBLIK EDUKATIF Artanti Kusuma Ayu; Naufal Kresna Diwangkara
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/h6rmwm56

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi ruang bawah jembatan menjadi ruang publik edukatif melalui studi kasus Taman TESDA Purwokerto. Kajian berangkat dari kecenderungan ruang bawah jembatan menjadi ruang sisa kota yang memiliki akses tidak jelas, pencahayaan terbatas, orientasi visual lemah, dan fungsi publik yang ambigu. Berbeda dari studi persepsi pengguna, penelitian ini menggunakan pendekatan arsitektural deskriptif-evaluatif yang menempatkan bukti fisik-spasial sebagai dasar analisis. Data dikumpulkan melalui observasi ruang, dokumentasi visual, pemetaan sederhana, studi dokumen, dan analisis konten media edukasi. Analisis difokuskan pada tiga persoalan, yaitu karakter fisik-spasial ruang bawah jembatan, kontribusi elemen arsitektur dan lanskap terhadap kualitas ruang publik edukatif, serta rekomendasi desain untuk memperkuat edukasi sumber daya air. Artikel ini menunjukkan bahwa Taman TESDA dapat dibaca sebagai model lokal transformasi ruang sisa infrastruktur menjadi lanskap publik bernilai ekologis dan edukatif. Optimalisasi taman bergantung pada keterbacaan akses, kesinambungan sirkulasi, keamanan pasif, pencahayaan, vegetasi, signage interpretatif, serta integrasi dengan lanskap sungai.
ADAPTIVE REUSE SEBAGAI STRATEGI REVITALISASI KAWASAN HERITAGE: STUDI KASUS JNM BLOC DAN DE TJOLOMADOE UNTUK PENGEMBANGAN BANGUNAN KOLONIAL DI PURWOKERTO Raina Ghinaa Pratitasari
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/51csg022

Abstract

Bangunan heritage merupakan aset budaya yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan identitas kawasan. Namun, banyak bangunan peninggalan kolonial di Indonesia mengalami penurunan fungsi sehingga kurang memberikan kontribusi terhadap perkembangan kota. Fenomena serupa juga ditemukan di Purwokerto yang masih memiliki sejumlah bangunan kolonial, tetapi sebagian belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, konsep adaptive reuse telah berhasil diterapkan pada beberapa bangunan bersejarah di Indonesia, salah satunya JNM Bloc di Yogyakarta dan De Tjolomadoe di Karanganyar. Kedua Proyek tersebut menunjukkan bahwa bangunan lama dapat diberikan fungsi baru tanpa menghilangkan nilai historisnya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dampak sosial, ekonomi, budaya, dan spasial dari penerapan adaptive reuse pada JNM Bloc dan De Tjolomadoe serta mengkaji potensi penerapannya pada bangunan kolonial di Purwokerto. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi kasus komparatif, observasi, dan analisis dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptive reuse mampu meningkatkan aktivitas sosial masyarakat, menggerakkan ekonomi lokal, memperkuat identitas budaya, serta merevitalisasi kawasan yang sebelumnya kurang aktif. Pembelajaran dari kedua studi kasus menunjukkan bahwa bangunan kolonial di Purwokerto memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi ruang kreatif, pusat komunitas, galeri budaya, maupun destinasi wisata heritage. Penelitian ini menegaskan bahwa adaptive reuse dapat menjadi alternatif strategi pelestarian bangunan bersejarah yang berkelanjutan sekaligus mendukung pengembangan kota berbasis warisan budaya.
PERSEPSI PENGGUNA TERHADAP KUALITAS RUANG TERBUKA PUBLIK DI KAWASAN PUSAT KOTA PURBALINGGA Revi Aulia Purbandini; Azhar Hasna Rany; Suci Aini Suryaning Pertiwi
Vastutara : Arsitektur, Digital, Sejarah, Struktur dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): VASTUTARA
Publisher : Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/f9xg3s92

Abstract

Ruang terbuka publik merupakan elemen vital dalam struktur kota yang berfungsi sebagai wadah aktivitas sosial, rekreasi, dan interaksi antarwarga. Alun-Alun Purbalingga sebagai ruang terbuka publik utama di kawasan pusat kota memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat, namun kualitasnya belum dikaji secara mendalam dari perspektif pengguna langsung. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis persepsi pengguna terhadap kualitas ruang terbuka publik di kawasan pusat kota Purbalingga menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui wawancara mendalam dan studi referensi. Lima kriteria kualitas ruang publik menurut Carr et al. (1992) digunakan sebagai kerangka analisis, meliputi kenyamanan (comfort), relaksasi (relaxation), keterlibatan pasif, keterlibatan aktif, dan penemuan (discovery). Hasil penelitian menunjukkan pengguna menilai positif aspek aksesibilitas, fungsi sosial, dan estetika vegetasi Alun-Alun Purbalingga, namun mengidentifikasi kekurangan pada kenyamanan termal, ketersediaan fasilitas ramah disabilitas, serta konsistensi kebersihan kawasan. Temuan ini diharapkan menjadi masukan bagi perencanaan dan pengelolaan ruang terbuka publik yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat kota Purbalingga

Page 2 of 3 | Total Record : 25