cover
Contact Name
Meri Septiani
Contact Email
meryseptia99@gmail.com
Phone
+6281818895790
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Dokter Soejono, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Mabasan
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : https://doi.org/10.62107/mab.v19i2.1177
Core Subject : Education, Art,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. The scope of MABASAN includes linguistics, applied linguistics, interdisciplinary linguistics studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. MABASAN is published by Balai Bahasa NTB, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. MABASAN accepts articles from authors of national or international institutions.
Articles 277 Documents
Kearifan Lokal Etnis Sasak dalam Cerita Rakyat Monyeh NFN Nuryati
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i1.202

Abstract

Etnis Sasak seperti halnya etnis-etnis yang lainnya mempunyai identitas dan keunikan sendiri. Bahasa Sasak yang merupakan identitas etnis Sasak sampai sekarang masih memiliki fungsi praktis sebagai alat komunikasi, yaitu dipergunakan dalam komunikasi sehari-hari oleh penuturnya. Hal tersebut terbukti dari penggunaan bahasa Sasak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat penuturnya, seperti pembicaraan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, kantor, dan masih ada yang menggunakannya sebagai bahasa pengantar di lingkungan sekolah. Di samping berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa Sasak juga  berfungsi sebagai alat pengungkap rasa seni. Hal ini dapat dilihat dalam aktivitas sastra seperti bekayaq, wayang sasak, lelakaq, cilokaq, dan tradisi lisan lainnya yang menggunakan bahasa Sasak sebagai media pengungkapnya. Masyarakat Sasak seperti juga masyarakat etnis lain mempunyai beragam sastra lisan, seperti pantun, mantra, syair, dan cerita-cerita rakyat (prosa). Sastra lisan Sasak sebagai bagian dari kebudayaan yang pernah hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, tentu mempunyai fungsi dan kedudukan di tengah-tengah masyarakat penuturnya, seperti sebagai sarana penghibur, pendidikan, dan komunikasi. Sebagai salah satu ragam sastra lisan yang dimiliki oleh suku Sasak di Pulau Lombok, cerita rakyat merupakan kekayaan budaya yang mengandung nilai-nilai budaya bagi masyarakat penuturnya.
Afiks Derivatif Pembentuk Kata Kerja dalam Bahasa Sumbawa Dialek Tongo NFN Kasman
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i1.203

Abstract

Munculnya judul ini dilatarbelakangi oleh adanya suatu pemikiran bahwa bahasa yang memberi kendala bagi penuturnya harus mendapat penanganan yang memadai sehingga penuturnya, makalah ini bertujuan mendeskripsikan afik-afiks pembentuk kata kerja memahami azas-azas yang ada di dalam bahasanya. Dengan adanya pemahaman yang memadai terhadap azas-azas yang ada dalam bahasanya, penutur bahasa yang bersangkutan tidak akan tejebak dalam carut-marut berbahasa dan carut-marut berpikir menggunakan bahasanya. Dengan demikiandan azas atau kaidah pembentukan kata kerja dalam bahasa bahasa Sumbawa dialek Tongo. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metode distribusional dengan teknik urai unsur langsung, teknik sisip, teknik ganti, teknik oposisi biner dan metode padan dengan teknik alat penentu referen dan alat penentu bahasa lain. Melalui penerapan kedua metode tersebut, diketahuilah bahwa terdapat tujuh afiks derivatif, yakni: {ba-}, {ra-}{ i-}, { sa-}1, {sa-}, {N-}, { ka1-}, dan  {ka2-}.
Bahasa Nasional dan Bahasa Lokal di Televisi Bagi Pembangunan Bangsa Endang K. Trijanto
MABASAN Vol. 5 No. 2 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i2.206

Abstract

Tulisan ini menyajikan upaya televisi nasional dan televisi lokal dalam menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa lokal terkait dengan pembangunan bangsa. Bahasa yang dipergunakan di dalam tayangan televisi nasional atau TVRI pada umumnya adalah bahasa Indonesia, dan fokus amatan adalah  tayangan budaya dalam dua bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa lokal atau bahasa daerah. Pada siaran televisi lokal, bahasa yang terutama digunakan adalah juga bahasa Indonesia, tetapi pada jam-jam tayang tertentu digunakanlah bahasa daerah. Penggunaan dua bahasa ini di televisi dimaksudkan agar bahasa Indonesia dapat membangun dan meningkatkan cara berpikir bangsa Indonesia pada era global ini, serta untuk menjaga bahasa daerah dari ancaman kepunahan.
Kearifan Lokal dalam Cerita Rakyat Nusantara: Upaya Melestarikan Budaya Bangsa Erli Yetti
MABASAN Vol. 5 No. 2 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i2.207

Abstract

Sastra lisan merupakan salah satu bentuk produk budaya yang diciptakan dan diwarisi secara lisan dan turun-menurun melalui alat pengingat (memonic devices).  Bentuk sastra ini terus hidup dalam tradisinya dan berkembang menyesuaikan perkembangan masyarakatnya. Sastra lisan sangat beragam bentuknya, mulai dari bahasa rakyat, ungkapan tradisional (pepatah dan peribahasa), pertanyaan tradisional (teka-teki), puisi rakyat (pantun, syair, bidal, dll), dan prosa rakyat, mite (myth), legenda, (legend), dan dongeng (folktale), serta nyanyian rakyat. Jenis sastra ini dalam masyarakat Nusantara bisa menjadi identitas karena di dalamnya terkandung pelbagai kearifan lokal (local wisdom). Prosa rakyat yang lebih dikenal dengan cerita rakyat tersebar di seluruh Nusantara. Sebagai kekayaan budaya, melalui cerita rakyat dapat digali berbagai kemajemukan identitas nasional Indonesia. Dalam masa sekarang kearifan lokal bisa menjadi salah satu cara dalam mewujudkan aspek positif arus globalisasi. Kearifan lokal banyak terdapat dalam cerita rakyat seperti cerita Malin Kundang, Bawang Merah Bawang Putih, Sangkuriang, Pulo Kemaro, Anak Durhaka, dan lain sebagainya. Cerita rakyat tersebut mengandung pesan moral seperti sopan santun, saling menyayangi, suka menolong orang lain, dan lain sebagainya. Keanekaragaman cerita daerah inilah kemudian melahirkan apa yang disebut multikulturalisme. Dengan menempatkan kebangsan sebagai benang merah akan terlihat keberagaman budaya etnis dan pluralitas sebagai budaya dalam ”kebhineka tunggalikaan”.
Strategi dan Fungsi Linguistik Kekuasaan dalam Naskah Babad Lombok Lalu habiburrahman
MABASAN Vol. 5 No. 2 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i2.209

Abstract

Periode lahirnya naskah babad di Jawa dan Bali sekitar abad ke-18, tetapi lebih banyak ditulis sekitar abad ke-19. Pada masa-masa tersebut, Lombok berada di bawah kekuasaan Bali. Kekuasaan Bali di Lombok bahkan telah terjadi sejak abad sebelumnya, yakni akhir abad ke-17 dan bertahan hingga akhir abad ke-19. Tradisi babad berkembang juga di Lombok. Salah satu di antaranya adalah Naskah Babad Lombok. Di antara Naskah Babad Lombok, salah satunya sudah ditransliterasi dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Lalu Gde Suparman. Naskah hasil transliterasi dan terjemahan ini akan menjadi objek dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan wacana sejarah. Penelitian ini menghasilkan strategi dan fungsi linguistik kekuasaan dalam naskah Babad sebagai berikut. Pertama,  dengan membangun garis generasi elit Lombok dengan Nabi Nuh. Kedua, dengan pencitraan negatif garis generasi terakhir penguasa Pejanggik dan Selaparang. Ketiga, munculnya Mitos Arya Banjar Getas sebagai pemegang “wahyu kekuasaan” terakhir di Lombok dari Generasi Majapahit. Fungsi kekuasaan di dalam Naskah Babad Lombok sebagai berikut. Pertama, untuk membangun legitimasi kekuasaan dengan simbol raja sebagai pusat kekuasaan dan kosmos. Kedua, sebagai dasar legitimasi sosial politik  atas pemberontakan dan penggulingan kekuasaan yang dilakukan oleh Arya Banjar Getas terhadap Raja Pejanggik dan Selaparang; berikutnya adalah usaha elit Lombok untuk menjaga status sosial yang telah menempatkan mereka pada kedudukan politik yang lebih tinggi dari masyarakat pada umumnya. Ketiga, sebagai wacana perlawanan untuk menempatkan elit Politik Lombok dan Bali sejajar secara politik; berikutnya adalah sebagai bentuk perlawanan untuk menunjukkan tingkat status sosial mereka sebagai kelompok arya.
Hakikat Karya Masyarakat Sasak yang Tercermin dalam Sesenggak Muhammad Shubhi
MABASAN Vol. 5 No. 2 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i2.210

Abstract

Sesenggak merupakan salah satu dari sekian banyak sastra lisan yang dimiliki oleh suku Sasak. Dalam sesenggak banyak terdapat perbandingan, perumpamaan, nasihat, perinsip hidup atau aturan tingkah laku. Dengan demikian sesenggak menjadi bentuk simbolis yang dimiliki oleh masyarakat Sasak. Sebagai bentuk simbolis, sesenggak dapat dijadikan sebagai cermin untuk mengetahui nilai budaya yang dimiliki masyarakat pemiliknya, dalam hal ini suku Sasak. Nilai budaya yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah nilai budaya masyarakat Sasak yang berhubungan dengan hakikat karya.
Nilai-Nilai Budaya Sasak Kemidi Rudat Lombok: Perspektif Hermeneutika NFN Murahim
MABASAN Vol. 5 No. 2 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i2.211

Abstract

 Penelitian ini merumuskan masalah nilai-nilai budaya yang diekspresikan melalui pementasan Kemidi Rudat Lombok yang meliputi (1) nilai-nilai religius yang diekspresikan melalui pementasan Kemidi Rudat Lombok, (2) nilai-nilai filosofis yang diekspresikan melalui pementasan Kemidi Rudat Lombok, (3) nilai-nilai etis yang diekspresikan melalui pementasan Kemidi Rudat Lombok, dan (4) nilai-nilai estetis yang diekspresikan melalui pementasan Kemidi Rudat Lombok. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya Sasak dalam seni teater tradisional Kemidi Rudat Lombok. Nilai-nilai budaya yang dimaksud adalah (1) nilai religius; (2) nilai filosofis,; (3) nilai etis; dan (4) nilai estetis. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika, yaitu penafsiran secara mendalam terhadap sebuah fenomena budaya. Pendekatan ini memiliki kaidah: (1) dibutuhkan keterlibatan dan atau partisipasi; (2) setiap usaha penafsiran, tidak bisa dihindari adanya akibat ikutan dari partisipasi dan latar belakang penafsir; (3) upaya penafsiran harus dilihat sebagai proses pendekatan kepada makna sejati; (4) walaupun ada wilayah perbedaan karena partisipasi dan latar belakang penafsir, niscaya ada pula wilayah yang mempertemukan antarpenafsir, pemahaman bersama terhadap suatu masalah. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa Kemidi Rudat terdiri dari dua bagian penting, yaitu bagian rudat sebagai bagian pembuka dan kemidi sebagai bagian inti yang merupakan bagian pementasan yang menyajikan cerita tentang perjalanan dua kerajaan, yaitu kerajaan Ginter Baya dengan Raja Indra Bumaya sebagai rajanya dan kerajaan Puspasari dengan Sultan Ahmad Mansyur sebagai rajanya. Cerita tersebut diberi judul ”Prahara di Ginter Baya”. Nilai-nilai budaya yang berupa nilai religius, filosofis, etis, dan estetis ditemukan dalam dialog-dialog antartokoh, perilaku tokoh, dan sikap tubuh para pemain. Semua nilai budaya yang ditemukan dihubungkan dengan sistem nilai dasar dalam masyarakat Sasak, hukum adat dan kitab tembang suluk berbahasa Sasak ”Tapel Adam” yang banyak berisi nilai-nilai kebijaksanaan hidup manusia Sasak. 
Identitas Perempuan yang Terbelenggu dalam Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer: Subaltern dalam Konstruksi Sosial Masyarakat Tradisi Syukrina Rahmawati
MABASAN Vol. 5 No. 2 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i2.212

Abstract

 Peran perempuan yang selalu tersubordinasikan dan termajinalisasikan telah menjadi isu utama bagi tiap karya sastra atau novel yang muncul di Indonesia, mulai dari novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli hingga pada novel Saman karya Ayu Utami. Isu tersebut lahir akibat realitas masyarakat tradisi di Indonesia terutama yang berkaitan dengan pengaruh amat kental dari sistem pemerintahan masa kolonial Belanda. Pulau Jawa termasuk pulau yang menjadi kawasan pusat pemerintahan kolonial khususnya di kawasan Jawa Tengah. Novel yang menarik perhatian pembaca adalah novel-novel Pramoedya Ananta Toer dikarenakan novel-novelnya dianggap sebagai bukti sejarah Indonesia sejak zaman penjajahan hinggan zaman kemerdekaan. Salah satunya adalah novel Gadis Pantai yang pertama kali diterbitkan tahun 2003, tetapi sebelumnya telah beredar sejak tahun 1963. Isinya berisi tentang perwajahan perempuan Jawa yang terbelenggu oleh budaya dan tradisi bangsawan Jawa atas dasar pengaruh kolonial. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian novel Gadis Pantai adalah pengaruh kolonial terhadap feodalisme jawa bagi perempuan, relasi penguasa antara sang Bendoro-Mas Nganten (Gadis Pantai), dan keterbatasan ruang aktivitas perempuan yang menjadi kaum perempuan subaltern. Dengan menggunakan teori postkolonial, yakni subaltern yang diusung oleh Gayatri Spivak (1988) maka dapat disimpulkan bahwa peran perempuan hanya ditentukan oleh ideologi priyayi atau keluarga yang menginginkan status sosial anak perempuannya lebih tinggi dari orang tuanya.
Alus Enduk dalam Sistem Tutur Masyarakat Sasak Lalu Erwan Husnan
MABASAN Vol. 5 No. 2 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i2.214

Abstract

Stratifikasi bahasa Sasak tidak hanya terdiri atas tingkatan kasar, biase, alus biase, dan alus utame tapi juga alus enduk. Tingkatan terakhir terbilang baru karena penamaan baru diberikan pada tahun 2007 dan belum jelas posisinya dalam tingkata tutur Bahasa Sasak. Untuk itu, tiga desa (Bayan, Gerung, dan Tiwugalih) diambil sebagai sampel mewakili masing-masing variasi dialektal bahasa Alus bahasa Sasak. Tingkatan ini tidak memiliki kosakata sendiri seperti yang lain. Kosakata yang digunakan lebih banyak mengambil dari tingkagtan kasar dan biase dibandingkan dengan dua tingkatan yang lain. Posisi tingkatan ini berada setelah alus utame.
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PARAGRAF PERSUASIF MELALUI POLA LATIHAN BERJENJANG NFN Abdullah
MABASAN Vol. 6 No. 1 (2012): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v6i1.217

Abstract

Keterampilan menulis merupakan aktivitas pembelajaran yang dianggap sulit oleh siswa.  Permasalahan ini tampak pada hasil tulisan siswa yang tidak sepenuhnya mencerminkan ide atau gagasan yang dipikirkan.  Apa yang ditulis sering tidak menunjukkan apa yang diinginkan.  Hal ini membuktikan bahwa siswa yang bersangkutan belum menulis secara efektif.  Ketidakefektifan tulisan tersebut disebabkan oleh tidak jelasnya penggunaan tanda baca, ejaan, pilihan kata, dan struktur kalimat yang masih rancu. Permasalahan tersebut ditambah lagi dengan belum dipahaminya struktur tulisan persuasif yang harus dibuat.  Salah satu solusi yang diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan pola latihan berjenjang.  Pola latihan berjenjang melatih siswa menulis secara bertahap, mulai dari tataran ejaan sampai wacana, mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Penerapan pola ini menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Hasil belajar pada siklus I mencapai 61,76%. Pada siklus II meningkat menjadi 88,24% dan pada siklus III meningkat lagi menjadi 91,18%.  Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pola latihan berjenjang mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf persuasif.