cover
Contact Name
Meri Septiani
Contact Email
meryseptia99@gmail.com
Phone
+6281818895790
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Dokter Soejono, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Mabasan
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : https://doi.org/10.62107/mab.v19i2.1177
Core Subject : Education, Art,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. The scope of MABASAN includes linguistics, applied linguistics, interdisciplinary linguistics studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. MABASAN is published by Balai Bahasa NTB, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. MABASAN accepts articles from authors of national or international institutions.
Articles 277 Documents
Ketika Cinta Bertasbih: Potret Nasionalisme dan Pembangunan Karakter Bangsa NFN Purwaningsih
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v4i1.186

Abstract

Arus globalisasi yang semakin deras membuat banyak di kalangan remaja kita kehilangan sikap nasionalisme dan kehilangan kepribadian diri sebagai bangsaIndonesia. Hal ini ditunjukan dengan gejala-gejala kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dibutuhkan semangat untuk membangun sikap nasionalisme. Sesungguhnya nasionalisme dan karakter bangsa  merupakan faktor penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai sebuah penyangga keberlangsungan kehidupan bernegara. Peranan karakter bangsa merupakan faktor kunci jatuh bangunnya suatu bangsa. Rasa kecintaan dan rasa kepemilikan terhadap negerinya dapat dilihat dari sikap masyarakat itu dalam mengidentifikasi dirinya dalam suatu lingkungan bernegara.Sastra memainkan peranan ini,   bagaimana sastra dapat merengkuh seluruh khalayak di nusantara dalam menyerukan betapa mendesaknya ikhtisar pembentukan karakter bangsa. Karya sastra diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi penyadaran dan pemupukan sikap nasionalisme Indonesia. Salah satu karya sastra yang mengangkat isu tentang pembentukan karakter bangsa, yaitu novel Ketika Cinta Bertasbih  karya Habiburrahman El Shirazy. Karya ini merupakan goresan tinta emas yang menggugat dimensi-dimensi tentang sikap nasionalisme dan karakter bangsa yang hadir di sebuah negeri perantauan.  Tentang penemuan jati diri sebagai bangsa yang beragama sangat jelas digambarkan dalam novel tersebut.  Makalah ini secara khusus mengkaji persoalan tentang makna nasionalisme yang tercermin dalam novel Ketika Cinta Bertasbih. Melihat gambaran identitas para tokoh tentang kecintaan dan perasaan memiliki seseorang terhadap bangsa dan negaranya yang berkembang dengan konsep syariat Islam.
Refleksi Pola Pikir dan Kearifan Lokal Masyarakat Sasak dalam Ranah Pertanian: Sebuah Investigasi atas Fakta Linguistik NFN Saharudin
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v4i1.187

Abstract

Adanya gempuran dahsyat dan pengaruh-baik disadari ataupun tidak- dari proses westernisasi dan globalisasi terutama terhadap pandangan hidup masyarakat kita telah menumbuhkan kekhawatiran. Yakni munculnya rasa khawatir akan lenyapnya jati diri bangsa Indonesia dalam arus westernisasi dan globalisasi. Arus tersebut kini telah membawa kesadaran sebagian dari kita untuk melihat kembali dan menggali dasar-dasar pandangan hidup (kepercayaan, perasaan, dan segala hal terdapat dalam pikiran orang/masyarakat yang berfungsi sebagai motor atau stimulan bagi keberlangsungan dan perubahan moral maupun sosial) yang terpendam dalam berbagai bentuk budaya lokal leluhur kita. Memang tidak bisa disangkal lagi bahwa dalam dasawarsa terakhir ini kesadaran orang untuk menggali kembali kearifan lokal (local wisdom) yang ada pada kelompok masyarakat atau suku tertentu lebih intens. Hal ini terjadi karena ilmu pengetahuan modern ternyata tidak selalu membawa hal yang positif dalam kehidupan. Ilmu pengetahuan pertanian modern yang menghasilkan revolusi hijau, misalnya, menimbulkan sejumlah dampak negatif seperti pemakaian  pupuk kimia yang dapat merusak kesuburan tanah dan pemakaian insektisida dan pestisida yang dapat mengganggu keseimbangan alam. Oleh karena itu, orang pun mulai menoleh kembali ke pengetahuan lokal (etnosains) untuk mengetahui bagaimana masyarakat dahulu bertani. Informasi mengenai pengetahuan  lokal itu dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya ialah dengan meneliti bahasa yang mereka pakai dalam ranah itu. Dalam bahasa terdapat sejumlah leksikon dan bentuk ekpresi lainnya yang dapat memberi petunjuk berharga mengenai bagaimana masyarakat penuturnya memikirkan dunia ini (pola pikir).
“Ajo Sidi Pembual”, Identitas Diri Sebagai “Mesin Pembedaan” Keminangan: Analisis Kajian Budaya NFN Sulastri
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v4i1.188

Abstract

Minangkabau yang matrilineal mempunyai ciri keunikan tersendiri. Oleh karena itu, diamati ciri identitas diri keminangan yang merupakan implikasi dari ajaran adatnya terrefleksi lewat teks sastra. Salah satu dapat dilihat dari aspek bahasa yakni  ungkapan kata ‘pembual/gadang ota’. Kompleksitas ungkapan pembual/gadang ota merupakan jagad sosial yang tidak dapat dijelaskan dengan mudah dalam tataran kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra dalam konteks keminangan. Pembual/gadang ota menandai kombinasi eksepsional pikiran dan kehendak dari refleksi budaya yang dapat dicermati dalam diri seseorang. Tampaknya  ungkapan ini dibalut dengan  kehebatan, kepintaran dalam menyusun ide dalam kalimat melalui satu idealisme yang kuat. Dapatkah pembual/gadang ota itu dikatakan sebagai sesuatu yang  terkandung dalam sikap politik, mental, pikiran, siasat, dan strategi orang Minang? Tokoh ‘Ajo Sidi pembual’ dapatkah dianggap  sampel identitas diri keminangan secara universal? Studi kasus tokoh Ajo Sidi pembual dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”, mudah-mudahan dapat memberikan pencerahan dan jawaban mengenai ‘mesin pembedaan’ keminangan tersebut.
“Bue-Bue” : Representasi Kehidupan Masyarakat Bajo di Sulawesi Tenggara NFN Uniawati
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v4i1.189

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk mengungkapkan makna yang terkandung dalam lirik “bue-bue”. Makna lirik bue-bue dalam masyarakat Bajo akan diungkapkan melalui proses kajian hermeneutik Ricoeur. Proses itu dapat mengupas secara saksama perihal kehidupan sosial budaya masyarakat tersebut sebagai komunitas pelaut yang hingga kini masih akrab dengan kemisteriusannya. Isi yang terdapat dalam lirik “bue-bue” menyiratkan makna yang dapat merepresentasikan konstruksi realitas dan identitas dalam kehidupan masyarakat suku Bajo, khususnya di Sulawesi Tenggara. Pada intinya, “bue-bue” dalam kehidupan masyarakat Bajo dipandang sebagai sebuah medium untuk mempertahankan kearifan lokal yang terdapat dalam lingkungan masyarakat pelaut tersebut. Menyangkut “bue-bue”, ada satu hal pokok yang mesti dipahami yaitu mengenai keberadaan jenis sastra lisan ini di tengah masyarakat penuturnya. Keberadaan “bue-bue” dalam kenyataan kian hari kian terancam akan ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Kurangnya kepedulian masyarakat setempat terhadap kelestarian suatu tradisi lisan menjadi faktor utama terhadap ancaman tersebut. Bajo sebagai masyarakat pelaut yang memiliki kecenderungan terpinggirkan oleh masyarakat yang lain dapat menjadi salah satu pemicu yang mempercepat hilangnya tradisi lisan tersebut. Oleh karena itu, kekhawatiran akan musnahnya penanda identitas budaya masyarakat Bajo sebagai salah satu bentuk “local genius” patut untuk segera diatasi. 
Dekonstruksi Bahasa Indonesia pada Bahasa SMS Ahmad Sirulhaq; Hasanuddin Chaer
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i1.193

Abstract

Seiring dengan pesatnya perubahan dalam teknologi kumunikasi dan informasi, penggunaan media telepon seluler dalam pemanfaatan komunikasi semakin intens. Pada saat yang sama penggunaan layanan pesan singkat (sms) yang disampaikan melalui telepon seluler pun semakin intens. Dalam pada itu, bahasa (Indonesia) yang digunakan dalam sms mengalami dekonstruksi atas struktur-struktur yang sudah mapan. Makalah ini bertujuan untuk membahas bentuk-bentuk dekonstruksi atas bahasa Indonesia melalui sms. Data-data yang terkait dengan makalah ini diambil dari sms yang masuk dalam telepon seluler dengan metode catat. Berdasarkan data-data yang ada, dalam pemakaian bahasa Indonesia kontemporer (melalui sms) terdapat adanya dekonstruksi atas sistem bahasa Indonesia dalam berbagai manifestasinya,  mulai dari dekonstruksi atas sistem kebahasaan yang ada maupun dekonstruksi atas cara-cara pemerian bahasa Indonesia.
Penggunaan Media Film Dokumenter dalam Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia pada Siswa Bipa Tingkat Madya di Universitas Trisakti Dewi Nastiti Lestari
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i1.194

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan berbicara dengan teknik diskusi melalui penggunaan film dokumenter sangat membantu atau memotivasi siswa untuk berpikir logis dan berbahasa target, bahasa Indonesia.Permasalahan keterampilan berbicara siswa yang ditemui pada program BIPA di Universitas Trisakti antara lain terdapat kekurangtepatan pada beberapa poin kebahasaan berikut, seperti: pelafalan saat merangkai kata menjadi kalimat; penggunaan kata dalam konteks kalimat; penggunaan kata sambung intrakalimat dan antarkalimat; pengujaran kalimat majemuk, serta pemahaman konteks ujaran kawan tutur. Hal tersebut memunculkan pertanyaan: (a) Bagaimana meningkatkan keterampilan berbicara dalam bahasa Indonesia melalui media film dokumenter? (b) Apakah keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa BIPA tingkat madya dapat ditingkatkan melalui media film dokumenter? Keterampilan berbicara yang dimaksudkan adalah kegiatan yang bertujuan untuk berkomunikasi dengan kawan bicara secara logis dan wajar dengan menggunakan pelafalan yang tepat, bertata bahasa yang benar, penggunaan kosakata yang tepat, kelancaran pengucapan yang baik, dan terdapat pemahaman antarkawan bicara. Sementara itu, penggunaan media film dokumenter yang dimaksud merupakan alat bantu pembelajaran efektif untuk menyampaikan materi yang berisikan pengenalan budaya dan realita sosial dengan tujuan untuk menjembatani proses komunikasi pada saat-saat tertentu, seperti terdapat kesenjangan antara bahasa dan budaya siswa asing. Dalam hal ini digunakan film dokumenter yang disesuaikan dengan topik BIPA pada tingkat madya. Film dokumenter yang digunakan diperoleh dari Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia, sebuah komunitas film Indonesia yang di dalamnya terdapat kerja sama antara In-Docs dan The Ford Foundation.Bahasan dalam makalah ini memfokuskan pada penjelasan atas pertanyaan penelitian tersebut. Data yang digunakan dalam kajian ini berdasarkan hasil penelitian tindakan pada program BIPA, Kerjasama Negara Berkembang di Universitas Trisakti.
Pengembangan Keterampilan Sosial Melalui Pembelajaran Puisi pada Siswa Sekolah Dasar Kelas V SD Muhammadiyah Kolombo Yogyakarta NFN Hilmiati
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i1.195

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa kelas V SD Muhammadiyah Kolombo, Yogyakarta melalui peningkatan keterampilan membaca dan menulis puisi. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas delapan pertemuan dalam dua siklus dengan menggunakan model spiral menurut Kemmis dan Mc Taggart. Peneliti bertindak sebagai pengamat, sedangkan kolaborator utama, yaitu guru bahasa Indonesia yang mengajar kelas tersebut sebagai pelaksana tindakan. Kolaborator pembantu terdiri atas tiga  orang pengamat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, dan dokumentasi: instrumen yang digunakan adalah tes sikap dan lembar pengamatan. Data keterampilan sosial dianalisis dengan teknik deskriftif kuantitatif dan data keterampilan membaca dan menulis puisi dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) peningkatan keterampilan sosial: a) rerata skor keterampilan sosial pada siklus pertama dengan rentang skor 1—40  diperoleh 21,4 (cukup), pada siklus kedua meningkat menjadi 27,12 (baik);  b) rerata skor tes sikap sebelum pelaksanaan tindakan dengan rentang skor 1—75  diperoleh 42,9 (cukup), pada pascatindakan meningkat menjadi 54,9 (baik). 2) peningkatan keterampilan membaca pada siklus pertama dengan rentang 1—100  diperoleh 52,63% (belum tuntas); pada siklus kedua meningkat menjadi 68,42% (tuntas) dan menulis puisi pada siklus pertama dengan rentang 1—100  diperoleh 52,63% (belum tuntas); pada siklus kedua meningkat menjadi 73,68% (tuntas).
Antropologi Sastra: Mata Rantai Terakhir Analisis Ekstrinsik I Nyoman Kutha Ratna
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i1.197

Abstract

Dalam bidang sastra, dikenal dua model analisis ekstrinsik, yaitu psikologi sastra dan sosiologi sastra. Dengan adanya kekayaan sekaligus keragaman aspek-aspek kebudayaan dalam kehidupan manusia, maka kedua jenis interdisiplin dianggap belum cukup. Antropologi sastra dianggap sebagai model interdisiplin yang dapat mengantisipasi kekuranagn tersebut. Antropologi sastra jelas melibatkan dua bidang ilmu yaitu antropologi dan sastra. Keduanya  pada dasarnya memiliki persamaan, sama-sama memanfaatkan cerita dalam bentuk pengalaman sehari-hari. Etnografi dengan novel, baik dalam proses pengumpulan data maupun proses penulisannya, menunjukkan ciri-ciri yang relatif sama. Dalam teori kontemporer kedua penulisan makin sulit dibedakan, karya sastra yang cenderung ilmiah, etnografi yang cenderung literer. Untuk mengantisipasi perkembangan antropologi sastra ke depan, maka salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memasukkannya ke dalam kurikulum.
Istilah Teknis dan Permasalahannya dalam Penerjemahan Muhamad Nur
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i1.200

Abstract

Term is a word or word-combination which denotes the notion of a special realm of communication in science, industry, technology, art, in a definitive field of knowledge and human activity, that is a special purposes linguistic unit (Лейчик 2007). In this context, the article develops the analyses of writer’s master thesis about the translation of Indonesian terminology standardization directory for computer application ‘Panduan pembakuan istilah penggunaan komputer dengan aplikasi komputer berbahasa Indonesia’ that were set up by the TIM INPRES ‘the Presidential directive teams’ of Indonesia, Number 2/2001. The analyses result was that identifiable numerous approaches of equivalent, and these categorizable inconsistance in the translation process.  Therefore, the message of source language (English) could not comprehensively be expressed in the target language (Indonesian).  Analyses development in the article is tend toward the reviewing of technical terms existence etimologically-theoretically, referring to the International Terminology Standardization, International Standardization Organization (ISO), and Handbook of Terminology in relation to the message sense of technical terms in translation.      Thus, the technical terms in the translation context are bounded by four dimensions; concept, object, term and definition referring to the semiotic triangle as the terminologists’ additional dimension. Where, the pyramid was extended by the dimension of definition resulting four intersections to represent the concept. Accomodating the concept of technical terms can only be handled through the adoption approach of phonetic and semantic adaptation to keep the equivalent message of two different languages.
Refleksi Konsep Kekuasaan dan Gender Orang Jawa dalam Teks “Babad Kedhiri” Nining Nur Alaini
MABASAN Vol. 5 No. 1 (2011): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v5i1.201

Abstract

Babad Kedhiri merupakan karya yang merekam kerajaan Kedhiri dalam bentuk karya sastra. Munculnya eksemplar-eksemplar Babad Kedhiri menunjukkan bahwa karya ini memperoleh penerimaan sekaligus sambutan dari masyarakatnya. Meskipun menggunakan peristiwa sejarah sebagai bahannya, babad Kedhiri merupakan sebuah mitos yang diciptakan secara sadar oleh masyarakatnya, tetapi memuat unsur-unsur tak sadar yang syarat makna. Aspek tak sadar tersebut merupakan human mind masyarakat penciptanya. Dengan menggunakan teori struktural Levi-Strauss, penelitian ini menginterprestasi human mind orang Jawa yang terefleksi dalam BK. Melalui interprestasi ini dapat diketahui bahwa konsep orang Jawa yang dominan yang terefleksi dalam Babad Kedhiri adalah kekuasaan dan gender. Dari fokus pemikiran tentang unsur gender tercermin pemikiran bahwa masyarakat Jawa menempatkan wanita dan pria dalam kedudukan yang sama karena pola pikir yang mendominasi bukanlah unsur gender, melainkan unsur keturunan atau darah.

Page 11 of 28 | Total Record : 277