cover
Contact Name
Meri Septiani
Contact Email
meryseptia99@gmail.com
Phone
+6281818895790
Journal Mail Official
jurnalmabasan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Dokter Soejono, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Mataram
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Mabasan
ISSN : 20859554     EISSN : 26212005     DOI : https://doi.org/10.62107/mab.v19i2.1177
Core Subject : Education, Art,
MABASAN is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. The scope of MABASAN includes linguistics, applied linguistics, interdisciplinary linguistics studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. MABASAN is published by Balai Bahasa NTB, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. MABASAN accepts articles from authors of national or international institutions.
Articles 277 Documents
IDENTIFIKASI KEBIMBANGAN TOKOH HASAN DALAM ROMAN ATHEIS KARYA ACHDIAT KARTA MIHARDJA Syaiful Bahri
MABASAN Vol. 7 No. 1 (2013): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v7i1.172

Abstract

Tokoh Hasan berada dalam posisi tarik-menarik antara dunia lama dan dunia baru. Dengan kata lain, Hasan berada di dunia “antara”, antara dunia lama dan dunia baru. Dunia tersebut menjadikan Hasan bergumul dengan kebimbangan. Kebimbangan tersebut dibongkar menggunakan identifikasi struktur kepribadian psikoanalisis Sigmund Freud. Pengidentifikasian tersebut lebih difokuskan beberapa insting yang terdapat pada tataran id. Insting kasih sayang, penghargaan, dan kebebasan yang ingin direalisasikan dibenturkan dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada pada tataran ego maupun superego. Pertimbangan-pertimbangan tersebut memunculkan pengaktualisasian insting yang tidak dapat direalisasikan dalam dunia lama, tetapi dimunculkan kembali dan direalisasikan dalam dunia baru. Sebaliknya, terdapat pula insting yang tak dapat direalisasikan dalam dunia baru, tetapi memungkinkan untuk direalisasikan dalam dunia lama.
DISFEMISME PADA WACANA LINGKUNGAN: SEBUAH KAJIAN EKOLINGUISTIK KRITIS DALAM MEDIA MASSA DI INDONESIA Elisa Nurul Laili
MABASAN Vol. 7 No. 2 (2013): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v7i2.175

Abstract

Media massa menggunakan berbagai piranti bahasa untuk mengemas ideologi konstruktif dan destruktif terkait dengan lingkungan, misalnya eufemisme dan disfemisme. Penelitian ini berusaha mengkaji permasalahan kebahasaan yang terdapat dalam wacana lingkungan dalam media massa di Indonesia, yakni mengenai disfemisme. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dari majalah Gatra, Tempo, Trust, harian Kompas, Kabar Indonesia, Media Indonesia, Suara Merdeka, dan Surabaya Pagi, portal Antara, Vivanews, Detiknews, Metronews, dan Okezone menggunakan metode simak, dengan teknik lanjutan berupa teknik catat. Namun, data tersebut dibatasi hanya seputar permasalahan tentang polusi, pencemaran, dan reservasi lingkungan. Analisis data dilakukan menggunakan metode agih dan metode padan dengan teknik lanjutan berupa teknik substitusi dan parafrase. Bentuk satuan ekspresi disfemisme yang digunakan oleh media massa di Indonesia pada wacana lingkungan ada empat macam, yaitu kata, frase, klausa, dan kalimat. Satuan ekspresi yang berbentuk kata, yaitu berupa kata dasar, kata turunan dan kata majemuk.Satuan ekspresi disfemisme berbentuk kata turunan, yaitu kata turunan berkategori nomina, verba, dan ajektiva. Satuan ekspresi disfemisme yang berbentuk frase, yaitu frase nomina, frase ajektiva, dan frase verba. Referensi disfemisme yang ditemukan berkaitan dengan manusia, tumbuhan, binatang, tanah, nuklir dan material beracun, sampah dan limbah, polusi, perusakan habitat alami, kepunahan spesies, dan tabu. Fungsi-fungsi satuan ekspresi disfemisme ada dua belas macam, yaitu (1) mengungkapkan kemarahan atau kejengkelan, (2) mengkritik, (3) menyindir, (4) menuduh atau menyalahkan, (5) mengeluh, (6) menyampaikan informasi, (7) menghina, mengejek atau mempertajam penghinaan, (8) memperingatkan, (9) menunjukkan ketidaksetujuan, (10) menunjukkan rasa tidak suka, (11) melebih-lebihkan, dan (12) menunjukkan bukti.
MENILIK ULANG KAMUS BAHASA SUMBAWA INDONESIA KARYA USMAN AMIN DAN A. HIJAZ H.M. NFN Kasman
MABASAN Vol. 7 No. 2 (2013): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v7i2.176

Abstract

Tulisan ini sebagai masukan terhadap keberadaan Kamus Bahasa Sumbawa-Indonesia yang ditulis oleh Usman Amin dan A. Hijaz H.M. Tulisan ini mencoba menilik kembali kamus yang dimaksud karena masih terdapat beberapa hal yang perlu ditambahkan dalam kaitannya dengan kaidah-kaidah perkamusan. Hal ini dipadang wajar karena penulis kamus tidak berlatar belakang pendidikan kebahasaan.Metode pengumpulan data yang digunakan dalam kajian ini adalah metode pustaka, sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode ekstralingual dan metode padan intralingual.Berdasarkan analisis data yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kamus tersebut masih terdapat beberapa kesalahan terutama yang terkait dengan kaidah-kaidah kebahasaan dan kaidah perkamusan.Kekurangan kamus tersebut, antara lain: penulisan penggunaan transkrip fonemik bahasa Samawa yang masih menyamakan antara ketiga fonem /ě/, /é/, dan /e/ padahal dalam bahasa Samawa ketiga fonem tersebut masing-masing berdiri sendiri; pembagian morfem afiks dalam bahasa Samawa yang masih tidak sesuai dengan jumlah afiks yang sebenarnya, pemenggalan kata yang belum tepat, penulisan katagori kata tiap entri yang belum ada, dan lain-lain.
PERSPEKTIF MAHASISWA DALAM PERMASALAHAN PENGGUNAAN BUKU TEKS BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH DASAR Syaifur Rochman
MABASAN Vol. 7 No. 2 (2013): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v7i2.177

Abstract

Buku teks disiapkan dengan cara memilih bahan-bahan yang memiliki nilai permanen dan orisinal. Berbagai macam buku teks disiapkan untuk subyek yang berbeda dengan latar belakang pendidikan yang beragam, seperti bahasa Inggris untuk sekolah dasar. Saat ini, buku teks bahasa Inggris sangat penting. Artikel ini bertujuan untuk melihat masalah-masalah dan mencari solusi dalam penggunaan buku teks untuk siswa sekolah dasar di wilayah Purwokerto, Jawa Tengah. Data diperoleh dari hasil Diskusi Kelompok Terpusat (FGD) di antara mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang sedang mengambil mata kuliah Penelitian Tindakan Kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks tidak sejalan dengan kebutuhan siswa. Menghasilkan uang adalah tujuan utama dalam penggunaan buku teks. Kualitas buku teks buruk dan isinya tidak berkaitan satu sama lain. Selain itu, tidak ada perhatian khusus yang diberikan untuk metode pengajaran; ketiadaan gambar-gambar dan ilustrasi yang diperlukan; dan banyak kesalahan bahasa dan penulisan.
PENERJEMAHAN MANUSKRIP DI LOMBOK: SUATU USAHA UNTUK MEMAHAMI NILAI BUDAYA SASAK Safoan Abdul Hamid
MABASAN Vol. 7 No. 2 (2013): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v7i2.178

Abstract

Manuskrip atau naskah kuno merupakan salah satu artefak warisan nenek moyang yang sangat berharga karena di dalamnya tersimpan jejak sejarah, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai budaya masa lalu. Pulau Lombok dikenal menyimpan banyak koleksi manuskrip baik yang tersimpan di museum maupun yang berada di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan preservasi fisik dan non-fisik manuskrip – preservasi kandungan. Makalah ini bertujuan untuk menawarkan sebuah gagasan bahwa penerjemahan teks manuskrip merupakan salah satu usaha untuk memahami nilai-nilai budaya masyarakat Sasak. Penerjemahan dianggap sebagai-bagian dari upaya preservasi manuskrip secara non-fisik. Data-data dalam kajian ini dikumpulkan melalui studi lapangan di desa Sakra tempat disimpannya beberapa manuskrip berbahan lontar. Hasil wawancara dengan pemilik manuskrip dan penduduk sekitar menunjukkan bahwa manuskrip-manuskrip tersebut sarat akan nilai-nilai budaya seperti nilai hubungan manusia dengan Tuhan dan nilai hubungan manusia dengan sesama. Data pendukung dikumpulkan melalui kajian pustaka terhadaap berbagai referensi tertulis. Data-data itu kemudian dianalisis untuk mendukung tema kajian ini. Masyarakat tidak dapat mengambil manfaat dari keberadaan manuskrip itu karena kendala bahasa dan aksara. Hanya segelintir orang yang dapat memahami teksnya karena bahasa dan aksara yang digunakan tidak dipakai lagi di tengah-tengah masyarakat Sasak. Penerjemahan manuskrip Sasak pernah dilakukan tapi tidak ada keberlanjutan disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengkajian dan penerjemahan manuskrip serta sedikitnya ahli yang memahami bahasa dan aksara manuskrip yang dikenal dengan aksara jejawan. Dapat disimpulkan bahwa pemerintah perlu membentuk bidang atau lembaga yang khusus bertugas untuk mengkaji dan menerjemahkan manuskrip serta melanjutkan pengajaran aksara jejawan sebagai muatan lokal di tingkat sekolah dasar.
KARYA SASTRA YANG TUMBUH DAN BERKEMBANG DALAM MASYARAKATTUTUR BAHASA BALI DI LOMBOK: SUATU KAJIAN BANDINGAN GEOGRAFIS Nining Nur Alaini
MABASAN Vol. 7 No. 2 (2013): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v7i2.179

Abstract

Masyarakat yang mendiami wilayah-wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Barat sangat majemuk. Pulau Lombok didiami oleh empat suku bangsa yang besar, di samping berbagai kelompok suku bangsa pendatang baru. Keempat suku tersebut adalah suku bangsa Sasak, Bima, Sumbawa dan suku bangsa Bali. Keberadaan masing-masing komunitas ditandai oleh identitas yang berbeda, yang salah satunya berwujud bahasa dan sastra. Dapat dikatakan bahwa setiap daerah yang mempunyai bahasa daerah sangat mungkin mempunyai sastra daerah. Adanya variasi-variasi bahasa yang digunakan di masing-masing wilayah sangat memungkinkan hidupnya karya-karya sastra yang juga khas di wilayah bahasa tersebut. Demikian juga dengan komunitas Bali yang menetap di Pulau Lombok. Keberadaan suku Bali di Lombok memperkaya khazanah kesastraan Lombok dengan dibawanya sastra Bali ke Lombok oleh pendatang-pendatang dari Bali tersebut. Perbedaaan sosial budaya dan geografis, menuntut masyarakat pendatang untuk menyesuaikan diri dengan kondisi wilayah baru yang ditempatinya. Dalam beberapa jangka waktu, kita akan menemukan beberapa perbedaan sebagai hasil adaptasi sosial budaya dan lingkungan baru. Hasil adaptasi yang disebut sebagai variasi ini, biasanya juga terjadi dalam karya sastranya. Adanya variasi sosial budaya dan geografis akan diikuti pula dengan munculnya variasi sastra. Dengan melakukan kajian bandingan geografis diharapkan dapat diperoleh gambaran tentang wujud kontak sastra Bali selama masa perjalanannya yang tumbuh dan berkembang dalam komunitas Sasak. 
Sinergisme Nilai, Fungsi, dan Harapan pada Sikap Positif Berbahasa Abdul Rasyid
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v4i1.182

Abstract

Label kekosongan dari manusia Indonesia terhadap pengetahuan, pandangan, dan perilaku positif terhadap bahasa Indonesia akan menjadi pengantar kiamat bagi bahasa Indonesia karena bertumbuh dan berkembangnya bahasa Indonesia sangat bergantung pada pendukung bahasa Indonesia itu sendiri. Dengan demikian, dalam era kekinian, nilai, fungsi, dan harapan yang terdapat dalam sikap positif berbahasa sebaiknya diformulasikan dalam paradigma sinergisme yang kongkret. Artinya, konsep sikap positif tidak hanya menjadi bagian dari doktrin pembinaan kebahasaan dan anjuran bernasionalisme, tetapi harus menjadi media pemberdayaan yang utama dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam hal perilaku berbahasa. Wujud paradigma tersebut adalah konsep yang dapat atau diharapkan menumbuhkan keyakinan, menggugah perasaan, dan mendorong kecenderungan bertindak sehingga sikap positif tidak lagi menjadi sesuatu yang abstrak. Sikap positif adalah kelangsungan, kenyataan, dan kemanfaatan atau konsistensi berbahasa.
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Daerah dalam Memantapkan Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia NFN Asrif
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v4i1.183

Abstract

Bahasa daerah sebagai salah satu kekayaan bangsa memiliki fungsi sebagai alat komunikasi bagi masyarakat pendukungnya. Selain sebagai alat komunikasi intraetnik, bahasa daerah juga berfungsi sebagai pendukung bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia. Atas dasar fungsi ini seharusnya bahasa daerah terus dibina dan dikembangkan dalam rangka memperkukuh ketahanan budaya bangsa. Bahasa daerah sebaiknya tidak lagi diperlakukan sebagai salah satu kebudayaan yang fungsinya dapat diganti oleh fungsi bahasa lain. Pasal 36 UUD 1945 menyebutkan, antara lain, bahwa bahasa daerah yang dipelihara dengan baik oleh para penuturnya akan dihormati dan dipelihara oleh negara karena bahasa-bahasa daerah tersebut merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup. Kebijakan Bahasa Nasional merumuskan bahwa dalam hubungannya dengan perkembangan kehidupan kenegaraan di Indonesia ke arah pemerintahan otonomi daerah serta pentingnya pembinaan dan pelestarian budaya daerah, bahasa daerah perlu diberi kesempatan yang seluas-luasnya memainkan peranan yang lebih besar. Pemantapan keberadaan dan kesinambungan bahasa daerah bertujuan melindungi bahasa daerah yang merupakan salah satu kekayaan bangsa. Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dinamis dapat memanfaatkan kosakata bahasa daerah sebagai pemerkaya kosakata bahasa Indonesia. Sikap ini tidak hanya memantapkan kebudayaan daerah, tetapi juga memantapkan kebudayaan nasional.
Bukti-Bukti Leksikal Pembeda Bahasa Wanokaka dan Anakalang di Sumba NTT I Gede Budasi
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v4i1.184

Abstract

Wanokaka (Wn) and Anakalang (An) languages are two  of the seven languages spoken in Sumba,  East Nusa Tenggara.  Their speakers  live in Central Sumba Regency in East Nusa Tenggara  Province.  Some linguists have considered the two are dialects of Sumba language.  In Budasi’s study (2007 2009), however, both of them were quantitatively proved  as two diffrent languages spoken in the regency. Based on the lexicostatistics analysis and Swadesh’s classification of language, the  relatedness of the two languages was  75,5 %  which means that they belong to language family (They are not in dialects relationship). Both languages were hyphotesized originally from   Proto Wn-An in Sumba Language Group. Based on this hyphothesis, this paper aims at describing qualitatively the the lexical evidences which differ the two  languages. In this  study, the the compartive method was applied. The population of the study were the speakers of the two languages. Three informant samples were selected based on a set of criteria. The instruments of the data gathering were three word lists: Swadesh, Nothofer, and  Holle; and a tape recorder.  Two types of data: secondary and primary,  were collected.  The obtained data  were analysed descriptively and qualitattively. This study concludes that 24.5 %  of the total lexicons identified from the three word lists are  in different forms that differed the two laguages lexically. Thereare two types of findings. The first findings are a number of lexicons which show the forms  of lexical innovation, that is, the forms of cognat sets which show minimum differences in the their phonological patterns; and. The second, is that,  the existance of lexical retentions generated from the Proto Wn-An.  The whole identified evidences  confirmed  the quantitatif data findings mentioned in Budasi’s study (2007 and 2009), that is, the Wn-An are two different languages generated directly from the Proto Wn-An within Sumba language Group.
Inovasi Leksikal Bahasa Bali di Lombok: Kajian Dialektologi I Nyoman Sudika
MABASAN Vol. 4 No. 1 (2010): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v4i1.185

Abstract

Bahasa Bali di Lombok merupakan salah satu dialek dari bahasa Bali di Bali. Berdasarkan pengelompokan daerah pengamatan, bahasa ini terdiri atas dua kelompok dialek, yaitu dialek Pl (dialek pencilan) dan dialek Gtn. Perkembangannya, kedua dialek tersebut mendapat pengaruh yang cukup kuat dari bahasa Sasak atau pun bahasa daerah lain yang ada di Pulau Lombok. Sehubungan dengan itu, tujuan tulisan ini adalah untuk  mendeskripsikan bentuk inovasi leksikal yang terdapat pada bahasa Bali di Lombok dan  mengetahui asal-usul setiap varian dalam kerangka penentuan  tingkat keinovasian pada masing-masing dialek. Inovasi leksikal bahasa Bali di Lombok ditemukan dalam dua bentuk, yaitu inovasi internal dan inovasi eksternal. Inovasi internal dapat berupa bentuk perubahan bunyi, penambahan bunyi, dan penghilangan bunyi. Adapun inovasi eksternal,  bahasa Bali sangat kuat dipengaruhi oleh bahasa Sasak.  Persebaran unsur pungutan dari bahasa Sasak di dalam kedua dialek  itu terjadi secara tidak merata. Ketidakmerataan itu telah memperlihatkan bahwa dalam dialek yang terpencil memperlihatkan pengaruh unsur pungutan bahasa Sasak frekuensinya lebih tinggi dibandingkan dengan keterpengaruhannya pada daerah yang tidak terpencil. Inovasi internal yang dialami daerah dialek Pl yang merupakan daerah pencilan memperlihatkan inovasi internalnya rendah. Di sisi lain, pada daerah dialek Mt yang dekat dengan pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, dan kebudayaan, memperlihatkan inovasi internalnya tinggi.

Page 10 of 28 | Total Record : 277