cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Materi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Sains Materi Indonesia (Indonesian Journal of Materials Science), diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir - BATAN. Terbit pertama kali: Oktober 1999, frekuensi terbit: empat bulanan.
Arjuna Subject : -
Articles 865 Documents
PENGARUH NANOPARTIKEL ZnO TERHADAP STRUKTURMIKRO SEMEN GIGI SENG FOSFAT Tito Prastyo R.; Eriek Wahyu R. W.; Nofrizal Nofrizal; Dwi Wahyu N.; Radyum Ikono; Wahyu Bambang W.; Agus Sukarto; Siswanto Siswanto; Nurul Taufiqu Rochman
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.576 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2012.13.4.4751

Abstract

PENGARUH NANOPARTIKEL ZnO TERHADAP STRUKTURMIKRO SEMEN GIGI SENG FOSFAT. Semen gigi berbasis seng fosfat (Zinc Phosphate Cement) merupakan bahan semen gigi tertua yang masih banyak digunakan hingga kini. Salah satu kelemahan semen gigi berbasis seng fosfat adalah sifat mekanisnya yang cenderung rendah. Pada penelitian ini, nanopartikel ZnO ditambahkan ke semen gigi berbasis seng fosfat dengan hipotesis bahwa akan terjadi penguatan sifat mekanis semen gigi. Penambahan dilakukan dengan variasi fraksi nanopartikel ZnO sebesar 0,1 g, 0,5 g, 1 g dan 1,5 g terhadap semen gigi seng fosfat yang kemudian dilakukan pembanding terhadap semen gigi tanpa penambahan nanopartikel ZnO. Metode yang digunakan berupa pembuatan pellet semen gigi (tebal 4mm dan diameter 4mm)melalui proses pencampuran bahan secara manual dan diakhiri dengan proses pencetakan. Hasil uji karakterisasi kekerasan dan kekuatan sampel pelet menghasilkan nilai yang linier terhadap penambahan nanopartikel ZnO, dimana nilai kekerasan dan kekuatan mengalami kenaikan seiring penambahan fraksi nanopartikel ZnO. Hasil analisis X-Ray Diffractometer (XRD) menunjukan senyawa Zn3(PO4)24H2O dan Senyawa ZnO serta didukung dengan penampakannnya dalam analisis struktur permukaanmenggunakan Scanning ElectronMicroscope (SEM). Semen gigi yangmempunyai nilai kekerasan dan kuat tekan yang tinggi didukung oleh strukturmikro yang mempunyai jumlah crack yang sedikit dan persebaran nano ZnO yang homogen. Penambahan nanopartikel ZnO dapat diaplikasikan untuk meningkatkan nilai kekerasan dan kekuatan dalamsemen gigi.
UJI KINERJA MEMBRAN ULTRAFILTRASI DENGAN BOVINE SERUM ALBUMIN SEBAGAI LARUTAN UMPAN Syahril Ahmad
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 11, No 1: OKTOBER 2009
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.199 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2009.11.1.4541

Abstract

UJI KINERJA MEMBRAN ULTRA FILTRASI DENGAN BOVINE SERUM ALBUMIN SEBAGAI LARUTAN UMPAN. Larutan Bovine Serum Albumin (BSA) pada berbagai suhu, pH, laju alir sirkulasi dan tekanan operasi telah dipakai sebagai larutan umpan dalam rangka mempelajari kinerja membran ultrafiltrasi polisulfon. Membran polisulfon yang dipakai adalah membran serat berongga yang mempunyai Molecular Weight Cut Off (MWCO) sebesar 60 kDa. Pengamatan difokuskan pada parameter fluks dan koefisien rejeksi membran yang diamati dari harga protein yang lolos dan tertahan oleh membran selama proses berlangsung. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa suhu, pH larutan umpan BSA, laju alir sirkulasi dan tekanan operasi dapat mempengaruhi kinerja membran dilihat dari segi fluks dan koefisien rejeksimembran. Suhu larutan umpan yang tinggi akan menurunkan fluks membran tetapi menaikkan koefisien rejeksi membran. Koefisien rejeksi membran semakin besar dan fluks semakin kecil pada pH larutan mendekati titik isoelektris protein. Tekanan larutan umpan yang tinggi akan menaikkan fluks membran tetapi menurunkan koefisien rejeksi membran. Koefisien rejeksi membran semakin kecil dan fluks semakin besar pada kecepatan aliran sirkulasi yang rendah
STUDI FASA TRANSISI KONDUKTOR SUPERIONIK AgI DENGAN HAMBURAN NEUTRON Suminta, Supandi; Kartini, Evvy
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 3, No 1: OKTOBER 2001
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1251.216 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2001.3.1.5253

Abstract

STUDI FASA TRANSISI DALAM KONDUKTOR SUPERIONIK AgI DENGAN HAMBURAN NEUTRON. Analisis struktur kristal konduktor superionik AgI telah dipelajari sebagai fungsi suhu dengan difraksi neutron serbuk. Untuk mengonfirmasi suhu transisi dan mendapatkan informasi tentang fasa transisi AgI, pengukuran kapasitas panas pada suhu transisi AgI telah ditentukan dengan Diffrensial Scanning Calorimetry (DSC). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa suhu transisi dimulai pada suhu 420K, dicapai puncak pada 428,1K (gauss fitting curve), mendekati akhir pada 433K dan berakhir pada sekitar 438K. Berdasarkan hasil analisis DSC, pengukuran intensitas difraksi neutron diambil pada suhu mendekati awal, puncak, mendekati akhir dan daerah suhu akhir transisi berturut-turut yakni; 420K, 429K, 433K dan 439K. Struktur Agl pada proses pemanasan (heating) pada daerah suhu transisi di atas telah ditentukan. Pada suhu 420K s.d 439K terjadi perubahan fasa β ke fasa α dan garam Agl berada dalam campuran dua fasa major yakni bersistem kristal Heksagonal (grup ruang P 63 m c dan model kedudukan Wycoff :2a) dan BCC (grup ruang I m 3 m dan model kedudukan Wycoff : 48j) serta sedikit FCC (grup ruang F -43 m dan model kedudukan Wycoff :4a). Pada suhu awal transisi 420K, diperoleh fraksi massa fasa β : α : γ adalah 79,51 % : 5,69% : 14,80 %. Pada suhu puncak transisi 428K, didapatkan fraksi massa fasa β : α : γ adalah 68,11% : 20,37% : 11,52%. Pada suhu mendekati akhir transisi fasa 433K, menghasilkan fraksi massa fasa β : α : γ adalah 43,77 % : 53,93% : 2,30%. Pada suhu akhir transisi fasa 439K, diperoleh kandungan fraksi massa fasa β : α : γ adalah 6,21 % : 93,46% : 0,33%. Berdasarkan hasil pengukuran DSC, puncak suhu transisi fasa diperoleh pada 155℃ atau 428K yang berkaitan dengan transisi fasa β ke fasa α. Akan tetapi pada kenyataannya pada suhu 428K, kandungan fraksi massa fasa β dan α masing-masing adalah 68,11% dan 20,37% serta sedikit impuritas fasa γ sebesar 11,53%. Pada Suhu mendekati transisi pada 160℃ atau 433 K, kandungan fraksi massa fasa β dan α masing-masing adalah 43,77% dan 53,93% serta sedikit impuritas fasa γ sebesar 2,30%. Hasil analisis menunjukkan bahwa suhu transisi garam AgI yang diperoleh melalui DSC tidak sama dengan suhu transisi perubahan struktur fasa pada konduktor superionik AgI. Hal ini dibuktikan dengan belum tercapainya perubahan struktur fasa β ke fasa α sebesar 50%, dan hasil DSC dicapai puncak suhu transisi pada suhu 428K ± 1.
WAKTU RELAKSASI ELEKTRONIK PADA CaMnO3 Muhammad Fikri Radiyan; Budhy Kurniawan
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.266 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.0.0.5107

Abstract

WAKTU RELAKSASI ELEKTRONIK PADA CaMnO3. Perhitungan waktu relaksasi merupakan salah satu cara untuk menganalisis pengaruh magnetoresistansi terhadap suatu sampel. Perhitungan waktu relaksasi secara teori dilakukan dengan menggunakan data-data rasio magnetoresistansi yang sebelumnya telah diperoleh secara percobaan. Dalam percobaan tersebut telah dilakukan variasi milling dan lama pemanasan untuk pengukuran rasio magnetoresistansi pada sampel CaMnO3. Rasio magnetoresistansi terbaik yang bisa diperoleh dalam percobaan tersebut bernilai Δρ /ρδ= 28% menggunakan proses milling selama 12 jam dan pemanasan pada suhu 1000 °C selama 9 jam. Data tersebut kemudian difittingmenggunakan persamaan y = ax2 untuk selanjutnya dilakukan perhitungan secara teori untuk mencari waktu relaksasi. Waktu relaksasi yang diperoleh dari data tersebut bernilai τ= 4,44 x 10-12 detik.
PENGARUH DOSIS RADIASI DAN KONSENTRASI FOAMING AGENT TERHADAP SINTESIS DAN KARAKTERISTIK HIDROGEL SUPERABSORBEN KOPOLIMER POLIAKRILAMIDA-SODIUM KARBOKSI METIL SELULOSA Tita Puspitasari; Dewi Sekar Pangerteni; Diah Tantri; Sofina Sofyan
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 3: JUNI 2011
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.258 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2011.12.3.4609

Abstract

PENGARUH DOSIS RADIASI DAN KONSENTRASI FOAMING AGENT TERHADAP SINTESIS DAN KARAKTERISTIK HIDROGEL SUPERABSORBEN KOPOLIMER POLIAKRILAMIDA-SODIUM KARBOKSI METIL SELULOSA. Telah dilakukan studi pengaruh dosis radiasi dan konsentrasi foaming agent terhadap sintesis dan karakteristik hidrogel superabsorben berbasis kopolimer poliakrilamida-sodium karboksimetil selulosa (PAAm-ko-CMCNa). Untuk meningkatkan kemampuan rasio swelling hidrogel PAAm-ko-CMCNa ditambahkan senyawa natrium bikarbonat (NaHCO3) yang berfungsi sebagai foaming agent karena mampu membentuk pori dalam matriks polimer. Konsentrasi akrilamida (AAm) dan sodium karboksimetilselulosa (CMCNa) yang digunakan masing-masing adalah 7,5 % dan 3 %, sedangkan konsentrasi NaHCO3 yang digunakan adalah 1%, 2% dan 3%. Sampel diiradiasi pada dosis radiasi 15 kGy, 20 kGy, 25 kGy dan 30 kGy dengan laju dosis 10 kGy/jam. Hidrogel PAAm-ko-CMCNa yang dihasilkan diuji penampilan fisik, fraksi gel, pengaruh waktu dan suhu perendaman terhadap rasio swelling dan nilai Equilibrium Degree Swelling (EDS). Karakterisasi gugus fungsi dilakukan dengan spektrofotometer infra merah (FT-IR). Dari analisis spektrum FT-IR, PAAm-ko-CMCNa menunjukkan puncak baru yaitu gugus N-H dari NH2 berada pada bilangan gelombang 3643 cm-1 dan gugus C=O pada 1782 cm-1. Sedangkan gugus C=C pada 1606 cm-1 mengalami penurunan intensitas serapan, disebabkan ikatan C=C pada AAm membentuk ikatan silang dengan CMCNa. Hasil karakterisasi hidrogel menunjukkan bahwa dosis iradiasi optimal adalah 30 kGy dengan konsentrasi NaHCO3 sebesar 3 %. Nilai EDS diperoleh pada menit ke 240. Hidrogel PAAm-ko-CMCNa yang dihasilkan memiliki rasio swelling yang tinggi seiring dengan meningkatnya suhu dari 27 °C hingga 50 oC.
PRODUKSI ENZIM SELULASE OLEH FUNGI SELULOTIK YANG DIRADIASI SINAR GAMMA DALAM FERMENTASI JERAMI PADI T.R.D. Larasati; N. Mulyana; M. Anggriawan; Y. Effendi
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 16, No 3: APRIL 2015
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.123 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2015.16.3.4232

Abstract

PRODUKSI ENZIM SELULASE OLEH FUNGI SELULOTIK YANG DIRADIASI SINAR GAMMA DALAM FERMENTASI JERAMI PADI. Produksi enzim selulase oleh Trichoderma viride dan Aspergillus niger yang dipapari radiasi sinar Gamma dosis rendah telah dilakukan menggunakan substrat jerami padi dengan metode Solid State Fermentation (SSF). Iradiasi sinar gamma dosis rendah berpengaruh terhadap percepatan aktivitas exo-enzim oleh mikroba. Strain Trichoderma viride dan Aspergillus niger dipapari radiasi sinar Gamma dengan dosis rendah : 0 Gy, 50 Gy, 150 Gy, 250 Gy dan 350 Gy. Parameter proses SSF yang berkaitan dengan dekomposisi enzimatis adalah total fungi, nilai pH, aktifitas enzimselulase, kadar glukosa, dan protein kasar diamati selama 16 hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh iradiasi sinar gamma dosis rendah dan waktu fermentasi terhadap kemampuan enzimatik dengan nilai dosis yang berbeda antar strain. Aspergillus niger memiliki dosis iradiasi terbaik 350 Gy dengan peningkatan produksi enzim selulase sebesar 15,23 U/g Bk, kadar glukosa sebesar 6,25 mg/mL dan kadar protein kasar sebesar 10,1 %. Sedangkan Trichoderma viride memiliki dosis iradiasi optimal 150 Gy dengan peningkatan produksi enzim selulase sebesar 13,23 U/g Bk, dengan kadar glukosa sebesar 5,61 mg/mL dan kadar protein kasar sebesar 9,63% pada waktu fermentasi terbaik 8 hari.
STUDI DIFRAKSI SINAR-X PADUAN Mg-Co-Ni YANG DIBUAT DENGAN METODE PEMADUAN MEKANIK (MECHANICAL ALLOYING) Andon Insani; Hadi Suwarno; Johny Wahyuadi; Wisnu Ari Adi; Eddy S. Siradj
Jurnal Sains Materi Indonesia EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.918 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2006.0.0.4937

Abstract

STUDI DIFRAKSI SINAR-X PADUAN Mg-Co-Ni YANG DIBUAT DENGAN METODE PEMADUAN MEKANIK. Telah dilakukan pembuatan paduan Mg-Co-Ni berskala nano sebagai bahan penyerap hidrogen dengan metode pemaduan mekanik. Paduan dibuat dari serbuk logam magnesium, kobalt dan nikel murni dengan menggunakan SPEX 8000 High Energy Milling (HEM). Vial dan bola yang digunakan terbuat dari bahan SS. Rasio berat bola terhadap sampel (B/S) yang digunakan adalah 1:1. Intensitas puncak-puncak difraksi dan fraksi volume dari Mg berkurang dengan bertambahnya waktu milling, yang disebabkan terbentuknya fasa amorf MgO, MgNi2 dan Mg. Perubahan fraksi volume yang cukup signifikan terjadi pada Mg dari 62,52 % pada 0 jam menjadi 23,91 % pada 40 jam, sedangkan Co dan Ni berubah berturut-turut dari 7,63 % ke 8,61 % dan dari 25,23 % ke 31,24 %. Kecuali Mg, parameter kisi Co dan Ni relatif stabil. Sedangkan ukuran kristal berkurang dengan bertambahnya waktu milling, yaitu Mg dari 29,7 nm pada 0 jam menjadi 6 nm pada 40 jam, Co dari 11 nm menjadi 9,8 nm dan Ni dari 24,5 nm menjadi 22,8 nm. Tetapi paduan Mg3CoNi2 yang diinginkan belum terbentuk yang kemungkinan disebabkan oleh rendahnya energi tumbukan.
MEMBRAN KOMPOSIT POLIETERETER KETON YANG TERSULFONASI ZEOLIT UNTUK APLIKASI SEL BAHAN BAKAR METANOL LANGSUNG Sri Handayani; Eniya Listiani Dewi; Widodo W. Purwanto; Roekmijati W. Soemantojo
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 9, No 1: OKTOBER 2007
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.379 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2007.9.1.4788

Abstract

MEMBRAN KOMPOSIT POLIETERETER KETON YANG TERSULFONASI ZEOLIT UNTUK APLIKASI SEL BAHAN BAKAR METANOL LANGSUNG. Membran komposit organik-anorganik berdasarkan pada H-zeolit yang didespersikan dalam polieter-eter keton tersulfonasi (sPEEK) untuk aplikasi sel bahan-bakar metanol langsung (Direct Methanol Fuel Cell/DMFC) telah disintesis dan dikarakterisasi. Persyaratan membran elektrolit untuk DMFC adalah konduktivitas ionik yang tinggi dan permeabilitas metanol yang rendah. Pembuatan membran komposit yaitu polimer sPEEK dilarutkan dalam n-methyl-2-pyrrolidone (12,5%berat) dan ditambahkan H-zeolit pada konsentrasi tertentu (3%hingga 50%). Analisis XRD menunjukkan H-zeolit adalah berbentuk kristalin dan analisis particle size berukuran rata-rata 4 μm. Konduktivitas ionik dari membran komposit dianalisis menggunakan impedansi spektroskopi solatron 1260 berkisar 0,012 S/cmhingga 0,007 S/cm. Permeabilitas metanol membran diukur menggunakan sel difusi menghasilkan sekitar 10-7 cm2/s. Pemakaian zeolit memberikan peningkatan dalam kestabilan panas pada membran sehingga berpeluang untuk aplikasi DMFC suhu tinggi.
PEMBUATAN ELASTOMER TERMOPLASTIK MENGGUNAKAN INISIATOR POTASSIUM PERSULFATE DAN AMMONIUM PEROXYDISULFATE Dewi Sondari; Agus Haryono; M. Ghozali; Ahmad Randy; Kuntari Adi Suhardjo; Ariyadi B; Surasno Surasno
Jurnal Sains Materi Indonesia Vol 12, No 1: OKTOBER 2010
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.958 KB) | DOI: 10.17146/jsmi.2010.12.1.4589

Abstract

PEMBUATAN ELASTOMER TERMOPLASTIK MENGGUNAKAN INISIATOR POTASSIUM PERSULFATE DAN AMMONIUM PEROXYDISULFATE. Elastomer termoplastik (ETP) adalah bahan polimer yang mempunyai sifat termoplastis dan elastis. Bahan ini mudah dicetak menjadi barang-barang jadi dan didaur ulang, sehingga untuk jangka panjang tidak merusak lingkungan. Telah dilakukan percobaan pembuatan ETP dengan menggunakan dua jenis inisiator yaitu potassium persulfate dan ammonium peroxydisulfate dengan perbandingan antara karet alam terhadap campuran monomer stiren/metil metakrilat %(v/v) sebesar 50 : 50 dan 60 : 40. Proses pembuatan elastomer termoplastik dilakukan dengan metode grafting secara polimerisasi emulsi pada suhu 65 oC selama 6 jam dengan menggunakan sodium dodesil sulfat sebagai emulsifier. Hasil analisis FT-IR menunjukkan bahwa proses grafting telah terjadi dengan munculnya peak baru pada panjang gelombang 1743 cm-1 dan 1519 cm-1 yang menunjukkan adanya gugus karbonil (C=O) dari metil metakrilat dan cincin benzen C=C yang berasal dari stiren. Dari spektrum 1H-NMR tampak adanya peak baru pada δ = 7,1 ppm merupakan proton aromatik dari gugus phenyl yang berasal dari stiren, puncak pada δ = 3,5 ppm tampak proton methoxy dari gugus acrylic yang berasal dari metil metakrilat yang tergrafting dan puncak pada δ = 5,1 ppm merupakan resonansi dari proton methyne yang berasal dari isopren. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi grafting dari metil metakrilat dan stiren terhadap tulang punggung karet alam. Penggunaan inisiator mempengaruhi efisiensi grafting. Inisiator potassium persulfate menghasilkan efisiensi grafting 97,6% sedangkan efisiensi grafting dengan menggunakan inisiator ammonium peroxydisulfate sebesar 90,2%.
PENGARUH PENAMBAHAN BENTONIT PADA SUPERABSORBEN POLIMER KOMPOSIT HIDROGEL BERBASIS SELULOSA Nuri Astrini; Lik Anah; Agus Haryono
Jurnal Sains Materi Indonesia VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011
Publisher : Center for Science & Technology of Advanced Materials - National Nuclear Energy Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.803 KB) | DOI: 10.17146/jusami.2011.13.1.5399

Abstract


Filter by Year

2000 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1: OCTOBER 2022 Vol 23, No 2: APRIL 2022 Vol 23, No 1: OCTOBER 2021 Vol 22, No 2: APRIL 2021 Vol 22, No 1: OCTOBER 2020 Vol 21, No 4: JULY 2020 Vol 21, No 3: APRIL 2020 Vol 21, No 2: JANUARY 2020 Vol 21, No 1: OCTOBER 2019 Vol 20, No 4: JULY 2019 Vol 20, No 3: APRIL 2019 Vol 20, No 2: JANUARY 2019 Vol 20, No 1: OCTOBER 2018 Vol 19, No 4: JULI 2018 Vol 19, No 3: APRIL 2018 Vol 19, No 2: JANUARI 2018 Vol 19, No 1: OKTOBER 2017 Vol 18, No 4: JULI 2017 Vol 18, No 3: APRIL 2017 Vol 18, No 2: JANUARI 2017 Vol 18, No 1: OKTOBER 2016 Vol 17, No 4: JULI 2016 Vol 17, No 3: APRIL 2016 Vol 17, No 2: JANUARI 2016 Vol 17, No 1: OKTOBER 2015 Vol 16, No 4: JULI 2015 Vol 16, No 3: APRIL 2015 Vol 16, No 2: JANUARI 2015 Vol 16, No 1: OKTOBER 2014 Vol 15, No 4: JULI 2014 Vol 15, No 3: APRIL 2014 Vol 15, No 2: JANUARI 2014 Vol 15, No 1: OKTOBER 2013 Vol 14, No 4: JULI 2013 Vol 14, No 3: APRIL 2013 Vol 14, No 2: JANUARI 2013 Vol 14, No 1: OKTOBER 2012 Vol 13, No 3: JUNI 2012 Vol 13, No 2: FEBRUARI 2012 VOL 13, NO 1: OKTOBER 2011 Vol 12, No 3: JUNI 2011 Vol 12, No 2: FEBRUARI 2011 Vol 12, No 1: OKTOBER 2010 Vol 11, No 2: FEBRUARI 2010 Vol 11, No 1: OKTOBER 2009 Vol 10, No 1: OKTOBER 2008 Vol 9, No 3: JUNI 2008 Vol 9, No 2: FEBRUARI 2008 Vol 9, No 1: OKTOBER 2007 Vol 8, No 3: JUNI 2007 Vol 8, No 2: FEBRUARI 2007 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2007 Vol 8, No 1: OKTOBER 2006 Vol 7, No 3: JUNI 2006 Vol 7, No 2: FEBRUARI 2006 EDISI KHUSUS: OKTOBER 2006 Vol 7, No 1: OKTOBER 2005 Vol 6, No 3: JUNI 2005 Vol 6, No 2: FEBRUARI 2005 Vol 6, No 1: OKTOBER 2004 Vol 5, No 3: JUNI 2004 Vol 5, No 2: FEBRUARI 2004 Vol 5, No 1: OKTOBER 2003 Vol 4, No 3: JUNI 2003 Vol 4, No 2: FEBRUARI 2003 Vol 4, No 1: OKTOBER 2002 Vol 3, No 3: JUNI 2002 Vol 3, No 2: FEBRUARI 2002 Vol 3, No 1: OKTOBER 2001 Vol 2, No 3: JUNI 2001 Vol 2, No 2: FEBRUARI 2001 Vol 2, No 1: OKTOBER 2000 Vol 1, No 3: JUNI 2000 Vol 1, No 2: FEBRUARI 2000 Vol 13, No 4: Edisi Khusus Material untuk Kesehatan More Issue