cover
Contact Name
PAIR BATAN
Contact Email
pair@batan.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
pair@batan.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop Radiasi
ISSN : 19070322     EISSN : 25276433     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi terbit dua kali setahun setiap Bulan Juni dan Desember. Penerbit khusus dilakukan bila diperlukan
Arjuna Subject : -
Articles 242 Documents
Nilai Duga Keragaman Genetik, Heritabilitas, dan Korelasi antar Karakter Mutan Rumput Gajah Generasi MV3 Heny Hermawati; Marina Yuniawati Maryono; Dasumiati Dasumiati; Junaidi Junaidi; Irawan Sugoro
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 18, No 1 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2022.18.1.6472

Abstract

Tanaman rumput gajah (Cenchrus purpureus (Schumach.) Morrone) hasil iradiasi sinar gamma yang unggul dan stabil secara genetik dapat diperoleh melalui seleksi. Mutan rumput gajah generasi MV1 dan MV2 belum stabil secara genetik sehingga perlu dilakukan seleksi pada generasi MV3. Seleksi merupakan salah satu tahapan pemuliaan tanaman untuk perbaikan karakter dan dapat dilakukan berdasarkan parameter genetik, yaitu keragaman genetik, heritabilitas, dan korelasi antar karakter. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui nilai duga keragaman, nilai duga heritabilitas, dan korelasi antar karakter mutan rumput gajah generasi MV3. Penelitian dilakukan menggunakan sampel mutan rumput gajah generasi MV3 dengan 18 perlakuan hasil iradiasi (B1D0, B1D1, B1D2, B1D3, B1D4, B1D5, B2D0, B2D1, B2D2, B2D3, B2D4, B2D5, B3D0, B3D1, B3D2, B3D3, B3D4, B3D5) pada generasi MV2 dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai duga keragaman genetik tergolong rendah, sedang, dan tinggi, sedangkan nilai duga heritabilitasnya rendah dan sedang. Koefisien korelasi antar karakter mutan rumput gajah generasi MV3 menunjukkan hasil positif dengan derajat keeratan hubungan lemah, sedang, kuat, dan sangat kuat. Keragaman genetik, heritabilitas, dan korelasi dengan nilai sedang–tinggi (kuat) terdapat pada karakter jumlah daun, jumlah buku batang, berat segar, kandungan bahan kering, abu, dan bahan organik. Karakter tersebut dapat dijadikan sebagai karakter seleksi sehingga berguna untuk acuan dasar proses seleksi mutan rumput gajah generasi MV3. 
Kemajuan Genetik dan Heritabilitas Pada Populasi F2 dari Turunan Mutasi Padi Rojolele Muhammad Hamzah Solim; Khairul Yusuf Nasution
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 18, No 1 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2022.18.1.6726

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman yang muncul pada populasi padi F2 dari hasil persilangan antara induk tanaman mutan (padi lokal: Rojolele) dengan tanaman mutan (padi hasil iradiasi: Rojolele Srinar dan Rojolele Sriten), dan menghitung nilai heritabilitas serta kemajuan genetik populasi F2 hasil persilangan R. Srinar dengan Rojolele (SIR) dan R. Sriten dengan Rojolele (SER). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juli 2021 di rumah kaca dan lahan percobaan Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi, Jakarta. Dua populasi F2 hasil persilangan SIR dan SER, dan tiga induk persilangan digunakan dalam penelitian ini. Secara berurutan, sebanyak 221 dan 204 sampel tanaman SIR dan SER, dan sebanyak 16 tanaman yang mewakili masing-masing induk. Penelitian ini menggunakan analisis skewness dan kurtosis untuk melihat pendugaan aksi gen dan jumlah gen pada populasi F2 persilangan SIR dan SER untuk 5 (lima) karakter, yaitu umur berbunga, tinggi tanaman, panjang malai, panjang daun bendera, dan jumlah anakan. Umur berbunga pada F2 persilangan SIR diduga terdapat aksi gen epistatis komplementer dan melibatkan banyak gen, sedangkan pada karakter lainnya dikendalikan sedikit gen dengan beberapa variasi aksi gen. Kemudian, pada F2 persilangan SER hanya pada jumlah anakan yang dikendalikan oleh banyak gen dengan aksi gen Aditif. Untuk nilai ragam genotipe dan fenotipe pada populasi F2 hasil persilangan SIR dan SER ditemukan nilai yang tinggi sehingga dikategorikan memiliki keragaman yang luas. Kelima karakter agronomi populasi F2 persilangan SIR menunjukkan rentang nilai antara 77,91 sampai 96,73 yang termasuk kriteria heritabilitas tinggi. Kritera yang sama juga ditemukan pada persilangan SER dengan rentang 71,58 sampai 99,36. Lebih lanjut, pada persentase kemajuan genetik (KG), semua termasuk berkriteria tinggi, kecuali pada umur berbunga pada F2 SIR, sedangkan KG populasi F2 SER semua karakter tergolong KG sedang kecuali pada karakter panjang daun bendera dan jumlah anakan.
Uji Daya Hasil Beberapa Galur Mutan Harapan Sorgum Manis (Sweet Sorghum) di Gunung Kidul, Yogyakarta Sihono, SP; W M Indriatama; M Y Maryono; S Human
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 18, No 1 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2022.18.1.6554

Abstract

Sorgum manis memiliki potensi besar untuk dibudidayakan dan dikembangkan di Indonesia karena secara umum bijinya dapat digunakan sebagai sumber pangan alternatif dan cairan (jus) batang dapat dikonversi sebagai bahan baku bioethanol. Pemuliaan tanaman sorgum manis dilakukan dengan teknik mutasi induksi menggunakan radiasi sinar gamma di Pusat Riset dan Teknologi Aplikasi Isotop dan Radiasi (PRTAIR), Organesasi Riset Teknologi Nuklir (ORTN). Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan mutan yang memiliki karakteristik pertumbuhan dan hasil yang lebih baik dari tanaman induknya. Sebanyak 9 galur mutan harapan sorgum manis telah dihasilkan memiliki sifat produksi biji dan biomasa tinggi serta batang lebih manis. Galur-galur mutan harapan tersebut pada musim kemarau 2020 diuji daya hasilnya di Gunung Kidul, Yogyakarta. Galur mutan GH9 menghasilkan biji tertinggi (8.37 t/ha), GH5 memiliki produksi biomassa tertinggi (75.47 t/ha) dan GH1 memiliki kadar nira tertinggi (14.22 % brix).
Penentuan Faktor Koreksi Dosis Radiasi Sinar-X Linac 6 MV Pada Ketidakhomogenan Jaringan Tubuh dengan MCNPX Evi Setiawati; Ridwan Eko Susanto; Fajar Arianto
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 18, No 1 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2022.18.1.6586

Abstract

Salah satu metode untuk menghitung dosis radiasi yang dihasilkan oleh linac adalah dengan menggunakan program simulasi MCNPX. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan karakteristik kurva Percentage Depth Dose (PDD) untuk berkas sinar-x 6 MV dan faktor koreksi dari distribusi dosis akibat adanya ketidakhomogenan jaringan tubuh. Penelitian ini menggunakan fantom jenis ORNL-MIRD phantom (1996 version) yang telah dimodifikasi. Fantom dibedakan menjadi fantom homogen yaitu dengan komposisi air dan jaringan lunak dan fantom nonhomogen dengan komposisi jaringan lunak yang didalamnya terdapat organ paru-paru pada kedalaman 5-14 cm dan jaringan lunak yang didalamnya terdapat organ tulang belakang pada kedalaman 5-10 cm. Luas lapangan penyinaran radiasi 10 x 10 cm2 dengan arah penyinaran radiasi Anterior-Posterior (AP) serta Posterior-Anterior (PA) dengan SSD 100 cm. Dalam penelitian ini didapatkan karakteristik kurva PDD yang sama antara fantom dengan komposisi air dan fantom dengan komposisi jaringan lunak yaitu dosis maksimum berada pada kedalaman 1,5-2,0 cm. Pada fantom nonhomogen yaitu jaringan lunak yang terdapat organ paru-paru mengalami peningkatan dosis dengan deviasi tertinggi sebesar 49,748 % dan keberadaan organ tulang belakang mengalami penurunan dosis dengan deviasi tertinggi sebesar 31,044 %. Rentang faktor koreksi akibat adanya organ paru-paru adalah 0,701-1,663 sedangkan akibat adanya organ tulang belakang adalah 0,586-0,983. 
STERILISASI MIKROBA BUBUK TALC MENGGUNAKAN SINAR GAMMA (Co-60) Misriyani Misriyani; Bambang Poerwadi
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 18, No 1 (2022): DESEMBER 2022
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2022.18.1.6605

Abstract

Kerusakan produk bedak talek umumnya disebabkan oleh pertumbuhan mikroba. Beberapa industri mengatasi masalah ini dengan menggunakan teknik pengawetan iradiasi sinar gamma (Cobalt-60). Penelitian ini mengidentifikasi jumlah mikroba yang tersisa dalam bedak talek dan struktur sel bakteri yang diiradiasi. Pada studi pendahuluan, proses iradiasi dilakukan dengan memberikan dosis iradiasi bedak talek yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0kGy, 5kGy, 7kGy, dan 9kGy yang dilakukan di PT. Rel-ion Bekasi menggunakan sinar gamma irradiator (Co-60), dan dilanjutkan dengan uji mikrobiologi terhadap sisa mikroba dalam bedak talk yang diradiasi yang dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Sains Universitas Brawijaya. Pengujian terdiri dari penghitungan jumlah bakteri dengan metode plate count dan identifikasi struktur sel bakteri dominan menggunakan metode pewarnaan gram dan pengamatan mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bakteri pada bedak talek menurun seiring dengan meningkatnya dosis iradiasi. Identifikasi struktur sel bakteri yang dominan pada bedak talk yang diiradiasi menunjukkan ciri-ciri bakteri Pseudomonas aeruginosa dengan koloni bulat, licin, putih, memberikan pigmen kehijauan pada medium, dan menunjukkan sel bakteri gram negatif, dengan struktur batang, kadang-kadang bergandengan dan bercabang tidak beraturan dan berwarna merah.
Observation of Schrinkage Indications in Excavator’s Bracket Casting Using Film Based Radiography Sugiharto Sugiharto; Harun Al Rasyid Ramadhany
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 19, No 1 (2023): Vol 19, No. 1 (2023): November 2023
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2023.19.1.6975

Abstract

Experimental studies have been conducted to examine the casting quality of the excavator’s bracket sample using film-based conventional radiography. Referenced standards are ASME Section V Article 2 and/or ASME E94 about radiographic examination. There are 26 areas that have been exposured for the entire surface of the bracket sample. Under viewing, area number 13 revealed the most severe defects. Therefore area number 13 is discussed in this study.  Area number 13 of the bracket sample with the thickness of 16 mm was exposured using Co-60 gamma rays radiation source with activity of 80 Ci. The exposure was performed from the distance of 360 mm for 27 second. The D7 medium speed radiographic film was used to record the latent image of the exposured sample. The exposured film was then developed in chemical solutions to convert the latent image into permanent image or radiograph. The radiograph is analyzed using a light viewer to see whether there are any indications in the sample being examined. Under viewing, indications of distributed shrinkage in the casting body were apparently observed. These indications are fall into category of C4 according to the radiograph album of ASME E446 standard for steel casting with thickness up to 2 in. (50.8 mm). Defects of C4 are categorized as bad. The experiment concludes that the casting quality of the excavator’s bracket is poor and it is recommended that the bracket should be repaired and re-tested radiographically. Otherwise, the bracket sample is prohibited to use for services because of unsafe reason.
Gamma Tomography as The Complementary Technique for Pipe Scale Investigation: Field Experiment at Petrochemical Plant Bayu Azmi; Indra Milyardi; Megy Stefanus; Wibisono Wibisono; Fery Hadi Setiawan; Norman Pamungkas; Zulkifli Lubis
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 19, No 1 (2023): Vol 19, No. 1 (2023): November 2023
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2023.19.1.6929

Abstract

             Crack gas flowing from furnace to gasoline fraction tower through BA-106 pipeline. The pipeline has not been inspected for 30 years of operation and it is suspected that there is pipe scale in it. The scaling reduces the inner diameter of the pipe which disrupt the pipeline flow rate that might cause a fatal accident. The scale particles also became impurities in the subsequent process. The information on scale conditions inside the pipeline is needed to determine further action to ensure safety and maintain the productivity of the plant. The gamma scanning technique was conducted at 18 points to diagnose the scaling profile inside the pipe. A collimated 2.96 GBq 137Cs radiation source emits a pencil beam of gamma photons to penetrate the pipe. A NaI(Tl) scintillation detector was placed opposite the gamma source to detect the photons. They were moving in parallel vertically and horizontally for every 10 mm step to get the attenuation profile of the pipe. Furthermore, a tomography scan was performed at selected points with 32 projections data. So far previous experiments were performed in the laboratory and the objects were smaller (less than 500 mm), however, the current experiment was performed in real industrial plants and the object diameter was about 1500 mm. The reconstructed image has been successful in showing the cross-sectional of the pipe that consists of scale inside it. The image was analyzed to get the percentage of the remaining fluid area due to scaling. The remaining fluid area was 56.15% of normal pipe without scale. It was proved that the gamma tomography technique is suitable for pipe scale measurement to get the cross-section visualization of the pipe.
Exploring the Radiation Techniques in Agricultural Wastewater Management Af'ida Khofsoh; Inggit Kresna Maharsih; Ananda Ananda; Ahmad Dody Setiadi; Muhammad Hamzah Solim
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 19, No 1 (2023): Vol 19, No. 1 (2023): November 2023
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2023.19.1.6889

Abstract

Radiation techniques have gained significant attention in the field of agricultural wastewater management due to their effectiveness in treating diverse contaminants. This review aims to explore the effects and applications of radiation techniques, including ultraviolet (UV), gamma-ray, and electron beam (EB). UV radiation utilizes ultraviolet light to break down organic pollutants, disinfect pathogens, and remove pesticides in agricultural wastewater. Besides, gamma radiation involves the use of ionizing radiation to interact with contaminants and induce degradation processes. Furthermore, EB radiation harnesses high-energy to degrade organic compounds in wastewater. The efficacy of radiation techniques in reducing pesticides, pharmaceutical residues, microorganisms or pathogens, and other organic pollutants has been widely demonstrated. These techniques offer advantages such as versatile applicability, precise targeting of contaminants, and the potential for water reuse in various agricultural sectors, such as crop irrigation, livestock farming, and food processing. However, optimizing process parameters, including radiation dose, dose rate, pH, and temperature, are crucial to maximize treatment efficiency. While radiation techniques have proven beneficial in numerous studies, potential environmental impacts must be addressed. Byproducts generated during radiation and their fate should be studied to evaluate their toxicity and persistence. Proper waste disposal, adherence to safety regulations, and monitoring programs are necessary to minimize risks and ensure the safe use of radiation techniques. In conclusion, UV-C radiation effectively use for surface disinfection, pathogen inactivation, certain pesticides and pharmaceutical residues degradation, while gamma-ray more effective than UV-C for microorganism sterilization and inactivation, pesticide and pharmaceutical residues degradation, as well as EB radiation has high dose rate and selective penetration, and the technique also has speed and precision, feasible for practical application. Thus, advancements in technology will further optimize the efficacy and sustainability of radiation-based wastewater treatment processes in agriculture.
Laktosa sebagai Material Dosimeter ESR Dosis Tinggi Budhy - Kurniawan, Dr.; Arif - Rachmanto; Akhmad Rasyid Syahputra; Ade Lestari Yunus; Nunung - Nuraeni
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 19, No 1 (2023): Vol 19, No. 1 (2023): November 2023
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2023.19.1.6798

Abstract

Pemanfaatan iradiasi gamma dalam kehidupan sehari-hari cukup beragam, seperti sterilisasi, pasteurisasi, polimerisasi, mutasi bibit unggul, dan lain sebagainya. Tujuan iradiasi terpenuhi jika dosis dosis iradiasi terpenuhi dan tepat mengenai sampel. Dosis iradiasi yang terserap bahan dapat dipastikan dengan menggunakan dosimeter. Saat ini banyak penelitian menggunakan material baru untuk pengembangan dosimeter dosis tinggi. Penelitian tersebut dilakukan menggunakan Electron Spin Resonance (ESR). Material yang dapat dijadikan dosimeter ESR adalah material tersebut memiliki nilai g-value cukup besar, garis-garis spektrum yang tajam, kestabilan sinyal yang bagus pada temperatur ruang dan jumlah radikal bebas meningkat secara linier terhadap dosis iradiasi. Kriteria ini terdapat pada material disakarida. Jenis disakarida yang sedang diteliti umumnya adalah sukrosa dan laktosa. Namun, penelitian laktosa sebagai dosimeter ESR belum banyak dilakukan. Sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menggali potensi laktosa sebagai dosimeter ESR. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakterisasi laktosa sebagai dosimeter ESR dosis tinggi melalui iradiasi gamma. Pengujian yang dilakukan untuk mengkonfirmasi karakteristik laktosa sebagai dosimeter dosis tinggi adalah linieritas respon laktosa iradiasi terhada dosis iradiasi, microwave power, g-value, waktu kestabilan respon, peluruhan respon terhadap waktu, dan pengujian Fourier Transform Infra Red (FTIR) untuk mengetahui perubahan gugus fungsi laktosa setelah iradiasi yang diduga menjadi penyebab munculnya sinyal ESR.  Laktosa iradiasi memiliki respon linier terhadap dosis iradiasi pada rentang 250Gy – 80 kGy, waktu respon stabil 2 hari setelah iradiasi, g-value laktosa iradiasi 5 kGy,10 kGy dan 15 kGy secara berturut-turut 1,9991 ± 0,0002, 1,9991 ± 0,0003, dan 1,9989 ± 0,0001, terdapat gugus fungsi karbonil pada laktosa iradiasi 15 kGy dengan masa simpan 7 dan 23 hari, dan terdapat gugus fungsi nitro pada laktosa iradiasi 10 kGy dan 15 kGy dengan masa simpan 23 hari.  Hasil tersebut menunjukkan bahwa laktosa baik digunakan sebagai dosimeter ESR dosis tinggi
Kemampuan Fiksasi Nitrogen Varietas Kedelai Batan yang Dikombinasikan dengan Rhizobium Menggunakan Teknik Isotop 15N Nur Robi Fahmi; Winda Puspitasari; Muftia Hanani; Taufiq Bachtiar; Anggi Nico Flatian; Ania Citraresmini
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 19, No 1 (2023): Vol 19, No. 1 (2023): November 2023
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/jair.2023.19.1.6897

Abstract

Rhizobium merupakan jenis bakteri yang mampu mengikat nitrogen bebas yang berada di udara menjadi ammonia (NH3) yang akan diubah menjadi asam amino yang selanjutnya menjadi senyawa nitrogen yang diperlukan tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengukur  kemampuan fiksasi nitrogen varietas kedelai BATAN dan rhizobium dengan menggunakan teknik isotop 15N. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pertanian Ilmu Tanah Badan Tenaga Nuklir Nasional. Sampel diambil dari tanah asal Lombok . Perlakuan yang dicobakan meliputi :1) Varietas Rajabasa + Kontrol (Urea 15N 20 kg N/ha), 2) Varietas Rajabasa + Rhizobium + Urea 15N 20 kg N/ha , 3) Varietas Rajabasa + Urea 15N 100 kg N/ha. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan tidak adanya  perbedaan yang nyata antar semua perlakuan terhadap brangkasan, bobot biji, serapan N brangkasan dan serapan N biji.