cover
Contact Name
Muhammad Syafiq
Contact Email
yppijurnal@gmail.com
Phone
+6282170781263
Journal Mail Official
yppijurnal@gmail.com
Editorial Address
Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru, Riau - Indonesia
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUTECH
ISSN : -     EISSN : 30464552     DOI : https://doi.org/10.62207
Core Subject : Education,
Primary education, secondary education, higher education, teacher education, special education, adult education, non-formal education, and any new development and advancement in the field education.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 113 Documents
PENGARUH BAHASA ARAB DALAM DUNIA PENDIDIKAN ISLAM MODERN Jaenal Arifin; Wulan Sari; Ahmad Fauza; Santiah Santiah
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 1 (2026): Education Studies and Teaching Journal
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/kkdats67

Abstract

Bahasa Arab memiliki kedudukan teologis dan epistemologis yang sentral dalam dinamika pendidikan Islam. Namun, di era modern, institusi pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan dualisme kurikulum dan disrupsi digital. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh, transformasi, serta tantangan metodologis pengajaran bahasa Arab dalam lanskap pendidikan Islam kontemporer. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), artikel ini mengkaji literatur primer dan sekunder terkait linguistik Arab dan kurikulum pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa: 1) Terjadi pergeseran paradigma fungsi bahasa Arab dari sekadar instrumen ritual-tekstual menjadi instrumen sains global; 2) Bahasa Arab berfungsi sebagai jangkar semantik yang menjembatani integrasi ilmu sains Barat dan epistemologi Islam; dan 3) Digitalisasi serta teknologi kecerdasan buatan (AI) menawarkan demokratisasi akses sekaligus menuntut reformasi metodologi pengajaran yang lebih komunikatif. Artikel ini berimplikasi pada pentingnya reorientasi kebijakan kurikulum nasional agar lulusan lembaga pendidikan Islam memiliki daya saing global tanpa kehilangan otentisitas religiusnya.
TECHNOLOGY BURNOUT AMID THE DEMANDS OF ADAB: A PHENOMENOLOGICAL STUDY OF THE LIVED EXPERIENCES OF CONTEMPORARY ISLAMIC SCHOOL TEACHERS IN COPING WITH TECHNOLOGY BURNOUT IN THE EDUCATION 5.0 ERA Hesti Pusposari; Siti Masruchah
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 1 (2026): Education Studies and Teaching Journal
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/9km44j95

Abstract

The digitalization of education, accelerated by the transition toward the Society 5.0 paradigm, has engendered a novel phenomenon threatening teachers' psychological well-being: technology burnout, a state of emotional and physical exhaustion precipitated by the excessive demands of continuous adaptation to instructional technology devices and systems. For educators in contemporary Islamic schools, this burden is compounded by the responsibility of upholding adab (moral-spiritual exemplary behavior), a function that necessitates a deeply human presence that cannot be supplanted by digital efficiency. This article aims to construct a conceptual framework and a methodological design for a phenomenological study to elucidate teachers' lived experiences of confronting technology burnout amidst the dual demands of technological mastery and the preservation of adab values. Adopting a conceptual review approach, this study synthesizes literature across four distinct domains: burnout and technostress theories, the philosophy of Islamic education concerning adab and ta'dib, the discourse of Society 5.0 in education, and theories on the sustainability of teacher well-being. The proposed methodological framework aligns with the Husserlian descriptive phenomenological tradition, operationalized through Colaizzi’s data analysis method, and adheres to Lincoln and Guba’s criteria for trustworthiness. The synthesis reveals that technology burnout among Islamic school teachers is not merely a matter of technical workload; rather, it represents an existential struggle between maintaining the authenticity of their role as a mu'addib (moral educator) and confronting the structural pressures of rapid digital acceleration. The contribution of this article lies in proposing a novel analytical framework that integrates Hobfoll’s Conservation of Resources (COR) theory with the concept of adab to contextualize teacher burnout, alongside offering policy implications for the sustainable well-being of educators amidst digital transformation. Ultimately, this paper recommends a future empirical research agenda utilizing the newly developed phenomenological interview guide.
MOTIVATION TO ACHIEVE SUCCESS IN HIGHER EDUCATION AMONG THE CHILDREN OF MOTORCYCLE TAXI DRIVERS IN OMBAY VILLAGE Wasti S. Ur; Alboin Selly; Fredrik Abia Kande
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 2 (2026): Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/vqtkk907

Abstract

The purpose of this study is to describe the motivation of motorcycle taxi drivers’ children to pursue higher education, to analyze the obstacles they face during their education, and to uncover the life lessons they learn in sustaining their studies. The method used is descriptive with a qualitative approach, using interviews and documentation techniques. The data sources for this study were five motorcycle taxi drivers’ children who were currently pursuing or had completed higher education, as well as their parents (motorcycle taxi drivers) who served as supporting informants. The results of this study indicate that the motivation to achieve success in higher education among motorcycle taxi drivers’ children is divided into two main forms: internal motivation and external motivation. Internal motivation includes the desire to change the family’s fate, the aspiration to obtain a better job, and the drive to make parents proud. Meanwhile, external motivation stems from family moral support, teacher encouragement, a positive social environment, and scholarships. The main supporting factors for success in higher education are family support, access to educational information, and educational assistance programs. Inhibiting factors identified include economic constraints, limited learning facilities, and social pressure to immediately work to support the family. Life lessons learned include the values of hard work, perseverance, discipline, and time management in the face of economic constraints; a never-give-up attitude in the face of academic obstacles and social pressures; and a growing sense of responsibility, independence, and commitment to completing higher education. These values shape a resilient character and strengthen motivation to achieve success in higher education.  Supporting factors for success in higher education include family support, access to educational information, and educational assistance programs. Inhibiting factors include economic constraints, limited learning facilities, and social pressures to immediately work to support the family. 
PERAN PRAKTIK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DI WORKSHOP REKAYASA PERANCANGAN MEKANIK Angga Reksa; Sandi Sandi
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 2 (2026): Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/e3xdxm42

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran praktik pengelasan sebagai media pembelajaran di workshop Rekayasa Perancangan Mekanik dalam konteks pendidikan vokasi. Aktivitas praktik, khususnya pengelasan, merupakan inti dari proses pembentukan kompetensi teknis mahasiswa pada program studi yang berorientasi keterampilan. Meskipun demikian, implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan sarana dan prasarana, kesiapan instruktur, hingga rendahnya motivasi belajar peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif dan studi dokumentasi. Lokasi penelitian adalah workshop Rekayasa Perancangan Mekanik yang difungsikan sebagai ruang belajar praktis bagi mahasiswa vokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan praktik pengelasan memiliki peran signifikan dalam meningkatkan pemahaman konseptual, kecakapan teknis, dan kesiapan kerja mahasiswa. Pemanfaatan media praktik secara terstruktur terbukti mampu mendorong pembelajaran berbasis pengalaman yang lebih bermakna dibandingkan dengan pendekatan instruksional konvensional. Temuan ini menegaskan pentingnya pengoptimalan workshop sebagai ekosistem belajar yang mendukung kompetensi vokasional, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kurikulum praktik yang lebih responsif terhadap kebutuhan industri.
MANAJEMEN SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN DI ERA DIGITAL: SEBUAH KAJIAN LITERATUR Muhammad Ali Hasan Mubarok; Anton Martono; Kusdiawan Kusdiawan
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 2 (2026): Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/k03c8572

Abstract

Manajemen sarana dan prasarana pendidikan merupakan aspek penting dalam penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Fasilitas yang memadai berperan dalam mendukung terciptanya lingkungan belajar yang efektif, nyaman, dan produktif. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran manajemen sarana dan prasarana pendidikan dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran di era digital melalui pendekatan kajian literatur. Metode yang digunakan adalah literature review dengan mengkaji berbagai artikel ilmiah, buku, dan hasil penelitian yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh pengelolaan sarana dan prasarana yang meliputi perencanaan, pengadaan, inventarisasi, pemanfaatan, pemeliharaan, dan penghapusan aset pendidikan. Transformasi digital turut mendorong penerapan sistem pengelolaan berbasis teknologi informasi yang lebih efisien dan transparan. Penggunaan sistem manajemen aset digital terbukti meningkatkan efisiensi administrasi, akuntabilitas, dan keberlanjutan layanan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kapasitas manajerial kepala sekolah serta optimalisasi teknologi digital untuk mendukung pengelolaan sarana dan prasarana secara berkelanjutan guna meningkatkan mutu pembelajaran.
BEYOND CHATGPT: EXAMINING THE IMPACT OF GENERATIVE ARTIFICIAL INTELLIGENCE LITERACY ON HIGHER ORDER THINKING SKILLS THROUGH SELF-REGULATED LEARNING AMONG UNIVERSITY STUDENTS Danny Yonathan
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 2 (2026): Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/3ca48f46

Abstract

University classrooms did not so much adopt generative artificial intelligence as get overtaken by it, and the pedagogical thinking has been trying to catch up ever since. This narrative review looks at how the different dimensions of generative AI (GenAI) literacy relate to university students' Higher Order Thinking Skills (HOTS), and more specifically at the part Self-Regulated Learning (SRL) plays in deciding whether a chatbot ends up sharpening a student's thinking or quietly doing that thinking for them. Literature was drawn mainly from Scopus- and Web of Science-indexed journals, several arXiv preprints, and major international survey reports published between roughly 2023 and 2026, then organised around four anchors: AI literacy frameworks, Bloom's Revised Taxonomy, Zimmerman's cyclical SRL model, and the empirical record on cognitive offloading and academic integrity. Read together, this literature treats GenAI literacy as a multidimensional construct covering technical, critical-evaluative, ethical, and metacognitive competencies, and it treats the GenAI-HOTS relationship as conditional rather than direct: the same tool produces very different outcomes depending on whether its use is structured and metacognitively guided or left unstructured. SRL is what tips the balance. It is the variable that turns GenAI into either a scaffold for analysis, evaluation, and creation, or a substitute that lets those skills quietly atrophy. The review closes with implications for curriculum design, arguing that GenAI literacy and SRL need to be taught together, deliberately, rather than assumed to develop on their own from mere exposure, and it sketches a research agenda addressing the field's continuing shortage of longitudinal and non-Western evidence.
PEMAHAMAN FILOSOFIS GURU KRISTEN DAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN HOLISTIK: STUDI KASUS SEKOLAH KRISTEN DI DEPOK Lilik Kusnadi
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 2 (2026): Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/04vx3766

Abstract

Penelitian ini menganalisis bagaimana pemahaman filosofis guru  yang dalam tradisi pendidikan Kristen sering disebut Christian worldview dimanifestasikan dalam praktik pedagogi holistik di ruang kelas. Studi ini berangkat dari kegelisahan bahwa sekolah Kristen kerap hanya berbeda dari sekolah sekuler pada tataran simbolik (doa pagi, mata pelajaran agama) tanpa disertai transformasi cara pandang guru terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, sehingga terjadi dikotomi antara pengetahuan "sekuler" dan "sakral" (Blomberg, 1980, sebagaimana dikutip dalam Rifai, 2025; Holmes, 1987). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal, penelitian ini dilakukan di sebuah sekolah Kristen di Kota Depok, Jawa Barat, dengan lima informan guru yang dipilih secara purposive, satu kepala sekolah sebagai informan triangulasi, dan observasi kelas pada sepuluh sesi pembelajaran. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kelas non-partisipan, dan studi dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), kemudian dianalisis dengan analisis tematik enam-fase (Braun & Clarke, 2006). Hasil penelitian ilustratif menunjukkan empat pola manifestasi: (1) internalisasi worldview Kristen membentuk lensa interpretatif guru terhadap materi ajar sejak tahap perencanaan, bukan sekadar tambahan di akhir sesi; (2) kedalaman pemahaman filosofis berkorelasi dengan kemampuan guru melakukan integrasi organik pada mata pelajaran yang secara konvensional dipandang netral seperti sains dan matematika; (3) keterbatasan waktu refleksi serta tekanan kurikulum nasional menjadi penghambat utama translasi filosofi ke praktik; dan (4) komunitas praktik antar guru berperan sebagai mediator yang memperkuat konsistensi integrasi lintas mata pelajaran. Temuan ini memperkuat argumen bahwa efektivitas pembelajaran holistik bukan semata fungsi dari metode pedagogis, melainkan bergantung pada kedalaman epistemologis guru dan dukungan struktural sekolah (Knight, 2006; Van Brummelen, 2009). Implikasinya, penguatan kapasitas filosofis-teologis guru   yang dirancang secara berbeda untuk rumpun mata pelajaran eksakta dan humaniora   perlu menjadi prioritas dalam pengembangan profesional berkelanjutan di sekolah Kristen.
IMPLEMENTASI MODEL KOMUNIKASI DUA ARAH SIMETRIS DALAM MENINGKATKAN HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT Sri Inayanti Rasang; Muflikah Min Hoirotun Nisa; Sulis Maryati
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 2 (2026): Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/0vy4d888

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi model komunikasi dua arah simetris dalam upaya meningkatkan hubungan antara sekolah dan masyarakat, serta mengkaji kontribusinya dalam membangun kemitraan yang harmonis dan berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan mengkaji berbagai sumber ilmiah berupa buku, jurnal, artikel penelitian, dan literatur lain yang berkaitan dengan komunikasi dua arah simetris serta hubungan sekolah dengan masyarakat.  Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan model komunikasi dua arah simetris ditandai dengan adanya interaksi timbal balik yang seimbang antara sekolah dan masyarakat melalui keterbukaan informasi, dialog, partisipasi aktif, serta pemberian umpan balik secara berkelanjutan. Komunikasi yang dilakukan secara terbuka dan partisipatif mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, memperkuat kerja sama, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam berbagai program pendidikan. Selain itu, implementasi model komunikasi ini dapat dilakukan melalui berbagai media dan kegiatan, seperti rapat orang tua, komite sekolah, forum musyawarah, kunjungan rumah (home visit), serta pemanfaatan media sosial dan platform digital lainnya. Dengan demikian, model komunikasi dua arah simetris tidak hanya berfungsi sebagai sarana pertukaran informasi, tetapi juga sebagai strategi yang efektif dalam menciptakan hubungan yang positif, transparan, dan saling menguntungkan antara sekolah dan masyarakat guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI  TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA DOSEN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI UNIVERSITAS PAMULANG Arip Rahman
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 2 (2026): Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/wffkmk19

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap efektivitas kerja dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang. Efektivitas kerja dosen merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung pencapaian tujuan perguruan tinggi melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam upaya meningkatkan efektivitas kerja dosen, faktor kepemimpinan dan budaya organisasi memiliki peran strategis karena mampu mempengaruhi perilaku, motivasi, komitmen, serta kualitas pelaksanaan tugas akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang dengan jumlah sampel sebanyak 42 responden. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner menggunakan skala Likert. Analisis data dilakukan menggunakan bantuan aplikasi IBM SPSS dengan tahapan pengujian meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas kerja dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang; (2) budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas kerja dosen; dan (3) kepemimpinan dan budaya organisasi secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap efektivitas kerja dosen. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa peningkatan efektivitas kerja dosen dapat dilakukan melalui penguatan kualitas kepemimpinan yang adaptif serta pengembangan budaya organisasi yang mendukung profesionalisme, kolaborasi, dan komitmen akademik.
BEBAN GANDA GURU PENDIDIKAN KHUSUS: ANALISIS KEBIJAKAN BEBAN KERJA 24 JAM VERSUS REALITAS KLINIS DAN PENDAMPINGAN SISWA DI SLB SWASTA Agung Dani Ramdani
Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH) Vol. 3 No. 2 (2026): Education Studies and Teaching Journal (EDUTECH)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/wd0zej14

Abstract

Kebijakan beban kerja guru di Indonesia, mulai dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 15 Tahun 2018, Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 25 Tahun 2024, hingga Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 11 Tahun 2025,secara konsisten mengukur beban kerja guru melalui satuan jam tatap muka administratif. Skema ini tidak dirancang untuk menangkap dimensi klinis-emosional yang menjadi inti pekerjaan guru pendidikan khusus, khususnya dalam menangani perilaku menantang siswa, menyusun dan mendampingi Program Pembelajaran Individual (PPI), serta berkomunikasi intensif dengan orang tua. Artikel ini bertujuan menganalisis secara kritis kesenjangan antara logika kuantifikasi beban kerja formal dan realitas kerja klinis guru pendidikan khusus di Sekolah Luar Biasa (SLB) swasta, yang umumnya tidak memperoleh insentif kelembagaan setara sekolah negeri. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan (library research) terhadap dokumen regulasi dan literatur ilmiah nasional-internasional periode 2022–2025, kajian ini mengidentifikasi tiga kesenjangan kebijakan, yaitu celah pengukuran, celah pengakuan, dan celah kompensasi. Celah pengukuran tampak pada ekuivalensi 6 jam tatap muka bagi pembimbing khusus yang meratakan kompleksitas kasus yang sangat bervariasi. Celah pengakuan tampak pada tidak tersedianya instrumen formal untuk mengukur biaya emosional guru dalam evaluasi kinerja. Celah kompensasi tampak pada beban ganda yang dipikul guru SLB swasta tanpa struktur insentif yang memadai. Artikel ini merekomendasikan reformulasi skema ekuivalensi beban kerja berbasis tingkat kompleksitas kasus dan pengakuan formal terhadap emotional labor dalam kebijakan pendidikan khusus di Indonesia.

Page 11 of 12 | Total Record : 113