cover
Contact Name
Arthur Huwae
Contact Email
arthur.huwae@uksw.edu
Phone
+6282237602090
Journal Mail Official
arthur.huwae@uksw.edu
Editorial Address
Gedung H-Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro No. 52-60 Kota Salatiga 50711 Jawa Tengah
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Wacana Psikokultural
ISSN : -     EISSN : 30316626     DOI : https://doi.org/10.24246/jwp.v3i1
Jurnal Wacana Psikokultural, merupakan jurnal ilmiah dalam bidang ilmu psikologi yang terbit dua kali dalam setahun. Jurnal Wacana Psikokultural menjadi sarana publikasi hasil kajian penelitian di bidang psikologi lintas budaya, secara khusus naskah artikel pengetahuan dan hasil penelitian dalam memepelajari individu dari beragam budaya. Namun demikian, jurnal Wacana Psikokultural juga menerima naskah di bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), Psikologi Pendidikan, Psikologi Sosial, Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan, Psikologi Kognitif, Neuropsikologi, Psikometri, dan atau Psikologi Eksperimen
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2025)" : 6 Documents clear
A,The Makna dan Standar Kebahagiaan Masyarakat Jawa : Makna dan Standar Kebahagiaan Masyarakat Jawa studi Psikologi Indigenous nazil fuzana; Muna Erawati
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.17133

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna dan standar kebahagiaan dalam masyarakat Jawa melalui pendekatan psikologi indigenous. Kebahagiaan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia yang sering kali dimaknai secara berbeda oleh tiap individu, tergantung pada latar budaya dan pengalaman hidupnya. Menggunakan metode kualitatif dengan teknik angket terbuka dan pendekatan analisis isi, penelitian ini melibatkan 130 responden dari berbagai usia dan latar belakang pekerjaan di Pulau Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memaknai kebahagiaan sebagai kondisi batin yang tenang dan nyaman (34,62%), serta rasa syukur dan keikhlasan (16,15%). Faktor utama yang membuat individu merasa bahagia adalah keberadaan keluarga (70,77%), disusul oleh orang terdekat dan diri sendiri. Alasan utama pentingnya kebahagiaan dikaitkan dengan kesehatan fisik dan mental, serta peningkatan kualitas hidup. Temuan ini menegaskan bahwa makna kebahagiaan masyarakat Jawa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya lokal seperti harmoni sosial (rukun), penerimaan (nrimo), dan rasa syukur (syukur). Penelitian ini menekankan pentingnya pemahaman kontekstual dalam melihat kebahagiaan sebagai bagian dari kesejahteraan psikologis, sehingga intervensi yang dilakukan sebaiknya disesuaikan dengan nilai dan budaya lokal.
Sunyi di Tengah Keramaian: Makna Pengalaman Phubbing bagi Mahasiswa dalam Interaksi dengan Teman Sebaya Sinta Puspita Sari; Suwanda Priyadi
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.18026

Abstract

Di era digital yang semakin terhubung, banyak individu justru merasa terputus karena kehadiran digantikan oleh layar ponsel. Penelitian ini mengkaji fenomena phubbing, yaitu tindakan mengabaikan interaksi tatap muka karena fokus pada ponsel, dalam konteks relasi sosial mahasiswa dengan teman sebaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi perilaku phubbing dalam interaksi mahasiswa. Partisipan terdiri dari empat mahasiswi Fakultas Psikologi di Surakarta berusia 18–23 tahun, pengguna aktif media sosial, dan menggunakan ponsel lebih dari lima jam per hari. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi, pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur dan observasi, serta analisis data menggunakan DPA (Descriptive Phenomenological Analysis). Hasil penelitian menghasilkan lima tema utama: makna kehadiran penuh, kebutuhan akan lingkungan sosial yang nyaman, penggunaan ponsel sebagai regulasi emosi dalam interaksi sosial, kesadaran akan dampak penggunaan ponsel, dan refleksi diri serta empati sebagai penggerak perubahan sikap. Phubbing tidak hanya mengganggu komunikasi verbal, tetapi juga menimbulkan luka emosional seperti perasaan tidak dihargai dan terputusnya koneksi sosial. Kesadaran dan empati mendorong partisipan untuk membangun interaksi yang lebih hangat dan bermakna. Temuan ini berkontribusi dalam mendorong budaya komunikasi digital yang lebih sehat di lingkungan pendidikan tinggi.
Gambaran Relasi Sosial antara Penerima Manfaat Wanita Tuna Susila dengan Pekerja Sosial Ananda Ayu Rama Astika; Agung Iranda; Dessy Pramudiani
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.18107

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan relasi sosial serta faktor- faktor yang memengaruhi interaksi antara penerima manfaat Wanita Tuna Susila (WTS) dengan pekerja sosial Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, melibatkan partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling, terdiri dari penerima manfaat WTS dan pekerja sosial. Data dikumpulkan melalui observasi serta wawancara mendalam, kemudian dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi sosial terbentuk melalui delapan tema utama, yaitu bimbingan, fasilitasi, kedekatan, kepercayaan, penolakan, penguatan, komunikasi, dan kerja sama. Faktor-faktor yang memengaruhi relasi tersebut mencakup profesionalisme pekerja sosial dalam memberikan layanan serta kondisi internal penerima manfaat, seperti kesiapan dan keterbukaan dalam proses rehabilitasi. Dengan demikian, relasi sosial antara penerima manfaat dan pekerja sosial dimaknai sebagai proses dinamis yang dipengaruhi oleh interaksi dua arah serta faktor kontekstual, yang berperan penting dalam mendukung keberhasilan rehabilitasi.
Dampak Fatherless Pada Emosi Anak Remaja Nadiatul Hikmah; Sri Nurhayati Selian
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.18484

Abstract

Fenomena fatherless atau ketidakhadiran figur ayah semakin banyak dijumpai di masyarakat modern, terutama akibat perceraian, kematian, atau ketidak terlibatan emosional ayah dalam keluarga. Kondisi ini berpotensi memengaruhi perkembangan emosi dan kepribadian remaja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman emosional remaja yang hidup tanpa kehadiran ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis, data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap tiga remaja berusia 15–16 tahun di Banda Aceh. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami kondisi fatherless bukan hanya berdampak pada aspek sosial dan akademik tetapi juga berdampak pada emosional yang beragam, mulai dari penarikan diri, kemarahan, hingga ekspresi kreatif, selain itu remaja farherless juga bergantung pada protektif lingkungan dan strategi coping individu. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan emosional keluarga dan layanan konseling bagi remaja fatherless agar mampu membangun keseimbangan emosi, konsep diri positif, serta resiliensi dalam menghadapi tantangan perkembangan psikologisnya  
Persepsi Generasi Z terhadap Tantangan Pembentukan Identitas Nasional di Era Digital: Studi Kualitatif Deskriptif Fredo Sinaga
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.18696

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi Generasi Z mengenai tantangan pembentukan identitas nasional di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan lima mahasiswa berusia 18-22 tahun yang aktif menggunakan media sosial minimal tiga jam per hari. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan empat tema utama, yaitu identitas nasional dianggap penting namun masih abstrak dalam penerapannya; media sosial menjadi agen pembentuk identitas yang dominan; paparan budaya global memberikan peluang sekaligus tantangan bagi penguatan identitas nasional; serta adanya kebutuhan pengemasan budaya Indonesia agar lebih modern dan sesuai dengan tren digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Generasi Z memiliki kesadaran mengenai identitas nasional, namun internalisasi nilai masih belum stabil akibat adanya kompetisi budaya pada ruang digital. Temuan ini menekankan pentingnya inovasi pendidikan kewarganegaraan dan strategi digital budaya untuk memperkuat identitas nasional di kalangan generasi digital native..
EFEKTIVITAS PROGRAM SQ3R TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN MEMBACA SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR Arthur Huwae; Putri Pratiwi Lessy; Dhenisa Titis Eksa Putri; Ruby Bulan Prabandari; Ruly Feby Kurniasari; Anugrah Imam Sarwono; Yemima Joy Christina; Darrel Samuel Maukar; Yemima Claudya Br Sembiring; Shella Monica Santoso; Bencarel Reinhard Soputan Vici; Rizky Chandra
Wacana Psikokultural Vol 3 No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/jwp.v3i1.19545

Abstract

The inability to read is one of the major problems frequently encountered in elementary school education, particularly among upper-grade students. This condition can have significant consequences when students continue their education to the next level. One approach considered effective in improving reading ability is the application of the SQ3R strategy. This study aims to enhance the reading comprehension of sixth-grade students at SDN Kutowinangun 8 Salatiga through SQ3R training methods. The research employed a quantitative experimental approach using a one-group pretest–posttest design. A total of 35 sixth-grade students participated in this study. The instruments used included an SQ3R training module as well as pretest and posttest sheets to measure improvements in students’ reading comprehension. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. The results indicate that SQ3R training is effective in improving the reading comprehension of sixth-grade students at SDN Kutowinangun 8 Salatiga. These findings suggest that reading comprehension is a crucial skill for sixth-grade students at SDN Kutowinangun 8 Salatiga, as it helps them adapt to subsequent levels of education.

Page 1 of 1 | Total Record : 6