cover
Contact Name
Jelita Sihite
Contact Email
jurnal@sttiksm.ac.id
Phone
+6281288907513
Journal Mail Official
jurnal@sttiksm.ac.id
Editorial Address
Santosa Asih Jaya Pt., RT.5/RW.3, Balekambang, Kec. Kramatjati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 3124761X     DOI : -
Bidang fokus Theosophia meliputi teologi yang mencakup dogmatika Kristen, Sejarah Gereja, Kepemimpinan Kristen, Etika Kristen, dan cabang ilmu teologi lainnya. Pendidikan Agama Kristen (PAK) cakupannya adalah Desain Program PAK, Strategi Pembelajaran dan Kurikulum PAK, Sejarah dan Filsafat PAK, Metodologi PAK, Psikologi PAK, Etika Profesi Guru PAK, Teologi PAK, Evaluasi PAK, dan Manajemen PAK. Pelayanan Anak, Desain Kurikulum Sekolah Minggu. Selain itu, jurnal ini juga membuka ruang bagi kajian yang mengintegrasikan teologi dengan disiplin ilmu lain seperti ilmu sosial, humaniora, dan sains, guna membangun dialog ilmiah yang lebih luas dan mendalam.
Articles 33 Documents
Kompetensi Guru Dalam Perspektif Pendidikan Agama Kristen Marthen Lengkong
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2: November 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Christian Religious Education (CRE) teacher competency is the ability, ability and expertise both in technical and behavioral terms of a teacher who professionally educates, teaches, guides, directs, trains, assesses and evaluates students to build Christian beliefs after receiving the teaching, students enter a living communion of faith with God. Religious Education teachers have at least two roles that must be carried out in relation to their profession. The first is the role as a teacher in general in carrying out responsibilities in schools or educational institutions; the second is the role in terms of faith responsibility in bringing students to know the Creator and the work of salvation as well as correct life guidelines. In general, teacher competence includes pedagogical competence, personality competence, professional competence and social competence. The competence of CRE teachers cannot be found directly in the Bible. However, this does not mean that the Bible never speaks about the competence of CRE teachers. In the Old Testament (OT), education began when God created humans where God positioned Himself as a teacher or teacher in the process of teaching humans about His laws and regulations. In the New Testament (NT), the central figure is Jesus the Great Teacher. All teacher competence rests with Him. In the CRE perspective, teacher competency is something that is very relevant and has a direct connection because the principles applied are in line and complement each other so that CRE teachers are also required to have these competencies. Abstrak: Kompetensi guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) adalah kemampuan, kesanggupan dan keahlian baik dalam hal teknis maupun perilaku seorang guru yang secara profesional mendidik, mengajar,  membimbing, mengarahkan,  melatih,  menilai,  dan  mengevaluasi  peserta  didik  untuk membangun kepercayaan Kristen dimana setelah menerima pengajaran itu, peserta didik memasuki persekutuan iman yang hidup dengan Tuhan. Guru PAK memiliki setidaknya dua peran yang harus dilakukan dalam hubungan dengan profesinya. Pertama adalah peran sebagai guru secara umum dalam melaksanakan tanggung jawab di sekolah atau lembaga pendidikan; yang kedua adalah peran dalam hal tanggung jawab iman dalam membawa peserta didik untuk mengenal Pencipta dan karya keselamatan serta pedoman hidup yang benar. Secara umum, kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Kompetensi guru PAK tidak dapat ditemukan langsung dalam Alkitab. Namun demikian bukan berarti bahwa Alkitab tidak pernah berbicara mengenai kompetensi guru PAK. Dalam Perjanjian Lama (PL), pendidikan dimulai sejak Allah menciptakan manusia di mana Allah memposisikan diri-Nya sebagai pengajar atau guru dalam proses mengajar manusia tentang hukum-hukum dan peraturan-Nya. Dalam Perjanjian Baru (PB), tokoh sentralnya adalah Yesus sang Guru Agung. Semua kompetensi guru ada pada-Nya. Dalam perspektif PAK, kompetensi guru merupakan hal yang sngat relevan dan beririsan langsung karena  prinsip-prinsip  yang  diterapkan  sejalan  dan  saling melengkapi  segingga  guru  PAK juga diharuskan untuk memiliki kompetensi-kompetensi tersebut.
Gembala Adalah Tugas Yang Mulia David Bunbunan Hasibuan
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2: November 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Abstract: What will be achieved in this writing, First: provide an explanation of the duties and responsibilities of a congregational pastor. Second, a congregational pastor not only needs to know his calling as a pastor but also that the pastor has good spiritual standards. Thirdly, the duties and role of a congregational pastor have a big impact on the growth of the congregation's faith both in quality and quality. This  research  methodology  uses  qualitative  methods.  "Qualitative  research  is  research  that  intends  to understand phenomena about what is experienced by research subjects, for example behavior, perceptions, motivations, actions, etc. holistically, and in a descriptive way in the form of words and language, in a special, natural context. and by utilizing various natural methods. Abstrak: Yang akan dicapai dalam penulisan ini, Pertama: memberi penjelasan mengenai apa tugas dan tanggung-jawab seorang gembala jemaat. Kedua, Seorang gembala jemaat bukan saja dibutuhkan bagaimana penggilannya sebagai seorang gembala tetapi seorang gembala memiliki standar rohani yang baik, Ketiga, tugas dan peran seorang gembala jemaat sangat berdampak untuk bertumbuhnya iman jemaat baik secara kualitas maupun secara kualitas.Metodologi penelitian ini menggunakan metode kualitatif. “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh  subyek penelitian misalnya  perilaku,  persepsi,  motifasi,  tindakan  dan  lain-lain  secara  holistik,  dan  dengan  cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Dinamika Pendidikan Agama Kristen Dalam Keluarga Kristen Katji Mariany Naat
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2: November 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research was conducted with the aim of knowing the dynamics of Christian education in Christian families at RT 4 RW 4 Kampung Pulo Pinang Ranti. The research method used is qualitative research. To obtain adequate knowledge, the theory used is Christian Religion Education (CRE) in the Family or CRE in Christian Families.The research findings are that CRE is carried out in Christian families in Kampung Pulo based on awareness of Christian values in the midst of pluralism in the community in Kampung Pulo. The plurality in question is religious pluralism and cultural pluralism in the family. Every Christian family has different family partners such as intercultural marriages. These cultural differences certainly have an influence, especially in carrying out Christian education in the family. CRE in the family has a dynamic that is based on the work of the Holy Spirit in each family member. The work of the Holy Spirit which is the entire dynamics of Christian Religion Education in a Christian Family.   Abstrak: Peneltian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dinamika pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam Keluarga Kristen yang ada di RT 4 RW 4 Kampung Pulo Pinang Ranti. Untuk menemukan pengetahuan yang benar maka penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan. Untuk mendapatkan pengetahuan yang memadai maka teori yang digunakan yaitu PAK di dalam Keluarga atau setting PAK dalam keluarga Kristen. Penelitian ini menggunakan metode riset pustaka. Riset pustaka adalah penelitian yang menggunakan literatur.1 Temuan penelitian yaitu PAK yang dilaksanakan di keluarga-keluarga Kristen di Kampung Pulo didasarkan pada kesadaran akan nilai-nilai Kristen di tengah kemajemukan di dalam masyarakat di lingkup Kampung Pulo. Kemajemukan yang dimaksud yaitu kemajemukan agama dan secara ke dalam kemajemukan budaya dalam keluarga. Setiap keluarga Kristen memiliki pasangan keluarga yang berbeda suku seperti perkawinan antar beda budaya. Perbedaan budaya itu tentu memiliki pengaruh, khususnya dalam melaksanakan PAK dalam keluarga. Pendidikan Kristen dalam keluarga memiliki dinamika yang didasarkan pada karya Roh Kudus yang ada dalam setiap anggota keluarga. Karya Roh Kudus inilah yang mendasari seluruh dinamika PAK di dalam sebuah Keluarga Kristen. 
Masa Depanku (Studi Penerapan dan Harmonisasi Kehidupan Seorang Kristen Dalam Menghayati Mazmur 37:37) Bernike Sihombing
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2: November 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The purpose of this writing is to explain the concept of the future according to Psalm 37:37. First, it explains the implementation of the future in the believer's life. Second, explaining that there is a future is a form of struggle in pursuing the future, never giving up, not giving up on the situation, always  having  hope  because  he  knows that  in  his  struggle  there is  God  who  accompanies  and collaborates to bring goodness and provide a bright future and have eternal life. Abstrak: Tujuan penulisan ini adalah menjelaskan konsep Masa depan menurut Mazmur 37:37. Pertama, menjelaskan implementasi masa depan dalam kehidupan orang percaya. Kedua, menjelaskan adanya masa depan adalah bentuk perjuangan dalam mengejar masa depan, pantang menyerah, tidak pasrah pada keadaan selalu memiliki pengharapan karena ia tahu dalam perjuangannya ada Tuhan yang menyertai dan turut bekerjasama uantuk mendatang kebaikan dan memberikan masa depan yang cerah serta memiliki hidup yang kekal.
Studi Eksplanatori Kepemimpinan Transformasional Terhadap Keesaan Gereja Sebagai Tubuh Kristus Di Sinode Gereja Kristus Rahmani Indonesia Suharto; Bobby K. Putrawan; Ramly D.B. Lumintang
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2: November 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research aims to explore the influence of transformational leadership on church unity as the body of Christ within the context of the Synod of Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI). The prolonged leadership crisis  in  GKRI  has  led  to  significant divisions,  a  decline  in  membership,  and disrupted organizational harmony. The research method used is a quantitative approach with a survey design. Data were collected through questionnaires specifically designed to measure the perceptions of transformational leadership and church unity among members of the Synod of GKRI. Data analysis was conducted using linear regression techniques to test the proposed hypotheses. The results of the study show that transformational leadership has a positive and significant influence on church members perceptions of church unity as the body of Christ. The data were collected through Likert-scale questionnaires and analyzed using linear regression. The findings indicate that transformational leadership has a significant positive impact on church unity, with idealized influence contributing 22%, inspirational motivation contributing 21.5%, intellectual stimulation contributing  25.5%, individualized consideration  contributing  32.4%, and together  they contribute 50.2%. These findings support the theory that transformational leadership can be an effective tool in facilitating spiritual integration and strengthening unity within the church community. The practical implications of this research include recommendations for church leaders to adopt transformational leadership styles to restore unity and enhance organizational effectiveness within GKRI.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kepemimpinan transformasional dan keesaan gereja sebagai tubuh Kristus di Sinode Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI).  Kepemimpinan transformasional, yang melibatkan pengaruh ideal (idealized influence), motivasi inspiratif (inspirational motivation), stimulasi intelektual (intellectual stimulation), dan perhatian individual (individualized consideration), dianggap mampu menginspirasi dan memotivasi anggota jemaat untuk mencapai kesatuan dan integrasi spiritual yang lebih kuat.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dirancang khusus untuk mengukur persepsi kepemimpinan transformasional dan keesaan gereja dari anggota jemaat di Sinode GKRI. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik regresi linier untuk menguji hipotesis yang diajukan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi anggota jemaat mengenai keesaan gereja sebagai tubuh Kristus. Temuan ini mendukung teori kepemimpinan transformasional dalam konteks gerejawi dan memberikan wawasan praktis bagi pemimpin gereja dalam mempromosikan keesaan dan keharmonisan dalam komunitas gereja. Penelitian ini  juga memberikan kontribusi penting bagi literatur yang ada dengan memperkaya pemahaman tentang bagaimana praktik kepemimpinan dapat secara efektif memfasilitasi integrasi spiritual dan komunal dalam komunitas keagamaan. Implikasi praktis dari penelitian ini mencakup rekomendasi bagi pemimpin gereja untuk mengadopsi gaya kepemimpinan transformasional guna meningkatkan keesaan gereja dan mendukung pencapaian visi dan misi gereja keseluruhan.
MAKNA TEOLOGIS YESUS “MELEWATI” SEBAGAI RESPONS GEREJA BAGI #INDONESIAGELAP – KONTEKSTUALISASI MARKUS 6:45-52 MENGGUNAKAN MODEL BUDAYA TANDINGAN Ronny
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1: Mei 2025: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The hashtag “Dark Indonesia” (or “Indonesia C[E]mas” as an irony of “Indonesia Emas”) has become very popular as a representation of anxiety on social media because of the political, economic, social and cultural context that is considered to be heading towards decline or deterioration in our country. The people of God, as part of this country, must certainly be part of the solution. But what is the truth of the Gospel as a reflection and basis for taking action? This article explores the word “passing” in Mark 6:45-52 and two passages of the Bible in the Old Testament to bring out the original meaning and message of God's word for His people in the midst of the problematic situations and conditions in general in Indonesia today. This article does not aim to produce practical and final solutions to all or one of the problems in a particular field, but by using the contextual theology model of Stephen Bevans' Counterculture, this article attempts to produce a contextual theological message that is expected to be a means by the Holy Spirit to provide comfort, perseverance and illumination for readers of this article and apply the message and contribute to our country. The exploration of theological messages is carried out through a literature study approach with primary sources from the Bible text regarding the word "passing through" and contextualized through the Counterculture model. The word “passing” has a strong theological meaning and empowers God's people in the midst of problematic situations, where based on the results of the study, the motif of “passing” in the Bible states the epiphany of God in and through Jesus Christ which has implications for His people who gain strength from this motif by realizing that God continues to reveal Himself through the actions of His people in the midst of struggles or crises in the context of Dark Indonesia. Abstrak Tagar “Indonesia Gelap” (atau “Indonesia C[E]mas” sebagai ironi dari “Indonesia Emas”) menjadi sangat populer sebagai representasi kegelisahan di media sosial karena konteks politik, ekonomi, sosial dan budaya yang dianggap menuju kemunduran atau kemerosotan di negeri kita. Umat Allah, sebagai bagian dari negeri ini tentu harus menjadi bagian dari solusi. Namun, apa kebenaran Injil sebagai refleksi dan dasar untuk melakukan tindakan? Tulisan ini mengeksplorasi kata "melewati" dalam Markus 6:45-52 dan dua bagian Alkitab di Perjanjian Lama untuk membawa keluar makna asli dan pesan firman Tuhan bagi umat-Nya di tengah situasi dan kondisi problematik secara umum di Indonesia saat ini. Tulisan ini tidak bertujuan menghasilkan solusi praktis dan final terhadap semua atau salah satu problem pada bidang tertentu, melainkan dengan menggunakan model teologi kontekstual Budaya Tandingan dari Stephen Bevans, tulisan ini berupaya untuk menghasilkan pesan teologi kontekstual yang diharapkan menjadi sarana oleh Roh Kudus untuk memberi penghiburan, ketekunan dan iluminasi bagi pembaca tulisan ini dan menerapkan pesan serta berkontribusi bagi negara kita. Eksplorasi pesan teologis dilakukan melalui pendekatan kajian studi literatur dengan sumber primer dari teks Alkitab mengenai kata “melewati” dan dikontekstualisasikan melalui model Budaya Tandingan. Kata “melewati” memiliki makna teologis yang kuat dan memberdayakan umat Allah di tengah-tengah situasi problematik, di mana berdasar hasil penelitian, motif "melewati" dalam Alkitab menyatakan epifani Allah di dalam dan melalui Yesus Kristus yang yang membawa implikasi bagi umat-Nya yang memperoleh kekuatan dari motif ini dengan menyadari bahwa Allah terus menyatakan diri-Nya melalui tindakan umat-Nya di tengah pergumulan atau krisis dalam konteks Indonesia Gelap.
APAKAH ADA PENGARUH FILSAFAT YUNANI DAN KEAGAMAAN KUNO TERHADAP KONSEP LOGOS DALAM PROLOG YOHANES? A Christian Jonch; Bambang Subandrijo; Pelita Hati Surbakti
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1: Mei 2025: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Johannine scholars have differed regarding the influence of Greek philosophy and ancient religion on the concepts and ideas of the “Logos” in the Prologue of John. Some scholars argue that its concepts and ideas were influenced by various Greek philosophical and ancient religious thought systems of the time. While, other experts argue that the Prologue was not influenced at all by Greek philosophical and ancient religious thought at that time. For this reason, through library research using the “adaptable method” and “Struggle for Language” approaches, the author will examine whether the concepts and ideas of the “Logos” in the Prologue was influenced by Greek philosophy and ancient religion at that time, or originated from John's own thoughts by giving new meaning to the concepts and ideas. The results of the research show that John used the term “Logos” because the term was already known and familiar to ancient people at that time. He has borrowed this term by giving it a new meaning according to the context and concept of the Christian faith to introduce the identity of Jesus and make His work known. This was done to produce concrete situations and social contexts being experienced by the Yohanes community. Abstrak: Para pakar Yohanes telah berbeda pendapat mengenai pengaruh filsafat Yunani dan keagamaan kuno terhadap konsep dan gagasan “Logos” dalam Prolog Yohanes. Sebagian pakar berpendapat bahwa konsep dan gagasannya dipengaruhi oleh berbagai sistem pemikiran filsafat Yunani dan keagaman kuno waktu itu. Sedangkan para pakar lain berpendapat bahwa konsep dan gagasannya sama sekali tidak dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Yunani dan keagamaan kuno waktu itu. Untuk itu, melalui penelitian perpustakaan dengan menggunakan pendekatan “Metode yang dapat beradaptasi” dan “Perjuangan untuk Bahasa, penulis akan meneliti apakah konsep dan gagasan ”Logos” dalam Prolog dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan keagamaan kuno waktu itu, atau berasal dari pemikiran Yohanes sendiri dengan memberikan makna baru terhadap konsep dan gagasan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yohanes menggunakan istilah ”Logos” tersebut karena istilah ini sudah dikenal dan familier bagi masyarakat kuno waktu itu. Ia telah meminjam istilah tersebut dengan memberikan makna baru sesuai dengan konteks dan konsep iman Kristen untuk memperkenalkan identitas Yesus dan karya-Nya supaya dikenal. Hal ini dilakukan untuk menghasil situasi konkret dan konteks sosial yang sedang dialami oleh komunitas Yohanes. 
KONSEP DAN PRAKTEK MEMUJI DAN MENYEMBAH TUHAN SECARA BIBLIKA BERDASARKAN KITAB MAZMUR: HALLELUYAH Antonius Hutapea
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1: Mei 2025: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The phrase Hallelujah is often understood as merely praising God. In fact, the meaning of Hallelujah is not just saying praise God but how to praise and worship God. In the Psalms, the word Hallelujah is often repeated as a repetition at the beginning and end of the passage, such as Psalms 106, 113, 117, 146 to Psalm 150, which we call inclusio (repetition) to remind us of the importance of this Hallelujah word. The research method used is qualitative poetic reflective. Exegesis of the Hebrew text of the word hallelujah, biblically. This article will describe the main purpose of the Psalms is to arouse praise to God. The Psalms, which consist of 150 chapters, almost half (73 chapters) written by David, want to teach us not only to say praise God, praise God, or hallelujah but to have a concept and practice of praising and worshiping God.   Abstrak Frasa kata Halleluyah sering dipahami hanya sebatas puji Tuhan semata. Padahal arti Halleluyah bukan sekedar berkata puji Tuhan tetapi bagaimana sikap memuji dan menyembah Tuhan. Dalam Mazmur kata Halleluyah sering diulang sebagai suatu repitisi diawal serta akhir perikop, seperti Mazmur 106, 113, 117, 146 hingga Mazmur 150, yang kita sebut sebagai inklusio (pengulangan) untuk ”mengingatkan kita pentingnya kata Halleluyah ini.” Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif puitis reflektif. Mengeksegese teks Ibrani kata halleluyah, secara biblikal. Artikel ini akan menguraikan tujuan utama Mazmur adalah untuk membangkitkan pujian kepada Allah. Mazmur yang terdiri dari 150 pasal itu, hampir setengahnya (73 pasal) ditulis oleh Daud, ingin mengajarkan kita bukan hanya berkata terpuji Tuhan, puji Tuhan, atau halleluyah namun memiliki konsep dan praktek hidup memuji dan menyembah Allah. 
KEMAMPUAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MEMOTIVASI SISWA UNTUK MENGERJAKAN TUGAS DI SMP NEGERI 1 MANISRENGGO, KLATEN, JAWA TENGAH Yudilina Gulo; Ramses Simanjuntak; Suwarni Baigar; Hadi Siswoyo; Ester Handayani
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1: Mei 2025: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Teachers are "professional workers" who are required to have professional educational abilities, namely having expertise in carrying out the task of educating, teaching, guiding, directing, training, assessing, and evaluating students. In addition, teachers must also have a steady personality in the process of transferring knowledge from the learning resources available to students. The ability of teachers to motivate students is a responsibility that must be done well so that it can increase students' interest and enthusiasm in doing Christian Religious Education learning tasks. The purpose of this study is to find out how Christian Religious Education teachers have the ability to motivate students and how to keep students enthusiastic in doing Christian Religious Education learning tasks, as well as why motivation is very important for students' lives. The method used in this study is a qualitative research method with a descriptive qualitative approach. The focus of this study is to find that the ability of Christian Religious Education teachers to motivate students is very important, so that it is able to foster students' interest and enthusiasm in doing Christian Religious Education learning tasks. Abstrak Guru adalah “pekerja profesional” yang dituntut memiliki kemampuan profesional kependidikan, yaitu memiliki keahlian dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Selain itu, guru juga harus memiliki kepribadian yang mantap dalam proses pemindahan ilmu dari sumber belajar yang tersedia kepada siswa. Kemampuan guru dalam memotivasi siswa adalah sebuah tanggungjawab yang harus dilakukan dengan baik sehingga dapat meningkatkan minat dan semangat siswa dalam mengerjakan tugas pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Tujuan dari penelitian ini dilakukan adalah untuk menemukan bagaimana cara guru Pendidikan Agama Kristen memiliki kemampuan memotivasi siswa dan  bagaimana cara agar siswa tetap semangat dalam mengerjakan tugas pembelajaran Pendidikan Agama kristen, serta mengapa motivasi sangat penting bagi kehidupan siswa. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah untuk menemukan bahwa kemampuan guru Pendidikan Agama kristen dalam memotivasi siswa sangat penting, sehingga mampu menumbuhkan minat dan semangat siswa dalam mengerjakan tugas pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. 
DIALOG TRANSFORMATIF DALAM INJIL YOHANES 1, 3, 4 DAN PENERAPANNYA UNTUK MELAKSANAKAN MISI ALLAH Sukirdi; Ester Handayani
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 1: Mei 2025: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract God is love, that is clearly reflected in the Bible. From that statement we must respond as Christians by participating in God's mission in evangelism to spread God's love to people. Based on this background, this study will examine: How do the principles of evangelism based on the pattern of dialogue in John 1, 3 and 4 apply to unbelievers? For research questions: First, How is the pattern of dialogue found in 1:29-51. Second: What is the pattern of dialogue in the Gospel of John 3:1-21. Third, what is the pattern of dialogue in the Gospel of John 4:4-30; 39-42. And fourth: How are these patterns of dialogue applied in evangelism to unbelievers?  Abstrak Allah adalah kasih, hal itu tercermin jelas di dalam Alkitab. Dari pernyataan itu sebagai orang Kristen kita harus menanggapinya dengan ikut terlibat dalam misi Allah dalam penginjilan untuk menyebarkan kasih Allah kepada manusia. Berdasarkan latar belakang tersebut dalam kajian ini akan mengkaji : Bagaimana prinsip-prinsip penginjilan berdasarkan pola dialog dalam Yohanes 1, 3 dan 4 penerapannya untuk orang yang belum percaya? Untuk pertanyaan penelitian: Pertama, Bagaimana pola dialog yang terdapat dalam 1: 29-51. Kedua : Bagaimana pola dialog dalam Injil Yohanes 3: 1-21. Ketiga, Bagaimana pola dialog dalam Injil Yohanes 4:4-30; 39-42. Dan keempat: Bagaimana pola-pola dialog tersebut diterapkan dalam penginjilan terhadap orang yang belum percaya? 

Page 2 of 4 | Total Record : 33