cover
Contact Name
Jelita Sihite
Contact Email
jurnal@sttiksm.ac.id
Phone
+6281288907513
Journal Mail Official
jurnal@sttiksm.ac.id
Editorial Address
Santosa Asih Jaya Pt., RT.5/RW.3, Balekambang, Kec. Kramatjati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 3124761X     DOI : -
Bidang fokus Theosophia meliputi teologi yang mencakup dogmatika Kristen, Sejarah Gereja, Kepemimpinan Kristen, Etika Kristen, dan cabang ilmu teologi lainnya. Pendidikan Agama Kristen (PAK) cakupannya adalah Desain Program PAK, Strategi Pembelajaran dan Kurikulum PAK, Sejarah dan Filsafat PAK, Metodologi PAK, Psikologi PAK, Etika Profesi Guru PAK, Teologi PAK, Evaluasi PAK, dan Manajemen PAK. Pelayanan Anak, Desain Kurikulum Sekolah Minggu. Selain itu, jurnal ini juga membuka ruang bagi kajian yang mengintegrasikan teologi dengan disiplin ilmu lain seperti ilmu sosial, humaniora, dan sains, guna membangun dialog ilmiah yang lebih luas dan mendalam.
Articles 33 Documents
Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Menanamkan Sikap Toleransi Beragama bagi Generasi Milenial Jelita Sihite
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 01: Mei 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Indonesia is a pluralistic country rich in religious, ethnic, racial, linguistic and socio-culturaldiversity. As a plural country, the space for conflict and SARA is wide open so that it often raises variousproblems in it, both religion with other religions, ethnicity with other tribes, and other problems. In addition,Indonesia has a dismal record of religious intolerance to the point of loss of life and property. Intolerance isstill a serious threat to the Indonesian people even though they are already in the Millennium Era, namelythe era of scientific and technological progress. Researchers use library research (Library Research). Libraryresearch is research carried out using literature (library), in the form of books, notes, and reports of previousresearch results. Millennials should be able to play an important role as agents of peace for the world, nation and society. The Millennial generation must realize that progress is an Indonesian reality that cannot bedenied by anyone, which in turn gives birth to a diversity of cultures, customs, languages and beliefs.Pluralism in the context of Indonesia is a unique wealth. To be one nation and one country, as the motto ofthe Indonesian people, namely Bhinneka Tunggal Ika - different but one. In line with the teaching ofChristian Religious Education, tolerance must be carried out based on love. Because without love it isimpossible for one to love one another. This is in accordance with Jesus' teaching to love one another. Lovingothers is the heart of Jesus that must be obeyed and practiced by Christians. That love breeds tolerance formutual respect, respect, and peace for others. Therefore, to realize God's mission for the world to bring peaceto all of His creation, PAK must instill an attitude of tolerance to the Millennial generation, and become thePAK curriculum in the learning process, both at school and in the Church. Abstrak: Indonesia adalah negara majemuk yang kaya dengan keberagaman agama, suku, ras,bahasa, dan sosial budaya. Sebagai negara majemuk, maka ruang konflik dan SARA terbuka lebarsehingga seringkali memunculkan berbagai permasalahan di dalamnya, baik agama dengan agamalain, suku dengan suku lain, dan permasalahan-permasalahan lainnya. Selain itu, Indonesiamemiliki catatan buram mengenai sikap teleransi beragama sampai menghilangkan nyawa, danharta benda. Sikap intoleransi masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia meskipunsudah berada di Era Milenial yaitu Era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. GenerasiMilenial berperan penting menjadi agen perdamaian bagi dunia, bangsa dan masyarakat. GenerasiMilenial harus menyadari bahwa, kemajukan merupakan realitas ke-Indonesiaan yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun, yang pada gilirannya melahirkan keberagaman budaya, adat, bahasadan kepercayaan. Kemajemukan dalam konteks ke-Indonesia menjadi kekayaan yang unik.Menjadi satu bangsa dan satu negara, sebagaimana semboyan bangsa Indonesia yaitu BhinnekaTunggal Ika - berbeda-beda tetapi satu. Selaras dengan pengajaran Pendidikan Agama Kristen,sikap toleransi harus dilakukan berdasarkan kasih. Sebab, tanpa kasih tidak mungkin seseorangdapat mengasihi sesama. Hal ini, sesuai dengan pengajaran Yesus untuk saling mengasihi sesama.Mengasihi sesama merupakan hati Yesus yang harus ditaati dan dilakukan oleh orang Kristen.Kasih itu melahirkan sikap toleransi untuk saling menghargai, menghormati, menghadirkan damaibagi sesama. Oleh karena itu, untuk mewujudkan misi Allah bagi dunia menghadirkan damaisejahtera bagi seluruh ciptaan-Nya, maka PAK harus menanamkan sikap toleransi kepada generasiMilenial, dan menjadi kurikulum PAK dalam proses pembelajaran, baik disekolah maupun di dalam Gereja
Gembala dalam Pertumbuhan Iman David Bunbunan Hasibuan
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 01: Mei 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Will be achieved in this writing, First: provide an explanation of what the duties and responsibilities of a church pastor are. Second, a church pastor is not only needed how to call him a shepherd but a shepherd has good spiritual standards, Third, the duties and roles of a church pastor greatly impact the growth of the congregation's faith both in quality and in quality.   Abstrak: Yang akan dicapai dalam penulisan ini, Pertama: memberi penjelasan mengenai apa tugas dan tanggung-jawab seorang gembala jemaat. Kedua, Seorang gembala jemaat bukan saja dibutuhkan bagaimana penggilannya sebagai seorang gembala tetapi seorang gembala memiliki standar rohani yang baik, Ketiga, tugas dan peran seorang gembala jemaat sangat berdampak untuk bertumbuhnya iman jemaat baik secara kualitas maupun secara kualitas.
Konsep Hamba Tuhan menurut Kitab Yesaya Marojahan Saragi
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 01: Mei 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In the book of Isaiah, the concept of a servant of God is uniquely discussed due to multiple interpretations and understandings. Some think that the servant of the LORD is Moses, Isaiah, or Cyrus? There are also those who say that collectively Israel (group) is the remnant of Israel who came out of slavery. This study uses a descriptive research methodology. A study that seeks to answer existing problems based on data. The analysis process in descriptive research is presenting, analyzing and interpreting. In particular, the method is descriptive research in which the description uses facts or phenomena obtained from the data as they are. After researching descriptively by analyzing data and facts, the researcher sees that the concept of the servant of God (ebed Yahweh) referred to in the book of Isaiah is Jesus Christ, or in the Old Testament is the Messiah. Because Isaiah saw far ahead about this servant of God must be a servant of God that is different from others, He is a servant in whom God the Father is pleased. The words “Father is well pleased” are hardly found in the Old Testament, but they are only found in the book of Isaiah. The Father told me, “See, this is my servant whom I hold, my chosen one, in whom I am well pleased. I have put my Spirit upon him”(Isaiah 42:1).  Abstrak: Dalam kitab Yesaya, konsep hamba TUHAN menjadi suatu yang unik didiskusikan kerena multi penafsiran dan pemahaman. Ada yang menganggap hamba TUHAN itu adalah Musa, Yesaya, atau Koresy? Ada juga yang mengatakan Israel secara kolektif (kelompok) sisa Israel yang yang keluar dari perbudakan. Penelitian ini, menggunakan metodologi penelitian deskriptif. Suatu penelitian yang berusaha menjawab permasalahan yang ada berdasarkan datadata. Proses analisis dalam penelitian deskriptif yaitu menyajikan, menganalisis dan menginterpretasikan. Secara khusus metodenya penelitian deskriptif yang bentuk deskripsinya menggunakan fakta atau fenomena yang di dapatkan dari data-data apa adanya. Setelah meneliti secara deskriptif dengan mengalisis data-data dan fakta, maka peneliti melihat bahwa konsep hamba Tuhan (ebed Yahweh) yang dimaksud dalam kitab Yesaya adalah Yesus Kristus, atau dalam Perjanjian Lama adalah Mesias. Karena Yesaya melihat jauh kedepan tentang hamba Tuhan ini pastilah hamba Tuhan yang lain daripada yang lain, Dia adalah seorang hamba yang kepada-Nya Allah Bapa berkenan. Kata-kata “Bapa berkenan“ hampir tidak ada dalam Perjanjian Lama, namun ini hanya ada didalam kitab Yesaya. Bapa memberitahukan,“Lihat, itu hamba-Ku yang Ku-pegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku keatasnya“ (Yes. 42:1)
Studi Teologi Akhir Zaman (Eskatologi) dan Signifikansinya bagi Orang Percaya Jonri Muksen Siregar
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 01: Mei 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The study of the end times has so much debate in the history of the church that is about the future. This greatly affects the correct view or understanding of what is in the Bible by each individual congregation. Such an understanding of the end times is important if you are to gain a correct understanding of eschatological theology or Christian theology as a whole. Many theologians seek to highlight all major aspects of theology as if they relate to the end times. This research uses qualitative methods which are a research procedure that produces descriptive data carried out by approaching someone or something in oral or written form. The authors use descriptive research that places more emphasis on the analysis of existing sources and data as key instruments. After the fall of man into sin (Gen. 3), it resulted in a very far-reaching impact, both on man himself and on the universe, among others; man is separated from God corrupt (Gen. 3:7, 10), spiritual death (Gen. 3:8-13), a sinful heart passed down to all mankind (Gen. 4:5,8), judgment will be inflicted upon all mankind (Rom. 5:12), physical death (Gen. 3:19, 22-24). The significance of physical death for mankind in general is as a decree (Heb. 9:27), and as a source of fear for Satan (Heb. 2:14-15). For the unbeliever, that there is no longer any time for the betterment of his life (Is. 22:13; Lu. 12:16-21; 1Cor. 15:32) and toward god's path of judgment (Rev. 20:11-15). For believers the significance is that the fear of death is lost, having been freed from the influence of the sting of death, which is eternal death (Rom. 8:2; 1Cor. 3:21-23). The signs that occurred do not give us an idea or ability to know the date of Christ's return. A correct understanding of eschatology will encourage every believer in the mission of evangelism to the end of the earth.  Abstrak: Studi tentang akhir zaman mengalami begitu banyak perdebatan sering terjadi dalam sejarah gereja yakni mengenai masa depan. Hal ini sangat berpengaruh pada pandangan atau pemahaman yang benar sesuai yang ada di dalam Alkitab oleh setiap individu jemaat. Pemahaman tentang akhir zaman demikian penting jika ingin memperoleh pemahaman yang benar mengenai teologi eskatologi atau teologi Kristen secara keseluruhan. Banyak para teolog berusaha menyoroti semua aspek teologi utama seolah-olah berhubungan dengan akhir zaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang merupakan sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang dilakukan dengan pendekatan terhadap seseorang atau sesuatu dalam bentuk lisan ataupun tulisan. Penulis menggunakan penelitian deskriptif yang lebih menekankan pada analisis sumber dan data yang ada sebagai instrumen kunci. Setelah kejatuhan manusia kedalam dosa (Kej. 3), mengakibatkan dampak yang sangat luas, baik ke manusia itu sendiri maupun kepada alam semesta, antara lain; manusia terpisah dengan Allah rusak Kejadian 3:7, 10), kematian rohani (Kej. 3:8-13), hati yang berdosa diturunkan kepada seluruh umat manusia (Kej. 4:5,8), penghakiman akan ditimpakan kepada seluruh umat manusia (Romo 5:12), kematian fisik (Kej. 3:19, 22-24). Signifikansi kematian fisik bagi umat manusia secara umum adalah sebagai ketetapan (Ibr. 9:27), dan sebagai sumber ketakutan bagi Iblis (Ibr. 2:14-15). Bagi orang tidak percaya, bahwa tidak ada lagi waktu untuk perbaikan atas hidupnya (Yes. 22:13; Lu. 12:16-21; 1Kor. 15:32) dan menuju jalan penghakiman Allah (Why. 20:11-15). Bagi orang percaya signifikansinya adalah ketakutan akan kematian menjadi hilang, karena telah dimerdekakan dari pengaruh sengat maut yakni kematian kekal (Rm. 8:2; 1Kor. 3:21-23). Tanda-tanda yang terjadi tidak memberikan gambaran atau kemampuan bagi kita untuk mengetahui tanggal kedatangan Kristus kembali. Pemahaman eskatology yang benar akan mendorong setiap orang percaya dalam misi penginjilan sampai keujung bumi.
Studi Kritis terhadap Kata Elohim: Suatu Tinjauan Kristis terhadap kata Elohim sebagai Sesembahan Bangsa Israel Bernike Sihombing
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 01: Mei 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The word Elohim is very well known among Jews, Christians also among non-Jews or nonChristians. In the three beliefs referred to above, the word elohim is very often used as a pronoun to those who are considered omnipotent according to their respective religious beliefs. Does the elohim in question have a relationship between the elohim known to the Israelites and the elohim known to Christians and idol worshipers, or is it only a similarity in name, or is it the same person but different actions. So to find out, it is necessary to do a study as a lesson to be used as a criticism of the word elohim to equip teachers in Christian Religious Education or church youth, so that they are equipped to understand what Elohim meansin the context of the belief as referred to above.  Abstrak: Kata Elohim sangat terkenal di kalangan orang Yahudi, Kristen juga di kalangan non Yahudi atau non-Kristen. Dalam ketiga kepercayaan tersebut di atas, kata elohim sangat sering digunakan sebagai kata ganti orang yang dianggap maha kuasa menurut keyakinan agamanya masing-masing. Apakah elohim yang dimaksud ada hubungan antara elohim yang dikenal orang Israel dengan elohim yang dikenal orang Kristen dan penyembah berhala, atau hanya kesamaan nama, atau orang yang sama tetapi tindakan yang berbeda. Maka untuk mengetahuinya perlu dilakukan kajian sebagai pelajaran untuk dijadikan sebagai kritik terhadap kata elohim untuk membekali para guru di Pendidikan Agama Kristen atau pemuda gereja, agar mereka dibekali untuk memahami apa yang dimaksud dengan Elohim dalam konteks kepercayaan sebagaimana tersebut di atas. 
Paskah Dalam Tradisi Yahudi dan Kristen (Suatu Kajian Teologis-Pedagogis Pendidikan Kristen) Johan Saragi; Wikanto
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 01: Mei 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Passover in the book of Exodus is a very important celebration for the Israelites. Considered important because it is very meaningful in the awesomeness of the events life of the Israelites in Egypt. Where the Israelites always remember delivery from Egypt, namely passing or freeing from the death penalty in the form of the Egyptians ' firstborn and animals. This tradition has always been commemorated , since around 1300 BC, where the Prophet Moses led the Israelites during Egyptian slavery . The purpose of this research is to provide a clear explanation of the Passover done by the Israelites in the Old Testament by comparing it to the New Testament. The method used is the method of literature. Where in the search for theory , researchers will collect as much information as possible from related literature . Library sources can be obtained from books , journals , magazines , research results in the form of theses and dissertations as well as other appropriate sources such as the internet , newspapers , etc . So , in detail , Passover , both in the Old Testament , explains that God gave the tenth plague, namely the death of the firstborn and dead animals in the territory of Egypt.Abstrak : Paskah dalam kitab Keluaran merupakan perayaan yang sangat penting bagi bangsa Israel . Dianggap penting karena sangat bermakna dalam kedahsyatan peristiwa kehidupan bangsa Israel di Mesir . Di mana bangsa Israel selalu ingat pembebasan dari Mesir, yaitu melewati atau membebaskan dari hukuman kematian berupa anak sulung dan binatang orang Mesir . Tradisi ini selalu diperingati , sejak perkiraan tahun 1300 Sebelum Masehi , di mana Nabi Musa memimpin bangsa Israel masa perbudakan Mesir . Tujuan penelitian ini, memberi penjelasan secara gamblang paskah yang dilakukan oleh Bangsa Israel dalam Perjanjian Lama dengan membandingkan dalam Perjanjian Baru . Metode yang digunakan adalah metode kepustakaan . Di mana dalam pencarian teori, peneliti akan mengumpulkan informasi sebanyak -banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan. Sumber -sumber kepustakaan dapat diperoleh dari , buku , jurnal , majalah , hasil -hasil penelitian berupa tesis dan disertasi maupun sumber -sumber lainnya yang sesuai berupa internet, koran, dll. Jadi secara detail Paskah baik itu dalam Perjanjian Lama menjelaskan bahwa Tuhan memberikan tulah yang ke sepuluh yaitu anak sulung mati dan binatang mati di wilayah Mesir.
Doktrin Pembenaran Oleh Iman Menurut Roma  4:1-25 Sebagai Dasar Keselamatan Kekal Dalam Pembinaan Warga GerejaGBI Epicentre of Mercy Cimanggis Gangsar Sugio Pranoto
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2: November 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:This article discusses the doctrine of justification by faith according to Romans 4:1-25 as the basis for eternal salvation in the Church Community Development of the GBI Epicentre of Mercy Cimanggis. Reflecting on the many doctrinal teachings that deny the truth, such as the teachings of Hyper Grace by Joseph Prince, Corpus Delicti and Salvation Outside of Christianity, by Erastus Sabdono and Progressive Christian by Brain Siawatra. So the author wants to straighten out this teaching in the Bible Study (PA) series in the congregation.The  research  method  used  by  the  author  is  a  biblical  theology  research  method  which  is categorized as a biblical hermeneutics method which is the same as hermeneutical phenomology, namely researching texts in an effort to find the meaning of these texts both for first readers (what it means) and for future readers now (what it means), by analyzing verses and literature related to the subject of this research. Especially exploring Romans 4:1-25 in a structured manner.The researcher's conclusion is that the apostle Paul used the examples of father Abraham and King David as proof that a person is justified by God because of his faith, not because of his works. The righteousness that God gives is more like a gift, not as a right that someone receives because they have carried out a certain obligation, and circumcision is a sign that someone has been justified, not a condition for someone to be justified by God. Abstrak: Tulisan ini membahas tentang doktrin tentang pembenaran oleh iman menurut Roma 4:1-25 sebagai dasar keselamatan kekal dalam Pembinaan Warga Gereja GBI Epicentre of Mercy Cimanggis. Berkaca dari banyaknya ajaran doktrin yang mensungsangkan kebenaran, seperti ajaran Hyper Grace oleh Joseph Prince, Corpus Delicti dan Keselamatan di Luar Kristen, oleh Erastus Sabdono dan Kristen Progresif oleh Brain Siawatra. Maka penulis ingin meluruskan pengajaran itu dalam seri Pendalaman Alkitab (PA) di jemaat.Adapun metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian teologi biblika yang dikategorikan sebagai metode biblical hermeneutics yang sama dengan hermeneutical phenomology, yaitu penelitian teks-teks dalam upaya untuk menemukan arti teks-teks tersebut baik untuk pembaca pertama (what it meant) maupun untuk pembaca masa kini (what it means), dengan menganalisis ayat- ayat dan literatur yang berkaitan dengan subyek penelitian ini. Khususnya menggali Roma 4:1-25 dengan terstruktur.Kesimpulan peneliti bahwa rasul Paulus menggunakan contoh bapa Abraham dan Raja Daud sebagai bukti bahwa seseorang dibenarkan Allah oleh karena imannya bukan karena perbuatannya. Kebenaran yang Allah berikan ini lebih seperti hadiah, bukan sebagai hak yang diterima seseorang karena telah mengerjakan suatu kewajiban tertentu, dan sunat adalah tanda seorang telah dibenarkan, bukan suatu syarat agar seseorang dibenarkan Allah.
Penerapan Prinsip-prinsip Kepemimpinan Musa Dalam Kitab Keluaran Untuk Menghadapi Kepemimpinan Gereja Yang Postmodern Jonri Muksen Siregar; Timotius Laana
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2: November 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The purpose of writing this scientific paper is to find the model or principles of Moses’s leadership in the Old Testament, especially in the book of Exodus, so that it can be applied in today’s church leadership. The church today is experiencing many challenges, especially in terms of spiritual leadership. Leadership election sometimes no longer pays attention to Biblical qualifications. Spiritual leadership motives also shifted, from a desire to serve God and His people to materialism and office in the church. Moses leadership is Biblical leadership where God himself chose and called him. The basic motivation is simply to carry out God’s own commandments, laws and statutes. The model or principles of Moses leadership both in decision making, qualifications and management are used based on God’s commands. The methodology used is qualitative with a descriptive and hermeneutic approach to look at various problems and phenomena, so as to find subjective research objects of leadership theology. Abstrak: Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menemukan model atau prinsip-prinsip kepemimpinan Musa dalam Perjanjian lama khususnya dalam Kitab Keluaran, sehingga dapat di aplikasikan  dalam  kepemimpinan  gereja  masa  kini.  Gereja  pada  masa  kini  mengalami  banyak tantangan, terutama dalam hal kepemimpinan rohani. Pemilihan kepemimpinan kadang kala tidak lagi memperhatikan kualifikasi secara Alkitabiah. Motif kepemimpinan rohani juga bergeser, dari keinginan  untuk  melayani  Allah  dan  umat-Nya  kepada  materialistik  dan  jabatan  dalam  gereja. Kepemimpinan Musa adalah kepemimpinan yang Alkitabiah dimana Allah sendiri yang memilih dan memanggilnya. Motivasi dasarnya adalah hanya untuk menjalankan perintah, hukum-hukum dan ketetapan-ketetapan  Allah  sendiri.  Model  atau  prinsip-prinsip  kepemimpinan  Musa  baik  dalam pengambilan  keputusan,  kualifikasi  maupun  menajemen  yang  digunakan  beelandarkan  perintah Allah. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan hermeneutik untuk   melihat   berbagai   masalah   dan   fenomena,   sehingga   menemukan   objek   riset   teologi kepemimpinan secara subjektif.
Kurikulum dan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Di Era Perubahan Cepat Novalyn Olly Tuegeh
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2: November 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research aims to analyze the Christian Religious Education (CRE) curriculum and learning methods in an era of rapid change. The results of the research found that the curriculum in learning CRE in an era of rapid change must be adapted to the needs of students, be it CRE in the family, school, church and community, age level and level of education of the students. The source of authority for building the CRE curriculum is the Bible. Methods that can be used in learning CRE include: dialogue method, storytelling method, lecture method, discussion method, play method, investigation method, audio-visual method. The methods that can be used in learning CRE in this era of rapid change must also be adapted to the needs, age and level of education at which the students are studying. The method used in this research is descriptive qualitative.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kurikulum dan metode pembelajaran PAK di era perubahan cepat. Hasil penelitian ditemukan bahwa kurikulum dalam pembelajaran PAK di era perubahan cepat harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik baik itu PAK di keluarga, sekolah, gereja dan masyarakat, tingkatan usia, dan jenjang Pendidikan peserta didik. Sumber otoritas untuk membangun kurikulum PAK adalah Alkitab. Metode yang bisa digunakan dalam pembelajaran PAK antara lain: metode dialog, metode bercerita, metode ceramah, metode berdiskusi, metode sandiwara,  metode penyelidikan, metode audio visual . Metode yang bisa digunakan dalam pembelajaran PAK di era perubahan cepat ini juga harus disesuaikan dengan kebutuhan , usia, serta jenjang pendidikan dimana ada peserta didik itu belajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif.
Paradigma Baru Belajar Sesuai Gaya Belajar Mahasiswa Marojahan Saragi; Estherina Andhi Juniva
THEOSOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2: November 2024: Theosophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Publisher : STT IKSM SANTOSA ASIH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The learning paradigm should be understood early on by a lecturer, teacher, student or student. This is to make it easier for each learning style and can apply the teaching style as well. This study aims to identify the learning/teaching styles of each learner. The research method used in this research is descriptive qualitative research. Qualitative research is research that produces descriptive data in the form of written or spoken words from people and observable behavior. Descriptive qualitative research is a methodology in examining the status of a group of people, an object, a set of conditions, a system of thought or a class of events in the present.The research was carried out at STT IKSM Santosa Asih Jakarta, on Monday, October 10 2022. The resource persons in this study were 56 students from the Odd Semester T.A. 2022/2023. Then the learning styles (gaya belajar) of 56 students were identified, as follows: Students of STT IKSM Santosa Asih Jakarta were studied, then there were 17% (as many as 9 people) with a "dynamic" learning style and as much as 10% (5 people) with a learning style teaching "analytical" as well as 10% (5 people) with an "imaginative" learning style. As well as 63% (32 people) for a learning style that is "common sense."   Abstrak: Paradigma  belajar  seharusnya  dipahami  sejak  dini  oleh  seorang  dosen,  guru, mahasiswa ataupun siswa. Hal ini untuk mempermudah bagaimana gaya belajarnya masing- masing serta dapat menerapkan gaya mengajarnya pula. Penelitian ini, bertujuan untuk mengidentifikasikan  gaya  belajar/  mengajar  setiap  pembelajar.  Metode  penelitian  yang dilakukan dalam riset ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian kualitatif deskriptif merupakan suatu metodologi dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang.Penelitian dilaksanakan di STT IKSM Santosa Asih Jakarta, pada hari Senin, 10 Oktober 2022. Nara Sumber dalam penelitian ini adalah mahasiswa  sebanyak 56 orang dari Semester Ganjil T.A. 2022/2023. Selanjut didentifikasi gaya belajar (learning style) mahasiswa dari 56 orang, sebagai berikut: Mahasiswa STT IKSM Santosa Asih Jakarta yang diteliti, maka ada 17 % (sebanyak 9 orang) dengan gaya belajar “dinamis” dan sebanyak 10% (5 orang) dengan gaya mengajar “analitis” serta 10% (5 orang) dengan gaya  belajar “imajinatif.” Serta 63% (32 orang) untuk gaya belajar yang “akal sehat.”

Page 1 of 4 | Total Record : 33