cover
Contact Name
Pipin Firdaus
Contact Email
pipin@upi.edu
Phone
+6285135062385
Journal Mail Official
abmas@upi.edu
Editorial Address
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Setiabudhi No. 229, Isola, Sukasari Kota Bandung, Jawa Barat 40154 Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Abmas
ISSN : 14121891     EISSN : 27981436     DOI : https://doi.org/10.17509/abmas
Core Subject :
Jurnal Abmas is a peer‑reviewed community‑service journal published by the Directorate of Research and Community Service (DPPM), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). The journal disseminates results of Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) that address pressing socio‑economic, environmental, and educational challenges in Indonesia and other emerging countries, with explicit relevance to the Sustainable Development Goals (SDGs). By documenting innovative, context‑sensitive service projects, the journal aims to strengthen the link between university‑based community engagement and sustainable development at local, national, and global levels.
Arjuna Subject : -
Articles 299 Documents
Manajemen pendidikan karakter bangsa berbudaya Pancasila jenjang pra sekolah Ade Mulyani; Usep Repelianto
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 1 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i1.117

Abstract

Pendidikan merupakan suatu proses pembentukan kepribadian manusia. Sebagai suatu proses, pendidikan tidak hanya berlangsung pada suatu saat saja, akan tetapi harus berlangsung secara berkelanjutan. Pendidikan merupakan upaya yang terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak mulia baik dilihat dari aspek jasmani maupun ruhani. Manusia yang berakhlak mulia, yang memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibentuk atau dibangun. Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 kita dapat melihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Sementara itu peran lembaga pendidikan atau sekolah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter mencakup (1) mengumpulkan guru, orangtua dan siswa bersama-sama mengidentifikasi dan mendefinisikan unsur-unsur karakter yang mereka ingin tekankan, (2) memberikan pelatihan bagi guru tentang bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kehidupan dan budaya sekolah, (3) menjalin kerjasama dengan orangtua dan masyarakat agar siswa dapat mendengar bahwa perilaku karakter itu penting untuk keberhasilan di sekolah dan di kehidupannya, dan (4) memberikan kesempatan kepada kepala sekolah, guru, orangtua dan masyarakat untuk menjadi model perilaku sosial dan moral (U.S. Department of Education). Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Anak pra sekolah belajar cara berinteraksi dengan orang lain dengan mencontoh, berbagi, dan menjadi teman baik. Mereka juga mempelajari sikap, nilai, preferensi pribadi dan beberapa kebiasaan dengan mengikuti contoh, termasuk cara mengenali dan menangani emosi mereka. Anak pra sekolah belajar banyak dari perilaku mereka dengan mengamati dan meniru perilaku orang-orang di sekitar mereka. Fase kanak-kanak disebut sebagai masa estetika, masa indera, dan masa menentang orang tua. Masa bayi ini dibagi dua fase, yaitu fase anal dan pra sekolah. Fase anal (1-3 tahun), pada masa ini kecerdasan anak ditingkatkan dengan cara memberikan makanan yang baik, dan anak selalu diajak berkomunikasi dengan macam-macam permainan yang cocok dengan usianya. Fase pra sekolah (3-6 tahun), karakteristik anak pada masa ini adalah: (1) Dapat mengontrol tindakan. (2) Selalu ingin bergerak. (3) Berusaha mengenal lingkungan. (4) Perkembangan yang cepat dalam berbicara. (5) Senantiasa ingin memiliki sesuatu. (6) Mulai membedakan yang benar dan yang salah.
Manajemen pendidikan karakter bangsa berbudaya Pancasila jenjang PAUD Andri Purwanugraha; Emil Muhammad
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 1 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i1.118

Abstract

Masa usia prasekolah merupakan "masa keemasan" (golden age) yang sangat kritis bagi perkembangan individu, di mana karakteristik anak pada periode ini menjadi gambaran awal kemanusiaan mereka di masa depan. Artikel ini membahas pentingnya manajemen pendidikan karakter bangsa yang berbudaya Pancasila pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Fokus utama kajian ini adalah penanaman nilai-nilai dasar seperti keimanan yang beretika, kemandirian melalui logika jernih, semangat belajar, serta kemampuan bersosialisasi dan pemanfaatan IPTEK secara positif. Implementasi pendidikan karakter pada jenjang PAUD harus dilakukan melalui pendekatan pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning) dan berbasis bermain, agar tidak membebani mental serta psikologis anak. Keberhasilan pendidikan ini memerlukan kolaborasi sinergis antara tiga pilar utama: orang tua sebagai pendidik pertama dan pemberi teladan di rumah, guru sebagai fasilitator yang memahami tugas perkembangan anak, serta pemerintah sebagai penentu kebijakan yang menyediakan sarana dan kurikulum yang tepat guna. Melalui metode pembiasaa seperti kejujuran, disiplin, dan kasih sayang diharapkan anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang bermoral, jujur, dan bertanggung jawab sebagai investasi sumber daya manusia bagi masa depan bangsa.
Manajemen pendidikan karakter bangsa berbudaya Pancasila jenjang Sekolah Dasar (Kelas 1, 2, 3) Muhadits Aljuhri; Narlih Sunaryo
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 1 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i1.119

Abstract

Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Banyak pakar, filsuf, dan orang-orang bijak yang mengatakan bahwa faktor moral adalah hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar bisa membangun sebuah masyarakat yang tertib, aman dan sejahtera. Salah satu kewajiban utama yang harus dijalankan oleh orang tua kepada anak-anak kita. Nilai-nilai moral kepada anak-anak kita. Nilai-nilai moral yang ditanamkan akan membentuk akhlak mulia yang merupakan fondasi penting bagi terbentuknya karakter sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera. Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah berat yang harus dilalui, yaitu terjadinya krisis multidimensi yang berkepanjangan. Masalah ini sebetulnya mengakar pada menurunnya kualitas moral bangsa yang dicirikan oleh membudayanya praktek KKN, konflik antar etnis, agama, politisi, antar RW, dsb dan meningkatnya kriminalitas, menurunnya etos kerja, remaja, dan banyak lagi. Budaya-budaya tersebut adalah penyebab utama Negara kita sulit untuk bangkit dari krisis ini. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter sejak usia dini, akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Selain itu, menanamkan moral kepada generasi muda adalah usaha yang strategis. Oleh karena itu penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak-anak adalah kunci utama untuk membangun bangsa. Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Manajemen pendidikan karakter bangsa berbudaya Pancasila jenjang Sekolah Dasar (Kelas 4, 5, 6) Ninis Kusniasi; Asep Deni N
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 1 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i1.120

Abstract

Gerak maju dinamika pendidikan suatu bangsa berada di pundak generasi penerusnya, dan tunas-tunas mudalah sebagai penerusnya. Dewasa ini perkembangan dunia begitu pesat dan cepat. Segala informasi dapat dengan mudah kita peroleh. Inilah yang dinamakan arus globalisasi, arus globalisasi ini memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan generasi muda kita. Kalau anak muda kita tidak pandai memilahnya, arus globalisasi ini akan berpengaruh terhadap moralitas dan tata nilai anak bangsa. Begitu miris memang, ketika anak-anak muda ini didudukkan pada posisi yang sangat menentukan pada kemajuan suatu bangsa. Pada kenyataannya tidak sedikit anak-anak muda bertindak jauh dari yang kita harapkan. Kemerosotan tata nilai moral dan etika sungguh menyedihkan, tawuran antar pelajar hampir terjadi di seluruh pelosok tanah air, pergaulan bebas, dan menurunnya sikap hormat dan patuh terhadap orang tua dan guru. Berkaitan dengan uraian di atas, pendidikan karakter harus kita terapkan kembali, dengan pendidikan karakter diharapkan dapat membentuk jiwa individu khususnya peserta didik dan dapat diarahkan sesuai dengan tujuan pembangunan dan pendidikan nasional. Pendidikan karakter disini adalah pendidikan karakter yang memiliki nilai-nilai luhur yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam dasar negara kita yaitu Pancasila. Guru sebagai ujung tombak, dan memiliki posisi yang sangat strategis dalam dunia pendidikan dapat menerapkan nilai-nilai yang berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik. Khususnya guru yang memberikan pengajaran sekolah pendidikan dasar, karena disinilah merupakan pondasi awal yang harus benar-benar kita tanamkan, dan pada periode ini sangat terbuka peluang untuk membentuk karakter mereka. Dengan diterapkannya pendidikan karakter bangsa berbudaya pancasila ini dapat memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan dan kekokohan suatu bangsa. Pendidikan karakter merupakan sebuah pilar yang sangat kuat bagi keutuhan suatu bangsa. Karena karakter bangsa dan tata nilai yang lemah merupakan awal keruntuhan suatu bangsa. Jika dikaji secara mendalam pendidikan karakter sangatlah penting diberikan pada peserta didik, karena memberikan arah yang jelas bahwa pendidikan karakter dapat membentuk jiwa peserta didik kearah yang ideal sesuai dengan tuntutan pembangunan. Penerapan pendidikan karakter tidak selamanya harus dilakukan oleh guru tetapi juga dapat diterapkan di keluarga oleh orang tua dan adanya campur tangan pemerintah. Oleh karena itu harus ada korelasi yang kuat antara guru, orang tua murid, pemerintah dan masyarakat.
Manajemen pendidikan karakter bangsa berbudaya Pancasila jenjang Sekolah Menengah Pertama Gina Novianti Rahayu; Teguh Sunarjono
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 1 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i1.121

Abstract

Pancasila sebagai pandangan hidup Bangsa Indonesia, dalam hal ini digunakan sebagai petunjuk arah semua kegiatan atau aktivitas hidup dan kehidupan dalam segala bidang. Hal ini berarti bahwa semua tingkah laku dan tindakan pembuatan setiap manusia Indonesia harus dijiwai dan merupakan pencatatan dari semua sila Pancasila. Pengembangan nilai Pancasila dalam pembentukan karakter serta jati diri anak bangsa yang baik secara akumulatif akan menjadi modal utama dalam pembangunan bangsa selanjutnya. Dengan modal karakter anak-anak bangsa yang baik tersebut, maka nilai luhur budaya bangsa (Pancasila) pasti akan dapat teraktualisasikan secara baik pula. Akan tetapi karakter tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibentuk, ditumbuh kembangkan dan dibangun secara sadar dan sengaja bahkan kadang-kadang melalui perjuangan yang keras dengan pengorbanan yang besar. Terbentuknya karakter juga dipengaruhi lingkungan, dan ditentukan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Kebiasaan berperilaku khususnya dengan anak pada jenjang sekolah menengah pertama yang merupakan masa remaja dimana masa transisi dari masa anak-anak menuju kehidupan orang dewasa merupakan masa yang sulit dan penuh gejolak dengan tingkah laku yang cenderung kurang konsisten dari waktu ke waktu ini menunjukkan bahwa mereka masih berada dalam suatu proses yang belum selesai menuju kedewasaan. Maka dari itu penanaman pendidikan karakter sangat diperlukan, adapun pengkajian tentang nilai karakter jenjang sekolah menengah pertama ini meliputi: Iman yang membawa damai yang estetika dalam pergaulan antar sesama manusia, Ilmu amaliah yang membawa kemandirian sebagai logika yang jernih dan sistematika, Indah yang membawa adil sebagai etika dan estetika dalam kebersamaan dan kemitraan. Selain itu dalam perwujudan dan implementasi pendidikan karakter bangsa anak jenjang SMP memerlukan bimbingan serta arahan seluruh komponen bangsa baik dari orang tua, pemerintah, masyarakat, maupun sekolah yang berwujud pada bangsa yang bermartabat membangun bangsa yang maju, mandiri, kuat dan berkepribadian.
Manajemen pendidikan karakter bangsa berbudaya Pancasila jenjang Sekolah Menengah Atas Yudiatmoko W. N; Wiwin Patonah
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 1 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i1.122

Abstract

Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek fungsi untuk memasuki masa dewasa. Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja mencakup perubahan transisi biologis, transisi kognitif, dan transisi sosial. Karakter merupakan suatu kualitas pribadi yang bersifat unik yang menjadikan sikap atau perilaku seseorang yang satu berbeda dengan yang lain. Dari kelima sila Pancasila, kita sudah lihat pentingnya Pancasila serta pengamalannya dalam pembentukan karakter seseorang. Pancasila serta pengamalannya dalam pembentukan karakter seseorang adalah untuk membangun sebuah karakter remaja atau siswa SMA yang berbudi pekerti, berakhlak terpuji, serta beriman.
Manajemen pendidikan karakter bangsa berbudaya Pancasila jenjang Perguruan Tinggi Euis Djuariah
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 1 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i1.123

Abstract

Artikel ini membahas urgensi manajemen pendidikan karakter sebagai solusi atas degradasi moral bangsa melalui penguatan mutu pendidikan di jenjang Perguruan Tinggi. Pendidikan karakter dipandang sebagai proses sistematis yang harus terintegrasi dalam seluruh jalur pendidikan (formal, nonformal, dan informal) guna mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia sesuai falsafah Pancasila dan tujuan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (PJPN) 2005-2025. Fokus utama kajian ini adalah pengembangan dua komponen esensial bagi mahasiswa: kemampuan berpikir kritis dan kemandirian. Berpikir kritis dipilih sebagai komponen karakter strategis agar lulusan mampu membedakan fakta dan pendapat serta mengambil keputusan bijaksana di tengah arus globalisasi. Sementara itu, kemandirian ditekankan sebagai sikap individu untuk bertindak tanpa ketergantungan melalui penguatan moral yang kokoh. Penulis mengadaptasi tahap perkembangan moral Kohlberg ke dalam empat strategi peningkatan mutu: keteladanan/pembiasaan, pemahaman norma, pelibatan aktif dalam kegiatan sekolah, dan motivasi intrinsik. Implementasi manajemen ini dilakukan melalui dua pendekatan sinergis: pembentukan sekolah sebagai institusi berkarakter (melalui kepemimpinan moral dan iklim sekolah yang demokratis) serta program pembentukan karakter individual siswa yang terencana. Keberhasilan program ini memerlukan pengembangan buku pedoman, uji coba model, serta pelatihan intensif bagi kepala sekolah, pendidik, dan mahasiswa agar tercipta lingkungan akademik yang kondusif bagi pertumbuhan karakter yang berkelanjutan.
Manajemen pendidikan karakter bangsa berbudaya Pancasila jenjang Lansia Imas Tiah
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 1 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i1.124

Abstract

Dalam mendefinisikan manusia lanjut usia Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) melihatnya dari tiga aspek, yaitu dampak biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial. Secara biologis penduduk lanjut usia ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik, biasanya dialami oleh penduduk yang berusia 56 tahun keatas. Penduduk berusia 56 tahun tersebut pun diharapkan mampu mendorong proses pembangunan karakter bangsa melalui pengabdian menyumbangkan nilai-nilai kejuangan dan pengalamannya. Semangat jiwa nasionalisme, semangat kemampuan daya saing dan kualitas SDM, serta semangat sikap kedisiplinan yang tinggi dari para orang lanjut usia dapat diwariskan kepada generasi manusia penerus bangsa. Agar para lansia tetap dapat berperan dalam kehidupan perlu dipikirkan tentang pendidikannya. Konsep transformasi budaya dan pendidikan sepanjang hayat perlu direnungkan kembali, jangan sampai usia lanjut dijadikan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Melalui pendidikan holistik, yaitu mengintegrasikan perkembangan karakter kedalam setiap aspek kehidupan, diharapkan nilai-nilai dapat benar-benar tertanam sampai usia lanjut. Nilai-nilai tersebut adalah nilai karakter bangsa berbudaya Pancasila, seperti iman yang membawa damai dalam pergaulan manusia yang dapat dilihat dalam segi; kebersihan, kesehatan, menghargai orang lain baik kepada yang muda maupun sesama lansia, dan kejujuran.
Pengaruh kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan profesionalitas guru terhadap produktivitas sekolah (Analisis deskripttf pada Sekolah Dasar di Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang) Hijrah Fitriyani
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 1 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i1.125

Abstract

Persoalan produktivitas sekolah dewasa ini adalah rendahnya kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan rendahnya kemampuan guru dalam hal profesi, kemampuan personal, maupun kemampuan bermasyarakat, ini yang melatarbelakangi penelitian dengan judul "Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Profesionalitas Guru Terhadap Produktivitas Sekolah" (Analisis Deskriptif pada Sekolah Dasar di Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang). Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai penulis yaitu untuk mendeskripsikan dan menganalisis mengenai pengaruh Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Profesionalitas Guru Terhadap Produktivitas Sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang didukung dengan studi kepustakaan dan studi dokumentasi serta angket sebagai alat pengumpul data utama. Berdasarkan hasil perhitungan SPSS 17.00, ketiga variabel dalam penelitian ini termasuk kategori sangat baik. Uji korelasi ketiga variabel dalam penelitian ini yang menunjukkan tingkat hubungan yang sedang. Sementara nilai regresi X1 dan X2 terhadap Y = 36,433 + 0,068X1 + 0,475X2, artinya kenaikan pada variabel Y akan diikuti oleh kenaikan pada variabel X1 dan X2. Sementara koefisien determinasi variabel X1 terhadap variabel Y sebesar 12%, variabel X2 terhadap variabel Y sebesar 26% dan variabel X1 dan X2 terhadap Y sebesar 30%. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lain seperti perubahan lingkungan, kinerja guru, budaya dan mutu pendidikan. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan profesionalitas guru mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas sekolah. Adapun rekomendasi yang ingin disampaikan penulis yaitu kepala sekolah lebih aktif dan kreatif dalam mentransformasi informasi dan pengetahuannya terhadap komponen sekolah lainnya, sementara bagi guru harus memiliki kemampuan dasar guru sebagaimana acuan dari pemerintah, dengan begitu, maka produktivitas sekolah akan terwujud.
Evaluasi pelatihan melalui mobile trainning unit berbasis masyarakat terhadap minat tumbuhnya masyarakat dalam menciptakan lapangan kerja di Jawa Barat All Anwar Yusuf
Jurnal Abmas Vol. 11 No. 2 (2011): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v11i2.126

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan lingkup wilayah studi adalah Kabupaten/Kota di Jawa Barat. Dalam hal ini mengingat Propinsi Jawa Barat sebagai salah satu propinsi yang melaksanakan pelatihan melalui Mobile Training Unit. Kemudian substansi kajian yang dibahas dalam penelitian ini pada dasarnya berkaitan dengan implementasi dan cara pandang pemahaman masyarakat mengenai penyelenggaraan pembinaan pelatihan melalui Mobile Training Unit berbasis masyarakat di Jawa Barat. Pada konteks kerangka pikir yang melandasi penelitian itu adalah isu perubahan konsep pembangunan dari yang bersifat top-down menjadi pendekatan yang bersifat bottom-up yang senantiasa mengedepankan partisipasi masyarakat dalam pembangunan di lingkup proses-proses pemberdayaan masyarakat. Tahap selanjutnya adalah memberikan keterampilan agar masyarakat bisa memanfaatkan potensi yang ada untuk kemajuan diri dan komunitasnya, serta diharapkan masyarakat menjadi terbiasa dalam menggunakan pendekatan-pendekatan dalam mencapai kesejahteraan yang lebih baik.