cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI TANAH BERBASIS WEBGIS DI KECAMATAN GAJAHMUNGKUR KOTA SEMARANG Bunga Roliesta Sari; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (851.996 KB)

Abstract

ABSTRAK Tanah merupakan properti yang pemanfaatannya terkait dengan penataan ruang wilayah. Tanah semakin lama nilainya semakin naik dari tahun ke tahun. Kenaikan harga tanah tersebut disebabkan karena pertumbuhan penduduk yang cukup cepat dibandingkan dengan ketersediaan tanah untuk kawasan permukiman. Perkembangan permukiman tersebut menyebabkan kebutuhan informasi mengenai harga tanah yang akurat dan cepat sangat dibutuhkan. Informasi dapat dibuat dalam bentuk web yang bertujuan untuk menampilkan nilai tanah yang berada dalam suatu wilayah. Dalam penelitian ini dibuat peta Zona Nilai Tanah (ZNT) berdasarkan nilai tanah dengan penilaian masal. Penelitian ini diawali dengan pembuatan batas zona tanah untuk menentukan jumlah titik sampel yang akan dicari. Kemudian membuat peta ZNT berdasarkan harga tanah pasar wajar Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Pembuatan peta ZNT tahun 2019 menggunakan ArcGIS Desktop 10.3 dengan jumlah zona 80. Kemudian pembuatan webGIS menggunakan ArcGIS Online dengan mengupload shapefile dan dokumentasi serta pengaturan kartografi peta. Pembuatan webGIS ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mendapatkan informasi tentang harga tanah pasar wajar di Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang. Hasil dari penelitian ini yaitu peta ZNT berbasis webGIS dengan hasil uji usability yang menunjukkan efektivitas webGIS mendapatkan nilai kepuasan 82,1% sedangkan efisiensi mendapatkan nilai kepuasan 79%. Berdasarkan uji usability tersebut dapat disimpulkan bahwa responden sangat puas dengan webGIS yang sudah dibuat. Kata Kunci: Gajahmungkur, Harga Tanah Pasar Wajar, WebGIS, Zona Nilai Tanah (ZNT)   ABSTRACT Land is a property which utilization is related to spatial planning. The longer the land, the higher the value rises from year to year. The increase in land prices is due to the population growth which is quite fast compared to the availability of land for residential areas.  The development of these settlements causing the need for an accurate and these. Informations can be made in a web form to display the value of land within a region. In this study, a land value zone map was made based on land values with mass assessment. This research begins with the creation of land zone boundaries to determine the number of sample points to be searched. Then make a map of ZNT based on the fair market land price of Gajahmungkur District, Semarang City. The making of ZNT maps in 2019 done by ArcGIS Desktop 10.3 with the  number of zones of 80. While the making of the webGISis done using ArcGIS Online by uploading shapefiles, documentation and setting the cartographic map. WebGIS is expected to help the community in getting information about fair market land prices in Gajahmungkur District, Semarang City. The results of this study are webGIS-based ZNT maps with the usability test results that show the effectiveness of webGIS with satisfaction score of 82.1% while the efficiency aspect gets a satisfaction score of 79%. Based on the usability test it can be concluded that the respondents were very satisfied with the webGIS that had been made. Keywords: Gajahmungkur, Fair Market Land Price, WebGIS, Land Value Zone
ANALISIS KETELITIAN HASIL PEMERUMAN PERAIRAN DANGKAL MENGGUNAKAN MULTIBEAM ECHOSOUNDER Angkoso Dewantoro; LM. Sabri; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.284 KB)

Abstract

The activities of the underwater gas pipelaying takes bathymetry data  as the imaging of seabed surface. Bathymetry data will be used at  planning and implementing of the installation of gas pipeline owned by PT Nusantara Regas. In the implementation of data retrieval, PT Nusantara Regas choose PT Calmarine as the executor of the work. At the time of the surveying  and reporting, PT Nusantara Regas have the  right to check the accuracy of the Bathymetry’s results. IHO as international organizations in the hydrography sector has established procedures  standardization  for data collection and Bathymetry’s level order from the data which generated in those activities. Installation of equipment and calibration processes are also required to follow the procedures from the IHO and data retrieval software guide. In this research, the data was take using the Multibeam Echosounder (MBES) branded Elac Seabeam 1180, while the retrieval software and data processing using HYPACK software. All the surveying activities was held in Muara Karang and Bay Jakarta waters. Precision inspection process carried out by calculating the difference between the main lanes of Multibeam Echosounder (MBES) measuring data and Bathymatry cross line which  measured using Singlebeam Echosounder (SBES). With the formula   was performes the  calculations on the data using a Multibeam Echosounder (MBES) and the Singlebeam Echosounder (SBES) cross line data which give the  results that included to the order 1 of IHO accuration level. Keywords : Bathymetry, Multibeam Echosounder (MBES), IHO Standarts
ANALISIS SEBARAN SUHU PERMUKAAN LAUT, KLOROFIL-A, DAN ANGIN TERHADAP FENOMENA UPWELLING DI PERAIRAN PULAU BURU DAN SERAM Theresia Niken Kurnianingsih; Bandi Sasmito; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1314.44 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Indonesia merupakan negara kepulauan karena wilayah lautnya lebih luas dibanding darat, sehingga berpotensi sebagai daerah penghasil sumber daya ikan laut. Kondisi permukaan laut selalu berubah setiap waktu sehingga membutuhkan data citra Aqua MODIS dan Quickscat untuk memberikan informasi secara temporal. Sensor MODIS dapat mengukur kandungan klorofil-a dan suhu permukaan laut (SPL) sebagai parameter utama upwelling. Sensor QuickScat dapat mengukur arah dan kecepatan angin sebagai parameter pendukung upwelling dan data sebaran ikan untuk membuktikan parameter upwelling mempengaruhi potensi dan tangkapan ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil analisis sebaran suhu permukaan laut, klorofil-a dan angin terhadap fenomena upwelling di perairan Pulau Buru dan Seram. Metode pengolahan data citra Aqua MODIS dan QuickScat menggunakan bahasa pemograman yang dibangun untuk mendapatkan nilai secara klimatologi dari tahun 2003-2015 dari parameter upwelling yaitu SPL, klorofil-a dan angin. Data hasil klimatologi selanjutnya dianalisis secara spasial dan statistika sehingga dapat mengetahui hubungan antar parameter upwelling untuk mendapatkan peta tematik sebaran SPL dan klorofil-a pada saat terjadi fenomena upwelling.          Hasil hubungan antar parameter SPL dan klorofil-a mempunyai korelasi sempurna mengikuti pola yang tidak searah artinya SPL tinggi maka klorofil-a rendah. Kecepatan angin mengikuti pola klorofil-a yang searah artinya klorofil-a tinggi maka kecepatan angin tinggi. Hubungan yang sempurna setiap parameter di perairan Pulau Buru dan Seram mendapatkan titik puncak upwelling di bulan Agustus. Bulan Agustus terjadi upwelling yang sangat kuat dengan SPL 26,703°C, kandungan klorofil-a 0,474 dan kecepatan angin 6,680 m/s.Kata Kunci : Aqua MODIS, Quickscat, suhu permukaan laut (SPL), klorofil-a, upwelling ABSTRACT Indonesia is known as an archipelago country due to it's ocean is larger than the land. So that Indonesia become a potential producer of marine fish resources. The condition of the sea surface can be changeable anytime and requires imagery data Aqua Modis and Quickscat to provide information temporally. MODIS sensor can measure the consentration of chlorophyll-a and the sea surface temperature as the main upwelling parameter. While Quickscat sensor can measure the wind speed and direction as a support upwelling parameter and fish distribution data. This can be a prove of upwelling parameters affecting the potential and catch of fish.This research is conduct to determine the analysis of the distribution sea surface temperature, chlorophyll-a and the wind towards the upwelling phenomena in the sea of Buru and Seram island. The method imagery data processing of Aqua Modis and Quickscat used programming language which is based on upwelling parameters there are sea surface temperature, chloropyll-a, and the wind, to get the value in climatology from 2003 until 2015. Then the result of climatology is being analyzed in spatial and stastistical, so that can be determine the relations from each upwelling parameters to get the thematic maps of sea surface temperature and chlorophyll-a in the moment of  upwelling phenomenon.The result from each parameters of sea surface temperature and chlorophyll-a have perfect correlations following pattern that is not unidirectional if the sea surface temperature is high then chlorophyll-a will be low. Whereas the wind speed is following unidirectional pattern of chlorophyll-a, which mean if chlorophyll-a is high, the wind speed will be high too. A perfect relations from each parameters in Buru and Seram island's sea get the highpoint of upwelling in August. Due to the strong upwelling occured in August with sea surface temperature is 26,703°C, chlorophyll-a 0,474 , and the wind speed is 6,680 m/s. Keywords:  Aqua MODIS, Chlorophyll-a, QuickScat, Sea Surface Temperature, Upwelling.
KAJIAN PEMANFAATAN DATA PENGINDERAAN JAUH UNTUK IDENTIFIKASI OBJEK PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (Studi Kasus : Kecamatan Tembalang Kota Semarang) Lasmi - Rahayu; Sawitri - Subiyanto; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1021.415 KB)

Abstract

ABSTRAKPenginderaan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, daerah, atau fenomena yang dikaji. Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh oleh PBB diharapkan dapat menunjang performance dalam pengelolaan tugas perpajakan. Salah satu produk citra satelit resolusi tinggi yang dimiliki adalah citra GeoEye. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi objek pajak bumi dan bangunan (PBB) dengan memanfaatkan data penginderaan jauh dan mengevaluasi peta PBB berdasarkan hasil identifikasi data penginderaan jauh dan survei lapangan.Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah identifikasi perubahan objek bangunan dari hasil overlay peta PBB dengan citra terkoreksi geometrik dengan cara interpretasi secara visual. Hasil interpretasi perubahan kemudian dilakukan uji ketelitian interpretasi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa teridentifikasi 15176 buah bangunan belum terpetakan pada peta PBB dengan luas bangunan belum terpetakan sebesar 1560415,057 m2.Kata Kunci: penginderaan jauh, citra GeoEye, objek Pajak Bumi dan Bangunan ABSTRACT Remote sensing is the science and art to get information about an object, area, or phenomenon through the analysis of data obtained with a device without direct contact with the object, area, or phenomenon under study. Utilization of remote sensing technology by administrator of land and property tax is expected to support performance in management of taxation duty. One of the products of high-resolution satellite imagery is GeoEye imagery. The purpose of this study is to identify the object of land and property tax by using remote sensing data and evaluate the land and building tax maps based on the identification of remote sensing data and  field  surveys. The method used in this study is the identification of the object changes in property taxes from the land and property tax map overlay image geometric correction by means of visual interpretation. Results interpretation changes then test the accuracy of interpretation. The results showed that the identified 15 176 pieces uncharted building on PBB map with a building area of 1560415.057 uncharted m2.Keywords: remote sensing, GeoEye imagery, land and property tax object
ANALISIS NILAI EKONOMI KAWASAN MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD (TCM) DAN CONTINGENT VALUATION METHOD (CVM) UNTUK PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN DENGAN SIG (Studi Kasus : Kawasan Museum Purbakala Sangiran, Kabupaten Sragen) Ega Siva Bellamy; Bambang Sudarsono; Hana Sugiastu Firdaus
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1234.723 KB)

Abstract

Potensi pariwisata di Indonesia yang beraneka ragam dan salah satunya wisata sejarah situs purbakala dapat menarik perhatian pengunjung. Besarnya potensi wisata situs purbakala yang ada di Indonesia dapat berpengaruh dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Salah satu situs purbakala dengan keunikan isinya yang dapat dijadikan tujuan wisata adalah Museum Purbakala Sangiran. Besarnya potensi Kawasan Museum Purbakala Sangiran maka perlu dibuat Peta ZNEK untuk mengetahui nilai ekonomi kawasan berdasarkan Willingness To Pay dengan  metode TCM (Travel Cost Method) dan CVM (Contingent Valuation Method) pada kawasan tersebut, dan Peta Utilitas Kawasan berdasarkan tipologi kawasan. Metode penarikan responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan teknik sampling insidental, yaitu responden yang ditemui secara kebetulan datang berkunjung di Kawasan Museum Purbakala Sangiran. Data yang digunakan adalah 100 responden untuk TCM dan 100 responden untuk CVM. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear menggunakan Microsoft Excel dan perhitungan menggunakan Maple 17. Serta dilakukan juga uji asumsi klasik (normalitas, heteroskedastisitas, autokorelasi, dan multikolinearitas), validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS 23. Dalam penelitian ini, uji asumsi klasik menunjukkan semua data berdistribusi normal, tidak terjadi heteroskedastisitas, terbebas dari autokorelasi dan tidak memiliki multikolinearitas. Uji validitas dan reliabilitas menunjukan hasil valid dan reliabel pada model yang digunakan. Hasil perhitungan nilai total ekonomi diperoleh nilai guna langsung sebesar Rp. 639.849.194.800,-. Nilai keberadaan sebesar Rp. 50.457.653.780,- sehingga diperoleh nilai total ekonomi Kawasan Museum Purbakala Sangiran sebesar Rp. 690.306.848.600,-.
VISUALISASI KADASTRAL 3D DALAM PENYUSUNAN PROPERTI HAK MILIK ATAS SATUAN RUMAH SUSUN (HMASRS) UNTUK MENGOPTIMALKAN SISTEM INFORMASI PERTANAHAN (STUDI KASUS: PLASA SIMPANGLIMA) Adhi, Sasongko; Sudarsono, Bambang; Kahar, Sutomo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.33 KB)

Abstract

Badan Pertanahan Nasional, sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional Pertanahan ditugaskan untuk membangun dan mengembangkan suatu sistem informasi pertanahan yang didalamnya meliputi pengelolaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah berbasiskan sistem informasi geografis. Pembangunan sistem informasi pertanahan ini salah satunya ditujukan untuk mengoptimalkan pelayanan pertanahan dalam penyampaian data dan informasi kepada masyarakat. Terkait dengan pengoptimalan pelayanan pertanahan, pemetaan kadastral dua dimensi yang diterapkan pada bangunan rumah susun sudah saatnya mulai dikembangkan kearah tiga dimensi. Hal ini dikarenakan rumah susun merupakan bangunan bertingkat yang memiliki banyak properti dengan pemanfaatan yang berbeda-beda. Sebuah model tiga dimensi memberikan kemudahan bagi pengguna untuk memilih posisi virtual dalam peta, keakuratan yang lebih baik dalam memahami dan menginterpretasi peta, serta untuk menampilkan bentuk yang lebih perspektif dan dapat memperlihatkan bentuk secara real sehingga dapat memberikan informasi dari bangunan fisik yang ada. HMASRS merupakan salah satu obyek Pendaftaran Tanah sesuai PP No. 24 tahun 1997, namun pada saat ini kegiatan pendaftaran tanah terhadap HMASRS masih dilakukan dengan pendekatan secara 2 dimensi dengan informasi yang terbatas (aspek ruang belum dapat terakomodasi). Sehingga, Pemodelan Kadastral Tiga Dimensi (3D) dalam Penyusunan Properti Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun (HMASRS) untuk Mengoptimalkan Sistem Informasi Pertanahan sangat tepat dalam menyediakan informasi yang lengkap atas obyek HMASRS. Data simulasi penelitian diperoleh dari Kantor Pertanahan Kota Semarang dan Kantor Pemasaran Plasa Simpanglima, berupa gambar denah Plasa Simpanglima dalam format digital. Pengolahan data meliputi penggambaran objek dalam tiga dimensi, serta pembuatan relation/link tiap denah dengan informasi yang terkait. Kata Kunci : Sistem Informasi Pertanahan, Kadastral Tiga Dimensi (3D), Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun (HMASRS)
ANALISIS PERUBAHAN KERAPATAN HUTAN MENGGUNAKAN METODE NDVI DAN EVI PADA CITRA SATELIT LANDSAT 8 TAHUN 2013 DAN 2016 (Area Studi : Kabupaten Semarang) Nanang Noviantoro Prasetyo; Bandi Sasmito; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.284 KB)

Abstract

ABSTRAK Hutan pada dasarnya memiliki peranan penting sebagai penyangga bagi sistem kehidupan, beberapa diantaranya sebagai penyimpan cadangan air dan oksigen. Dengan peningkatan yang pesat pada pembangunan menyebabkan terdegradasinya areal hutan. Kerusakan hutan dalam jangka panjang akan mengakibatkan terganggunya ekosistem hutan dan kehidupan yang ada di sekitarnya.Pemantauan hutan secara berkala perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya degradasi hutan. Metode yang bisa dilakukan dalam pemantauan hutan diantaranya dengan memanfaatkan teknologi pengindraan jauh. Teknologi pengindraan jauh dapat memberi solusi untuk pemantauan hutan skala luas, salah satunya dengan memanfaatkan sensor multispektral pada citra satelit Landsat 8 dengan berbagai macam algoritma pemprosesan indeks vegetasi.Penelitian ini menggunakan algoritma NDVI (Normalize Difference Vegetation Index) dan EVI (Enhanched Vegetation Index) untuk melakukan pemantauan perubahan hutan di Kabupaten Semarang. Metode yang dilakukan yaitu pemrosesan NDVI dan EVI pada citra Landsat 8, selanjutnya mengklasifikasikan kawasan hutan yang ada di Kabupaten Semarang dengan menggunakan metode supervised dengan algoritma maximum likelihood, langkah selanjutnya yaitu mengoverlay antara kawasan hutan dengan hasil dari proses NDVI dan EVI.Dari hasil overlay tersebut didapatkan luasan kerapatan hutan tinggi di Kabupaten Semarang pada tahun 2013 sebesar 25.418,4 Ha untuk NDVI dan 15.149,3 Ha untuk EVI, lalu pada tahun 2016 sebesar 26.677,7 Ha untuk NDVI dan 23.431 Ha untuk EVI. Berdasarkan uji ketelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode survei ubinan didapatkan hasil ketelitian NDVI 53,33% dan EVI 80%. Hasil akhir dari pengolahan didapatkan peta kerapatan Hutan NDVI dan EVI yang dapat digunakan sebagai pemantauan areal hutan yang ada di Kabupaten Semarang.Kata Kunci          : EVI,  Hutan,  NDVI, Pengindraan Jauh.  ABSTRACT Forests basically have an important role as a buffer for the living system, some of them as a reservoir of water and oxygen. With the rapid rise in development leads to the degradation of forest areas.Long-term forest destruction will lead to disruption of forest ecosystems and the surrounding life. Periodic monitoring of forests needs to be done to avoid forest degradation. Methods that can be done in monitoring the forest include by utilizing remote sensing technology. Remote sensing technology can provide solutions for large-scale forest monitoring, one of them by utilizing multispectral sensors on Landsat 8 satellite images with a variety of vegetation index processing algorithms.This research uses NDVI (Normalize Difference Vegetation Index) and EVI (Enhanched Vegetation Index) algorithm to monitor the change of forest in Semarang regency. The method that is done is processing of NDVI and EVI in Landsat 8 image, then classify the forest area in Semarang Regency by using supervised method with maximum likelihood algorithm, the next step is to cover the forest area with the result of NDVI and EVI process.From the results of the overlay is obtained high forest density in Semarang regency in the year 2013 for 25,418.4 Ha for NDVI and 15.149.3 Ha for EVI, then in 2016 amounted to 26.677.7 Ha for NDVI and 23431 Ha for EVI.Based on the accuracy test conducted by using the ubinan survey method obtained the results of NDVI accuracy 53,33% and EVI 80%. The final results of the processing obtained density maps of Forest NDVI and EVI that can be used as monitoring of existing forest area in Semarang regency.Keyword : EVI, Forest, NDVI, Remote Sensing.
STUDI KELAYAKAN LOKASI PERENCANAAN BASE TRANSCEIVER STATION (BTS) BERBASIS GEOSPASIAL (Studi Kasus : Bts Di Kabupaten Pati) Ratriana, Resti Winda; Nugraha, Arief Laila; Wijaya, Arwan Putra
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.628 KB)

Abstract

ABSTRAKMeningkatnya perkembangan telekomunikasi di Indonesia terbukti dengan adanya segala macam operator yang menawarkan kemudahan telekomunikasi untuk masyarakat. Hal ini menyebabkan operator seluler harus bisa memenuhi kebutuhan trafik pengguna. Pemenuhan kebutuhan jaringan dilakukan dengan membangun infrastruktur jaringan, salah satunya adalah BTS (Base Transceiver Station) dimana BTS itu sendiri diperlukan khususnya untuk daerah yang masih jauh dari jangkauan sinyal atau layanan komunikasi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi potensial perencanaan pembangunan BTS dan menganalisis kelayakan lokasi tersebut dengan memanfaatkan informasi geospasial pada tiga variabel yaitu line of sight, zonasi, dan kesesuaian fungsi kawasan (kawasan lindung dan kawasan budidaya) di Kabupaten Pati. Melalui analisis tersebut selanjutnya diolah untuk mendapatkan peta lokasi potensial menara BTS berdasarkan ketiga variabel, yang kemudian digolongkan menjadi lokasi potensial dan lokasi dilarang.Berdasarkan hasil pengolahan data, lokasi yang dijadikan referensi guna didirikannya menara telekomunikasi yang baru, terdapat 63 buah, dimana 45 buah diantaranya termasuk dalam lokasi potensial pembangunan menara BTS sementara 15 buah masuk dalam lokasi tidak potensial dan 3 buah lainnya masuk kategori lokasi kurang potensial karena hanya memenuhi sebagian parameter saja.Kata kunci : Base Transceiver Station, Geospasial, Lokasi ABSTRACKThe increasing development of telecommunications in Indonesia as evidenced by the presence of all kinds of telecommunication operators who offer convenience to the public. This causes the mobile operators should be able to meet the needs of the user traffic. Meeting the needs of the network is done by building a network infrastructure, one of which is the BTS (Base Transceiver Station) where the BTS itself is necessary, especially for areas that are far from the reach of the signal or communication.This study aims to determine the potential sites BTS development planning and analyzing the feasibility of these locations by utilizing geospatial information on three variables: the line of sight, zoning, and compliance function of the area (protected areas and cultivated area) in Pati regency. Through the analysis further processed to obtain the map of potential sites BTS based on three variables, which are then classified into potential sites and locations is prohibited.Based on the results of data processing, the location of which is used as a reference for the establishment of a new telecommunications tower, there are 63 pieces, of which 45 pieces of which are included in the potential locations of BTS tower construction while 15 pieces included in not potential location and three other pieces in the category of less potential locations for only meet most parameters only.Keywords: Base Transceiver Station, Geospatial, Location
STUDI PERKEMBANGAN TERUMBU KARANG DI PERAIRAN PULAU PANJANG JEPARA MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL-2 DENGAN METODE ALGORITMA LYZENGA DIKA NUZUL RACHMAWATI; Bandi Sasmito; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1191.378 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara yang terletak di wilayah beriklim tropis dan menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Negara ini memiliki ribuan pulau dengan panjang garis pantai ribuan kilometer. Indonesia memiliki ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang yang berfungsi sebagai pelindung garis pantai dan pusat bio-diversitas biota laut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan citra Sentinel-2 dengan algoritma lyzenga. Metode algoritma lyzenga digunakan untuk memetakan material penutup material penutup dasar perairan laut dangkal. Algoritma ini menggunakan prinsip dasar teknik penggabungan informasi beberapa saluran spektral untuk menghasilkan indeks pemisah kedalaman dari material penutup dasar perairan. Berdasarkan hasil pengolahan dan klasifikasi pada tahun 2015 menunjukkan sebaran spasial terumbu karang di perairan Pulau Panjang Jepara yang mendominasi yaitu sebesar 111.700 m2, dibandingkan kelas pasir dan kelas substrat. Tahun 2017 menunjukkan sebaran spasial terumbu karang sebesar 72.400 m2 yang lebih sedikit dibandingkan kelas substrat dan lebih besar dibandingkan kelas pasir. Kelas terumbu karang mengalami penurunan sebesar 39.300 m2 pada tahun 2015 hingga 2017. Pecahan-pecahan karang akibat terumbu karang yang rusak terdeteksi menjadi kelas substrat, sehingga mengakibatkan kelas pada substrat akan meningkat jika kelas terumbu karang mengalami penurunan.
PERBANDINGAN KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN MENGGUNAKAN METODE KLASIFIKASI BERBASIS OBJEK DAN KLASIFIKASI BERBASIS PIKSEL PADA CITRA RESOLUSI TINGGI DAN MENENGAH Zia Ul Maksum; Yudo Prasetyo; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.143 KB)

Abstract

ABSTRAK                Suatu wilayah akan mengalami perkembangan yang akan membawa perubahan penampakan secara fisik. Wilayah yang berkembang memerlukan adanya perencanaan untuk mengarahkan peruntukan lahan secara tepat. Dibutuhkan suatu metode yang akurat dan efektif untuk memperoleh informasi tutupan lahan. Salah satu teknologi yang efektif untuk memetakan tutupan lahan adalah teknologi penginderaan jauh. Terdapat berbagai macam teknik pengolahan data dalam penginderaan jauh untuk memperoleh informasi tutupan lahan. Teknik klasifikasi citra dalam penginderaan jauh terbagi menjadi tiga bagian teknik klasifikasi yaitu teknik berbasis piksel, teknik berbasis sub-piksel, dan teknik berbasis objek.                Pada penelitian ini, teknik klasifikasi berbasis piksel dan klasifikasi berbasis objek akan dibandingkan dalam mengklasifikasi tutupan lahan pada citra resolusi tinggi yaitu citra Quickbird dan citra resolusi menengah yaitu citra Landsat 8 dengan lokasi Kota Semarang.  Perbandingan hasil klasifikasi berbasis objek dan klasifikasi berbasis piksel pada kedua citra tersebut diuji akurasinya dengan matriks konfusi yang menghasilkan akurasi klasifikasi tutupan lahan pada citra Landsat 8 didapat akurasi keseluruhan untuk metode klasifikasi berbasis objek sebesar 77,14% sedangkan metode klasifikasi berbasis piksel didapat nilai sebesar 75,71%. Untuk citra Quickbird, klasifikasi berbasis objek menghasilkan akurasi keseluruhan 87,14% sementara klasifikasi berbasis piksel didapat nilai sebesar 82,85%.                Hasil akurasi keseluruhan menunjukkan klasifikasi berbasis objek cukup baik dibandingkan klasifikasi berbasis piksel dalam mengklasifikasi tutupan lahan baik pada citra resolusi menengah (citra Landsat 8) maupun citra resolusi tinggi (citra Quickbird). Kata Kunci : Klasifikasi Berbasis Objek, Klasifikasi Berbasis Piksel, Tutupan Lahan ABSTRACTA region will experience growth that it will bring changes in the physical appearance. Evolving region need to review land use planning to steer land cover allocation properly. It requires an accurate and effective method to obtain land cover information. One effective technology for mapping land cover is a remote sensing technology. There are various kinds of data processing techniques in remote sensing to obtain land cover information. Classification techniques in remote sensing image are divided into three parts classification technique that are pixel based technique, sub-pixel based technique, and object-based techniques. In this study, the pixel based classification and object based classification techniques will be compared in land cover classification on high resolution imagery that are Quickbird imagery dan medium resolution imagery that are Landsat 8 imagery with the location in city of Semarang. Comparison of the results object based classification and the pixel based classification is tested for accuracy by confusion matrix that produce land cover classification accuracy of Landsat 8 obtained value the overall accuracy for an object based classification method amounted to 77.14%, while the pixel based classification methods obtained a value of 75.71%. For Quickbird image, object based classification produce in overall accuracy of 87.14% while the pixel-based classification obtained a value of 82.85%. The results showing the accuracy of the object based classification is quite good compared to the pixel-based classification either at medium resolution imagery (Landsat 8) and high resolution imagery (Quickbird). Keywords : Object Based Classification, Pixel Based Classification, Land Cover.  *) Penulis Penanggung Jawab

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue