cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISIS PERBANDINGAN METODE PCA (PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS) DAN INDEKS MINERAL LEMPUNG UNTUK PEMODELAN SEBARAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK TANAH MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT DI KABUPATEN KENDAL Nailatul Muna; Yudo Prasetyo; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.402 KB)

Abstract

ABSTRAK Tanah yang baik merupakan tanah yang subur, yang dapat ditanami berbagai macam tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tanah yang subur kaya akan unsur hara di dalamnya, salah satunya yaitu bahan organik. Bahan organik merupakan unsur yang dapat mengindikasikan kesuburan tanah. Oleh karena itu informasi tentang kandungan bahan organik suatu tanah sangat penting untuk diketahui terutama oleh masyarakat yang berada di sektor pertanian agar dapat meningkatkan produktivitas pertanianya.Dengan menggunakan sistem pengindraan jauh dapat diperoleh hasil dengan cakupan area yang luas dengan tidak membutuhkan waktu, tenaga dan biaya cukup banyak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear antara transformasi PCA, indeks mineral lempung dan kelerengan dengan data analisis kandungan bahan organik di lapangan, sebagai faktor indikasi adanya kandungan bahan organik dalam tanah untuk mendapatkan model terbaik antara metode PCA dan indeks mineral lempung dengan nilai Standard error Estimate  (SEE) yang kecil, serta ketelitian model jika dibandingkan dengan hasil laboratorium.Hasil dari penelitian ini adalah suatu bentuk pemodelan statistik yaitu – 29,099 + 22,969 X1 + 0,937 X2, dimana X1 merupakan indeks mineral lempung dan X2 merupakan kelerengan, dengan tingkat akurasi sebesar 72,2% berdasarkan matriks konfusi antara hasil laboratorium dan hasil pengolahan. Persebaran kandungan bahan organik didominasi oleh kelas sangat tinggi yaitu sebesar 74,5 % seluas 75642,429 Ha yang berada di Kecamatan Weleri, Ringinarum, Pegandon, Kaliwungu Selatan, Boja, Limbangan, Singorojo, Patean, Sukorejo, Plantungan dan Pagerruyung. Kata Kunci : Bahan organik, Indeks mineral lempung, PCA, Penginderaan jauh, Regresi  ABSTRACT Good soil is fertile soil, which can be planted with a variety of plants to meet human needs. Fertile soil is rich in nutrients, one of which is organic material. Organic matter is an element that can indicate soil fertility. Therefore information about the organic matter content of a soil is very important to be known especially by people who are in the agricultural sector in order to increase agricultural productivity.By using a remote sensing system results can be obtained with a wide area coverage without requiring considerable time, effort and cost. The method used in this study is a linear regression between PCA transformation, clay mineral index and slope with data analysis of organic matter content in the field, as an indication factor for the presence of organic matter content in the soil to get the best model between PCA method and clay mineral index with Standard values small Estimate error (SEE), and model accuracy when compared with laboratory results.The results of this study are a form of statistical modeling namely – 29,099 + 22,969 X1 + 0,937 X2, where X1 is the clay mineral index and X2 is slope, with an accuracy rate of 72.2% based on a confusion matrix between laboratory results and processing results. The distribution of organic matter content is dominated by a very high class of 74.5% covering an area of 75642,429 hectares in Weleri, Ringinarum, Pegandon, South Kaliwungu, Boja, Limbangan, Singorojo, Patean, Sukorejo, Plantungan and Pagerruyung Districts.Keywords: clay mineral index, organic matter, PCA, regression, remote sensing
Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Di Kecamatan Karangawen Studi Kasus : Pembangunan Karang Awen, Demak Winoto, Hadi; Sudarsono, Bambang; Nugraha, Arief Laila
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.528 KB)

Abstract

Satu keuntungan utama pendekatan digital yaitu mudah mengupdate peta penggunaan lahan suatu wilayah dengan membandingkan dua skene citra satelit diambil dari dua waktu berbeda, pixel per pixel memungkinkan tiga pendekatan: (1) rasioing saluran; (2) penajaman transformasi data multispectral dan (3) deteksi perubahan perbandinganya dengan pascaklasifikasi. Rasioing saluran merupakan metode paling cepat dan paling mudah dari semua metode untuk deteksi perubahan penggunaan lahan. Metode ini meliputi, pertama, seluruh perekaman citra yang cermat dari dua waktu berbeda. Proses perekaman mencakup penggunaan titik control lapangan dan pemecahan serangkaian persamaan linier. Hal ini memungkinkan membuat sample ulang data citra dengan pixel 0.61 m persegi yang dibentuk kembali dengan system grim UTM.Peranan penting dari pengindraan jauh untuk pemetaan penggunaan lahan  dan penutup lahan dan untuk deteksi perubahan telah diberikan dengan tegas. Jelaslah bahwa hal ini merupakan metode paling baik dan paling cepat untuk mendapatkan data penggunaan lahan dan penutup lahan yang dapat dipercayai.Keuntungan utama adalah prospek interpretasi yang cepat dan cermat dari klasifikasi citra satelit pada areal yang luas. Hasil yang berupa peta perubahan penggunaan lahan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang berkepentingan demi kemanfaatan bagi masyarakat setempat.Kata Kunci : ,Deteksi perubahan,Interpretasi, lahan,Citra Satelit
PEMBUATAN PETA ZONA NILAI EKONOMI KAWASAN (ZNEK) DAN PETA UTILITAS BERDASARKAN NILAI EKONOMI KEBERADAAN DAN NILAI PENGGUNAAN LANGSUNG KAWASAN MASJID AGUNG DEMAK DAN MAKAM KADILANGU DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Nastiti Asrining Hartri; Arief Laila Nugraha; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.026 KB)

Abstract

ABSTRAKSalah satu daerah di Indonesia yang memiliki destinasi pariwisata yang terkenal dengan wisata religinya adalah Kabupaten Demak. Objek wisata religi di Kabupaten Demak diantaranya adalah Masjid Agung Demak dan Makam Kadilangu. Wisata religi tesebut sangat diminati wisatawan untuk berkunjung. Hampir setiap tahun terjadi kenaikan jumlah wisatawan pada kedua objek wisata tersebut. Dari tingkat antusiasme wisatawan yang semakin meningkat maka dapat dikatakan bahwa kedua obyek tersebut merupakan  obyek wisata yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Berdasarkan hal tersebut diperlukan pembuatan peta Zona Nilai Ekonomi Kawasan untuk mengetahui manfaat nilai ekonomi kedua kawasan objek wisata tersebut.Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode Travel Cost Method (TCM) dan metode Contingent Valuation Method (CVM). Metode TCM digunakan untuk memperoleh nilai kegunaan langsung sedangkan metode CVM digunakan untuk mendapatkan nilai bukan kegunaan. Kemudian, pengambilan data primer dilakukan melalui survei lapangan. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dan menghitung nilai total ekonomi. Pada penelitian ini juga dilakukan uji statistik (uji validitas dan uji reliabilitas) dan uji asumsi klasik (uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas).Hasil dari perhitungan nilai total ekonomi didapatkan nilai total kegunaan dan nilai total bukan kegunaan. Untuk kawasan Masjid Agung Demak, nilai total kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 1.032.106.843.000,-, nilai total bukan kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 52.746.711.060,-, dan nilai total ekonomi yang didapatkan adalah sebesar Rp 1.084.853.554.060,-. Sedangkan untuk kawasan Makam Kadilangu, nilai total kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 1.347.433.284.000,-, nilai total bukan kegunaan yang didapatkan sebesar Rp 53.937.046.060,-, dan nilai total ekonomi yang didapatkan adalah sebesar Rp 1.401.370.330.060,-.
EVALUASI RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP PERTUMBUHAN PENDUDUK BERBASIS SPASIAL DI KABUPATEN KUDUS Mahardika, Sandy Yudistira; Nugraha, Arief Laila; Awaluddin, Moehammad
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.533 KB)

Abstract

ABSTRAKBerdasarkan Peraturan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menetapkan bahwa proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% dari luas kota. Penyediaan RTH di wilayah perkotaan khususnya untuk wilayah perkotaan Kudus memang sedikit mengalami kesulitan dikarenakan sawah yang lebih mendominasi di perkotaan Kudus itu sendiri. Secara kuantitatif berkurangnya RTH karena perubahan fungsi lahan. Untuk mengetahui perubahan fungsi lahan tersebut dapat melalui beberapa cara pemanfaatan data citra satelit. Untuk melakukan pemrosesan data menggunakan citra satelit, proses rektifikasi citra merupakan proses yang penting, maka dari itu sebelum memulai pengolahan data citra, harus dilakukan rektifikasi terlebih dahulu. Setelah itu dilakukan pemotongan citra sebelum menuju ketahap registrasi peta. Registrasi peta merupakan proses transformasi koordinat, dari data yang awalnya belum memilki koordinat dan masih mengandung kesalahan geometrik menjadi citra yang benar dan akan memiliki koordinat. Berdasarkan pengolahan citra resolusi tinggi atau Google Earth tahun 2013, didapatkan luas Ruang Terbuka Hijau Kabupaten Kudus tahun 2013 sebesar 5.395,953 Ha atau sekitar 12,04% dari total luas wilayah Kabupaten Kudus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa luas Ruang Terbuka Hijau belum memenuhi jumlah yang ditentukan dalam RTRW Kabupaten Kudus sebesar 30% dari total luas wilayah Kabupaten Kudus. Sedangkan berdasarkan jumlah penduduk dan sampel prediksi pertumbuhan penduduk mulai tahun 2013 hingga tahun 2023, didapatkan luas Ruang Terbuka Hijau di Kabupaten Kudus belum memenuhi kebutuhan Ruang Terbuka Hijau secara merata setiap kecamatannya. Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau; Citra Resolusi Tinggi; Pertumbuhan Penduduk  ABSTRACTBased on the regulations of LAW number 26 of 2007 concerning Spatial stipulates that the proportion of OGS in urban areas is at least 30% of the town. The provision of OGS in urban areas especially for urban areas is indeed a bit of a Holy experience difficulties due to more rice fields dominate the urban Kudus itself. Quantitatively reduced OGS function changes due to land. To know the land functions can change in several ways the utilization of satellite imagery data. To perform data processing using satellite imagery, image rectification process is the process that is important, so from that before the start of the data processing, image rectification must be made in advance. After it's done cutting image before heading for to step registration map. Registration is the process of transformation of the coordinates of the map, initially from the data have not have coordinates and still contain the correct image into geometric and will have coordinates. Based on the high resolution image processing or Google Earth by 2013, obtained wide open green space Kudus 2013 amounting to 5.395,953 Ha or approximately 12,04% of the total area of the County. So it can be inferred that the wide open green space has not met the amount specified in the Kudus District RTRW amounting to 30% of the total area of the County. And also on the basis of population and sample predictions of population growth starting in 2013 until the year 2023, wide open Green Spaces are obtained in Kudus have yet to meet the needs of open green space evenly every subdistrict. Keyword: Open Green Space; High Resolution Imagery; Population Growth     *) Penulis PenanggungJawab
ANALISIS DESAIN JARING GNSS BERDASARKAN FUNGSI KEHANDALAN INTERNAL DAN KEHANDALAN EKSTERNAL (STUDI KASUS : TITIK GEOID GEOMETRI KOTA SEMARANG) Kurniawan Adi Widiyanto; L M Sabri; Moehammad Awaluddin
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.518 KB)

Abstract

Pekerjaan pengukuran tidak lepas dari tahap pembuatan desain jaring pemetaan. Desain jaring dirancang sedemikian rupa agar dapat mencakup semua wilayah pengamatan dengan pemilihan penempatan titik yang dipertimbangkan dengan baik. Oleh karena itu, optimalisasi jaring kontrol pemetaan perlu dilakukan pada tahap perancangan jaring kontrol. Optimalisasi jaring perlu memperhatikan tiga aspek, yaitu biaya, kehandalan dan keakurasian. Dalam penelitian ini metodologi yang digunakan adalah pengukuran GNSS metode rapid static. Pengukuran menggunakan base station titik GRAV11, CORS BIG Kota Semarang, dan CORS Universitas Diponegoro. Titik penelitian yang digunakan yaitu 20 titik geoid geometri di Kota Semarang.. Penelitian ini dilakukan dengan membuat 5 desain jaring GNSS yang optimum ditinjau dari geometri jaring berdasarkan kriteria kehandalan (redudansi individu, kehandalan luar, dan kehandalan dalam). Desain jaring yang paling optimal berdasarkan analisis fungsi kehandalan dan standar deviasi adalah desain jaring nomor 1 dengan jumlah baseline 51. Desain jaring nomor 1 memiliki nilai fungsi kehandalan dengan nilai kehandalan luar paling kecil yaitu sebanyak 4,1099, nilai kehandalan dalam paling kecil yaitu sebanyak 0,1209 dan nilai redudansi individu paling maksimal yaitu 0,7777. Ini menunjukkan bahwa desain jaring nomor 1 memiliki sensitivitas tinggi terhadap kesalahan acak dan kesalahan kasar. Desain jaring nomor 1 memiliki nilai standar deviasi paling kecil sebesar 0,0163 dibanding dengan desain lainnya, hal ini menunjukan desain jaring 1 merupakan desain jaring paling presisi.
OPTIMALISASI PARAMETER SEGMENTASI BERBASIS ALGORITMA MULTIRESOLUSI UNTUK IDENTIFIKASI KAWASAN INDUSTRI ANTARA CITRA SATELIT LANDSAT DAN ALOS PALSAR ( Studi Kasus : Kecamatan Tugu Dan Genuk, Kota Semarang) Ari Setiani; Yudo Prasetyo; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.253 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan metode klasifikasi data penginderaan jauh untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat semakin pesat. Salah satu metode klasifikasi data yang berkembang adalah klasifikasi berbasis objek. Klasifikasi ini mempunyai keunggulan dalam pemisahan objek dalam bentuk segmen-segmen yang akurat dan presisi. Pada penelitian ini dilakukan pencarian nilai optimalisasi parameter segmentasi dengan algoritma multiresolusi segmentasi untuk identifikasi kawasan industri, yang termasuk dalam klasifikasi berbasis objek. Dengan menggunakan citra Landsat 7 ETM+ dan ALOS PALSAR yang berada di dua kecamatan, yaitu kecamatan Genuk dan Tugu.Untuk mengidentifikasi kawasan industri dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama adalah segmentasi dan yang kedua adalah klasifikasi. Pada tahap segmentasi kedua citra satelit diproses menggunakan algoritma segmentasi multiresolusi. Pada algoritma tersebut terdapat tiga parameter segmentasi , yaitu skala, bentuk dan kekompakkan. Ketiga parameter dilakukan pengujian secara berulang hingga mendapatkan nilai kombinasi parameter yang optimal. Selanjutnya tahap klasifikasi dilakukan untuk mengelompokkan hasil segmen yang terbentuk sesuai dengan kelas masing-masing. Kelas yang dibentuk untuk tahapan klasifikasi  ada dua, yaitu kawasan industri dan non industri.Dari hasil algoritma segmentasi didapatkan nilai optimal untuk citra Landsat 7 ETM+ di kecamatan Genuk adalah sebesar 30 untuk parameter skala, 0,1 untuk parameter bentuk dan 0,3 untuk parameter kekompakkaan. Sedangkan untuk kecamatan Tugu adalah 17 untuk parameter skala, 0,1 untuk parameter bentuk dan 0,5 untuk parameter kekompakkan. citra ALOS PALSAR di kecamatan Genuk adalah sebesar 25 untuk parameter skala, 0,5 untuk parameter bentuk dan 0,5 untuk parameter kekompakkan. Sedangkan untuk kecamatan Tugu adalah 27 untuk parameter skala, 0,5 untuk parameter bentuk dan 0,5 untuk parameter kekompakkan. Hasil uji akurasi dengan menggunakan matriks konfusi dari kedua citra menghasilkan nilai akurasi keseluruhan sebesar 100%.Kata Kunci : Algoritma segmentasi multiresolusi, Kawasan Industri, Optimalisasi parameter. ABSTRACTThe classification methods development in remote sensing in order to get accurate and precision informations has been enormously evolved. One of data classification method envolving is the object based classification. This data classification has had several advantages on object especially in separating shape segments in precisely and accurately. In this research, in order to identify an industrial area using the object based classification, we have already used the multi-resolution segmentation algorithm. Also we had had a value of segmentation parameters optimization to reach the best classification results. This research has used a Landsat 7 ETM+ and ALOS PALSAR images which is located in Genuk and Tugu sub-district.To identify industry area, this process divided into two processes, first process is segmentation and the second process is classification. In segmentation process, both of the satellite imageries are processed by using multiresolution segmentation algorithm. There are three segmentation parameters in this algorithm as follows a scale, a shape, and a compactness. Furthermore, the process of classification is to classify the segmentation products that are segmentated into an each class. It will be form a two land use class as like  an industry and a non-industry area.From segmentation proccess, it was resulted an optimal value for Landsat 7ETM+ imagery in Genuk sub-district around 30 in scale parameter,  0.1 in shape parameter and 0.3 in compactness parameter. While  the optimal value in Tugu sub-district around 25 in scale parameter, 0.5 in shape parameters, and 0.3 for compactness parameters.For ALOS PALSAR imagery, it was resulted an optimal value in Genuk Sub-district around 25 in scale parameter, 0.5 in shape parameter and 0.5 in compactness parameter.For Tugu Sub-district, it has obtained around 27 in scale parameter, 0.5 in shape parameter and 0.5 for compactness parameter. The accuration test has obtained using a confution matrix from both of sattelite imagery which is get an overall accuracy value around 100 percents. Keywords : Industry Area, Multiresolution Segmentation Algorithm, Parameters optimization*) Penulis, Penanggung jawab
ANALISIS DEBIT MAKSIMUM UNTUK PEMBUATAN PETA ALOKASI PENGGUNAAN AIR PERMUKAAN (STUDI KASUS : DAS KUPANG, JAWA TENGAH) Huda, Nurul; Sudarsono, Bambang; Sasmito, Bandi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.279 KB)

Abstract

AbstrakPerkembangan wilayah pada suatu daerah akan menyebabkan kebutuhan air terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Pemenuhan kebutuhan pangan dan aktivitas penduduk selalu erat kaitannya dengan kebutuhan akan air. Tuntutan tersebut tidak dapat dihindari, tetapi haruslah  direncanakan pemanfaatannya sebaik mungkin. Kecenderungan yang sering terjadi adalah adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air. Untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan air dan ketersediaan air di masa mendatang, diperlukan upaya pengkajian komponen-komponen kebutuhan air, serta efisiensi penggunaan air.DAS Kupang mempunyai debit tertinggi pada bulan Januari yaitu sebesar 78,947 m3/detik dan debit terendah terjadi pada bulan Agustus yaitu sebesar 4,112 m3/detik dengan nilai ketersediaan air tertinggi pada bulan Januari yaitu sebesar 204.629.856,800 m3 dan nilai ketersediaan air terendah terjadi pada bulan Agustus yaitu sebesar 10.657.759,680 m3 dengan ketersediaan air total selama satu tahun sebesar 1.271.005.476 m3.Kebutuhan air rata-rata bulanan wilayah DAS Kupang sebesar 7.746.367,172 m3 meliputi kebutuhan air domestik dan non domestik sebesar 3.086.152,800 m3 per bulan,  kebutuhan air peternakan sebesar 54.213,648 m3 per bulan, dan kebutuhan air untuk irigasi sebesar 4.294.918,080 m3per bulan dengan luas daerah irigasi seluas 1.744,20 Ha. Sedangkan kebutuhan air total wilayah DAS Kupang selama satu tahun sebesar 89.223.414,340 m3.Kata kunci : DAS Kupang, Debit, Ketersediaan dan kebutuhan air.AbstractThe development of the area would lead to high demand for water continues to increase in line with population growth rate. The fulfillment of food needs and activity inhabitant of always closely related to the need for water.These claims cannot be avoided, but should be used as best as possible planned. The common trend is the existence of an imbalance between the availability and high demand for water.To achieve the balance between the need for water and availability of water in the future, efforts are required for the assessment of the components of high demand for water, and the efficiency of water use.Kupang river has the highest discharge in January that amounted to 78,947 m3/s and the lowest discharge occurs in August, namely 4,112 m3/s is equal to the value of the highest water availability in January that amounted to 204.629.856,800 m3 and the lowest water availability value occurred in August which amounted to 10.657.759,680 m3 of water availability with total for a year of 1.271.005.476 m3.High demand for water average monthly the region of  Kupang river of 7.746.367,172 m3 covering domestic needs of water and non domestic 3.086.152,800 m3 per month, amounting to high demand for water livestock of 54.213,648 m per month, and the needs of water for irrigation as much as 4.294.918,080 m3 per month with broad the area of irrigated by 1.744,20 ha.While high demand for water total the region of the watershed Kupang river for one year as much as 89.223.414,340 m3. Keywords: Kupang river, discharge, availability and water needs*) Penulis Penanggung 
ANALISIS ARAH DAN PREDIKSI PERSEBARAN FISIK WILAYAH KOTA SEMARANG TAHUN 2029 MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN CA MARKOV MODEL Lydia Fadilla; Sawitri Subiyanto; Andri Suprayogi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.852 KB)

Abstract

ABSTRAK       Kota Semarang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang mempunyai luas wilayah 373.70 Km². Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan Semarang ditandai pula dengan munculnya beberapa gedung pencakar langit di beberapa sudut kota. Dengan jumlah penduduk sekitar 1.5 juta jiwa dan 76.06% bekerja di sektor jasa, membuat Kota Semarang berkembang pesat sehingga menyebabkan tingginya pertumbuhan kawasan permukiman maupun kawasan industri perdagangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan arah persebaran fisik Kota Semarang dari tahun 2005-2017 serta menentukan kesesuaian prediksi arah persebaran fisik Kota Semarang tahun 2029 dengan Model Cellular Automata (CA) Markov terhadap RTRW Kota Semarang.      Penelitian ini menitik beratkan pada kawasan permukiman dan kawasan industri dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menganalisis arah perubahan penggunaan lahan yang terjadi pada tahun 2005- 2017.  Dan CA Markov Model untuk meodelkan prediksi penggunaan lahan Kota Semarang pada tahun 2029. Citra yang digunakan adalah Citra Landsat-7 tahun 2005 dan 2011 serta Citra Landsat-8 tahun 2017.      Hasil dari Overlay menyatakan pertumbuhan penggunaan lahan Kota Semarang tahun 2005-2011 seluas 3254.416 Hektar deengan lahan kosong sebesar 69%, permukiman sebesar 21% dan industri 3.2%. Pada tahun 2011-2017 perubahan penggunaan lahan seluas 6067.674 Hektar. Permukiman sebesar 54%, lahan kosong sebesar 36%, dan kantor sebesar 3%. Dari hasil analisis kesesuaian CA Markov Model dengan RTRW pada kelas lahan permukiman, lahan industri dan lahan kosong sebanyak 56.931% dinyatakan tidak sesuai dan 43.07%. lainnya sesuai. Dengan tingkat kepercayaan >40% (0.40) yang dinyatakan cukup baik.
HITUNGAN DISTRIBUSI SLIP KOSEISMIK GEMPA MENTAWAI 25 OKTOBER 2010 BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS KONTINU SuGAr Yolanda Adya Puspita; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKAktivitas pergerakan lempeng di zona subduksi pantai barat Pulau Sumatera mengakibatkan Kepulauan Mentawai dan daerah disepanjang zona tersebut memiliki aktivitas seismik cukup tinggi.  Diantara catatan sejarah kegempaan di wilayah pantai barat Sumatera, gempa bumi Mentawai pada tahun 2010 (magnitude 7.8) merupakan salah satu gempa bumi berkekuatan besar yang memicu terjadinya Tsunami. Mengacu pada teori dislokasi elastis yang mengasumsikan bahwa kerak bumi bersifat homogen, isotropis, linier dan elastis. Pergeseran di bidang gempa akan mengakibatkan pergeseran juga di permukaan bumi.  Besarnya pergeseran di bidang gempa akibat gempa bumi Mentawai 2010 tidak bisa diukur secara langsung, namun dengan data pergeseran di permukaan bumi yang diperoleh dari pengukuran GPS kontinu SuGAr, pergeseran di bidang gempa dapat dihitung dengan teknik inversi dari data pergeseran di permukaan.Hitungan distribusi slip dilakukan untuk merepresentasikan pergerakan di bidang gempa. Perhitungan inversi pada penelitian ini dilakukan pada diskrit bidang gempa ukuran 30 x 10, yaitu membagi bidang gempa menjadi beberapa diskrit seragam. Hal ini mengakibatkan jumlah parameter model yang akan ditentukan melebihi jumlah data. Oleh karena itu dilakukan inversi menggunakan teknik kuadrat terkecil dan penambahan constraint untuk memperoleh solusi parameter yang akan ditentukan.Pergeseran maksimal pada stasiun SuGAr sebagai akibat gempa Mentawai 2010 yaitu sebesar 45 cm untuk komponen horizontal dan 7.8 cm untuk komponen vertikal, yaitu pada stasiun BSAT (Bulasat, Pulau Pagai Selatan) yang lokasinya relatif dekat dekat dengan pusat gempa. Hitungan inversi menghasilkan nilai slip maksimal sebesar 1.997 m dengan lokasi berdekatan dengan pusat gempa dan momen seismik Mo = 6.89 x 1020 N.m. yang setara dengan magnitude Mw 7.8.Kata Kunci : gempa bumi Mentawai, SuGAr, distribusi slip.ABSTRACTThe tectonic activities in the western part of Sumatera subduction zone cause a very high seismic activities in Mentawai Island and around subduction zone. Stated in the earthquake record history along the Sumatra west coast, the earthquake happened in Mentawai in 2010 was one of the big earthquake which was about magnitude Mw 7.8, and it trigered Tsunami disaster which hit Mentawai Island. According to the elastic dislocation theory, it assumes that crust is homogen, isotropic, linier and elastic. The displacements in fault plane will also cause the displacements in other surface of the earth. The number of the displacements in fault plane in Mentawai earthquake in 2010 couldn’t be determined directly. However, by using the surface displacements data which was got from Sumatran GPS Array (SuGAr) measurement, fault plane displacement could be counted by using inversion method.The calculation of slip distribution was to represent the displacement in fault plane. The inversion process in the research was done in the fault plane discreet about 30 x 10 by dividing the fault plane into several similar discreet. This caused the number of the model parameters which would be determined were more than the number of the data. Therefore, the research used the least square methode to get inversion in calculation and added constraint to get the solution of model parameters.As the result of Mentawai earthquake in 2010, the maximum dislocation of SuGAr in BSAT (Bulasat, Pagai Selatan Island) station, the nearest location to the epicenter, was about 45 cm for horizontal component and about 7.8 cm for vertical component.  The inversion calculation resulted maximum slip was about 1.997 m near epicenter, seismic moment Mo = 6.89 x 1020 N.m., which is equivalent magnitude Mw 7.8.Keywords: Mentawai earthquake, SuGAr, slip distribution.  *) Penulis, Penanggungjawab
ANALISIS PERKEMBANGAN PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN TANAH (P2T) BERBASIS BIDANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) (Studi Kasus : Koridor Jalan Setiabudi dan Koridor Jalan Prof. Soedarto, Banyumanik Tahun 2011-2018) Brinton Patuan Sitorus; Moehammad Awaluddin; Arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.586 KB)

Abstract

ABSTRAKTanah merupakan kebutuhan penting setiap mahluk hidup di bumi. Penduduk menggunakan tanah dengan cara berbeda-beda seperti pertanian, perkebunan, transportasi, pemukiman dan lain-lain. Seiring bertambahnya jumlah  penduduk  maka penggunaan tanah di perlukan semakin banyak dan bervariasi namun karena tanah mempunyai jumlah yang tetap sehingga di butuhkan kontrol terhadap penggunaan dan pemanfaatan lahan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui perubahann penggunaan dan pemanfaatan tanah di Koridor Jalan Setiabudi dan Koridor Jalan Prof. Soedarto. Sedangkan bahan yang digunakan pada penelitian  adalah Citra Satelit Worldview tahun 2016. Metodologi penelitian kali ini adalah melakukan digitasi terhadap data yang sudah ada. Serta mengklasifikasikannya berdasarkan klasifikasi NSPK tematik BPN tahun 2012. Lalu membandingkan luas dari penggunaan dan pemanfaatan tanah dari tahun 2011 dan 2018.Dari penelitian ini kita di peroleh peta penggunaan dan pemanfaatan tanah tahun 2011 dan 2018. Perubahan penggunaan tanah yang paling signifikan adalah  kelas perumahan  yaitu berkurang sebanyak 6,75% dari total luas keselurahan. Taman mengalami perubahan penggunaan tanah. Perubahan pemanfaatan tanah yang paling signifikan adalah kelas pemanfaatan tempat tinggal yaitu berkurang sebanyak 7,36% dari total luas keseluruhan sedangkan kelas pemanfaatan sarana hiburan dan tempat olahraga mengalami perubahan sebesar 0,03%.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue