cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
KAJIAN PENGUKURAN DAN PEMETAAN BIDANG TANAH METODE DGPS POST PROCESSING DENGAN MENGGUNAKAN RECEIVER TRIMBLE GEOXT 3000 SERIES Arintia Eka Ningsih; Moehammad Awaluddin; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.083 KB)

Abstract

Abstrak Pengukuran posisi titik-titik dengan metode ektraterestrial menggunakan receiver gps saat ini sudah banyak digunakan. Hal tersebut ditunjang oleh kemajuan teknologi sehingga hasil yang diperoleh mempunyai ketelitian yang tinggi dengan waktu yang relatif singkat. Penelitian ini bertujuan mengkaji sampai sejauh mana ketelitian pengukuran luasan dan koordinat bidang tanah yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan menggunakan receiver Trimble GeoXT 3000 series metode penentuan posisi diferensial dengan sistem DGPS metode post processing untuk pemetaan bidang-bidang tanah.Dari hasil pengukuran dan pengolahan data dimana hasil pengukuran ETS digunakan sebagai acuan. Dengan metode pengolahan secara absolut ketelitian RMS koordinat  sebesar 1,463 m dan ketelitian RMS luas bidang tanah sebesar 2,910 m2, sedangkan dengan metode pengolahan secara DGPS Post processing ketelitian RMS koordinat sebesar 0,507 m dan ketelitian RMS luas bidang tanah sebesar 0,586 m2.Kata Kunci : Receiver Trimble GeoXT 3000 Series, DGPS, Bidang Tanah AbstractMeasurement of the position of the points with extraterestrial method using receiver GPS are now widely used. It advance in technology so that the results have high accuracy with a relatively short time. This study aims to assess the extent to which the accuracy of measurement of land area and coordinate field measurement results obtained from using the receiver Trimble GeoXT 3000 series differential positioning method with DGPS  post processing method for mapping land areas.From the results of the measurement and data processing in which the result of the measurement is used as a reference ETS. With absolute processing method have coordinates accuracy was 1.463 m and vast land areas accuracy was 2,910 m2, whereas DGPS post processing method have coordinates accuracy was 0.507 m and vast land areas accuracy was 0.586 m2.Keywords : Receiver Trimble GeoXT 3000 Series , DGPS , Land Areas
ANALISIS POLA ARUS GEOSTROPIK PERAIRAN SAMUDERA HINDIA UNTUK IDENTIFIKASI UPWELLING MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI Esa Agustin Alawiyah; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (870.956 KB)

Abstract

ABSTRAKArus geostropik merupakan salah satu fenomena fisik kelautan yang mencakup area yang relatif luas. Arus geostropik dipengaruhi oleh gradien tekanan horizontal serta gaya coriolis. Akuisisi data untuk analisis arus geostropik dapat menggunakan teknologi satelit altimetri. Penelitian ini menggunakan data satelit altimetri berupa anomali tinggi muka laut   (Sea Level Anomaly) yang telah diolah dari beberapa misi satelit altimetri. Jangka waktu penelitian  arus geostropik ini mencakup tahun 1993-2015, untuk menganalisa pola stabil musiman arus geostropik yang terjadi. Studi kasus diambil di wilayah Samudera Hindia, melingkupi perairan Selatan Jawa hingga Sumatera. Metode pengolahan data yang digunakan yakni bahasa pemrograman untuk mengolah data SLA dan perhitungan manual untuk mengolah data arus AVISO. Hasil dari pengolahan data berupa pola arus geostropik berdasarkan hitungan SLA dan pola arus geostropik dari AVISO. Pola arus ini kemudian dibandingkan secara visual serta dilakukan uji statistik untuk mengetahui tingkat signifikansi kedua data. Pola arus geostropik hasil hitungan SLA digunakan untuk identifikasi upwelling dan dianalisis menurut musim timur dan musim barat. Pola arus pada musim timur dominan bergerak dari Benua Australia menuju Benua Asia, sedangkan pada musim barat arus bergerak dari Benua Asia menuju Benua Australia. Fenomena upwelling pada musim timur terjadi sebanyak 231 dengan intensitas 3-5 fenomena setiap bulan. Lokasi  upwelling yang pertama di perairan selatan Jawa Timur, dengan 11 fenomena berada di bujur 112o-114o  BT lintang 8,5o- 9,5o LS,  kemudian perairan selatan Jawa Barat dengan 11 fenomena berada pada koordinat 105o -106 o BT dan lintang 6o-8o LS. Musim barat terjadi sebanyak 97 total kejadian  dengan intensitas 0-3 fenomena setiap bulan. Analisis wilayah terjadinya upwelling di musim barat terlihat tidak membentuk pola, upwelling terletak menyebar di seluruh wilayah, namun posisi upwelling lebih dominan berada di perairan barat Sumatera dengan rentang koordinat 95,5o-106o BT dan 4o-10o LS.Kata kunci: Arus Geostropik, AVISO, SLA, Samudera Hindia, Upwelling  ABSTRACTGeostrophic current is one of the marine physical phenomenon that covers relatives wide area. The geostrophic current is affected by horizontal pressure gradient and coriolis force. Data acquisition for analyzing geostrophic current pattern can used altimetry satellite technology.This research using satellite data altimetri form  sea level anomalies data that had been processed from several satellite altimetri missions. Range of this research covers the years 1993-2015, the length of time is to analyze the stable seasonal pattern. Case studies were taken in the Indian Ocean region, specifically in south of Java sea until Sumatra. Method of processing data in this research used  programming languages to  processed SLA data and manual calculation to processed AVISO current data . The result of the processing of data in the form of geostrophic current patterns based on SLA calculation, geostropik current patterns based on AVISO. The currents pattern  result from SLA and AVISO then compared with visually method with a AVISO data considered true and do statistical tests to find out the significance between two kind of data. Geostrophic current patterns results from SLA calculation is used for the identification of the upwelling based on eddy current formed in several area. Pattern on the East season's dominant  is moving from the continent of Australia towards the continent of Asia, while the West season’s flow moves from the Asian continent towards the continent of Australia. The upwelling phenomenon in the East season occurs as many as 231 total events with the intensity 3-5 phenomenon in every month. The location of the first appearance of upwelling in the southern waters of East Java, with 11 phenomenon was at coordinates longitude 112o-114o  ,latitude 8,5o- 9,5o, then South West Java sea approaching the Sunda Strait with 11 phenomenon is at coordinates 105o -106 o and latitude 6o-8o. Analysis of the area of upwelling in the West do not form visible patterns, upwelling is set to spread across the region, but the position of upwelling are more dominant in the  west sea of Sumatra with range coordinate longitude 95,5o-106o and latitude 4o-10o .Keywords: Geostrophic current, AVISO, SLA, Indian Ocean, Upwelling
ANALISIS GEOMETRI JARING PADA PENGUKURAN GPS UNTUK PENGADAAN TITIK KONTROL ORDE-2 Fuad Hari Aditya; Bambang Darmo Yuwono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.131 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini mengenai pengaruh geometri jaring dalam pengukuran GPS untuk pengadaan titik kontrol orde-2. Titik-titik lokasi pengamatan tersebar di berbagai lokasi di Kota Semarang.Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pengamatan menggunakan GPS dual-frekuansi pada 7 titik kontrol. Pengolahan data menggunakan Software Geogenius dan Adjust serta GAMIT sebagai pembanding koordinat titik pengamatan . Faktor geometri jaringan ditentukan oleh beberapa parameter, yaitu konfigurasi jaringan-jaringan, jumlah baseline dalam satu loop, konektivitas titik (jumlah baseline yang terikat satu titik).Dari hasil uji ketelitian desain 1 dan 4 didapatkan perbandingan ketelitian parameter posisi horizontal sebesar Fx = 0.01142<1.3469<3.49, Fy = 0.11442<2.6037<3.49 dan keduanya masuk selang kepercayaan 95% sehingga tidak memiliki perbedaan ketelitian. Pada uji ketelitian desain 1 dan 7 didapatkan perbandingan ketelitian posisi horizontal sebesar Fx = 0.01157<0.5238<3.01, Fy = 0.11574<1.4599<3.01 dan keduanya masuk selang kepercayaan 95% sehingga tidak memiliki perbedaan ketelitian. Akan tetapi pada uji ketelitian desain 4 dan 7 didapatkan  perbandingan ketelitian posisi horizontal sebesar Fx = 0.39841<0.3889<2.15, Fy = 0.5607>0.139841<2.15 dan keduanya tidak masuk selang kepercayaan  95% sehingga memiliki perbedaan ketelitian. Dan untuk uji statistik parameter  posisi vertikal desain 1, 4 dan 7 didapatkan nilai sebesar 0.01142<1.1540<3.49, 0.01142<1.1540<3.49 dan 0.01142<0.4686<3.49 sehingga ketiganya masuk dalam selang kepercayaan 95% dan tidak memiliki perbedaan ketelitian posisi vertikal.Kata Kunci :  GPS, Desain Konfigurasi Jaringan, Uji Ketelitian  ABSTRACT This research related the influence of geometry of GPS measurements in the networks for theprocurement of control points of orde-2. Location of observation points are spread out in various locations in Semarang. The research method was used  with observations using dual-frequency GPS at 7 control points. Data processing using Software Geogenius and Adjust and as a comparison coordinates of the observation point it using GAMIT. Network geometry faktor was determined by several parametersnamely the configuration of networks, number of baseline within one loop, connectivity point (total amount of baseline that tied one point). The analysis was carried out based on a test of accuracy based on the design of the network. From the results of the test of precision design 1 and 4 was obtained by a comparison parameters of the horizontal position accuracy around Fx = 0.01142 < 1.3469 < 3.49, Fy = 0.11442 < 2.6037 < 3.49 and both enter 95% confidence interval so that it didn’t have the difference in accuracy. On the design of precision test 1 and 7 was obtained by comparison parameters of the horizontal position accuracy Fx = 0.5238 < 0.01157 < 3.01, Fy = 1.4599 < 0.11574 < 3.01 and both are accepted 95% confidence interval so that it didn’t have the difference in accuracy. But in a test of precision design 3 and 7 was obtained by a comparison parameters of the horizontal position accuracy Fx = 0.39841 < 0.3889 < 2.15, FY = 0.139841 > 0.5607 < 2.15 and both didn’t accepted to 95% confidence interval so that differences in accuracy. For the statistical test parameters of design vertical position 1, 4 and 7 obtained the value of 0.01142 < 0.01142 3.49, 1.1540 << 1.1540 < 0.01142 < 0.4686 and 3.49 < 3.49 therefore all of geometry designs were accepted in the 95% confidence interval and didn’t have the difference in accuracy of position vertical.Keyword: GPS, Network Configuration Designs, Test Accuracy  *) Penulis, Panaggung Jawab
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS SEBARAN FASILITAS PENUNJANG PERTANIAN DAN PETERNAKAN BERBASIS WEB (Studi Kasus : Kecamatan Dempet Kabupaten Demak) Bagas Arif Widyagdo; Andri Suprayogi; Sawitri Subiyanto
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1063.033 KB)

Abstract

ABSTRAKPertanian merupakan sektor utama perekonomian di Kabupaten Demak. Sektor pertanian merupakan sektor yang memiliki peran strategis, karena merupakan sumber utama penghidupan dan pendapatan pada tahun 2016 sektor pertanian menyumbang 24,28 % PDRB Kabupaten Demak terbesar kedua setelah sektor industri. Sebagian besar wilayah Kabupaten Demak terdiri atas lahan sawah yang mencapai luas 52.315 ha (58,29 persen), dan selebihnya adalah lahan kering Kabupaten Demak terdiri dari 14 kecamatan, salah satunya adalah kecamatan dempet yang memiliki luas 6.161 Ha (6,87% luas total kabupaten demak). Dengan teknologi yang terus berkembang, penerapan teknologi dalam berbagai bidang pun terus dilakukan, salah satu contoh dari berkembangnya teknologi adalah Sistem Informasi Geografis. Hasil penelitian ini adalah berupa website yang terdapat peta online tentang persebaran falititas penunjang pertanian dan peternakan di Kecamatan Dempet Kabupaten Demak yang diharapkan dapat membantu masyarakat yang berkecimpung khususnya dibidang pertanian dan peternakan. Website ini di bangun dengan bahasa pemrograman PHP, PostgreSQL sebagai database, sebagai hosting untuk website digunakan VPS. Dalam Website ini terdapat informasi mengenai Kecamatan Dempet khusunya dibidang pertanian dan peternakan, serta dalam peta terdapat sebaran fasilitas penunjang diantaranya, 23 penggilingan padi, 10 toko keperluan tani, 9 peternakan, dan 28 pintu air. Setelah dilakukan pengujian usability menunjukan bahwa efektivitas aplikasi mendapatkan nilai kepuasan sebesar 4,42 serta efisiensi mendapatkan nilai kepuasan 4,48. Maka dapat dikatakan responden sangat puas dengan performa website.
ANALISIS SPASIAL PERSEBARAN TOKO MEBEL DI KABUPATEN JEPARA PROPINSI JAWA TENGAH Agustina Dwi Rahmawati; LM. Sabri; Hani&#039;ah .
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.966 KB)

Abstract

Kabupaten Jepara merupakan kabupaten yang terkenal  dengan  sentra industri kerajinan ukir dan mebel kayu  yang merupakan salah satu komoditi andalan Jawa Tengah.  Adanya andalan industri mebel ini menyebabkan  sebagian besar lahan di Kabupaten Jepara dimanfaatkan untuk pengembangan industri mebel kayu. Perkembangan industri mebel mempengaruhi pertumbuhan toko mebel kayu di setiap lokasi strategis di Kabupaten Jepara.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui  pola persebaran toko mebel  kayu  di sepanjang jalan utama di  Kabupaten Jepara  menggunakan analisis spasial dengan  buffering ArcGIS  dan mengetahui  besarnya pengaruh lokasi (place)  terhadap status  operasional  (buka/tutup)  toko mebel  kayu menggunakan analisis regresi logistik biner dari SPSS dan OpenStat. Dalam penelitian ini, parameter lokasi yang ditetapkan adalah kedekatan dengan pusat kota dan persebaran pemukiman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei analitik dengan pendekatan  cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengukuran langsung menggunakan alat GPS  Handheld  di lapangan.  Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa jumlah toko mebel di sepanjang jalan utama Kabupaten Jepara pada tahun 2011 adalah sebanyak 377 buah toko dengan pola persebaran toko mebel yang mengumpul di kawasan dekat pusat kota. Nilai persentase toko mebel yang masih beroperasi (buka) adalah sebesar 88,59% dan toko mebel yang sudah tidak beroperasi (tutup) adalah sebesar  11,41 %. Sedangkan hasil analisis regresi logistik biner menunjukkan bahwa nilai persentase pengaruh bersama dari faktor kedekatan dengan pusat kota dan persebaran pemukiman terhadap status operasional toko mebel adalah sebesar 34,21 %. Dari uji statistik tersebut, didapatkan pula kesimpulan bahwa faktor kedekatan toko mebel dengan pusat kota memiliki pengaruh terhadap status operasional toko mebel. Sedangkan faktor  kedekatan toko mebel dengan kawasan pemukiman tidak berpengaruh terhadap status operasional toko mebel.
ANALISIS PERBANDINGAN DATA CITRA SATELIT EOS AQUA/TERRA MODIS DAN NOAA AVHRR MENGGUNAKAN PARAMETER SUHU PERMUKAAN LAUT Deviana Putri Sunarernanda; Bandi Sasmito; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.782 KB)

Abstract

ABSTRAK                 Suhu permukaan laut (SPL) merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mendeteksi potensi sebaran ikan di laut. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur SPL adalah pengindraan jauh dengan memanfaatkan data citra satelit. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data citra satelit Aqua, Terra dan NOAA dari tahun 2010 - 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai SPL di wilayah utara Papua pada tahun 2010 - 2012 berdasarkan citra satelit yang digunakan serta untuk mengetahui perbandingan data citra satelit dengan data Buoy sebagai data validasi lapangan.Metode pengolahan data dilakukan menggunakan skrip bahasa pemrograman menggunakan software pemrograman yang dibangun untuk mendapatkan nilai SPL dengan mengkompilasi data. Hasil pengolahan akan dilakukan sortir data, penyamaan waktu antara data citra satelit dengan data Buoy, perhitungan rata-rata SPL bulanan dan tahunan, perhitungan nilai bias dan RMSE, pembuatan grafik dan scatterplot, serta penggambaran peta sebaran SPL.Hasil dari penelitian menunjukkan nilai SPL di utara Papua mengalami penurunan setiap tahunnya dengan pola yang dihasilkan adalah pola acak. Dari ketiga citra satelit yang digunakan, data citra satelit NOAA dinilai paling mampu merepresentasikan kondisi SPL di lapangan. Dimana nilai bias dan RMSE pada data NOAA sebesar -0,43 dan 0,2228. Berdasarkan uji statistika, terdapat korelasi antara data citra satelit Aqua, Terra, dan NOAA terhadap data Buoy. Kemudian ada perbedaan antara nilai rata-rata SPL dari data citra satelit dan Buoy dengan tingkat kepercayaan sebesar 95%. Kata Kunci:  Aqua, Buoy, NOAA, SPL dan Terra. ABSTRACT Sea surface temperature (SST) is one of the parameters which can be used to detect the potential of fish distribution in the sea. One of method which can be used to measure the SST to utilize remote sensing satellite imagery. The data used in this study are the Aqua, Terra and NOAA satellite imagery  from 2010 until 2012. This study purpose is to find out the value of SST in the northern region of Papua in 2010 to 2012 from satellite imagery and also to compare the satellite imagery with Buoy data as a field validation data.The methode of processing is used a script programming language by using the programming software which built to get the SST value by compiling data. The next step when the previous processing result has out are selecting the data, emulating the time between the satellite imagery with the Buoy Data, average monthly and yearly SST calculation, noise and RMSE value calculation, making the graphic and scatterplot, and also the depiction of SST distribution maps.The result shows the value of SST in northern Papua has decreased every year with a random pattern. From the three satellite imagery which are used in this research, NOAA imagery is the most imagery which can represent the condition of the SST on real field. It is due to the value of the noise and RMSE on NOAA are about -0.43 and 0.2228. Based on statistic test, there is a correlation between the Aqua, Terra and NOAA imagery and Buoy Data. Then, there is a difference between the value of the average SST temperature data from satellite imagery and Buoy with a confidence level of 95%. Keywords:  Aqua, Buoy, NOAA, SST and Terra.
ANALISIS PRODUKSI PADI DENGAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KOTA PEKALONGAN Husen Ibnu Said; Sawitri - Subiyanto; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.183 KB)

Abstract

ABSTRAKSawah merupakan media atau sarana untuk memproduksi padi. Sawah yang subur akan menghasilkan padi yang baik. Indonesia termasuk Negara agraris yang sebagian wilayahnya adalah pertanian, yang dapat memproduksi padi lebih banyak. Namun, karena adanya pembangunan pabrik atau bangunan lainnya di lahan pertanian, menyebabkan produksi pertanian kian berkurang.Perhitungan luas area tanaman padi dilakukan dengan melakukan overlay antara peta hasil klasifikasi dengan peta hasil NDVI pada citra Landsat 8. Sedangkan untuk menghitung produksinya dilakukan dengan menggunakan metode ubinan seperti yang dilakukan oleh BPS dan Dinas Pertanian.Luas area tanaman padi di Kota Pekalongan yaitu sebesar 664,96 hektar dengan nilai luas terbesar berada di Kecamatan Pekalongan Selatan yaitu sebesar 425,33 hektar dan luas terkecil berada di Kecamatan Pekalongan Barat  yaitu sebesar 16,86 hektar. Sedangkan nilai produksi padinya diperkirakan mencapai 4443,05 ton gabah dengan produksi terbesar berada di Kecamatan Pekalongan Selatan yaitu sebesar 2841,92 ton dan produksi terkecil berada di Kecamatan Pekalongan Barat yaitu sebesar 112,65 ton.Kata Kunci : Sawah, citra Landsat 8, Luas area tanaman padi, Produksi padi ABSTRACTPaddy field is a media or means to produce rice. The fertile paddy field will produce good rice. Indonesia is an agrarian country which is most of the territory is agriculture that can produce rice in the high scale. However, due to the construction of factory or other building on the farmland, causing the agricultural production is diminished. The calculation for the area of paddy crop is done by overlaying between the map's result of the classification with the map's result of NDVI on the citra landsat 8. Whereas, for counting the production is done by using ubinan method as performed by the BPS and the Department of Agriculture.The farmland paddy's area in Pekalongan in the amount of 664.96 hectares with the largest area is in the sub district of south Pekalongan in the amount of 425.33 hectares and the smallest area is in the sub district of south Pekalongan in the amount of 16.86 hectares. While the value of paddy production is estimated at 4443.05 tons of unhulled rice with the largest production in the Sub district of South Pekalongan in the amount of 2841.92 tons and the smallest production located in the sub district of West Pekalongan in the amount of 112.65 tons.Keywords: paddy, Citra Landsat 8, The area of paddy crop, paddy production.
ANALISIS FENOMENA URBAN HEAT ISLAND SERTA MITIGASINYA (STUDI KASUS : KOTA SEMARANG) Seprila Putri Darlina; Bandi Sasmito; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1302.619 KB)

Abstract

ABSTRAK                Kota Semarang sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah memiliki aktivitas pembangunan yang tinggi seiring dengan meningkatnya kepadatan penduduk akibat urbanisasi. Pembangunan dilakukan dengan pengalihan fungsi lahan menjadi lahan terbangun. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya suhu permukaan di Kota Semarang terutama di daerah pusat kota dan memicu terjadinya fenomena UHI.Penelitian ini bertujuan untuk membahas fenomena Urban Heat Island di Kota Semarang berdasarkan hubungan perubahan tutupan lahan dan kepadatan penduduk terhadap suhu permukaan, serta merancang mitigasi UHI. Ekstraksi suhu permukaan dan tutupan lahan diperoleh dari pengolahan citra Landsat multitemporal tahun 2009, 2013, dan 2017 dengan algoritma land surface temperature (LST) dan klasifikasi terbimbing (supervised). Hasil suhu permukaan dikorelasikan dengan perubahan tutupan lahan dan kepadatan penduduk menggunakan uji regresi sederhana. Persebaran fenomena UHI diperoleh dari klasifikasi pengolahan LST dengan ambang batas UHI. Rekomendasi mitigasi UHI untuk Kota Semarang dilakukan berdasarkan tutupan lahan dan RTRW Kota Semarang.Hasil penelitian menunjukan hubungan perubahan suhu permukaan dengan perubahan tutupan lahan dan kepadatan penduduk. Nilai koefisien determinasi (R2) antara perubahan suhu permukaan dengan vegetasi rapat adalah 89.80%, dengan lahan terbangun adalah 53.93%, dengan lahan terbuka adalah 3.48%, dan dengan kepadatan penduduk adalah 54.28%. Fenomena UHI di Kota Semarang berpusat di Kecamatan Semarang Tengah dan Selatan. Mitigasi UHI yang dapat dilakukan adalah modifikasi fisik bangunan, berupa penggunaan material dengan albedo tinggi, penerapan green wall, green roof, greening parking lots, serta penambahan vegetasi disekitar bangunan dan disepanjang jalan. Selain itu juga perlu dilakukan pengawasan terhadap perubahan fungsi lahan dan kesesuainnya dengan RTRW Kota Semarang yang telah ditetapkan.
KAJIAN PEMETAAN KERENTANAN KOTA SEMARANG TERHADAP MULTI BENCANA BERBASIS PENGINDRAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Dede Handoko; Arief Laila Nugraha; Yudo Prasetyo
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1585.397 KB)

Abstract

ABSTRAK Kota Semarang merupakan salah satu daerah di Indonesia yang termasuk ke dalam daerah yang rawan terjadi bencana. Berdasarkan hal tersebut maka diperlukan suatu kajian mitigasi terhadap multi bencana di Kota Semarang. Aspek terpenting dalam mitigasi bencana adalah penilaian terhadap kerentanan wilayah berpotensi rawan bencana. Dan metode yang dapat digunakan dalam pengkajiannya adalah kombinasi dari metode Pengindraan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG).Acuan yang digunakan dalam penilaian dan pembobotannya adalah Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko. Terdapat empat parameter penilaian yaitu, parameter kerentanan sosial, kerentanan ekonomi, kerentanan fisik dan kerentanan lingkungan. Proses pembuatan peta, tumpang tindih, penilaian dan pembobotan serta analisis SIG diproses menggunakan perangkat lunak ArcMap.Berdasarkan hasil analisis pemetaan kerentanan sosial diketahui bahwa 92,10% dari jumlah kelurahan di Kota Semarang memiliki tingkat kerentanan sosial tinggi, 6,21% berkerentanan sosial sedang dan sisanya 1,69% berkerentanan sosial rendah. Berdasarkan hasil analisis kerentanan ekonomi diketahui sebesar 39,231% dari luas total Kota Semarang berkerentanan ekonomi tinggi, sebesar 0,012% berkerentanan sedang dan sebesar 60,758 berkerentanan ekonomi rendah. Dari hasil analisis kerentanan fisik diketahui bahwa 2,31% dari luas Kota Semarang berkerentanan fisik tinggi, sebesar 38,51% berkerentanan sedang dan sisanya 59% berkerentanan fisik rendah. Berdasarkan hasil analisis kerentanan lingkungan diketahui bahwa 53,35% dari luas parameter lingkungan adalah hutan alam, 0,28% adalah hutan lindung, 46,01% adalah hutan mangrove, 0,35% adalah rawa dan 0,01% adalah semak belukar. Berdasarkan hasil analisis pemetaan kerentanan Kota Semarang terhadap multi bencana diketahui bahwa 32,19% dari luas Kota Semarang berkerentanan tinggi, 64,54% dari luas Kota Semarang berkerentanan sedang dan sisanya 3,27% berkerentanan multi bencana rendah.Kata Kunci : Bencana, Kerentanan, Kota Semarang, Tumpang tindih ABSTRACT Semarang city is one of the most vulnerable cities to natural disaster occurence in Indonesia. Based on the data, there needs to be a mitigation study towards the multi-disaster in Semarang city. The most prominent aspect in disaster mitigation is the assessment to susceptibility of the natural disaster vulnerable region. The methods which could be used in the study are Remote Sensing method and Geographic Information System method (GIS).The reference used in the assessment and the weighting was Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pedoman Umum Pengkajian Resiko. There are four assessment parameters, such as social vulnerability parameter, economic vulnerability, physical vulnerability, and environmental vulnerability. The mapping process, overlapping, assessment, weighting, and GIS analysis were processed using ArcMap software.By the result of mapping analysis to social vulnerability, 92.10% of the total districts in Semarang city has a high social vulnerability level, 6.21% medium social vulnerability, and the rest of 1.69% are the villages with low social vulnerability level. By the result of economic vulnerability analysis, 39.231% of Semarang city’s total area has high economic vulnerability, 0.012% has medium vulnerability, and 60.758% has low economic vulnerability. From the result of physical vulnerability, 2.31% of Semarang city’s total area is highly vulnerable, 38.51% has medium vulnerability, and the rest of 59% has low vulnerability. According to the result of environmental analysis, 53.35% of the total environmental parameter are natural forests, 0.28% are preserved forests, 46.01% are mangrove forests, 0.35% are swamps, and 0.01% are bushes. In regards to the result of Semarang city’s vulnerability mapping analysis to multi-disaster, 32.19% of Semarang city’s total area is highly vulnerable, 64.54% has medium vulnerability level, and 3.27% has low vulnerability level to multi-disaster.Keywords : Disaster, Overlay, Semarang City, Vulnerability
PENENTUAN DAN PEMILIHAN LOKASI BANDARA DENGAN MENGGUNAKAN SIG DAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (Rencana Bandara Di Kabupaten Kendal) Inessia Umi Putri; Arief Laila Nugraha; Bambang Darmo Yuwono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.789 KB)

Abstract

Abstrak Lokasi bandara di Indonesia kerap mengalami permasalahan dalam perencanaan lokasi. Letak bandara yang berada di pusat kota sering menjadi penghambat laju pertumbuhan kota, seperti Bandara Ahmad Yani yang terletak di pusat Kota semarang. Akibatnya, kawasan pemukiman dan perkantoran yang berada di sekitar Bandara Ahmad Yani terganggu dengan suara bising yang berasal aktivitas penerbangan, belum lagi ancaman akan kecelakaan penerbangan yang kapan saja dapat terjadi. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan langkah yang tepat dalam menyajikan aspek spasial (keruangan). Dalam hal ini SIG mempunyai manfaat yang dapat digunakan untuk menganalisis dalam proses penentuan lokasi bandara yang sesuai dengan parameter yang telah ditentukan, yaitu tata guna lahan, kemiringan lahan, curah hujan, kepadatan penduduk, jarak dari jalan utam, jarak dari sungai utama, arah dan kecepatan angin.Dari analisis dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) menunjukkan besar bobot yang mempengaruhi untuk masing-masing parameter sebesar 39.588 % untuk arah dan kecepatan angin, 24.1%  untuk kemiringan lereng, 17.196%. ntuk curah hujan, 8.67%  untuk tata guna lahan, masing-masing 4.097% untuk parameter jarak dari jalan utama dan jarak dari sungai utama, dan 2.23% untuk kepadatan penduduk. Dari hasil overlay peta hasil skoring dengan prasyarat lokasi bandara, didapatkan tiga alternatif daerah yang sesuai untuk menjadi lokasi bandara baru di Kabupaten Kendal, yaitu, Desa Wonorejo Kecamatan Kaliwungu, Desa Wonosari Kecamatan Patebon, dan Desa Kalirejo Kecamatan Kangkung.Kata kunci: Lokasi Bandara; AHP; SIG Abstract Airports location often  have problems in site planning. The airport which is located in the city center become a resistor the rate growth of the city, such as Ahmad Yani Airport which is located in the center of Semarang City. As a result, residential areas and offices located around the Ahmad Yani Airport disturbed by noise of flight activity, and also the threat of aviation accidents can happen anytime. Geographic Information System (GIS) is a right step in presenting the spatial aspects (spatial). In this case the GIS has the benefit that can be used to analyze the process of determining the location of the airport in accordance with predetermined parameters, namely land use, slope, rainfall, population density, distance from  main roads, the distance from the main river, direction and speed wind. By the analysis using AHP method (Analytical Hierarchy Process) shows that the weighted score which affected each of parameter is 39 588% for direction and speed wind, , 24.1% terrain slope, , 17,196% rainfall, 8.67% for land use, respectively 4,097% for the parameter distance from the main road and the distance from the main river, and 2,23% to population density. According to overlay results scoring maps with precondition of airport location that have obtained three areas which is  suitable to be alternative location of a new airport in Kendal, namely Wonorejo village from Kaliwungu District, Wonosari village from Patebon District, village Kalirejo from Kangkung DistrictKeywords: Airport Location, AHP, GIS

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue