cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geodesi Undip
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geodesi Undip adalah media publikasi, komunikasi dan pengembangan hasil karya ilmiah lulusan Program S1 Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Arjuna Subject : -
Articles 839 Documents
ANALISA PERUBAHAN TINGKAT BAHAYA EROSI DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) KALI SERANG PERIODE TAHUN 2014-2016 TREVY AUSTIN RAJAGUKGUK; Abdi Sukmono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.823 KB)

Abstract

DAS Kali Serang merupakan salah satu DAS yang cukup mendominasi di Pulau Jawa.DAS Kali Serang terletak di antara DAS Progo dan DAS Bogowonto yang tepatnya berada di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah lstirnewa Yogyakarta. DAS Kali Serang juga merupakan DAS yang mengairi salah satu waduk terbesar di Jawa Tengah yaitu Waduk Kedung Ombo. Waduk Kedung Ombo menampung air dari dua sungai utama yaitu Kali Serang dan Kali Uter yang memiliki luasan area DAS seluas 57.744,04 ha yang terdiri dari empat sub DAS. Namun seiring berjalannya waktu, Waduk Kedung Ombo mengalami penurunan kualitas air dikarenakan permasalahan kondisi waduk dan permasalahan kawasan di sekitarnyayang menyebabkan terjadinya sedimentasi pada sungai dan waduk yang berasal dari erosi tanah yang berpengaruh terhadap besaran potensi erosi terutama pada daerah sabuk hijau di kawasan Waduk Kedung Ombo.Besaran potensi erosi tersebut diketahui dengan melakukan suatu prediksi erosi dengan berbagai metode kuantitatif salah satunya dengan menggunakan metode empiris USLE (Universal Soil Loss Equation).Hasil penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perkembangan erosi di Daerah Aliran Sungai Kali Serang yang khususnya bermuara ke Waduk Kedung Ombo.Hasil penelitian inimenunjukkan kelas tingkat bahaya erosi di Daerah Aliran Sungai Kali Serang pada Waduk Kedung Ombo yang paling besar adalah  kelas 15-60 ton/ha/tahun dengan luas pada tahun 2014 sebesar 20.368,786 ha dan 2016 sebesar 23.320,163 ha. Perubahan tingkat bahaya erosi pada DAS Kali Serang yang signifikan di area sub DAS Karangboyo dan sub DAS Laban yang berpengaruh terhadap endapan Total Suspended Solid (TSS) di Waduk Kedung Ombo.
ANALISIS SEA LEVEL RISE DAN PENENTUAN KOMPONEN PASUT DENGAN MENGGUNAKAN DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-2 TAHUN 2011-2014 (Studi Kasus : Perairan Sumatera Bagian Timur) Andri Yanto Parulian Tamba; Bandi Sasmito; Haniah Haniah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (944.216 KB)

Abstract

ABSTRAK                Pemanasan global merupakan faktor penyebab kenaikan permukaan air laut. Dalam kurun waktu lama mengakibatkan peningkatan abrasi pantai, erosi garis pantai, penggenangan suatu wilayah daratan dan bisa menenggelamkan pulau-pulau kecil serta meningkatnya intensitas dan frekuensi banjir. Pada Perairan Sumatera bagian Timur yang merupakan jalur pelayaran diperlukan data kenaikan muka laut untuk keamanan jalur laut.                Pada penelitian ini menggunakan data hasil pengamatan satelit altimetri Jason-2 periode 2011-2014 di tiga titik pengamatan, yaitu : Perairan Banda Aceh, Perairan Belawan dan Perairan Lampung.Interpolasi data satelit menggunakan metode pembobotan invers jarak dengan menggunakan perangkat lunak matlab. Penelitian ini menggunakan analisis trend linier dan analisis harmonik untuk mengetahui nilai kenaikan permukaan laut dan nilai komponen pasang surut air laut pada Perairan Sumatera bagian Timur.                Pada pengamatan Satelit Altimetri Jason-2 periode 2011-2014 menunjukkan adanya fenomena sea level rise pada Perairan Sumatera bagian Timur dengan rata-rata nilai kenaikan sebesar +15,4605 mm/tahun. Dengan kenaikan tertinggi berada di perairan Banda Aceh dengan nilai +23,5588mm/tahun dan terendah +7,3621 mm/tahun berada pada dua titik yaitu perairan Belawan dan perairan Lampung. Komponen pasang surut pada Perairan Sumatera bagian Timur dengan pengamatan Satelit Altimetri Jason-2 selama tahun 2011-2014 menghasilkan nilai amplitudo N2 rata-rata sebesar 0,0529 m, nilai amplitudo M2 rata-rata sebesar 0,3215 m, nilai amplitudo S2 rata-rata sebesar 0,1835 m, nilai amplitudo K2 rata-rata sebesar 0,1006 m, nilai amplitudo O1 rata-rata sebesar 0,066 m, nilai amplitudo P1 rata-rata sebesar 0,10504 m, nilai amplitudo K1 rata-rata sebesar 0,0174 m, nilai amplitudo M4 rata-rata sebesar 0,0507 m, nilai amplitudo MS4 rata-rata sebesar 0,1627 m,dan nilai elevasi HHWL rata-rata sebesar 1,1169 m,  nilai elevasi MHWL rata-rata sebesar 0,7037 m, nilai elevasi rata-rata MSL sebesar 0,0916 m, nilai elevasi rata-rata MLWL sebesar -0,5206 m, nilai elevasi CDL rata-rata sebesar -0,7118 m, nilai elevasi LLWL rata-rata sebesar -0,9337 m.Kata Kunci : laut,kenaikan muka laut, pasang surut, satelit altimetri ABSTRACT                Global warming is a factor contributing to sea level rise. In the period of time resulting in increased coastal erosion, shoreline erosion, sinking of coastal areas  and can submerge small islands and the increased intensity and frequency of floods. On the Eastern part of Sumatera Island Ocean is a cruise line to sea level rise data are necessary for the security of the sea lanes.                This research use sea surface observational data using the altimetry satellite Jason-2 2011-2014 at three observation points, namely: Banda Aceh Ocean, Belawan Ocean and Lampung Ocean. Interpolation satellite data using the inverse distance weighting method using matlab software. This study uses a linear trend analysis and harmonic analysis to determine the value of sea-level rise and the value component of the tide in the waters of eastern Sumatra.                Sea surface observations using Jason-2 altimetry satellites data in the 2011-2014 period showed the phenomenon of sea level rise on the eastern part of Sumatera Island Ocean with the average increase value by +15.4605 mm / year. The highest increase was in the Banda Aceh Ocean with the value + 23,5588mm / year and the lowest was +7.3621 mm / year at two points, namely Belawan Ocean and Lampung Ocean. The ocean tide components on  the Eastern part of Sumatra Island Ocean with observation satellites Jason-2 altimetry during 2011-2014 resulted in an average amplitude value N2 amounted to 0.0529 m, the average amplitude value M2 at 0.3215 m, the average amplitude value S2 at 0.1835 m, the average amplitude value K2 at 0.1006 m, the average amplitude value O1 at 0,066 m, the average amplitude value P1 at 0.10504 m, the average amplitude value K1 at 0.0174 m, the average amplitude value M4 at 0.0507 m, the average amplitude value MS4 at 0.1627 m, and the average HHWL elevation value at  1.1169 m, the average MHWL elevation value at 0,7037 m, the average MSL elevation value at 0.0916 m, the average MLWL elevation value at  -0.5206 m, the average CDL elevation value at -0.7118 m and the average LLWL elevation value at - 0.9337 m.Keyword : sea , sea level rise, ocean tide, altimetry satellite*) Penulis PenanggungJawab
ANALISIS KONTRIBUTOR DOMINAN TERHADAP FENOMENA URBAN HEAT ISLAND (UHI) DI KOTA MEDAN Nainggolan, Yohana Christie; Sasmito, Bandi; Sukmono, Abdi
Jurnal Geodesi Undip Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.946 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan suatu kota dalam berbagai aspek akan meningkatkan produktifitas kota tersebut. Namun perkembangan tersebut menimbulkan konsekuensi  seperti meningkatnya laju pertumbuhan lahan terbangun, angka kepadatan penduduk, urbanisasi, kemacetan, ketidaknyamanan dan sebagainya. Faktor-faktor konsekuensi tersebut juga akan memicu terjadinya fenomena Urban Heat Island (UHI) atau pemanasan pulau perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas seberapa  besar nilai pengaruh setiap faktor  dalam memicu fenomena UHI. Penelitian ini berfokus pada faktor ruang terbangun (RTB), kerapatan vegetasi, kepadatan penduduk serta keberadaan kawasan industri. Penelitian dilakukan secara multitemporal, yaitu tahun 2009, 2014 dan 2019 menggunakan citra Landsat 5 dan Landsat 8. Pemilihan citra berdasarkan kemiripan waktu  akuisisi citra dan kesamaan musim di lapangan. Pengolahan  ruang terbangun dilakukan dengan klasifikasi supervised dan kerapatan vegetasi dengan algoritma NDVI. Penelitian juga akan menghasilkan nilai suhu permukaan di tiap tahun.  Hasil pengamatan citra Landsat tahun 2009 hingga 2019 menunjukkan bahwa hampir semua faktor berkembang secara fluktuatif, begitu juga dengan suhu permukaan (Land Surface Temperature). Pada tahun 2009 LST rata-rata  adalah 24,96oC, tahun 2014 LST rata-rata meningkat menjadi 33,32oC dan mengalami penurunan menjadi 30,18oC di tahun 2019. Adapun UHI sangat erat kaitannya dengan LST, dan berdasarkan hasil uji regresi faktor yang memiliki kontribusi paling dominan terhadap UHI adalah RTB dengan kontribusi sebesar 68,83%. Kata Kunci : Citra Satelit Landsat, NDVI, Ruang Terbangun, Suhu Permukaan, Urban heat island ABSTRACTThe development of a city in various aspects will increase the productivity of the city. However, these developments have consequences such as increased growth rates of built space, population density, urbanization, congestion, discomfort and other. These consequences factors will also trigger the phenomenon of Urban Heat Island (UHI) or urban island warming. Therefore, this study will discuss how the value influence each factor in triggering the UHI phenomenon. This research focuses on the built space, vegetation density, population density and industrial estates. The research was conducted multitemporally in 2009, 2014 and 2019 using Landsat 5 and Landsat 8 imagery. Image selection based on the similarity of image acquisition time and seasonality in the field. The processing of built space is done by supervised classification and vegetation density using the NDVI algorithm. The research will also produce surface temperature values each year. Observation of Landsat imagery from 2009 to 2019 shows that almost of all factors develop fluently, as well as surface temperature (Land Surface Temperature). In 2009 the average LST was 24,96oC, in 2014 the average LST increased to 33,3 oC and decreased to 30,18oC in 2019. UHI phenomenon is very closely related to the LST, and based on the results of the regression test the factor that have the most dominant contribution to UHI is built space with a contribution of 68,83%.
PEMODELAN GEOID KOTA SEMARANG Tanggo Rastawira; Sutomo Kahar; L. M. Sabri
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.281 KB)

Abstract

Kota Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah yang memiliki kondisi topografi yang unik dengan variasi dataran dan perbukitan. Kondisi topografi yang seperti itu menjadikan penentuan tinggi orthometrik dengan metode sipat datar menyebar ke seluruh wilayah Kota Semarang membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya yang tidak sedikit. Adanya teknologi GPS yang mampu menyajikan data informasi tentang posisi secara cepat dan tepat dapat dijadikan alternatif penentuan tinggi teliti di masa kini. Akan tetapi tinggi yang dihasilkan oleh GPS adalah tinggi yang mengacu pada ellipsoid, maka dibutuhkan model geoid yang teliti untuk mengkonversi tinggi geodetik menjadi tinggi orthometrik.Pada tugas akhir ini akan dibahas mengenai penentuan model geoid pada lokasi pengukuran gayaberat lokal Kota Semarang. Penentuan geoid dilakukan dengan metode kombinasi yaitu dengan menggabungkan informasi dari gayaberat lokal dengan model geopotensial global EGM96 sampai dengan derajat dan orde 120. Tinggi undulasi geoid Kota Semarang hasil perhitungan metode kombinasi berkisar antara 26,73026703 sampai dengan 26,99150681 meter dengan titik terendah di BM Surip 7 sedangkan yang tertinggi di daerah Walter Mongisidi. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa model geoid yang dihasilkan dari metode kombinasi lebih baik dibandingkan dengan pemakaian model geopotensial global EGM96 dan EGM2008 sampai derajat dan orde penuh.Kata kunci: Tinggi Orthometrik, Model Geoid, Metode Kombinasi.
ANALISIS AKURASI PEMODELAN 3D MENGGUNAKAN METODE CLOSE RANGE PHOTOGRAMMETRY (CRP), UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) DAN TERRESTRIAL LASER SCANNER (TLS) Bernard Ray Barus; Yudo Prasetyo; Hani'ah hani'ah
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.576 KB)

Abstract

ABSTRAKPatung Diponegoro merupakan salah satu ikon penting yang berada di kawasan kampus Universitas Diponegoro. Karena patung yang baru berada didaerah Widya Puraya. Oleh karena itu banyak orang yang mengunjungi patung tersebut. Patung Diponegoro juga mengalami pengikisan oleh alam (angin, air hujan, dan lain-lain). Maka dari itu, dibutuhkan upaya pelestarian patung Diponegoro tersebut agar tidak rusak dan hilang keberadaannya oleh zaman.Pada penelitian kali ini, akan menggunakan tiga alat yang akan diuji ketelitiannya terhadap patung Diponegoro yaitu kamera non metrik, Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan Terrestrial Laser Scanner (TLS). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Close Range Photogrametry dengan membandingkan hasil visualisasi model dan menguji ketelitian model tiga dimensi dengan perbandingan jarak hasil ukur lapangan Total Station. Dari hasil visualisasi dan ketelitian model tiga dimensi akan didapatkan hasil mana yang lebih baik antara kamera non metrik, UAV maupun TLS.Hasil akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa TLS  memiliki tingkat ketelitian geometrik yang lebih tinggi dibandingkan dengan kamera non metrik dan UAV. Hal ini ditunjukkan dengan hasil tingkat ketelitian akurasi pada TLS sebesar 0,0067 ±0,0087 meter untuk Patung Pangeran Diponegoro. Sedangkan pada kamera non metrikdidapatkan hasil tingkat ketelitianyang lebih rendah yaitu sebesar 0,1615 ±0,0593 meter pada Patung Pangeran Diponegoro. Sementara itu Pada UAV didapatkan tingkat ketelitian yang cukup baik dibandingkan dengan kamera yaitu sebesar 0,0162±0,0133 meter. Berdasarkan hasil visualisasi model tiga dimensi antara kamera, UAV dan TLS didapatkan hasil bahwa UAV dan TLS menghasilkan model yang lebih baik dibandingkan dengan model tiga dimensi yang dihasilkan oleh kamera non metrik.Dengan hasil analisis pada penelitian ini diharapkan hasil pemodelan 3D dengan kamera dan UAV dapat digunakan sebagai upaya pelestarian patung Diponegoro.
PEMANFAATAN WEBGIS UNTUK PEMETAAN PERSEBARAN SPBU DI KOTA SEMARANG Shindy Mariska Zulkarnain; Bambang Sudarsono; arief Laila Nugraha
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.842 KB)

Abstract

ABSTRACT Semarang is the fifth largest city after Jakarta, Medan, Surabaya, and Bandung, with a population of nearly two million people. With a dense population, then the distribution of fuel oil (BBM) in the city of Semarang is getting bigger. Therefore, PT. Pertamina as the official agent of the fuel oil supplier is also growing rapidly, thus causing a lot of Gas Station (SPBU) establishment, especially in Semarang.With the development of today’s technology, the maps can be created in digital form with the use of Geographic Information Systems (GIS). In order to be more efficient in its use, then the map is integrated into a web, so users can access them anywhere and anytime. This research was developed using an HTML website framework, the java programming language, PHP, and MySQL with phpMyAdmin features as base data, and GPS handheld as the determinant position coordinate.The final result of this research is GIS application in distribution of Gas Station (SPBU) in Semarang based website which can be accessed on the spbu-semarang.com situs. This website shows the location and the facilities at the Gas Station (SPBU) and served through the google Maps, so can make it easy to find the location of Gas Station (SPBU) in Semarang.  Keywords : GIS, SPBU, Semarang City  ABSTRAKKota Semarang merupakan Kota ke lima terbesar setelah Jakarta, Medan, Surabaya dan Bandung dengan jumlah penduduk mencapai 2 juta jiwa. Seiring dengan perkembangan kepadatan penduduk dan  jumlah kendaraan bermotor  juga  semakin meningkat,  maka pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Semarang semakin besar dan berkembang  pesat, oleh karena itu PT.Pertamina sebagai agent resmi penyalur BBM juga kian berkembang  pesat sehingga menyebabkan banyaknya pendirian SPBU di wilayah Kota Semarang.Dalam perkembangan teknologi informasi saat ini peta dapat dibuat secara digital yakni dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG), untuk lebih dapat efisien lagi peta tersebut diintergrasikan kedalam sebuah web agar bisa diakses oleh pengguna di mana saja dan kapan saja.Penelitian ini dikembangkan menggunakan Kerangka website HTML, bahasa pemrograman java, PHP dan MySQL dengan fitur phpMyAdmin sebagai basis data, dan GPS handheld sebagai penentuan posisi koordinat.Hasil akhir penelitian ini berupa aplikasi SIG Persebaran SPBU di Kota Semarang berbasis website yang dapat di akses pada situs spbu-semarang.com dengan menampilkan lokasi dan fasilitas yang ada di SPBU yang disajikan melalui Google Maps sehingga bisa dengan  mudah menemukan lokasi SPBU yang ada di Kota Semarang  Kata Kunci : SIG,SPBU,Kota Semarang      *) Penulis PenanggungJawab
OPTIMALISASI PEMBUATAN PETA KONTUR SKALA BESAR MENGGUNAKAN KOMBINASI DATA PENGUKURAN TERESTRIS DAN FOTO UDARA FORMAT KECIL Iqbal Yukha Nur Afani; Bambang Darmo Yuwono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.525 KB)

Abstract

Peta topografi menampilkan gambaran permukaan bumi yang dapat diidentifikasi, berupa obyek alami maupun buatan. Peta topografi menyajikan obyek-obyek dipermukaan bumi dengan ketinggian yang dihitung dari permukaan air laut dan digambarkan dalam bentuk garis-garis kontur, dengan setiap satu garis kontur mewakili satu ketinggian. Pembentukan garis kontur menggunakan data dari pemetaan terestris memiliki akurasi yang tinggi tetapi pengukuran terestris memiliki beberapa kelemahan diantaranya membutuhkan biaya, waktu dan tenaga yang besar karena semakin luas area yang dipetakan semakin banyak pula titik yang harus diukur. Apabila titik yang diambil tidak terlalu rapat dan peta yang ingin dihasilkan merupakan peta skala besar, maka akan sangat memungkinkan terdapat kesalahan interpolasi pada pembuatan garis kontur. Salah satu solusi untuk memperoleh data ketinggian adalah dengan menggunakan data foto udara yang dihasilkan dari pemetaan menggunakan Unmanned Aeral Vehicle (UAV). Data foto udara akan menghasilkan data Digital Surface Model (DSM) yang kemudian dilakukan filterisasi untuk membentuk Digital Terrain Model (DTM). Data DTM tersebut digunakan untuk mengekstrak spotheight untuk mengoptimalisasi kerapatan titik ukur yang kurang. Penelitian tugas akhir ini memanfaatkan data pemotretan UAV yang telah dilakukan di wilayah pertambangan kapur yang berlokasi di Desa Sidokelar, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur dan pemetaan dengan menggunakan Total Station serta pengukuran GPS terhadap titik – titik kontrol tanah dan titik Benchmark yang kemudian diikatkan dengan titik CORS milik BIG supaya menghasilkan ketelitian titik kontrol yang lebih tinggi.  Peningkatan ketelitian peta topografi ditandai dengan menurunnya nilai root mean square error (RMSE). Terjadi penurunan nilai RMSE pada ketiga kelas yang diuji, yaitu kelas ground, kelas vegetasi dan kelas area tambang. Penurunan nilai RMSE pada kelas ground  sebesar 0,405 meter, pada kelas vegetasi sebesar 0,809 meter dan pada kelas area tambang sebesar 1,704 meter.
PEMETAAN JALUR EVAKUASI BENCANA LETUSAN GUNUNG RAUNG DENGAN METODE NETWORK ANALISIS Demi Stevany; Andri Suprayogi; Abdi Sukmono
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.222 KB)

Abstract

ABSTRAK Gunung Raung (puncak tertinggi: 3.344 meter dpl) adalah gunung berapi kerucut yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, Indonesia. Secara administratif, kawasan gunung ini termasuk dalam wilayah tiga kabupaten di wilayah Besuki, Jawa Timur, yaitu Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember. Kaldera Gunung Raung juga merupakan kaldera kering yang terbesar di Pulau Jawa dan terbesar kedua di Indonesia setelah Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat. Laporan mengenai peningkatan aktivitas diberikan sejak tanggal 21 Juni 2015. Satelit Landsat 8 NASA mendeteksi adanya dua lubang magma sehingga diperkirakan tidak akan terjadi letusan besar. Material pijar mulai menyembur pada tanggal 26 Juni 2015 dan rangkaian letusan terjadi sejak tanggal 4 Juli 2015. Dengan itu maka dibuat pemetaan jalur evakuasi bencana gunung raung melalui permodelan risiko bencana gunung raung guna mengurangi kerugian akibat bencana melalui peta.Pada pembuatan peta jalur evakuasi dibutuhkan terlebih dahulu pemetaan risiko Gunung Raung dengan tahapan permodelan peta ancaman, permodelan peta kerentanan, permodelan kapasitas, serta permodelan risiko. Permodelan ancaman terdiri dari ancaman lontaran dan ancaman aliran lava dan lahar Gunung Raung. Permodelan kapasitas mengandung unsur jumlah penduduk dan luas wilayah daerah kajian risiko bencana. Permodelan Kerentanan meliputi kerentana fisik, kerentanan sosial, dan kerentanan ekonomi. Sedangkan pada permodelan peta risiko diproses dengan menggunakan rumusan Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Alam (PERKA BNPB) No.2 tahun 2012. Setalah permodelan risiko didapatkan, maka permodelan ini digabungkan dengan dengan parameter lain pemetaan jalur evakuasi dan di analisis menggunkan metode Network Analysis.Kata Kunci : Bencana Gunung Api, Pemetaan Jalur Evakuasi, Pemetaan risiko, Network Analysis  ABSTRACT Raung Mountain (highest peak: 3.344 m above sea level) is a conical volcano that located on the eastern tip of Java Island, Indonesia.  Administratively, the area of the mountain was included in three districts in Besuki, East Java, there was Banyuwangi and Jember, Bondowoso,.  Caldera Raung is also the largest dry Caldera in Java and Indonesia's second-largest after mount Tambora in West Nusa Tenggara.  Report on the increase of activity is given from the date June 21, 2015.  The NASA satellite Landsat 8 detected two holes so that the magma is estimated not to be a big eruption began on June 26, 2015 and a series of eruptions since July 4, 2015.  The disastrous evacuation path mapping mountain through disaster risk modelling raung minimizing loss due to disasters through the map.Disaster evacuation map is needed mapping risk Raung with stages of representation, threat representation map of vulnerability, modelling capacity, as well as the maping of risk.  Threat representaion is composed of the threat of the burst of rock vulcanic and the threat of lava flows of Raung Mountain..  Representation of capacity are contain the elements of population and  area of the region in the case of the risk of Raung Mountain disaster.  Representation Vulnerability includes physical susceptibility , social vulnerability, and the vulnerability of the economy.  While in modeling risk map is processed by using a formulation of  natural disaster regulation relief Agency Heads (PERKA BNPB) No. 2 in 2012.  After mapping the risk, this model is combined with other parameters to build a disaster evacuation map using network analysis method.Keyword: Mapping, Mapping the Risk of Evacuation Paths, Network Analysis, Volcano Disaster*) Penulis, PenanggungJawab
KAJIAN EFEKTIVITAS PEMANFAATAN SISTEM GeoKKP UNTUK PENERBITAN SERTIPIKAT TANAH DI KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN KENDAL PROVINSI JAWA TENGAH Patriot Ginanjar Satriya; Bambang Sudarsono; Bandi Sasmito
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1352.802 KB)

Abstract

AbstrakBadan Pertanahan Nasional (BPN) adalah lembaga pemerintah non kementrian yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintah di bidang pertanahan secara nasional, regional dan sektoral. Guna mengurangi masalah pertanahan, pada tahun 2011 BPN membuat aplikasi GeoKKP yaitu sistem pelayanan pertanahan yang telah terkomputerisasi, sehingga data tentang bidang tanah baik tekstual maupun spasialnya dapat terintegrasi dengan baik.Kabupaten Kendal merupakan daerah yang sedang berkembang di Jawa Tengah, dimana perkembangannya tidak dapat lepas dari aspek pertanahan. Maka dari itu seberapa efektifkah pemanfaatan GeoKKP dalam penerbitan sertipikat di Kantor Pertanahan Kabupaten Kendal dan apakah ada peningkatan kinerja Kantor Pertanahan setelah adanya sistem GeoKKP.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa efektifkah penerbitan sertipikat tanah setelah adanya sistem GeoKKP. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis. Suatu metode penelitian untuk memperoleh gambaran mengenai keadaan, dengan cara memaparkan data yang diperoleh sebagaimana adanya, yang kemudian dianalisis dan menyusun beberapa kesimpulan.Hasil yang diperoleh dari penelitian adalah dalam penerbitan sertipikat di Kantor Pertanahan Kabupaten Kendal sudah efektif, terbukti dengan tidak adanya keterlambatan waktu dalam penerbitan permohonan sertipikat tanah, peralihan hak jual-beli, pemecahan bidang, penggabungan bidang.Kata Kunci : BPN, Sertipikat Tanah dan GeoKKPAbstract Badan Pertanahan Nasional ( BPN ) is a non- ministerial government agency that has the task of carrying out government duties in the land sector in national, regional and sectoral. In order to reduce the problem of land, in 2011 BPN make GeoKKP application is a system that has computerized land services, so that the data on the field both textual and spatial land can be well integrated.Kendal is an emerging area in Central Java, where its development can not be separated from the land aspect. Therefore how effective GeoKKP use in publishing certificate at Kantor Pertanahan Kabupaten Kendal and whether there is an increase in performance after the Kantor Pertanahan GeoKKP system. The results of the study are in the publishing certificate in Kantor Pertanahan Kabupaten Kendal has been effective, as evidenced by the absence of a time delay in the issuance of land certificates, transfer, field splitting, merging fields.This study was conducted to determine how effective the issuance of certificates of land after GeoKKP system. This study is a descriptive analysis. A research method to obtain a picture of the situation, by exposing the data as it is obtained, which is then analyzed and compiled several conclusions.Keywords: BPN, Land Certificate and GeoKKP*)Penulis Penanggung Jawab
ANALISIS FAKTOR AKSESBILITAS DAN FASILITAS UMUM TERHADAP ZONA NILAI TANAH BERDASARKAN HARGA PASAR WAJAR TAHUN 2017 DENGAN METODE PENDEKATAN PENILAIAN MASSAL DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (Studi Kasus : Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang) Novian Nur Aziz; Sawitri Subiyanto; Fauzi Janu Amarrohman
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.472 KB)

Abstract

ABSTRAK Tanah merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia untuk melakukan berbagai kegiatan. Kebutuhan  tanah yang meningkat menyebabkan harga tanah yang beragam dan melonjaknya harga tanah, sebab tanah yang diperjual belikan dapat dijadikan jaminan. Keberagaman harga tanah dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor. Salah satu faktor yang dapat yang mempengaruhi harga tanah adalah faktor aksesibilitas.Data yang digunakan berupa data tekstual yang berupa, data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang didapatkan dari DPPKAD Kabupaten Rembang serta data survey harga tanah yang dilakukan di lapangan. Data harga pasar yang telah didapat kemudian diolah untuk mendapatkan NIR. Kemudian dicari selisih antara data NJOP serta NIR. Untuk analisis pengaruh faktor aksesibilitas dilakukan pengujian statistik antara harga pasar tanah dan variabel-variabel bebas yang ditentukan.Dari penelitian diperoleh 64 Zona Nilai Tanah dengan NIR tertinggi berada pada zona 60 sebesar Rp 3.490.700  per m2 dan NIR terendah terdapat pada zona 48 sebesar Rp 48.400 per m2. Serta diperoleh data NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) tanah dengan nilai terendah sebesar Rp 5.000 per m2 dan nilai tertinggi sebesar Rp 335.000 per m2. Sementara selisih antara NIR dengan NJOP paling besar adalah sebesar 8272,03% dan selisih antara NIR dengan NJOP paling rendah sebesar 595,71%. Dari hasil pengujian statistik, faktor aksesibilitas dan fasilitas umum terhadap harga pasar memiliki pengaruh 44,9 %, yaitu antara variabel bebas terhadap variabel terikat.

Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 4 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 3 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 4 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 2 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 4 (2021): Jurnal Geodesi Undip Vol 10, No 3 (2021): Jurnal Geodesi Undip Volume 10, Nomor 2, Tahun 2021 Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021 Volume 9, Nomor 4, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 3, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 2, Tahun 2020 Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020 Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 3, Tahun 2019 Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019 Vol 8, No 1 (2019) Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 3, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 2, Tahun 2018 Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018 Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017 Volume 6, Nomor 1, Tahun 2017 Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016 Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016 Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015 Volume 4, Nomor 1, Tahun 2015 Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 3, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 2, Tahun 2014 Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014 Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 2, Tahun 2013 Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013 Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012 More Issue