cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
BRANDING HIPMI PEDULI JAWA TENGAH MELALUI KEGIATAN KOMUNIKASI STRATEGIS Anugrah Beta Familio; Djoko Setyabudi; Agus Naryoso; Wiwid Noor Rakhmad
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.264 KB)

Abstract

Tugas akhir berupa karya bidang ini dilatarbelakangi oleh badan organisasi baru dibawahnaungan HIPMI Jawa Tengah yaitu HIPMI Peduli Jawa Tengah, akan organisasi HIPMIPeduli Jawa Tengah merupakan organisasi baru yang belum banyak dikenal olehmasyarakat khususnya pengurus HIPMI Jawa Tengah. Melalui kegiatan Branding HIPMIPeduli Jawa tengah dapat memperkuat Brand HIPMI Peduli Jawa Tengah.Banyaknya anggota HIPMI Jawa Tengah yang tidak mengetahui organisasi HIPMI PeduliJawa Tengah membuat kurangnya pengetahuan tentang kegiatan HIPMI Peduli JawaTengah. Berdasarkan teori persuasi, karya bidang ini bertujuan untuk mengajak anggotaHIPMI Jawa Tengah untuk lebih mengenal kegiatan HIPMI Peduli Jawa Tengah. Selain itukarya bidang ini juga bertujuan untuk meningkatkan afeksi, kognisi dan juga behavioranggota dan masyarakat untuk ikut serta berdonasi di HIPMI Peduli Jawa Tengah.Pada 1 bulan pelaksanaan di Bulan Agustus, kegiatan ini berhasil meningkatkan 84%awareness serta meningkatkan perilaku berdonasi sebanyak 34% anggota HIPMI PeduliJawa Tengah. Serta terpenuhinya 50% dana kegiatan branding HIPMI Peduli Jawa Tengahmelalaui kegaiatan sponsorship dan partnership. Karya bidang ini menunjukkan bahwaBranding HIPMI Peduli Jawa Tengah berhasil dilakukan sesuai dengan goals yangditentukan.
Memahami Proses Komunikasi Kelompok dalam Pengelolaan Konflik (Studi Etnografi pada Budaya Ma’ Kombongan dalam Upacara Rambu Solo’ Toraja) Panggalo, Agimoto; Luqman, Yanuar
Interaksi Online Vol 7, No 1: Januari 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.287 KB)

Abstract

This research was initiated by the change of motive in Rambu Solo’ Ceremony which would leads to conflict between family members involved in the ceremony. People of Toraja will have a family meeting called ma’ kombongan before they carry out rambu solo’ ceremony, this meeting will help settle the whole plan. Therefore this research wants to find an answer on how a family should manage conflict, since the goal of group communication is to solve problems. This research uses Functional Perspectif on Group Decision Making Theory, Coordinated Management of Meaning Theory and Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument Theory. Constructive paradigm is used in the research, with communication ethnographic approach. Data analysis on this research is separated into three steps; description, analysis and interpretation. Researcher gathers information from Paembongan Family whose sitting in Kampung Bua’ Burake, Makale, Tana Toraja, to observe how is the comunication process on every ma’ kombongan and how a family would manage conflicts. Using Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument Theory, shows that Paembongan family often relies on collaboration style in terms of rambu solo’ funding, dilema in mantunu tedong accommodation, and compromising between the inconsistency of aluk. The results from research’s site shows that every member of Paembongan Family has their own role in managing conflicts. There are some conflict triggers, including motive differences for conducting rambu solo’ ceremony and inconsistency of aluk. This research also found that Paembongan Family will improve their communication between members to reach effectiveness. Conflicts in Paembongan Family caused by a failure to interpret messages, also failure to understand communication context and situation. So, to overcome these conflict, requires all of family members’ participation to reach unison and conduct rambu solo’ ceremony.
HUBUNGAN TINGKAT KETIDAKPASTIAN DAN KONSEP DIRI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN KOMUNIKASI PRIA PADA TAHAP PERKENALAN DENGAN WANITA Rwanda Zwazdianza Azwar; Dr Sunarto; Wiwid Noor Rakhmad; Sri Widowati
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.025 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini didasarkan pada tingginya prosentase pria yang mengalami kecemasan komunikasi ketika berkomunikasi dengan wanita yang belum dikenal. Setiap hubungan personal baik teman, sahabat, kekasih, dan sebagainya terbentuk melalui tahap-tahap, salah satunya adalah tahap kontak atau perkenalan. Tahap kontak atau perkenalan menjadi krusial karena pada tahap ini masing-masing individu akan memutuskan apakah hubungan dapat dilanjutkan ke tahap selajutnya atau tidak. Dengan demikian, kecemasan komunikasi secara tidak langsung akan menghambat pria untuk mengembangkan hubungan dengan wanita. Kecemasan komunikasi yang dialami pria ditentukan oleh dua faktor, yaitu ketidakpastian dan konsep diri yang dimiliki pria.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat ketidakpastian dan konsep diri yang dimiliki pria dengan tingkat kecemasan komunikasi yang dialami pria pada tahap perkenalan. Beberapa teori yang digunakan pada penelitian ini antara lain teori pengurangan ketidakpastian, teori selanjutnya yang digunakan dalam penelitian ini berkaitan dengan konsep diri yang dimiliki pria, dan teori terakhir yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kecemasan komunikasi.Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif, dan menggunakan paradigma positivistik. Populasi dalam penelitian ini adalah pria berusia 20-40 tahun yang mengikuti produk atau pelatihan Hitman System dan mengalami kecemasan komunikasi. Sampel yang digunakan adalah non random dengan teknik accidental sampling dikarenakan jumlah populasi yang tidak diketahui dengan jumlah sampel sebanyak 80 responden. Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan rumus uji korelasi Rank Kendall, diketahui terdapat hubungan positif yang signifikan antara tingkat ketidakpastian (X1) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), atau semakin tinggi tingkat ketidakpastian pria maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami pria. Diketahui pula terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara konsep diri (X2) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), dapat dikatakan semakin positif konsep diri pria maka semakin rendah tingkat kecemasan komunikasi yang dialami pria. Terakhir, didapati bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara tingkat ketidakpastian (X1) dan konsep diri (X2) dengan tingkat kecemasan komunikasi (Y), atau pria mengalami ketidakpastian yang tinggi ketika berkenalan dengan wanita maka tingkat kecemasan komunikasi yang dialaminya juga akan meningkat, namun jika pria memiliki konsep diri yang positif maka tingkat kecemasan yang dialaminya akan menurun.Kata kunci: Tingkat Ketidakpastian, Konsep Diri, dan Tingkat Kecemasan Komunikasi
CRISIS MANAGEMENT OF ENVIRONMENTAL POLLUTION BY PT PERTAMINA EP ASSET 4 FIELD CEPU (CASE STUDY IN NGELO, CEPU SUBDISTRICT, BLORA REGENCY) Ken Anne Kartika Suri; Dr. Dra. Sri Budi Lestari, SU
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.75 KB)

Abstract

The background of this research is crisis condition that caused by the conflict between PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu with the citizens of Ngelo, Cepu Subdistict, Blora Regency, due to environmental pollution which derived from operation activites in MGS (Main Gathering Station) Menggung. The purpose of the research is to describe how the crisis management pattern was done by public relations PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu to resolve the conflict between the company and citizens of Ngelo, Cepu Subdistrict, blora Regency due to pollution. An effort to solve the problems and research purpose was done by using the theory of Cluster Crisis, Hertfordshire Oil Storage Limited (HOSL) Crisis Management Process, Boundary Spanning and Environmental Scanning Theory, Situational of The Public (STP) Theory, and Image Restoration Theory. This research use case study analysis method. Data analysis unit that investigated in this research is PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu and citizens of Ngelo, Cepu Subdistrict, Blora Regency. The result showed that PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu try to manage the crisis through checks in Main Gathering Station Menggung at an early stage of crisis (pra crisis). Communication built by PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu with the society directly, besides the handling in operational way during the crisis is still continuing by close the oil catcher and made anticipation by raising up the hedge of main gathering station menggung. PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu was also doing corporate social responsibility program (CSR) for Ngelo citizens doing the corporate social responsibility program in some sectors like health, infrastructure, environment, education, economic empowerment, and education during the crisis (on going) crisis management. PT Pertamina EP Asset 4 Field Cepu use strategy corrective action and mortification (acknowledge faults) to rebuild image organization damage caused by crisis will be meetings with Ngelo citizens and dialogue by the mass media. PT Pertamina EP Asset Field Cepu suggested to build a team crisis that consists of of people from related function to coordinate crisis management pattern from the problem that faced.
DIVISI PROGRAM DALAM “FORCHIBY! (FORCITA FOR CHILD BEING YOUTH!)” (Strategi peningkatan Awareness Forum Cinta Anak Kota Magelang). Diva Hera Saputri Hera Saputri
Interaksi Online Vol 1, No 1: Januari 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.969 KB)

Abstract

1. PENDAHULUANAnak merupakan aset yang sangat penting, generasi penerus masa depan bangsa,penentu kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang akan menjadi pilarutama pembangunan nasional, sehingga perlu mendapat perlindungan danperhatian sungguh– sungguh dari semua elemen masyarakat.Sesuai dengan KHAdan UU 23 tahun 2002, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun,termasuk anak yang masih dalam kandungan.Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi berbagai masalah sosialyang melibatkan dan membawa dampak bagi anak adalah dikeluarkannyakebijakan pemerintah mengenai kabupaten dan kota layak anak. KebijakanKabupaten/Kota layak anak bertujuan untuk mengintegrasikan sumberdayapembangunan dalam upaya pemenuhan hak-hak anak.Kota Layak Anak (KLA) adalah sistem pembangunan suatu wilayahadministrasi yang mengintegrasikan komitmen dan sumber daya pemerintah,masyarakat dan dunia usaha dalam rangka memenuhi hak anak yang terencanasecara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatanuntuk pemenuhan hak-hak anak melalui Pengarusutamaan Hak Anak (PUHA).Demi mendukung kebijakan KLA tersebut, maka pada tanggal 8September 2010 dibentuklah Forcita (Forum Cinta Anak) sebagai salah satuwadah/organisasi memiliki misi untuk mendorong kebijakan untuk memenuhihak-hak anak, mendorong terbangunnya ruang peran anak di kota Magelang, sertamembangun pertisipasi masyarakat dalam keberpihakan pada hak-hak anak.Forcita memfokuskan diri pada berbagai penanganan permasalahan anak.Bidang-bidang kerja yang sudah tersusun antara masalah pemenuhan hak dankesehatan anak, pemenuhan hak pendidikan anak, penanganan masalah sosialanak, infrastruktur layak anak, serta advokasi dan perlindungan & konseling.Forcita merupakan organisasi yang terbilang muda di kota Magelangkarena baru berdiri selama 2 tahun. Organisasi ini masih memiliki awarenessyang rendah dan kegiatan yang dilakukan juga masih sedikit. Orang- orang yangberada di lingkungan sekitar Forcita, khusunya Magelang, belum memilikipengetahuan atau belum pernah mendengar sama sekali tentang Forum CintaAnak.2. METODE PEMILIHAN KEGIATANUntuk mengetahui kondisi dan situasi dari Forum Cinta Anak di lingkungan KotaMagelang, tim telah melakukan survey kepada 30 siswa- siswi Sekolah MenengahPertama Negeri di 5 sekolah yang berbeda, yaitu SMP N 11 Magelang, SMP N 5Magelang, SMP N 8 Magelang, SMP N 13 Magelang, dan SMP N 10 Magelang.Sampling yang digunakan adalah dengan accidental sampling dengan hasilsebagai berikut :Awareness siswa siswi sekolah menengah pertama terhadap ForcitaSiswa siswi sekolah menengah pertama memiliki awareness yang rendah terhadapForcita, karena hanya 3% dari siswa siswi tersebut yang pernah mendengartentang Forcita.Media yang paling sering diakses oleh siswa siswi sekolah menengah pertamadi Kota MagelangMedia internet merupakan media yang paling banyak diakses oleh siswa siswisekolah menengah pertama, kemudian adalah televisi.Media internet yang banyakmereka akses adalah situs jejaring sosial facebook.com. Media ini mereka aksesuntuk bisa berbagi dengan teman- teman terdekat mereka, nantinya media inilahyang akan menjadi pertimbangan untuk melakukan pendekatan dengan targetaudiences.MasalahBerdasarkan data yang telah diperoleh, diketahui bahwa sebagian besarsiswa- siswi Sekolah Menengah Pertama yang masuk dalam target sasaran Forcitabelum mengetahui keberadaan organisasi ini. Hal inilah yang kemudian akanmenggangu keberlangsungan organisasi dalam menjalankan fungsinya.TujuanUntuk meningkatkan Awareness di kalangan siswa siswi SekolahMenengah Pertama Negeri di Kota Magelang terhadap Forcita dari 3 % menjadi60%.RekomendasiBerdasarkan pada riset awal, dimana permasalahan yang dialami olehklien adalah awareness, atau belum diketahuinya keberadaan klien di kalangansiswa- siswi sekolah menengah pertama, maka perlu dibuat kegiatan yang dapatmempertemukan klien dengan target audiences yang sesuai dengan minat daritarget audinces.Event merupakan tools yang akan digunakan untuk melakukan pendekatanini, karena event dapat mempertemukan kedua belah pihak secara langsung, dandapat melibatkan banyak orang sekaligus, serta nantinya siswa- siswi akanmendapatkan pengalaman secara langsung mengikuti kegiatan yangdiselenggarkan Forcita.Oleh karena itu, dibuatlah event “Forchiby! (Forcita for Child BeingYouth!)” yang mengajak mereka untuk mengisi hari libur mereka, denganbermain bersama di alam terbuka, dan tetap mengingatkan mereka untuk menjagalingkungan sekitar mereka. Selain itu bersamaan dengan event ini akandiselenggarakan facebook photo contest yang akan digunakan sebagai mediauntuk bertukar informasi kepada target audiences.3. PEMBAHASANDalam mencapai tujuan yang diharapkan, maka dibuatlah serangkaian kegiatanIMC dengan kegiatan utamanya adalah event Forchiby! Dan juga media relations.Berikut ini adalah kegiatan yang telah dilaksanakan :1. Sosialisasi Berlangsungnya Acara. Sosialisasi dilaksanakan di 5 SMP di Kota Magelang. Sosialisasi adalah kerja sama dengan pihak sekolah untuk memberikanwaktu masuk ke kelas dan membagikan flyer serta menempelkan posterpada majalah dinding. Memulai pendaftaran dan pengambilan tiket “Forchiby! (Forcita for Childbeing youth)!” yang dititipkan pada guru konseling sekolah tersebut.2. Facebook Photocontest Merupakan lomba foto dengan tema “Me and My Best Friends”. Foto berupa kebiasaan mereka dengan sahabat mereka. Foto kemudian di upload pada “dinding” facebook Forcita. Pemenang adalah yang mendapatkan tanda “like” terbanyak. Tiga foto dengan “like” terbanyak akan mendapatkan hadiah dari panitia. Pengumuman pemenang adalah saat event “For Chiby! (Forcita for Childbeing youth)!”3. “For Chiby! (Forcita for Child being youth)! Forest Walk” Dilaksanakan di bukit Tidar Kota Magelang. Peserta berjalan menyusuri hutan sepanjang rute yang di tentukan, yaitudari bawah hingga puncak bukit Tidar. Selama perjalanan peserta diajak untuk membersihkan sampah yangberserakan dan sesekali beristirahat serta bermain games. Di puncak bukit tidar peserta beristirahat sembari diberikan informasimengenai apa itu forcita, dan untuk apa forcita. Dibagikan hadiah undian untuk peserta yang beruntung.Tempat dan WaktuAdapun sekolah yang dipilih adalah 5 sekolah negeri di Kota Magelang, yaitu :1. Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Kota Magelang2. Sekolah Menengah Pertama Negeri 8 Kota Magelang3. Sekolah Menengah Pertama Negeri 11 Kota Magelang4. Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Kota MagelangTempat yang akan dipilih sebagai lokasi pelaksanaan event adalah PuncakBukit Tidar. Berikut detail tempat dan waktu pelaksanaan event:1. Nama Acara : “Forchiby! (Forcita for Child being youth)!”2. Tempat : Bukit Tidar Kota Magelang3. Hari / Tanggal : Minggu, 25 November 20124. Waktu : 07.00- 12.00 WIB4. HASILDari proses perencanaan hingga pelaksanaan dapat dikatakan bahwa eventForchiby! (Forcita for Child Being Youth!)dapat dikatakan berjalan dengan baiksesuai dengan rencana kegiatan sebelumnya. Hal ini dapat terlihat dari : Acara tetap berlangsung sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Acara berjalan sesuai dengan rundown yang telah ditentukan sebelumnya. Koordinasi yang baik antara program dan Forcita, sehingga klien bersediamembiayai kegiatan. Pembiayaan tidak membengkak, bahkan dapat diminimalisir dengan baik. Terjalinnya komunikasi yang baik dengan pihak media, sehingga terdapatmedia yang datang untuk meliput kegiatan yang dilaksanakan. Perijinan ke sekolah dan instansi dapat diterima dengan baik dan disetujuioleh sebagian besar instansi. Tambahan personel untuk tim dapat terpenuhi dengan baik.Namun terdapat pula beberapa hambatan atau kendala yang dilalui olehpenulis selama melaksanakan kegiatan ini, sehingga tidak sesuai dengan encanaawal, yaitu : Perijinan ke SMP N 13 Kota Magelang yang tidak dapat ditindaklanjutikarena surat dan proposal yang diberikan kepada bagian tata usaha hilangsebelum sampai kepada kepala sekolah. Pihak SMP N 13 juga kemudiandipertimbangkan untuk digantikan sekolah lain, yaitu SMP N 3 KotaMagelang karena sering berselisih dengan SMP N 11 yang juga menjaditarget dari acara. Perijinan ke SMP 10 Kota Magelang tidak dapat diteruskan karena kepalasekolah yang pada awalnya mengijinkan, tiba- itba meminta suratpertanggungjawaban atas nama Forcita yang ditandatangani oleh ketuaForcita diatas materai 6000 pada H-2 yang tidak dapat diberikan oleh tim.Oleh karena waktu yang mendesak, maka penulis memutuskan untukmengganti SMP 10 dengan SMP N 11 yang mengirimkan 2 kontingenuntuk mengikuti kegiatan Forest Walk yang kemudian disanggupi olehpihak sekolah.5. KESIMPULANTerpenuhinya target peserta dan durasi.Target awal peserta untuk kegiatan adalah 200 peserta untuk kegiatanselama 6 jam akumulasi.Pada pelaksanaanya, pada awal roadshow peserta yangmengikuti kegiatan ini sudah cukup besar. Berikut adalah jumlah total peserta:No. Nama Sekolah Jumlah Peserta1. SMP N 3 Magelang 412. SMP N 5 Magelang 463. SMP N 8 Magelang 384. SMP N 11 Magelang 120Total 245sertaUntuk durasi kegiatan, dihitung dari durasi keseluruhan acara yang telahdilaksanakan. Berikut adalah tabel durasi pelaksanaan kegiatan :No. Nama Kegiatan Waktu Durasi1. Roadshow SMP N 3 Kota Magelang 09.00- 10.00 WIB 60’2. Roadshow SMP N 5 Kota Magelang 09.00- 09.30 WIB 30’3. Roadshow SMP N 8 Kota Magelang 15.30- 16.00 WIB 30’4. Roadshow SMP N 11 Kota Magelang 14.00- 15.00 WIB 60’5. Forest Walk 07.30- 11.30 WIB 240’Total 420’ (7 Jam)Peserta yang mengikuti kegiatan ini terbilang melebihi dari yangditargetkan oleh tim. Hal ini dikarenakan banyaknya peserta tambahan yang ikutbergabung dengan teman mereka dikarenakan ingin mengikuti kegiatan ini.Awalnya, setiap sekolah diberikan batasan untuk mengirimkan 40 peserta saja,akan tetapi karena pihak sekolah meminta untuk menambahkan beberapa personil.Peserta mengikuti kegiatan ini dengan antusiasme yang tinggi. Dari awalacara hingga akhir acara, peserta selalu aktif dan bersemangat dalam mengikutitiap arahan dari tim, terutama untuk sesi outbond games. Dalam sesi ini, pesertameminta tambahan waktu untuk menambah satu permainan ice breakinglagi.Games yang awalnya hanya diberikan durasi selama 50 menit ini, bertambahmenjadi 75 menit.Selain peserta, pihak guru juga ikut mendukung kegiatan ini. Padaawalnya, tiap sekolah akan mewakilkan 2 orang guru untuk menemani siswasiswinyaselama kegiatan. Pada pelaksanaannya, guru yang mengikuti kegiatan inilebih dari yang ditargetkan.SMP N 11 Kota Magelang mengirmkan 14 orangguru, sedangkan untuk sekolah yang lain sebanyak 5 orang guru masing- masingsekolah. Permainan ice breaking yang diperuntukkan untuk siswa- siswi ternyatajuga diikuti oleh guru dengan aktif, sehingga suasana menjadi lebih meriah.Terpenuhinya Tujuan KegiatanTujuan dari pelaksanaan awal kegiatan ini adalah untuk meningkatkanawareness akan keberadaan Forum Cinta Anak (Forcita) di kalangan siswa- siswidari 3% menjadi 60%. Berdasakan pada survey yang dilaksanakan 3 hari setelahevent, didapatkan hasil dari 30 siswa yang di survey, 23 siswa mengetahuikeberadaan Forcita, atau sebesar 77%. Survey ini dilaksanakan dengan metodeyang sama pada saat riset awal sebelum kegiatan, yaitu secara accidental denganmenyebarkan kuesioner kepada anak- anak yang menjadi sample
Representasi Aturan Adat Pemilihan Pasangan (Romantic Relationship) Masyarakat Batak dalam Film Mursala Williams Wijaya Saragih; Agus Naryoso; Taufik Suprihartini; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.304 KB)

Abstract

Masyarakat Batak memiliki aturan pemilihan pasangan (romantic relationship).Aturan yang mengatur siapa saja yang boleh dinikahi dan siapa yang tidak boleh untukdinikahi berdasarkan janji yang ditetapkan, tidak boleh saling menikah bagi sepasangkekasih yang memliki marga yang sama. Di sisi lain ideal bagi masyarakat Batakmenikahi anak perempuan dari tulang (paman). Mursala adalah film drama cintaberbalut kebudayaan Batak yang bercerita tentang Anggiat Simbolon, seorangpengacara yang mencoba mempertahankan hubungan cintanya dengan Clarissa Saragihdi tengah larangan adat. Film ini menekankan aturan pernikahan adat Batak yang harusdijalankan dan dipertahankan sampai sekarang dan perasaan cinta yang berbenturandengan nilai adat sehingga menimbulkan konflik dalam keluarga dan masyarakat adat.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui representasi aturan pemilihan pasangan(romantic relationship) masyarakat Batak dalam film Mursala. Tipe penelitian iniadalah deskriptif kualitatif, menggunakan pendekatan signifikasi dua tahap dari teorisemiotika Roland Barthes dan analisis semiotika dengan teknik analisis data dari konsepkode-kode televisi John Fiske. Analisis dilakukan dengan tiga level, yakni level realitas,level representasi, dan level ideologi. Level realitas dan level representasi dianalisissecara sintagmatik, sedangkan analisis secara paradigmatik untuk level ideologi.Hasil penelitian menemukan bahwa adat sebagai nilai yang memiliki kekuatanuntuk mengatur perilaku harus tetap dijalankan dan dipertahankan. Melalui analisissintagmatik pada level realitas dan representasi peneliti menemukan makna peneguhanadat sebagai proses penerapan dan penjagaan nilai-nilai adat dari tindakan pelanggaran.Selain itu peneliti juga menemukan konflik yang terjadi dalam penerapan nilai adatyang ditampilkan sebagai dampak benturan kepentingan individu dengan nilai adat.Sedangkan melalui analisis paradigmatik pada level ideologi peneliti menemukanpenegasan kolektivisme keluarga sebagai agen kebudayaan serta kekakuan dan superiornilai adat. Konstruksi ideologi kolektivisme keluarga sebagai agen kebudayaanmenampilkan fungsi dan pembagian peran anggota keluarga dalam penanaman nilaiserta sistem pengawasan terlaksananya nilai adat. Konstruksi kekakuan dan sifatsuperior adat direpresentasikan lewat ketidakberdayaan Anggiat sebagai pengacarauntuk mempertahankan hubungan cintanya di hadapan hukum adat. Selain itu didapatibahwa keyakinan terhadap keabsolutan nilai adat sebagai faktor dipertahankan adatsebagai pedoman perilaku.
Peran Koordinator Liputan dan Reporter dalam Pengelolaan Media Online Wehype.id bersama Impala Space Achmad Habibie Taufiqqur Rahman; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.299 KB)

Abstract

Di daerah perkembangan industri kreatif begitu terlihat, sepertinya halnya di Semarang dimana semakin banyak para talenta – talenta kreatif muda bermunculan. Namun banyak talenta kreatif khususnya di kota Semarang belum ter-expose sehingga belum banyak dikenal khalayak. Salah satu penggiat industri kreatif di Semarang yaitu Impala Space menyadari bahwa dibutuhkan media yang dapat memberikan apresiasi terhadap industri kreatif di Semarang agar dapat dikenal oleh masyarakat luas. Impala Space adalah ruang kerja kolaboratif atau yang sering disebut sebagai co-working space. Sebuah ruang yang digunakan untuk bekerja bersama – sama dengan komunitas kreatif, Freelancers, Entreupreneurs atau bisnis Startup. Impala space akan menjadi pusat kegiatan dan pengembangan industri kreatif. Oleh karena itu tim karya bidang bekerja sama dengan Impala Space untuk membuat sebuah media online yang membahas segala hal tentang industri kreatif yang ada di Semarang. Wehype.id merupakan sebuah platform yang menjadi wadah untuk berbagi cerita tentang proses kreatif pada suatu karya. Wehype.id percaya dalam setiap penciptaan karya, selalu ada proses panjang yang melibatkan daya kreasi dan daya cipta. Untuk itu Wehype.id berkomitmen untuk menjadi corong komunikasi bagi setiap kreator untuk berbagi cerita sehingga kita dapat memahami proses dan mengapresiasi karya. Dalam Wehype.id koordinator liputan adalah orang yang bertanggung jawab terhadap penyusunan ide liputan dengan memperhatikan nilai berita didalamnya, yang kemudian akan ditugaskan kepada reporter. Selama karya bidang Wehype.id koordinator liputan telah menyelesaikan tugasnya melakukan penyusunan ide liputan sebanyak 90 bahan dan sebagai reporter mampu menghasilkan 45 artikel. Harapannya Wehype.id tidak hanya memberikan informasi tetapi juga menginspirasi dan turut berpartisipasi dalam perkembangan industri kreatif.
Representasi Persahabatan dalam Film 5 cm Intan Murni Handayani; Triyono Lukmantoro; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.455 KB)

Abstract

Representasi Persahabatan dalam Film 5 cmSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata-1Jurusan IlmumKomunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama: Intan Murni HandayaniNIM: D2C 009 034JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013ABSTRAKSIFilm merupakan salah satu media massa yang menjadi wadah bagi parapembuat film untuk menyampaikan pesan serta nilai-nilai yang dimiliki olehpara penggarap film, di mana film selanjutnya akan merepresentasikan nilainilaitadi. Banyak tema yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakatyang diangkat ke dalam film, salah satunya tema persahabatan. Film 5 cmadalah salah satu film bertema bersahabatan yang mencoba merepresentasikansebuah persahabatan dengan konsep yang berbeda. Persahabatan dipahamisebagai hubungan yang ada sepanjang waktu antara orang-orang yang memilikidan saling berbagi kesamaan dan yang paling mendasar adalah persamaansejarah (Beebe, 1996: 273).Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui tanda-tanda verbal dannon-verbal tentang nilai-nilai kebersamaan dan gagasan dominan yang ada didalamnya. Melalui analisis semiotika, penelitian ini akan melihat bagaimanasebuah persahabatan direpresentasikan dalam film 5 cm.Hasil penelitian yang didapatkan adalah, persahabatan adalah sebuahhubungan yang dapat menimbulkan kejenuhan bagi individu yang ada didalamnya jika intensitas pertemuan tinggi. Analisis mendalam selanjutnyamenemukan bahwa persahabatan bukanlah hubungan yang didasarkankebersamaan atau hal-hal yang bersifat fisik, melainkan sebuah hubungan yangdidasarkan pada keterikatan emosional yang akan menimbulkan empati,perhatian, kepercayaan, dan kepedulian.Lebih jauh lagi, persahabatan sering dipahami sebagai hubungan yangmenekankan pada kedekatan emosional dan keakraban, di mana setiap individuadalah rekan yang memiliki posisi sama. Dalam film ini, digambarkan bahwadalam persahabatan ada seseorang yang akan berfungsi sebagai pemimpin.Selain itu, selain itu ditemukan ketidakadilan yang mendiskriminasikan peranperangender.Kebersamaan masih menjadi bagian dari persahabatan namun bukanlahsebuah faktor utama dan keterikatan emosional akan menjadi alasan untukmempertahankan persahabatan. Diharapkan melalui penelitian ini dapatmemberikan konsep baru bagi para penggarap film dan masyarakat untukmemahami persahabatan tidak semata dari kebersamaan.Kata kunci: representasi, komunikasi antarpribadi, semiotika.ABSTRACTFilm is one of mass media that be the space for the filmmaker to delivermessages and values own by the filmmaker, where film will represent the valuesby movie. A lot of theme pertaining to the life social societyappointed into amovie, friendship is one of them. Some of the film’s theme of friendshiphas itsown representation about concept and meaning of friendship. Friendshipunderstood as a relationship that exist all the time between those who havingand sharing in common and most fundamental equation is history (Beebe, 1996:273)Purpose of this research is to know value of verbal or non-verbal signsina community and the dominant idea in it. Through the analysis of semiotics,the study will look at how a friendship is represented in the 5 cm the movie.Result of the research is obtained friendship is a relationship that caninflict overfullness for individuals who were in it if it have high intensity ofmeeting. And than, advance analysis found that relationship is not relation basedon togetherness or things physical, but instead a relationship based on emotionalattachment that will lead to emphaty, attention, trust, and care.Furthemore, the friendship is often understood as a relationship thatplaces emphasis on the emotional closeness and familiarity, where everyindividuals is a collegue who has the same position. This film described that infriendship there is someone who will serve as a leader. In addition, besides theinjusticefound discriminate on gender roles.Togetherness still be a part of friendship but is not a main factor, andemotional attachment will be the reason to maintain friendship. Expectedthrough this research would provide new concept for the tillers film and societyto understand.Key words: representation, Interpersonal communication, semioticsLATAR BELAKANGFilm sebagai salah satu bentuk media massa menarik minat penonton dalammengkonsumsi informasi dengan cara yang berbeda dengan media lainnya. Jikasurat kabar memberikan informasi secara visual melalui tulisan serta gambardan radio hadir dengan memancing imajinasi pendengar melalui suara, makafilm hadir dengan menggabungkan keduanya. Pesan dihadirkan kepada audienssecara audio dan visual yang disertai dengan gerak.Selain itu, pesan yang disampaikan oleh para penggarap film dibawakan kedalam sebuah cerita yang alurnya dekat dengan kehidupan dan lingkunganmasyarakat. Diamati lebih jauh, film bukan hanya sebagai tontonan maupunhiburan semata. Film mampu merepresentasikan berbagai hal dalam kehidupanmasyarakat seperti sejarah, kebiasaan masyarakat, hubungan pernikahan,kehidupan bertetangga, dan lain-lain. Setiap film tentu memiliki cara yangberbeda-beda dalam merepresentasikan isu maupun tema yang diangkat sesuaidengan tujuan pembuat film.Salah satu isu sosial masyarakat yang sering diangkat ke layar lebar adalah‘persahabatan’, banyak sineas Indonesia mengangkat tema bersahabatan danmemberikan konsep serta bentuk yang berbeda tentang sebuah persahabatan.misalnya film Laskar Pelangi (2008), Mengejar Matahari (2004), SerigalaTerakhir (2009), dan Negeri lima Menara (2012). Beberapa film inimerepresentasikan persahabatan mulai dari sebuah hubungan yang indah danmembahagiakan, hingga hubungan yang penuh dengan kekecewaan.Film memang selalu dibumbui dengan konflik dan tidak sedikit konflik yangmenjadi klimaks dalam film. Konflik antar suami-istri, orang tua dan anak, sertakonflik antara sepasang kekasih tentu akan berbeda dengan konflik yangdialami oleh individu-individu yang saling bersahabat. Unsur kedekatan dankepercayaan dalam Persahabatan belum tentu terlepas dari konflik.Setiap film tentu memiliki pesan tersendiri yang ingin disampaikan melaluisimbol-simbol serta tanda-tanda, begitu juga film dengan tema bersahabatanyang juga mencoba merepresentasikan sebuah persahabatan dengan caranyamasing-masing. Permasalahan yang ingin diungkapkan disini adalah bagaimanatanda-tanda serta simbol-simbol dalam film 5 cm mencoba menjelaskan sertamerepresentasikan persahabatan.ISIFilm 5 cm akan di analisi melalui tiga level konsep yang dikemukakanoleh John Fiske tentang The Codes of Television, yakni level reality yangpenampilan (appearance), kostum (wardrobe), tata rias (make-up), lingkungan(environment), latar (setting), gaya bicara (speech), dan ekspresi (expression).Kode-kode dalam level reality adalah kode-kode sosial film yangmenggambarkan realitas dan terlihat nyata dan jelas. Level ini akan membuatpenonton merasa lebih dekat dengan berbagai unsur yang ada dalam film,karena berbagai realitas kehidupan sosial masyarakat dihadirkan di sini. Selainitu, kode-kode sosial pada level ini juga akan memperkuat karakter dari paratokoh dalam film. Sehingga, penonton secara tidak langsung ikut merasakanperasaan sang tokoh dalam film, misalnya melalui ekpresi dan kostum pemain.Level representation meliputi aspek kamera, aspek pencahayaan (lighting),aspek editing, aspek tata suara (sound), aspek penarasian, dan aspek karakterdan penokohan. Kode-kode pada level representation merupakan bagian-bagianterpenting yang akan memberikan pengaruh terhadap bagus tidaknya film yangdiproduksi. Level ini merupakan dapur dalam sebuah produksi film, yangmengolah serta memadupadankan berbagai aspek tadi dalam satu kesatuan,sehingga tersaji sebuah tontonan yang mampu merepresentasikan sebuah idemaupun gagasan. Karena itu, berbagai aspek yang ada bukanlah sesuatu yangberdiri sendiri melainkan saling mempengaruhi agar dapat memproduksi sebuahfilm yang bagus. Fokus analisis dari bab ini adalah adegan-adegan yangmenampilkan representasi persahabatan.Dua level sebelumnya akan membawa peneliti membaca simbol-simboltersembunyi sehingga menemukan nilai-nilai yang baik secara sadar atau tidakoleh para penggarap film, ada dan tertanam di dalam film,. Level ideology akanmengkaji kode-kode secara paradigmatik, di mana kode-kode tadi adalah kodekodeideologis yang merujuk pada representasi persahabatan dalam 5 cm.Analisis paradigmatik melibatkan perpaduan dan kontras dari masing-masingpenanda yang dihadirkan dalam teks, dengan penanda yang tidak ada dalamsuatu keadaan yang sama. Kode-kode yang ada dalam 5 cm akan diuraikanmencakup hal-hal yang diatur dalam koherensi dan penerimaan sosial olehberbagai kode ideologis1. Dinamika persahabatan dalam film 5 cm: Persahabatan di dalam 5 cm adalahhubungan yang bergerak. Pergerakannya berupa, interaksi dan komunikasi,memunculkan kejenuhan, penghentian komunikasi, dan yang terakhir adalahrekonsiliasi.2. Persahabatan dan konsep kebersamaan : Kebersamaan bukanlah faktor utamayang mendasari persahabatan, melainkan ikatan emosional masing-masingindividu. Kebersamaan hanyalah sebuah bumbu dalam persahabatan yang jikadilakukan dengan monoton dapat menimbulkan konflik berupa kejenuhan.Kebersamaan menjadi faktor yang mengantarkan terbentuknya sebuahpersahabatan, sedangkan ikatan emosional, kepercayaan, rasa salingmembutuhkan menjadi faktor utama yang mendasari dipertahankannya sebuahpersahabatan.3. Posisi dominan laki-laki dalam persahabatan : Persahabatan bukanlahhubungan yang selalu menganggap setiap individu di dalamnya memiliki posisidan peran yang sama atau pun setara. Dalam 5 cm justru laki-laki danperempuan memiliki posisi dan peran yang berbeda. Perilaku-perilaku yangditujukan kepada Riani adalah suatu perwujudan bagaimana nilai-nilai patriarkiberkembang di masyarakat. Dengan adanya kekuasaan dan kekuatannya, lakilakidianggap memiliki peran penting serta sangat dibutuhkan oleh kaumperempuan.4. Dalam film yang menceritakan tentang persahabatan, di mana setiap orangseharusnya memiliki posisi yang setara, maskulinitas dan femininitas bukanlahdua hal yang setara. Peran laki-laki yang dominan karena kuatnya konstruksipatriarki di masyarakat, menjadikan Riani sebagai seorang perempuan punberada di bawah kekuasaan patriarki.5. Melalui adegan-adegan yang ada dalam film 5 cm, Genta memiliki peransebagai sosok pemimpin walau pun tidak ada sebuah status yang menyatakanbahwa dia adalah seorang pemimpin. Dapat diambil kesimpulan bahwa setiaphubungan yang melibatkan orang lain akan ada sosok yang memimpinhubungan tersebut, ketika ada seseorang yang mengambil keputusan dalampersahabatan maka orang tersebut akan berperan sebagai pemimpin dalampelaksanaan keputusan yang diambil.6. pemain juga dikonstruksikan berpenampilan seindah mungkin lengkapdengan makeu-up. Ini menggambarkan bahwa 5 cm juga menjadi salah satuproduk kapitalis yang mencari keuntungan semata dengan menampilkan aktrisdan aktor yang terkenal agar dapat menjual film. Untuk tetap menjagakeindahan, akhirnya berbagai esensi mendaki gunung pun dihilangkan. Padahaltidak menutup kemungkinan kegiatan mendaki gunung ini akan ditiru olehmasyarakat yang juga pemula.PENUTUPFilm sebagai salah satu produk kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagaisarana hiburan, namun penting untuk dipahami bahwa terdapat tanda-tandatersembunyi yang mencoba merepresentasikan nilai-nilai budaya yang ada dimasyarakat. Bagaimana nilai-nilai tadi diproduksi oleh para pembuat film,sedikit banyak akan memberikan pengaruh kepada masyarakat yang menonton.Pada akhirnya, persahabatan digambarkan sebagai hubungan yang didasaridengan ikatan emosional. Hal ini digambarkan melalui adegan ketika lima tokohdalam 5 cm berada dalam masa penghentian komunikasi, mereka merasakankerinduan ingin bertemu. Kerinduan ini merupakan bentuk ikatan emosional.Walau pun mereka berpisah namun persahabatan mereka akan tetap terjaga.Interaksi dan komunikasi yang dimiliki oleh setiap individu dalam sebuahpersahabatan adalah proses yang terjadi karena adanya faktor sepertikepercayaan, keterbukaan, dan penerimaan oleh lingkungan sekitar. Sehinggaseseorang akan menjadi dirinya sendiri ketika sedang bersama sahabatnyaseperti berpenampilan, bersikap, dan berperilaku apa adanya. Selain itu,komunikasi dalam persahabatan dilakukan secara verbal dan nonverbal. Verbaladalah pesan yang disampaikan melalui kata-kata, dan komunikasi nonverbaladalah pesan yang tersirat melalui ekspresi dan gesture. Komunikasi nonverbalini akan mengkomunikasikan hal-hal yang bersifat emosional yang akanmendukung pesan verbal seperti ungkapan empati, kesedihan, kasih sayang, dankepedulian.Konflik disimbolkan dengan berbagai ungkapan dari individu yangmengungkapkan kebosanan tentang berbagai hal. Penyebab utama konflikkarena adanya rasa ketidaknyamanan (disonansi) yang dialami setiap orangyang berakibat pada kejenuhan. Nilai-nilai maskulinitas dalam film 5 cmditunjukkan dengan pemeran film yang empat di antaranya adalah laki-laki,gambaran-gambaran mengenai fisik yang kuat, pengambilan keputusan, sertadominasi laki-laki, serta sikap mereka dalam memperlakukan Riani, yaitucenderung lembut dan menjaga serta penguasaan terhadap Riani. SehinggaRiani pun sebagai perempuan dikesankan memiliki posisi yang inferior.Kepercayaan adalah konsep yang dibentuk secara perlahan setelah setiapindividu mulai mengenali lawan bicaranya masing-masing sehingga seseorangtidak ragu lagi untuk membuka diri. 5 cm merepresentasikan persahabatansebagai suatu hubungan yang tidak hanya didasari oleh kebersamaan. Tapi jugahubungan yang didasari oleh kedekatan emosional sehingga konflik seperti apapun yang terjadi di antara mereka akan coba mereka selesaikan karena adausaha dari setiap individu untuk mempertahankan persahabatan. Film 5 cmmerupakan salah satu produk kapitalis, karena banyak hal-hal penting yangberkaitan dengan mendaki gunung yang dihilangkan untuk menampilkangambar-gambar yang dapat menarik minat penonton.DAFTAR PUSTAKAFILMFilm 5 cm : Karya Sutradara Rizal Mantovani. Skenario: Donny Dirgantoro,Sunil Soraya, dan Hilman Mutasi. Rilis di bioskop 12 Desember2012.. Produksi Soraya Intericine Film.BUKUAbrams, Nathan., et al. (2001). Film Studying. USA: Oxford University PressInc..Beebe, Steven A. (1994). Communication in Small Groups: Principles andPractices, 4th Ed. USA: HarperCollins College Publisher.Beebe, Steven A., Susan J. Beebe, Mark. V. Redmond. (2005). InterpersonalCommunication: Relating to Others (4th ed.). USA: PearsonEducation Inc.Bordwell, David. (1986). Film Art. USA: Newbwry Award RecordIncorporation.Burton, Graeme. (1990). More than Meet the Eyes (3rd ed.). London: Arnold.Butler, Andrew M. (2005). Film Studies.USA:Trafalgar Square Publishing.Chandler, Daniel. (2002). Semiotics: The Basic (2nd Ed). London: Routledge.Devito, Joseph A. (1997). Komunikasi Antarmanusia. Jakarta: ProfessionalBooks.Devito, Joseph A. (2000). The Interpersonal Communication Book. 9th Ed.USA: Longman PubEffendy, Heru. (2009). Mari Membuat Film. Jakarta: Erlangga.Fiske, John. (1999). Televison Culture: Popular Pleasures and Politics.London: Routledge.Fiske, John. (2010). Cultural and Communication Studies: Sebuah PengantarPaling Komprehensif. Terjemahan Drs. Yosal Iriantara, MS.Yogyakarta: JALASUTRA.Hall, Stuart. (1997). Representation. London: SAGE publication.Littlejohn, Stephen W. (2009). Theory Of Human Communication 9th ed.Jakarta: Salemba Humanika.Mosse, Julia Cleves. (1996). Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: PustakaPelajar.Mulhall, Stephen. (2001). On Film. USA: Routledge.Naratama. (2013). Menjadi Sutradara Televisi.Jakarta: PT Gramedia.Neuman, Lawrence W. (2007). Basic of Social Research: Qualitative andQuantitave Approaches (2nd ed.). USA: Pearson Education Inc.Paningkiran, Halim. (2013). Make-Up Karakter untuk Televisi dan Film.Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama.Pearson, Nelson, Titsworth, Harter. (2011). Human Communication (4th ed.).New York: The Mac Grown-Hill Inc.Saadawi, El Nawal. (2001) Perempuan dalam Budaya Patriarki. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Sobur, Alex. (2003). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Stadler, Jane., dan Kelly McWilliam. (2009). Screen Media: Analysing Filmand Television. Singapore: CMO Image Printing.Stolley, Kathy S. (2005). The Basic of Sociology. USA: Greenwood PressStorey, John.(2008). Cultural Theory and Popular Culture: an Introduction.Britain: Henry Ling Ltd.Sumarno, Marselli. (1996). Dasar-Dasar Apresiasi Film. Jakarta: PT Grasindo.West, Richard dan Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi:Analisis dan Aplikasi (3rd Ed.). Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.INTERNET5 cm Film Terpuji Festival Film Bandung. Dalamm.antaranews.com/berita/380306/5-cm-film-terpuji-festival-filmbandun.Diunduh pada 13 Juli 2013. @5 cm. (2012). Dalam http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-5003-12-405162_5-cm#UUsOSNGyOoK. Diunduh pada 2 April pukul 22.00 WIB. @Eratnya Persahabatan di Puncak Semeru. Dalam http://www.yangmuda.com/read/detail/1936537/film-5-cm-eratnya-persahabatan-di-puncaksemeru.Diunduh pada 4 Mei 2013 pukul 21.00 WIB. @Film 5 cm: Esensi Sebuah Persahabatan, Cinta, dan Perjuangan. Dalamhttp://www.kabar24.com/index.php/film-5-cm-esensi-sebuahpersahabatan-cinta-dan-perjuangan/. Diunduh pada 2 April pukul22.00 WIB. @Kejanggalan-Kejanggalan Film ‘5 cm’. Dalamhttp://hiburan.kompasiana.com/film/ 2013/01/05/kejanggalankejanggalan-film-5-cm-521571.html. Diunduh pada 5 April 2013pukul 20.00 WIB. @Yanuar Elang Riki. (2009). Serigala Terakhir, Pemeran Utama Tak SelaluJawara. Okezone, dalamhttp://celebrity.okezone.com/read/2009/11/05/35/272496/serigalaterakhir-pemeran-utama-tak-selalu-jawara. Diunduh pada 2 Aprilpukul 21.00 WIB.JURNALPonti, Lucia et all. (2010). A Measure for the Study of Friendship and RomanticRelationship Quality from Adolescence to Early-Adulthood. TheOpen Psychology Journal. Vol. 3: 76-87.
Understanding Communication Barriers of New Members on Milis Sehat Annisa Zetta Afiatni; Dra Taufik Spurihartini; Turnomo Rahardjo .; Primada Qurrota Ayun
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.639 KB)

Abstract

Nowadays, people can take health discussion in cyberspace, Milis Sehat is one that provides a forum for the public. You can consulted directly with doctors without going through face-to-face. The existence of a new way of discussion or consultation about the health from became online that creates barriers in each members. Therefore, researcher interested to discuss what are the barriers that prevent members on Milis Sehat and how they achieve a common understanding when communicating effort. The purpose of this study is to describe the factors inhibiting new members on Milis Sehat when they are not able to reach a mutual understanding and to describe their efforts in reaching a mutual understanding. The theory that used is Accommodation Communication Theory (Howard Giles).This study uses an interpretive paradigm with a phenomenological approach of Moustakas. The results from this study is there are six barriers perceived by new members. The most dominant barriers is a psychological barrier in the form of their feeling less satisfied with the answers or the results of discussions on the mailing list because the answer just a link that contains articles; their discomfort when communicating because doctors in mailing lists according to their fierce; and their anxiety for fear the question is not got a response by anyone. Semantic barriers they experienced as a result of the use of the abbreviation / term health unfamiliar and less familiar to them. To understand this, they look for abbreviations / that term in the search engine Google, asking senior members or doctors in the mailing list. Frame of mind and cultural differences are also preventing them interpret what they read the writing on the mailing list. Barriers for their status within the social and technical barriers caused less supportive tool shared by several informants. In order to achieve mutual understanding, communication barriers have to be overcome first like a psychological barrier, status, culture, and mindset through mutual understanding their individual differences; semantic barriers can be overcome by finding yourself or ask about the language / vocabulary of what you do not understand, once they understand, they can converge (equalization) in order to make it look the same as the other members. Technical barriers can be overcome by using tools that support. Academically, Accommodation Communication Theory (Howard Giles) describes someone convergence for wanting approval. Meanwhile, someone from the findings converge to make it more practical and effective. In practical terms, the findings of this study can be applied to individuals who have a similar situation as in this study. Socially, the benefits that can be taken by the public should be when you are in this situation in order to look the same convergence with new people.
PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP FILM “MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK” Andrew Manogu N; Sri Budi Lestari
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.898 KB)

Abstract

This research is motivated by the presence of feminist films in the midst of the development of mainstream films (men as the main actors). So far women have decided as a complement to the story because of gender injustice caused by gender differences. The film "Marlina the Killer in Four Acts" is a film that shows women leaders who contradict the mainstream film that is developing at this time, with the aim of criticizing the dominance of patriarchy that is developing at this time. This different film theme supports researchers to complete the various meanings given by the general public with different backgrounds to this film using Ien Ang's acceptance analysis. Before analyzing the meanings given by audiences, researchers uncovered the reading choices offered by this film using Roland Barthes's semiotics. Some scenes in this film show the position of women who are oppressed but can provide limits. The preferred form of oppression is from patriarchal domination which asks women for men. While fighting against what is won by women is by completing their possessions and breaking this dominance by utilizing women's weaknesses into strengths. The audiences as producers of meaning provide diverse experiences. Inform information about this film women improve repression that is detrimental to them. Then two out of four Infromans did not agree with the method given by the women in the film. One other informant agreed with how to approve the given, while the other informants agreed not to agree with him because the actions of women in the film opposed the law as well as the prevailing norms.

Page 34 of 157 | Total Record : 1563