cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Relationship Between Parents Surveilance, Intensity of Peer Group Communication, and Self Esteem To Preferences Play Online Games on Adoloescents Sharon Gracia G; Djoko Setyabudi, S.Sos, MM
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.37 KB)

Abstract

Online gaming already not become familiar to our ears. However, his presence is still keenly felt, and also in demand by children - teen age children. Internet cafes based online games have been one of the proofs that the online game market has not subsided and is still much demand. Many teenagers, especially boys who like to play this game. And an attraction for researchers to conduct research on this. Playing online games can be affected by family background, playmates (peer group), as well as coming from himself.This quantitative research aims to explain that the family, peer group, and self -esteem have a stake in online gaming. As for those who were respondents in this study were male junior high school age, 12-15 years of online gaming. Based on the theory of parental mediation by Livingstone and Hesper, peer group by Santrock concept, and the concept of self-esteem by Coopersmith, we can see if these three variables as indicators of son preference in playing the game online. The sampling technique used was accidental sampling of 30 respondents men - men aged 12-15 years and the status of junior high school students.Results of studies using Kendall correlation is that first, there’s no positive relationship between the variables of the parents surveilance thru play online games on adolescents. It looks of figures a significance of 0.903 (0.903> 0.05) and a correlation coefficient of 0.020 indicates that the first hypothesis researchers that there is a positive relationship between the parents surveilance to preferences play online games on adolescents denied. The second variable is the intensity of the peer group and the communication of research results, there is a positive relationship as seen in the figure of significance of 0.009 (<0.05) with a correlation coefficient of 0.421 indicates that the second hypothesis the researchers accepted that there is a positive correlation between the intensity of peer communications group to preferences play online games on adolescents. The third variable in this study is self-esteem. The results showed that there is a positive relationship. This looks at the significance of the figure of 0.009 (<0.05) with the number correlation coefficient of 0.417, this shows the third hypothesis the researchers accepted that there is a positive relationship self-esteem to preferences play online games on adolescents.From the results of research states that the theory of parental mediation is not the only that determining factors of preference, while the concept of a peer group are factors that affect a person's preference, as well with the theory of self-esteem which also are factors that affect a person's preference
Resistensi Terhadap Konstruksi Dominan Homoseksual dalam Film Coklat Stroberi Vivitri Endah Andriani; Dr Sunarto; Hapsari Dwiningtyas; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.41 KB)

Abstract

Film merupakan salah satu media massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan sekaligus menyebarkan ideologi kepada masyarakat. Film juga dapat dijadikan sebagai media untuk melakukan perlawanan terhadap suatu konstruksi dominan di masyarakat. Melalui film Coklat Stroberi, sutradara Ardy Octaviand ingin menunjukkan adanya bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan oleh figur homoseksual terhadap konstruksi dominan di masyarakat dan mempresentasikan logika kebenaran yang di munculkan oleh film terkait dengan adanya perlawanan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika dari Roland Barthes melalui tahapan analisis sintagmatik dan paradigmatik dengan menggunakan lima kode pokok pembacaan teks. Teori Resistensi James C. Scott digunakan untuk menjelaskan bentuk-bentuk perlawanan yang terdapat di dalam film. Penelitian ini menunjukkan hasil, bahwa perlawanan yang dilakukan homoseksual baik secara sembunyi-sembunyi (mempertahankan orientasi seksual) dan terbuka (berpelukan, ciuman, bergandeng tangan), berhujung pada penerimaan lingkungan sosial homoseksual. P enerimaan masyarakat terhadap homoseksual menunjukkan adanya ideologi liberalisme di dalam lingkungan masyarakat yang toleran terhadap homoseksual.Pengungkapan identitas (coming out) yang dilakukan homoseksual mendapatkan penolakkan maupun penerimaan. Penolakkan yang datang dari orang tua homoseksual menunjukkan masih adanya pemikiran dominan heteronormativitas di dalam film. Penerimaan terhadap figur homoseksual datang dari teman-teman dan lingkungan masyarakat yang berasal dari kalangan atas, penerimaan tersebut mengacu pada penggunaan teori Queer Judith Butler yang menganggap identitas sebagai sesuatu yang bersifat cair. Terdapat naturalisasi yang ditunjukan dengan adanya pemikiran stereotip homoseksual ( gay), dimana homoseksual ditampilkan dengan karakter feminin yang terlihat dari pakaian, gesture tubuh serta ekspresi. Film ini juga menunjukkan adanya logika kebenaran, bahwa menjadi seorang homoseksual merupakan pilihan mengenai orientasi manusia dalam memenuhi kebutuhan secara seksual. Selain itu, perlawanan melalui identitas dan menampilkan kemesraan homoseksual menciptakan suatu mitos, salah satu diantaranya adalah mitos bahwa homoseksual bukanlah suatu penyimpangan dan penyakit yang dapat ditularkan dalam lingkungan sosialnya. Kata kunci : Film, Resistensi, Semiotika, Homoseksual, Identitas
Hubungan Terpaan Iklan Yamaha YZF R25 Dan Citra Merek Terhadap Minat Beli Otto Fauzie Haloho; Joyo NS Gono; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.812 KB)

Abstract

Dalam bersaing dengan kompetitor, YIMM selaku produsen resmi Yamaha Indonesia menggunakan berbagai jenis marketing komunikasi untuk mempromosikan dan mengkomunikasikan produk terbarunya kepada konsumen. Salah satunya adalah dengan iklan televisi (TVC). YIMM memiliki banyak iklan TVC dari berbagai produknya, salah satunya ialah iklan Yamaha R25 dimana, YIMM menggaet pembalap MotoGP, Valentino Rossi untuk mempromosikan produk ini. Selain iklan televisi, citra merek juga memiliki peranan penting dalam promosi sebuah produk baru. Iklan dan citra merek itu memiliki hubungan yang sejajar. Apabila pesan – pesan dan informasi dalam iklan dapat diterima dengan baik oleh konsumen.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan televisi Yamaha YZF R25 dan citra merek terhadap minat beli.. Dasar pemikiran yang digunakan adalah Cognitive Respons Theory. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanatori. Penelitian ini menggunakan teknik non random sampling dengan metode accidental sampling sebagai alat untuk menentukan sampel. Jumlah sampel sebanyak 50 responden dengan usia 18-27 tahun. Analisis data yang digunakan adalah korelasi kendall dengan bantuan SPSS 17.Hasil uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa variabel terpaan iklan televisi Yamaha YZF R25 tidak memiliki hubungan dengan citra merek. Selanjutnya, hasil uji hipotesis kedua menunjukkan bahwa variabel citra merek memiliki hubungan yang signifikan dengan minat beli, dimana nilai signifikasinsinya 0,018 dan nilai koefisien korelasi kendall sebesar 0,273. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang lemah antara citra merek dengan minat beli.Saran yang dapat diberikan adalah seharusnya YIMM sebagai produsen Yamaha di Indonesia memilih konsep yang lebih sederhana dalam membuat alur cerita iklan. Sehingga iklan mudah dimengerti oleh konsumen. Dan YIMM harus lebih bekerja keras lagi dalam mempertahankan citra merek yang sudah terbangun.
PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP KONSTRUKSI VAGINA DALAM IKLAN PRODUK FEMININE HYGIENE RESIK V Naomi Putri Bahari Simeon; Hapsari Dwiningtyas S.
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.487 KB)

Abstract

This research was conducted to find out how the diversity of audiences interpretation to the construction of the vagina in the feminine hygiene product Resik V advertisement. The paradigm used is a critical paradigm with Stuart Hall's reception analysis method. In addition, in this research also uses structuralist semiotics analysis proposed by Roland Barthes through denotative and connotative meanings. Then, the main theory used is symbolic violence theory of Pierre Bordieu. This theory is to reveal symbolic violence to women in advertising. The results obtained that the informants in this research is able to give intrepetation towards vagina construction, but the meaning of the informants dominated by the ad ideology. The result of the interpretation of informant shows that there is diversity of meaningful position of audience that is dominant reading, negotiated reading, and opposisitional reading. This shows that the informants in this study are active audiences because they have the freedom to interpret messages in advertisements according to their own backgrounds. Media as the creator of the message can not govern what the audience thinks. The interpretation of the informants on vaginal construction in this research is influenced by various background factors such as gender, age, personal experience, and social environment. This research is not only to the limits of the informants interpretation only. It is precisely from the results of the interpretation of informants found that male informants tend to be more active in giving interpret to the construction of the vagina. Men know more about vaginal myths than women, because men often make the vagina an interesting topic of conversation. Meanwhile, women tend not to know their own vagina because in the research of women informants either married or single still tend to have the same meaning as the advertising dominant message. It shows that women do not realize that they are deceived by vaginal myths that are still in question. The powerlessness of women against the vaginal myths suggests that symbolic violence is not recognized by audiences.
Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yang Disampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter Banun Diyah Ardani; Tandiyo Pradekso; Muhammad Bayu widagdo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterMemahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yang Disampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBanun Diyah ArdaniUniversitas Diponegoro Semarang2Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterMEMAHAMI PENGALAMAN FOLLOWER DALAM MENERIMA PESAN TWEET BERBAYAR YANG DISAMPAIKAN OLEH BUZZER DI MEDIA SOSIAL TWITTERBanun Diyah Ardani11Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Departemen Ilmu Komunikasi,Jl Prof. H. Soedarto, SH Tembalang Semarang Indonesiabanundiyah@gmail.comAbstraksiTweet berbayar merupakan sebuah fenomena yang muncul seiring dengan perkembangan media sosial Twitter. Twitter memiliki kerumunan massa dimana dilihat sebagai peluang bagi sebuah perusahaan produk untuk berpromosi di Twitter. Memanfaatkan Buzzer yang telah memiliki banyak follower, perusahaan produk menyewa jasa Buzzer untuk menyampaikan pesan promosi dengan menggunakan bahasa dan gaya berbicara khas Buzzer. Follower dapat mengidentifikasi pesan tweet berbayar walaupun dikemas bukan seperti pesan promosi yang bersifat hard-selling.Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman follower dari Buzzer dalam menerima pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer sehingga dapat menjadi rekomendasi bagi para brand company untuk mmilih Buzzer dan format komuniasi yang tepat agar kampanye produk yang dilakukan berhasil. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) dan menggunakan model komunikasi Maletzke sebagai rujukan kerangka berpikir.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi follower masuk di media sosial Twitter adalah untuk mendapatan informasi dan hiburan. Follower cenderung follow Buzzer dengan interest yang sama. Dalam menerima pesan tweet berbayar, follower melihat beberapa aspek yang melekat pada diri Buzzer sehingga pesan dapat diterima dengan baik oleh follower. aspek tersebut diantaranya adalah Image yang dilihat dari avatar dan bio, Reputasi yang dilihat dari karakter personal dan kompetensi profesional, Jaringan Pertemanan, Jaringan Buzzer, dan Interest. Follower melihat aspek tersebut sebagai kesatuan yang dimiliki oleh Buzzer dalam menyampaikan tweet berbayar. Dalam menyampaikan pesan tweet berbayar, Buzzer dituntut untuk menulis tweet yang padat, jelas, menarik. Follower juga melakukan pengawasan terhadap pesan yang disampaikan oleh Buzzer sehingga apabila terdapat tweet yang tida patut maka follower langsung menegur.Kata Kunci: Buzzer, tweet berbayar, Twitter, Follower3Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterUNDERSTANDING FOLLOWER EXPERIENCE WHEN RECEIVING PAID TWEET WHICH IS DELIVERED BY BUZZER IN SOCIAL MEDIA TWITTERBanun Diyah Ardani11Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Departemen Ilmu Komunikasi,Jl Prof. H. Soedarto, SH Tembalang Semarang Indonesiabanundiyah@gmail.comAbstractPaid tweet is the rising phenomenon while the social media Twitter is rising up. Twitter has a mass crowd which is viewed by product company as an opportunity to promote the product in Twitter. Using Buzzer who has may followers, product company contract Buzzer to deliver promotion message using their own language and character. Follower can identify paid tweet although Buzzer deliver the message unlike hard-selling promotion message.This research was aimed to understand follower experience when receiving paid tweet from Buzzer so that brand company could use is as recommendation in order to choose Buzzer and how to communicate with follower to success product campaign. The type of research is descriptive-qualitative with phenomenological approach. The collection of data uses in-depth interview technique. Research is using Maletzke Communication Model as reference to frame the mind.The result showed that the follower motivation while entering Twitter is to get information and entertainment. Follower tend to follow Buzzer who has same interest. While receiving paid tweet, follower observe some aspects from Buzzer. The aspects are Image which is viewed by follower from avatar and bio, Reputation which is viewed from personal character and professional competence, Friend Network, Buzzer Network, and Interest. Follower observe those aspects as the whole package from Buzzer when deliver paid tweet. Buzzer has to deliver clearly interesting paid tweet less than 140 character. Follower watch the message which delivered by Buzzer so if there is inappropriate message, Follower will warn Buzzer.Key words: Buzzer, paid tweet, Twitter, Follower4Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterDAFTAR ISICover Dalam 1Abstrak Versi Bahasa Indonesia 2Abstrak Versi Bahasa Inggris 3Daftar Isi 4BAB IPENDAHULUAN 51.1 Latar Belakang 51.2 Permasalahan 71.3 Tujuan Penelitian 81.4 Signifikansi Penelitian 8BAB II 9KERANGKA TEORITIS 9BAB III 11 METODE PENELITIAN3.1 Metode Penelitian 113.2 Paradigma Penelitian 113.3 Sifat Penelitian 113.4 Informan dan Lokasi Penelitian 123.5 Metode Pengumpulan Data 123.6 Metode Analisis Data 12BAB IV 14HASIL PENELITIANBAB V 17PENUTUPDAFTAR PUSTAKA 185Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang PenelitianTwitter merupakan situs jejaring sosial yang telah mengalami pertambahan fungsi, tidak hanya sebagai situs jejaring biasa, tetapi juga merupakan media komunikasi pemasaran online. Bahkan, karakteristik yang dimiliki Twitter memungkinkan terjadinya pola komunikasi Online Word of Mouth atau oleh sebagian kalangan dikenal sebagai buzzing. Banyak perusahaan yang ingin produknya menjadi topik pembicaraan di Twitter. Mereka berusaha mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan perilaku mengkonsumsi media dari konsumen.Dalam komunikasi buzzing individu yang melakukan aktivitas buzzing disebut dengan Buzzer. Buzzer dalam arti yang umum dijelaskan sebagai alat atau suatu benda yang menghasilkan suara yang bisisng sehingga menarik perhatian. Dalam dunia Twitter pengertian Buzzer tidak persis seperti penjelasan tersebut. Buzzer di Twitter adalah seseorang yang memiliki akun di media sosial Twitter yang memiliki pengaruh besar, pengikut (follower) fanatik, kicauan (tweet) sering dikucaukan ulang (retweet) oleh follower, memiliki jumlah follower yang banyak dan mampu berinteraksi dengan mereka. (“Tertarik Menjadi Buzzer di Twitter”, oleh Rahadian P. Paramita, ditulis pada 4 Februari 2012, dalam http://salingsilang.com/baca/tertarik-menjadi-Buzzer-di-Twitter).Twitter tidak hanya digunakan sebagai media komunikasi antar penggunanya untuk memberi tahu aktivitas yang sedang mereka kerjakan, namun juga para pengguna mulai menggunakannya untuk aktivitas promosi (Majalah Digital Business, volume 02/2009 halaman 46). Brand Company menggunakan Twitter untuk aktivitas promosi. Melalui Buzzer, brand company menyampaikan tweet yang berkaitan dengan pesan promosi produk. Tweet dari Buzzer memiliki kecendurungan untuk disebarluaskan kembali oleh follower melalui fitur Reply dan Retweet sehingga pesan tweet berbayar memiliki potensi viral marketing sehingga banyak orang yang mengetahui dan membaca tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer.6Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter1.2 Permasalahan PenelitianFenomena tweet berbayar merupakan fenomena yang unik karena tidak terjadi di media sosial lain. Twitter memiliki media usage yang berbeda dengan media sosial lain dimana Twitter merupakan media sosial yang bersifat cepat, praktis, dan selalu up-to-date sehingga memunginkan pengguna untuk mendapatkan informasi terbaru. Selain itu, Twitter adalah media personal dimana Buzzer tidak hanya bisa menyampaikan tweet yang bersifat pribadi namun juga tweet tentang suatu produk yang dikemas secara personal dan sesuai dengan karakter dan gaya berbicara. Berangkat dari keunikan (uniqueness) fenomena tweet berbayar di media sosial Twitter, penelitian ini cukup signifikan untuk diteliti yakni memahami bagaimana pengalaman yang dialami oleh follower dalam menerima pesan tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer dalam media sosial Twitter untuk digunakan sebagai rekomendasi bagi brand company dalam memilih Buzzer dalam program kampanye produk sehingga tujuan komunikasi brand company terhadap follower tepat sasaran.1.3 Tujuan PenelitianTujuan penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman follower (komunikan) dalam menerima pesan tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer di media sosial Twitter sehingga dapat menjadi rekomendasi bagi brand company dalam memilih dan menempatkan posisi Buzzer dalam kampanye produk agar tujuan komunikasi tepat sasaran.1.4 Signifikansi PenelitianPenelitian ini secara teoritis diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi penelitian ilmu komunikasi khususnya dalam mengadopsi pemikiran teoritis Model Komunikasi Maletzke dalam konteks komunikasi buzzing di media sosial Twitter dimana akan dilihat sebagai Bangunan Teoritik baru dalam proses komunikasi buzzing sehingga dapat menjadi referensi bagi Brand company dan Advertising/Digital Agency dalam memahami pengalaman follower dalam memahami tweet berbayar.BAB IIKERANGKA TEORI2.1 Model Komunikasi MaletzkeDalam penelitian yang bertujuan memahami pemaknaan follower terhadap tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer dalam media sosial Twitter akan menggunakan model komunikasi Maletzke dimana pengalaman seseorang dalam memahami tweet berbayar tentu berbeda-beda. Terdapat banyak model komunikasi yang ada menjelaskan fenomena proses komunikasi. Model komunikasi Maletzke ini7Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitterdikemukakan oleh seorang peneliti dari Jerman, Maletzke (1963) yang menyampaikan perspektif dengan menggunakan skema “Schema des Feldes der Massenkommunikation”. Secara metodologis, model komunikasi ini merupakan proses yang kompleks dalam area sosial-psikologis dimana memiliki multi-eksplanasi. Maletzke membuat model berdasarkan elemen tradisional dasar yakni yang meliputi komunikator, pesan, medium, dan komunikan. Diantara medium dan komunikan terdapat dua komponen yakni tekanan (pressure/constraint) dari medium dan citra komunikan (receiver’s image) terhadap medium (McQuails dan Windahl, 1993: 46). Gambar 1.6 Model Komunikasi MaletzkeSumber: McQuails dan Windahl, 1993: 52Dari gambar diatas, Maletzke memperlihatkan secara menyeluruh mengenai komunikasi massa sebagai sebuah proses yang secara psikologis dan sosiologis dengan kompleks sifatnya. Mengandung elemen-elemen tradisional dimana kita menemukan tanda yakni C (Communicator), M (Message), Medium, dan R (Response). Dalam masing-masing bagian tersebut terdapat hal-hal yang mempengaruhi (McQuails dan Windahl, 1993: 52).8Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB IIIMETODOLOGI3.1 Metode PenelitianPenelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan secara mendetail mengenai objek sehingga mendapatkan gambaran mengenai proses bagaimana follower selaku komunikan dalam model komunikasi Maletzke komunikasi memiliki image atau penilaian teorrsendiri terhadap Buzzer selaku komunikator3.2 Paradigma PenelitianPenelitian menggunakan paradigma interpretif menggunakan fenomenologi. Paradigma interpretif digunakan pada penelitian ini karena bertujuan untuk melihat fenomena dan menggali pengalaman follower dalam memahami tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer di media sosial Twitter.3.3 Sifat PenelitianPenelitian yang dilakukan ini bersifat interpretif. Penelitian interpretif mencoba menafsirkan isi pesan yang muncul dalam wawancara sehingga dapat mengungkap pola tentang gejala secara rinci dan pada sejumlah informasi. Data-data yang dikumpulkan bukan berupa penyajian angka melainkan kata sebagai sebuah penggambaran. Sehingga, sajian berupa kutiapan dan data-data untuk memberikan gambaran tentang laporan penelitian. Secara harfiah, metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian.3.4 Informan dan Lokasi PenelitianPenelitian dilakukan dengan beberapa informan dari latar belakang yang berbeda. Informan yang diambil peneliti adalah follower Buzzer yang memiliki akun Twitter serta secara aktif berpartisipasi dalam Twitter minimal selama satu tahun terakhir, dengan jumlah follower minimal 200, dan rata-rata jumlah tweet perhari minimal 10 tweet.3.5 Metode Pengumpulan Dataa. Data Primer dalam penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan pengguna Twitter yang merupakan follower dari Buzzer.b. Data sekunder riset ini adalah jurnal, artikel, internet, makalah, tulisan di blog, dan data pengguna internet.9Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter3.6 Metode Analisis DataMetode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data fenomenologi Stevick-Colaizzi-Keen (dalam Kuswarno, 2009: 70) yakni membuat deskripsi lengkap peristiwa atau fenomena yang dialami langsung oleh narasumber, menelaah setiap pernyataan verbal yang berhubungan dengan permasalahan penelitian, mengelompokkan setiap unit makna ke dalam tema-tema tertentu kemudian membuat deskripsi tekstural dan deskripsi structural, menggabungkan deskripsi tekstural dan struktural untukk menentukan makna dan esensi dari fenomena, membuat penjelasan menyeluruh dari setiap makna dan esensi fenomena yang didapat.BAB IVPEMBAHASAN HASIL PENELITIANBerdasarkan temuan penelitian di lapangan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa Brand Company menggunakan jasa Buzzer untuk menyampaikan tweet berbayar yang berisi pesan promosi produk perusahaan tersebut. Buzzer tidak hanya berasal dari kalangan selebritis atau orang terkenal namun juga orang biasa yang memiliki banyak follower. Follower tidak hanya melihat Buzzer melalui apa yang disampaikan namun juga beberapa faktor yang melekat pada diri Buzzer sehingga follower percaya terhadap apa yang disampaikan oleh Buzzer. Buzzer memiliki image, reputasi, jaringan pertemanan, jaringan buzzer, dan interest. Follower menilai bahwa Buzzer membangun image dengan baik melalui avatar dan Bio. Dengan menampilkan diri dengan menarik melalui avatar dan Bio membuat impresi Follower terhadap Buzzer baik. Reputasi merupakan faktor yang mempengaruhi bagaimana follower memahami Buzzer. Reputasi ini dibentuk oleh atribut personal yang terdiri dari karakter personal (sifat Buzzer dan karakter Buzzer) dan kompetensi professional (pekerjaan, keahlian dan prestasi). Karakter personal Buzzer dalam Twitter dipengaruhi oleh sifat diri dan lingkungan sosial dimana Buzzer berinteraksi. Sifat Buzzer seringkali dapat ditangkap oleh follower karena terlihat dalam menyampaikan pesan. Follower cenderung follow Buzzer yang memiliki interest di bidang yang sama. Alasan follower follow Buzzer adalah seringkali Buzzer tidak hanya menyampaikan tweet berbayar namun juga tweet yang berkaitan dengan keahlian dan pekerjaannya. Follower merasakan manfaat ketika Buzzer menyampaikan informasi yang bisa memperkaya pengetahuannya. Seringkali follower memberikan feedback yakni me-RT tweet Buzzer atau reply tweet Buzzer yang berisi informasi tambahan10Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitteratau pandapat dirinya mengenai topic tertentu. Prestasi Buzzer merupakan suatu penguat bagi follower bahwa ternyata telah follow orang yang tepat. Seperti layaknya follower Buzzer juga berinteraksi dengan jaringan pertemanannya. Follower terpaksa sering mengikuti percakapan Buzzer dan teman-temannya karena sering munculo di Twitter.Buzzer tidak bekerja sendiri dalam menyampaikan tweet berbayar, terdapat Buzzer lain yang menyampaikan tweet berbayar mengenai produk yang sama. Hal tersebut diidentifikasi follower dari penggunaan hashtag yang sama dalam tweet berbayar. Buzzer saling bekerjasama untuk meramaikan tweet berbayar di Twitter. Hal tersebut berhasil membuat follower penasaran dan lalu merasa ingin tahu terhadap apa diperbincangkan sehingga membuat follower kepo dan mencari informasi terkait.Dalam proses komunikasi dimana Buzzer menyampaikan tweet berbayar, Buzzer mengalami tekanan dari sisi pesan dan medium. Dari segi pesan Buzzer dituntut untuk membuat tweet berbayar yang menarik agar mencuri perhatian follower. Tidak hanya itu bahasa maupun penggunaan kata yang disampaikan Buzzer dalam tweet berbayar tidak lagi bisa seenaknya seperti menyampaikan tweet pribadi. Dari segi medium, Twitter memiliki karakteristik yang khas yang bisa menjadi kelebihan maupun kekurangan. Twitter hanya memiliki 140 karakter sehingga tekanan dari medium muncul ketika Buzzer harus menyampaikan pesan yang singat, jelas, padat sehingga tidak menimbulkan twit-longer. Twit-longer merupakan hal yang dihindari oleh Buzzer dimana follower akan malas membaca pesan yang terpotong dan harus membuka sebuah tautan link. Follower juga melakukan pengawasan terhadap pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer, apabila berisi konten yang tidak etis maka follower langsung memberikan feedback (RT/Reply).Adanya fenomena tweet berbayar membuat brand company untuk menyusun strategi komunikasi melalui Buzzer. Penerimaan pesan yang dilakukan oleh follower akan menjadi aspek pertimbangan brand company dalam menyusun pesan dan memiliki Buzzer sehingga kampanye produk yang dilakukan berhasil.11Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB VPENUTUPKesimpulanBerdasarkan pembahasan hasil penelitian, maka Model Komunikasi Maletzke masih relevan untuk diadopsi sehingga bisa menjelaskan bagaimana memahami follower dalam menerima pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer. Model Komunikasi Maletzke merupakan model komunikasi lama yang masih mampu relevan dengan era sekarang dimana asumsinya adalah orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan akan informasi. Social media Twitter justru malah semakin mempermudah siapapun untuk menyampaikan pesan promosi.DAFTAR PUSTAKABoone, L.E., & Kurtz. D.L. (1999). Contemporary Marketing. Florida:Harcourt Brace and CompanyDenzin, Norman K. & Yvonne S. Lincoln. (2005). The Sage Handbook of QualitativeHawkins, Delbert. (2007). Consumer Behavior: Building Marketing Strategy. New York: McGraw-HillKartajaya, Hermawan. (1996). Marketing Plus 3: Serial Marketing Populer. Jakarta: Sinar harapanKartajaya, Hermawan. (2002). Marketing in Venus. Jakarta: Gramedia Pustaka UtamaKotler, Philip. (2000). Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control. New Jersey: Prentice HallKotler, Philip. (1971). Marketing Decision Making, A Model, Building Approach . New York: Richart and Winston, IncLincoln, Yvonna S dan Egon G. Guba. (1989). Naturalistic Inquiry: 1stMc Quails, Daniel and Sven Windahl. (1993). Communication Models. New York: Longman Publishing
Effect of Intensity Reading News About the Economic Policy Jokowi in Viva.co.id and Image Jokowi to Public Trust Level Jokowi Regarding performance in the Economy Ahmad Khairul Nuzuli
Interaksi Online Vol 4, No 2: April 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.553 KB)

Abstract

As an online media mass media also performs the function of social control, as mandated by Law No. 40 of 1999 on the Press. Social control is realized through reporting on the performance of the government portraits. Jokowi as a government figure who holds the office of President of the Republic of Indonesia, can not be separated from the media spotlight, including Viva.co.id one jokowi economic policy. Intensity of the public to read the news about economic policy Jokowi potentially affect their trust level regarding the performance Jokowi in economics. In addition jokowi image can also affect the level of public confidence. This study aims to determine determine the effect intensity of reading news about economic policy in Viva.co.id and Image Jokowi to Public Trust Level Jokowi Regarding performance in the Economy . The rationale used is the Cognitive Effects of Mass Media Theory and Expectancy Value Theory. This type of research is explanatory research. This study using the technique of Non-probability sampling with accidental sampling method to determine the sample. The total sample of 50 respondents who met the criteria Viva.co.id readers aged over 17 years in the city of Semarang. Analysis of the data used is simplistic linear regression SPSS. The first hypothesis test results show that the variable intensity of reading news about economic policy Jokowi in Viva.co.id (X1) does not affect the level of public trust the performance of Jokowi in the economy (Y) and showed no significant results, with the result Sig / significance worth 0257 or probability greater than 0.05. The second hypothesis test showed Jokowi image variables (X2) and highly significant positive effect on the level of public trust in the performance of Jokowi in the economy (Y) with the Sig / significance worth 0.000 or probability of less than 0.05 and contributions effect as much as 64%. this indicates a relatively high contribution. Advice can be given is the President Jokowi must be to maintain and enhance the good image to the public. People who have had positive experiences with the performance of Jokowi will generate a positive perception and image also against Jokowi.
Pengaruh Citra Merek dengan Ekuitas Merek Terhadap Keputusan Pembelian Teh Botol Sosro di Kota Semarang Burhanudin Fakhri Kusuma; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 7, No 2: April 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.076 KB)

Abstract

This research is based on the decline in sales and the Top Brand Index of Botol Sosro Tea in Semarang City, this condition is not in line with the increase in tea production and consumption in Indonesia which is continuously increasing. This study aims to find out about Brand Image with Brand Equity on Purchasing Decisions using the Nicosia model and to study brand image influencing purchasing decisions with the theory of reasoned action located in Semarang City. This study uses a survey with explanatory types with a sample of 80 people and taken by non probability sampling techniques. Data analysis using simple regression analysis. The image of the Teh Botol Sosro brand is categorized into four groups, namely: very bad, bad, good and very good at looking at the image of the Teh Botol Sosro brand. Having a discovery about the brand image of Teh Botol Sosro has a very good image. The Teh Botol Sosro brand equity formed from four dimensions namely, brand awareness, brand association, perceived quality, and brand loyalty are categorized into four categories, namely: very low, low, high, very high in relation to the mastery of the Teh Botol Sosro trademark. The result is that the ownership of the Teh Botol Sosro brand is very high. The decision to purchase Teh Botol Sosro is categorized into four categories from the results of the scores obtained from respondents, namely: very low, low, high, and very high in purchasing purchases of Teh Botol Sosro. Asking for the results of the decision to buy Teh Botol Sosro comes in the high category. The results of the study show. What is significant between brand image and brand equity. Successfully improving the image of the Teh Botol Sosro brand will increase the brand equity of Teh Botol Sosro. In the second hypothesis shows a significant effect between brand equity on purchasing decisions. Every successful purchase of the Teh Botol Sosro brand equity will increase the purchasing decision. The hypothesis of the two shows is significant between brand image and purchasing decision. Successfully every shot of the Teh Botol Sosro brand will increase purchasing decisions. So it is fitting for Teh Botol Sosro marketers to focus on increasing brand equity first through brand image and then influencing purchasing decisions. In further research, it is expected to examine other factors that can influence the purchasing decision of Teh Botol Sosro.
Produksi Program Acara Berita Feature “Harmoni Islam” di Cakra Semarang TV sebagai Juru Kamera Nanda Dwitiya Swastha; M Bayu Widagdo; Hedi Pudjo Santosa; I Nyoman Winata; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.764 KB)

Abstract

Televisi merupakan salah satu media massa yang memiliki fungsi penting sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial sebagaimana tercantum di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Keunggulan berupa sifat audio-visual menjadikan televisi masih menjadi media massa yang digemari oleh sebagian besar masyarakat hingga kini. Oleh sebab itu, para stasiun televisi dituntut kreatif dalam menciptakan program acara yang mampu menarik minat masyarakat untuk menontonnya.Pada momen Ramadhan, stasiun televisi nasional maupun lokal berupaya menciptakan program acara bertemakan “bulan suci” tersebut. Sayangnya, tidak seluruh program acara bertemakan Ramadhan memiliki konten yang edukatif. Beberapa program acara Ramadhan justru hanya menonjolkan komedi yang terkadang mengandung unsur kekerasan, baik secara verbal maupun non verbal, dengan tujuan memperoleh rating dan share yang tinggi.Upaya untuk menampilkan program acara Ramadhan yang edukatif dan menarik menjadi alasan utama kami untuk menciptakan program Harmoni Islam. Pada dasarnya, program Harmoni Islam merupakan salah satu produk jurnalistik berbasis feature yang mengulas informasi seputar Islam untuk mengisi momen Ramadhan dan ditampilkan secara santai, mudah dipahami, dan didukung visual yang menarik. Target audience menyasar masyarakat yang berada pada usia produktif dengan karakter aktif, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, dan mampu memahami ajaran Islam yang disampaikan melalui pesan audio-visual.Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, program Harmoni Islam ditayangkan di Cakra Semarang TV setiap hari selama bulan Ramadhan mulai tanggal 28 Juni 2014 sampai 27 Juli 2014 pukul 17.00 WIB. Melalui program acara televisi ini diharapkan masyarakat memperoleh tayangan yang edukatif, sehingga mampu meningkatkan wawasan dan amalan ibadah di bulan Ramadhan.Kata Kunci: televisi, program acara, Ramadhan, Islam
SYMBOLIC VIOLENCE TOWARDS WOMAN IN CATATAN HATI SEORANG ISTRI Ardheo Prayitno; Dr. Sunarto
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.237 KB)

Abstract

Television is a stuff to fulfill entertain and information needs. One of television product called soap opera, but this soap opera often showing restricted show. This soap opera broadcast on prime time, because of violence broadcast in soap opera, this got warning from Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) as Indonesian Broadcast Commission. One of their warning is violences in television broadcast. The purpose of this essay is to find violences toward woman in Catatan Hati Seorang Istri and to uncover hidden ideologies in this soap opera. This essay use descriptive qualitative approach with Roland Barthes semiotics analysis by syntagmatic and paradigmatic. In paradigmatic analysis use 5 codes theory from Roland Barthes. There are 8 lexist in this essay, based on those lexist can use to determine the purpose of this essay to determine how this soap opera showed violences toward woman from syntagmatic analysis which form this soap opera (camera, setting, make-up, dialog, and lighting). Based on those 8 lexists, there are violences towards woman in this soap opera, that violences contain verbal, non-verbal, and physical violences. These violences happened because of patriarchy ideology which being main ideology from plot of Catatan Hati Seorang Istri soap opera.
PR Campaign Klub Sepatu Roda di Bawah Porserosi Semarang Melalui Rangkaian event “Juara Bersama Sepatu Roda”dan “Fun Skate on Car Free Day” (Project Officer) Rodra Ciptaning; Yanuar Luqman; Nurist Surraya ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.341 KB)

Abstract

Pendahuluan Olahraga merupakan suatu kegiatan positif yang penuh dengan manfaat bagi setiapinsan yang menjalankannya. Berbagai jenis cabang olahraga telah dikenal diIndonesia, bahkan diantaranya mampu membawa Indonesia dikenal di kancah dunia,sebut saja Bulu Tangkis, Angkat besi, Dayung dan masih banyak lagi. Disampingolahraga – olahraga tersebut, masih banyak cabang olahraga yang berpotensi untukmengukir prestasi, sebut saja sepatu roda.Akhir-akhir ini masyarakat kota Semarang memang sedang mengalami musimpermainan sepatu roda, dimana tiap sore hingga malam disepanjang jalan SimpangLima dipenuhi masyarakat pecinta sepatu roda yang memainkan atraksinya dan tidaksedikit pula para pemula yang belajar untuk mencoba permainan ini. Hal ini diikutidengan menjamurnya komunitas yang menyewakan sepatu roda di kawasan SimpangLima Semarang. Tidak sedikit pengunjung yang ikut meramaikan permainan sepaturoda ini, mulai dari anak-anak hingga remaja bahkan dewasa yang bermain sepaturoda tiap harinya.PORSEROSI (Persatuan Olah Raga Sepatu roda Seluruh Indonesia) kotaSemarang pun menyatakan bahwa selama ini, sosialisasi tentang olah raga sepatu rodamemang masih kurang. Sosialisasi klub – klub sepatu roda di bawah naunganPORSEROSI kota Semarang untuk menjaring anggotanya juga sangat kurang.Sampai saat ini terdapat 3 (tiga) klub sepatu roda di kota Semarang, diantaranyaEagle, Ikos, Kairos. Klub-klub tersebut siap memberi pelatihan dan mengajarkanteknik – teknik olahraga sepatu roda, baik untuk anak – anak maupun dewasa.Karenanya PORSEROSI kota Semarang akan menyasar pada tingkat anak-anak,dengan jenjang usia 7 – 12 tahun, dengan maksud dapat mendapatkan anak-anak yangberbakat sejak dini.Segmen pesepatu roda dini atau anak-anak, dipilih berdasarkan beberapafaktor, diantaranya anak-anak adalah fase yang berpeluang untuk dijejali motivasi dangambaran-gambaran, yang akan mampu mendorong dan menjadi pedoman merekauntuk menggali dan menentukan bakatnya sejak dini. Kedua, anak – anak tersebutmasih memiliki pemikiran yang terbatas sehingga hal ini merupakan peluang untukmengedukasi mereka dan dapat menghasilkan anak-anak berbakat yang akan menjadiatlet sebagai upaya regenerasi Sepatu roda Jawa Tengah khususnya Kota Semarang.Dapat dilihat antara fenomena yang terjadi sekarang ini, bahwa sepatu rodayang sedang digandrungi disemua kalangan. Namun, hal ini tidak diimbangi denganpengetahuan masyarakat akan keberadaan klub-klub sepatu roda di kota Semarang.Masih banyak masyarakat yang belum mengetahui klub-klub sepatu roda, sehinggabanyak diantara mereka yang tidak berminat untuk bergabung ke klub-klub sepaturoda. Sebagian dari masyarakat kota Semarang yang gemar bersepatu roda, hanyamelakukan olah raga ini untuk mengisi waktu luang dan mengikuti trend terkini.Selain sosialisasi klub yang sangat kurang, faktor area atau lapangan untukberlatih juga minim sehingga jumlah anggota klub-klub yang terbentuk juga tidaklahbanyak, hanya sekitar 50 – 70 anggota di tiap klub-nya. Dengan berkembangnyapermainan sepatu roda di kota Semarang, PORSEROSI bermaksud untuk mengajakanak-anak yang tertarik Sepatu roda untuk turut serta bergabung dengan klub-klubSepatu roda dengan tujuan agar mereka mendapat pengarahan, pengetahuan sertateknik-teknik Sepatu roda. Di samping itu, dengan tergabungnya mereka ke dalamklub sepatu roda juga dapat menjaring bibit-bibit unggul sebagai upaya regenerasiatlet Sepatu roda yang masih lambat.B. Batang TubuhKarya bidang ini disusun dengan menggunakan pendekatan persuasif serta penerapanteori- teori kampanye PR untuk mendukung keberhasilan tujuan komunikasinya.Melalui penyelenggaraan serangkaian event yang meliputi roadshow “Juara BersamaSepatu Roda” dan “Fun Skate on Car Free Day” cara ini dinilai efektif untukmeningkatkan awareness masyarakat akan klub sepatu roda. Roadshowdiselenggarakan di enam sekolah dasar di kota Semarang dengan materi acarameliputi perkenalan olah raga sepatu roda, perkenalan klub beserta atletnya sertamengadakan coaching clinic teknik dasar bermain sepatu roda. Acara puncak “FunSkate on Car Free Day” diselenggarakan di area Car Free Day jalan Pahlawan denganmenampilkan atraksi masing- masing klub sepatu roda. Masyarakat yang inginbergabung dalam klub pun dapat mendaftar secara langsung di stan masing-masingklub yang diinginkan.Keberhasilan dalam mencapai tujuan komunikasi dapat diketahui berdasarkanriset pasca event. Setelah event berlangsung, awareness audiens meningkat sebanyak23,37% dari yang semula 48,3% menjadi 71,67%. Sedangkan minat untuk bergabungke dalam klub sepatu roda juga meningkat sebesar28,67%. Dengan demikian,rangkaian event PR campaign ini efektif untuk mencapai tujuan komunikasi awal.Berikut merupakan parameter keberhasilan event ini :Tabel Parameter keberhasilan eventParameter KeteranganCommunication Objective Dari riset penyelenggara pasca event yang dilakukan melalui 60responden yang mengetahui Klub sepatu roda kota Semarang,sebanyak 43, yang berminat gabung ke dalam klub sebanyak 41responden dan yang mengetahui event “Fun Skate on CFD”sebanyak 53 responden. Data per klub menunjukkan jumlahkenaikan anggota setelah acara terselenggara. (Ikos mengalamikenaikan anggota sebanyak 18 anak, Kairos 21 anak dan Eagle 14anak)Konsep Acara Dari 34 responden yang mengikuti acara “Fun Skate on Car FreeDay”, sebanyak 23 responden menyatakan bahwa acara tersebut“sangat menarik”, sisanya menyatakan “menarik”.Target Audience Total peserta coaching clinic “Juara Bersama Sepatu Roda” dan‘Fun Skate on CFD” secara akumulatif mencapai 550 peserta daritarget minimal 200 peserta.Rundown dan Timeline a. Tidak terjadi pembatalan event. Event “Fun Skate on CFD”tetap dilaksanakan pada hari H, yaitu Minggu, 28 Oktober 2012sesuai dengan kesepakatan.b. Acara “Fun Skate on CFD” berjalan sesuai dengan rundown,meskipun terjadi delay selama 15 menit dan overtime selama 20menit, namun tetap masih dalam batas toleransi awal yaitumaksimal delay adalah selama 59 menit.Budgeting a. Tidak terjadi adanya pembengkakan budget selamaperencanaan hingga pelaksanaan eventb. Semua anggaran pelaksanaan acara” diperoleh dari kegiatansponsorshipc. Kegiatan “Fun Skate on CFD” mendapatkan surplus sebesarRp. 2.250.000,- dari sponsorshipSponsorship a. Kegiatan “Fun Skate on Car Free Day” berhasilmendapatkan pendanaan secara penuh dari pihak sponsor, yaituPT KAI, Suara Merdeka group dan sponsor lainnyab. Kegiatan ini juga didukung oleh sponsor (dalam bentukproduk), yaitu Telkomsel, Aquaria, Horison,CocacolaPermit and Venue Kegiatan “Fun Skate on CFD” berhasil mendapatkan izin venue dienam sekolah dasar dan area Car Free Day jalan pahlawan padawaktu yang telah ditentukan tanpa mengeluarkan biaya.C. PenutupKarya bidang ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspekakademis dan praktis. Implikasi akademis karya bidang ini berupa kontribusi untukmemperkaya pengetahuan akan penerapan strategy persuasive dan penerapan teori PRcampaign dalam pencapain tujuan komunikasi. Sementara itu, implikasi praktismemberikan pengetahuan dan pengalaman untuk membuat kegiatan promosi yangefektif sesuai dengan target audiens serta tujuan komunikasinya.D. Daftar PustakaWebsitehttp://ponriau2012.com/index.php?option=com_content&view=article&id=200&Itemid=149 diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul 21.45WIBhttp://www.satlakprima.com/news/sepatu-roda-berpeluang-ukir-medali/) diakse padatanggal 30 Mei 2012 pukul 22.10 WIB(http://sports.okezone.com/read/2012/04/02/43/603974/sepatu-roda-jabar-gemilangdi-selandia-baru) diakses pada tanggal 30 Mei 2012 pukul22.17 WIBhttp://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/16/69 Diakses pada tanggal 2 juni 2012pukul 23.10 WIBBukuBelch E.George and Belch A. Michael,2001, Introduction to Advertasing andPromotions an Interegated Marketing Communications Perspective, New Yor; :Mc Graw HillDeVito,Joseph.1997.Komunikasi Antar Manusia. Jakarta : Professional BookEffendy, Onong Uchjana. 2002, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.Remaja Rosda KaryaLarson,Charles U.2009.Persuasion: Reception andResponsibility.California:Wadsworth Publishing CompanyLerbinger,Otto.2003.Design for Persuasive Communication. Yogyakarta;PustakaPelajarLittlejohn, Stephen W.2009.Teori Komunikasi ( Theories of Human Communication).Jakarta: Salemba HumanikaSissors, Jack Z. and Bumba, Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5thed.). USA: Ntc Business BookSumber lainData Statistik kota Semarang tahun 2009Data keanggotaan klub Porserosi kota Semarang 2012

Page 37 of 157 | Total Record : 1563