cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Interaksi Online
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Interaksi Online adalah jurnal yang memuat karya ilmiah mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP Undip. Interaksi Online menerima artikel-artikel yang berfokus pada topik yang ada dalam ranah kajian Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial
Arjuna Subject : -
Articles 1,563 Documents
Pengaruh Terpaan Iklan Frestea di Televisi dan Terpaan Komunikasi Word of Mouth terhadap Keputusan Pembelian Produk Frestea Eris Ariesda, Teo; Luqman, yanuar
Interaksi Online Vol 8, No 1: Januari 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.748 KB)

Abstract

The purpose of this study was to understand the effects of Frestea advertising exposure on television and word of mouth communication exposure towards purchase decisions of Frestea products. Theory that was used in this research are Advertising Exposure Theory and Buyer Information Environment Theory. Sampling techniques that being used is non-probability sampling with 60 total samples, man or woman domiciled in Semarang Cit, aged 17 – 30 years, had seen Frestea advertisement on television, and had interact through word of mouth about Frestea products. The analysis data used is simple linear regression. The results of the study indicates that advertising exposure and word of mouth communication exposure had a very significance effects to purchase decisions of Frestea products.
Pengelolaan Bisnis Cakra Semarang TV (Studi Kasus: Kerugian Finansial Televisi Lokal Cakra Semarang TV) Arnida Desti Artanti; Dr Sunarto; Hapsari Dwiningtyas; Much. Yulianto
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.478 KB)

Abstract

Lahirnya undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran menjadi pemicu munculnya televisi lokal di berbagai di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah. Televisi lokal dapat menjual hal-hal yang tidak disuguhkan oleh televisi nasional, seperti kearifan lokal, dan konten-konten bertema kedaerahan yang menggambarkan karakter masyarakat setempat. Di Semarang khususnya, terdapat beberapa stasiun televisi lokal yang mengudara. Akan tetapi, pada kenyataannya saat ini sebagian besar televisi lokal di Semarang telah diakuisisi oleh media nasional, sehingga kontennya sudah tidak murni lagi, karena harus merelai program dari televisi induk. Sepinya pasar iklan yang menyebabkan kerugian finansiaal, menjadi penyebab stasiun televisi lokal merelakan untuk diakuisisi oleh media nasional.Cakra Semarang TV merupakan satu-satunya televisi yang murni lokal di Semarang yang tidak diakuisisi oleh media maupun televisi nasional. Meski tergabung dalam kelompok media Balipost (KMB), namun tidak terdapat perjanjian yang mengikat bagi Cakra Semarang TV untuk merelai program dari televisi induk, yaitu Bali TV. Sebagai televisi yang murni lokal di Semarang, Cakra Semarang TV juga mengalami kerugian financial yang serupa, namun tetap konsisten bertahan sebagai televisi yang murni lokal dan tidak diakuisisi oleh media nasional. Berbagai macam cara pun dilakukan oleh cara semarang TV untuk menutupi kerugian financial yang masih terjadi, antara lain melakukan pinjaman ke bank dan ke pemilik modal. Penelitian ini menguraikan pengelolaan bisnis di Cakra Semrang tv di tengah-tengah kerugian financial yang terjadi. Hasilnya menunjukkan bahwa saat ini Cakra Semarang TV tidak mengandalkan iklan sebagai pemasukan utama, padahal salah satu sumber pemasukan utama dari media adalah dari iklan. Cakra Semarang TV kini mengandalkan penjualan program dan kerjasama dengan berbagai pihak untuk pembuatan program sebagai sumber ladang bisnis.
SELF DISCLOSURE PADA MEDIA SOSIAL YOUTUBE DALAM BENTUK VIDEO BLOG Alifah Erti Puspaningrum; S. Rouli Manalu
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.974 KB)

Abstract

Semakin canggihnya teknologi membuat manusia yang dulunya melakukan self disclosure atau pengungkapan diri dengan cara bertatap muka secara langsung (face-to-face), kini dapat dilakukan dengan menggunakan media sosial YouTube salah satunya dengan konten Video Blog (VLOG). Vlog menjadi salah satu trend yang banyak diikuti oleh masyarakat Indonesia, bahkan Presiden Joko Widodo pun juga membuat vlog. Penelitian ini fokus pada penggunaan metode campuran (mix methods) dengan metode kualitatif sebagai metode utama, dan metode kuantitatif sebagai metode pelengkap. Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Manajemen Privasi Komunikasi atau sering disebut CPM (Communication Privacy Management). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan analisis isi kuantitatif, dan indepth interview. Penelitian dilakukan kepada lima orang vlogger dan lima video blog. Hasil penelitian menemukan bahwa pada saat seseorang melakukan self disclosure, ada 7 hal yang ditemukan oleh peneliti diantaranya : (1) tema self disclosure, (2) sifat self disclosure, (3) identitas diri, (4) fokus self disclosure, (5) aspek privasi, (6) tone emosional, (7) tempat keterbukaan. Dari ketujuh hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa self disclosure yang dilakukan oleh vlogger membahas mengenai percintaan, pekerjaan dan pendidikan. Selain konteks dari self disclosure itu sendiri, peneliti juga menemukan motivasi dari diri vlogger untuk melakukan pengungkapan diri yakni : (1) Tempat pelarian karena pengalaman buruk, (2) Tempat sharing, (3) Media penjernihan diri, (4) Mencari dukungan emosional, (5) Media dokumentasi. Respon atau tanggapan orang lain terhadap pengungkapan diri vlogger berupa respon negatif dan positif, Namun vlogger menceritakan bahwa ia lebih banyak mendapatkan respon positif daripada respon negatif pada saat melakukan pengungkapan diri melalui media sosial.
Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab (Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi) Aini, Qury; Rahardjo, Turnomo; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.633 KB)

Abstract

Nama : Qury AiniNIM : D2C009124Judul : Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)ABSTRAKPerkembangan tren fashion busana muslim yang semakin melesat di Indonesia menjadi pusat perhatian masyarakat hingga ke mancanegara. Hal itulah yang akhirnya membuat banyak wanita muslimah berani menggunakan hijab dan banyak bermunculan komunitas hijabers (pengguna hijab modern), dengan menampilkan konstruksi wanita berhijab yang dulunya tradisional menjadi modern. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui fashion blog Dian Pelangi, dan memahami penerimaan pembaca fashion blog Dian Pelangi terhadap pergeseran makna penggunaan hijab. Teori yang digunakan Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) serta Masyarakat Pascamodern dan Budaya Konsumsi (Jean Baudrillard dalam Yasraf Amir, 1998). Tipe penelitian ini analisis resepsi Stuart Hall. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepada enam informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni pembaca blog wanita yang aktif atau pernah aktif membaca blog Dian Pelangi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca fashion blog Dian Pelangi dapat melihat pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan Dian Pelangi melalui blognya tersebut. Pergeseran makna penggunaan hijab yang diuraikan yakni, busana muslim yang dikenakan menjadi sangat fashionable, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high classdalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan sebagai sekelompok orang dengan status sosial menengah ke atas. Banyaknya variasi model busana muslim yang membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Kemudian penerimaan pembaca terhadap pergeseran makna penggunaan hijab sendiri dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman demi menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang fashionable. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca menerima kegunaan hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mencerminkan identitas dan status sosial kelas sebagai sekelompok orang sosialita sesuai dengan tren fashion yang sedang berkembang.Kata kunci : Penerimaan pembaca, hijabers, fashionableName : Qury AiniNIM : D2C009124Title : Understanding The Readers Acceptance of Hijabers (Modern Veil Users) Fashion Blogto Shift The Meaning of The Veil Use(Reception Analysis to Dian PelangiBlog)ABSTRACTThe growth of Moslem fashion trend are increasingly darted in Indonesia to be the center of attention tillforeign country. That is what ultimately makes a lot of Moslem women use the veil bravely and many communities called hijabers (modern veil users) are springing up, with construction the women features which used traditional veil became modern. The purpose of this research is to find out the shifting meanings of the veil use and understand the readers acceptance on it that are constructed on Dian Pelangi fashion blog. Theories used are Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) also Pascamodern Community and Consumption Cultural (Jean Baudrillard in Yasraf Amir, 1998). This type of research is Stuart Hall reception analysis. Data collection technique is done by using indepth interview with six informants who were selected by the researcher, they are active women readers or have actively read Dian Pelangi blog.The results of this study showed that Dian Pelangi fashion blog readers saw a shift meaning of the veil use which constructed in Dian Pelangi blog. Those are veil worn to be very fashionable, fashion attributes such as branded goods imposed DianPelangi, and the veil models with high class fashion sense in her blog shows that veil user now reflect the veil as a group of people with status middle to upper social. The great variation in Moslem fashion model who made her appearance is no longer boring, veil is also made welcome in all aspects of the environment. This shift is due to the development of the fashion trends are always spinning all the time. Then acceptance of the shifting meanings readers use their own veil can be seen from the appearance of veil that they use, where they must keep abreast of the times in order to support confidence in the association. Thus making them have to use a fashionable veil. Occasionally they also recognize if it ever look like Dian Pelangi. This study shows that the readers accept use of the veil as a lifestyle of the socialite class social status and identity in accordance with emerging fashion trends.Keywords : Readers acceptance, hijabers, fashionable.Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)SkripsiPENDAHULUANBerbusana merupakan hal yang tidak akan pernah lepas dari perhatian setiap individu, karena hal ini bisa menjadi penilaian tersendiri dari orang lain terhadap karakter masing-masing individu tersebut. Biasanya orang akan memilih busana yang sedang populer pada jangka waktu tertentu, hal tersebut biasanya kita kenal dengan istilah fashion. Fashion membuat setiap individu dapat mengekspresikan apa yang sedang dirasakan melalui pilihan warna yang digunakan, corak ataupun model yang digunakan, karena fashion dipandang memiliki suatu fungsi komunikatif. Busana, pakaian, kostum, dan dandanan adalah bentuk komunikasi artifaktual (artifactual communication) yaitu komunikasi yang berlangsung melalui pakaian dan penataan berbagai artefak, misalnya pakaian, dandanan, barang perhiasan, kancing baju, atau furnitur di rumah anda serta penataannya, ataupun dekorasi ruang. Karena fashion, pakaian atau busana menyampaikan pesan-pesan non verbal, ia termasuk komunikasi non verbal (Idi Subandy, 2007 : vii).Berbicara tentang fashion, akhir-akhir ini sedang maraknya fashion di kalangan muslimah. Busana muslim yang dulunya dianggap sebagai busana yang islami, menggambarkan kesan tradisional, monoton, ketinggalan zaman, kuno, dan sebagainya, berbeda cerita dengan sekarang yang sudah menjadi tren di masyarakat. Hal tersebut nampaknya semakin dikonstruksikan melalui munculnya hijabers community yaitu komunitas yang terdiri dari sekelompok remaja maupun dewasa yang memakai hijab dengan gaya terkini. Komunitas tersebut awalnyatercetus dari seorang designer muda cantik yaitu Dian Pelangi yang merancang busana-busana trendy khususnya busana muslim dengan tujuan menginspirasi wanita muslimah untuk mengenakan busana muslim. Sejak kemunculan dirinya lah, eksistensi muslimah semakin meningkat. Sesuai dengan nama belakangnya “Pelangi” pilihan warna yang digunakan pada rancangan busananya memang menunjukkan image yang unik, colourful, ceria, energik, muda, dan stylish (baca:pandai memadupadankan gaya). Konsep yang dipakainya adalah tie dye, dan mix and match berbagai warna yang kontras layaknya warna pelangi.Melalui blognya yang diberi nama The Merchant Daughter dalam www.dianrainbow.blogspot.com, Dian Pelangi mengekspresikan segala sesuatu tentang gaya fashion-nya dengan konsistensi konsep dirinya yaitu rainbow. Gaya fashion yang ia terapkan tersebut mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia serta mampu menginspirasi banyak orang dalam hal fashion, terutama bagi wanita muslimah. Hal itu terbukti dari beberapa wanita muslimah yang awalnya tidak menggunakan hijab menjadi menggunakan hijab setelah diterpa komunikasi Dian Pelangi melalui blognya. Selain foto-foto dirinya, Dian Pelangi juga meng-upload tutorial penggunaan hijab khas dirinya melalui Youtube yang di-link-an ke blognya itu dan beberapa media sosial lain miliknya seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan lain-lain sehingga masyarakat dapat dengan mudah mempelajari bagaimana jika menjadi seperti seorang Dian Pelangi.Hadirnya Dian Pelangi di tengah dunia fashion seolah-olah melawan persepsi masyarakat tentang muslimah berjilbab yang selama ini dilihat sebagai sosok yang kuno, tidak energik, tertutup, dan sebagainya. Namun, kehadirannyatersebut juga mengubah gaya hidup wanita muslimah Indonesia yang dulu hanya beberapa orang saja menggunakan jilbab atau busana muslim, kini semakin banyak wanita yang berani memutuskan untuk menutupi auratnya entah itu hanya sebagai popularisme budaya atau memang sudah sesuai dengan syariat Islam.Fashion juga dapat mencerminkan status sosial dari si pemakai. Dian Pelangi dengan gaya fashion-nya hadir dengan menampilkan gaya terkini yang termasuk high fashioned (baca:fashion dengan selera yang tinggi) sehingga terlihat sebagai seseorang yang eksklusif dan dinilai memiliki status sosial yang bonafit atau „mahal‟ serta dinilai sebagai individu yang tidak ketinggalan zaman dalam lingkungan pergaulannya. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Carlyle, pakaian menjadi “pelambang jiwa” (emblems of the soul). Pakaian dapat menunjukkan siapa pemakainya. Dalam kata-kata dari Eco, “I speak through my cloth” (Aku berbicara lewat pakaianku) (Barnard, 2002 : vi).Melalui blognya, Dian Pelangi mencoba menarik perhatian wanita muslimah untuk menutup aurat atau menggunakan hijab akan tetapi nampaknya juga tidak sedikit khalayak yang memiliki penilaian negatif terhadap cara komunikasi Dian Pelangi yang dicerminkan melalui gaya fashion-nya tersebut. Oleh karena itu, melalui penelitian ini peneliti akan melihat apa yang ditampilkan dalam fashion blog Dian Pelangi dan konstruksi wanita berhijab yang ditampilkan serta mengamati atribut fashion yang dipakai. Kemudian melihat penerimaan masyarakat terhadap adanya pergeseran makna dalam penggunaan hijab oleh muslimah saat ini.ISIMunculnya banyak hijabers di Indonesia saat ini menjadikan Indonesia sebagai trendsetter busana muslimah di dunia. Ditambah lagi hadirnya designer muda Indonesia dengan koleksi-koleksi rancangan mereka yang juga sudah mulai mendunia. Melalui koleksi fashion mereka yang semakin beragam itulah membuat banyak orang tertarik untuk menggunakan hijab. salah satu ikon hijabers yang paling banyak menyita perhatian adalah Dian Pelangi. Dirinya terus mempromosikan fashion busana muslim sehingga hijab bisa go international. Melalui blognya, Dian Pelangi terus mengembangkan kreativitasnya untuk menjadikan hijab sebagai sesuatu yang modern sehingga tidak ada lagi yang memandang wanita berhijab sebelah mata.Blog dan jejaring sosial merupakan media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia dan memiliki power yang luar biasa untuk meneruskan informasi dari pengguna satu ke pengguna lainnya. Untuk perihal kegiatan seputar fashion nampaknya blog menjadi media yang tepat untuk menumpahkan segala sesuatu entah dalam bentuk tertulis atau sekedar gambar-gambar yang menampilkan hal-hal yang disukai. Melalui blog itulah audiens dapat mengetahui semua item fashion yang biasa dikenakan para fashion blogger karena di setiap mereka mengunduh gambar, akan disertai dengan deskripsi dari masing-masing item fashion-nya dan semua item tersebut merupakan item yang bermerek sehingga mereka menjadi sorotan masyarakat terutama Dian Pelangi yang juga merupakan designer dari busana-busana muslimah yang ia kenakan sendiri.Dengan adanya konstruksi wanita muslimah yang digambarkan melalui blog Dian Pelangi memunculkan adanya pergeseran makna penggunaan hijab. Pergeseran makna tersebut bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang tertarik menggunakan hijab karena gaya fashion hijab yang beragam dan fashionable. Selain itu, hijab saat ini merupakan pakaian yang fleksibel karena model hijab yang beragam dan diterimanya hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mengikuti tren perkembangan fashion. Gaya hidup merupaka refleksi identitas seseorang, dimana identitas tersebut untuk melihat separti apa orang tersebut serta bagaimana orang tersebut. Oleh karena itu, gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas sosial ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Gaya hidup orang ditunjukkan dalam variasi keputusan cita rasanya: mobil yang dikendarainya, majalah yang dibacanya, tempat mereka tinggal, bentuk rumahnya, makanan yang disantapnya dan restoran yang sering dikunjunginya, tempat hiburannya, merek-merek baju, jam tangan, sepatu, dan lain-lain yang sering dipilihnya, dan sebagainya.Dian Pelangi melalui blognya, menggambarkan sebagai sosok individu dengan gaya hidup yang konsumtif terhadap fashion. Apa yang ia kenakan untuk mendukung penampilannya menciptakan makna tersendiri bagi pembacanya. Terdapat dua pokok penting yang ditekankan dalam gaya yang ditampilkan individu yaitu sebagai simbol perlawanan terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai cara agar diterima di kelompoknya. Individu berusaha mengidentifikasi diri mereka dan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesamaan, sehingga identitasnya menjadi bagian dari identitas kelompok (Steele, 2005: 39). Dalam hal ini, Dian Pelangi menciptakan komunitas penggunahijab modern (hijabers) di Indonesia yang sampai saat ini terus berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan hijab modern sudah diterima di masyarakat. Itulah yang membuat beberapa informan memilih untuk juga bergabung dengan komunitas hijabers, dimana komunitas tersebut berisi sekelompok muslimah pengguna hijab modern yang memiliki identitas sebagai kelompok pengguna hijab sosialita karena atribut fashion yang digunakan branded dan eksklusif. Bukan hanya pakaian atau hijab yang menunjukkan identitas mereka sebagai muslimah sosialita, melainkan juga aksesoris yang digunakan, gadget, ataupun kebiasaan mereka seperti mengadakan perkumpulan di mall, dan sebagainya.Dalam penelitian analisis resepsi penerimaan pembaca fashion blog hijabers terhadap pergeseran makna penggunaan hijab dalam blog Dian Pelangi ini, teori yang tepat digunakan adalah analisis resepsi Stuart Hall. Dimana analisis resepsi menyampaikan bahwa teks dan penerimanya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan, khalayak memaknai dan menginterpretasi sebuah teks berdasarkan latar belakang sosial dan budaya serta pengalaman mereka masing-masing. Analisis resepsi memfokuskan pada perhatian individu dalam proses komunikasi massa (decoding), yaitu pada proses pemaknaan dan pemahaman yang mendalam atas teks media, dan bagaimana individu menginterpretasikan isi media. Hal tersebut bisa diartikan bahwa individu secara aktif menginterpretasikan teks media dengan cara memberikan makna atas pemahaman pengalamannya sesuai apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari.Hall menjelaskan model encoding/decoding sebagai pendekatan yang melihat pembaca sebagai korban, dan pembaca sebagai pemilik hak. Ia mengungkapkan bahwa teks media memiliki arti yang spesifik yang dikodekan ulang namun penerimaan pembaca ditentukan dari bagaimana mereka membaca teks media tersebut. Pesan yang telah dikirimkan akan menimbulkan berbagai macam efek kepada audiens. Sebuah pesan dapat membuat pembaca merasa terpengaruh, terhibur, terbujuk, dengan konsekuensi persepsi, kognitif, emosi, ideologi, dan perilaku yang sangat kompleks. Hall mengidentifikasi tiga kategorisasi audiens yang telah mengalami proses encode/decode sebuah pesan, yaitu dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading (Hall dalam Baran, 2003: 15-16).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang aktif atau pernah aktif membaca fashion blog Dian Pelangi. Keenam informan memiliki tingkat pendidikan, lingkungan sosial, serta pengalaman yang berbeda. Dalam wawancara, informan menyampaikan interpretasi mereka masing-masing terkait dengan pemaknaan terhadap blog Dian Pelangi serta penerimaan terhadap adanya pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui blog Dian Pelangi. Khlayak yang dalam hal ini penghasil makna, memaknai blog Dian Pelangi secara beragam karena teks yang berbeda dapat menghasilkan pemaknaan yang berbeda pula.Dari hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagai berikut :1. Berdasarkan pemaknaan keenam informan, pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan dalam fashion blog Dian Pelangi dapat dilihatpada setiap penampilan Dian Pelangi yang menjadikan hijab sebagai sebuah gaya hidup. Selain itu, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high class dalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan identitas dan status sosial sebagai sekelompok orang sosialita. Banyaknya variasi model hijab yang fashionable membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Hal itulah yang membuat hijab tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tradisional dan konvensional. Sehingga membuat semakin banyak orang menggunakan hijab.2. Hasil penelitian ini menunjukkan lima informan berada pada posisi dominan. Mereka menerima adanya pergeseran makna penggunaan hijab, yang dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman untuk menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang sesuai tren fashion. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi, dan mendukung jika ada yang berpenampilan seperti yang dikonstruksikan Dian Pelangi.3. Sementara satu informan berada pada posisi oposisi. Dirinya tidak melihat adanya pergeseran makna penggunaan hijab, karena benar atau tidaknya penggunaan hijab tergantung pada tujuan awal masing-masing individu untuk menggunakan hijab tersebut, bukan berdasarkan pengaruh dari luar dirimereka seperti perkembangan fashion busana muslim atau munculnya Dian Pelangi yang mengkonstruksikan perubahan penggunaan hijab.PENUTUPBerbagai penelitian tentang makna penggunaan hijab, mayoritas menunjukkan bahwa hijab mengalami pergeseran. Dimana seseorang yang menggunakan hijab bukan lagi berpegang kepada nilai guna (use value) dari hijab tersebut, melainkan lebih kepada simbol/nilai tanda (sign value). Simbol tersebut yakni simbol gaya hidup yang menggambarkan identitas orang yang menggunakan hijab sebagai sekelompok orang yang mengikuti perkembangan tren fashion. Tren fashion hijab sendiri, saat ini tidak perlu diragukan. Beragam model hijab yang unik, kreatif, dan modern membuat banyak orang tidak takut lagi menggunakan hijab serta membuat orang yang sudah menggunakan hijab tidak takut lagi dikucilkan dalam pergaulan ataupun lingkungan sosialnya.Pergeseran makna penggunaan hijab sendiri tidak hanya dikarenakan pengaruh kemunculan media sosial khususnya blog hijabers yang mengkonstruksikan perubahan image wanita muslimah menjadi sekelompok orang dengan gaya hidup sosialita. Namun, makna penggunaan hijab juga bisa bergeser karena tuntutan mengikuti perkembangan tren fashion yang terus berputar setiap waktu.DAFTAR PUSTAKAA.Bell, M.Joyce and Rivers. (1999). Advanced Media Studies. Hodder & Stoughton.Allen, Pamela. (2004). Membaca, dan Membaca Lagi : [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995. Magelang : Indonesia Tera.Baran, Stanley J. (2003). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika. Barnard, Malcolm. (2002). Fashion as Communication (Second Edition). New York : Routledge Taylor & Francis Group. Barnard, Malcolm. (2006). Fashion Sebagai Komunikasi : Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, Dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra. Berger, Arthur Asa. (2010). The Objects of Affection: Semiotics and Consumer Culture. USA: Palgrave MacMillan. Blood, Rebecca. (2002). The Weblog Handbook, Basic Books, A Member Of The Perseus Books Group. Croteau, David and William, Hoynes. (2003). Media Society : Industry, Images, and Audience (3rd Ed.). California : Pine Forge Press. Danesi, Marcel. (2009). Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta : Jalasutera. Downing, John, Ali Mohammadi, and Annable Sreberny-Mohammadi. (1990). Questioning The Media : A Critical Introduction. California : SAGE Publication. Vina, Hamidah. (2008). Jilbab Gaul (Berjilbab Tapi Telanjang). Jakarta: Al-Ihsan Media Utama. Hoed, Benny H. (2011). Semiotik & Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu. Idi Subandy, Ibrahim. (2007). Budaya Populer Sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape Dan Mediascape Di Indonesia Kontemporer). Yogyakarta : Jalasutra. Kawamura, Yuniya. (2005). Fashion-ology. An Introduction to Fashion Studies. New York: Berg Oxford. Littlejohn, Stephen W [ed]. (1999). Theories Of Human Communication. London : Wadsworth Publishing Company.Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss. (2009). Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, Ninth Edition. Jakarta: Salemba Humanika. Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss [eds]. (2009). Ensyclopedia Of Communication Theory. California : SAGE Publications, Inc. Lurie, Alison. (1992). The Language Of Clothes. London : Cornell. Leah A. Lievrouw. (2006). The Handbook of New Media Updated Student Edition. London : SAGE Publications, Inc. Manovich, Lev. (2002). „What Is New Media?’ In The language Of New Media. Dalam Hassan, Robert Dan Julian Thomas [eds]. 2006. The New Media Theory Reader. England : Open University Press. McQuail, Denis. (2000). Media Performance; Mass Communication and The Public Interest. London: SAGE Publications. McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa (Ed.6). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexi J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Morreale, Sherwyn, Barge, Wood, Spitzberg & Tracy. (2004). Introduction To Human Communication The Hugh Downs Of Human Communication. USA: Wardsworth. Yasraf Amir, Piliang. (1998). Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga Dan Matinya Posmodernisme. Bandung : Penerbit Mizan. Jalaludin, Rakhmat. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Rosdakarya. Ritzer, George. (2009). Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Sassatelli, Roberta. (2007). Consumer Culture: History, Theory, and Politics. London : SAGE Publications. M.Quraish, Shihab. (2004). Jilbab Pakaian Wanita Muslimah. Jakarta: Lentera Hati. Steele, Valeriee. (2005). Encyclopedia of Clothing and Fashion Vol.1&2. USA: Thompson Gale. Strinati, Dominic. (2007). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta : Penerbit Jejak.JurnalRatna Dewi, Ayuningtyas. (2011). Menginterpretasikan Fashion Pria Metroseksual Dalam Fashion Blog. Skripsi. Universitas Diponegoro.Dwita, Fajardianie. (2012). Komodifikasi Penggunaan Jilbab Sebagai Gaya Hidup Dalam Majalah Muslimah (Analisis Semiotika Pada Rubrik Mode Majalah Noor). Skripsi. Universitas Indonesia.Hapsari, Sulistyani. (2006). Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.Hari, Sapto. (2009). Memahami Makna Jilbab Dalam Mengkomunikasikan Identitas Muslimah. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetStefanone, M.A., and Jang, C.Y. (2007). Writing For Friends And Family : The Interpersonal Nature Of Blogs. Journal Of Computer-Mediated Communication, 13 (1), article 7. Dalam http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/stefanone.html. Diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 10.00 WIBPengertian Fashion Menurut Poppy Dharsono. Dalam www.fashionupdatemodeon.blogspot.com/fashion/03.html. Diakses pada tanggal 3 Maret 2012 pukul 18.30 WIBIslam Akan Menjadi Agama Terbesar. (2012). Dalam http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/11/islam-akan-menjadi-agama-terbesar-di.html#ixzz2Nxf08BSQ. Diunduh pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 14.00 WIBProfil Dian Pelangihttp://tabloidnova.com/DianPelangiAnakBawangYangMenembusDunia.html. Diakses pada 25 Juni 2013 pukul 09.20 WIBMencari Sebuah Identitas Dalam Budaya Pop. Dalam http://parekita.wordpress.com/2013/12/04/55.html. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2013 pukul 11.40 WIBKami Bukan Sosialita Berjilbab. Dalam www.hijaberscommunity.blogspot.com/gayahidup/hobi.html. Diakses padatanggal 3 Juli 2013 pukul 18.54 WIBwww.theoppositeofpink.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.ayuchairunisa.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.dallamudrikah.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBhttp://twitter.com/FatinSL. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 06.30 WIBwww.amischaheera.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.00 WIBwww.fashionesedaily.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.51 WIB) Data pengunjung blog Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com. Diakses pada tanggal 8 Juli 2012 pukul 08.30 WIBFoto-foto Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com.
Hubungan Kompetensi Komunikasi Tentor Communication Study Club dan Konsep Diri Anggota Communication Study Club Terhadap Prestasi Anggota suprihatini, Taufik; Lailiyah, nuriyatul; Herieningsih, Sri widowati
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.67 KB)

Abstract

Communication Study Club adalah komunitas belajar mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro. Jumlah anggota CSC semakin meningkat tetapi prestasi anggota semakin menurun. Kompetensi komunikasi tentor dalam mengajar dan konsep diri anggota dalam menghadapi tantangan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan meningkat atau tidaknya prestasi anggota.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kompetensi komunikasi tentor CSC dan konsep diri anggota CSC terhadap prestasi anggota. Teori yang digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah konsep keberhasilan komunikasi interpersonal (Suranto,2011:84) dan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar (Rola, 2006:33) .Tipe penelitian yang digunakan adalah tipe explanatory dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota CSC yang berjumlah 52 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan teknik non probability sampling dengan cara purposive sampling . Peneliti mengambil sampel sebanyak 35 orang . Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan mengunakan analisis koefisien korelasi rank Kendall.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari variabel kompetensi komunikasi tentor CSC (X1) terhadap prestasi anggota(Y) sebesar 0,723, dimana 0,723>0,01. Di samping itu , nilai signifikansi dari variabel konsep diri anggota CSC (X2) terhadap prestasi anggota (Y) sebesar 0,467, dimana 0,467>0,01. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kompetensi komunikasi tentor CSC dan konsep diri anggota CSC terhadap prestasi anggota. Diharapkan untuk peneliti selanjutnya menggunakan teori dan variabel bebas yang berbeda terhadap prestasi agar penelitian terhadap prestasi semakin beragam. Selain itu, seluruh anggota sebaiknya harus pernah mengikuti kompetisi dan para tentor juga anggotanya dapat bersama-sama memperbaiki hal-hal yang menghambat prestasi sehingga prestasi semakin meningkat.
Pengaruh Terpaan Informasi Menikah Muda di Instagram dan Interaksi Reference Group Terhadap Minat Menikah Muda Gebiya Efriman Putri; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 7, No 2: April 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.526 KB)

Abstract

One of the social media that many interested in Indonesia is Instagram. Among dakwah activists, Instagram is used as a medium for information about getting young marriage. In addition to the use of Instagram, young marriage is also influenced by other factors, namely the reference group. This reference group often shares information about getting young marriage. Based on Article 7 paragraph 1 No.1 1974 of the Marriage Act of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia that the men have reached the age of 19 years and the women have reached the age of 16 to get married. This research is a quantitative study with explanatory research types. The population of this study is Diponegoro University students, men aged 19-25 years and women aged 16-21 years and have an Instagram account. Sampling was done by accidental sampling of 100 respondents. Testing is done with Ordinal Regression Test. The research shows that there is an influence between the information exposure of young married on Instagram towards the interest of young married by 13.5%. The remaining 86.5% is influenced by other factors, not examined in this study. The correlation between variables shows a sign of 0.002 because < 0.05. And research shows that there is an influence between the interaction of the reference group towards the interest of young married by 22.4%. The rest, which is equal to 77.6% is influenced by other factors, not examined in this study. The correlation between variables shows a sign of 0,000 because < 0.05. This explains how there is an influence between the information exposure of young married people on Instagram and the interaction of reference groups towards the interest in young marriage, although with little influence. Other influences can be caused by other factors such as exposure to Indonesian information without dating and financial quality.
HUBUNGAN TERPAAN IKLAN POLITIK PRABOWO SUBIANTO DI TELEVISI DAN INTENSITAS KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK REFERENSI TERHADAP MINAT MEMILIH Ari Mukti Wibowo; Sri Widowati Herieningsih; Taufik Suprihartini; Much. Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.121 KB)

Abstract

Pada masa pemilu presiden tahun 2014 ini terlihat banyaknya iklan politik yang muncul di media massa khususnya televisi. Prabowo Subianto merupakan salah satu kandidat yang telah ditetapkan oleh KPU sebagai calon presiden. Iklan politik Prabowo Subianto seringkali tayang di berbagai media televisi nasional. Penelitian ini merupakan tipe penelitian eksplanatory yang bertujuan untuk mengetahui hubungan terpaan iklan politik Prabowo Subianto di televisi dan intensitas komunikasi dalam kelompok referensi terhadap minat memilih. Sampel penelitian ini adalah warga Semarang berusia 17 tahun ke atas yang memiliki hak pilih dan pernah menyaksikan iklan politik Prabowo Subianto di televisi. Sampel yang digunakan adalah non random dengan teknik accidental sampling. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah The Learning Hierarcy Theory yang diungkapkan Rotzoll dan Teori kelompok rujukan dari Hyman.Berdasarkan perhitungan statistik dengan menggunakan rumus uji korelasi Rank kendall, maka diketahui terdapat hubungan positif yang signifikan antara terpaan iklan politik Prabowo Subianto di televisi (X1) dengan minat memilih (Y). Hasil nilai signifikansi yakni 0,010 dengan nilai korelasi sebesar 0,325. Dengan demikian semakin tinggi terpaan iklan maka semakin tinggi minat memilih. Iklan politik merupakan sarana menyampaikan pesan-pesan politik. Akibatnya secara tidak langsung khalayak telah melakukan proses belajar dalam mencerna serta mengingat pesan yang telah diterimanya. Kondisi tersebut tanpa disadari merupakan upaya mengubah sikap khalayak. Pesan-pesan didalam iklanyang menerpa khalayak mampu mempengaruhi aspek kognitif. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus uji korelasi Rank Kendall juga diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara intensitas komunikasi dalam kelompok referensi (X2) dengan minat memilih (Y). Hasil hasil nilai signifikansi yakni 0,004 dengan nilai korelasi sebesar 0,361. Dengan demikian semakin tinggi intensitas komunikasi dalam kelompok referensi maka semakin tinggi minat memilih. Kelompok referensi merupakan sarana bagi individu untuk mencari acuan dalam bersikap ataupun keyakinan untuk bertindak. Sedangkan intensitas komunikasi didalam kelompoknya akan semakin meningkatkan kohesifitas, kepercayaan, dan konformitas. Oleh karena itu, intensitas juga mempengaruhi seberapa besar sugesti yang diberikan oleh kelompok tersebut dapat diterima oleh indiviu didalamnya.Kata kunci: terpaan iklan, intensitas komunikasi dalam kelompok referensi dan minat memilih
Hubungan Intensitas Bermain Game Online Dragon Nest dengan Motivasi Belajar Siswa SD Negeri Ngaliyan 01 Domas Santika, Theo; Setyabudi, S.Sos, MM, Djoko
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.028 KB)

Abstract

Berdasarkan pada teori penguatan, penelitian ini berasumsi bahwa terdapat hubungan antara intensitas bermain game online dengan motivasi belajar. Peneliti bertujuan untuk menentukan hubungan intensitas bermain game online Dragon Nest dengan motivasi belajar siswa SD Negeri Ngaliyan 01. Target penelitian adalah 40 orang siswa SD yang pernah bermain game online. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dan menggunakan uji normalitas dengan uji Kendall’s Tau-b untuk memeriksa hubungan diantara variabel. Hasil data menunjukkan bahwa intensitas bermain game online Dragon Nest tergolong tinggi. Sedangkan motivasi belajar siswa SD Negeri Ngaliyan 01 juga tergolong tinggi. Dimana seluruh responden memiliki motivasi belajar yang tinggi walaupun mereka bermain game online Dragon Nest Uji normalitas menunjukkan bahwa data pada penelitian ini tidak berdistribusi normal, sehingga peneliti menggunakan analisis non parametrik. Berdasarkan uji statistik yang telah dilakukan, mengungkapkan adanya hubungan signifikan dengan arah negatif antara intensitas bermain game online Dragon Nest dengan motivasi belajar siswa SD Negeri Ngaliyan 01. Jadi dapat dikatakan bahwa semakin tinggi intensitas bermain game online Dragon Nest maka akan semakin rendah motivasi belajar siswa SD Negeri Ngaliyan 01 dan sebaliknya.
Hubungan Terpaan Informasi Politik Partai NasDem di Televisi dan Komunikasi di dalam Kelompok Referensi Terhadap Preferensi Memilih Partai NasDem Mufti, Zulfikar; Pradekso, Tandiyo; Santosa, Hedi Pudjo
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.079 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Saat ini, kehidupan masyarakat seakan tidak bisa luput dari informasi.Dimanapun tempat beraktivitas, akan selalu ditemui informasi baik dengansengaja ataupun tidak. Informasi hadir dengan beragam bentuk kepadamasyarakat, baik yang melalui media cetak, elektronik, maupun konvensional.Dari sekian banyak pilihan saluran komunikasi yang ada, televisi adalahsalah satu media yang menjadi pilihan favorit masyarakat. Hal itu tidak bisadilepaskan dari kelebihan – kelebihan media televisi yakni dalam segi audiovisual, baik suara, gerak, dan gambar. Kelebihan inilah yang kemudian membuatinformasi yang disampaikan melalui televisi menjadi lebih menarik dan memilikidampak yang lebih besar kepada audiencenya.Seiring perkembangan zaman, media televisi tidak hanya menjadi salurankomunikasi bagi pesan – pesan komersil, tetapi juga pesan – pesan yangmengandung informasi politik pun kini sudah banyak menghiasi layar televisikita. Pesan – pesan politik yang sering muncul di televisi paling sering dikemasdalam bentuk iklan dan berita.Informasi politik yang sering hadir di televisi saat ini adalah informasitentang partai Nasional Demokrat atau yang sering disingkat NasDem, informasiyang ditampilkan dikemas dalam dua bentuk yaitu berita dan iklan politik.Menariknya, partai ini di danai oleh Surya Paloh yang juga merupakanpemilik dari stasiun televisi MetroTV. Bahkan belakangan Harie Tanoesodibyoyang juga pemilik MNC Group yang terdiri dari RCTI, Global TV, dan MNC TVpun merapat ke partai Nasdem dengan jabatan sebagai ketua dewan pakar. Olehsebab itu, tak dapat dihindari bagaimana informasi politik tentang partai NasDemkerap kali bermunculan di beberapa stasiun televisi yang telah disebutkan di atas.Perubahan yang sangat signifikan pada pemilu di era reformasi adalahrakyat langsung bisa memilih para calon wakil – wakilnya yang akan duduk diDPR, kemudian Presiden, Gubernur, Bupati maupun walikota. Sayangnya dilainpihak, angka partisipasi masyarakat dalam setiap perhelatan politik lima tahunantersebut selalu mengalami penurunan. Individu - individu yang tidak ikutberpartisipasi dalam pemilihan umum ini sering disebut dengan sebutan “golput”atau golongan putih. (http://kanalpemilu.net/?q=node/800).\Salah satu kelompok sosial di masyarakat yang rentan untuk menjadigolput adalah mahasiswa, hal ini karena tingkat pendidikan yang dimilikimahasiswa untuk cenderung bertindak secara rasional dalam menentukan sikappolitiknya, sikap golput ini karena tidak ada pilihan calon yang layak dan bersihuntuk dipilih sehingga mahasiswa menentukan untuk golput, selain itu mahasiswacenderung bersikap apatis, apolitis dan kritis terhadap pemilu, serta merupakankelompok yang biasanya teralienasi dari sistem atau proses politik yang ada.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan terpaan informasipolitik partai NasDem di televisi dan komunikasi di dalam kelompok referensiterhadap preferensi memilih.Tipe yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe explanatory(penjelasan) yang dimaksudkan untuk mengetahui hubungan diantara variabelbebas dan variabel terikat dari tema penelitian. Penelitian explanatory digunakanuntuk menjelaskan hubungan atau korelasi antara terpaan informasi politik partaiNasDem di televisi sebagai variabel independen pertama, dan komunikasi dalamkelompok referensi sebagai variabel independen kedua, dengan preferensimemilih sebagai variabel dependen.PEMBAHASANDalam berkomunikasi minimal akan tiga unsur yang langsung terlibat,yakni communicator, message, dan communicant. Komunikasi yang dilakukanakan selalu menimbulkan effect seperti apa yang dijabarkan oleh Harold Laswellbahwa komunikasi adalah siapa mengatakan apa, melalui apa, kepada siapa, danapa akibatnya ( Cangara, 2009 : 19). Efek terjadi sebagai dampak atau timbalbalik atas pesan yang diterima individu baik secara sengaja maupun tidakdisengaja. Efek pada komunikasi massa dapat dilihat dari adanya suatu perubahanyang terjadi sebagaimana yang diinginkan komunikator, seperti pengetahuan,sikap, dan perilaku, atau bahkan ketiganya ( Wiryanto, 2000 : 39).Karena dalam penelitian ini media massa tidak menjadi variabel tunggaldalam mempengaruhi sikap, maka diperlukan model efek terbatas yangmenjelaskan ada hubungan faktor lain secara psikologis dan sosial yangmempengaruhi sikap. Penelitian Joseph Klapper melaporkan tentang efek mediamassa dalam hubungannya dengan pembentukan dan perubahan sikap, yaitu :1. Pengaruh komunikasi massa dikarenakan oleh faktor – faktor sepertipredisposisi persona, proses selektif, keanggotaan kelompok atau disebutjuga faktor personal.2. Karena faktor – faktor ini, komunikasi massa biasanya berfungsimemperkokoh sikap dan pendapat yang ada , walaupun kadang – kadangberfungsi sebagai media pengubah (agent of change)3. Bila komunikasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecilpada intensitas sikap lebih umum terjadi daripada ”konversi” (perubahanpada seluruh sikap) dari satu sisi masalah ke sisi yang lain.4. Komunikasi massa cukup efektif dalam mengubah sikap bidang – bidangdi mana pendapat orang lemah.5. Komunikasi massa cukup efektif dalam menciptakan pendapat tentangmasalah – masalah baru bila tidak ada presdiposisi yang harus dipengaruhi(Rakhmat, 2005 : 232).Joseph Klapper dalam buku The Effect of Mass Communicationmenunjukkan temuan yang menarik, bahwa faktor psikologis dan sosial ikutberpengaruh dalam proses penerimaan pesan dari media massa. Faktor – faktortersebut antara lain proses seleksi, proses kelompok, norma kelompok, dankeberaan pemimpin opini (Nurudin, 2003 : 208). Media massa bukan hanya faktortunggal dalam dalam perubahan sikap, kelompok adalah psikologis yang dapatmempengaruhi individu.Dari hasil uji statistik korelasi Rank Kendal diketahui bahwa hipotesisyang menyatakan terdapat hubungan antara terpaan informasi politik partaiNasDem di televisi (X1) terhadap preferensi memilih partai NasDem (Y) di tolak.Artinya bahwa tinggi rendahnya terpaan informasi politik partai NasDem ditelevisi yang menerpa responden, tidak semerta – merta membuat respondencenderung untuk memilih partai NasDem.Bittner ( dalam Nurudin, 2007 : 211) mengungkapkan fokus utama efekmedia adalah tidak hanya bagaimana media mempengaruhi audience, tetapibagaimana juga audience mereaksi pesan – pesan media yang sampai padadirinya. Faktor interaksi yang terjadi antar individu akan mempengaruhi pesanyang diterima. Dalam kaitannya dengan penelitian ini adalah bagaimanaresponden memberikan respon terhadap informasi politik partai NasDem yangditerimanya melalui media televisi, responden sebagai individu juga tidak terlepasdari interaksi dengan kelompok referensinya yang membentuk sikap respondendalam mengurai terpaan informasi partai NasDem yang diterimannya.Nurudin ( 2007 : 225 – 226) menyatakan ada dua alasan yangmengakibatkan efek terbatas media massa bisa terjadi, yaitu :1. Rendahnya terpaaan media massaMcQuail (dalam Rakhmat, 2004 : 199) mengatakan bahwa makinsempurna monopoli komunikasi massa, makin besar kemungkinan perubahanpendapat dapat ditimbulkan pada arah yang dikehendaki.2. Perlawanan individu dalam menerima pesan mediaMcQuail (dalam Rakhmat, 2004 : 199) mengatakan bahwapemilihan dan penafsiran isi oleh khalayak dipengaruhi oleh pendapat dankepentingan yang ada dan oleh norma – norma kelompok.Setelah dilakukan pengujian, dapat diinterpretasikan bahwahipotesis yang menyatakan terdapat hubungan komunikasi di dalam kelompokreferensi (X2) terhadap preferensi memilih partai NasDem (Y) diterima. Artinyabahwa tinggi rendahnya komunikasi di dalam kelompok referensi akan ikutmempengaruhi preferensi memilih partai NasDem.Kelompok rujukan adalah alat ukur yang digunakan untuk menilai dirisendiri atau untuk membentuk sikap. konformitas di dalam kelompok membuatkelompok rujukan menjadi sangat efektif dalam membentuk sikap individu(Rakhmat, 2004: 149).Selain media massa, saluran informasi politik dapat melalui komunikasi didalam kelompok (Maran, 2001 : 165). Interaksi yang sering terjadi membuathubungan mereka menjadi lebih akrab satu sama lain. Komunikasi yang terjadidalam kelompok ini adalah menggunakan dua arus komunikasi, yang pada tahappertama pemimpin – pemimpin opini di kelompok akan menguraikan danmenyaring pesan – pesan yang masuk, kemudian disebarkan kepadakelompoknya.Saluran informal dalam kelompok penting karena tiga hal, yaitu pertama :sebagai saluran informasi yang aktual; kedua, sebagai sumber tekanan sosial atasindividu untuk mematuhi berbagai norma tingkah laku; dan ketiga, sebagaisumber dukungan atas norma – norma yang berguna bagi keutuhan dalamkelompok (Maran, 2001 : 166).Setelah dilakukan uji korelasi, dapat diinterpretasikan bahwa hipotesisyang menyatakan terdapat hubungan antara terpaan informasi politik partaiNasDem di televisi (X1) dan komunikasi didalam kelompok referensi (X2)terhadap preferensi memilih partai NasDem (Y) di terima. Artinya bahwa terpaaninformasi politik partai NasDem dan komunikasi dalam kelompok referensi dapatmempengaruhi preferensi memilih partai NasDem, sekalipun kedua variabeltersebut tidak dapat secara mutlak membentuk preferensi memilih.Preferensi memilih dalam pemilihan umum, selain dipengaruhi olehInformasi Politik juga dipengaruhi oleh hubungan interpersonal yang membentukkomunikasi dalam kelompok.Terpaan informasi politik partai NasDem dan komunikasi di dalamkelompok referensi membutuhkan sebuah tahapan atau proses agar sampai padasikap preferensi memilih partai NasDem. Kelman (dalam Azwar, 2005 : 55)mengungkapkan teorinya mengenai organisasi sikap dengan menekankankonsepsinya mengenai proses yang sangat berguna dalam memahami fungsipengaruh sosial terhadap perubahan sikap. Tiga proses sosial yang berperan dalamperubahan sikap adalah kesediaan, identifikasi, dan internalisasi.Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa variabel terpaaninformasi politik partai NasDem di televisi dan variabel komunikasi di dalamkelompok referensi bahwa memiliki hubungan dengan variabel memilih partaiNasDem, namun kedua varibael tersebut tidak secara mutlak menjadi faktorpenentu bagi individu untuk memilih partai NasDem. Masih terdapat faktor lainjuga yang dapat mempengaruhi preferensi seseorang, yakni sikap, nilai,kepercayaan, bidang – bidang pengalaman dan hubungan – hubunganinterpersonal pada proses penerimaan, pengelolaan, dan penyampaian informasi.Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Klapper (dalam McQuail, 1987 :236) sebagai pendekatan fenomenistik yaitu pendekatan yang memandang mediasebagai pengaruh yang berfungsi di tengah – tengah pengaruh lainnya di dalamsuatu situasi menyeluruh.PENUTUPKesimpulan :1. Tidak terdapat hubungan antara terpaan informasi politik partai NasDemdi televisi terhadap preferensi memilih partai NasDem.2. Terdapat hubungan positif antara komunikasi di dalam kelompok referensi(terhadap preferensi memilih partai NasDem.3. Terdapat hubungan positif antara terpaan infromasi politik partai NasDemdi televisi dan komunikasi di dalam kelompok referensi terhadappreferensi memilih partai NasDem.Saran :1. Partai NasDem harus bisa mendesain ruang komunikasi politik selainmelalui media televisi, agar informasi politik yang disampaikan dapatmempengaruhi preferensi memilih partai NasDem.2. Partai NasDem perlu mentransfer informasi politik kedalam jaringankomunikasi kelompok, karena dari kelompok – kelompok itulah yangterbukti sangat berpengaruh terhadap preferensi individu memilih partaiNasDem.Daftar PustakaAzwar, Saifuddin. 2005. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :Pustaka Pelajar.Cangara, Hafied. 2009. Komunikasi Politik : Konsep, Teori, dan Praktek. Jakarta :Raja Grafindo Persada.Maran, Rafael Raga. 2001. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta : Rineka Cipta.Mc Quail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Erlangga.Nurudin. 2007. Komunikassi Massa. Malang : Gespur.Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.Wiryanto. 2000. Teori Komunikasi. Jakarta : Grasindo.
Komunkasi Pemasaran Program Berita Feature “Di Balik Nama” Di Cakra Semarang TV ( Marketing Officer ) Tri Utami; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.266 KB)

Abstract

Komunikasi pemasaran tidak hanya dibutuhkan oleh produk-produk yang manfaatnya dapat langsung dirasakan saat itu juga. Lebih dari itu, pemasaran juga dibutuhkan oleh intangible product yang manfaatnya tidak dapat dirasakan secara langsung namun dapat dirasakan di kemudian hari. Komunikasi pemasaran program televisi terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan seperti advertising, online marketing, event, merchandising dan funding. Hal ini dibutuhkan oleh program televisi Di Balik Nama yang bertujuan untuk meningkatkan awareness atau pengetahuan penoton baru mengingat tayangan ini adalah tayangan yang baru diproduksi. Selain itu, untuk menunjang kinerja pemasaran dan produksi, kegiatan pemasaran ini juga bertujuan untuk mendapatkan dana atau funding yang digunakan selama masa pra produksi, produksi dan pasca produksi. Komunikasi pemasaran program televisi Di Balik Nama yang dilakukan selama 3 bulan berhasil meningkatkan pengetahuan target audiens sebesar 54% dari target awal sebesar 20%. Kegiatan ini juga mendapatkan pendanaan sebesar 93% dari target awal sebesar 80%. Dari seluruh rangkaian kegiatan ditemukan bahwa online marketing dirasa sangat relevan untuk digunakan saat ini dalam komunikasi pemasaran yang terintegrasi dengan media promosi lainnya.

Page 40 of 157 | Total Record : 1563